Cerita Mesum

Certa Sex – Masuk Ke Lubang Ibu Maya..

Hampir setiap ada kesempatan aku bersetubuh dengan mertuaku, kesempatan itu aku lakukan saat istriku Indri sedang ada tugas di luar kantor yang memaksa untuk nginap beberapa hari di luar kota, aku dan mertuaku selalu tidur satu ranjang layaknya suami istri, apabila birahi datang kami selalu melengkapi dengan saling membutuhkan biasanya aku semprotkan air maniku di dalam vagina mertuaku.

Tak lama beberapa bulan ternyata akibatnya fatal yaitu mertuaku hamil atas spermaku, aku kira mertuaku sudah tidak bisa hamil karena umurnya yang sudah tua 53 tahun, tapi atas kehendak mertuaku sendiri aku agak tenang jadi semua bisa diatasinya, saat mertuaku pulang ke desanya aku berniat untuk kesana dan memeriksakan kandungannya.

Tapi mertuaku menolak untuk aku temani entar malah suaminya curiga, setelah aku yakin bahwa mertuaku bisa menyembunyikan perbuatan itu otak jorokku keluar lagi dengan menelpon mertuaku aku bilang bahwa aku kangen banget, dan mertuaku juga merasakan apa yang aku rasakan. Setelah lama ngobrol tiba tibb handphone yang satunya berbunyi.

Hallo, selamat pagi.

Pento kamu tolong ke ruang Ibu sebentar.

Ternyata Bos besar yang memanggil, akupun beranjak dari tempat dudukku dan bergegas menuju rangan Ibu Maya. Ibu Maya, wanita setengah baya, yang sudah menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun payung di Sawangan.

Aku taksir, usia Ibu Maya kurang lebih 45 tahun, Ibu Maya seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun namun Ibu Maya tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Ibu Maya agak gemuk.

Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya.

Oh nggak.. , Ibu cuma mau Tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan sama Bp. Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?.

Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya serahkan, biar tidak ada kesalahan. Jawabku.

Oh.. ya.. sudah kalau begitu, Kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?. Tanya Ibu Maya.

Oh nggak Bu Saya tidak apa-apa.

Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti malah tambah parah penyakit mu.

Ah.. nggak apa-apa Bu saya sehat kok. Jawabku.

Saat aku hendak meninggalkan ruangan Ibu Maya, aku sangat terkejut sekali, saat Ibu Maya berkata, Makanya kalau selingkuh hati hati dong Pen Jangan terlalu berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil.

Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali, aku sungguh-sungguh mendapatkan malu yang luar biasa.

Dari mana Ibu tahu? tanyaku dengan suara yang terbata bata.

Maaf Pen Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon kamu kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu.

Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu sendiri.

Aku marah sekali, tapi apa daya Ibu Maya adalah atasanku, selain itu Ibu Maya adalah saudara sepupu dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja, bisa bisa malah aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah.

Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu.

Terima kasih Bu, jawabku lirih sambil menundukkan mukaku

Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu bicarakan dengan kamu, OK.

Tentang apa Bu? tanyaku.

Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu dan jangan menolak pintanya tegas.

Akupun keluar dari ruangan Ibu Maya dengan perasaan tidak karuan, aku marah atas perbuatan Ibu Maya yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu mertuaku diketahui oleh orang lain.

Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya, Tanya Wilman sohibku.

Ah, nggak ada apa apa Aku lagi capek aja.

Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu.

Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Ibu Maya denger mati kamu.

Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku Aku hanya melamun dan memikirkan Ibu mertuaku, kasihan sekali beliau harus dikuret sendirian, terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertuaku kekasihku,

Rasanya aku ingin terbang ke desa GL dan menemani Ibu mertuaku, tapi apa daya Ibu mertuaku melarangku. Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Ibu Maya, dan aku harus menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertuaku,

Uh.. rasanya mau meledak dada ini, Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima. Ya aku hanya bisa pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.

Kring.. , kuangkat telepon di meja kerjaku.

Gimana? Sudah siap, Tanya Ibu Maya. Ya Bu saya siap, Ya sudah kamu jalan duluan tunggu Ibu di ATM BNI pemuda.

Ternyata Ibu Maya tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain. Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni, dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku, akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti biasanya.

Kurang lebih lima belas menit aku menunggu Ibu Maya, tapi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, saat kesabaranku hampir habis kulihat mobil Mercedes hitam milik Ibu Maya masuk ke halaman dan parkir. Ibu Maya pun turun dari mobil dan berjalan kearah ATM.

Hi.. Pento ngapain kamu disini?, sapa Ibu Maya.

Aku jadi bingung, namun Ibu Maya mengedipkan matanya, akupun mengerti maksud Ibu Maya, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang sedang antri mengambil uang.

Oh nggak Bu, saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga, sahutku.

Ibu Mayapun bergabung antri di depan ATM.

Gimana, temenmu belum datang juga? Saat Ibu Maya keluar dari ruang ATM.

Belum Bu.

Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah.“Koleksi Cerita Ngentot”

Aku pun berjalan kearah mobil Ibu Maya, aku duduk di depan disamping supir pribadi Ibu Maya sementara Ibu Maya sendiri duduk dibangku belakang.

Ayo, Pak Bari kita pulang Iya Nya.. , sahut Pak bari Untung aku ketemu kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman temanmu kamu udah pulang.

Uh.. batinku Ibu Maya mulai bersandiwara lagi.“Puas Ngentot Memek Boss”

Memangnya ada apa Ibu mencari saya?.

Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu OK.

Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai sampai aku tidak tahu kalau aku sudah sampai dirumah Ibu Maya.

Ayo masuk, ajak Ibu mia.

Aku sungguh terkagum kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan megah. Aku dan Ibu Maya pun masuk kerumahnya semakin kedalam aku semakin bertambah kagum melihat isi rumah Ibu Maya yang begitu antik dan mewah.

Selamat sore Nya,

Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar Bapak Pento bekerja disana.

Baik Nya.

Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem pembantu di rumah Ibu Maya.

Silakan Den, ini kamarnya.

Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem. Sebuah kamar yang besar dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar.

Kring.. , kring.. , kuangkat telepon yang menempel di dinding.

Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut.“Cerita Sex Ngentot”

Oh.. iya Bu terimakasih.

Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.

Sudah hampir jam tujuh malam tapi Ibu Maya belum muncul juga, yang ada malah Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku. Saat aku sedang asyik menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan kulihat ternyata Ibu Maya yang masuk,

Aku benar benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Ibu Maya tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Ibu Maya datang menghampiri dan ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Ibu Maya, walaupun gendut tapi Ibu Maya tetap cantik.

Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku Ibu Maya berkata kepadaku, Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua pakaian yang kamu kenakan.

Tapi Bu, protesku.

Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu.

Aku benar benar sudah tidak punya pilihan lagi, kulepas kaos yang kukenakan, kulepas juga celana pendek berikut cd ku, aku telanjang bulat sudah. Karena malu kututup kontolku dengan kedua tanganku.

Sial!, makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Ibu Maya saat itu.

Lepas tanganmu Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu, bentak Ibu Maya.

Mm.. , lumayan juga kontolmu.

Malu sekali aku mendengar komentar Ibu Maya tentang ukuran kontolku, yang ukurannya hanya standar Indonesia.

Nah, sekarang ceritakan semuanya.“Puas Ngentot Memek Boss”

Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Ibu Mertuaku, mau tidak mau burungkupun bangun dan tegak berdiri, karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami.

Kulihat Ibu Maya mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Ibu Maya menarik napas panjang. Tiba tiba Ibu Maya bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang dia kenakan, aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling berpengaruh dikantorku,

Sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku. Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Ibu Maya membuat jakunku turun naik.

Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu, bentaknya lagi.

Baik Bu, akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Ibu Maya menghampiri dan membuka kakiku kemudian mengelus elus dan mengocok ngocok kontolku, aku sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.

Ahh.. , jeritku tertahan saat mulut Ibu Maya mulai mengulum kontolku.

Ahh.. Bu.. , nikmat sekali.

Kuangkat kepala Ibu Maya, kamipun berciuman dengan liarnya, kupeluk tubuh gendut bossku.

Bu.. kita pindah keranjang saja, pintaku,

Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang. Kurebahkan tubuh Ibu Maya, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami.

Ahh.. , Jerit Ibu Maya saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya.

Uhh Pento.. enak.. sayang.

Ketelusuri tubuh Ibu Maya dan jilatan lidahkupun menuju memek Ibu Maya yang licin tanpa sehelai rambutpun. Kuhisap memek Ibu Maya dan kujilati seluruh lendir yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Ibu Maya sudah sangat terangsang mendengar ceritaku.

Ahh, jerit Ibu Maya saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku yang satu lagi meremas-remas teteknya.

Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai orgasmenya, aku makin beringas lidahku terus menjilati memek Ibu Maya yang sedang dikocok kocok dua jari tanganku.

Usahaku berhasil, Ibu Maya memohon agar aku segera memasukan kontolku le lubang memeknya, tapi aku tidak mengindahkan keinginannya, kupercepat kocokan jari tanganku dilubang memek Ibu Maya, tubuh Ibu Mayapun makin menegang

Aaarrgghh.. Pento, jerit Ibu Maya tubuhnya melenting, kakinya menjepit kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya,“Puas Ngentot Memek Boss”

Aku puas sekali melihat kondisi Ibu Maya, seperti orang yang kehabisan napas, matanya terpejam, kubiarkan Ibu Maya menikmati sisa sisa orgasmenya. Kucumbu kembali Ibu Maya kujilati teteknya, kumasukan lagi dua jariku kedalam memek nya yang sudah sangat basah.

Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu, pintanya.“Koleksi Cerita Ngentot”

Aku tidak memperdulikan permintaannya, kubalik tubuh telentangnya, tubuh Ibu Maya tengkurap kini.“Cerita Ngentot Terbaru”

Jangan.. dulu Pen.. too.. Ibu lemas sekali.“Puas Ngentot Memek Boss”

Aku angkat tubuh tengkurapnya, Ibu Maya pasrah dalam posisi nungging. Matanya masih terpejam. Kugesek gesekan kontolku kelubang memek Ibu Maya. Kutekan dengan keras dan.. Blesss masuk semua batang kontolku tertelan lubang nikmat memek Ibu Maya.

Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat.

Akupun mulai mengeluar masukan kontolku ke lubang memek Ibu Maya, orang yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku. “Cerita Sex Ngentot”

Aku puas sekali, kupompa dengan cepat keluar masuknya kontoku di lubang memek Ibu Maya, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Ibu Maya dengan tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku.

Uhh.. , jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut.

Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku. Kupompa dengan cepat kontolku, Ibu Mayapun makin belingsatan kepalanya bergerak kekiri dan kekanan.

Ahh Ibu.. aku mau.. keluar.. .

Dan cret.. cret, muncrat sudah spermaku masuk kedalam Memek dan rahim Ibu Maya, beberapa detik kemudian Ibu Maya pun menyusul mendapatkan orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Ibu Maya tidak peduli apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.

Ibu Maya rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk tubuh gendut Ibu Maya. Nikmat sekali.. , Orgasme yang baru saja kami raih bersamaan, kulihat Ibu Maya sudah lelap tertidur,

Dari celah belahan memek Ibu Maya, air manyku masih mengalir, aku benar benar puas karena orang yang telah melecehkanku sudah kubuat KO. Kuciumi kembali tubuh Ibu Maya, kontolkupun tegak kembali, ku balik tubuh Ibu Maya agar telentang, kuangkat dan kukangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Ibu Maya.

Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang, Lirih sekali suara Ibu Maya.

Aku sudah tidak peduli, langsung kutancapkan kontolku ke lubang nikmat Ibu Maya, Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Maya terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku,

Rasanya saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan Ibu Maya hanya memejamkan matanya. Kukocok dengan cepat dan keras keluar masuknya kontolku di lubang memek Ibu Maya.. , dan langsung ku cabut kontolku dan kumuncratkan air maniku diatas perut Ibu Maya.

Karena lelah akupun tertidur sisamping tubuh telanjang Ibu Maya, sambil kupeluk tubuhnya, saat aku terbangun kulihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, buru buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan mengenakan pakaian kerjaku.

Bu.. Bu.. Maya bangun Bu.. .

Akhirnya dengan malas Ibu Maya membuka matanya.

Sudah malam Bu saya mau pulang.“Puas Ngentot Memek Boss”

Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi.

Ibu Mayapun bangkit mengenakan pakaiannya, kami berdua berjalan keluar kamar.

Tunggu sebentar ya Pento, kemudian Ibu Maya masuk kekamarnya, beberapa saat kemudian Ibu Maya keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang menawan.

Ini untuk kamu.“Cerita Ngentot Terbaru”

Apa ini Bu?, Tanyaku, saat Ibu Maya menyodorkan sebuah amplop kepadaku.

Aku menolak pemberian Ibu Maya, namun Ibu Maya terus memaksaku untuk menerimanya. Terrpaksa kukantongi amplop yang diberikan Ibu Maya lalu kembali kami berciuman dengan mesranya.

Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja bersetubuh dengan Ibu Maya. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku benar benar menikmatinya.

Certa Sex – Gejolak Birahi Tinggi..

Dia terlihat tidak bisa baca tapi kalau soal ngentot sungguh liar banget dia dicap sebagai playboy di kampungnya, sedikit percaya saya jika dia memliki nafsu besar terlihat punggungnya yang bongkok tangannya banyak bulu warna kulitnya coklat mengkilap jika terkena keringat.

Biasanya ciri ciri tersebut mempunyai kont’ol yang gede sungguh jika kau dekat dengan dia gejolak birahiku tinggi, ditambah lagi selalu terlihat tonjolan bagian depan celanaya, ibu ibu di sekitarnya gatel juga jika ngobrolin pak Bagas(Kont’ol gede), hingga babu-babu genit sangat asyik kalau ngomongin bagaimana sepulang dari pasar tadi ngebonceng ojeknya Bagas.

Mereka cerita soal baunya yang merangsang, soal senggolan dengan tangannya yang penuh bulu. Kadang-kadang mereka sengaja menempelkan susunya saat mbonceng ojek sepeda si Bagas. Sebaliknya si Bagas, dia juga termasuk banyak omong. Dia ceritakan kalau si Nem, babu Koh Abong demen banget nyiumin kontolnya. Dia enyotin kontolnya hingga pejuhnya muncrat ke mulutnya. Dia telan tuh pejuh, nggak ada sisanya.cerita sex ngentot

Bahkan dia juga cerita kalau Enci’nya (bininya) Koh Abong suka mencuri-curi pandang, dan menaik-naikkan alisnya kapan pandangannya berbenturan dengan mata Bagas. Dia lagi cari kesempetan atau alasan bagaimana bisa ketemu empat mata tanpa dilihat lakinya.

Lain lagi Dety, orang Menado yang lakinya kerja di kapal yang hanya 6 bulan sekali lakinya pulang dari laut, itupun tidak lebih dari 1 minggu. Dety berbisik sama Atun temen gosipannya,

‘Uhh Tuunn, gue mau klenger deh rasanya’, suatu pagi dia buka omongan, cerita hot ngentot

‘Kenape emangnya?’, tanya Atun balik dengan logat Betawinya yang kental.

‘Gua baru ngrasain deh. Tuh kontol Bagas yang sedepa (mau cerita betapa panjangnya) bener-bener bikin semaput’.

Kemudian dia ceritakan bagaimana tanpa sengaja suatu siang si Bagas kencing di kebon samping rumahnya. Sebagai perempuan yang kesepian karena jarang dapat sentuhan lakinya, dia iseng ngintip dari balik pohon angsana dekat dapurnya. Dia lihat saat Bagas merogoh celananya dan menarik kontolnya keluar. Dety bilang napasnya langsung nyesek. Dia plintirin pentilnya sembari ngintip Bagas kencing. Dia mengkhayal,

‘.. coba aku yang dia kencingin.. hhuuhh..’.

Dan beberapa menit sesudah Bagas meninggalkan tempat, dengan gaya yang tidak memancing perhatian orang dia nyamperin tuh tempat kencingnya Bagas. Bagian terakhir ini dan selanjutnya nggak dia ceritakan sama si Atun.

Dia amati batang pohon mangga yang dikencinginnya. Basah. Air liur Dety menetes keluar, jakunnya naik turun. Darahnya tersirap. Dan tanpa bisa menahan diri, tahu-tahu tangan kanannya sudah nyamperin tuh yang basah di batang pohon. cerita sex ngentot

Diusapnya basah kencing si Bagas di pohon itu. Matanya nglirik kanan-kiri-depan nggak ada orang lain, dia endus tuh basah di tangannya itu. Wuu.. pesing banget. Kemudian lidahnya menjulur menjilati basah kencing Bagas itu. Eddaann..

Semua cerita-cerita itu terung terang membuat aku dipenuhi setumpuk obsesi. Kapaann memekku diterobosi kontolnya?! Dan dari kepalaku mengalir berbagai gagasan untuk menjebak Bagas.

Dan kalau sudah begini, mataku menerawang. Aku pengin jilatin batangnya, bijih pelernya sampai dia teriak-teriak keenakkan. Aku akan ciumin pentilnya. Kemudian ketiaknya. Aku akan jilatin semua lubang-lubang bagian tubuhnya. cerita hot ngentot

Wwwuu.. nafsu libidoku.. kenapa liar begini ssiihh..?!

Suatu sore, karena ada beberapa bumbu dapur yang habis, aku pergi ke warung langgananku di pasar. Aku pikir jalan sih nggak begitu jauh saat tiba-tiba Bagas dari arah belakangku naik sepeda ojeknya nawarin,

‘Kemana bu? Saya anter?’.

Terus terang aku langsung terkesiap dan .. gagap..,

‘Eehh kang Bagas (begitulah aku biasa memanggil orang lain akang atau kang sebagai tanda hormatku) ..eehh, ..bb ..boleehh, ..mau ke warung langganan nihh’.

Seperti kebo yang dicocok hidungnya, aku nyamperin jok belakang sepedanya, naruh pantat di boncengan sepeda si Bagas.

Seketika aku diserang obsesiku. Sementara Bagas nggenjot sepeda, agar tidak jatuh tanganku berpegangan pada sadel yang tentu saja menyentuh bokongnya. Ada setrum yang langsung menyerang jantungku. Deg, deg, deg. Aku dekatkan wajahku ke punggungnya hingga aku cium bau keringatnya. cerita sex ngentot

‘Narik dari jam berapa mas?’, aku buka omongan,

‘Yaah nggak tentu bu. Hari ini saya mulai keluar jam 10.00 pagi. Soalnya pagi-pagi tadi tetangga minta bantu pasang kran air. PAM-nya nggak mau keluar’. cerita hot ngentot

Wwaaoo.., tiba-tiba ada ide yang melintas!

‘Apa yang nggak mau keluar ..?’, nada bicaraku agak aku bengkokkan.

‘Kenapa nggak mau keluar ..?’, untuk lebih memperjelas nada bicaraku yang pertama.

Jawabannya nggak begitu aku dengar karena ramainya jalanan.

‘Ooo.., kirain apaan yangg.. nggakk keluarr..’.

Dan tanpa aku sadari sepenuhnya, tanganku menjadi agresif, menepuki paha Bagas.

‘Kirain barang Mas Bagas yang ini nggak mau keluar’, mulutkupun tak lagi bisa kukendalikan dengan sedikit aku iringi sedikit ha ha hi hi.

‘Aahh, ibuu, ntarr dilihat orang lhoo’, sepertinya dia menegor aku. Kepalang basah,

‘Habiiss.., orang-orang pada ngomongin ini ssiihh..’, aku sambung omongan sambil tanganku lebih berani lagi, menepuki bagian bawah perutnya yang naik turun karena kaki-kakinya menggenjot sepeda. Dalam hatiku, kapan lagi kesempatan macam ini datang.

‘Siapa yang ngomoong buu..??’, dia balik tanya tapi nggak lagi ada tegoran dari mulutnya.

Dan tanganku yang sudah berada di bagian depan celananya ini nggak lagi aku tarik. Bahkan aku kemudian mengelusi dan juga memijat-mijat tonjolan celananya itu.

Aku tahu persis nggak akan dilihat orang, karena posisi itu adalah biasa bagi setiap orang yang mbonceng sepeda agar tidak terlempar dari boncengannya. cerita hot ngentot

‘Ibu berani banget nih, n’tar dilihat orang terus nyampai-in ke bapak lho buu’.

Aku tidak menanggapi kecuali tanganku yang makin getol meremas-remas dan memijat. Dan aku rasakan dalam celana itu semakin membesar. Kontol Bagas ngaceng. Aku geragapan, gemetar, deg-degan campur aduk menjadi satu.

‘Mas Jayuuss..’, suaraku sesak lirihh.

‘Bbuu.., aku ngaceng buu..’.

Ooohh, obsesiku kesampaian.., dan aku jawab dengan remasan yang lebih keras.

Terus terang, aku belum pernah melakukan macam ini. Menjadi perempuan dengan penuh nafsu birahi menyerang lelaki. Bahkan sebagai istri yang selama ini cinta dan dicintai oleh suaminya. Dan nggak perlu diragukan, bahwa suamiku juga mampu memberi kepuasan seks setiap aku bersebadan dengannya.

Tetapi juga nggak diragukan pula bahwa aku ini termasuk perempuan yang selalu kehausan. Tidak jarang aku melakukan masturbasi sesaat sesudah bersebadan dengan suamiku. Biasanya suamiku langsung tertidur begitu habis bergaul. cerita sex ngentot

Pada saat seperti itu birahiku mengajak aku menerawang. Aku bayangkan banyak lelaki. Kadang-kadang terbayang segerombolan kuli pelabuhan dengan badan dan ototnya yang kekar-kekar. Telanjang dada dengan celana pendek menunjukkan kilap keringatnya pada bukit-bukit dadanya.

Mereka ini seakan-akan sedang menunggu giliran untuk aku isepin dan kulum kontol-kontolnya. Wwoo, khayalan macam itu mempercepat nafsuku bangkit.

cerita sex ngentot

‘Kang Bagas, aku pengin ditidurin akang lho’, aku bener-bener menjadi pengemis. Pengemis birahi.

‘Jangan bu, ibu khan banyak dikenalin orang di sini’, jawabnya,

yang justru membuat aku makin terbakar.

‘Kita cari tempat, nanti aku yang bayarin’, kejarku.

‘Dimana bu, aku nggak pernah tahu’.

Iyyaa, tentu saja Bagas nggak pernah mikir untuk nyewa kamar hotel. Klas ekonominya tukang ojek sepeda khan kumuh banget.

Saat nyampai di warung tujuan aku turun dari sepedanya,

‘Kang Bagas tungguin saya yah’, biar nanti aku kasih tahu kemana mencari tempat yang aman dan nyaman untuk acara bersama ini.

‘Nih tempatnya yang kang Bagas tanyain tadi, barusan aku pinjem pensil enciknya (pemilik warung) dan aku tulis tuh alamat hotel yang pernah aku nginap bersama suami saat nemenin saudara yang datang dari Surabaya. cerita hot ngentot

‘Maapin bu, saya nggak bisa baca’,

ahh.. aku baru ingat kalau dia buta huruf.., konyol banget nih.

‘OK kang, gini aja, besok akang tunggu saja aku di halte bis depan sekolah SD Mawar, tahu? Jam 10 pagi, OK?’, dia ngangguk bengong.

Walaupun nggak bisa baca rupanya dia tahu apa artinya ‘OK’.

‘Tt.. tapi bu.., n’tar ada yang ngliatin, n’tar diaduin ke suami ibu, n’tar..’,

rupanya dia belum juga mengambil keputusan. Keputusan nekad. Ampuunn.. Aku jadinya nggak sabar.

‘Udahlah kang, ayyoo, sambil jalan..’, sementara hari udah mulai gelap, lampu jalanan sudah menyala. cerita sex ngentot

Pada jam begini orang-orang sibuk, kebanyakan mereka yang baru pulang kerja.

Kembali aku duduk di boncengan sepedanya. Dan kembali aku langsung merangkul pinggangnya hingga tanganku mencapai bagian depan celananya. Rupanya kontol Bagas udah ngaceng. Tangankupun langsung meremasi gundukkan di celananya itu.

‘Bbuu, enaakk..’, dia mendesah berbisik.

‘Makanya aayyoo kang.., aku juga pengin ini banget..’, jawabku sambbil memijat gundukkan itu.

Beberapa saat kami saling terdiam, saling menikmati apa yang sedang berlangsung.

‘Buu, bagaimana kalau ketempat lain aja yang gampang bu??’, wwoo.. aku berbingar.

Rupanya sambil jalan ini Bagas mikirin tempat.

‘Dimana?’, tanyaku penuh nafsu,

‘Di rumah kontrakan temen saya, kebetulan lagi kosong, yang punya rumah lagi mudik, lagian kebonnya lebar, nggak akan ada yang ngliatin, apa lagi gelap begini’.

‘Jadi kang Bagas maunya sekarang ini?’, aku agak terperangah, nggak begitu siap, n’tar suamiku nyariin lagi.

‘Habis kapan lagi bu? Sekarang atau besok-besok sama saja, lagian besok-besok mungkin di rumah itu udah ramai, pemiliknya udah pulang lagi’.

Kalau menyangkut nafsu birahi riupanya Bagas ini nggak begitu bodoh. Cukup lama sebelum akhirnya aku menjawab,

‘Ayyolahh..’, sepeda ojek langsung berbalik, beberapa kali berbelok-belok masuk gang-gang kumuh.

Nampaknya orang-orang ramai sepanjang jalan nggak mau ngurusin urusan orang lain. Mereka nampak tidak acuh saat kami melewatinya.

Kemudian sepeda ini nyeberangin lapangan yang luas dibawah tiang tegangan tinggi sebelum masuk rumah kontrakkan yang diceritakan Bagas tadi. Di depan tanaman pagar yang rapat ada pintu halaman dari anyaman ambu, kami berhenti.

Dari dalam ada orang yang bergegas keluar, cerita sex ngentot

‘Min, ini mpok gua, baru dateng dari Cirebon, numpang istirahat sebentar sebelum nerusin ke Bekasi, rumah mertuanya.

N’tar aku nggak pulang mau ngantar ke Bekasi ya?!’,

aahh.., lihai banget nih Bagas, ngibulnya bener-bener penuh fantasi.. Aku salaman sama ‘Min’ tadi. Saat bersalaman, salah satu jarinya dia selipkan ke telapak tanganku kemudian mengutiknya. Kurang ajar, batinku, rupanya dia tahu kalau si Bagas sekedar ngibul. Rupanya cara macam ini sudah saling mereka kenali. Rupanya kibulan tadi justru untuk aku. Untuk menyakinkan aku bahwa tempat ini aman untukku.

‘Ayo bu, istrirahat dulu, mandi-mandi dulu, n’tar aku ikut ke Bekasi, biar nggak nyasar-nyasar’,

uuhh..tukang kibulku.. yang.. sebentar lagi akan aku jilati kontolnya.

Dan memang aku sudah jadi perempuan yang nekad, pokoknya harus bisa merasakan ngentot sama Bagas. Dan sekarang ini kesempatanya. Masa bodo dengan segala kibulan Bagas, masa bodo dengan tangan usil si ‘Min’ tadi.

Nggak tahunya aku dibawa ke loteng. Dengan tangga yang nyaris tegak aku mengikuti Bagas memasuki ruangan yang sempit berlantai papan dengan nampak bolong sana-sini.

Dalam ruangan tanpa plafon hingga gentingnya yang rendah itu hampir menyentuh kepala, kulihat tikar tergelar. Dan nampak bantal tipis kusam di ujung sana. Kuletakkan barang bawaanku.

Tanpa menunggu ba bi Bu lagi Bagas langsung menerkam aku. Tangannya langsung memerasi bokongku kemudian susu-susuku. Akupun langsung mendesah.. Birahiku bergolak.. Darahku memacu.

Aku menjadi sangat kehausan.. Tanganku langsung membuka kancing celana Bagas kemudian memerosotkannya. Dalam dekapan dan setengah gelagapan yang disebabkan kuluman bibir Bagas, aku merabai selangkangannya.

Kontol yang benar-benar gede dan panjang ini kini dalam genggaman tanganku. Aku keras dan liatnya, denyut-denyutnya. Kontol yang hanya terbungkus celana dalam tipis hingga hangatnya aku rasakan dari setiap elusan tangan kananku. Kami saling melumat.

‘Bbuu, aku nafsu bangett bbuu..’, aku dengar bisikan desah Bagas di telingaku. Hhheehh..

Kemudian tangan Bagas menekan pundakku supaya aku rebah ke tikar yang tersedia. Terus kami bergumul, dia menaiki tubuhku tanpa melepaskan pagutannya. Dan tanganku merangkul erat tubuhnya.

Kemudian dia balik hingga tubuhku ganti yang menindih tubuhnya. Aku terus melumatinya. Lidahnya yang menjulur kusedoti. Ludahku di-isep-isep-nya.

‘Bbbuu, aayyoo ..aku udah nggak tahan nihh..’.

Sama. Nafsu liarku juga sudah nggak terbendung. Aku prosotkan sendiri celana dalamku tanpa mencopot roknya.

Sementara itu ciuman Bagas telah meruyak ke buah dadaku. Wwwuu.. Aku menggelinjang dengan amat sangat. Bulu-bulu bewok dan kumis yang tercukur rasanya seperti amplas yang menggosoki kulit halus dadaku.

Dalam waktu yang singkat berikutnya kami telah sama-sama telanjang bulat. Bagas menindih tubuhku. Dan aku telah siap menerima penetrasi kontolnya ke vaginaku. Aku telah membuka lebar-lebar selangkanganku menyilahkan kontol gede Bagas itu memulai serangan.

Saat ujung kemaluannya menyentuh bibir vaginaku, wwuuhh ..rasanya selangit. Aku langsung mengegoskan pantatku menjemput kontol itu agar langsung menembusi kemaluanku. Sungguh aku menunggu tusukkan batang panas itu agar kegatalan vaginaku terobati.

Agak kasar tapi membuatku sangat nikmat, Bagas mendorong dengan keras kontolnya menerobos lubang kemaluanku yang sempit sekaligus dalam keadaan mencengkeram karena birahiku yang memuncak. Cairan-cairan pelumas yang keluar dari kemaluanku tidak banyak membantu. Rasa pedih perih menyeruak saraf-saraf di dinding vaginaku. Tetapi itu hanya sesaat.

Begitu Bagas mulai menaik turunkan pantatnya untuk mendorong dan menarik kontolnya di luang kemaluanku, rasa pedih perih itu langsung berubah menjadi kenikmatan tak bertara. Aku menjerit kecil.. tetapi desahan bibirku tak bisa kubendung. Aku meracau kenikmatan,

‘Enak banget kontolmu kang Bagass.. aacchh.. nikmatnyaa.. kontolmu Bagass.. oohh.. teruusszzhh.. teruuzzhh.., uuhh gede bangett yaahh.. kangg.. kangg enakk..’ cerita ngentot terbaru

Genjotan Bagas semakin kenceng. Bukit bokongnya kulihat naik turun demikian cepat seperti mesin pompa air di kampung. Dan saraf-saraf vaginaku yang semakin mengencang menimbulkan kenikmatan tak terhingga bagiku dan pasti juga bagi si Bagas. Dia menceloteh,

‘Uuuhh buu, sempit banget nonokmuu ..buu.., sempit bangeett.. bbuu enaakk bangett..’.

Dan lebih edan lagi, lantai papan loteng itupun nggak kalah berisiknya. Aku bayangkan pasti si ‘Min’ dibawah sono kelimpungan nggak keruan. Mungkin saja dia langsung ngelocok kontolnya sendiri (onani).

Terus terang aku sangat tersanjung oleh celotehannya itu. Dan itu semangatku melonjak. Pantatku bergoyang keras mengimbangi tusukkan mautnya kontol Bagas. Dan lantai papan ini .. berisiknyaa.. minta ampun!

cerita sex ngentot

Percepatan frekwensi genjotan kontol dan goyangan pantatku dengan cepat menggiring orgasmeku hingga ke ambang tumpah,

‘Kang .. kang.. kang..kang.. aku mau keluarrcchh.. keluarrcchh.. aacchh..’, aku histeris.

Ternyata demikian pula kang Bagas. Genjotan terakhir yang cepatnya tak terperikan rupanya mendorong berliter-liter air maninya tumpah membanjiri kemaluanku. Keringat kami tak lagi terbendung, ngocor. cerita ngentot terbaru

Kemudian semuanya jadi lengang. Yang terdengar bunyi nafas ngos-ngosan dari kami. Dari jauh kudengar suara kodok, mungkin dari genangan air comberan di kebon.

Aku tersedar. Dirumah pasti suamiku gelisah.

‘Kang Bagas, aku mesti cepet pulang nih ..’, Dia hanya melenguh

‘..hheehh..’. Kulihat kontolnya ternyata masih tegak kaku keluar dari rimbunan hitam jembutnya menjulang ke langit. Apa mungkin dia belum puas?? Aku khawatir kemalaman nih.

‘Ayyoo kang, pulang dulu.., kapan-kapan kita main lagi yaahh ..’.cerita ngentot terbaru

Bagas bukannya bangun. Dia berbalik miring sambil tangannya memeluk tubuhku mulutnya dia tempelkan ke pipiki dan berbisik,

‘Buu, aku masih kepingin..’,

‘Nggak ah.., aku kan takut kemalaman, nanti suamiku nyariin lagi’.

‘Jangan khawatir bu.. Sebentar saja.. Aku pengin ibu mau ngisepin kontolku. Kalau diisepin cepat koq keluarnya dan aku cepat puas. Lihat aja nih, dianya nggak mau lemes-lemes. Dia nunggu bibir ibu nihh..’.

Bagas menunjukkan kontolnya yang gede panjang dalam keadaan ngaceng itu.

‘Ayyoo dong buu.., kasian khan .., bbuu..?!’.cerita ngentot terbaru

Dia mengakhiri omongannya sambil bangkit, menggeser tubuhnya, berdiri kemudian ngangkangin dadaku lantas jongkok. Posisi kontolnya tepat di wajahku. Bahkan tepat di depan bibirku.

‘Aayyoo buu, isepin duluu.., ayyoo buu, ciumin, jilat-jilat..’.

Aku jadi nggak berkutik. Aku pikir, biarlah, OK-lah, supaya cepat beres dan cepat pulang.

Kuraih kontol itu, kugenggam dan kubawa kemulutku. Aku jilatin kepalanya yang basah oleh spermanya sendiri tadi. Aku rasain lubang kencingnya dengan ujung lidahku.

‘Aammpuunn.. Enakkbangett..’, Bagas langsung teriak kegatalan.

Sambil tanganku mempermainkan bijih pelernya, kontol itu aku enyotin dan jilatin. Rupanya Bagas ingin aku cepat mengulumnya. Dan dia kembali mulai memompa. Kali ini bukan memekku tetapi mulutku yang dia pompa.

Pelan-pelan tetapi teratur. Dan aku.., uuhh.. merasakan kontol gede dalam rongga mulutku.., rasa asin, amis, pesing dan asem berbaur yang keluar dari selangkangan, jembutnya, bijih pelernya.., nafsuku kembali hadir.

Dan pompa Bagas mencepat. Aku mesti menahan dengan tanganku agar kontol itu tidak menyodok tenggorokanku yang akan membuatku tersedak. Tidak lama ..

Tiba-tiba Bagas menarik kontolnya dan tangan kanannya langsung mengocoknya dengan cepat persis didepan muluku.cerita ngentot terbaru

‘Ayoo bu, minum pejuhku.. Buu, ayo makan nih kontolkuu.. Ayoo buu..minumm..buu.. Bbbuu..’,

kocokkan itu makin cepat. Dan reflekku adalah membuka mulut dan menjulurkan lidahku. Aku memang pengin banget, memang menjadi obsesiku, aku pengin minum sperma si Bagas. Dan sekarang ..

Entah berapa banyak sperma Bagas yang tumpah kali ini. Kurasakan langsung ke mulutku ada sekitar banyak kali muncratan.

Dan aku berusaha nggak ada setetespun yang tercecer. Uuuhh.., aku baru merasakan. Gurihnya sperma Bagas mengingatkan aku pada rasa telor ayam kampung yang putih dan kuningnya telah diaduk menjadi satu. Ada gurih, ada asin, ada tawarnya.. dan lendir-lendir itu ..nikmatnyaa..

Saat pulang kuselipkan dalam genggaman si ‘Min’ lembaran Rp. 50 ribu. Mungkin semacam ongkos bungkam. Dia dengan senang menerimanya. Tak ada lagi jari ngutik-utik telapak tanganku.

Bagas menurunkan aku di belokkan arah rumahku. Aku beri Bagas lembaran Rp. 100 ribu, tetapi dia menolak,

‘Jangan bu, kita khan sama-sama menikmati.., dan terserah ibu.., kalau ibu mau, kapan saja saya mau juga .. Tetapi saya nggak akan pernah mencari-cari ibu, pemali, n’tar jadi gangguan, nggak enak sama bapaknya khan?!’.

Wah.., dia bisa menjaga dirinya dan sekaligus menjaga orang lain. Aku senang.

Sesampai di rumah ternyata suamiku tidak gelisah menunggu istrinya. Kebetulan ada tamunya, tetangga sebelah teman main catur. Aku cepat tanggap,

‘Udah dibikinin kopi belum pak?!’ ..yang terdengar kemudian .. Skak!

Certa Sex – Susternya Binal Semua..

Saat aku sedang asik mendengarkan lagu didalam mobil aku melihat kerumunan orang yang mana terjadi keributan dari kejauhan gak jelas siapa dengan siapa setelah lanjut perjalanan dengan pelan pelan saat menoleh ternyata yang dikeroyok malah Kakak temanku, segera langsung aku pinggirkan mobilku untuk menghampirinya.

Aku tarik dua orang yang sedang memukulnya karena Bandi sudah jatuh terduduk dan dihajar berempat sekarang Bandi mengurus dua orang dan aku dua orang memang masih tidak seiimbang dalam perkelahianku aku berhasil menangkap satu dari lawanku dan aku jepit kepalanya dengan lengan kiriku sedang lengan kananku aku gunakan untuk menghajarnya

Sementara aku berusaha menggunakan kakiku untuk melawan yang satunya lagi aku tak sempat lihat apa yang dilakukan Bandi waktu seakan sudah tidak dapat dihitung lagi demikian cepatnya sampai hal terakhir yang masih aku ingat adalah aku merasakan perih di pinggang kanan belakangku

Dan saat kutengok ternyata aku ditusuk dengan sebilah belati dari belakang oleh entah siapa sambil menahan sakit aku merenggangkan jepitanku pada korbanku dan berusaha melakukan tendangan memutar.

Sasaranku adalah lawan yang di depanku. Namun pada saat melakukan tendangan memutar sambil melayang tiba-tiba aku melihat ayunan stcik soft ball ke arah kakiku yang terjulur ngga’ ampun lagi aku jatuh terjerembab dan gagal melancarkan tentangan mautku.

Sesampainya aku di tanah dengan agak tertelungkup aku merasakan pukulan bertubi-tubi mungkin lebih dari 3 orang yang menghajarku. Terakir kali kuingat aku merasakan beberapa kali tusukan sampai akhirnya aku sadar sudah berada di rumah sakit.

Aku tidak jelas berada di rumah sakit mana yang pasti berisik sekali dan ruangannya panas dalam ruangan tersebut ada beberapa ranjang pada saat aku berusaha untuk melihat bagian bawahku yang terluka aku masih merasakan nyeri pada bagian perutku dan kaki kananku serasa gatal dan sedikit kebal ( mati rasa ).

Aku coba untuk geser kakiku ternyata berat sekali dan kaku. Kemudian aku paksakan untuk tidur Sore itu aku dijenguk oleh Dian adik Bandi Dian ini teman kuliahku dia datang bersama dengan Mita adiknya yang di SMA katanya habis jenguk Bandi dan Bandi ada di ruang sebelah

” Makasih ya Joss kalo ngga’ ada kamu kali Bandi sudah ” katanya sambil menitikkan air mata ” Sudahlah semua ini sudah berlalu tapi kalo boleh aku tau kenapa Bandi sampe dikeroyok gitu ? ” tanyaku penasaran.

” Biasa gawa-gara cewec mereka goda cewec Airlangga dan cowocnya marah makanya dikeroyok emang sich bukan semua yang ngeroyok itu anak Airlangga sebagian kebetulan musuh Bandi dari SMA, sialnya Bandi saja ketemu lagi dan suasananya kaya’ gitu jadi dech di dihajar rame-rame ” jawab Mita.

” Kak Jossy yang luka apanya saja ? ” tanya Mita.

” Tau nih rasanya ngga’ keruan ” jawabku ” Lihat aja sendiri soalnya aku ngga’ bisa gerak banyak kamu angkat selimutnya sekalian aku juga mo tau ” lanjutku pada Mita.

” Permisi ya Kak ” kata Mita langsung sambil membuka selimutku ( hanya diangkat saja ). Sesaat dia pandangi luka-lukaku dan mungkin karena banyak luka sehingga dia sampe bengong gitu dan pas aku lihat pinggangku dibalut sampe pinggul dan masih tembus oleh darah.

Di bawahnya lagi aku melihat. ya ampun pantes ni anak singkong bengong meriamku tidak terbungkus apa-apa dan yang seremnya kepalanya yang gede kelihatan menarik sekali seperti perkedel. Sesaat kemudian aku masih sempat melihat kaki kananku digips.

Mungkin patah kena stick soft ball. Mita menutup kembali selimut tadi dan Dian tidak sempat melhat lukaku karena dia sibuk nangis hatinya memang lemah sepertinya dia melankolis sejati. ” Mita sini aku mo bilangin kamu ” kataku Mitapun menunduk mendekatkan telinganya ke mulutku.

” Jangan bilang sama Dian soal apa yang kamu lihat barusan kamu suka ngga’ ? ” kataku berbisik. ” Serem ” bisiknya bales.

” Dian kamu jangan lihat lukaku nanti kamu makin nnga’ kuat lagi nahan tangismu ” kataku.

” Tapi paling tidak amu mo tau boleh aku raba ? ” tanyanya ” Silahkan pelan-pelan ya masih belum kering lukanya. ” jawabku.

Dianpun memasukkan tangannya ke balik selimut dan mulai meraba dari dada ke perut di situ dia merasakan ada balutan digesernya ke kanan kiri terus ke bawahan dikit

” Kok perbannya sampe gini lukanya kaya’ apa ? ”

” Wah aku sendiri belum jelas ” aku jawab pertanyaan Dian. Turun lagi tangannya ke pinggul kanan kena kulitku terus ke tengah kena meriamku dia raba setengah menggenggam untuk meyakinkan apa yang tersentuh tangannya tersentak dan dia menarik tangannya sedikit sambil melepas pengangannya pada meriamku

” Sorry ngga’ tau. ” ” Ngga’ apa-apa kok malah enak kalo sekalian dipijitin soalnya badanku sakit semua ” kataku nakal.

” Nah. Kak Dian pegang anunya Kak Joss ya ? ” goda Mita Merah wajah Dian ditembak gitu. Dian terus saja meraa sampe pada kaki kananku dan dia menemukan gips ” Lho kok digips ? ”

” Iya patah tulangnya kali ” jawabku asal untuk menenangkan pikirannya Dian selesai merabaiku tapi tampak sekali dia masih kepikiran soal sentuhan pada meriam tadi dan sesekali matanya masih melirik ke sekitar meriamku sedang aku juga sedang menikmati dan membayangkan ulang kejadian barusan Flash back lah.

Tanpa sadar tiba-tiba meriamku meradang dan mulai bangun sehingga tampak pada selimut tipis kalo ada sesuatu perkembangan di sana.

” Kak Joss anunya bangun ” bisik Dian padaku sambil dia ambil selimut lain untuk menutupnya tapi tangannya berhenti dan diam di atasnya

” Supaya Mita ngga’ ngelihat ” bisiknya lagi.

Aku cuman bisa mengangguk aku sadar ujung penisku masih dapat menggapai telapaknya aku coba kejang-kejangkan penisku dan Dian seperti merasa dicolek-coleh tangannya.

” Mit kamu pamit sama Mas Bandi dech kita bentar lagi pulang dan biar mereka istirahat ” kata Dian dan Mitapun melangkah keluar ruangan

” Kak Joss. nakal sekali anunya ya ” bisik Dian aku balas dengan ciuman di pipinya. ” Dian tolongin donk diurut-urut itunya biar lupa sakitnya ” pintaku

” Iya dech ” jawab Dian langsung mengurut meriamku dari luar selimut biar ngga’ nyolok dengan pasien lain walaupun antara ranjang ada penyekatnya ” Ian dari dalem aja langsung biar cepetan. ” pintaku karena merasa tanggung dan waktunya mepet sekali dia mo pulang.,

Dian menuruti permintaanku dengan memeriksa sekitar lebih dulu terus tangannya dimasukkan dalam selimutku langsung meremas meriamku dielusnya batangku dan sesekali bijinya dikocoknya lembut sekali wah gila rasanya lama juga Dian memainkan meriamku sampe aku ngga’ tahan lagi dan crrooottt.. crot. ccrrroooo..tttt. beberapa kali keluar

Tiba-tiba Mita datang dan buru-buru Dian tarik tangannya dari balik selimut sedikt kena spermaku telapak tangan Dian dia goserkan pada sisi ranjang untuk mengelapnya

” Sudah Kak Joss aku sama Mita mo pulang. ” pamit Dian ” Sudah keluar khan ” bisiknya pada telingaku cup pipiku diciumnya ” Cepet sembuhnya besok aku tengok lagi ” Dia sengaja menciumku untuk menyamarkan bisikannya yang terakhir.

” Eh kalo bisa bilangin susternya aku minta pindah kelas satu donk di sini gerah ” pintaku pada mereka. Merekapun keluar kamar dan melambaikan tangan satu jam kemudian aku dipindahkan ke tempat yang lebih bagus ada ACnya dan ranjangnya ada dua.

Tapi ranjang sebelah kosong. Posisi kamarku agak jauh dari pos jaga suster perawat itu aku tau saat aku didorong dengan ranjang beroda.

” Habis gini mandi ya ” kata suster perawat sehabis mendorongku ngga’ lama kemudian dia sudah balik dengan ember dan lap handuk dia taruh ember itu di meja kecil samping ranjangku dan mulai menyingkap selimutku serta melipatnya dekat kakiku.

Terbuka sudah seluruh tubuhku pas dia lihat sekita meriamku terkejut dia ada dua hal yang mengagetkannya yang pertama adalah ukuran meriam serta kepalanya yang di luar normal besar sekali dan yang kedua ada hasil kerjaan Dian spermaku masih berantakan tanpa sempat dibersihkan walaupun sebagian menempel di selimut tapi bekasnya yang mengering di badanku masih jelas terlihat.

” Kok kayaknya habis orgasme ya ? ” tanyanya. Lalu tanpa tunggu aju jawab dia ambil wash lap dan sabun ” Sus jangan pake wash lap geli saya ngga’ biasa ” kataku. Suster itu mulai dengan tanganku dibasuh dan disabunnya usapannya lembut sekali sambil dimandiin aku pandangi wajahnya dadanya cukup gede kalo aku lihat orangnya agak putih tangannya lembut.

Selesai dengan yang kiri sekarang ganti tangan kananku dan seterusnya ke leher dan dadaku terus diusapnya sapuan telapak tangannya lembut aku rasakan dan akupun memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.

Sampe juga akhirnya pada meriamku dipegangnya dengan lembut. ditambah sabun digosok batangnya bijinya kembali ke batangnya dan aku ngga’ kuat untuk menahan supaya tetap lemas akhirnya berdiri juga pertama setengah tiang lama-lama juga akhirnya penuh keras. dia bersihkan juga sekitar kepala meriamku sambil berkata lirih

” Ini kepalanya besar sekali baru kali ini syya lihat kaya’ gini besarnya ”

” Sus enak dimandiin gini ” kataku memancing. Dia diam saja tapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batangku kaya’nya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan

” Enak Mas kalo diginikan ? ” tanyanya dengan lirikan nakal. ” Ssshh iya terusin ya Sus sampe keluar ” kataku sambil menahan rasa nikmat yang ngga’ ketulungan tangan kirinnya mengambil air dan membilas meriamku kemudian disekanya dengan tangan kanannya.

Kenapa kok diseka pikirku tapi aku diam saja mengikuti apa yang mau dia lakukan pokoknya jangan berhenti sampe sini aja pusing nanti Dia dekatkan kepalanya dan dijulurkan lidahnya kepala meriamku dijilatnya perlahan

Dan lidahnya mengitari kepala meriamku sejuta rasanya wow enak sekali lalu dikulumnya meriamku aku lihat mulutnya sampe penuh rasanya dan belum seluruhnya tenggelam dalam mulutnya yang mungil

Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur. Lama juga aku diisep suster jaga ini sampe akhirnya aku ngga’ tahan lagi dan crooott. crooott nikmat sekali. Spermaku tumpah dalam rongga mulutnya dan ditelannya habis sisa pada ujung meriamkupun dijilat serta dihisapnya habis

” Sudah sekarang dilanjutkan mandinya ya ” kata suster itu dan dia melanjutkan memandikan kaki kiriku setelah sebelumnya mencuci bersih meriamku badanku dibaliknya dan dimandikan pula sisi belakang badanku. Selesai acara mandi

” Nanti malam saya ke sini lagi nanti saya temenin ” katanya sambil membereskan barang-barangnya. terakhir sebelum keluar kamar dia sempat menciumku pas di bibir hangat sekali ” Nanti malam saya kasih yang lebih hebat ” begitu katanya.

Akupun berusaha untuk tidur nikmat sekali sore ini dua kali keluar dibantu dua cewec yang berbeda ini mungkin ganjaran dari menolong teman gitu hiburku dalam hati sambil memikirkan apa yang akan kudapat malam nanti akupun tertidur lelap sekali.

Tiba-tiba aku dibangunkan oleh suster yang tadi lagi tapi aku belum sempat menyanyakan namanya baru setelah dia mo keluar kamar selesai meletakkan makananku dan membangunkanku namanya Anna.

Cara dia membangunkanku cukup aneh rasanya suster di manapun tidak akan melakukan dengan cara ini dia remas-remas meriamku sambil digosoknya lembut sampe aku bangun dari tdurku.

Langsung aku selesaikan makanku dengan susah payah akhirnya selesai juga lalu aku tekan bel dan tak lama kemudian datang suster yang lain aku minta dia nyalakan TV di atas dan mengakat makananku. Aku nonton acara-acara TV yang membosankan dan juga semua berita yang ditayangkan tanpa konsentrasi sedikitpun.

Sekitar jam 9 malam suster Wiwik datang untuk mengobati lukaku dan mengganti perban pada saat dia melihat meriamkupun dia takjub ” Ngga’ salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga ” demikian komentarnya.

” Kenapa Sus ? ” tanyaku ngga’ jelas. ” Oo itu tadi teman-teman bilang kalo pasien yang dirawat di kamar 26 itu kepalanya besar sekali. ” jawabnya.

Setelah selesai denganmengobati lukaku dan dia akan tinggalkan ruangan sebelum membetulkan selimutku dia sempatkan mengelus kepala meriamku ” Hmmm gimana ya rasanya ? ” gumamnya tanya meminta jawaban.

Dan akupun hanya senyum saja. Wah suster di sini gila semua ya pikirku soalnya aku baru kenal dua orang dan dua-duanya suka sama meriamku minimal tertarik dan lagian ada promosi gratis di ruang jaga suster kalo ada pasien dengan kepala meriam super besar promosi yang menguntungkan semoga ada yang terjerat ingin mencoba selama aku masih dirawat di sini.

Jam 10an kira-kira aku mulai tertidur aku mimpi indah sekali dalam tidurku karena sebelum tidur tadi otakku sempat berpikir jorok. Aku merasakan hangat sekali pada bagian selangkanganku tepatnya pada bagian meriamku sampe aku terbangun ternyata suster Anna sedang menghisap meriamku kali ini entah jam berapa ?

Dengan bermalas-malasan aku nikmat terus hisapannya dan aku mulai ikut aktif dengan meraba dadanya suatu lokasi yang aku anggap paling dekat dengan jangkauanku. Aku buka kanding atasnya dua kancing aku rogoh dadanya di balik BH putihnya.

Aku dapati segumpal daging hangat yang kenyal kuselusuri sambil meremas-remas kecil.. sampe juga pada putingnya aku pilin putingnya dan Sus Annapun mendesah enath berapa lama aku dihisap dan aku merabai Sus Anna sampe dia minta

” Mas masih sakit ngga’ badannya ? ”

” Kenapa Sus ? ” tanyaku bingung.

” Enggak kok sudah lumayan enakan ” dan tanpa menjawab diapun meloloskan CDnya dimasukkan dalam saku baju dinasnya. Lalu dia permisi padaku dan mulai mengangkangkan kakinya di atas meriamku dan bless dia masukkan batangku pada lobangnya yang hangat dan sudah basah sekali diapun mulai menggoyang perlahan.

Pertama dengan gerakan naik turunlalu disusul dengan gerakan memutar wah suster ini rupanya sudah prof banget lobangnya aku rasakan masih sangat sempit makanya dia juga hanya berani gerak perlahan mungkin juga karena aku masih sakit dan punya banyak luka baru. Lama sekali permainan itu dan memang dia ngga’ ganti posisi

Karena posisi yang memungkinkan hanya satu posisi aku tidur di bawah dan dia di atasku. Sampe saat itu belum ada tanda-tanda aku akan keluar tapi kalo tidak salah dia sempat mengejang sekali tadi dipertengahan dan lemas sebentar lalu mulai menggoyang lagi

Sampe tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar dan seorang suster masuk dengan tiba-tiba kaget sekali kami berdua karena tidak ada alasan lain jelas sekali kita sedang main mana posisinya mana bajua dinas Suster Anna terbuka sampe perutnya dan BHnya juga sudah kelepas dan tergeletak di lantai.

Ternyata yang masuk suster Wiwik dia langsung menghampiri dan bilang ” Teruskan saja An aku cuman mau ikutan mumpung sepi ” Suster Wiwikpun mengelus dadaku dia ciumin aku dengan lembut aku membalasnya dengan meremas dadanya dia diam saja aku buka kancingnya terus langsung aku loloskan pakaian dinasnya

Aku buka sekalian BHnya yang berenda tipis dan merangsang membal sekali tampak pada saat BH itu lepas dari badannya dada itu berguncang dikit kelihatan kalo masih sangat kencang tinggal CD minim yang digunakannya.

Suster Anna masih saja dengan aksinya naik turun dan kadang berputar aku lhat saja dadanya yang terguncang akibat gerakannya yang mulai liar lidah suster Wiwik mulai memasuki rongga mulutku dan kuhisap ujung lidahnya yang menjulur itu

Tangan kiriku mulai merabai sekitar selangkangan suster Wiwik dari luar basah sudah CDnya pelah aku kuak ke samping dan kudapat permukaan bulu halus menyelimuti liang kenikmatannya kuelus perlahan baru kemudian sedikit kutekan ketemu sudah aku pada clitsnya agak ke belakang aku rasakan makin menghangat.

Tersentuh olehku kemudian liang nikmat tersebut kuelus dua tiga kali sebelum akhirnya aku masukkan jariku ke dalamnya. Kucoba memasukkan sedalam mungkin jari telunjukku kemudian disusul oleh jari tengahku aku putar jari-jariku di dalamnya baru kukocok keluar masuk sambil jempolku memainkan clitsnya.

Dia mendesar ringan sementara suster Anna rebahan karena lelah di dadaku dengan pinggulnya tiada hentinya menggoyang kanan dan kiri suster Wiwik menyibak rambut panjang suster Anna dan mulai menciumi punggung terbuka itu suster Anna makin mengerang mengerang. dan mengerang.

Sampai pada erangan panjang yang menandakan dia akan orgasme dan makin keras goyangan pinggulnya sementara aku mencoba mengimbangi dengan gerakan yang lebih keras dari sebelumnya.

Karena dari tadi aku tidak dapat terlalu bergoyang takut lukaku sakit. Suster Anna mengerang. panjang sekali seperti orang sedang kesakitan tapi juga mirip orang kepedasan mendesis di antara erangannya dia sudah sampe rupanya dan dia tahan dulu sementara baru dicabutnya perlahan.

Sekarang giliran suster Wiwik dilapnya dulu meriamku dikeringkan baru dia mulai menaikiku batin kurang ajar suster-suster ini aku digilirnya dan nanti aku juga mesti masih membayar biaya rawat gila enak di dia tapi.. enak juga dia aku kok demikian pikiranku ach masa bodo. POKOKNYA PUAS !!! Demikian kata iklan.

Ketika suster Wiwik telah menempati posisinya kulihat suster Anna mengelap liang kenikmatannya dengan tissue yang diambilnya dari meja kecil di sampingku. Suster Wiwik seakan menunggang kuda dia goyang maju mundur perlahan tapi penuh kepastian makin lama makin cepat iramanya

Sementara tanganku keduanya asyik meremas-remas dadanya yang mengembung indah kenyal sekali rasanya cukup besar ukurannya dan lebih besar dari suster Anna punya yang ini ngga’ kurang dari 36 kemungkinan cup C karena mantap dan tanganku seakan ngga’ cukup menggenggamnya.

Sesekali kumainkan putingnya yang mulai mengeras dia mendesis hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya desisan itu sungguh manja kurasakan sementara suster Anna telah selesai dengan membersihkan liang hangatnya.

Kemudian dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang suster Wiwik dan tuga memainkan rambutku mengusapnya Kemudian karena sudah cukup pemanasannya dia mulai menaiki ranjang lagi dikangkangkannya kakinya yang jenjang di atas kepalaku.

Setengah berjongkok gayanya saat itu dengan menghadap tembok di atas kepalaku dan kedua tangannya berpegangan pada bagian kepala ranjangku. Mulai disorongkannya liangnya yang telah kering ke mulutku dengan cepat aku julurkan lidahku. aku colek sekali dulu dan aku tarik nafas. hhhmmmm harus khas liang senggama. kujilat liangnya dengan lidahku yang memang terkenal panjang.

Kumainkan lidahku mereka berdua mengerang berbarengan kadang bersahutan Aku ingin tau sekarang ini jam berapa ? Jangan sampe erangan mereka mengganggu pasien lain karena aku mendengarnya cukup keras aku tengok ke dinding kosong ngga’ ada jam dinding.

Aku lihat keluar kearah pintu mataku terbelalak terkejut shock benar-benar kaget aku lamat-lamat aku perhatikan di antara pintu aku melihat seberkas sinar mengkilap sambil terus menggoyang suster Wiwik.

Meninggalkan jilatan pada suster Anna aku konsentrasi sejenak pada apa yang ada di belakang pintu ternyata pintupun terbuka makin gila aku makin kaget dan deg jantungku tersentak sesaat lalu lega tapi yang dateng ini dua temen suster yang sedang kupuaskan ini.

Kaya’nya kalo marah sich ngga’ bakalan.. mereka sepertinya telah cukup lama melihat adegan kami bertiga jadi maksud kedatangannya hanya dua kemungkinan mo nonton dari dekat atau ikutan ternyata. ” Wah wah wah rajin sekali kalian bekerja.

Sampe malem gini masih sibuk ngurus pasien ” demikian kata salah seorang dari mereka ” Mari kami bantu ” demikian sahut yang lainnya yang berbadan kecil kurus dan berdada super Jelas ini jawabannya adalah pilihan kedua.

Merekapun langsung melepas pakaian dinas masing-masing satu mengambil posisi di kanan ranjang dan satu ngambil posisi di kiri ranjang secara hampir bersamaan mereka menciumi dada leher telinga dan semua daerah rangsanganku.

Akupun mulai lagi konsentrasi pada liang suster Anna sementara kedua tanganku ambil bagian masing-masing sekarang semua bagian tubuhku yang menonjol panjang telah habis digunakan untuk memuaskann 4 suster gatel malam ini tidak ada sisa rupanya. terus bagaimana kalo sampe ada satu lagi yang ikutan ?

Jari-jariku baik dari tangan kanan maupun kiri telah amblas dalam liang hangat suster-suster gatel tersebut untuk menggaruknya kali aku kocok-kocokkan keluar masuk ya lidahku ya jariku ya meriamku rusak sudah konsentrasiku yang pasti ini pengalaman gila kedua sejak peristiwa serupa dengan Donna adik Sammy Zara.

Ini permainan Four Whell Drive ( 4 WD )atau bisa juga disebut Four Wheel Steering ( 4 WS ) empat-empatnya jalan semua kaya’nya kau makin piawai dalam permainan 4DW / 4 WS ini karena ini kali dua aku mencoba mempraktekkannya. Lama sekali permainannya.

Sampe tiba-tiba suster Wiwik mengerang. kesar dan panjang serta mengejang Setelah suster Wiwik selesai dan mencabut meriamku suster Anna berbalik posisi dengan posisi 69 kami saling menghisap dan permainan berlanjut.

Sekali aku minta rotasi yang di kananku untuk naik yang di atas ( suster Anna ) aku minta ke kiri dan suster yang di kiri aku minta pindah posisi kanan. Tawaran ini tidak disia-siakan oleh suster yang berkulit agak gelap dari semua temannya.

Dia langsung menancapkan meriamku dengan gerakan yang menakjubkan tanpa dipegang. diambilnya meriamku yang masih tegang dengan liangnya dan langsung dimasukkan amblas sudah meriamku dari pandangan.

Diapun langsung menggoyang keras rupanya sudah ngga’ tahan Benar juga sekitar 5 menit dia bergoyang sudah mengejang keras dan mengerang. mengerang. panjang serta lemas. Sementara tingal dua korban yang belum selesai..

Aku minta bantuan suster yang masih ada di sana untuk membantu aku balik badan tengkurap kemudian aku suruh suster yang pendek dan berdada besar tadi untuk masuk ke bawah tubuhku. sedangkan suster Anna aku suruh duduk di samping bantal yang digunakan suster kecil tadi.

Perlahan aku mulai memasukkan meriam raksasaku pada liang suster yang bertubuh kecil ini sulit sekali dan diapun membantu dengan bimbingan test. Setelah tertancap tapi sayangnya tidak dapat habis terbenam rasanya mentok sekali dengan bibir rahimnya akupun mulai menggoyang suster kecil dan menjilati suster Anna.

Mereka berdua kembali mendesah. mengerang. mendesah dan kadang mendesis kaya’ ular. Aku sulit sekali sebenarnya untuk mengayun pinggulku maju mundur. jadi yang bisa aku lakukan cuman tetap menancapkan meriamku pada liang kenikmatan suster mungil ini sambil memutar pinggulku seakan meng-obok-obok liangnya.

Sedangkan dadanya yang aku bilang super itu terasa sekali mengganjal dadaku yang bidang kenikmatan tiada tara sedang dinikmati si mungil di bawahku ini dia mendesis tak keruan sedang lidahku tetap menghajar liang kenikmatan suster Anna.

Sesekali aku jilatkan pada clitsnya dia menggelinjang setiap kali lidahku menyentuh clitsnya mendengar desisan mereka berdua aku jadi ngga’ tahan maka dengan nekat aku keraskan goyangan pinggulku dan hisapanku pada suster Anna dia mulai mengejang mengerang dan kemudian disusul dengan suster yang sedang kutindih. suster Anna sudah lemas dan beranjak turun dari posisinya.

Aku tekan lebih keras suster mungil ini. sambil dadanya yang menggairahkan ini aku remas-remas semauku aku sudah merasakan hampir sampe juga sedang suster mungil masih mengerang. terus dan terus.

Kaya’nya dia dapat multi orgasme dan panjang sekali orgasme yang didapatnya. aku coba mengjar orgasmenya dan. dan. berhasil juga akuhirnya aku sodok dan benamkan meriamku sekuat-kuatnya sampe dia melotot.

Aku didekapnya erat sekali dan ” Adu..uh enak sekali ” demikian salah satu katanya yang dapat aku dengar. Akupun ambruk diatas dada besar yang menggemaskan itu lunglai sudah tubuh ini rasanya menghabisi 4 suster sekaligus.

Suatu rekord yang gila permainan Four Wheel Drive kedua dalam hidupku pada saat mencabutnyapun aku terpaksa diantu suster yang lain

” Kasihan pasien ini nanti sembuhnya jadi lama soalnya ngga’ sempet istirahat ” kata suster yang hitam.

” Iya dan kaya’nya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya’ malem ini ” sahut suster Wiwik. ” Kalo itu dibuat system arisan saja ” kata suster Anna sadis sekali kedengarannya. Emangnya aku meriam bergilir apa ? Malam itu aku tidur lelaap sekali dan aku sempat minta untuk suster mungil menemaniku tidur, aku berjanji tiap malam mereka dapat giliran menemaniku tidur.

Tapi setelah mendapat jatah batin tentunya. Suster mungil ini bernama Ratih dan malam itu kami tidur berdekapan mesra sekali seperti pengantin baru dan sama-sama polos sampe jam 4 pagi dia minta jatah tambahan dan kamipun bermain one on one ( satu lawan satu, ngga’ keroyokan kaya’ semalem ).

Hot sekali dia pagi itu karena kami lebih bebas tapi yang kacau adalah udahannya aku merasa sakit karena lukaku berdarah lagi jadi terpaksa ketahuan dech sama yang lain kalo ada sesi tambahan dan merekapun rame-rame mengobati lukaku.

Sambil masih pengen lihat meriam dasyat yang meluluh lantakkan tubuh mereka semaleman. Abis gitu sekitar jam 5 aku kembali tidur sampe pagi jam 7.20 aku dibangunkan untuk mandi pagi. Mandi pagi dibantu oleh suster Dewi dan sempat diisep sampe keluar dalam mulutnya.

Nah suster Dewi ini yang kulitnya hitaman semalam. Nama mereka sering aku dapat setelah tubuh mereka aku dapat. Hari kedua Pagi jam 10 aku dibesuk oleh Dian dan Mita mereka membawakan buah jeruk dan apel aslinya sich aku ngga demen makan buah setengah jam kami ngobrol bertiga.

Sampe suatu saat aku bilang pada Dian ” aku mo minta tolong Ian kepalaku pusing soalnya aku dari semaleman ngga’ dapet keluar dan aku ngga’ bisa self service ” demikian kataku membuka acara dan akupun bercerita sedikit kebiasaanku pada Dian dengan bumbu tentunya.

Aku cerita kalo biasa setiap kali mandi pagi aku suka onani kalo semalemnya ngga’ dapet cewec buat nemenin tidur dan sorenya juga suka main lagi Dian bisa maklum karena aku dulu sempat samen leven dengan Nana temannya yang hyper sex selama 8 bulan lebih dia juga tahu kehidupanku tidak pernah sepi cewec.

Dengan dalih dia mo bantu aku karena hal ini dianggap sebagai bales jasa menyelamatkan jiwa kakaknya yang aku selamatkan dari keroyokan kemarin sampe akhirnya aku sendiri masuk rumah sakit.

Dia minta Mita adiknya keluar dulu karena malu, tapi Mita tau apa yang akan dilakukan Dian padaku karena pembicaraan tadi di depan Mita. Sekeluarnya Mita dari kamar Dian langsung memasukkan tangannya dalam selimutku dan mulailah dia meremas dan mengelus meriamku yang sedang tidur.

Sampe bangun dan keras sekali setelah dikocoknya dengan segala macam cara masih belum keluar juga sedang waktu sudah menunjukkan pukul 10.45 berarti jam besuk tinggal 15 menit lagi maka aku minta Dian menghisap meriamku.

Mulanya dia malu tapi dikerjakannya juga demi bales jasa kaya’ya atau dia mulai suka ? Akhirnya keluar juga spermaku dan kali ini tidak diselimut lagi tapi dalam mulut Dian dan ini pertama kali Dian meneguk spermaku.

Juga pertama kali teman kuliahku ini ngisep punyaku kaya’nya dia juga belum mahir betul itu ketahuan dari beberapa kali aku meringis kesakitan karena kena giginya. Spermaku ditelannya habis.

Sesuai permintaanku dan aku bilang kalo sperma itu steril dan baik buat kulit benernya sich aku ngga’ tau jelas asal ngomong aja dan dia percaya setelah menelan spermaku dia ambil air di gelas dan meminumnya.

Belum biasa kali. Aku tengok ke jendela luar saat Dian ambil minum tadi ternyata aku melihat jendela depan yang menghadap taman tidak tertutup rapat dan aku sempat lihat kalo Mita tadi ngintip kakaknya ngisep aku Jam 11.05 mereka berdua pamit pulang.

Selanjutnya aku aku makan siang dan tidur sampe bangun sekitar jam 3 siang. Dan aku minta suster jaga untuk memindahkanku ke kursi roda sebelum dipindahkan aku diobati dulu dan diberi pakeaian seperti rok panjang terusan agak gombor.

Dengan kancing banyak sekali di belakangnya. Pada saat mengenakan pakaian tersebut dikerjakan oleh dua suster shift pagi suster Atty dan suster Fatima, pada saat mereka berdua sempat melihat meriamku mereka saling berpandangan dan tersenyum terus melirik nakal padaku.

Aku cuek saja pada saat aku mo dipindahkan ke kurasi roda aku diminta untuk memeluk suster Fatima orangnya masih muda sekitar 23 tahunan kira-kira rambutnya pendek tubuhnya sekitar 159 Cm dadanya sekitar 34 B.

Pada saat memeluk aku sedikit kencangkan sambil pura-pura ngga’ kuat berdiri aku dekap dia dari pinggang ke pundak ( seperti merengkuh ) dengan demikian aku telah menguncinya sehingga dia tidak dapat mengambil jarak lagi dan dadanya pas sekali dipundakku greeng meriamku setengah bangun dapat sentuhan tersebut.

” Agak tegak berdirinya Mas berat soalnya badan Masnya ” kata suster Fatima. Akupun mengikut perintahnya dengan memindahkan tangan kananku seakan merangkulnya dengan demikian aku makin mendekatkan wajahnya ke leherku dan aku dorong sekalian kepalaku sehingga dia secara ngga’ sadar bibirnya kena di leherku.

Sementara suster Atty membetulkan letak kursi roda aku lihat pinggulnya dari berlakang wah bagus juga ya Suster Fatima bantu aku duduk di kursi roda dan suster Atty pegang kursi roda dari belakang.

Pada saat mo duduk pas mukaku dekat sekali dengan dada suster Fatima aku sempetin aja desak dan gigit dengan bibir berlapis gigi ke dada tersebut karena beberapa terhenti aku dapat merasakan gigitan itu sekitar 2 detikan dech dia diam saja dan saat aku sudah duduk. dan suster Atty keluar kamar

” Awas ya nakal sekali ” kata suster Fatima sambil mendelik. Aku tau dia ngga’ marah cuman pura-pura marah aja ” Satunya belum Sus ” kataku menggoda

” Enak aja geli tau ? ” jawabnya sewot. ” Nanti saya cubit baru tau ” lanjutnya sambil langsung mencubit meriamku dan terus dia ngeloyor keluar kamar dengan muka merah karena meriamku saat itu sudah full standing karena abis nge-gigit toket jadi terangsang

” Sus tolong donk saya di dorong keluar kamar ” kataku sebelum sempat suster Fatima keluar jauh. Diapun kembali dan mendorongku ke teras kamar menghadap taman. Aku bengong di teras sambil menghisap rokokku di pangkuanku ada novel tapi rasanya males mo baca novel itu.

Jadinya aku bengong saja sore itu di teras sambil ngelamun aku mikirin rencana lain untuk malam ini mo pake gaya apa ya ? Tiba-tiba aku dikejutkan dengan telapak tangan yang menutup mataku saipa ini ? Kok tanyannya halus dingin dan kecil ” Siapa ni ?

” kataku Terus dilepasnya tangan tersebut dan dia ke arah depanku baru kutau dia Mita adik Dian. Kok sendirian ?

” Mana Mita ? ” tanyaku ” Lagi ketempat dosennya mo ngurus scripsi ” jawab Mita.

” Jadi ngga’ kesini donk ? ” tanyaku penasaran.

” Ya ngga’ lah ini saya bawain bubur buatan Mama ” katanya sambil mendorongku masuk kamar dia letakkan bubur itu di atas meja kecil samping ranjang.

Terus kami ngobrol sekitar 10 menit sampe aku bilang ” Mit ach ngga’ jadi dech ” kataku bingung gimana mo mulainya maksudku mo jailin dia untuk ngeluarin aku seperti yang dilakukan kakaknya pagi tadi bukankah dia juga udah ngintip..

kali aja dia pengen kaya’ kakaknya mumpung lagi cuman berduaan

” Kenapa Kak ? ” aku tak menjawab hanya mengernyitkan dahi saja ”

Pusing ya ? ” tanyanya lagi.

” Iya ni penyakit biasa ” kataku makin berani kali bisa ”

Kak gimana ya ? Tadi khan udah ? ” katanya mulai ngeti maksudku tapi kaya’nya dia bingung dan malu merah wajahnya tampak sekali.

” Mit sorry ya kalo kamu ngga’ keberatan tolongin Kakak donk ntar malem Kakak ngga’ bisa tidur kalo ” kataku mengarah dan sengaja tidak menyelesaikan kata-kataku supaya terkesan gimana gitu.

” Iya Mita tau Kak dan kasihan sekali tapi gimana Mita ngga’ bisa MIta malu Kak ”

” Ya udah kalo kamu keberatan aku ngga’ mo maksa lagian kamu masih kecil ”

” Kak Mita ciumin aja ya supaya Kakak terhibur jangan susah Kak kalo Mita sudah besar dan sudah bisa juga mau kok bantuin Kak Jossy kaya tadi pagi ” kata dia sambil mencium pipiku. ” Iya dech sini Kak cium kamu ” kataku dan diapun pindah kehadapanku.

Dia membungkuk sehingga ada kelihatan dadanya yang membusung aduh. gila usaha harus jalan terus ni gimana caranya masa bodo harus dapet aku udah pusing berat. Dan Mitapun memelukku sambil membungkuk aku cium pipinya, dagunya belakang telinganya kadang aku gigit lembut telinganya.

Pokoknya semua daerah rangsangan aku coba merangsangnya ciuman kami lama juga sampe nafasnya terasa sekali di telingaku. Tangaku mencoba meremas dadanya diapun mundur mo menghidar

” Mit gini dech aku sentuh kamu saja ngga’ ngapain kok supaya aku lebih tenang nanti malem ”

” Maaf Kak tadi Mita kaget Mita ngerti kok Kak Joss gini juga gara-gara Mas Bandi ” jawabnya penuh pengertian atau dia udah kepancing ?

Diapun kembali mendekat dan kuraih dadanya aku remasdan dia kembali menciumku dari tadi tidak ada ciuman bibir hanya pipi dan telinga saling berbalasan sampe remasanku makin liar dan mencoba menyusup pada bajunyamelalui celah kancing atasnya.

Tangan Mita mulai turun dari dadaku ke meriamku dan meremasnya dari luar ” Aduh enak sekali Mit terusin ya sampe keluar biar aku ngga’ pusing nanti ” kataku nafsu menyambut kemajuannya. Lama remasan kami berlangsung sampe akhirnya Mita melorot dan berjongkok di depanku dan menyingkap pakaianku dia mulai mo mencium meriamku

Dengan mata redup penuh nafsu dia mulai mencium sayang pada meriamku. ” Masukin saja Mit ” kataku. Mitapun memasukkan meriamku dalam mulut mungilnya sulit sekali tampaknya dan penuh sekali kelihatan dari luar dia mulai menghisap dan aku bilang jangan sampe kena gigi

Tak perlu aku ceritakan proses isep-isepan itu yang pasti saat aku ngga’ tahan lagi aku tekan palanya supaya tetap nancep dan aku keluarkan dalam mulut mungil Mita terbelalak mata Mita kena semprot spermaku.

” Telen aja Mit ngga’ papa kok ” kataku Diapun menelan spermaku lalu dicabutnya dari mulut mungil itu sisa spermaku yang meleleh di meriamku dan bibir mungilnya dilap pake tissue dan dia lari ke kamar mandi. sedang aku merapikan kembali pakaianku yang tersibak tadi.

Ada orang datang kelihatan dari balik kaca jendela ” Sorry Joss aku baru bisa dateng sekarang ngga’ dapet pesawat soalnya ” kata Bang Johnny yang datang bersama dengan kak Wenda dan Winny

” Iya ini juga langsung dari airport ” kata Kak Wenda.

” Kamu kenapa si ceritanya gimana kok bisa sampe kaya’ gini ?

” tanya Winny ” Lha kalian tau aku di sini dari mana ? ” tanyaku bingung. ” Tadi malem kami telpon ke rumah ngga’ ada yang jawab sampe tadi pagi kami telpon terus masih kosong ” kata Kak Wenda.

” Aku telpon ke rumahnya Donna yang di Kertajaya kamu ngga’ di sana aku telpon rumahnya yang di Grand Family juga kamu ngga’ ada, malah ketemu sammy di sana ” kata Winny.

” Sammy bilang mo bantu cari kamu terus siang tadi Donna telpon katanya dia abis nelpon Dian dan katanya kamu dirawat di sini dan dia cerita panjang sampe kamu masuk rumah sakit ” kata Winny lagi.

Mereka tuh semua dari Jakarta karena ada saudara Kak Wenda yang menikah dan rencananya pulangnya kemarin sore pantes Kak Wenda telpon aku kemarin mungkin mo bilangin kalo pulangnya ditunda.

Malah dapet berita kaya’ gini. Mita keluar dari kamar mandi yang ada dalam kamarku itu kaget juga tau banyak orang ada di sana dan dia kaya’nya kikuk juga Setelah aku perkenalkan kalo ini Mita adiknya Dian dan kemudian Mita pamit mo jenguk kakaknya diruang lain.

Kamipun ngobrol seperginya Mita dari hadapan kami. Winny memandangku dengan sedih mungkin kasihan tapi juga bisa dia cemburu sama Mita ngapain ada dalam kamar mandi dan sebelumnya cuman berduaan aja sama aku di sini.

Selanjutnya tidak ada cerita menarik untuk diceritakan pada kalian semua yang pasti mereka ngobrol sampe jam 5.20 karena minta perpanjangan waktu dan jam 5 tadi Mita datang lagi cuman pamit langsung pulang.

Malamnya seperti biasa kejadiannya sama seperti hari pertama mandi sore diisep lagi kali ini sustenya lain dia suster Fatima yang sempet aku gigit toketnya tadi siang. Dan malemnya aku main lagi dan tidur dengan suster Wiwik suster Anna off hari itu jadi waktu main cuman suster Wiwik, suster Ratih dan suster Dewi

Certa Sex – Tidak Tahan Rintihannya..

Dengan postur dan wajah mirip bule aku di kampong sering dijuluki Londo, aku juga tidak mengerti disaat usiaku 14 tahun ada yang aneh pada diriku, yaitu seperti aku punya ilmu supranatural, jadi sejak kecil aku sering yang melihat mistis mistis, malah dikampung aku disuruh dimintai tolong oleh warga untuk menyembuhkan orang sakit perut dll.

Dan entah kenapa tiap obat yang aku anjurkan pada mereka kok kebetulan menyembuhkan penyakitnya. Sekarang ini usiaku 24 tahun, sedang kuliah di kota M dan tetap saja banyak yang percaya aku mampu dalam hal supranatural.

Dikota M aku juga terkenal bisa menyembuhkan banyak penyakit, malah urusan seks yang dingin atau tak kunjung dapat momongan bisa langsung kontak aku di kota itu. Suatu siang sehabis kuliah, aku kedatangan pasien wanita Susi namanya.

Susi ini tahu alamatku diantar Retno, teman sekampusku yang dulu pernah kutolong waktu sakit malaria kronis dan sembuh.

“Tolong saya Mas Billy, suami saya kok suka jajan di luar dan nggak perhatian lagi sama keluarga,” kata wanita beranak satu itu padaku. Sebenarnya aku bingung juga mau bilang apa, tapi karena dia memelas begitu aku jadi nggak tega.

Susi aku suruh masuk kamar praktekku, sedangkan Retno tunggu diruang tamu rumah kontrakanku. “Begini Mbak Susi, untuk menolong orang saya harus tahu ukuran baju, celana dan sepatu orang itu. Jadi berapa ukuran Mbak,” kataku setelah kami duduk berhadapan dihalangi meja kerjaku.

Susi yang bertubuh agak pendek tapi seksi itu jadi bingung dengan pertanyaanku. “Ehmm, anu Mas, berapa ya ukurannya.. tapi baju M celana 28 dan sepatu 37 mungkin pas Mas,” jawabnya masih bingung juga.

“Oke-oke kalau nggak tahu pasti biar tak ukurkan ya,” kataku sambil mengambil penggaris ukur dari kain. Seperti penjahit baju yang terima pesanan aku mulai mengukur bagian tubuh Susi mulai bahu, dada, perut, pinggang, pinggul, plus kaki.

“Nah sekarang sudah ada ukuran pastinya, saya bisa bantu masalah Mbak,” kataku, yang kelihatan membuat Susi berbinar karena merasa akan tertolong. Susi pun mulai menceritakan perilaku Anto, suaminya.

Sejak menikah dan punya anak, Anto masih setia, tapi beberapa bulan ini Anto mulai suka keluyuran dan suka jajan pada wanita lain. “Saya jadi bingung Mas, kalo saya marah dia malah ancam mau cerai.

Saya takut kalau dicerai Mas, bagaimana nasib anak saya,” keluh wanita berkulit sawo matang itu. “Ya sudah, itu masalah sepele kok Mbak. Nanti Mbak saya kasih susuk pemikat sukma supaya suaminya nempel terus kayak perangko,” ucapku sekenanya. Kemudian aku menyuruh Susi menanggalkan seluruh pakaiannya termasuk pakaian dalamnya dan hanya menggunakan sarung bermotif kembang yang telah kusediakan untuknya.

Meski sempat ragu tapi Susi melakukannya juga. Sementara aku menyiapkan berbagai perlengkapanku, mulai kembang dan air dalam baskom, serta jarum susuk yang memang sudah lengkap tersedia di ruang praktekku.

“Nah sekarang Mbak berbaring di dipan itu ya, dan jangan banyak bergerak. Pokoknya konsentrasi pikiran pada suami Mbak dan sebut terus namanya,” perintahku pada Susi. Bagai dicocok hidung Susi menurut saja dan segera berbaring di dipan dengan mata terpejam.

Untuk sesaat aku memperhatikan tubuh Susi dari kursi praktekku. Wow, boleh juga tubuhnya, bahenol walau agak mini. Aku menyiapkan kembang dalam baskom berisi air dan mendekati Susi yang terbaring di dipan kayu.

“Sabar ya Mbak, sebentar lagi kita mulai pengobatannya,” kataku meyakinkan Susi. Susi masih terpejam ketika kucipratkan air dan kembang yang kusiapkan tadi ke sekujur tubuhnya. Sengaja aku merapalkan mantra yang tak jelas dengan mulut komat-kamit persis dukun sungguhan.

Lalu setangkai kembang ditanganku kuusap-usapkan di wajah Susi dengan irama usapan yang searah jarum jam. Kulihat reaksi diwajah Susi menahan geli ketika kembang itu mulai kuusapkan di bagian leher dan terus turun kepangkal dadanya yang terbungkus sarung.

“Nah sekarang buka matanya Mbak,” perintahku.

“Sudah selesai belum Mas Billy?,” tanyanya tetap terbaring di dipan.

“Oh ya belum toh. Bagaimana Mbak ini maunya cepat, ini kan proses pasang susuk Mbak nggak boleh buru-buru. Kalau nggak cocok bisa fatal akibatnya,” ujarku sekenanya.

“Terus sekarang apalagi Mas?,” Susi makin penasaran.

“Maaf Mbak ya, sekarang Mbak turunkan sarung itu sebatas perut supaya saya bisa mendeteksi aliran darah Mbak. Biar susuknya tepat pasangnya gitu loh,” kataku. Susi sempat melotot heran bercampur jengah, tetapi dia nurut juga menurunkan sarung yang membungkus tubuhnya sampai keperut dengan wajah malu-malu.

Wah, boleh juga payudara wanita ini, kalau dikasih Bra kira-kira ukuran 36B lah, lumayan masih padat walau sudah beranak satu. Susi kembali terpejam, dan aku kembali mengambil kembang dan mencipratkan airnya ke arah buah dada dan perut Susi. Dengan kembang yang sama aku usap-usapkan di daerah dada dan perut Susi.

Tubuh Susi mengelinjang kegelian waktu usapanku mulai menyentuh puting susunya.

“Oke.. boleh buka matanya Mbak,” kataku setelah puas mengusap susu Susi dengan kembang.

“Wah, Mas kok lama sekali sih prosesnya,” protes Susi, tapi tetap terbaring diranjang.

“Gimana ya jelaskannya Mbak, soalnya aliran darah Mbak aneh sih. Ini saja masih perlu deteksi lagi supaya ketahuan aliran darah aslinya. Tapi kalau Mbak mau stop ya terserah, saya tak bisa bantu lagi, gimana?,” balasku dengan mimik serius.

“Iya deh saya pasrah, tapi sekarang apa lagi?,” tanya Susi lagi. “Maaf lagi ya Mbak, sekarang jalan satu-satunya supaya aliran darah Mbak kelihatan, Mbak harus tangalkan sarung itu.

Telanjang bulat Mbak,” pintaku dengan nada yang kubuat serius. Meski kaget dan hendak protes, tapi Susi akhirnya nurut juga. Sarung yang dikenakannya ditanggalkan dan dibiarkan luruh kelantai, dan ia kembali berbaring di dipan kayu dengan mata terpejam.

Sekarang aku yang jadi bingung dan blingsatan melihat sesosok wanita bugil tanpa busana dihadapanku. Tubuh Susi benar-benar menggairahkan, rasanya bodoh betul si Anto, suaminya itu, kok nggak bersyukur punya istri semolek Susi ini.

Aku kembali menghampiri Susi dengan kembang dan air di baskom. Perlahan kembali kuusap-usapkan kembang itu dari wajah, leher, dada, dan perut Susi. Usapan-usapan erotis di bagian atas tubuh Susi membuat wanita itu menggelinjang menahan geli.

Napas Susi pun mulai cepat memburu, biasanya dalam fase seperti itu, seorang wanita sedang dilanda gejolak yang mengarah birahi. Usapanku mulai merambat turun ke arah paha, tapi belum menuju selangkangan Susi.

“Nah ketemu Mbak, sabar ya. Sudah ketemu nih tempat pasang susuknya,” kataku memberi harapan. Kembang di tanganku kembali kuusapkan di daerah paha bagian dalam dan sesekali naik menyentuh bibir vagina Susi.

Gerakan mengusap seperti itu kulakukan berulang ulang di daerah yang sama, sampai akhirnya jarak kedua kaki Susi mulai merenggang. Bukan main gundukan kemaluan Susi, bulunya jarang dan bibir vaginanya kelihatan masih ranum.

Aku sendiri kehilangan konsentrasi gara-gara melihat pemandangan itu. Kini kembang ditanganku aku buang dalam baskom, dan usapan di tubuh Susi kugantikan dengan tangan kananku. Susi masih terpejam dan napasnya semakin tak beraturan ketika sentuhan tanganku menjelar di atas tubuh bugilnya.

“Uhh Mas, dimana sih tempat pasang susuknya? Saya nggak kuat begini terus,” Susi bertanya dengan mata tetap terpejam.

“Iya Mbak, tenang ya, ini sudah ketemu,” kataku sambil menghentikan sentuhan tangan tepat di selangkangannya.

Tanganku mulai memainkan bibir vagina Susi dengan tempo yang teratur dan ritme naik turun. Susi kelihatan sudah terpengaruh, nafsunya gesekan tanganku di bibir vaginanya diimbangi gerakan pinggulnya searah gerakan tanganku.

“Ohh.. geli sekali Mas disitu,” Susi mulai menceracau sendiri, napasnya semakin tak beraturan. Aku sendiri sudah tak bisa menahan nafsuku, perlahan aku buka kedua kakinya semakin lebar sehingga gundukan vaginanya terlihat makin jelas.

Cairan vagina Susi semakin banjir dan tubuhnya mengejang kecil saat jemari tangan kananku menjepit-jepit klitorisnya. Wajah Susi benar-benar enak dilihat dalam keadaan seperti itu, mata terpejam dan bibir saling memaggut menahan geli dan nikmat gesekan jariku di vaginanya.

“Oke Mbak sebentar lagi ya, sekarang Mbak tahan ya saya akan pasang susuknya,” pintaku. Jari tengahku kumasukkan perlahan ke liang vagina Susi, lalu kutarik lagi keluar secara perlahan pula. Itu kulakukan berkali-kali dan terus-menerus.

“Engghh.. isshhtt.. ,” Susi melenguh, pinggulnya semakin liar bergoyang dan berputar. Susi sudah dalam kendaliku secara total, posisi tanganku di vagina Susi kini kuganti dengan jilatan lidahku di daerah vital Susi itu.

Kami sudah sama sama di atas dipan itu, hanya bedanya aku masih lengkap berbusana, sedangkan Susi bugil total. Reslueting celanaku kubuka, sejak tadi aku memang sengaja tak pakai CD sehingga penisku langsung meloncat keluar begitu kancing dan reslueting celana kubuka.

“Usshh Mas.., saya nggak taahann lagi,” kaki Susi menjepit kepalaku di selangkangannya, pinggulnya naik turun mendesak-desak mulutku yang menjilati klitorisnya.

Aku bangkit mengambil posisi tepat diatas tubuhnya, bibir Susi yang menceracau langsung kusumpal dengan bibirku.

Saat ini Susi terbelalak membuka matanya, tapi belum sempat bereaksi apa-apa, penisku yang sudah tegang dan tepat di pinggir bibir vagina Susi segera aku benamkan keliang nikmat Susi yang sudah licin basah.

Bless..! “Nghh duhh Mass, ohh..,” Susi mendesis saat penisku menembus bibir vaginanya dan masuk ke liang nikmatnya. Susi tak menolak kehadiran penisku di vaginanya. Aku berhasil menyetubuhi pasienku lagi.

“Tahan Mbak ya.. memang begini aturan prosesnya. Yang penting rumah tangga Mbak selamat ya,” ujarku sambil menggenjot pinggulku di atas tubuh Susi. Tubuh Susi yang cukup mungil bagiku yang jangkung membuat aku dengan leluasa menggenjotnya dengan posisi konvensional.

Penisku berkali-kali menghujam vagina Susi membuat wajah Susi semakin terlihat ayu menahan kenikmatan dari penisku. Sampai belasan menit berlalu dengan posisi itu, akhirnya kurasakan tubuh Susi mengejang sesaat dan terasa pula denyutan kontraksi otot vaginanya pada batang penisku yang masih tegang.

“Ouhhss.. eehgghh,” Susi rupanya sudah sampai klimaks, tubuhnya semakin tegang dan pinggulnya mendesak naik seperti ingin terus merasakan sensasi orgasmenya. Beberapa detik kemudian, aku pun merasa aliran darahku mengumpul di bagian pangkal penisku, dan croot.. croot.., kumuntahkan spermaku di dalam vagina Susi sementara tubuh tegangku mendekap erat tubuh Susi yang sudah lunglai.

“Sudah selesai Mbak Sus.., sekarang suamimu pasti tak akan jajan di luar lagi. Susuk pemikat sukma itu sudah kutanam di rahimmu Mbak,” kataku seraya meraihnya bangkit dari dipan kayu. Setelah berpakaian kami kembali duduk di kursi dihalangi meja kerjaku.

“Maaf ya Mbak kalau prosesnya agak seronok begitu,” aku melihat Susi agak kikuk setelah sadar bahwa kami baru saja melakukan hubungan seks yang hangat. “Ehm nggak apa Mas, yang penting rumah tangga saya utuh. Terima kasih Mas,” Susi lalu bangkit dan menyodorkan uang pecahan seratus ribu padaku.

“Oke Mbak, mudah-mudahan khasiat susuknya manjur ya. Nanti kalau masih ada keluhan, Mbak boleh konsultasi lagi kesini,” kataku. Susi kemudian keluar kamar dan bersama Retno, mereka pulang, meninggalkanku sendiri.

Entah susukku itu manjur atau kebetulan, sejak saat itu Susi tak pernah lagi kembali. Hanya sempat sekali dia kembali dan minta dipasang susuk pelaris warung karena ia mau buka usaha warung makan. Nah untuk kali itu meski susuknya tak kupasang di vagina, tapi Susi sendiri yang minta supaya dipasang seperti susuk pertama, biar khasiatnya ampuh katanya.

Malam itu aku baru saja happy-happy dengan Johan dan Aris, teman kampusku. Kami bertiga menghabiskan belasan botol bir pilsener untuk merayakan ultah Aris di rumah Aris. Aku pulang dengan pandangan yang agak goyang, tapi sampai juga dengan selamat di rumah kontrakanku tepat jam 10 malam.

Sehabis mandi dan makan mie rebus, aku menikmati tayangan sinetron humor di sebuah saluran televisi di ruang depan. Rumah kontrakanku memang kecil, tipe 21, hanya ada kamar tidur, ruang praktekku, dan secuil ruang depan atau ruang tamu.

Sisanya ya.. dapur dan kamar mandilah. Waktu itu jam sudah beranjak ke angka 10 lewat 30 menit malam, tiba-tiba bel pintu berbunyi. “Permisi Mas Billy.., Mas.. permisi,” terdengar suara anak lelaki dibalik luar pintu.

Aku langsung membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.

“Eh Maman, ada apa Man malam-malam begini?,” tanyaku pada Maman, anak kelas tiga SD yang termasuk tetanggaku. “Anu Mas.., Mbak Ais pingsan. S

aya disuruh bapak minta tolong sama Mas Billy ngobatin Mbak Ais,” kata Maman sambil memegangi tanganku. Maman adalah anak Pak Budi, pegawai negeri yang rumahnya hanya berselat delapan rumah dari rumah kontrakanku.

Sedangkan Ais yang disebut Maman, ialah Aisyah, kakak perempuan Maman yang sudah kelas dua SMU. “Oke-oke.., Maman pulang duluan ya, nanti Mas Billy susul,” pintaku padanya. Maman pulang, sementara aku menyiapkan peralatanku mulai minyak gosok, body lotion dan kembang, lalu akupun menuju rumah Pak Budi.

“Ini lho Dik Billy, Ais mendadak pingsan habis makan malam tadi. Saya jadi khawatir, mana bapaknya lagi dinas luar kota lagi,” Ibu Budi langsung menyampaikan ketakutannya waktu aku datang.

“Lho kata Maman tadi bapak yang nyuruh saya datang, kok dinas luar gimana sih Bu?,” aku jadi sedikit bingung juga.

“Iya tadi waktu Ais pingsan, saya telepon bapaknya dan dia yang suruh minta bantuan Dik Billy,” jelas Ibu Budi. “Oh gitu, sekarang Ais mana? Biar saya lihat keadaannya,”

“Ada Dik di dalam kamarnya, ayo saya antar,” Ibu Budi bangkit dan mengantarku kekamar Ais. Istri Pak Budi masih terlihat seksi walau usianya sudah masuk 37 tahun, apalagi malam itu hanya pakai daster longdres yang tipis.

Lekuk tubuh dan kulitnya yang putih membayang jelas, soalnya aku jalan tepat di belakangnya waktu menuju kamar Ais. Kulihat Ais terbaring lemas di kamarnya, setelah kupegang dahinya kupastikan Ais hanya masuk angin.

Ditemani Bu Budi aku menyelesaikan tugasku menyadarkan Ais dari pingsan, caranya sangat mudah bagiku, dengan minyak gosok kuurut beberapa urat dibelakang tengkuk Ais. Tak lama setelah itu, Ais sadar dan membuka matanya.

“Wah pintar sekali ya Dik Billy ini,” pujian Bu Budi langsung mengalir begitu Ais bisa duduk ditepi ranjangnya. “Ah Ibu ini, saya hanya kebetulan punya kelebihan kok. Nah sekarang Ais minum air hangat yang banyak ya, biar punya tenaga,” kataku mengajurkan.

Wajah Ais hampir sama cantiknya dengan Bu Budi, tapi bodynya masih belum terbentuk dengan dada yang tampak kecil.

“Makasih ya Mas, jadi ngerepotin,” Ais melempar senyum manisnya padaku. Setelah itu aku bangkit dan duduk di ruang tamu, sedangkan Bu Budi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Ais.

“Gimana Dik Billy? Apa penyakit Ais nggak berbahaya toh,” Bu Budi bertanya dengan mimik serius menghampiriku dan duduk dikursi tepat dihadapanku, usai mengantar segelas teh ke kamar Ais.

Pertanyaan yang lucu, tapi kupikir membawa cukup celah bagiku untuk melancarkan aksi usilku.

“Sebenarnya ada yang mengkhawatirkan Bu..,” sengaja tak kuteruskan kalimatku supaya Bu Budi bingung dan panik.

“Menghawatirkan bagaimana toh? Tolong dong disembuhkan sekalian biar nggak nakutin gitu lo,” benar dugaanku, Bu Budi langsung panik dan mengharap jawabanku. Aku langsung pasang wajah serius dan mendekatkan wajahku dengan cara sedikit menunduk di meja penghalang duduk kami berdua.

Melihat itu Bu Budi juga segera merunduk mendekati wajahku untuk mendengar penjelasanku.

“Begini Bu, pengamatan batin saya, Ais bukan hanya masuk angin biasa tapi ada orang iseng yang coba mengguna-gunai dia.

Mungkin pacarnya, atau mungkin lelaki yang cintanya ditolak Ais, Bu,” kataku. “Ah masak sih Dik? Terus bagaimana dong,” Bu Budi semakin merunduk, sehingga aku bisa melihat bongkahan pangkal susunya yang masih kencang dibalik daster tipisnya.

“Ibu tenang saja, saya pasti bantu. Tapi syaratnya agak berat Bu, saya harus meruwat beberapa bagian tubuh Ais secara langsung,” aku menjelaskan. “Meruwat gimana sih,” Bu Budi semakin bingung.

“Maaf ya Bu, tapi saya harus mengeluarkan guna-guna dari bagian vital Ais, payudara dan vaginanya. Tapi saya juga nggak tega, nanti dia malu lagi,” wajahku seperti orang yang sedang berpikir. “Apa ngak ada cara lain Dik, selain itu.

Ais pasti nggak mau loh,” jawab Bu Budi bermimik bingung. Aku tak langsung menjawab pertanyaan Bu Budi. Jam kulihat sudah menunjuk angka 11.30 malam didinding ruang tamu. “Ada Bu cara lain, namanya transformasi.

Saya bisa melakukan ruwat itu dengan media tubuh lain yang golongan darahnya sama dengan Ais. Dik Maman golongan darahnya apa Bu?” tanyaku memancing. “Wah.., sayang sekali Maman darahnya B.

Tapi kalau saya bisa nggak Dik? Saya juga B sama kayak Ais,” pancinganku rupanya membawa hasil. Setelah itu, aku mengarahkan dan menjelaskan bagaimana proses ruwat yang nantinya akan kulakukan pada Bu Budi.

Dengan kepala manggut-manggut, Bu Budi akhirnya paham dengan penjelasanku. “Sebenarnya risih juga sih, tapi gimana lagi ya demi Ais? Iya deh Dik, terserah Dik Billy yang penting Ais sembuh total,” katanya pasrah.

Waktu itu Ais dan Maman sudah tidur, dan Bu Budi bersamaku beranjak ke kamar tidurnya untuk melakukan ruwatan itu. Sampai di kamar itu, Bu Budi langsung berbaring di ranjang dan aku duduk di tepi ranjang sebelah kiri.

“Sekarang Ibu konsentrasi dan tujukan pikiran ke Ais ya,” “Ehm.. iya Dik, saya coba,” Bu Budi yang terpejam ternyata semakin cantik, wajahnya mirip artis Nani Wijaya di masa muda dulu. Kutelusur pandanganku dari wajah hingga ujung kaki Bu Budi, bodynya pun masih sangat bagus mirip gadis 24 tahunan dengan buah dada yang lumayan dan kulit mulus betisnya yang putih.

Aku mulai beraksi, tanganku mulai mengusap-usap kening, pipi, dan leher Bu Budi, itu kulakukan sekitar lima menit lamanya. “Sekarang buka matanya Bu,” pintaku segera diikuti Bu Budi. “Maaf ya Bu, saya harus teruskan prosesnya.

Mungkin Ibu agak rikuh, tapi saya sudah sering melakukan seperti ini kok, jadi Ibu nggak usah khawatir ya, soalnya memang begitu caranya,”

“Duh gimana ya Dik..? tapi nggak usah cerita ke bapak ya kalau prosesnya seperti ini,” Bu Budi nampak bersemu rikuh, mungkin dirinya mulai berpikir sesaat lagi lelaki yang bukan suaminya ini akan melihat seluruh lekuk tubuh dan bagian vital yang selama ini hanya untuk Pak Budi.

“Iya Bu, itu sudah kewajiban saya kok,” aku lalu meminta Bu Budi menanggalkan Bra dan Cd nya, sedangkan daster tipisnya sengaja kusisakan untuk menutup rikuhnya. Bu Budi kembali terpejam, dan perlahan aku membuka dua kancing daster bagian atasnya dan menurunkan daster itu sebatas perut, membiarkan buah dada Bu Budi yang syuur itu bebas keluar.

Ternyata benar dugaanku tubuh Bu Budi memang sangat mulus dan terawat, putih dan tak bercacat dengan postur proporsional. “Maaf ya Bu,” aku langsung mengusap sekitar buah dada Bu Budi dengan usapan tangan searah jarum jam.

Bu Budi tak bersuara, tapi keningnya sesekali berkerut ditengah usapan-usapan lembut tangan kananku didadanya. Usapan kunaikan menjadi remasan kecil dan mulai menyentuh puting susunya, kadang kucubit kecil puting susu itu membuat Bu Budi menggelinjang menahan geli, tapi tetap tak bersuara.

Setelah mengusapi buah dadanya, aku mulai mengusap bagian betis Bu Budi dan terus naik ke paha hingga daster bagian bawah tersingkap naik dan berkumpul ditengah perutnya. Kini, pemandangan dihadapanku benar-benar menggoda kejantananku. Bu Budi juga ternyata memiliki vagina yang indah dihiasi bulu tebal yang dicukur rapi 2 cm panjangnya.

“Sekarang Ibu boleh buka mata,” kataku. “Terus apa lagi Dik,” tanya Bu Budi dengan raut memerah bertambah rikuh padaku. “Maaf Bu, sekarang tahap utamanya, saya harus menyedot guna-guna di tubuh Ais dengan media tubuh Ibu.

Ibu bisa tahan kan? Paling prosesnya hanya makan waktu 15 menit. Tapi tahap ini Ibu ngak boleh tutup mata,” jawabku meyakinkannya. “Iya deh Dik.. tapi tolong cepetan ya, saya rikuh nih,” Bu Budi menjawab pasrah.

Dengan menatap wajah Bu Budi yang bersemu merah aku mulai mendaratkan bibirku diputing susu kanan Bu Budi, susu terdekat pada posisi dudukku disisi kiri ranjang. Putting yang ranum kemerahan itu kujilati perlahan lalu kuhisap-hisap beraturan.

“Hsst uuhh.. Dik,” suara tertahan Bu Budi terdengar waktu hisapanku agak kuat diputing susunya. Putting susu kiri pun jadi sasaran hisap dan jilat selanjutnya, sementara kedua tanganku memeganggi susu seksi Bu Budi sambil terus menghisap dan menjilat bergantian susu itu.

“Uhh.. gelii Dik..,” Bu Budi mengelinjang saat isapan dan jilatan dikedua susunya kupercepat ritmenya, tangannya meremasi sprei ranjang. “Tahan sebentar lagi ya Bu, hampir selesai dibagian ini. Kalau tidak tuntas nanti Ais nggak sembuh total,” kataku menghIburnya.

Aku mengambil dua tangan Bu Budi dan meletakkannya agar mendekap bahu dan leherku, Bu Budi menurut, dan aktifitasku kulanjutkan lagi menjilat dan menghisap susunya. Napas Bu Budi mulai tersengal dan remasan tangannya dibahuku semakin lama semakin kuat menahan geli yang sangat disusunya.

“Mffhh oouhh..,” Bu Budi mulai menggeliat-geliat mengikuti irama jilatan di susunya. Kupandang wajahnya, ternyata sorot matanya mulai redup khas wanita yang dilanda birahi. Tak mau hilang kesempatan, tangan kananku segera merayap menjelajahi perut dan pahanya.

Bu Budi semakin terpojok, tangan kananku kini sudah mulai mengusap usap paha bagian dalam Bu Budi, kakinya merenggang dengan posisi lutut kaki kanan dinaikan sehingga tanganku lebih leluasa menggerayangi paha bagian dalam itu.

Sesekali jemariku menyentuh bibir vagina Bu Budi, dari situ aku tahu Bu Budi sudah dirasuki birahi yang sangat, kurasakan tanganku menyentuh cairan kental yang sudah membasahi vaginanya. “Oke Bu, sudah selesai di bagian dada.

Sekarang tahap utama kedua, saya harus menghisap dan mengeluarkan guna-guna di tubuh Ais lewat kemaluan Ibu. Ibu tahan ya,” Kulihat Bu Budi sudah pasrah benar, dengan pandangan sayu ia hanya bisa mengangguk.

Aku pun segera beralih posisi dan jongkok tepat disela kedua kakinya yang sudah tertekuk naik. Vagina Bu Budi memang sudah basah, tapi dua bibirnya masih sangat ranum dan terlihat kencang. Setelah membersihkan vaginanya dengan ujung sprei yang berhasil kuraih, aku lalu mulai menjilati vaginanya.

“Aauuhh.. iihh.. geelii Dik, saya nggak tahan,” Bu Budi pekik tertahan dan tangannya meremasi kepalaku di selangkangannya. “Tenang dulu Bu, saya harus cari posisi guna-gunanya. Agak geli Bu ya,” aktifitas sengaja kuhentikan dan mengajak Bu Budi bicara.

“Ehhmm he-eh Dik, geli sekali, soalnya saya nggak pernah dijilatin gitu itunya,” Bu Budi bicara dengan suara serak dan napas tersengal, aku lanjutkan lagi aktifitasku. Aku yakin ini pengalaman baru buatnya karena Pak Budi tak pernah melakukan foreplay semacam ini setiap kali ngeseks dengan istrinya ini.

Cairan asin yang keluar dari vagina Bu Budi semakin banyak, dan kini pinggulnya mulai bergerak mengikuti irama jilatanku. Sambil melakukan itu kuintip wajah Bu Budi yang sudah total birahi, kepalanya bergerak-gerak tak beraturan setiap kali jilatan dan isapan kusasarkan di klitoris vaginanya bersamaan rintihan yang semakin tak karuan dari bibirnya.

Penisku sudah berdiri tegak, apalagi melihat gerakan dan mendengar rintihan Bu Budi yang kian erotis. Sambil aktifitas kubuka celanaku sebatas paha sehingga penisku yang berukuran lumayan panjang dan besar meloncat kegirangan.

“Bu.., guna-gunanya hampir keluar, tapi harus dicungkil dari dalam vagina dengan jari atau alat lain,” aku hentikan jilatanku, dengan segera menaikkan posisi tubuhku. Posisiku seolah menindih tubuhnya tetapi tubuh kami tak bersentuhan karena kutopang dengan dua tanganku.

“Bagaimana Bu?,” sebelum Bu Budi bereaksi aku bertanya dengan wajah sudah demikian dekat dengan wajahnya.

“Terserah Dik, lakukanlah.. mffphh,” diluar dugaanku, Bu Budi ternyata agresif menyambar bibirku dengan kuluman yang penuh nafsu. Topangan tanganku terlipat sehingga tubuh kami langsung saling tindih, dalam posisi itu kuusahakan celanaku lepas total dari kaki, dan berhasil. Kini penisku yang mengacung tepat berada dibelahan bibir vagina Bu Budi.

Ciuman bibir kami masih berpagut sedangkan pinggul Bu Budi mulai mendesak-desak naik mencari batang kenikmatanku. Sengaja keadaan itu kugantung, aku ingin ia menrengek dan meminta agar aku menyetubuhinya.

“Mnffh.. uuhhm, ayo Dik cungkil guna-guna itu..,” Bu Budi melepas pagutan bibirnya dan merengek padaku. “Maaf Bu.., tapi apa Ibu nggak marah nih,” gurauku.

“Ayoo Dik Billy, udah kepalang tanggung lagipula.. oughh.. asstt,” belum selesai bicara, Bu Budi langsung kuserang dengan ciuman di bibir, leher dan susu bergantian, sementara ujung penisku yang sudah terjepit sebagian di bibir vaginanya kutekan masuk sampai amblas.

Bleess.. jleepp.. jleepp. Bu Budi menyambut penisku dengan goyangan pinggulnya yang erotis, baru kali ini kurasa vagina wanita yang berkontraksi sebelum ia orgasme, orang bilang empot-empot.

“Ouuhh Dik.. aahh, eenaak Dik aeehh..,” Bu Budi menceracau dan tangannya mengoyak-koyak baju yang masih kukenakan.

Ritme pompa penisku kutingkatkan cepat dan teratur dengan dua tangan menopang tubuh bagian atasku. Bu Budi semakin hilang kendali, kepalanya bergerak kanan-kiri, gyang pinggulnya semakin liar seirama rintihannya yang makin kacau pula. 15 belas menit berlalu, dan kurasa Bu Budi sudah hampir tiba pada puncaknya.

“Aaahh Dik, saya mau keluar Dik..,” Bu Budi bergerak semakin cepat dibawah kendali penisku. Sebelum dia mencapai orgasmenya, penisku secepat mungkin kutarik keluar sekaligus menjauhkan diriku dari tubuhnya.

“Ouhhgghh.. ohh, kenapa berhenti Dik? Ayo dong teruskan, saya hampir sampai,” Bu Budi merengek dengan wajah yang masih penuh birahi. “Maaf Bu, tapi sudah selesai ruwatnya. Guna guna di tubuh Ais sudah keluar melalui ruwat tadi, kan kita melakukannya untuk mengobati Ais,” kataku padanya.

Bu Budi tersentak sadar, mungkin dia kecewa juga telah hanyut dalam birahi tadi. Tapi tak lama kemudian meluncur cerita dari bibirnya yang tipis, katanya Pak Budi tak pernah memberikan kepuasan seksual yang maksimal, meskipun hubungan seks mereka lakukan dua hari sekali.

“Bu.. apa Ibu mau kita lanjutkan lagi?,” aku mengusap lembut dahi Bu Budi. “Kalau Dik Billy nggak sudi, ya sudah nggak apa kok,” Bu Budi menampakkan raut kecewa.

“Bukan begitu Bu. Saya mau lanjutkan asal kita berdua telanjang bulat, dan tolong Ibu bayangkan bahwa saya adalah Pak Budi, supaya nggak rikuh Bu,” kataku seraya melepas luruh dasternya yang terkumpul di bagian perut, aku pun menanggalkan bajuku.

Kami kembali saling pagut, dan saling tindih. Penisku langung kuhujamkan ke vaginanya dan kami kembali larut dalam permainan seks tengah malam. Sampai akhirnya, “Ahh oohh.. ngghh ahh,” Bu Budi mengerang kuat mengigit bahuku saat serangan orgasme tiba pada vaginanya.

Kontraksi vaginanya terasa jelas menjepit-jepit penisku yang masih aktif. Genjotan kunaikkan lebih kuat dan cepat, membuat Bu Budi benar benar tuntas orgasme. Tak lama berselang, aku pun tiba pada puncak nikmatku.

“Ihh.. ohh sayang..,” tubuhku tegang dan penisku terhentak hentak berkali kali dalam vagina Bu Budi sambil menyemburkan sperma. Aku lunglai dan mengambil tempat disisi kiri Bu Budi, kami kelelahan tanpa sadar saling berpelukan dan akhirnya lelap tertidur.

Waktu terjaga jam sudah menunjuk angka 07.30 Wita, suara di luar kamar Bu Budi terdengar menandakan Maman dan Ais sudah bangun. Aku dan Bu Budi segera merapikan diri dan mengenakan pakaian kami, lalu keluar menuju ruang depan.

“Sudah baikkan rasanya Dik Ais?,” aku langsung bertanya pada Ais yang memandang heran ke arah kami di ruang depan. Gawat pikirku, pasti Ais mengetahui apa yang terjadi dan akan melaporkannya pada Pak Budi nantinya.

“Ohh, ini lo sayang, Mas Billy ngobatin kamu dengan ruwat khusus, jadi harus nginap di sini untuk begadang semalam suntuk. Ibu menemani ngobrol,” Bu Budi seakan tahu sorot curiga di mata Ais.

“Ehmm, maaf ya Mas Billy, Ais jadi ngerepotin,” untunglah Ais bisa dikelabui, kalau tidak berabe juga dong. Setelah basa-basi sebentar, aku lalu pulang ke rumah kontrakanku dan siapkan diri ke kampus lagi pagi itu.

Entah kapan aku bisa menyetubuhi wanita semacam Bu Budi lagi. Aku masih di kota M dan masih kuliah. Pagi ini aku kedatangan pasangan suami istri, Toto dan Juminah, mereka datang dari kampung yang letaknya sekitar 25 Km dari rumah kontrakanku.

Katanya sih mereka tahu aku bisa ngobatin penyakit secara supranatural dari tetangga mereka, Pardi. Aku sendiri lupa apa pernah ya aku ketemu orang namanya Pardi atau tidak. Singkatnya, pasangan Toto yang sopir truk antar pulau dan Juminah yang pembantu rumah tangga itu datang padaku dengan keluhan pingin cepat dapat anak.

“Benar lo Mas, berapapun biayanya saya usahakan asal kami bisa punya momongan. Wong kami ini sudah tujuh tahun kawin lo Mas,” Toto memohon mohon padaku diruang tamu, sementara Juminah hanya ikut manggut-manggut setiap suaminya bicara.

Toto adalah pria bertubuh ceking dan usianya sekitar 40 tahunan, sedangkan Juminah walau agak kampungan dan lusuh tapi terlihat jauh lebih muda dengan usia sekitar 29 tahunan. Body Juminah yang agak gemuk terlihat serasi dengan tinggi tubuh yang lebih tinggi 5 cm dari Toto.

“Emangnya seminggu berapa kali kalian melakukan hubungan badan,” setelah puas menilai penampilan dua tamuku itu, aku pun mulai meluncurkan pertanyaan dengan mimik serius. “Eh.. Anu Mas. Kadang-kadang dua kali seminggu, atau malah kadang dua minggu sekali, soalnya saya ‘kan sopir truk antar kota Mas.

Kadang saya nginap diluar kota, jadi nggak sempat gituan,” Toto menjawab malu-malu, Juminah malah tertunduk habis.

“Oh.. Begitu toh. Pantas kalian susah dapat momongan, wong jarang kumpul dan kerja berat terus sih,” aku berujar sambil menenggak kopi pagiku.

“Oke sekarang kalian tenang saja, biar aku bantu masalah kalian. Nah sekarang kalian masuk ke kamar itu dan tunggu aku ya,” pintaku pada tamuku sambil menunjuk kamar praktikku. Beberapa menit setelah mereka masuk, aku langsung nyusul, di kamar itu aku duduk di kursiku sementara mereka di kursi tepat depanku yang dihalangi meja kerjaku.

“Begini Mas Toto, ini kan untuk kebaikan kalian berdua jadi kumohon jangan rikuh dan risih dengan ruwatan pengobatan yang akan kulakukan ya, bagaimana? bisa apa nggak?,” tanyaku.

“Oh.. Monggo saja Mas, kami memang siap apa saja untuk dapat anak kok,” Toto menjawab. “He-eh Mas kami siap kok,” Juminah menimpali.

“Kalau begitu sekarang kalian buka baju dan ganti pakai sarung ini ya, terus tiduran di dipan itu,” kuberi dua lembar sarung bermotif bunga dan menunjuk dipan di kamar praktikku. Pasangan dari kampung itu nurut saja dan sekejap kemudian sudah berbaring berdampingan di dipan, hanya pakai sarung tok.

Aku berdiri mendekati pasangan yang sudah pasrah itu, mereka kuperciki air kembang sambil merapal mantra seadanya dibibir.

“Sekarang tolong kalian bersetubuh ya, iya bersetubuh, main, ngeseks..,” perintahku disambut keheranan keduanya. Tapi mereka tak punya pilihan, toh mereka butuh bantuanku. Toto langsung saja membuka sarungnya dan mempreteli sarung Juminah hingga keduanya bugil tulen.

Bibir Toto yang agak monyong langsung nyosor menciumi sekujur tubuh Juminah, sedangkan tangannya mulai gerilya di bagian vagina istrinya itu. Wah, pemanasan seks pasangan ini rupanya kurang ahli, pantas saja sudah dapat anak.

Lima menit kemudian Toto main tancap saja, padahal penisnya yang imut belum tegak benar sehingga kelihatan agak susah menembus vagina Juminah yang masih kering belum terpacu birahi.

“Duuhh belum Mas, susah sekali masuknya,” Juminah menggerutu tapi tetap aku dengar. Toto tak peduli dan terus menggenjot pantatnya, menggesek gesek penisnya yang masih layu ke permukaan vagina Juminah dengan napas memburu, nafsu benget.

“Ohh yess.. Ahh,” Toto sudah tamat sebelum penisnya belum masuk utuh ke vagina Juminah, ia langsung KO dan menggelepar disisi istrinya.

“Wah.. Wah.., Mas Toto ini gimana sih. Bagaimana mau punya anak kalau sperma sampeyan nggak nyiram rahim Mbak Jum. Payah sampeyan ini Mas,” kataku memberi komentar. Toto dan Juminah kembali duduk dihadapanku dihalangi meja, lalu kujelaskan bagaimana proses pembuahan yang dibutuhkan rahim wanita sebelum akhirnya hamil dan melahirkan.

“Mas Toto kulihat burungnya kurang kuat ya, kok baru gesek-gesek sudah KO. Tuh Mbak Jum belum rasain apa-apa. Iya kan Mbak?,” Juminah tertunduk malu mendengar pertanyaanku, Toto malah garuk-garuk kepala, mereka masih pakai sarung tok.

“Terus gimana caranya Mas supaya aku dapat momongan toh,” Toto bertanya. “Caranya ya perbaiki mutu seks kalian itu, terutama Mas Toto, burungnya harus kuat sehingga nyembur pejuhnya di dalam vaginanya Mbak Jum, gitu loh.

Selain itu nanti kuberi ramuan,” kataku menjelaskan. “Anu Mas, punya Mas Toto memang nggak bisa lebih dari itu kok, padahal sudah minum banyak jamu, tapi begitu terus,” Juminah menyelaku. “Ya mau bagaimana lagi wong memang begitu,” Toto protes.

“Oke-oke, supaya Mas Toto lebih sip, gimana kalau aku contohkan cara main yang tepat, biar pas dan cepat dapat anak,” aku menawarkan. Mereka saling pandang kemudian memandangku lagi.

“Terserah bagaimana baiknya Mas,” Toto dan Juminah menjawab hampir serentak. “Oke sekarang Mas Toto duduk disini dan Mbak Jum silahkan tiduran lagi di dipan,” perintahku. Toto duduk dikursi tadi, Juminah sudah berbaring berbalut sarung sebatas dada, aku mendekati dan mencipratkan air kembang ke sekujur tubuhnya.

“Begini Mas Toto, perhatikan cara menaikan birahi istri pada langkah pertama,” kataku seraya menurunkan kain sarung Juminah sampai ke perut. Aku duduk disamping Juminah yang tiduran, lalu kuraba-raba dua gundukan di dada Juminah, meski sudah tujuh tahun kawin, rupanya susu 36B Juminah masih kencang kayak perawan.

“Ihhss geli Mas.. Aku malu ah..,” Juminah menepis tanganku, tapi kemudian membiarkan lagi tangan itu beraksi. “Mas jangan cemburu ya ini untuk kebaikan sampeyan juga kan,” kulanjutkan aktifitasku dan Toto hanya manggut-manggut memberi restu. Kini bibirku mulai aktif menjilati susu Juminah bergantian kanan dan kiri.

Hisapan dan jilatan terus kulakukan sampai lima menit lamanya. “Hsshh aauuhh.. Emmffhh maasshh.. Aahkk,” Juminah mendesis dan menggeliat-geliat karena hisapanku di susunya, tangannya malah sudah mendekap kepalaku seperti enggan kalau kulepas hisapan itu.

“Gimana Mbak Jum? enak?,” “Ehmm iiyah Mas,” Juminah menatapku sayu, wajahnya cukup manis kalau begitu, rasanya mirip artis Denada Tambunan, body gemuknya pun mirip waktu Denada belum diet (Sorry ya kalau Dena ikut baca, abis emang mirip sih).

“Nah Mas Toto sekarang lihat nih tahap kedua merangsang birahi istri,” aku mengambil posisi jongkok tepat diantara dua paha Juminah yang ngangkang. Vagina Juminah sepintas kelihatan jorok, apalagi bulunya hitam, panjang, sembrawutan lagi.

Kuusap pelan bagian sensitif Juminah dari bawah ke atas dan terus begitu beberapa kali. “Auuhh mashh geliih ahhss,” pinggul Juminah naik turun mengikuti tanganku yang mengusap vaginanya. Saat cairan kental mulai membasahi bagian itu, aku langsung merunduk dan menciumi bibir vagina Juminah, aroma vagina cewek kampung memang asyik dan alami.

Kugunakan lidahku menjilati bibir dan klitoris vagina Juminah, membuat Juminah kalang-kabut dan menggelinjang tak karuan. Kuintip mulut Juminah sedikit terbuka dan merintih-rintih, rambutku dijambak-jambak Juminah.

Sementara Toto serius melihat bagaimana istrinya sedang kubuat birahi tinggi. Gerakan tubuh Juminah yang agak gemuk membuat dipan bergerenyit, kreyat-kreyot, tapi makin asyik. Aku sendiri mulai merasa birahi, penisku mulai tegang dan mendesak CD yang kupakai.

Hampir 10 menit kujilati vagina Juminah, sampai kurasakan dua pahanya keras menjepit kepalaku dan jambakan pada rambutku makin kencang. “Aahhss aahhdduhh.. Iihhss.. Mmmff..,” Juminah sampai pada orgasmenya, gerak pinggulnya menghentak-hentak kepalaku yang dijepit pahanya, lalu jepitan itu lunglai, Juminah lemas.

“Gimana Mbak Jum, ringan rasanya?” aku bertanya sambil melepaskan pakaianku sampai bugil juga.

“Iyaah mass agak ringan, enak sekali rasanya,” Juminah masih menatapku dengan birahinya.

“Nah Mas Toto, sekarang lihat tahap terakhir ya.

Bagaimana caranya masukkan penis ke vagina supaya cepat hamil,” aku berkata pada Toto yang tetap serius memperhatikan. Juminah terbaring pasrah dengan dua paha mengangkang lebar, vaginanya yang kuyup jelas terlihat karena bulu lebatnya lusuh oleh cairan vaginanya.

Penisku yang sudah maksimal berdiri kusisipkan di bibir vaginanya dan tubuhku mulai menindihnya, susu Juminah kembali jadi sasaran jilat dan hisapku.

“Sabar ya Mbak Jum, pasti tak buat kamu ketagihan,” bisikku di telinga Juminah.

“Uhh mass, teruskan apa maumu mass..,” Juminah tak sabar menunggu penisku menembus vaginanya.

Bless.. Jleepp, penis kudorong masuk menembus vagina Juminah yang masih terasa rapat dan nikmat, Juminah merintih tertahan merasakan benda yang masuk tak seperti yang selama ini dirasakan dari Toto.

“Eh Mas Toto, kok bengong. Nah ini Mas caranya yang betul, tuh lihat burungku masuk utuh ke vaginanya Mbak Jum,” aku memberi tahu Toto, dia manggut-manggut saja dan melongo melihat istrinya kelepar-keleper kubuat.

“Ahhyoo mass.. Aku ngghhaakk kuaatt, ohh..,” pinggul Juminah terus naik mendesak penisku supaya bergerak di vaginanya. Kupeluk tubuh gemuk Juminah, kugenjot penisku, kepala Juminah bergerak tak beraturan, rintih dan desahnya makin menjadi-jadi.

“Enak Mbak Jum.. Hehh, enaak ndaak mBHaak,” “Iyahh oosshh.. Eenhhaak, teruusshh mashh aauhh,” “Mmmffhh ehmnnff,” bibir Juminah yang agak tebal tapi seksi kulumat habis, aku jadi nafsu banget dengan bau keringat ketiak Juminah yang khas kampung itu.

Kugenjot makin kuat dan makin teratur, Juminah pontang-panting mengimbangi gerakanku dengan menggoyang pinggulnya. Permainan kami cukup panjang tapi Juminah belum kelihatan menyerah, posisi segera kuubah, kubalik tubuh kami sehingga Juminah yang jadi menindih tubuhku.

“Mas Toto, kalau lagi main, burung sampean nggak bisa masuk, gini cara yang tepat supaya imbang,” kataku, Toto masih saja manggut-manggut, terpesona melihat bagaimana istrinya yang kini menggenjot aku.

“Duuhh.. Iisstthh, kokhh tambah ennahkk begini.. Masshh.. Auhh,” Juminah kini bagai joki diatas penisku, tubuhnya yang gemuk dan lemak pahanya membuat kenikmatan yang asyik di penisku, aku menarik tubuhnya sampai dia merunduk dan menyasar lagi susu ranumnya dengan isapan lidahku.

“Ayoo Mbaak Jum, ambill nikmatnya Mbak..,” “Ahh.. Enghh.. Mmmffhh, ohh iyakhh mashh.. Akuu enaakkhh.. Mahhss.. Ahhss,” goyang pinggul Juminah makin menekan penisku, makin lama gerakannya makin kuat.

Wajah Juminah semakin ayu dalam keadaan seperti itu, mata sedikit terpejam, bibir terbuka mendesis, kepalanya gerak kanan kiri diatas tubuhku. Kurasa vaginanya makin membasah, ini saat yang tepat meghajarnya hingga puncak pikirku.

Sekejap aku ubah posisi kami lagi, dengan berputar kekiri kini tubuhku kembali diatas tubuh Juminah, tanpa memberi kesempatan padanya, aku terus menggenjot penisku menghujam-hujam vaginanya.

“Aaahh.. Akuu piipisshh mashh.. Ouhh.. Emhhff.. Ohhss..,” tubuh Juminah kejang, dinding vaginanya berkontraksi berkali-kali dalam genjotan penisku, sampai akhirnya kepala Juminah lunglai, menandakan orgasmenya sudah utuh dan tuntas.

Toto terpana melihat raut puas istrinya, sementara aku masih teratur menggenjot tubuh Juminah. “Ahh Mas To.. Ini puncak namanya aauhhkkhh..,” kurasa cairan spermaku tak mungkin kubendung lagi, kutarik penisku dari liang nikmat Juminah, dan sekejap semburan spermaku tumpah membasahi perut Juminah.

“Uhh.., itu namanya pejuh Mas, dan itu harus ditumpahkan didalam vagina Mbak Jum, supaya hamil. Kalau Mas To tumpahnya diluar terus kapan hamilnya Mbak Jum,” aku bangkit menyuruh Toto melihat sperma kentalku diperut Juminah.

“Lohh kok nggak ditumpahin didalam saja Mas, biar dia hamil,” Toto benar-benar blo’on. “Wah Mas ini gimana. Kalau spermaku masuk ke vagina Mbak Jum dan Mbak Jum hamil, berarti itu anak ya anakku jadinya, bukan anak sampeyan, gimana sih,” cerocosku sambil kembali mengenakan pakaian, mereka juga kembali pakai pakaian masing-masing.

Setelah itu, kami basa-basi sejenak, dan kubuatkan ramuan kuat untuk Toto supaya greng kalau tempur sama Juminah. Mereka kemudian pulang dan menyisipkan uang pecahan ribuan yang jumlahnya sampai lima puluh lembar.

Oh ya, sejak itu, kira-kira sebulan kemudian pasangan itu datang lagi dan minta diajari lagi begituan. Aku kembali senang bisa bersetubuh dengan Juminah yang sintal dan montok, dan Toto senang bisa belajar memuaskan istrinya. Kabar terakhir yang kudengar, tiga bulan kemudian Juminah hamil.

Entah itu anak siapa, soalnya waktu datang kedua kali aku tumpahkan spermaku dalam vagina Juminah, habis nggak tahan sama rintihannya itu. Tapi aku tetap berharap anak itu anak Toto, hasil sperma Toto. Sejak dikabari aku kalau Juminah hamil, mereka tak lagi datang padaku, karena kusarankan supaya mereka kontrol ke puskesmas saja untuk kehamilan Juminah.

Certa Sex – Istri Para Tetangga..

Aku tinggal di perumahan di Jakarta Timur, komplek tersebut tidak terlalau besar masih hanya dihuni oleh 150 keluarga,

Hanya beda 1 jalan dari rumah , dipojokan terdapat rumah yang sangat asri yang ditempati oleh keluarga pak Juli seorang pengusaha tanggung yang kegedean lagunya . Biarin deh dia belagu terus yang penting bokinnya cing…kutilang ( kurus tinggi langsing ) , kulitnya kuning , rambutnya hitam abis dan matanya tuh…geunit pisan .

Dikompleks diantara Bapak – bapak muda pembicaraan mengenai bokinnya Pak Juli enggak pernah kering , giliran yang rumahnya ketiban arisan Ibu-ibu kompleks pastilah sang Bapak selalu stand by dirumah .

Enggak lain enggak bukan soalnya Mbak Ghani begitu namanya , terkenal kalau pakai baju paling berani , pakai rok mini baju rendah belahannya dan paling sering ngongkong duduknya .

Yang lebih gile lagi kalau dia tahu sang Bapak ada dan ngelirik doi , secara sengaja dia pamerin CD nya yang sumpah jembutnya sebagian betebaran nongol keluar dari pinggiran CD-nya . Bulan lalu , rumah gue yang ketiban rejeki ngadain arisan , so pasti gue pura -pura repot bantuin bokin nyiapin segalanya , tau dong gue musti tampil keren abis , jeans Versace dan baju gombrong Guess sengaja gue lepas kancing atasnya , biar sexy katanya .

Bener aja , gue liat si Mbak Ghani duduk dipojokan menghadap kamar kerja gue yang pintunya gue buka setengah aja .

Sambil menghadap komputer secara nyamping gue bisa melihat kearah ruang keluarga , khususnya kearah doi duduk .

Sundel banget , doi sore itu pakai rok mini hitam kontras dengan kulitnya dan pakai baju beige yang ketat , tapi bahannya alus banget . Gue masa bodo deh denger ibu – ibu berkicau yang penting gue bisa liat terus Mbak Ghani yang sesekali juga ngelirik gue , kalau bertatapan gue senyum doi juga dong .

Mulailah doi buka jepitan pahanya , asli coy celana dalemnya yang krem keliatan , tengahnya keliatan item pasti karena jembutnya yang lebat , dan duile itu jembut gimana sih koq pada berurai keluar .

Tiba – tiba doi ngedipin gue , terus gue bales ngedip sambil julurin lidah , eh dia malah senyum senyum dan sambil meremin matanya seperti orang kalau lagi keasyikan di toi .

Gue makin nekad , sekarang gue ngadep kedia sambil ngangkang dan secara atarktif gue usap-usap kontol gue dari luar celana ,

terus gue kasih kode supaya dia menuju kamar mandi , belagak kencing lah .

Doi ngangguk , terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi .

Gue dan doi tahu banget , dikamar mandi luar masih dipakai sama ibu Agus yang gendut dan beser melulu .

” Mas , ini ibu Ghani mau numpang kekamar mandi yang disini ” bini gue dengan polos ngajakin doi kekamar mandi yang ada diruang kerja gue .

” Ya nih Pak Luki , abis kamar mandinya masih lama rasanya dipakai Ibu Agus ”

” Numpang ya , abis udah enggak tahan kebanyakan minum ” biasalah doi basa-basi biar enak dikupingnya bokin .

” Silahkan Bu , tapi enggak papa khan saya nerusin kerja dikomputer , maklum Bu belum jadi pengusaha seperti Pak Juli ”

” Ah Pak Luki bisa aja ” kata doi sambil nyelonong kekamar mandi gue .

Dasar otaknya juga pinter dalam hal berselingkuh , doi buka pintu kamar mandi setengah dan bilang ” Pak Luki , ledengnya rusak ya ? ” bokin gue masih ada lagi disitu . ” Mas coba liat dulu deh , bantuin Ibu Ghani , malu-maluin aja kamar mandinya ” bokin gue setengah ngomel . ” Biar dibantu sama Mas Luki ya Bu , dia yang sering pakai kamar mandi itu ” terus bokin balik lagi kekamar tengah , soalnya bokin musti tanggung jawab dong sama rakyat arisannya .

Dengan belagak males – malesan gue berdiri , eits kontol gue masih ngaceng lagi , ah cuek deh .

Mbak Ghani ngelirik juga dan secara refleks doi ngeraba selangkangannya , anjir….terang aja itu tenda celana gue makin tinggi ,

“Hayo , celananya kenapa tu” dia berbisik waktu gue masuk kekamar mandi .

“Kamu sih bikin aku horny , jadi aku yang sengsara deh , mana pakai jean lagi ” gue nekad ngomong gitu sambil ngeraba paha mulusnya . Gilanya doi bukannya marah malah bilang ” Ya , kalau dibagian itu sih belum asyik ”

” Abis yang mana dong kalau asyik ” gue masih setengah berbisik menyelusurin pahanya kearah memeknya yang bejembut gila .

” Nah yang itu baru asyik , kamu juga kalau saya gituin juga asyik lah ” gantian doi yang ngelus kontol gue dari luar sambil coba – coba buka retsleitingnya . Busyet gila juga ini perempuan , mana bau Isei Miyakenya merangsang banget .

Gue enggak tahan , ” Mbak ngentot yuk ” kata gue edan-edanan . ” Ayo , kapan dong , mending berani lagi ” tangannya sekarang udah masuk kedalam jeans gue dan mulai narikin halus kontol gue .

” Eh , siapa takut apalagi kalau ngentotnya bareng Mbak ” gue sekarang udah berhasil masukin jari kedalam memeknya yang basah dan lembab . ” Besok ya , kekolam renang Ancol , jam 10 ”

Babi banget nih si Mbak , kenapa kekolam renang sih , emangnya gue kecebong .

Besok jam 10 kurang seperempat gue udah stand by diparkiran kolam renang Ancol , gue telepon dia dengan no yang dikasih kemarin secara rahasia .

” Mbak , aku udah sampe nih , kamu dimana ” gue rada was was juga kalau doi enggak dateng .

” Ini aku baru mau masuk Ancol , tungguin ya , kontolnya udah ngaceng lagi belum ” sialan ngetest gue kali , tapi koq kedengarannya rame banget sih ada yang cekikikan dibelakangnya .

Mati gue , jangan – jangan gue mau dijebak , siapa tau dia bawa bokin gue juga .

” Kamu sama siapa sih , koq rame banget , gue jadi bisa enggak ngaceng lagi nih ”

” Janjinya gimana sih , katanya mau ML eh kamu bawa orang lain ” setengah kesel gue ngomong ditelpon .

” Pasti deh janjinya , pokoknya asyik banget kamu nantinya ” dia ngalemin gue .

Enggak sampai 10 menit , mobil Honda putihnya mendarat persis disamping mobil gue .

” Surprise , nah ketauan ya enggak ngajak – ngajak kita ” suara 2 Ce temennya Ghani teriak bareng .

Waduh pucet banget gue , karena ternyata yang diajak juga tetangga gue , Mbak Rina bininya pak Joko dan Mbak Ita bininya pak Raja .

Salah tingkah abis gue . ” Eh , kaget ya , take it easy aja , khan udah kenal , asyik-asyik aja deh pak Luki , eh kalau diluar Mas Luki dong ” Mbak Ita yang mungil dan putih ( persis banget Kris Dayantie ) itu nyerocos aja membuat suasana jadi enggak tegang .

” Enggak deh kita bilangin sang istri ” si Rina yang body dan facenya seperti Dian Nitami nambahin , ya gue makin ngerasa siep banget dong . Tapi kewaspadaan tetap dipertahankan jangan lengah man.

Setelah basa basi bentar , ” Udah ya , pokoknya enggak ada yang boleh tahu selain kita – kita ya Mas ” Rina sekarang yang membuat gue makin PD .

” Pokoknya enjoy aja deh , kita bertiga udah kompak berat lho ” Ghani tanpa sungkan ngegandeng gue menuju loket . ” Khan gue yang janjian sama Mas Luki , elo pada jangan ngiri ya , entar juga kebagian ” .

Kepala jalan sekarang si Rina , doi pesen kamar ganti dan bilas keluarga . Sekalian pesan ban renang 2 buah yang guede banget .

Ampun , ide apalagi sih . Seolah kita sekeluarga enteng aja mereka ngajak gue masuk bareng keruang ganti dan bilas .

Denngan tenang mereka buka rok , baju dan terus BH , sialan mereka tenang aja seolah gue enggak ada disitu .

Gila aja kalau gue enggak ngaceng liat Ghani , Rina dan Ita yang umurnya sekitar 30 an pada memamerkan bodynya .

” Eh , Mas Luki mau berenang atau mau nonton kita streap tease ” kata si Ita sambil buka BH putih transparantnya .

” Ya terang mau berenang dong , tapi aku maunya sih bilas dulu ah , masak langsung berenang ” gue akal – akalan supaya mereka juga mau berbulat ria , tanggung amat baru liat toket dan setengah body .

Gue buka baju dan celana , begitu tinggal CD mereka teriak bareng ” Asyik ya , udah ngaceng ”

” He eh abis kalian sih begitu merangsang dan mempesona ” kata gue sembarang siap – siap mau buka CD gue .

” Ah enggak fair nih , masak jadi aku duluan yang telanjang , barengan dong jadi aku enggak malu ”

” Hu…maunya tuh , ya Ghani kamu khan yang punya ide , kamu dulu dong…mana jembutnya aduh udah pada keluar tu ”

kata si Ita sambil narikin jembutnya Ghani yang nongol terus dari pinggiran CD .

” Aku sih Ta prinsip , sekali buka celana pantang kalau enggak di……”

” Joss !!!!! ” Ita dan Rina seperti koor nerusin apa maunya si Ghani .

” Ia deh , gue juga malu khan kalau keluar kamar ganti nanti swempaknya ada tenda mancung “. Cari pembenaran dong .

” Bisa bubar orang dikolam nanti , elo pada mau ya gue jadi tontonan ” gue belagak memelas sambil nunjukin si Monas.

Supaya enggak kaku , gue datengin si Ghani yang masih berdiri dekat gantungan baju , gue peluk doi dengan kedua tangan dibagian pantatnya , gue cium bibirnya ala French kissing , lidah saling ketemu .

” Wow , nafsu nih ya ” si Ita ngeledek . Asyik banget deh pantat si Ghani yang nonggeng gue remes – remes , tempelin abis mekinya dengan kontol gue , Ghani langsung horny pingggangnya digoyang yang otomatis mekinya berputar diatas kontol gue .

Sekitar 3 menit adegan itu gue pertahankan , sebenarnya gue udah nafsu banget mau langsung masukin kontol gue kememeknya

Ghani yang gue yakin udah basah . Sabar cing gue musti cool dong , pasang strategi soalnya masih ada 2 nonok lain menanti .

Perlahan gue melorot , dengan tetap mata memandang dia tangan gue pindah berputar meremas perlahan toketnya yang pentilnya relatif masih belum gede . ” Eh elo jangan ngiri , sementara belum dapat giliran elo pada meremas sendiri aja dulu ” masih sempat juga Ghani ngeledek temannya yang terpana melihat gue yang sambil meremas toketnya sambil usaha jongkok depan dia , pakai gigi gue tarik perlahan CD nya . ” Enak ya Can remasannnya Mas Luki ? ” Rina bertanya tanpa arah karena gue tau dia juga tanpa sadar meremas dan memilin pentil toketnya .

” Kita suruh buka sendiri ya ” Ita protes narik sedikit CDnya sambil tangannya ngobel memeknya sendiri .

” Sini dong sayang , tangan gue enggak sampe kalau elo pada jauh – jauh ” Gue enggak bisa ngomong panjang lagi karena Ghani narik kepala gue kearah nonoknya minta dijilat , setelah CDnya melorot sampai dengkul kakinya .

Anjir….kesampean juga gue jilatin dan rasain nonoknya Ghani yang jembutnya gilaaaaaa !!!!!

Itilnya agak gembung , merah banget , gue tahu setelah berupaya keras menepis bulu jembutnya .

Sejenak ruang ganti sunyi , sambil ngejokil abis liang kenikmatannya Ghani gue solider untuk pelorotin CD nya Rina dan Ita barengan , dan inilah pemandangan matanya pemirsa sekalian :

Ghani , toketnya 34 bentuknya bagus banget , pentilnya agak gede kecoklatan , kulit seluruh bodynya coy kuning kencang mengkilat , bagian pantat ada sedikit selulit , jembutnya…khan udah tau elo pada en bulu keteknya idem ditto.

Yang jelas enggak rapi , serabutan menutup semua bagian memeknya mendekati puser .

Sambil ngedorong pantatnya kedepan supaya lidah gue bisa lebih dalam masuk kelobang nonoknya , dia terus mendesah ,

kaki kananya ngegesek pelan kontol gue dari luar CD , sambil usaha masuk dari samping CD .

Rina , yang gue pelorotin pakai tangan kanan , toketnya gede agak panjang seperti pepaya , kulitnya sawo matang , maklum Jawa Solo sepertinya , bulu ketek anti cukur , serabutan disekitar susunya yang 36 . Pentilnya agak masuk kedalam .

Pahanya kencang , tinggi sekitar 170cm , jembutnya keriting rapi , diatur sekitar lobang nonoknya ( Sering berbikini kali..)

Lobang nonoknya memanjang , dibawah lipatan perut ada bekas jahitan Caesarnya .

Doi terus meremas susunya sambil liatin tangan gue yang lagi berusaha nurunin CD pinknya .

Supaya cepat , doi ikut ngebantu nurunin CDnya .

Ita , siimut , tinggi sekitar 158 lah , jembutnya paling jarang jadi bagian dalam memeknya yang merah muda gampang keliatan ,

toketnya kecil kenceng ukuran 32 , perutnya rata , paling kalem keliatannya tapi tangannya aktif terus megangin bokongnya sendiri , jangan – jangan doi paling hobby dibol dari belakang .

Ngimpi apa gue liat tetangga gue pada telanjang bulet , elo elo yang belum ada pengalaman maen sama bini orang , gue anjurin deh elo cari mereka bertiga , enggak resek , berpengalaman dan tahu penuh apa enaknya ML .

Kalau mau orgy cari yang sehati , kompak istilahnya dan enggak egoist , artinya mereka berupaya menikmati SEX sepenuhnya tanpa ada rasa sungkan , rilex dan terbuka .

Hal ini juga gue buktikan sebelumnya dengan 2 sahabat mahasiswi yang kompak , tapi ya kita harus konsider atas kebutuhan jajannya lah , jangan merki . Kurang yakin kemampuan ya modalin VIAGRA yang paling mahal Rp. 150.000 / pil 100 mg .

” Ya kamu pada mandi dulu deh dishower ” kata gue pelan , sambil menjilat sisa juicenya Ghani yang ada disekitar bibir gue .

Ghani enggak bereaksi , dia nuntun gue ketempat duduk , pas gue duduk dia jongkok didepan gue dan brebet dia tarik CD gue ,

dia pandangin seluruh kostruksi kontol gue , enggak pakai komentar yang basi seperti cerita bokep yang lain ,

” Aduh gede amat kontolnya , atau sok ngebandingin sama kontol Co yang lain , itusih kuno , tipu….!!! Jangan mau elo dibohongin sama yang bikin cerita , itukan cuma kebanggaan semu , yang penting gocekannya bukan gedenya , emangnya mau modal berat aja…tipuuuuu……”

” Jangan kelamaan Can , langsung maenkan , tunjukan kecanggihannya , apa perlu gue nih yang terjun ” Rina sewot ngeliatin Ghani yang masih memandang kontol gue sambil ngurut dari arah palkon kepangkalnya , tanpa komentar sambil tangan kirinya kasih kode enggak perlu , langsung kontol gue mulai dijilatin perlahan .

Seluruh kepala kontol gue ( helmnya ) dijilat berputar , doi tau bagian yang paling enak yaitu dibagian bawah Palkon sekitar sambungannya . Cairan bening gue dijilatin sambil matanya memandang arah mata gue , seolah butuh pengakuan atau komentar

Gue cuma bisa angkat 2 jempol , bravo go ahead Can .

Selanjutnya cepet banget lidahnya bergeser enggak berhenti menari disekitar batang kontol , begitu dikemot kedalam mulutnya yang memang sexy dia keluarin cadangan ludahnya , jadi rasanya kontol gue berenang didalam air ludah , enggak ada rasa gigi Cing , belajar dari banci Taman Lawang kali .

Gue udah seperti kura – kura yang dibalik , kaki gue kelayapan , gue tumpangin diatas pundaknya sambil kalau gue udah enggak tahan kepala si Ghani gue bekep abis sama paha gue .

” Rina – Ita sini dong , gue mau nih megangin tetek dan nonok kamu ” Enggak sampai 2 kali order mereka langsung nyamperin gue dan Ghani . Si Rina nyodorin susu pepayanya minta gue isap dan siimut Ita ngangkat kaki sebelah keatas bangku , berdiri disamping gue dan minta dirojok nonoknya dengan telunjuk gue yang masih bebas karena belum ada order .

Gue pegang nonoknya yang merah sudah rada becek , maklum turunan Cina , begitu telunjuk gue masuk dia yang gerakin pinggulnya maju mundur kaya lagi ngentot aja gayanya .

Doi merem melek ngerasain bulu – bulu yang ada ditangan gue , tangannya ngusap pentil susu gue secara beraturan .

Bibirnya ngejilatin bagian dalam kuping gue yang rada caplang , kadang ngemut juga bagian gelambir telinga ogud , terus berbisik supaya enggak kedengaran sama yang lain

” Mas Luki , pejunya jangan diabisin semua ya , kamu mau enggak ngerasain bokongnya Ita ” …Busyet bener khan doi doyan dibool , buktinya begitu gue pindahin jari kelobang pantatnya udah rada longgar , gila kali pak Raja , doyan bener sodomi bokinnya yang imut .

Gue cuma ngangguk dan nyodorin bibir gue buat ngerasain juga ciumannya si Ita .

Wangi banget deh si Ita , bau Kenzonya makin ngerangsang gue .

Biar adil nonoknya Rina yang jembutnya rapi gue rojok juga , masih agak kering tapi mantap itilnya tebal , karena ngerasa agak dicuekin kali , enggak sabar si Ita sekarang jongkok dibelakang Ghani , tangan kanannya ngelus tetek dan pentilnya Ghani dan tangan kirinya berusaha ngobok – ngobok nonoknya Ghani yang makin basah , soalnya gue liat kadang – kadang si Ita jilatin jarinya yang basah berlendir , apalagi kalau bukan juicenya Ghani yang asyik banget rasanya .

Ghani makin asyik aja nyepong gue , badannya menggeliat – geliat karena keasyikan dikobel Ita , gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Ghani , entar gue timpa juga deh boolnya Ghani , gue berandai andai .

Gue cuma bisa teriak kecil ” Ngentot…..gila ngentot enak bener sama kamu pada , Ghani uhhhh…uhhhh….abis ini gue entotin elo ya , gue nggak mau ngentotin kamu dari belakang , gue mau ngentot sambil terus ngeliatin nonok kamu yang jembutnya gila..”

” Rina , gue mau ngentotin kamu sambil duduk biar gue bisa terus meres tetek kamu yang sexy banget ” gue ngomong terus ngaco .

” Ta , gue ngentotin kamu dari belakang ya Ta , gue pengen ngentot dilobang pantat Ta , abis elo sexy banget sih goyangnya ”

Elo gue saranin deh kalau lagi ngentot musti sering – sering ngomong yang vulgar , Ce jenis apapun makin nafsu dengernya ,

dan elo gue jamin makin nafsu kalau Ce yang bukan Cabo atau Pecun teriak ngomong vulgar juga . Wuih ai jamin dah…..

” Mas Luki , nanti pejunya buat Rina juga ya , jangan disemprot semua kemulutnya Ghani ” Rina sambil narik perlahan rambut gue juga turut berharap dengan memandang nafsu kerah kontol gue yang udah abis dikemot Ghani .” Terus gue kebagian apa dong , gue mau juga dong ngerasain pejunya Mas Luki ” Ita protes ke Rina pura – pura belum minta jatah dari gue .

Enggak tahan gue tarik kontol gue yang enggak begitu gede dari mulutnya Ghani , gue dudukin si Rina kebangku ,

gue kangkangin pahanya yang juga seperti si Dian Nitami , penasaran gue sih mau liat dalemnya .

Gue jilat itilnya yang udah rada ngegelambir , gile cing juicenya asyik banget rasanya , banyak banget dan meleleh ke bagian lobang pantatnya . Tanggung gue jilat sekalian lobang pantatnya yang berwarna coklat , yang didalamnya masih juga bejembut .

Ghani bantuin ngisepin teteknya Rina , tangannya ikut bantu ngedorong kepala gue supaya makin masuk ngejilatin nonoknya Rina yang rapi tercukur jembutnya .

” Ah gila Ghaniaaaa…….Mas Luki enak banget ya jilatannya , aduh mama…..mama….aku ndak tahan nih ,…..Ghani elo apain sih pentil aku….enakkkkkk Can….” Rina meronta – ronta yang membuat toketnya bergelantungan kekiri dan kekanan , pemandangan semakin horny cing .

Eh kemana si imut Ita , doi kalem aja , pantat gue diangkat pelan sampai ketinggiannya sejajar kepala gue yang berada didaerah selangkangan Rina , doi duduk menyelinap melalui selangkangan gue sekarang jadi duduk menghadap kontol gue yang terayun bebas .

Cepat dan tangkas dia hisap kontol gue dengan mulutnya yang mungil , maju mundur berupaya menelan habis seluruh batang kontol gue . Sesekali dia pindah mengulum biji peler gue yang jembutnya lumayanlah , wuih cing asyik banget…….

Saking imutnya seprti kancil dia menyelinap melalu selangkangan bergerak menuju arah belakang , dia remas – remas pantat gue..

Gue kaget , tiba tiba ada rasa aneh geli – geli asyik dilobang pantat gue yang sedikit berjembut ,….ih apaan sih …

Anjir …..rupanya lidahnya Ita yang menari disekitar lubang pantat yang kadang – kadang dia coba julurin masuk .

Nah sekarang gue enggak heran kenapa Homo doyan dimonon , rupanya emang enak kalau bool kita dimasukan sesuatu .

“Ta…..terus Ta….entar gantian deh gue jilatin anus kamu yang merah jambu…..terus Ta…asyik…, enak gila…..” gue sejenak melupakan tugas ngejilatin nonoknya Rina .

” Mas Luki….Rina hampir nih….lagi dong jilatin….tanggung dikit lagi Mas…aduh tega ya….” Rina mengharap gue bertindak .

Langsung gue sosor lagi nonoknya , gue jilat abis lelehan juicenya yang mengarah kelobang pantatnya , gue jilat terus …menuju bolnya dan Rina makin menggeliat – geliat seperti ayam yang dipotong tanggung .

” Mas…..entotin aku dong , sebentar aja deh pasti keluar ” Rina mengangkat kepala gue sambil berharap benar .

Gua bertindak gentle dong , jangan buat dia kecewa , secara berlutut gue pegang batang kontol gue yang masih basah karena campuran ludahnya Ghani dan Ita . Ita sigap pindah tempat disisi kiri Rina , sementara si Ghani tetap pada posisinya dikanan Rina sambil terus meremas toket pepayanya Rina .

Kesemuanya kelihatan menanti apa yang akan terjadi , ” Ghani – Ita , gue ngentotin Rina duluan bukan berarti elo pada gue nomor duakan , gue janji deh elo semua satu persatu akan gue entotin juga ”

” Okay Mas , buat kita enggak ada masalah yang penting kita bener – bener ML ” Ghani memberi semangat .

Gue salut abis sama si Ghani , solidaritasnya tinggi , tidak egois , pantas dia jadi kepala gang .

” Ya Mas Luki , khan Mas Luki nantinya bisa ganti namanya jadi Mas Cipto ( Cicip roto ) ” si Ita ikut nimpalin .

Perlahan gue arahin kontol gue yang bentuknya agak mengarah kekiri kepalanya , enggak sulit masukin nonoknya Rina , tapi buat menghargai doi gue pura – pura merasa susah dong .

Blebessss……gile cing , emang bener ngentot tu enak banget .

Gue tolak pinggang pakai tangan kiri , kontol gue yang 15 cm maju – mundur terus , meliuk kiri kanan , berputar mencari itil dan G spotnya Rina ……….” Mas Luki ,……ya..ya…yang disitu yang marem Mas ” Rina bergetar , semua bagian bodynya yang enak – enak ada yang bertanggung jawab , nonok – toket kiri dan kanan , lobang pantat ada koordinator lapangannya ( KorLap )

” Enak ya kontolnya Mas Cipto ..eh Mas Luki ….,…terus Rin ..goyang terus Rin…nikmatin abis…jangan ditahan – tahan ” Ghani tetap memilin pentilnya Rina sambil matanya nafsu melihat kontol gue yang bekerja dimemeknya Rina .

” Ayo terus Mas Luki …bikin si Rina puas ,…sini dong tangannya yang satu ” Ghani bernasehat sambil minta jatah dirojer nonoknya . Kalau mau jujur seharusnya gue musti muasin Ghani duluan , disamping memang target utamanya khan dia tadinya ,

enggak pakai dua kali lagi gue masukin jari tengah gue kedalam nonoknya yang sudah semakin basah .

” Aghhhhhh….agh……. aku dapet Can…aku dapet Ta……, Mas….ini ya Mas rasanya enaknya ngentot ” Rina makin mengelinjang .

” Mas….nanti lagi ya….Massss…….asu….asu. ….peline kui lho Mas…, maremmmmmm”

hu…keliatan aslinya deh si Rina , keluar Jawanya . Gue tancep lebih dalam kontol gue , tanpa gerakan lagi gue pendam habis….dan emang bener enaknya Ce Solo ,

Tau enggak lo…tiba-tiba gue merasa ada sesuatu yang berputar – putar cepat dibagian kepala dan batang ..

” Aduh..aduh apaan nih Rin , aduh…gila asyik – asyik….” gue senyum sambil terus tancepin kontol gue .

” Nah , baru tau dia …makanya jangan main – main sama Ce Solo ” Rina nyubit perut gue sambil senyum lebar ngeledek .

Perlahan gue tarik keluar kontol gue yang masih ngaceng abis , keliatan makin berurat kayaknya .

” Waduh Ghani , enggak salah deh kita janjian sama Mas Luki ” kata Rina sambil balik meres toketnya Ghani dan Ita .

” Bener ya Rin , enak banget ya ngentotnya….ih kamu keringetan banget deh ” Ita melap keringat disekitar leher sampai perutnya Rina .

” Hayo ,sekarang siapa nih yang bertanggung jawab mengeluarkan peju gue ” dengan pura – pura marah gue liat kearah Ghani .

Soalnya seperti gue bilang , Ghani adalah target utama , jadi dia musti tau dong .

Elo ngebayangi enggak sih Ghani seperti siapa , tidak lain adalah paduan antara Iis Dahlia dan Cut Keke , nafsuin khan .

Certa Sex – Perlawanan yang Hebat..

Masuk menjadi mahasiswa /mahasiswi memang diinginkan dan apalagi impian itu menjadi kenyataan apalagi yang dari kampung mungkin hanya segelintir orang yang duduk di bangku perkuliahan, bukan karena apa mungkin karena dari segi ekonomi mereka.

Sangat beruntung bagi Abas bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan dengan biaya.

Apalagi kalau kuliahnya harus pulang pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya diceritakan di hadapan kedua orang tuanya.

Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya.

Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat Abas bertambah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung itu.

“Abas..” sapa ibunya ketika Abas sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini ada surat dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang mungkin penegasan dari ayah Abas untuk menyakinkan bahwa anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya.

Sebetulnya orang tua Abas sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Abas sangat jarang sekali bertemu maka orang tua Abas memberikan surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk sementara waktu.

Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil.

Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua Abas sebetulnya tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua Abas yang sering memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana.

Menurut ibu Abas, Oomnya telah berganti istri sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.

Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Abas dua tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada diatas limapuluh tahun.

Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas manusia, Abas langsung masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah. Belakangan diketahui namannya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.

“Selamat siang Pak,” Tegur Abas kepada salah satu satpam yang ada dua orang.

“Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu,” jawab satpam yang bernama Asep.

“Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?”

“Bapak Budiman yang mana Dik,” tegas satpam Asep, karena melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh tahunan.

“Anu Pak, apa ini PT. Rido,” tanya Abas menyusul keraguan satpam. Karena sebetulnya Abas juga belum pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi bisnis yang digelutinya.

“Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini,” tegas satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.

“Adik ini siapa,” tanya satpam kepada Abas, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.

“Saya Abas Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang.”

“Keponakan,” tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.

Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri Abas sambil memberikan selamat datang di kota Bandung. “Abas.. Apa masih ingat sama Bapak,” kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.

Mimik Abas jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.

“Maaf Pak, Abas Sudah lupa dengan Bapak,” kata Abas sambil terus mengigat-ingat.

Pak Dadi terus menerangkan dirinya, “Saya yang dulu sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Abas berumur kurang lebih lima tahun.”

Abas jadi bingung, “Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun.”

Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman.

Kadangkala anak Om Budiman sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang lebih baru berumur 35 tahun.

“Aduh Dik Abas, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Abas karena harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Abas.

Nah, sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu,” sambung Pak Dadi melihat ekpresi Abas yang sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal. Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar,

“Jangan takut Dik Abas pokoknya kamu tidak akan ada masalah,” tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu semunya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa dibidang apapun.

Mendengar itu Abas menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok mini.

Keberadaan Abas sebagai keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah lagi dengan postur badan Abas yang atletis dan wajah yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati Abas dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.

Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Abas dan ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk perusahaan, dan semua itu membuat Abas menjadi betah sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.

Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan merek Mesri terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat mengah dan dijaga oleh satpam.

Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi dan Istrinya.

Sedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman.

Ketika mobil telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang dibawa Abas. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.

Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi meninggalkan Abas, sedangkan Abas ditemani oleh Bi Enung menuju ruang tengah.

Setelah Tante Rani datang sambil tersenyum menyapa Abas, Bi Enung pun meninggalkan Abas sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum untuk Abas.

“Tante sudah menunggu dari tadi Abas,” bisiknya sambil menggenggam tangan Abas tanda mengucapkan selamat datang.

“Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa”, lanjut Tante Rani yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh perhatian.

“Tante sudah tahu bahwa Abas akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk.”

Obrolan pun mengalir dengan punuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante Rani dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan Abas. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Abas membuat Abas salah tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik CD-nya.

Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala Abas pusing tujuh keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.

“Nah, itu Siska,” kata Tante Rani sambil membawa Abas ke ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah.

Sambil tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Abas kepada Siska. Mendapat teman baru dalam rumah itu Siska langsung bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan sendiri.

“Nanti Kak Abas tidurnya sama Siska ya Kak.” Mendapat pertanyaan itu Abas dibuatnya kaget juga karena yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan Abas. Adik kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat cantik.

Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Siska yang meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, Abas hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur badannya padahal dalam pikiran Abas, ia sudah menaruh hati pada Siska yang mempunyai wajah yang cantik dam putih bersih itu.

Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante Rani, Abas masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar Siska. Memang di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan Abas memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar Siska berhadapan dengan kamar Abas.

Setelah membuka baju yang penuh keringat, Abas melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang bermana Astri.

Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikeruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.

Hari-hari selanjutnya Abas semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena selain Tante Rani Yang ramah dan seksi, juga kelakuaan Siska yang menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kemaluan Abas berdiri.

Abas semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung yang bernama BIP. Tante Rani dengan mesranya menggandeng Abas, tapi Abas tidak risih karena kebiasaan itu sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang.

Tapi yang membuat kaget Abas ketika di dalam mobil, Tante Rani mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu Abas kaget setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta dengannya.

Abas tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering menghanyalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan Tante Rani.

Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante Rani dengan berani tiduran di atas paha Abas sambil terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Abas yang mengetahuinya.

Sambil bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya merosot ke bawah. Abas dengan jelas dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante Rani yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu.

Abas menelah ludah sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika Abas akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah meminta Abas untuk terus merabanya.

Abas menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju rumahnya sambil berkata, “Aku tidak mungkin bisa melakukan itu Tante,” Tante Rani hanya berkata, “Abas, Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, masa Abas tidak kasihan sama Tante.”

Tangan Tante Rani dengan berani membuka baju bagian atas dan memperlihatkan buah dadanya yang besar. Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap.

Melihat Abas yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante Rani memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Abas jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.

Kedekatan Abas dengan Siska semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit Siska selalu meminta bantuan Abas. Pada saat itu Siska mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Abas.

Pada saat itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Rani yang menolak melakukan itu. Abas keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.

Dengan jelas Siska melihat batang kemaluan Abas yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, Siska membalikkan badannya. Abas hanya tersenyum sambil berkata, “Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu,” goda Abas sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.

Abas bergerak mendekati Siska dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil.

“Ahh, geli Kak Abas.. Kak Abas sudah pake celana yah,” tanya Siska.

“Belum,” jawab Abas menggoda Siska.

“Ahh, cepet dong pake celananya. Siska mau minta tolong Kak Abas mengerjakan PR,” rengek Siska sambil tangan kirinya meraba belakang Abas.

Melihat rabaan itu, Abas segaja memberikan batang kemaluannya untuk diraba. Siska hanya meraba-raba sambil berkata, “Ini apa Kak, kok kenyal.” Mendapat rabaan itu batang kemaluan Abas semakin menengang dan dalam pikirannya kalau dengan Siska aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tenteku digarap olehku.

Rabaan Siska berhenti ketika batang kemaluan Abas sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya. Abas kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kemaluannya yang sudah menegang.

Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluan Abas kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Siska membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat Abas sudah memakai celana pendek. “Nah, gitu dong pake celana,” kata Siska sambil mencubit dada Abas yang menempel di susu kecil Siska. “Udah dong meluknya,” rintih Siska sambil memberikan buku Matematikanya.

Saling memeluk antara Abas dan Siska sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketika Abas merasakan kenikmatan dalam memeluk Siska, Siska tidak merasakan apa-apa mungkin karena Siska masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor.

Abas langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi Abas segaja memilih itu karena Siska sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kemaluan Abas terasa hangat dibuatnya.

Dan memang seperti dugaan Abas, Siska tiduran di dada Abas. Pada saat itu Siska menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas. Siska tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Abas.

Sambil mengerjakan PR, pikiran Abas melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Siska bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada Siska. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh Abas dan Siska.

PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Siska terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Siska yang kecil. Pikiran Abas meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat.

Ketegangan Abas semakin menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul Siska yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi Abas menerangkan tersebut ada di bawah Siska dan pinggul Siska sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.

Gerakan badan Siska yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafas Abas naik turun.

Siska tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kemaluan Abas, malah Siska semakin terus bermanja-manja dengan Abas yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran Abas semakin kalang kabut ketika Siska mengerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya semakin berdiri menegang.

Dengan pura-pura tidak sadar Abas meraba gundukan kemaluan Siska yang terbungkus oleh CD putih. Bukit kemaluan Siska yang hangat membuat Abas semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.

“Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah.”

Abas membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Siska tepat menempel di batang kemaluan Abas. Dalam keadaan itu Siska hanya mendekap Abas sambil terus berkata, “Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya.”

“Boleh, tapi ada syaratnya,” kata Abas sambil terus merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Siska yang masih terbungkus CD warna Putih. Pantat Siska terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat Abas semakin panas dingin dibuatnya.

Siska hanya bertanya apa syaratnya kata Siska sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya Abas. Dalam posisi seperti itu batang kemaluan Abas yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kemaluan Siska yang terasa hangat.

Abas tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut Siska. Siska hanya diam dan terus menghidar ciuman itu. “Kaak.. apa dong syaratnya”, kata Siska manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Abas.

Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang Siska tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun. “Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya.”

Mendengar itu Siska hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus pus-up 1000 kali. Konsenterasi Abas dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan Siska yang sering terlepas karena Siska yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya. Siska terus mendekap badan Abas sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha Abas.

Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Abas menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kemaluan Siska. Abas semakin tidak tahan dengan kedaan itu dan langsung meraba-raba pantat Siska. Ketika Abas akan meraba payudara Siska. Siska bangkit dan terus melihat ke wajah Abas, sambil berkata, “PR-nya sudah Kaak.. Abas,” sambil Menguap.

Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Abas, Siska langsung memeluk Abas erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Abas begitu saja, Abas langsung memeluk Siska berguling-guling sehingga Siska sekarang berada di bawah Abas.

Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu Siska berkata, “Masa Kakak meluk Siska nggak bosan-bosan.” Berbagai alasan Abas lontarkan agar Siska tetap mau di peluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kemaluan Abas bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar, dan pada saat itu Siska berhasil lepas dari pelukan Abas sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.

“Aduh, Gila si Siska masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan,” guman Abas dalam hati sambil terus memengang batang kemaluannya. Abas berusaha menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu tegang.

“Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan Siska cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang.”

Abas memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya. Itulah pola pikir Abas yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa Siska.

Ketegangan batang kemaluan Abas terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan Abas keluar kamar sambil membakar sebatang rokok.

Ternyata Tante Rani masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri. Tante Rani yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu.

Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya. Keadaan itu terlihat karena Tante Rani duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan.

Ketenganan Abas semakin memuncak melihat keidahan tubuh Tante Rani yang sangat seksi dan mulus itu.

“Kamu kenapa belum tidur Ari,” kata Tante Rani sambil menuangkan segelas air susu untuk Abas.

“Anu Tante, tidak bisa tidur,” balas Abas dengan gugup.

Memang Tante Rani yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan Abas, ia tidak peduli dengan keberaan Ari malah ia segaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan Abas yang sudah sangat terangsang.

“Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Abas.”

“Tidak apa-apa Tante, Abas mengerti tentang hal itu,” jawab Abas sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah diluar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan Siska yang membuat batang kemaluannya semakin menegang tidak tentu arah.

“Oom ke mana Tante, kok tidak kelihatan,” tanya Abas mengisi perbincangan.

“Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru,” jawab Tante Rani.

Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante Rani, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya.

Abas dan Tante Rani duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Abas, Tante Rani membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kemaluannya.

Mata Abas melongo tidak percaya. Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Rani, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante Rani tidak menggunakan celana dalam.

Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Rani terus menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa ada yang gatal.

Melihat itu Abas semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya yang semakin menegang.

“Kamu kenapa Abas,” tanya Tante Rani yang melihat wajah Abas keluar keringat dingin.

“Nggak Tante, Abas cuma mungkin capek,” balas Abas sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante Rani.

Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante Rani segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kemaluannya yang merekah. Melihat Abas semakin menegang, Tante Rani tersenyum dan mempersilakan Abas untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.

Ketegangan Abas semakin memuncak dan Abas tidak berani kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu. “Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar.”

Melihat Abas yang sangat tegang itu Tante Rani hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.

Sebelum sampai ke paviliun belakang Abas jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu.

Tidak segaja ia mendegar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. Abas terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. Abas mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah Abas dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.

Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Abas melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan.

Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki Abas.

Astri terus mengulum batang kemaluan Pak Dadi. Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah merosot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak Dadi semakin mesra di kulum oleh Astri.

Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya.

Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri. Astri yang masih melekat di bandan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi.

Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur.

Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya.

Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Abas semakin Panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante Rani memainkan kemaluan Abas yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.

“Tante, kapan Tante datang”, suara Abas perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Rani terus menggandeng Abas menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kemaluan Abas yang sudah menegang sejak tadi.

Sesampainya di ruang tengah, Abas duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Rani, sementara Tante Rani tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Abas dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kemaluan Abas yang sudah menegang.

“Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu.

Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah.” Tante Rani memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada diantara kedua selangkangan Abas terus digesek-gesek ke batang kemaluan Abas.

“Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau,” goda Tante Rani, “Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi,” nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kemaluan Abas.

Abas semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar batas kemanusiaan. “Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu.” Mendengar elakan Abas, Tante Rani malah tersenyum, “Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya.”

Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu Oomku. Gerakan kepala Tante Rani semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kemaluan Tante Rani terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kemaluan gadis seumur Siska.

Abas sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Rani. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya.

Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kemaluan Abas terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Rani membalikkan badan dan sekarang Tante Rani telungkup di atas sofa dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.

Tangan Tante Rani terus memainkan batang kemaluan Abas dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. “Aduh punya kamu ternyata besar juga,” bisik Tante Rani mesra sambil terus memainkan batang kejantanan Abas dengan kedua tangannya.

“Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apa pun Riee,” bisik Tante Rani dengan nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Abas semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.

Mulut Tante Rani yang merekah telah mengulum batang kemaluan Abas dengan liarnya dan terlihat badan Tante Rani seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt. “Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini.. ayo dong gerakin tanganmu.”

Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Abas semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kemaluan Ari menegang. Abas mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang.

Mendapakan perlakuan seperti itu, Tante Rani terus semakin menggila dan terus mengulum kepuyaan Abas dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante Rani yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kemaluan Abas. Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya Abas memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi Abas dan tantenya seperti huruf T.

Tangan Abas semakin berani mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu.

“Ahkk, nikmat..” Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia merasakan akan orgasme. “Abas.. Tante sudah tidak tahan lagi nich..” diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Abas sehingga Abas dibuatnya tidak berdaya.

“Aduh. aduh.. Tante nikmat sekalii..” erang tantenya semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Rani merintih sambil mengerang.

“Aduuh Riee.. terus tekan-tekan pantat Tante..” desah Tante Rani sambil terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu. Abas meraba kemaluan tantenya, ternyata kemaluan Tante Rani sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya. “Abase.. nah itu terus Riee.. terus..” erang Tante Rani sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kemaluan Abas.

“Kamu kok kuat sekali Riee,” bisik tante rRni dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kemaluan Abas. Tante Rani setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat Abas keluar sperma.

Abas berguman, “Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras.”

Melihat batang kemaluan Abas yang masih tegak Tante Rani semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju Abas yang masih melekat di badannya. “Buka yaa Sayang bajunya,” pinta Tante Rani sambil membuka baju Abas perlahan namun pasti. Setelah baju Abas terbuka, Tante Rani membuka juga celana pendek Abas agar posisinya tidak terganggu.

Lalu Tante Rani membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan Abas. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat terampil dalam memainkan batang kemaluan laki-laki.

Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kemaluan Abas sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kemaluan Abas dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah.

Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante Rani menggesek-gesek payudaranya di belahan batang kemaluan Abas. Dengan keadaan itu Abas mengerang kuat sambil berkata, “Aduh Tante.. terus Tante..” Mendengar erangan Abas, Tante Rani tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya. Melihat Abas yang akan keluar, Tante Rani dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kemaluan dengan sangat liar.

Sehingga warna batang kemaluan Abas menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur. Abas menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata, “Terus Tante.. terus Tante..”, Dan Abas pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante Rani yang merekah.

Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Rani kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kemaluan Abas yang membuat Abas meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.

Melihat itu Tante Rani semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kemaluan Abas sampai keluar bunyi slurp.., slurp.., akibat sedotannya. Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan Abas, lalu Tante Rani kembali mengulum batang kejantanan Abas dengan mulutnya yang seksi.

Melihat batang kemaluan Abas yang masih memberikan perlawanan, Tante Rani bangkit sambil berkata, “Gila kamu Riee.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih menantangnya.”

Mendengar tantangan itu, Abas hanya tersenyum saja dan terlihat Tante Rani mendekat ke hadapan Abas sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kemaluan Abas. Sebelum memasukkan batang kemaluan Abas ke liang kewanitaannya, Tante Rani terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan Abas pun membalasnya dengan hangat.

Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante Rani semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kemaluan Abas sekarang tergeser ke belangkang sehingga batang kemaluan Abas tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.

Mendapat perlakuan itu Abas mengerang kenikmatan. “Aduuh Tante..” sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama.

“Clepp..” suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Rani mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Abas bergetar.

Mata Tante Rani dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Rani telah berhasil menelan semua batang kemaluan Abas. Tante Rani pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.

“Abase..” rintihan Tante Rani semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan Abas. Tante Rani diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kemaluan Abas yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.

“Riee, Tante sudah tidak kuat lagi.. Sayang..” desah Tante Rani sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan.

Mendapatkan permainan itu Abas mendesir, “Aduh Tante.. terus Tante..” mendengar itu Tante Rani terus menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Abas dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kemaluan Abas dengan liang senggama Tante Rani. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kemaluan Abas jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman.

Goyangan pantatnya semakin liar dan Abas mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante Rani dengan paha Abas menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan, “Prut.. prat.. pret..” Tangan Abas merangkul tantenya dengan erat. Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante Rani mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kemaluan Abas.

Tante Rani mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante Rani berkata di dekat telingan Abas. “Abase..” suara Tante Rani bergetar, “Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaah”. “Iya Tante..” jawab Abas.

Selang beberapa menit Abas merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui, “Kamu mau keluar yaa.” Abas merangkul Tante Rani dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante Rani rangkulanya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kemaluan Abas.

Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara Abas keluar dengan keras, “Tantee.. Tantee..” dan begitu juga Tante Rani mengerang keras, “Riee..”. Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kemaluan Abas masuk ke dalam liang senggama Tante Rani.

Akhirnya Abas dan Tante Rani diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante Rani. Masih dalam posisi Tante Rani duduk di pangkuan Abas. Tante Rani tersenyum, “Kamu hebat Abas seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan.”

“Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa..” goda Tante Rani. Abas hanya tersenyum di goda begitu. Tante Rani lalu mencium kening Abas. Kurang lebih Lima menit batang kemaluan Abas yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante Rani, lalu Tante Rani bangkit sambil melihat batang kemaluan Abas.

Melihat batang kemaluan Abas yang mengecil, Tante Rani tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kemaluan Abas tidak berdiri lagi. Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante Rani meraba-raba batang kemaluan Abas dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kemaluan Abas tidak mau berdiri lagi.

“Aduh untung batang kemaluanmu Riee.. tidak hidup lagi,” bisik Tante Rani mesra sambil berdiri di hadapan Abas, “Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Riee” lanjutnya sambil tersenyum dan Duduk di sebelah Abas. Sesudah Tante Rani dan Abas berpanutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.

Pagi-pagi sekali Abas bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya Abas jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu Abas tidak ada kuliah.

Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan diwaktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.

Lalu Abas pun berjalan menuju kolam, tidak dibanyangkan sebelumnya ternyata Tante Rani ada di kolam sedang berenang. Tante Rani mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Abas.

Tante Rani mengajaknya berenang. Abas hanya tersenyum dan berkata, “Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya.” Mendapat jawaban itu, Tante Rani hanya tersenyum, soalnya Tante Rani mengetahui Abas tidak menggunakan celana renang.

“Sudahlah pakai celana dalam aja,” pinta Tante Rani. Tantenya yang terus meminta Abas untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru.

Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kemaluan Abas yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh Abas sambil mendekati Tante Rani, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah Abas.

Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Rani menjadi kejaran Abas yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Rani dapat juga tertangkap. Abas langsung memeluknya erat-erat, pelukan Abas membuat Tante Rani tidak dapat lagi menghindar.

“Udah akh Abas.. Tante capek,” seru mesra Tante Rani sambil membalikkan badannya. Abas dan Tante Rani masih berada di dalam genangan kolam renang. “Kamu tidak kuliah Riee,” tanya Tante Rani. “Tidak,” jawab Abas pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Rani.

Terkena rabaan itu Tante Rani malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Abas. Mendapatkan perlakuan itu Abas menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga. “Sudah ah.. Tante sekarang mau ke kantor dulu,” kata Tante Rani sambil sedikit menjauh dari Abas.

Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Rani tertawa geli melihat Abas yang celana dalamnya telah merosot di antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang sudah bangkit dari tidurnya.

“Kamu tidak sadar Abas, celana dalammu sudah ada di bawah lutut..” Mendengar itu Abas langsung mendekati Tante Rani sambil mendekapnya. Tante Rani hanya tersenyum. “Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi,” kata Tante Rani sambil meraba batang kemaluan Abas yang sudah menegang kembali.

Mendengar itu Abas hanya melongo kaget. “Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja,” kata Abas sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante Rani yang berwarna merah. Mendapat perlakuan itu Tante Rani hanya diam dan ia terus mencium Abas sambiil berkata, “Iyaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat.”

Tante Rani membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul Abas. Batang kemaluan Abas langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Rani yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak Abas.

Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante Rani telah melahap semua batang kemaluan Abas dan dirasakannya batang kemaluan Abas sudah menegang. Tante Rani menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong Abas sambil pergi dan terseyum manis meninggalkan Abas yang tampak kebingungan dengan batang kemaluannya yang sedang menegang.

Mendapat perlakuan itu Abas menjadi tambah bernafsu kepada Tante Rani, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu Abas langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya.

Setelah di kamar, Abas langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya.

Dan langsung Abas teringat akan keberadaan kamar Siska. Abas lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. “Siska.. Siska.. Siska..” teriak Abas sambil mengetuk pintu kamar Siska. “Masuk Kak Abase, tidak dikunci.” balas Siska dari dalam kamar.

Didapatinya ternyata Siska masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Abas dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.

“Ada apa Kak Abas,” kata Siska sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan Abas.

“Anu Siska.. Kakak mau ikut mandi karena kamar mandi Abas airnya tidak keluar.” Memang Siska melihat dengan jelas bahwa badan Abas dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Siska bukannya badan tapi Siska memperhatikan diantara selangkangannya yang kelihatan mencuat.

Iseng-iseng Siska menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat Abas yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan Abas pun langsung memperlihatkannya sambil memengang batang kemaluannya, “Ini namanya penis.. Sayang,” kata Abas yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Siska menutup wajahnya dengan selimut.

Melihat batang kemaluan Abas yang sedang menegang itu Siska membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuh Siska yang membayangkan batang kemaluan Abas dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata Siska terus memandang Abas yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kemaluannya.

Akhirnya karena Siska sudah dipuncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya .Dengan beraninya Siska pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Abas. Melihat kedatangan Siska ke kamar mandi, Abas hanya tersenyum. “Kamu juga mau mandi Yun,” kata Abas sambil mencubit pinggang Siska.

Siska yang sudah dipuncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kemaluan Abas yang masih mengeras. “Kak boleh nggak Siska mengelus-elus barang itu,” bisik Siska sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar permintaan itu Abas langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya.

Dalam pikiran Abas, Siska sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi Abas langsung mendekatkan batang kemaluannya ke tangan Siska dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan Siska yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat Abas kesakitan.

“Aduh.. jangan keras-keras dong Siska, nanti batang kemaluannya patah.” Mendengar itu Siska menjadi sedikit kaget lalu Ari membatunya untuk memainkan batang kemaluannya dengan lembut. Tangan Siska dituntunnya untuk meraba batang kemaluan Abas dengan halus lalu batang kemaluan Abas didekatkan ke wajah Siska agar mengulumnya.

Siska hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu Abas memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice crem, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut Siska langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Abas lalu Siska memasukkan semua batang kemaluan Abas ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Siska terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.

Setelah sedikit tenang, Siska mengulum lagi batang kemaluan Abas tanpa diperintah sambil pinggul Siska bergoyang menyentuh kaki Abas. Melihat kejadian itu Abas akhirnya menghentikan kuluman Siska dan langsung mengangkat Siska dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat Siska dipeluk oleh Abas dan Siska pun membalas pelukan Abas.

Bibir Siska yang polos tanpa liptik dicium Abas dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu Siska untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh Abas. Bila Abas menjulurkan lidahnya maka Siska pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Abas. Dengan permainan itu Siska sangat menikmatinya apalagi Abas yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman.

Kecupan Siska kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas. “Pek.. pek..” suara bibir Siska mengeluarkan suara yang membuat Abas semakin terangsang. Mendengar suara itu Abas tersenyum sambil terus memagutnya. Tangan Abas dengan terampil telah membuka daster putih yang dipakai Siska.

Dengan gerakan yang sangat halus, Abas menuntun Siska agar duduk di pinggir ranjang dan Siska pun mengetahui keinginan Abas itu. Bibir Siska yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut Abas dengan posisi Siska tertindih oleh Abas. Tangan Siska terus merangkul Abas sambil bukit kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.

Lalu Abas membalikkan tubuh Siska sehingga kini Siska berada di atas tubuh Abas, dengan perlahan tangan Abas membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Siska. Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Siska, Abas pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Siska dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya.

Erangan panjang keluar dari mulut Siska. “Auu..” sambil mendekap Abas keras-keras. Melihat itu Abas semakin bersemangat. Setelah Abas berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan Siska, terlihat Siska sedikit tenang iapun kembali membalikkan Siska sehingga ia sekarang berada di atas tubuh Siska.

Abas menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kemaluan Siska yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Siska yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil.

Kaki Siska direnggangkan oleh Abas. Pagutan Abas beganti pada bibir kecil kepunyaan Siska. Pantat Siska terangkat dengan sendirinya ketika bibir Abas mengulum bukit kemaluan kecilnya yang telah basah oleh cairan.

Harum bukit kemaluan perawan membuat batang kemaluan Abas semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Abas kasihan melihat Siska karena kemaluannya belum juga merekah. Jilatan bibir Abas yang mengenai klitoris Siska membuat Siska menjepit wajah Abas. Semburan panas keluar dari bibir bukit kemaluan Siska. Siska hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkanya.

Lalu Abas merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah telalu lama menengang. Abas menarik tubuh Siska agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki Siska menyentuh lantai dan Abas berdiri diantara kedua paha Siska.

Melihat kondisi tubuh Siska yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan Siska yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat Abas menahan nafas.

Abas berdiri, dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit kemaluan Siska. Melihat itu Siska sedikit kaget dan merasa takut Siska menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat gejala itu Abas hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha Siska sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluan Siska.

Sambil menggesek-gesek batang kemaluan, Abas kembali mendekap Siska sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat Abas yang membuka tangannya, Siska langsung merangkulnya dan mencium bibir Abas.

Pagutan pun kembali terjadi, bibir Siska dengan lahapnya terus memagut bibir Abas. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Siska. “Aduhh.. Kaak..” erang Siska sambil merangkul tubuh Abas dengan keras. Abas meraba-raba bukit kemaluan Siska dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang kemaluan Siska, Abas mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan Abas masuk ke liang senggama Siska. Siska mengerang kesakitan, “Kak.. aduh sakit, Kak..”

Mendengar rintihan itu, Abas membiarkan kepala kemaluannya ada di dalam liang senggama Siska dan Abas terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Siska dan Abas pun berjalan lagi. Dada Abas yang besar terus digesek-gesekkan ke payudara Siska yang sudah mengeras.

Siska yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat.

Kepala kemaluan Abas yang besar baru masuk ke liang kewanitaan Siska, tapi jepitan liang kemaluan Siska begitu keras dirasakan oleh batang kemaluan Abas. Sambil mencium telinga kiri Siska, Abas kembali berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Siska.

“Aduh.. aduh.. aduh.. Kak,” Mendengar rintihan itu Abas berkata kepada Siska. “Kamu sakit Siska,” bisik Abas di telinga Siska. “Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat..”

Mendengar penjelasan itu, Abas terus memasukkan batang kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah masuk semua ke dalam liang senggama Siska. Batang kemaluan Abas sudah masuk ke liang senggama Siska hampir setengahnya.

Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang kemaluan Siska, kaki Siska semakin diangkat dan tertumpang di punggung Abas. Tiba-tiba tubuh Siska bergetar sambil merangkul Abas dengan kuat. “Aduhh..” dan cairan hangat keluar dari bibir kemaluan Siska, Abas dapat merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang tertancap di bukit kemaluan Siska. Lipatan paha Siska telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua.

Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Abas lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Siska. Dengan satu kali hentakan. “Preet..” Siska melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan Abas.

“Auh.. auh.. auh..” suara itu keluar dari mulut kecil Siska setelah seluruh batang kejantanan Abas berada di dalam lembah kenikmatan Siska. “Kak, Badan Siska sesak, sulit bernafas,” kata Siska sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya.

Mendengar itu lalu Abas membalikkan tubuh Siska agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan posisi itu Siska seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh Abas sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya.

Siska dan Abas terdiam kurang lebih lima menit. “Siska, sekarang bagaimana badanmu,” kata Abas yang melihat Siska sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan. “Udah agak enakan Kak,” balas Siska sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan serangan itu Abas langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Abas dari atas ke bawah.

Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan Siska dan Abas. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut Siska tetap mengaduh, “Aduhh..” Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya.

Tanpa disadari sebelumnya oleh Abas. Siska dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat Abas kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kemaluan Siska yang semakin menjepit seperti tang yang sedang mencepit paku agar paku itu putus.

Beberapa menit kemudian Abas memeluk badan Siska dengan eratnya dan batang kemaluannya berusaha ditekan ke atas membuat pantat Siska terangkat. Semburan panas pun masuk ke bukit kemaluan Siska yang kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang, Siska mendesis kenikmatan sambil mengeram, “Aduhh.. aduh.. Kak..”

Selang beberapa menit Abas diam sambil memeluk Siska yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah badannya merasa sudah agak baik, Abas membalikkan tubuh Siska sehingga sekarang tubuh Siska berada di bawah Abas.

Batang kemaluan Abas masih menancap keras di lembah kemaluan Siska meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki Siska diangkat oleh Abas dan disilangkan di pinggul. Abas mengeluarkan batang kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Siska.

Mendapat hal itu mata Siska tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke dalam liang senggama Siska, turun naik batang kemaluan Abas di dalam liang perawan Siska membuat Siska beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia.

Tarikan bukit kemaluan Siska yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya Abas mengerang-erang sambil memeluk tubuh Siska dan Siska pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya.

Abas mendekap Siska sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Abas dan Siska pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Abas memeluk Siska tanpa adanya gerakan begitu juga Siska hanya memeluk Abas.

Dirasakan oleh Abas bahwa batang kemaluannya mengecil di dalam liang kemaluan Siska dan setelah merasa batang kemaluannya betul-betul mengecil Abas menjatuhkan tubuhnya di samping Siska. Abas mencium kening Siska. Siska membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Abas bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki Siska.

Mendengar itu Abas hanya tersenyum karena memang selama ini Abas mendambakan istri seperti Siska ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan Siska maka ia akan mendapatkan segalanya. Abas mengucapkan selamat bobo kepada Siska yang langsung tertidur kecapaian dan Abas langsung keluar dari kamar Siska setelah Abas menggunakan pakaiannya kembali.

Abas masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante Rani dibuat kaget karena Abas langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya. “Tante sudah pulang,” tanya Abas.

Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya. Lalu Abas membuka kulkas untuk mencari air putih. “Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang,” jawab Tante Rani sambil tersenyum.

“Bagaimana sekarang Abas burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya..” Mendapat ejekan itu, Abas langsung kaget.

“Ah Tante, mau cari sangkar di mana,” jawab Abas mengelak. “Abas kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama Siska dan Tante.”

Mendengar itu, Abas langsung diam dan ia akan menikahi Siska seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante Rani tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada Abas sambil meraba batang kemaluan Abas yang sudah tidak kuat untuk berdiri.

Melihat batang kemaluan Abas yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante Rani tersenyum. “Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa.. Buktinya burung kamu tidak mau berdiri,” goda Tante Rani. “Ahh nggak Tante, biasa saja kok.”

Tante Rani meninggalkan Abas, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Siska dengan Abas dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena Siska masih dibawah umur.

Certa Sex – Senggama di kasur Pasien..

Pengalaman di waktu aku masih remaja, umurku saat itu baru 15 tahun , sering banget aku sakit sakitan sampai suatu hari aku dilarikan ke rumah sakit dan di rawat inap di slah satu RS di kota Surabaya, sakitku belum diketahui karena tiba tiba tanganku pada bengkak, dan kalau lari lari aku sering sesak napas, kemudian ibuku menyuruh bapak untuk dilarikan ke spesialis dalam.

Si dokter malam itu juga meminta saya dirawat inap di rumah sakit. Nah, dari rumah sakit itulah, saya mengalami pengalaman seks terhebat yang akan saya kenang seumur hidup saya.

Karena minum obat yang diberikan dokter, malam pertama saya menginap di rumah sakit, saya tidak bisa tidur. Saya maunya kencing terus. Sebuah botol besar telah disiapkan untuk menampung air urine saya.

Otomatis, penis saya harus dimasukkan ke botol itu. Oleh dokter, saya tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur. Jadi sambil tiduran, saya tinggal memasukkan penis ke dalam botol yang sudah ada di samping ranjang.

Ada satu perawat yang rupanya begitu telaten menjaga dan merawat saya malam itu. Seharusnya ia tidak boleh memperhatikan saya membuang urine di botol. Tetapi tatkala saya membuka piyama dan celana dalam saya, dan mengarahkan penis ke mulut botol, eh si perawat yang belakangan kuketahui bernama Aning D**** (edited) malah membantu memegang penis saya.

Dengan pelan dan lembut tangan kirinya memegang penis kecil saya yang masih kecil, sedangkan tangan kanannya ikut memegang botol itu. Setelah urine saya keluar, ia membersihkan penis saya dengan tissue. Sambil terus membersihkannya, ia memperhatikanku dengan senyuman aneh.
“Dik… kamu tahu bendamu ini bisa membuat kamu melayang-layang?” tanyanya tiba-tiba.

“Maksud Mbak?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Aku sudah tahu apa maksudnya. Wong, aku sudah pernah nonton video BF seminggu yang lalu.
“Iya… kalo si kecil ini dipegang, dikocok-kocok oleh tangan halus seorang wanita kemudian dihisap dan dikulum olehnya, pasti deh kamu akan merasakan keenakan yang luar biasa.. lebih dari yang lain yang ada di dunia ini…” jawab Mbak Aning lagi.

“Masa sih, Mbak? Pengen coba nih.. bisa nggak Mbak melakukannya buat saya?” tanyaku hati-hati dengan perasaan campur baur. Berani juga nih cewek.

“Kamu benar-benar mau?” tanyanya penuh semangat.

Tanpa menunggu jawabanku lagi, ia menaruh tissue itu lalu memegang kejantananku dan pelan-pelan mulai mengocok-ngocoknya. Wah… memang benar enak kocokannya. Pelan tapi pasti. Beberapa menit kemudian ia jongkok di samping tempat tidur. Mulutnya dibuka lalu batang kejantananku dimasukkan ke dalamnya. Mula-mula dihisapnya, dikulum lalu dijilat-jilatnya kepala kejantananku.

Untuk pertama kalinya dalam masa remajaku, aku merasakan sesuatu yang amat sangat nikmat! Entah apa namanya.. surga dunia kali ya? Tanpa disangka-sangka Mbak Aning memegang tangan kananku lalu menuntunnya masuk ke balik seragamnya.

Ya.. itu dia!! Gunung kembarnya begitu kenyal dan besar kurasakan. Tanpa disuruh lagi aku pun meremas-remas, meraba-raba ’susu’ ajaibnya itu. Sementara itu ia terus saja mengulum dan mengisap kejantananku dengan penuh nafsu.

Beberapa menit kemudian aku mulai merasa akan ada sesuatu yang akan keluar dari tubuhku yang masih lemah karena sakit. “Crot..! crot…! crot…!” Sesuatu berwarna putih kekuning-kuningan dan agak kental keluar dari batang kejantananku dan tanpa ampun lagi langsung menyemprot masuk ke mulut Mbak Aning. Setelah sembilan kali semprot, ia menjilati kejantananku dengan mimik muka penuh kepuasan.

“Gimana Dik…? Puas nggak?…” tanyanya sambil tersenyum. Terlihat bekas cairan kental itu di mulut dan bibirnya.

“Wah nikmat ya Mbak… Boleh dong aku minta lagi…?” jawabku penuh harap.

“Boleh dong… tapi jangan sekarang ya… kamu harus istirahat dulu… besok pagi kamu pasti akan merasa lebih puas lagi… Mbak janji deh…” ujarnya dengan mimik seperti menyembunyikan sesuatu.

Aku pun mengangguk. Mungkin karena kelelahan setelah di ‘karaoke’ oleh gadis perawat yang cantik dan sexy, aku pun tertidur malam itu. Tapi tengah malam, sekitar pukul dua dini hari, aku merasa ’senjata’ andalanku kembali diobok-obok dan kini yang mengoboknya bukan hanya Mbak Aning tetapi seorang perawat lain juga.

Namanya belakangan kuketahui adalah Maya. Gadis ini juga tak kalah cantik bahkan buah dadanya itu benar-benar menggelembung di balik seragam putihnya. Lebih besar dari punya Mbak Aning dan juga pasti lebih kenyal!

Mereka terus saja menjilati, mengulum dan menghisap-hisap batanganku. Yang seorang di sebelah kananku dan yang seorang lagi di sebelah kiriku. Tanganku yang kiri meremas-remas susu Maya sedang tangan yang kanan meremas susunya Aning.

Setelah sepuluh menit, batang kejantananku mulai mengeras dan siap untuk ditusukkan. Maya kemudian naik ke atas ranjang dan menyingkapkan roknya. Duh.. rupanya ia sudah tidak mengenakan celana dalam.

Ia kemudian duduk di atas kepalaku. Dengan sengaja ia mengarahkan liang kewanitaannya ke wajahku. Aku tiba-tiba teringat dengan film porno yang pernah kutonton seminggu yang lalu. Ya… aku harus menjilatnya terutama di bagian kecil dan merah itu… ya apa ya namanya? Klitoris ya? nah itu dia! Tanpa disuruh dua kali aku langsung mengarahkan lidahku ke bagiannya itu.

“Slep… slep… slep…” terdengar bunyi lidahku saat bersentuhan dengan klitoris Maya. Dan Aning? Rupanya ia sudah membuka seluruh pakaian seragamnya lalu menduduki batanganku yang sudah sangat mengeras dan berdiri dengan gagahnya.

Dengan tangan kirinya ia meraih batang kejantananku itu lalu dengan pelan ia mengarahkan senjataku itu ke liang senggamanya.

“Bles… jleb… bles…” batang kejantananku sudah masuk separuh, ia terus saja bergoyang ke bawah ke atas. Buah dadanya yang montok bergoyang-goyang dengan indahnya, kedua tangannya memegang sisi ranjang.

Wah… dikeroyok begini sih siapa yang nggak mau, bisa main dua ronde nih. Setelah beberapa menit, kami berganti posisi. Maya kusuruh tidur dengan posisi tertelungkup. Sementara Aning juga tidak ketinggalan. Lalu dengan penuh nafsu aku membawa batanganku dan mengarahkannya ke liang senggama Maya dari arah belakang.

“Bles… bles… bles…jeb!!” Liang senggamanya berhasil ditembus oleh senjataku. Terdengar suara lenguhan Maya karena merasa nikmat. “Uh.. uh.. uh.. uh.. Terus Dik.. Enak…ikmat..!” Tanganku pun tidak kalah hebatnya. Kuraih buah dadanya sambil kuremas-remas. Puting payudaranya kupegang-pegang.

“Gantian dong…” tiba-tiba Aning minta jatah. Duh, hampir kulupakan si doi. Aku cabut batang kejantananku dari liang senggama Maya lalu kubawa ke ranjang sebelah di mana telah menanti Aning yang sedang mengelus-elus kemaluannya yang indah. Tanpa menunggu lagi, aku naik ke ranjang itu lalu kumasukkan dengan dorongan yang amat keras ke liang senggamanya

“Jangan keras-keras dong Dik…” erangnya nikmat.

“Habis mau keluar nih, Mbak… Di dalam atau di luar…” aku tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang nikmat akan lepas dari tubuhku

“Di mukaku aja Dik..” jawabnya di tengah erangan nafsunya.

Lalu kutarik batang kejantananku dari liang senggamanya yang sedang merekah dan membawanya ke kepalanya. Lalu aku menumpahkan cairan putih kental itu ke wajahnya. “Crot.. crot…crott.. crot.. crot!” Kasihan juga Mbak Aning, wajahnya berlepotan spermaku. Ia tersenyum dan berkata,

“Terima kasih Dik… aku amat puas… demikian juga Mbak Vivi…”

Belakangan setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mendengar bahwa Aning dan Maya memang bukan perawat tetap di rumah sakit itu. Mereka hanya bekerja sambilan saja. Mereka sebenarnya dua orang mahasiswi kedokteran di sebuah universitas swasta di Surabaya.

Tiap kali mereka bekerja di sana, selalu ada saja pasien pria entah remaja atau orang dewasa yang berhasil mereka ajak berhubungan seks minimal satu kali. Nah lho.. gmana tertarik masuk rumah sakit?