Cerita Dewasa

Cerita Sex – GaraGara Mabuk Aku Disetubuhi Anakku..

Sejak suamiku kawin lagi, rasanya aku demikian marah padanya, karena telah menghianatiku. Ajakan teman-temanku unutkk clubing, aku ikuti. Lama-lama aku bosan juga. AKhirnya aku sudah ketagihan minum-minuman keras. Shalat sudah aku tingalkan dan mulai asyik dengan daganganku membawa berlian dari rumah ke rumah dan menghasilkan banyak uang.

Saat aku anakku Yanto nmemasuki rumah, aku sebenarnya sudah setengah mabuk. Kepalaku sudah berat sekali. Aku masih sadar dan mengetahui semuanya. Kulihat anakku berjalan sempoyongan dan menatapku dengan tajam.

“Baru pulang sayang? Kamu minum minuman keras ya?” sapaku.

“Ya. Kalau mama juga minum minuman keras, kenapa aku tak boleh,” katanya sembari mengangkat gelasku di atas meja yang berisi sedikit Tequila dan meneguknya.

Aku kasihan padanya. AKu sadar, kalau ini adalah kesalahanku. Anak bungsuku dan satu-satunya laki-laki berumur 19 tahun ini akan hancur, jika aku biarkan. 2 putriku sudah menikah dan ikut suaminya. Kupeluk Yanto dan mencium pipinya. Yanto balas memelukku dan menangkap tengkukku serta mengarahkan bibirnya ke bibirku. Dia mengecup bibirku dengan lembut dan mengelus rambutku.

“Yaaaannnn….”

“Ya sayaaaang…”

Aku agak risih dipanggil sayang, seperti menyapa kekasihnya sendiri. Aku sadar, mungkin Yanto menganggap aku kekasihnya, karena dia sedang mabuk. Yanto yang baru saja duduk di semester I pada sebuah universitas ternama di negeri ini, terus mempemainkan lidahnya dalam mulutku.

“Aku sangat mencintaimu…” bisiknya.

Aku diam saja. Tanganya mulai meremas-remas buah dadaku dan dengan paksa dia lepaskan dasterku, bra-ku, hingga aku tinggal memakau celana dalamku. Dengan cepat pula dia melepas semua pakaiannya hingga 100% bugil. Lampu di ruang tengah, demikian terang benderang, terlebihj semua pintu sudah ditutup dan jendela juga sudah terkunci erat. Aku tetap menganggapnya mabuk, hingga mungkin saja Yanto tidak menyadari, kalau aku adalah ibu kandungnya. Tapi rabaan dan elusan tangannya pada tubuhku, membuat libidoku bangkit juga. Apa yang harus kulakukan? Menolaknya yang sedang mabuk? Atau….

“Kamu tau, aku ini siapa Yaaannn…” tanyaku halus dan selembut mungkin, untuk menyadarkannya.

“Ya. Aku tahu.”

“Siapa sayang?”

“Kamu kan Silvia, kekasihku…”

Berdegup jantungku, dia menyebut namaku dan menyebutkan pula aku adalah kekasihnya. Tapi mungkin saja ada perempuan senama denganku, Silvia yang adalah kekasih anakku Yanto.

“Silvia kekasihmu? Silvia yang mana sayang…?” sapaku lembut dan bibirnya sudah menyedot-nyedot buah dadaku.

“Silvia, mantan isterinya Ridwan,” jawabnya.

Ridwan adalah suamiku yang aku gugat cerai ke mahkamah syariah, ayah kandung Yanto anakku.

“Ya. Aku adalah mama mu sayang,” kataku lebih lembuit lagi.

Pertama kelembutan suaraku agar dia tidak tersinggung, kemudian karean libidoku juga sudah meninggi.

“Mulai sekarang, kamu bukan mamaku lagi, Tapi kekasihku, calon isteriku,” katanya. Dia terus menceracau sembari terus merabai tubuhku dan menjilatinya.

Aku senmakin tak mampu menahankan hasrat seksualku, tapi haruskah aku melakukannya derngan anak kandungku sendiri?

“Sayang, kamu sudah mabuk. KIta tak boleh…”

“MUlai sekarang, aku bebas melakukan apapun padamu, Silvia. Mulai sekarang kamu adalah isteriku. Aku sangat mencintaimu. Aku sudah lama menunggu perceraianmu,” jawabnya semakin tegas.

Lidahnya sudah menjilati perutku dan tangannya sudah menurunkan celan dalamku. Vaginaku susah basah. Perlahan Yanto menidurkanku di atas karvet di ruang tamu itu. Cepat dia menjilati vaginaku, dimana suamiku sendiri tak pernah melakukannya. Aku tak tau harus berbuat apa, karena aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku hanya bisa mendesih dan langsung kutangkap penis Yanto. Saat aku menangkapnya aku sangat terkejut. Aku merasakan betapa kerasnya penis itu. Besar dan jauh lebih besar dan lebih [panjang dari milik ayah kandungnya. Kutuntun penis itu memasuki liangku. Vaginaku yang basah, langsung menenggelamkan penisnya yang besar dan panjang itu.

Yanto berjongkok di antar kedua pahaku. Tangannya meraih Tequilla dari meja dan meneguknya seidkit lagi. Kemudian diteguknya sedikit lagi, lalu dari mulutnya dia salurkan Tequilla ke mulutku. Kami berciuman dan lidah kami saling mengait, sementara Yanto terus memompa vaginaku. Makin lama makin cepat dan liang vaginaku terasa penuh.

Suara cucuk-tarik penis anakku dalam vaginaku mengeluarkan suara yang mengasyikkan. Akhirnya kedua kakiku kujepitkan ke pinggang anakku dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sembari merintih-rintih. Aku merintih karena merasa nikmat, bukan karean alkohol. Rasa malu dan aku sudah melupakan, laki-laki yang di atas tubuhku adalah anak kandungku sendiri.

“Huuuuuuhhhhhhh…” rintihku saat sesuatu terasa keluar dari tubuhku yang amat dalam.

Mungkin ini yang dinamaka orgasme. Kalau benar ini adalah kenikmatan orgasme, maka inilah pengalaman pertamaku merasasakan oprgasme seumur hiudpku, dengan anak kandungku sendiri. Selam 26 tahun aku menikah, aku tak pernah merasakan orgasme dan tak pernah merasakan kenimmatan seks. Saat aku mulai mau menikmati seks, tiba-tiba suamiku sudah melepaskan spernmanya dalam vaginaku. Selalu saja demikian, dan aku pun hamil, hamil dan hamil. Kemudian melahirkan ke tiga anak-anakku.

Aku lemas. Yanto masih juga terus memompa. Aku diam saja, karena nafasku sudah tersengal-sengal. Usia tak mampu kulawan. Aku sudah 47 tahun.

“Mama sudah tua sayang… maafkan mama,” biskku.

“Kamu masih cantik dan hebat, Silvia,” jawabnya.

“Betulkan aku masih cantik sayang?”

“Betul. Kamu masih cantik dan tubuhmu masih sintal. Aku mencintaimu,” bisiknya sembari terus memompa tubuhku.

Tak lama nafasku mulai normal dan aku memberikan perlawanan pada anakku, agar dai tidak kecewa. Rasanya aku berdosa sekali, jika mengecewakan anakku yang sudah memberikan pengalaman terindah dalam hidupku, dimana selama ini tak pernah kurasakan.

Yanto terus memeompa tubuhku dari atas. Suara semakin berisik keluar dari vaginaku yang sangat basah. Aku mengangkat kedua kakiku ke atas dan memeluknya dengan sekuat tenagaku. Pompaan dari atas, membuatku semakin menikmati lagi keindahan itu untuk kedua kalinya. Anakku memompa semakin kencang dan aku tau ciri-cirinya laki-laki akan melepaskan spwermanya.

“Tunggu Mama sayaaaang…”

“Aku sudah mau keluar Silvia…”

Aku pun mengimbanginya. Jika dia sudah keluar, maka kontol itu akan terkulai dan aku tak akann mendapatkan kenikmatan untuk kedua kalinya. Kuarahkan penisnya pada sisi-sisi yang membuatku nikmat sekali dan akhirnya aku menjerit kecil serta memeluknya. Saat itu Yanto menghunjamkan penisnya kuat sedalam mungkin ke liang vaginaku. Aku merasakan beberapa kali semprotan sperma hangat dalam liangku, membuat aku semakin histeris. Aku tak tau, apakah ada orang di luar mendengarkan jeritan kenikmatanku. Semoga tidak.

Nafasku dan nafas Yanto memburu. Yanto terkulai di atas tubuhku. Penisnya mengecil dan terlepas dari liangku.

Tak lama kami sudah normal dan saling menatap, dengan senyum manis. Yanto memakaikan daster ke tubuhku, lalu dia memakai pakaiannya dan membimbingku ke meja makan untuk makan bersama.

“Sil… isteriku. Sejak malam ini, kamu harus memanggilku suamimu,” katanya.

Aku haru tapi aku harus menjawab apa, karean hal itu tidak mungkin.

“Tapi…”:

“Tak ada tapi tapi lagi. Kamu adalah isteriku dan aku adalah suamimu,” suaranya setengah membentak.

Aku diam. Dirangkulnya tubuhku dan dia mencium pipiku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku meneneteskan air mata. Aku tak mengerti tetasan airmataku, apakah itu tetas air mata penyesalan atau air mata haru. Jelasnya, suamiku Ridwan, Papanya Yanto, tidak pernah memperlakukan aku semesra yang dilakukan oleh Yanto. Aku membalas pelukannya dan menyandarkan kepalaku di dadanya.

“Kamu isteriku ya…” bisiknya ke telkingaku. Aku menganggukkan kepala dengan lemah dan memeluknya kuat.

Yanto punmengecup ubun-ubunku dengan penuh kasih sayang. Kami makan makan bersama. Setelah menonton TV sejenak, Yanto membimbingku ke kamar tidurku. Yanto megunci kamar dan kami tiduran berdampingan.

“Kamu tidak tidur di kamarmu?” t anyaku.

“Bukankah kita sudah suami isteri?” jawabnya

Mungkin karean letih dan hampir setahun aku tak pernah merasakan bersetubuh, aku pun tertidur pulas. Aku terbangun pukul 09.00 Wib. Saat itu aku melihat Yanto masih pulas tertidur. Setelah mandir dan menyiapkan sarapan, aku kembali tidur malas-malas di sisi Yanto. Aku pun mengingat kembali apa yang sudah terjadi tadi malam. Benarkah Yanto sekarang sudah menjadi suamiku? Apa yang terjadi jika aku menolaknya? Apakah Yanto akan kecewa?

Aku menunggunya terbangun. Aku ingin tau apa yang terjadi jika dia sudah terbangun. Saat aku membuka selimut, aku melihat Yanto dalam keadaan bugil. Bukankah tadi malam dia tidur memakai celana dan baju? Lalu kenapa kini dia jadi bugil. Pertanyaanku terjawab, karean ada lendir sperma di sprei. Berarti tadi malam dalam keadaan tidur pulas, aku disetubuhi oleh Yanto.

Aku membangunkan Yanto dengan alasan sudah siang dan harus mandi dan sarapan. Yanto terbangun dan kuminta dai mandi ke kamar mandi. Dengan guyuran air hangat dia membersihkan dirinya. Dari kamar mandi dia hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Senyum dan ucapan selamat paginya demikan merdu.

“Selamat pagi Silvia sayang…” sapanya. Dia tetap meanggilku Silvia, bukan mama. Itu pertanda, kalau apa yang diucapkannya tadi malam masih dia ingat.

“Aku memaksakan dirikau untuk tersenyum. Dengan celana pendek tanpa pakaian dalam dan kaos oblong longgar dia membimbingku ke meja makan. Aduh… mesra sekali. Kenapa suamiku tak pernah melakukannya selama ini padaku? Kenapa harus Yanto anak kandungku?

Roti yang sudah dipanggang, aku olesi selai dan aku menuangkan treh susu panas ke dalam gelas dan kami sarapabn bersama. Yanto tersenyum manis kepadaku dan terus melepaskan kata-kata indah.

“Pagi ini, kamu cantik sekali sayang…” pujinya.

Aku jadi kikuk. Yanto menium rambutku yang baru saja aku shampoo.

“Rambutmu wangi sekali Silvia…” bisiknya lagi.

“Yan.. kamu harus hati-hati mengucapkan kata-katamu. Bagaimana kalau ada yang mendengar. Bisa gawat,” kataku.

“Aku akan menempatkan ucapanku, saat mana aku harus mengucapkannya,” ujarnya. Aku diam saja. Aku masih belum mampu menerima ucapannya yang mesra.

“Silvia… vaginamu nikmat sekali. Sebentar lagi aku ingin merasakannya kembali,” ucapnya. Aku diam. Dadaku gemuruh. Apa yang harus kulakukan, aku tak mengarti.

“Kamu belajar bersetubuh dari siapa?” t anyaku.

“Dari pelacur. Aku sudah belasan kali melacur,” jawabnya jujur.

“Kamu tidak takut AIDS?”

“Aku pakai kondom.”

“Kamu tak boleh ke pelacur lagi,” aku setengah membentak.

“Untuk apa aku melacur lagi. Bukankah aku sudah punya isteri yang cantik?”

Yanto memelukku dan menciumiku. Setelah minum teh susu panas, Yanto mengelus-elus dadaku. Leherku dia jilati dan sebelah tangannya mengelus vaginaku dari luar. Aku demikian cepat mengalami libido. Aku mendesah.

“Kamu harus mau menjadi isteriku Silvia,” bisiknya.

“Ya… Aku isterimu,” kataku. Setelah nmengucapkan kata-kata itu , aku jadi amenyesal.

Tapi sudah terlanjur. Biarlah. Dalam hati aku mengatakan dan berteriak kepada Ridwan yang sedang aku gugat cerai. Ke nerakalah kau Ridwan, karena aku sudah mendapatkan penggantimu, anakmu sendiri.

Yanto membopongku ke dalam kamar dan menelentangkan diriku di atas tempat tidur. Satu persatu pakaianku dibukanya sampai aku telanjang bulat. Kemudian dia melepas satu persatu pakaiannya, juga sampai telanjang bulat.

“Sil.. kamu cantik sekali sayang…” Aku tersenyum.

Aku merasaka berada di surga, dengan kelembutran tegur sapa anakku yang gagah itu. Tubuhku yang mungil, mungkin membuat aku kelihatan tidak setua usiaku. JIka aku berdiri, ubun-ubunku persis berada di bwah bahu anakku. Berat badanku hanya 48 Kg. Yanto tingginya 176 Cm, kekar dan beroto karean rajin ke fitnes.

“Sil… apakah kamu juga mencintaiku sayang?” Aku mengangguk.

Anggukanku pasti dan mantap. Aku berharap Ridwan melihat aku mengangguk.

“Aku butuh jawaban dari mulutmu Sil,”

“Ya… Aku mencintaimu Yanto…” kataku mantap.

“Benarkan aku suamimu, Sil?” tanyanya lagi sembari menjilati pentil tetekku.

“Ya.. Kau suamiku dan aku isterimu,” kataku. Ingin aku berteriak sekuat-kuatnya mengucapkan kata-kata itu, agar Ridwan mendengarnya.

Lidah Ridwan sudah berada di liang vaginaku dan klitorisku suadh diisap-isap dan dipermainkannya, membuat aku menggelinjang.

“Enak sayang…” kataku perlahan.

Yanto terus menjilati klitorisku, kemudian ujung idahnya dia permainkan di lubang duburku. Ingin rasanya aku menolak kepalanya, tapi aku merasakan sebuah sensasi yang tak pernah kurasakan seumur hidupku. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Yanto naik ke atas tempat tidur. Mulutnya masih menjilati klitorisku, sementara penisnya sudah dia arahkan ke mulutku. Yanto meminta, agar aku memegang penisnya dan menjilatinya. Aku berpikir, Yanto toh sudah menyabuninya, kenapa tidak? Aku pun memasukan penisnya ke dalam mulutkui. Ternyata, aku merasakan sebuah sensasi lain lagi.

Saat Yanto mempermainkan lidahnya di vaginaku dan anusku, aku mulai tak tahan dan menjepit kepalanya dengan kuat dengan kedua kakiku dan aku meremas rambutnya dengan kuat, lalu aku menjerit hebat menumpahkan semua isi tubuhku di dalam vaginaku. Aku pun meregangkan jepitan kakiku dan aku lemas.

Yanto berdiri di tempat tidur dan tersenyum manis kepadaku. Aku membalasnya. Kami sama tersenyum.

“Aku bangga, kamu mampu menikmati kenikmatan ini, Silvia,” rayunya.

“Terima kasih, karena aku tak pernah merasakan kenikmatan seperti ini selama hidupku,” jawabku berterus terang.

Yanto tersenyum dan mengelus remabutku. Aku diperlakukan seperti seorang Balita. Aku bahagia sekali. Kenapa selama ini tak seorangpun memperlakukan aku seperti ini. Kenapa selama ini, tak seorang pun memanjakan diriku?

Yanto mulai lagi mempermainkan lidahnya dalam mulutku dan aku membalasnya dengan kelembutan pula. Yanto mulai pula menindih tubuhku dari atas. Aku seperti tak sabar. Cepat kutangkap penisnya dan kutuntun ke dalam liangku yang sudah basah. Begitu semua sudah tenggelam dan aku merasakan ada beberapa senti tidak masuk ke dalam vaginaku, karean panjangnya penis anakku, aku meminta agar aku diizinkan dari atas. Cepat Yanto membalikan tubuh kami. Sepertinya dia demikian gampang membalaikkan tubuh kami berdua, seperti membalikkan martabak saja. Aku mulai aktif dari atas dan mencari-cari kenikmatanku sampai akhirnya aku menemukan kenikmatan itu dan aku orgasme untuk kedua kalinya. Aku lemas menindih tubuh anakku dari atas. Yanto mengelus-elus rambutku. Aku benar-benar dimanjakannya.

Setelah aku kembali normal. Yanto membalikkan tubuh kami kembali dan dia mulai aktif memompa tubuhku dari atas. Sejak saat itu, kami mulai akrab sebagai “Suami-Isteri” rahasia. Berbagai pose kami lakukan. Doggy Style dan sebagainya. Sering pula, akmi melakukannya sembari duduk berdua, dimana aku naik ke tubuh Yanto dengan mengangkanginya.

Kami melakukannya di dapur, di ruang TV, di kamar mandi dimana saja. Ada satu rahasia yang aku perbuat, tanpa setahun Yanto anakku. Saat dia naik gunung bersdama teman-temannya, aku ke rumah sakit dan opname selama tiga hari, untuk menutup peranakanku, agar aku tdak bisa hamil.

Setiap kami betrsetubuh, Yanto selalu membisikiku kata-kata, kalau dia ingin aku melahirkan anaknya. Aku harus merngimbanginya dan mengatakan:” Sayang, aku juga ingin kau hamili. Hamililah aku sayang, agar kita punya anak,” kataku. Bahkan ketika sarapan pagi aku mengatakan kepada Yanto, kalau aku sangat menginginkan memiliki anak dari spermanya. Biasanya Yanto akan tersenyum dan semakitnya menggebu-gebu ingin menyetubuhiku.

Karena tak hamil-hamil, aku mengatakan padanya, mungkin spermanya muda, karena terlalu sering bersetubuh. Bagaimana kalau bersetubuh itu hanya dua kali dalam seminggu, tapi persetubuhan yang berkualitas dengan sperma yang banyak? Yanto setuju. Hingga kami membuat jadwal dua kali seminggu bersetubuh, walau sering juga kami langgar. Terkadang Yanto yang tak mampu menahan gejolak nafsunya, tetapi aku juga tak jarang lebih dahulu meminta untuk disetubuhi.

Jika diluar kami selalu memperlihatkan kami ibu dan anak. Jika bedua, di rumah atau di dalam mobil, kami saling memanggil nama dan saling memanjakan.

Ketika Yanto harus menikah dan tinggal di rumah mungil yang aku berlikan untuknya, dan walau usiaku sudah 53 tahun, kami selalu SMS atau bicara vila HP. Kami selalu melakukannya di rumah atau di hotel. Menurut Yanto, dia menikah hanya membnginginkan anak, bukan menginginkan kenikmatan, karean dia tak pernah merasakan nikmat dengan perempuan mana pun kecuali denganku.

Advertisements

Cersex – Percintaanku Dengan Ibu Kandungku..

Cerita ini sebenarnya sangat malu aku ceritakan karena ini termasuk aib yang ingin aku tutup rapat-rapat namun karena sudah tidak tahan aku simpan lama-lama daripada aku menyesal seorang diri akhirnya aku beranikan diri untuk mengungkapkanya kepada rekan-rekan yang ingin mendengar kisah percintaanku dengan ibu kandungku sendiri!!

Dari judul yang aku cantumkan, aku yakin para pembaca bisa dengan mudah menebak inti dari ceritaku ini. Tapi yang ingin aku ceritakan adalah bagaimana sampai tabu ini terjadi. Mengapa aku bisa sampai terlampau melewati batas norma-norma masyarakat dengan melibatkan diriku dengan kelainan seks yang istilah ilmiahnya bernama incest. Kejadian ini terjadi sewaktu mamaku sedang berlibur ke kota Perth sambil menjengukku.

Aku lahir di Jakarta tahun 1989. Di saat itu mamaku baru berusia 17 tahun. Mama kawin muda karena alasan berbagai macam. Papa kandungku berasal dari latar belakang yang cukup berada dengan bisnis/toko-toko electronic yang lumayan terkenal di Jakarta. Kehidupan rumah tangga kami kurang begitu harmonis. Papa sangat sibuk mengurus toko yang mana cabangnya di mana-mana. Untung saja mama adalah fulltime housewife (ibu rumah tangga). Saat ini mamaku baru saja berusia 36 tahun, dan masih tampak cantik dan berkulit putih bersih.

Di Jakarta, kami hanya memiliki satu pembantu rumah tangga, tidak seperti rumah-rumah tangga yang lainya, yang bisa memiliki lebih dari 2 pembantu rumah tangga. Aku hanya anak tunggal, jadi cukup dengan 1 pembantu rumah tangga saja.

Aku mengalami puberitas sewaktu masih duduk di bangku 2 SMP. Aku mengenal yang namanya blue film, cerita stensilan, dan game computer porno dari teman-teman seperguruan. Kami sering kali bertukar blue film, atau barang-barang pornografi. Sepertinya inilah yang membuatku menjadi sedikit abnormal dengan masalah seksualitas, ditambah dengan kejadian-kejadian aneh di rumah yang sering aku alami.

Posisi kamarku bersebelahan langsung dengan kamar papa/mama. Di tengah malam di saat ingin membuang air kecil, aku sering mendengar desahan mama/papa di saat mereka sedang menikmati malam suami-istri mereka. Pertama-tama aku sangat amat jijik dan risih mendengarnya, kemudian menjadi biasa, dan pada waktu aku menginjak saat SMA/SMU, aku malah menjadi penasaran saja apa yang mereka lakukan di balik pintu kamar.

Di kamar mama ada kipas angin yang menempel di dinding yang digunakan untuk membuang udara dalam kamar keluar. Mama/papa sering lupa menutup kipas angin tersebut di saat menyalakan AC.

Baca cerita sex lainya di http://www.orisex.com

Suatu malam, papa/mama sedang ‘gituan’ di dalam kamar, dan mereka lagi-lagi mereka lupa menutup kipas angin mereka. Aku menjadi penasaran, dan ingin mengintip apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar. Aku mendengar jelas suara mama sedang mendesah dan mengeluh panjang, seperti atau mirip dengan wanita-wanita yang pernah aku tonton di film-film bokep. Aku menjadi sedikit kelainan, ingin sekali dan penasaran ingin melihat wajah mama di saat sedang di-’gituin’ oleh papa.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengintip, meskipun aku rasa takutku akan kepergok masih sama besarnya pula. Aku tarik kursi belajarku pelan-pelan, kemudian aku taruh pas di bawah kipas angin. Dengan perlahan-lahan aku naik ke kursi belajar, dan mencoba mengintip sedikit demi sedikit. Untunglah situasi di luar kamar kami tampak gelap, hanya lampu di luar rumah saja yang masih menyala, sehingga bisa mereka tidak mungkin dapat melihat sosokku di balik kipas angin.

Kamar mama masih tampak remang-remang, hanya lampu di samping ranjang mereka yang sedang menyala, namun masih tampak jelas seisi ruangan kamar mereka. Kakiku seperti lemas langsung melihat mama merebah di atas ranjang dengan selangkangannya terbuka lebar-lebar. Aku hanya melihat punggung papa yang penuh dengan peluh keringat dan papa tampak asyik memainkan pinggulnya maju mundur di selangkangan mama. Kedua tangan mama meremas-remas selimut tipis, matanya terpejam, dan bibir mama hanya berkomat-kamit seakan-akan menahan geli dan nikmat yang luar biasa. Jujur saja jantungku berdegup kencang, dan aku pun ikut bernafsu melihat mereka sedang asyik di sana.

Setelah beberapa menit kemudian, tubuh papa tiba-tiba bergetar sedikit, dan papa mulai membuka suara yang amat pelan seperti memberikan aba-aba kepada mama dan mama hanya mengangguk saja seperti mengerti apa yang akan terjadi. Tak lama dari aba-aba papa, tiba-tiba tubuh papa bergetar hebat, dan pinggulnya menekan dalam-dalam ke dalam selangkangan mama. Mama pun sama, seperti sedang keenakan, mama menempelkan kedua telapak tangannya ke pantat papa, dan menekannya dengan kencang, seperti ingin agar yang sedang masuk di selangkangan mama itu tertanam dalam-dalam. Mama mengeluh panjang, begitu juga dengan papa. Papa memeluk mama yang sedang merebah di atas ranjang, sambil menciumi leher mama dengan penuh nafsu.

Karena takut kepergok, aku cepat-cepat turun dan kabur dari sana. Biasanya seabis keluhan panjang mama/papa, karena paling tidak salah satu dari mereka pasti keluar dari kamar. Paling sering mama yang keluar dulu dari kamar, dan langsung ke kamar mandi.

Malam itu aku ngga bisa tidur. Sosok mereka terbayang-bayang di dalam otakku. Mama yang begitu cantik dan lembut, tampak binal dan merangsang sekali di saat ‘begituan’ dengan papa. Seperti singa betina yang haus dengan nafsu birahi. Untunglah papa juga singa jantan yang mampu memuaskan singa betina yang haus itu.

Sejak saat itulah, aku tumbuh sedikit demi sedikit menjadi aneh. Aku suka sekali membayangkan tubuh mamaku sendiri. Aku tau bahwa ini sangat tidak benar. Puberitasku semakin berapi-api. Aku sering sekali mengintip mamaku mandi atau sesekali mengintip sewaktu dia sedang ganti baju di kamarnya. Aku tidak lagi mengintip aksi papa dan mama di dalam hari, karena ada perasaan ngga senang atau jealous.

Tetapi kelainan yang aku alami ini aku simpan sendiri, dan tiada satupun teman atau orang lain yang mengetahui sifat kelainanku ini. Perlu yang para pembaca ketahui, bahwa aku masih suka menonton film biru, dan masih terangsang saja melihat wanita lain dalam keadaan terlanjang di film biru atau mengenakan pakaian seksi di tempat umum. Namun, di samping itu, aku pun juga suka melihat mamaku sendiri dalam keadaan terlanjang. Aku lebih memilih untuk berdiam diri, karena apabila bersuara sekali, bisa heboh dan rusak nama baikku.

Aku cukup memendam perasaan aneh ini lebih dari 3 tahun. Setelah tamat SMA, aku langsung memutuskan untuk kuliah di kota Perth. Aku berangkat ke sana sendirian, dan sempat tinggal di homestay selama 3 bulan, kemudian aku memutuskan untuk tinggal di apartment sendiri dengan alasan kebebasan.

Beberapa minggu setelah aku tinggal di apartment, mamaku memberi kabar bahwa dia akan datang menjengukku sekalian jalan-jalan di negeri Australia. Rencana awal mama akan datang bersama papa dan adik mama. Namun seperti biasanya, alasan sibuk papa selalu saja menjadi penghalang utama untuk tidak ikut dengan mama. Adik mama sebenarnya ingin sekali datang, tapi karena saudara sepupuku (anak dari adik mama) terkena cacar air, jadi urunglah niatnya untuk datang bersama mamaku.

Aku jemput mamaku di airport hari Minggu pagi. Cuaca saat itu lumayan sejuk, dan mungkin terasa dingin untuk mamaku yang datang langsung dari kota Jakarta yang panasnya minta ampun. Aku bawa jaket cadangan, jaga-jaga apabila mungkin mama kedinginan sewaktu keluar dari airport. Saat itu aku sedang liburan pertengahan tahun selama 3 minggu. Jadi kunjungan mama ini tepat pada waktunya.

Betapa gembiranya bisa bertemu mamaku lagi setelah beberapa bulan berpisah. Setelah berpelukan melepas kangen/rindu, kami kemudian naik taxi menuju apartementku. Selama perjalanan kami banyak berbincang-bincang. Mama lebih banyak bertanya daripada aku, terutama tentang bagaimana kehidupanku selama jauh dari orang tua.

Tak lebih dari setengah jam, kami sampai di apartmentku. Setelah membayar uang taxi, kami langsung naik lift menuju kamar apartmentku. Kamar apartmentku hanya ada 1 kamar, dan karena aku baru beberapa minggu pindah di apartment ini, aku belum banyak membeli perabotan rumah. Ruang tamuku hanya ada TV dan 1 bean bag sofa. Aku belum sempat membeli sofa beneran.

“Ricky, kamu kok jorok banget! Apartmentmu berantakan sekali.” sambil mecubit pipiku. Aku hanya tertawa saja.

“Sekarang mama mau kemana? Mau sarapan dulu?” tanyaku.

“Mama pengen tidur-tiduran dulu deh. Tadi mama sudah sarapan di pesawat. Ricky kalo mau sarapan, mama bikinin dah.” tawar mama.

“Hmmm … ngga usah dah … Ricky beli aja di Mc Donald. Breakfastnya lumayan kok. Mama tidur aja dulu.” jawabku.

Mama lalu menggangguk, dan aku pun berangkat membeli breakfast meal di Mc Donald. Aku memutuskan untuk sarapan di tempat saja, daripada di bawa pulang.

Setengah jam kemudian aku pulang ke apartment. Suasana di apartementku hening. Kulihat bagasi mama sudah terbuka, aku bisa memastikan mama sudah ganti pakaian. Kemudian ku cek kamarku, kulihat mama sedang tidur pulas di atas ranjangku. Aku membiarkan dia beristirahat dulu. Sambil menunggu mama bangun, aku menghabiskan waktu browsing-browsing Internet di laptopku.

Selang 3 jam kemudian, mama tiba-tiba keluar dari kamar.

“Ricky, kamu lagi ngapain?” tanya mama sambil mulutnya menguap ngantuk.

“Lagi main Internet, ma. Mama sudah lapar belon? Sudah jam 2 siang loh.” tanyaku.

“Belum seberapa lapar sih. Emang Ricky mau makan apa?” tanya mama balik.

“Hmmm … Ricky mau ajak mama makan di restoran Thailand deket sini. Enak banget deh, mama pasti doyan.” ajakku.

“Ok, mama ganti baju dulu yah” singkat mama. Aku pun menggangguk dan bersiap-siap diri.

Mama mengambil baju lagi dari tas bagasinya, dan kemudian masuk ke kamar untuk ganti pakaian. 5 menit kemudian mama keluar dari kamar. Siang itu mama mengenakan kaus ketat, dan celana jeans. Tampak dada montok mama menonjol. Aku jadi sedikit risih melihatnya, meskipun dalam hati ada perasaan senang. Mama tampak seperti wanita yang baru berumur 25 tahunan. Padahal saat itu mama sudah berumur 35 tahun.

Hari itu aku mengajak mama jalan-jalan melihat kota Perth. Mama tampak hepi menikmati liburannya. Tidak bosan-bosannya mama mengambil foto dan sesekali meminta orang yang sedang lewat untuk mengambil foto bersamaku. Dengan wajah mama yang tidak seperti wanita berumur 35 tahun, kami seperti terlihat sedang pacaran saja.

Kami jalan-jalan sampai larut malam, dan kami kembali ke apartment sekitar jam 11 malam lebih. Badanku amat letih, begitu juga dengan mama. Aku senang sekali mama bisa datang ke sini. Selain aku bisa dimanja, aku juga bisa mengajaknya jalan-jalan kemana-mana.

“Mama mandi dulu aja.” suruhku sambil memberi handuk bersih ke mama.

Sewaktu aku sedang unpacking barang belanjaan kami seharian, tiba-tiba terdengar suara mama sedikit teriak.

“Ricky, ini gimana ngunci kamar mandi. Kok mama ngga liat ada kunci di sini?” tanya mama penasaran sambil tubuhnya dibalut handuk.

Kulihat pundak dan paha mama yang benar-benar mulus.

“Di sini emang sudah biasa ngga ada kunci di kamar mandi, ma. Sudah biasa aja orang sini.” jawabku.

“Iya, tapi mama ngga biasa.” protes mama kemudian balik ke kamar mandi.

Tak lebih dari 10 menit, mama keluar dari kamar mandi. Malam itu mama mengenakan kaus ketat dan celana boxer yang amat pendek (kira-kira 20 cm dari lutut), sehingga tampak paha mama yang putih mulus dan juga kedua payudaranya yang menonjol karena kaus ketatnya.

Mama kemudian duduk disebelahku seakan-akan melihat sedang apa aku di depan laptopku. Bau sabun wangi terhirup dengan jelas dari tubuh mama. Bau sabun yang tidak asing lagi bagiku.

“Ricky, kenapa kamu belon beli sofa?” tanya mama.

“Belon sempat aja ma.” jawabku santai.

“Besok mau beli sofa? Mama beliin deh.” tawaran mama.

“Boleh aje …” jawabku santai.

“Ricky, sono mandi. Mama pinjam laptop dulu, mau emailin papa dulu.” sambung mama lagi. Tanpa perlu dikomando, aku kemudian bangkit dari bean bag sofa, dan langsung menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, diotakku sempat keluar pikiran jorok. Aku berpikir ingin mengintip mama mandi besok, mumpung tidak ada kunci di kamar mandi apartementku ini.

Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut, kulihat mama masih asyik chatting dengan papa. Aku diminta mama juga ikutan membaca chattingan mereka.

Jam telah menunjukkan pukul 1 pagi. Aku tidak kuat lagi menahan rasa kantuk. Aku berpamitan untuk tidur dulu. Mama masih terlihat asyik ber-chatting ria dengan papa.

Karena aku masih belon punya sofa beneran, malam itu aku tidur bersama mama di satu ranjang. Untung tempat tidurku itu ukuran queen bed, jadi cukup luas untuk 2 orang. Untung mama tidak sungkan atau risih dengan ide tidur satu ranjang. Mungkin karena anak sendiri mungkin mama tidak menaruh curiga atau risih.

Malam itu aku tidur nyenyak sekali, karena sehari sebelum-nya aku kurang tidur karena harus menjemput mama pagi-pagi di airport.

Tepat pukul 8 pagi, aku membuka kedua mataku perlahan-lahan. Sang surya telah terbit dengan cerahnya dibalik gorden/kerai kamar. Aku merasakan ada sesuatu yang lembut dan empuk ditangan kananku. Perlahan-lahan aku menoleh ke kanan, tampak mama yang masih tertidur lelap di samping kananku sambil memeluk lengan kananku. Terasa hangat dan empuk payudara mama di lengan kananku. Baju ketat yang mama kenakan itu terkesan tipis ditambah dengan mama yang tidak mengenakan BH, sehingga terasa betul kekenyalan payudara mama. Wajah mama bersembunyi dibalik lengan kanan atasku, sedangkan paha kanannya menimpa paha atasku. Namun, kedua tubuh kami masih terbungkus selimut tebal.

Pagi itu lumayan dingin, jadi ini mungkin instinct mama (dibawah sadar) untuk mencari kehangatan. Jadi tanpa sadar dia memeluk lenganku, agar merasa hangat.

Perasaanku tidak karuan rasanya. Biasanya setiap bangun tidur, mr junior pasti juga ikut bangun. Tapi pagi ini mr junior bangun dalam keadaan yang benar-benar keras. Aku memilih untuk diam seperti patung. Aku tak ingin goyang sedikit pun. Takut apabila aku goyang sedikit, mama bakalan merubah posisinya lagi.

Jam menunjukkan pukul 9 kurang. Berarti aku telah hampir 1 jam lamanya diam seperti patung. Posisi mama pun tidak berubah pula, malah lebih mengencangkan pelukannya dan paha mulus mama sekarang mendarat di perutku. Mr junior alias batang penisku tertimpa paha mulusnya. Namun bukan berarti mr junior bakalan loyo, justru kebalikannya – makin tegang saja. Jantungku berdegup kencang, karena pikiran kotorku telah meracuni akal sehatku.

Tangan kiriku mulai bangkit dan memutuskan untuk bergerilya di paha kanan mama.

Perlahan-lahan aku mengelus-elus dengkulnya, selang beberapa lama kemudian aku mulai mengelus-elus pahanya. Sungguh susah kupercaya, bahwa paha yang mulus tanpa borok ini adalah milik mamaku sendiri. Aku semakin bersemangat mengelus-elus paha mama. Tubuh mama masih tidak bereaksi. Aku semakin berani dan nekat.

Kini jarak elusan tanganku semakin melebar. Pertama dari dengkul, kemudian merangkak maju sampai ke batas celana boxer mama, sekarang mulai masuk ke celana boxernya.

Hanya dalam hitungan beberapa menit, tubuh mama mulai bereaksi perlahan-lahan dan kesadaran mama pun mulai bangkit perlahan-lahan pula.

“Hmmm … Ricky … kamu lagi ngapain? Geli loh!” tanya mama sambil terkantuk-kantuk, tapi masih memeluk lenganku.

“Anu … Ricky lagi elus-elus mama.” jawabku seadanya plus sedikit panik.

“Ehmm … kalo mau elus-elus mama, punggung mama aja atau rambut mama. Jangan di paha, geli banget di sana.” kata mama.

“Jadi ngga enak?” tanyaku penasaran.

“Bukan ngga enak sayang, tapi geli aja. Enak sih enak, tapi jadinya lain …” ucapan mama stop.

“Lain apanya?” tanyaku lagi.

“Pokoknya lain enaknya. Jangan di sana lagi deh.” pinta mama.

Aku kemudian menghentikan gerilyaku, dan kembali menjadi patung lagi. Aku tidak tau apakah mama merasakan tonjolan mr junior di pahanya atau tidak. Kalo dipikir secara logika, dia pasti merasakan tonjolan keras dibalik celana tidurku, karena pahanya tepat mendarat di sana. Tapi dia tidak beraksi apapun.

Setelah itu, mama tidak bisa lagi tidur. Jadi kami akhirnya ngobrol-ngobrol di atas ranjang dengan posisi yang sama pula.

Sudah hampir 1 jam kami ngobrol di atas ranjang, akhirnya aku meminta mama untuk mandi dulu, karena hari ini kita mau jalan-jalan lagi. Mama kemudian bangkit dari tempat tidur, dan menuju kamar mandi.

5 menit kemudian, aku pun bangkit dari tempat tidur. Kupikir sambil menunggu mama selesai mandi, lebih baik aku menyiapkan sarapan pagi (roti panggang pake selai strawberry).

Setelah berjalan beberapa langkah dari pintu kamar, aku dikejutkan oleh sesuatu di depan mataku.

Kudapat pintu kamar mandi tidak tertutup rapat oleh mama. Ini adalah kesengajaan atau tidak, aku tidak tahu.

Akal sehatku mulai berkelahi dengan akal kotorku. Akal sehatku menyuruhku untuk tidak melihat dibalik pintu yang tidak tertutup rapat itu dan segera langsung menuju ke daput, sedangkan akal kotorku mengatakan kalo hanya mengintip sebentar tidak ada ruginya. Alhasil dari perkelahian akal sehat melawan akal kotor, pemenangnya adalah akal ngga sehatku alias akal kotor.

Aku berjalan sambil berjinjit-jinjit, agar langkah kakiku tidak terdengar olehnya. Kudorong perlahan-lahan pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat tersebut. Posisi shower di kamar mandi tepat disamping pintu kamar mandi. Shower cubic/ruang shower di kamar mandi terlapisi oleh kaca yang bening. Sehingga dapat terlihat dengan jelas siapapun yang mandi di sana.

Kubuka pintu kamar mandi hanya sekitar 1.5 centimeter lebarnya, dan mata kananku perlahan-lahan mulai mengintip lewat celah sempit tersebut.

Hanya sekilas saja, aku langsung menelan ludah, dan jantungku kembali berdegup kencang. Antara takut dan bergairah menjadi satu. Takut apabila nanti kepergok mengintip mandi, dan bergairah karena menonton tubuh bugil mama sedang mandi. Mr junior alias batang penisku kembali mengeras. Napasku jadi tidak beraturan.

Kulihat mama sedang membilas rambutnya dengan shampoo dengan mata yang terpejam, kemudian setelah itu menyabuni tubuhnya (dari dada, perut, punggung, tangan, dan kakinya) dengan shower gel. Oh … sungguh indah pemandangan saat itu. Begitu sempurna tubuhnya di umurnya yang masih 35 tahun.

Hampir 10 menit lamanya aku berdiri termangu di depan pintu kamar mandi. Jantungku terus menerus berdegup dengan kencang-nya. Mr junior pun ikut nyut-nyuttan alias menegang pada tegangan yang paling tinggi.

Tiba-tiba mama memutar kran showernya, pertanda mandinya telah selesai. Aku dengan segera lari-lari berjinjit-jinjit menuju dapur. Sesampai di dapur, aku lupa apa tujuan awalku di dapur. Aku hanya membuka-buka lemari di dapur dan kulkas. Mengambil makanan apa saja yang aku lihat.

Tak lama kemudian mama keluar dari kamar mandi dengan santainya dan menuju ke dapur. Tidak tampak di raut wajahnya adanya perasaan kaget atau curiga. Sikap mama biasa-biasa saja sambil berjalan mendekatiku.

“Ricky, kamu mau bikin apa?” tanya mama santai.

“Oh ini … Ricky mau bikin breakfast dulu. Mama siap-siap aja dulu. Kita keluar setengah jam lagi.” jawabku.

“Iya sudah, sini mama yang bikinin, kamu mandi dulu deh. Biar ngga buang-buang waktu.” perintah mama.

Selama di kamar mandi, bayangan tubuh mama tadi yang sedang bugil sambil mandi tidak dapat dengan mudah lepas dari pikiranku. Aku dibikin pusing oleh pikiran jorok ini. Tetapi di dalam hati kecilku berharap agar hari-hari berikutnya aku masih bisa mengintipnya paling tidak sekali atau dua kali, dengan harapan mama mungkin lupa menutup kamar mandinya lagi.

Hari itu kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota pinggiran dan sempat mampir ke toko furniture untuk membeli sofa. Namun sayang sekali sofa yang kami pilih tersebut masih harus menunggu sekitar 2 minggu untuk bisa diantar ke rumah, karena kami memilih warna sofa yang sedang tidak ada stok barangnya. Jadi si toko tersebut harus membuat yang baru. Bagiku 2 minggu menunggu tidak ada masalah, karena ide untuk membeli sofa bukan datang dariku. Tidak ada sofa pun aku masih bisa bertahan hidup, karena pada dasarnya aku hanya tinggal sendirian saja.

Karena mama bakalan tinggal di Australia ini lebih dari 2 minggu, kami sempat mampir ke travel agent terdekat untuk mencari-cari info tentang holiday di Sydney, Gold Coast, Melbourne, dan Hobart (Tasmania). Namun hari itu kami masih belon memberikan keputusan akan berlibur di kota yang mana. Aku secara pribadi ingin sekali mengunjungi kota Sydney dan bermain-main di theme park di Gold Coast. Kalo mama antar Sydney atau Melbourne. Karena masih belum ada keputusan yang solid, kami tidak mem-booking dulu pake holiday tersebut.

Tak terasa kami seharian keluar rumah. Sesampai di rumah pukul 8 malam. Malam itu kami membeli makanan take away untuk makan malam kami. Terlalu letih untuk makan di restoran lagi, dan terlalu letih untuk memasak di apartment. Jadi membeli makanan take away adalah pilihan yang tepat. Mama membeli paket sushi kesukaannya, dan karena aku tidak doyan sushi, aku membeli paket bento yang berisi nasi, ayam terayaki, dan sayur mayur.

Kami makan sambil ngobrol santai. Kalo dengan mama ada saja yang bisa diobrolkan. Dia sepertinya banyak sekali bahan pembicaraan. Dari cerita kehidupannya, kehidupan papa, dan kehidupan teman-temannya. Termasuk kehidupanku sewaktu masih kecil.

Jam telah menunjukkan pukul 10 malam.

“Besok kita mau ke mana?” tanya mama.

“Hmm … terserah mama. Besok mau coba main golf ngga? Di sini banyak orang Indo pula yang datang untuk bermain golf di sini.” ajakku.

“Tapi mama ngga bisa maen golf. Papa tuh jago maen golf.” puji mama.

“Iya kita ke sana aja. Kita maen aja yang asal pukul aja … namanya Driving Range.” jawabku lagi.

“Ok.” jawab mama singkat.

Aku pun segera beranjak dari meja makan, dan membereskan piring-piring kotor. Mama pun beranjak dari meja makan, kemudian menuju laptopku.

“Mama mau emailin papa dulu yah. Moga-moga dia online. Jadi mama ngga perlu telp. Ricky mandi dulu abis cuci piring yah?!” ujar mama.

Selama aku mencuci piring, suasana menjadi sedikit hening. Mama terlalu berkonsentrasi dengan laptopku menulis cerita tentang kegiatan kita seharian lewat email. Pikiran jorokku mulai kambuh lagi di saat aku sedang asyik mencuci piring. Di dalam hati kecilku juga berharap agar malam ini mama lupa lagi menutup rapat pintu kamar mandinya. Pikiran jorok dan harapan yang tidak tau malu ini masih meracuniku di saat aku sedang mandi malam.

“Ma, Ricky dah selesai mandi. Mama mandi dulu deh.” suruhku.

“Iya, ntar rada tanggung.” jawab mama.

Aku pun duduk bersila di samping mama. Kulihat monitor laptopku. Mama sedang mengetik panjang email tentang kegiatan kami seharian. Dari makan pagi sampai makan malam. Tapi aksiku di pagi hari yang mengelus-elus paha mama jelas tidak diceritakan di email tersebut.

Setelah email itu dikirim, mama pun beranjak dari bean bag sofa dan langsung menuju kamar tidur untuk menata oleh-oleh yang dibelinya seharian dan juga mengambil pakaian tidur barunya sebelum mandi. Aku diam-diam mengamati gerak-gerik mama. Aku berpura-pura mondar-mandi di dapur untuk mencari camilan dan minuman ringan. Sesekali aku masuk ke kamar tidur dengan pura-pura mengambil buku atau mengambil apa aja. Berlagak pura-pura sibuk.

Setengah jam kemudian, mama keluar dari kamar tidur dan menuju kamar mandi. It is the moment of truth (inilah moment yang ditunggu-tunggu).

“Takkk … ” begitulah bunyi pintu kamar mandi. Suara pintu yang tidak begitu keras. Aku mencoba untuk tidak bertindak terlebih dahulu.

Setelah menunggu 5 menit lamanya, aku bangkit dari bean bag sofa-ku dan berjalan berjinjit-jinjit menuju ke kamar mandi untuk mengecek keadaan pintu kamar mandi.

Sesampai di depan kamar mandi, entah mengapa hatiku menjadi girang tak karuan. Sekali lagi, pintu kamar mandi tidak mama tutup dengan rapat. Aku mulai menaruh sedikit kecurigaan dengan kelakuan mama ini. Aku curiga apa ini dilakukan dengan sengaja olehnya. Karena pertama, pintu kamar mandi tidak rusak, dan bisa tertutup dengan rapat apabila memang mau ditutup. Kedua, tadi pagi sewaktu mama selesai mandi, semestinya dia sadar apabila pintu kamar mandi tidak tertutup rapat, bahkan terbuka 1.5 centimeter. Apabila dikata yang tadi pagi itu adalah suatu kesalahan, tidaklah mungkin akan mama lakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya.

Jantungku kembali lagi berdegup dengan kencang, namun kali ini perasaan takutku menjadi sedikit berkurang dibanding yang pagi hari. Karena diotakku telah ada asumsi bahwa ini adalah suatu kesengajaan dari mama. Sekali lagi aku sedang menikmati pemandangan indah yang kurang lebih mirip seperti yang pagi hari.

Ketika aku sedang asyik menonton pemandangan yang indah penuh nafsu itu, tiba-tiba kran shower tiba-tiba dimatikan olehnya. Inilah sinyal untuk segera kembali ke tempat asalku yang tadi. Aku berpura-pura memandangi layar monitor laptopku, namun otak bersihku masih belum sepenuhnya sadar. Aku berpura-pura membuka berita-berita di Internet.

Tidak sampai 5 menit sejak kran shower dimatikan, mama muncul dari kamar mandi. Aku berpura-pura sibuk.

Bau wangi yang tidak asing lagi semakin lama semakin mendekat. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dibelakang.

“Papa online ngga?” tanya mama.

Alamak … aku kaget sekali dan hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat di sampingku. Mama tiba-tiba bertekuk lutut di sampingku sambil melihat layar monitor laptopku dengan tubuhnya yang setengah basah hanya terbungkus handuk sambil memegang baju kotornya. Aku sampai sempat melongo dengan tingkah mama malam itu. Selama ini belum pernah aku melihat kondisi mama yang seperti ini sewaktu aku masih di Indonesia. Bisa dikatakan kondisi mama saat itu setengah terlanjang. Bahu dan dada atasnya yang putih mulus tampak terlihat dengan jelas.

Aku berpura-pura cool atau bisa dikatakan sok cool. Seperti cuek aja dengan kelakuan mama malam itu.

“Nup, papa ngga online.” jawabku santai.

“Ehmmm … apa belum pulang papa dari kantor?” tanya mama heran.

“Coba aja mama sms papa.” jawabku lagi.

“Iya dah gampang. Mama mau coba packing oleh-oleh lagi deh.” serunya sambil meninggalkan ruang tamu, kemudian menuju kamar.

Aku memutuskan bahwa asumsiku tidaklah salah. Ini pasti ada unsur kesengajaan mama. Aku semakin penasaran saja apa sebenarnya rencana dia.

Otakku semakin berperang, batinku tidak tenang. Positive dan negative tidaklah lagi seimbang. Otakku semakin menjurus ke negative thinking.

Satu jam kemudian, suasana di dalam rumah menjadi hening. Aku tidak mendengar suara gaduh dari kamar tidurku. Yang aku dengar hanya kipas angin laptopku saja. Kulihat jam sudah lewat pukul 12 malam. Aku berjalan pelan-pelan menuju ke kamar, kulihat mama sudah tidur di atas ranjang dengan lampu yang masih menyala.

Aku mematikan laptopku, kemudian sikat gigi, bersiap-siap untuk tidur pula. Besok adalah hari yang panjang lagi. Banyak kegiatan dan aktifitas yang ingin aku lakukan dengannya. Kumatikan lampu kamar tidur, dan kemudian naik ke ranjang dan cepat-cepat menutup selimut.

Aku susah sekali untuk tidur, sudah 15 menit aku membolak-balikkan badanku, mencari posisi yang enak untuk tidur. Otakku yang sebelumnya berpikiran jorok, sekarang menjadi nakal. Entah ada dorongan dari mana, tiba-tiba aku ingin sekali menjahili mama malam itu.

Kucoba memepetkan tubuhku dengan tubuhnya dibalik selimut. Posisi tidur mama sedang terlentang. Perlahan-lahan tangan kananku mendarat ke paha kirinya. Aku diam sejenak seperti patung. Setelah mengatur nafasku, aku mencoba mengelus-elus paha kirinya dengan lembut. Aku kembali teringat kata-kata mama apabila pahanya dielus-elus memberikan kesan yang berbeda enaknya. Aku menjadi penasaran dan ingin tahu perasaan berbeda yang seperti apakah yang dimaksud mama pagi itu.

Setelah lama aku elus-elus paha kirinya, tidak ada reaksi yang berarti darinya. Kucoba naik sedikit mendekati pangkal pahanya. Untung saja malam itu mama mengenakan celana boxer yang sama seperti kemarin malam. Jadi mengelus-elus daerah paha atasnya atau daerah pangkal pahanya tidaklah sulit. Hanya beberapa menit saja, aku merasakan ada reaksi dari tubuh mama. Kedua kakinya mulai sedikit bergerak-gerak. Seperti menahan geli yang nikmat.

Aku semakin berani dan mulai sedikit kurang ajar. Seakan-akan berasumsi bahwa ini adalah lampu hijau, aku semakin nekat saja jadinya. Mr junior kembali menjadi tegak. Nafasku menjadi terputus-putus. Telapak tanganku berusaha mencapai pangkal paha kirinya, dan setelah merasa sudah mentok di sana, kujulurkan jari tengahku untuk menyelinap di balik celana dalam mama.

Ketika sampai pada mulut kemaluannya atau mulut vaginanya, aku merasakan jelas bulu pubis atau istilahnya jembut mama sudah basah, dan hanya dengan hitungan detik tiba-tiba … “Plakkk” … sakit sekali.

“RICKY … kamu kok kurang ajar sekali ama mama.” bentak mama setelah menampar pipiku.

“Kamu ini belajar dari mana sampai kurang ajar seperti ini.” bentaknya lagi.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa melihat wajah mama yang sedang marah karena suasana kamar telah gelap. Aku takut bercampur malu. Tapi rasa takutku lebih banyak daripada rasa maluku.

“Ricky … jawab pertanyaan mama. Kamu kok bisa kurang ajar ama mama.” desak mamaku.

Aku mati kutu, benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Karena memang tidak ada yang mengajariku untuk berbuat kurang ajar seperti itu. Ingin menceritakan kepadanya bahwa aku sering melihatnya ‘bermesraan’ dengan papa, kayaknya sudah tidak mungkin. Karena mungkin itu akan membuatnya semakin marah dan malu. Aku menjadi pasrah saja dengan keadaan.

“Anu … anu … Ricky ngga tau mama.” jawabku pasrah.

“Kalo ngga tau kenapa kamu kurang ajar sekali dan nekat gitu.” tegas mama.

Aku menyesal sekali karena asumsiku ternyata salah total.

Akhirnya aku memilih untuk menyerah dan menceritakan apa yang sedang aku alami sewaktu masih di Indo, dan kelainan aneh yang aku alami dari pertama sampai akhir. Mama mendengarkan dengan seksama dan menderung untuk mendengarkan. Aku bercerita tentang diriku yang aneh dan kejadian-kejadian aneh yang aku alami ini dari A sampai Z cukup lama. Aku menafsir kira-kira 2 jam lamanya aku menceritakan semua isi hatiku ini kepadanya.

Yang mengherankan, justru setelah aku menceritakan semuanya ini, beban perasaan yang aku simpan bertahun-tahun ini langsung lenyap. Meskipun aku tahu bahwa yang mendengarkan ceritaku ini adalah mamaku sendiri.

Setelah ceritaku berakhir, mama hanya diam saja. Tidak ada omelan, ocehan, atau bentakan darinya lagi. Tingkah mama seolah-olah mengerti, memaklumi, dan seolah-olah seperti menemukan jawaban yang dia nanti-nantikan.

Mama kembali merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang sambil membelakangiku. Suasana kembali hening. Aku juga ikut berbaring di atas ranjang. Mataku masih belum terpejam, dan sedang merawang-rawan di atas langit-langit kamar yang gelap. Aku menghela nafas panjang. Kecewa, malu, lega, dan takut menjadi satu.

Kondisi mama pun juga sama, dia juga tidak bisa tidur. Meskipun dia sedang membelakangiku, namun tubuhnya tidak pernah diam. Seperti mau begini tidak enak, mau begitu tidak enak. Aku tidak tau apa yang sedang mama pikirkan, dan aku juga tidak berani bertanya macam-macam lagi. Aku memilih untuk diam dulu.

Tiba-tiba mama membalikkan badannya, dan tanpa aku duga tiba-tiba tangan kanan menyelinap di bawah celana tidurku dan langsung menggenggam penisku yang masih loyo dengan gampang dan cepatnya. Perlu diketahui bahwa aku sampai sekarang ini tidak pernah memakai celana dalam sewaktu tidur, karena alasan kenyamanan saja bila melepas celana dalam waktu tidur. Terang saja tidak sulit baginya untuk menemukan posisiku penisku di balik celana tidurku.

Terus terang aku kaget setengah mampus dengan gelagat mama malam itu. Aku tidak pernah menyangka sama sekali apa yang sedang dia lakukan sekarang. Dengan cepatnya dia menggenggam penisku.

“Mama … ” seruku kaget setengah protes.

“Sssttt … Ricky tenang aja. Anggap ini bonus.” bisik mama. Aku kembali diam, dan membiarkan apa rencana yang akan mama buat malam itu.

Penisku perlahan-lahan mulai mengeras, karena ternyata mama mengganti genggamannya dengan kocokan-kocokan lembut. Jantungku kembali berdegup kencang. Nikmat sekali kocokan-kocokan lembut dari tangannya. Sangat berbeda dengan kocokan tanganku sendiri sewaktu sedang ingin ber-onani.

“Ahhh … ” desahku. Tanpa bisa aku kontrol desahan ini tiba-tiba keluar dari mulutku.

Tak lama kemudian, mama menaruh air liur sedikit di telapak tangannya dan mengocok-kocok lagi penisku. Alamak … kali ini kocokan lebih nikmat dari yang tadi. Air liur mama membuat licin kocokan tangannya, membuatku semakin keenakan dibuatnya.

“Ahhh … ahhh …” desahku makin menjadi-jadi, penisku makin lama makin mengeras. Mama tidak berkomentar sama sekali, dan tetap saja dengan santainya mengocok-kocok penisku. Aku kemudian melepas total celana tidurku, agar memberikan keleluasaan dan ruang lebih lebar untuk memainkan irama kocokannya terhadap penisku.

Kira-kira lebih dari 10 menit, mama sibuk mengocok-kocok penisku, tetapi aku belum menunjukkan tanda-tanda ingin berejakulasi. Nafas mama terdengar sedikit capek.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku menampik tangan mama dari penisku dan aku bangkit menimpa tubuh mama.

“Ricky … mau apa kamu?” tanya mama heran.

“Pengen cobain ma.” jawabku singkat.

“Rickyyy … ini mama … mana bisa begitu. Ini ngga boleh. Tabu kan?!” protes mama.

“Tapi Ricky pengen banget ma.” jawabku lagi sambil berusaha menarik lepas celana boxer mama. Yang membuatku semakin berani, mama tidak berusaha menahan ulahku itu. Setelah aku tarik celana boxernya, tanpa pikir panjang lagi aku tarik pula celana dalamnya dengan secepat mungkin.

Kini mama sudah terlanjang bawah, dan aku pun juga terlanjang bawah. Kemudian kulebarkan selangkangannya agar aku bisa memasukkan penisku ke dalam memek mama. Tiba-tiba kedua tangan mama menutup lubang memeknya.

“Pijitin mama dulu dong?!” minta mama. Mendengar itu aku menjadi sedikit kecewa, meskipun sebenarnya mama telah memberikan lampu hijau kepadaku.

Tanpa banyak bicara, mama membalikkan badannya ke posisi telungkup, pertanda ingin dipijit dahulu. Akhirnya aku mengalah dan berusaha untuk bersabar dulu.

Kupijit leher belakangnya, kemudian turun menuju punggung atas dan turun lagi ke punggu bawah berirama. Aku duduk di atas pantat mama dengan penisku masih saja tegang. Sambil memijitnya, aku juga berupaya menggesek-gesek penisku di celah-celah pantat mama. Memberikan sensasi yang nikmat bagiku. Dan ternyata mama sangat menyukai pijitanku.

“Hmmm …” dengung mama pertanda dia sangat menikmati pijitanku ini.

Tak lama kemudian dia bangkit dari posisinya yang telungkup tadi. Aku mengira dia mau menyuruhku mengakhiri pijitannya. Tapi diluar dugaan, dia melepas baju tidurnya bersama BH-nya tanpa berucap satu kata pun. Aku dapat melihat tubuh bugilnya di balik remang-remang. Sungguh indah tubuh mamaku ini, kataku dalam hati.

Mama akhirnya kembali lagi dengan posisi telungkupnya, berharap untuk kembali dipijit lagi. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku kembali ke pekerjaanku semula.

Kupijit lagi leher belakangnya, kemudian turun menuju punggung atas dan turun lagi ke punggu bawah berirama. Aku juga masih terus menggesek-gesekkan penisku di celah-celah pantat mama. Kudengar lagi dengungan nikmat darinya.

Aku sekarang menjadi berani. Kucoba mengarahkan ujung penisku di celah dalam pantatnya, berharap aku bisa menemukan bibir memeknya. Mama tidak protes dengan tingkahku itu, dan masih tetap diam. Sambil tetap memijit-mijit punggungnya, aku mencoba mendorong-dorong pinggulku, berharap ujung penisku mampu menembus masuk ke bibir memeknya.

Usahaku ini ternyata tidak terlalu sulit. Karena ternyata bibir memek mama telah menyambut kedatangan penisku dengan kondisinya yang telah basah dan lembab. Aku berhasil menancapkan penisku sedalam 2 centi ke dalam liang memeknya.

“Ahhh … Ricky … kok dimasukkin?” tanya mama pura-pura protes. Aku memilih untuk berpura-pura tidak mendengarnya, dan melanjutkan misiku lagi.

Kali ini aku dorong batang penisku dengan paksa, agar terbenam semuanya di dalam memek mama.

“Ohhh …” guman mama.

Memek mama terasa basah sekali, lembab, dan licin. Kini aku menghentikan pijitanku, dan kedua telapak tanganku aku gunakan untuk menjadi tumpuan tubuhku agar tidak menindih tubuh mama. Dengan posisinya yang masih telungkup, aku setubuhi mamaku.

“Ceplak … ceplak …” bunyi seperti tamparan datang dari pantat mama karena aku menyetubuhinya dari belakang dengan posisinya yang masih telungkup.

“Rickyyyyy … ahh … ahh … geli sayang …” desahan mama pun makin lama makin menjadi-jadi.

Kukocok terus liang memek mama non-stop. Mama seperti cacing kepanasan, dia remas semua yang ada disekitarnya. Korban yang paling kasihan adalah si bantal, karena dengan posisinya yang telungkup, mama secara praktis nyaris tidak mampu bergerak lebih banyak, sepertinya pasrah menerima hantaman-hantaman nikmat dari batang penisku di dalam liang memeknya.

Remasan tangannya terhadap si bantal semakin menguat, dan tiba-tiba tubuh mama mengejang. Sesaat kemudian dia menutup mukanya dengan bantal sambil mengerang keras.

“Errghhhhhh …” erang mama di balik bantal dengan kerasnya. Mama berusaha meredam erangannya dibalik bantal. Aku menghentikan goyangan pinggulku karena tubuh mama dalam kondisi yang menegang dari biasanya, dan memberikan waktu untuknya mengerang sepuas-puasnya.

“Huh … huh … huh …” nafas mama mulai tidak beraturan seperti baru saja berlari sejauh 2 km tanpa berhenti.

Setelah nafasnya mulai terlihat sedikit stabil, mama membalikkan tubuhnya menjadi terlentang.

“Ricky … kamu bener-bener anak mama yang paling nakal. Pertama berani kurang ajar ama mama, sekarang berani-beraninya gituin mama.” kata mama sambil melebarkan selangkangannya, membuka pintu agar penisku bisa masuk kembali.

Mendengar ucapan mama ini, aku tersenyum di dalam keremangan kamar. Kini kamarku penuh dengan hawa nafsu birahi milikku dan mama. Aku sempat berpikir betapa nikmatnya melakukan perbuatan tabu ini bersama mamaku sendiri.

Aku melepaskan baju tidurku yang masih melekat di tubuhku dan kemudian tanpa basa-basi lagi, aku kembali menembak masuk batang penisku ke dalam memek mama lagi.

“Slep …” bunyi penis memasuki liang memek yang sedang pada posisi basah 100%.

Kembali aku menyetubuhi mamaku lagi dengan posisi tubuhnya yang terlentang dengan membuka selangkangannya selebar-lebarnya.

“Ahhh … ahhh … sayang … ” desah mama penuh nafsu.

Setiap kata desahan yang keluar dari mulutnya seperti memberikan aliran listrik yang mengalir di tubuhku. Memberikan dentuman-dentuman nikmat disekujur tubuhku.

Tiba-tiba tubuhku sedikit bergejolak dan penisku seakan-akan mengembang sedikit. Inilah pertanda bahwa permainan tabu ini akan segera berakhir. Aku semakin mempercepat goyanganku dan gesekan penisku semakin aku percepat. Kelicinan liang memek mama sangat membantu proses percepatan gesekan dari penisku, dan memberikan sensasi yang makin lama semakin nikmat.

“Ricky sayang … kamu mau datang yah?” tanya mama.

“Iya … mama kok bisa tau?” tanyaku heran.

“Ricky … ini mamamu … mama tau segalanya tentang anaknya … ” jawab mama sambil terus mendesah.

“Ehm … ” responku.

Aku sudah akan mencapai klimaks. Aku tau ini tidak akan lama lagi.

“Ricky boleh keluar di dalam?” tanyaku.

“Di mana pun yang kamu mau sayang … ” jawab mama mesra.

Aku menjadi semakin gila rasanya. Kecepatan gesekan penisku semakin aku tambah. Suara desahan mama pun semakin membabi buta dan tidak terkontrol lagi. Tubuhnya kini kembali menegang seperti sebelumnya.

“Ricky … mama mau dapet sayang … ahhh ahhh” kata mama yang semakin kacau.

Aku merasa telah mencapai 80% mendekati klimaks, dan aku merasa pula sepertinya sebentar lagi mama akan meletup sebelum aku mencari klimaks.

“Ahhh … ahhh … Ricky … udah mauu keluarrrr belonnn?” tanya mama seperti cacing kepanasan.

“Ntar … ntar lagi …” jawabku dengan nafasku yang mulai terputus-putus.

Baru saja aku selesai bicara, tiba-tiba kedua tangan mama mendarat di dadaku dan kedua ibu jarinya mengosok lembut puting susuku.

Ulah mama ini memberikan kejutan mendadak terhadap tubuhku. Rasa geli dan nikmat yang luar biasa sewaktu puting susuku digosok-gosok lembut oleh kedua ibu jarinya, membuatku menjadi kalap dan tidak terkontrol. Seakan-akan dia tau kelemahanku yang mana aku tidak pernah menyadari sejak dulu. Di mana yang tadi masih 80% menuju ejakulasi tiba-tiba meluncur dasyat menjadi 100% akibat ulah mama ini. Aku tidak lagi mampu menahan kedasyatan senjata rahasianya yang baru saja mama keluarkan. Aku hentikan gesekan penisku dan menekan sepenuhnya batang penisku ke dalam liang memeknya tanpa ada sisa 1 milimeter pun.

“Ahhh … Ricky keluarrrr … ahhh ahhh … ” jeritku tak terkontrol lagi sambil memuntahkan semua air maniku di dalam liang memek mama tanpa ampun sambil memeluk tubuh mamaku.

Mama pun juga ikut mengerang, dan lebih dasyat dari yang pertama. Kedua kakinya mengapit pantatku dan menekannya dengan sekuat tenaga seperti berharap agar semua batang penisku tertanam dalam dalam dan memuntahkan semua isinya di dalam liang memeknya.

Setelah erangan kami mulai mereda, kami berdua masih bernafas dengan ngos-ngosan. Seperti baru saja lari maraton jarak jauh.

Dengan nafas yang masih terputus-putus, aku bertanya kepadanya bahwa senjata rahasia yang dia gunakan sebelumnya mampu menaklukkanku dalam sekejab. Dia mengatakan bahwa daerah itu adalah titik kelemahan papa dan dia sebenarnya tidak menyangka apabila daerah itu adalah titik kelemahanku juga. Like father like son begitulah candanya.

Tubuh kami masih saling berpelukan, dan batang penisku masih menancap di dalam memek mama. Aku masih belum ingin menariknya, karena aku suka kehangatan liang memeknya yang kini penuh dengan air maniku sendiri. Aku menghabiskan sisa-sisa waktu yang ada dengan banyak bertanya.

Aku pun bertanya apakah ngga apa-apa aku keluar atau kata lain ejakulasi di dalam memeknya. Mama mengatakan tidak ada masalah, karena dia sudah memakai sistem kontrasepsi rutin.

Aku juga meminta maaf kepadanya karena aku khilaf dan tidak mampu menahan kekuatan nafsu birahiku terhadapnya. Namun mama mengatakan tidak pernah dipikirkan lagi, karena dia mengerti kalo aku sedang menuju masa puber. Tapi dia sempat bercanda dengan mengatakan kepadaku bukan karena alasan puberitas yang harus disalahkan sehingga harus menyetubuhi mamanya sendiri. Aku sedikit malu mendengar pernyataan ini. Mama memintaku berjanji untuk tidak mengulangi perbuataan tabu ini.

Namun dalam singkat cerita saja, selama mama menghabiskan liburannya di sini, aku selalu saja memiliki akal yang mampu mendorong hatinya untuk aku setubuhi lagi. Aku kurang lebih sudah mengerti apa yang bisa membuatnya terasangsan atau horny. Aku sering menawarkan diri untuk memijitnya setiap malam dan bangun tidur, dan tawaran ini tidak pernah ditolak olehnya. Strategy yang aku gunakan selalu sama saja, dan sering berhasil dengan ampuh.

Pernah sekali di suatu malam, sewaktu mama merasa letih dan tidak berminat melayaniku, dimana aku sangat bandel dan berkesan memaksa, akhirnya mama pun menyerah dan pasrah melayani nafsu birahiku karena tidak tega melihatku memohon-mohon padanya untuk dipuasi. Di saat itu juga dia langsung menyerang daerah paling sensitif dan daerah kelemahanku, hanya sekitar kurang dari 2 menit aku sudah mencapai ejakulasiku.

Selama 3 minggu liburan mama di sini mirip seperti sedang berbulan madu. Semuanya serba bersama dengannya. Jalan-jalan bersama, liburan ke Sydney dan Melbourne bersama, mandi bersama, tidur bersama, dan bersama-sama melampiaskan nafsu birahi masing-masing.

Saat ini sudah 3 bulan berlalu semenjak mama kembali ke Jakarta. Aku sudah tidak sabar menunggu libur kuliah. Aku menjadi kecanduan dengan apa yang dinamakan hubungan suami-istri. Namun aku hanya ingin melakukannya dengan mamaku sendiri. Mungkin di Jakarta nanti, tidak terlalu susah bagiku untuk meminta jatah lagi darinya, karena tidak ada yang akan menaruh rasa curiga terhadap kami, karena kami adalah ibu dan anak.

Segini dulu cerita dariku. Aku tidak akan tersinggung bila para pembaca cerita panas di sini menganggap aku aneh atau sakit mental, karena kelainan yang aku alami ini bukan karena unsur kesengajaan. Tapi aku yakin di luar sana banyak individu-individu yang memiliki kelainan yang sama denganku.

Cerita Sex – Nikmatnya Permainan Anak Sendiri..

Namaku sebut saja Indah seorang keturunan Tionghoa yang berasal dari Jawa Barat, usiaku saat ini 38 tahun, aku sudah berkeluarga, ketika umurku 16 tahun orangtuaku menikahkan aku dengan seorang duda pengusaha terkemuka dari Jawa Barat.

Dari pernikahanku itu aku dikaruniai 2 orang anak, anak pertama seorang perempuan berusia 21 tahun bernama Windi yang saat ini ia masih mengikuti study di Amerika Serikat sedangkan adiknya bernama David saat ini usianya sudah 17 tahun, anakku yang kedua ini mentalnya terbelakang alias idiot dan ironisnya ketika aku melahirkannya, aku mengalami pendarahan hebat sampai rahimku harus diangkat sehingga saat ini aku sudah tidak bisa lagi mempunyai anak.

Karena keadaanku yang sudah tidak bisa mendapatkan anak, maka 3 tahun yang lalu suamiku menikah kembali, dia menginginkan keturunan anak laki-laki normal dan tidak idiot. Aku hanya bisa menerima dan pasrah karena aku sangat menghormati suamiku, banyak teman-teman dan keluargaku yang menyarankanku untuk bercerai dengan suamiku dan menyarankan untuk mencari suami lagi. Memang kalau dipikir sangatlah gampang untukku mendapatkan pasangan kembali.

Aku suka merawat tubuhku sehingga kulit dan tubuhku masih terlihat seksi belum lagi ditopang oleh ukuran dadaku yang 38 membuat banyak pemuda melirik kalau aku lewat. Tapi itu semua tidaklah berarti kalau aku mandul, toh suamiku mencintai diriku biarlah dia melakukan apa yang ia inginkan karena aku sadar aku tidak bisa memberikan anak lagi kepadanya.

Pada awal-awal tahun pernikahannya dengan istri keduanya ia masih suka rutin mengunjungiku, tapi lama kelamaan saat ini ia jadi jarang pulang. Dia lebih sering menginap di rumah istri mudanya, dia hanya sesekali pulang untuk memberi uang untuk kebutuhan rumah tangga bahkan ia sudah sangat jarang menggauli aku lagi.

Kemudian peristiwa itu terjadi:

Karena di rumah hanya ada aku dan David maka aku lebih sering menemani tidurnya, meskipun dia idiot tapi dia anak yang sangat kusayangi, dan sudah menjadi kebiasaannya sedari kecil apabila mau tidur ia suka mempermainkan puting susuku sampai akhirnya ia tidur terlelap. Toh aku pikir dia anakku dan aku sadar akan keterbelakangan mentalnya meskipun umurnya sudah remaja tapi mentalnya masih seperti anak kecil.

Malam itu seperti biasa sebelum tidur ia memainkan puting susuku, tapi entah malam itu suasananya sangat berbeda, mungkin karena hampir empat bulan lebih suamiku tidak menggauliku, darahku berdesir kencang ketika jarinya mempermainkan puting susuku dan sesekali meremas payudaraku yang berukuran lumayan besar, kupandangi wajahnya yang matanya terpejam terkantuk-kantuk,..

“Dia anakku.” batinku berusaha menyingkirkan nafsu birahiku, kucoba atur nafasku dan memejamkan mataku agar perasaan itu hilang,.. tapi tiba-tiba ..

“Aaah..!!” aku meleguh kecil ketika David tiba-tiba mengulum putingku dan menyedot seakan-akan sedang menyusu. Kugigit bibirku dan terus kupandangi wajah polos anakku yang tidak mengetahui ibunya sedang dilanda birahi.

“Meskipun idiot tapi anakku ini kelihatan ganteng seperti papanya” aku membatin.

“Uuhh..” aku kembali mendesah ketika ia dengan cepat menyedot putingku. Aku semakin tidak tahan, memekku terasa berdenyut kencang. Rangsangan ini begitu hebat, aku semakin tidak tahan, rangsangan birahi ini betul-betul menyiksaku.

Aku menggigit bibirku, entah kenapa saat itu aku ingin memekku disentuh.

Akhirnya dengan pelan-pelan kususupkan tanganku sendiri ke dalam celana dalamku, memekku terasa basah, pelan-pelan kuelus dengan lembut klitorisku.

“Uhmm terasa enak sekali” kuelus-elus klitorisku sambil sesekali kumasukkan jariku ke lubang memekku, semakin lama aku semakin tidak tahan, aku ingin sekali ada k0ntol yang masuk ke dalam memekku, memekku betul-betul terasa sangat basah, kulirik David ia sudah melepaskan hisapannya dan sudah tidur terlelap di sebelahku. Kukecup keningnya dengan lembut.

“Aku harus sabar menghadapi semua ini” aku batinku berusaha menyabarkan diriku.

Ketika aku ingin menyelimuti dirinya secara tidak sengaja aku melirik ke arah celana pendeknya, terlihat kemaluannya tercetak di celana pendeknya, melihat pemandangan itu aku semakin meneguk ludah, kupandangi lagi wajah anakku yang semakin terlihat mirip dengan papanya, kemudian kupandangi lagi kemaluannya, aku semakin ragu.

Tapi entah setan darimana, tiba-tiba aku mempunyai keberanian. Perlahan-lahan kupelorotkan celana pendeknya, dan dengan hati-hati kubuka pula celana dalamnya. Aku melotot ketika melihat k0ntolnya meskipun belum berdiri tapi terlihat besar bahkan terlihat lebih besar dari papanya. Gairahku semakin memucak aku semakin tidak tahan melihat pemandangan didepanku. Air liurku sudah keluar karena sangat ingin sekali merasakan kenikmatan.

Kemudian dengan gemetaran kugenggam batang k0ntol itu, pelan-pelan kukocok k0ntol itu dengan tanganku dan perlahan-lahan pula batang k0ntol itu semakin tegang berdiri. Mataku semakin melotot melihat ukurannya semakin membesar dan kemudian tanpa ragu lagi kudekatkan ke mulutku. Kujilati batang k0ntol itu sampai basah dan kemudian kubuka mulutku dan dengan penuh perasaan kukulum k0ntol yang sudah membesar itu.

“Ehmm k0ntol ini enak banget..” aku menggumam.

K0ntolnya terasa penuh di mulutku, kumainkan k0ntol David dengan penuh perasaan. Aku semakin gemas melihat k0ntolnya yang berdiri tegak dengan gagahnya. Aku semakin meneguk ludah, memekku semakin berdenyut kencang. Aku semakin gelap mata memekku betul-betul menjerit ingin mencoba k0ntol itu, ku tak peduli lagi dengan keadaan bahwa ia anakku.

Maka dengan segera kulepaskan semua pakaian yang ada ditubuhku, kudekati kembali tubuh anakku lalu kugenggam batang k0ntolnya agar berdiri tegak dan dengan posisi jongkok kususupkan k0ntol itu ke dalam memekku, memekku terasa merekah lebar ketika k0ntol itu masuk, dengan cepat kurasakan sensasi yang nikmat.

“Aah.. enak.. ouw fuck!” akupun mendesah merasakan k0ntol yang besar itu menusuk memekku, kugoyangkan pinggul dan pantatku agar k0ntolnya semakin terasa. Aku semakin terhanyut dengan permainanku sendiri sampai aku tidak sadar kalau David sudah terbangun dan melototiku, tampangnya menyiratkan sejuta pertanyaan.

Ia sangat tidak mengerti akan apa yang ibunya lakukan terhadapnya.

“Ah.. enak.. uhg.. memekku enak.. memekku enak banget” kata-kata kotorku tanpa sadar keluar dari mulutku.

Kuremas kedua payudaraku sendiri sambil tubuhku kubawa naik turun mengocok k0ntol David dengan memekku. Kupejamkan mataku meresapi segala kenikmatan yang kuraih malam ini, kulihat David di bawahku tampak wajahnya sangat sayu dan sesekali memejamkan matanya dengan cepat. Aku mengerti kalau iapun merasakan nikmat seperti yang kurasakan saat ini. Kedua tangannya mengepal seperti menahan sesuatu, ditengah kenikmatanku aku tersenyum dan kukecup bibirnya dengan memeluknya.

“Uh David anak mami, enak sayang? Maaf ya Mami mau main kuda-kudaan sama kamu sayang, nggak pa pa kan?” ujarku kepadanya.

Tampak David bingung akan berkata apa, mungkin karena kaget ia diperlakukan seperti itu oleh mamanya, sampai akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Akupun semakin mempercepat goyanganku, k0ntolnya terasa cepat keluar masuk, iapun semakin meleguh tidak karuan. Kuraih kedua tangannya kusuruh ia meremasi kedua payudaraku sementara aku tidak menurunkan frekwensi goyanganku.

“Aduh sayang.. enak banget k0ntol kamu.. ah .. ah .. memekku jadi nikmat” kata-kata kotorku semakin tidak terkendali.

Tanganku mencengkeram bahu David sementara di bawah pantatku semakin mengeluarkan bunyi ketika bersentuhan dengan pahanya yang sudah mulai basah oleh cairan nikmat yang meleleh dari dalam memekku. Tidak ada kata-kata yang keluar dari dalam mulut David kecuali erangan kenikmatan, bahkan kedua tangannya semakin memperkeras remasannya di payudaraku, akupun semakin semangat menggenjot k0ntolnya di dalam memekku.

“Aduh sayang k0ntol kamu enak banget sayang, ah.. ah.. uh.. enak.. enak”

Tiba-tiba aku merasakan kenikmatan yang sudah sampai diujung, aku akan orgasme. Kuputar-putar pantatku secara liar sementara kedua tangan David sudah tidak lagi meremasi payudaraku. Kedua tangannya mengepal seakan-akan iapun menahan kenikmatan yang amat sangat.

Tak lama kemudian tiba-tiba ia menjerit keras dan kurasakan k0ntolnya menyemburkan spermanya di dalam memekku. Hangatnya cairan spermanya membuatku semakin cepat menggoyangkan pinggul dan pantatku, sampai akhirnya..

“Aduh ah ah ampun enak banget.. enak memekku enak.. enak!” aku menjerit setinggi langit.

Kepalaku kutengadahkan keatas, payudaraku terasa berguncang hebat, dan pinggulku menghentak-hentak, betul-betul orgasme hebat yang aku rasakan.

“David senang sayang main kuda-kudaan sama mami?” tanyaku ketika nafasnya sudah mulai teratur.

“I.. iya Mam” jawabnya dengan terbata-bata.

“David memang anak yang mami sayang, tapi ingat David nggak boleh ngasih tahu ke papa ya kalau main kuda-kudaan sama Mami, awas nanti dihukum sama papa” kucoba mengingatkannya agar tidak memberitahukan kejadian ini kepada suamiku.

Ketika ia mendengar kata dihukum terlihat raut wajahnya yang takut, anggukan kepalanya membuatku sedikit tenang.

Malam itu sampai pagi tiba, kuajarkan sedikit demi sedikit mengenai posisi seks, entah berapa banyak aku mengalami orgasme ketika bercinta dengannya. Bahkan ketika pembantuku sudah menyirami kebun, di kamar atas David masih menggenjot k0ntolnya di dalam memekku. Sampai akhirnya ia menyemburkan spermanya kembali di dalam memekku, hari itu aku betul-betul puas. Rasa yang selama ini kupendam akhirnya terlampiaskan.

Semenjak saat itu, David selalu menjadi pelipur laraku saat aku butuh seks. Keterbelakangan mentalnya sangat menguntungkan bagiku karena David tidak pernah menceritakan kejadian ini kepada siapapun. Mungkin karena dipikirannya hal tersebut sudah lumrah.

Hidupku pun semakin menggila aku kemudian bergabung di komunitas seks teman arisanku. Ia memperkenalkanku ke dunia party seks dan dunia gigolo bahkan temanku itupun pernah turut merasakan hebatnya k0ntol David anakku yang mungkin akan aku ceritakan lain waktu, dan setelah kupikir mempunyai anak yang idiot ternyata tidak selamanya merugikan.

Cerita Sex – Nemenin Kakak Ku Yang Cantik..

Ridwan sedang asyik bermain didekat rumahnya, anak smp kelas 1 itu tampak gembira sekali dihari libur itu dia bisa bermain bersama temannya. Ridwan memilih bermain diluar karena dirumahnya memang sepi sekali.

Sampai siang itu anak smp itu bermain bersama temannya, lalu tampak seseorang datang menemuinya.

“Dek, ayo pulang…”,

“Ada apa kak? Ridwan masih main…”, ternyata itu kak Indri, kakak kandung Ridwan.

“Udah sini, ayo pulang…” tangan Ridwan ditarik, kini anak smp itu sudah dalam perjalanan kerumahnya.

“Napa sih kak?”,

“Temeninkakak, dirumah sepi tau…”,

“Udah gede masih takut ya sendiri dirumah?”,

“udah, kamu ini….” Ridwan dielus kepalanya,

kak Indrimemang cewek yg cukup cantik, Ridwan jarang bersama kakaknya itu kecuali memang sedang liburan, karena Kak Indrisibuk kuliah diluar kota.

“Mama papa kemana sih kak?” Sesaat setelah masuk rumah Ridwan sudah ingin keluar lagi, “Hei, kemana? Udah kamu dirumah aja”,

“Ngapain dirumah kak?”,

“Main apa gitu, pokoknya gak boleh ninggalin kakak” Lalu kak Indrimasuk kekamarnya, Ridwan masih bingung harus melakukan apa dirumah.

Ridwan lalu pergi kedapur, dan memilih untuk makan siang. Beberapa menit setelah itu ia menemui kak Indridikamarnya. Tampak kak Indrisedang tidur dikasurnya, sambil memeluk boneka pisang. Ridwan sempat terdiam, anak smp itu baru tau kakaknya itu cukup mulus pahanya.

Karena hanya memakai Tanktop dan hotpants saja, Ridwan bisa melihat kemolekan tubuh kakaknya itu. Ridwan lalu melihat beberapa buku didekat kasur itu, tampaknya buku kuliah kak Indri. Saat ia buka, tampak tulisan kak Indri cukup rapi dan bagus, makin dibuka terus, tulisan didalam buku itu tampak bukan hanya berisi pelajaran ataupun tugas kuliah saja. Ridwan menemukan ada cerita dibagian belakang buku itu. Saat dibaca, ternyata cerita itu adalah cerita SEX, bukan main kagetnya anak smp itu.

Setelah melihat kakaknya masih tidur, Ridwan memilih membaca cerita SEX itu lebih lanjut. Ridwan mengetahui cerita itu memang asing baginya, namun entah kenapa ia sangat tertarik. Cerita seks dibuku kak Indri menceritakan bagaimana seorang cewek sedang disetubuhi oleh laki laki idamannya.

Beberapa menit itu Ridwan terus membaca, dan tentu bocah smp itu terlihat melongo. Ridwan merasa K0ntolnya itu tegak didalam celananya, jarang jarang anak smp bisa merasakan sensasi itu. Setelah selesai membaca, Ridwan tau bagaimana laki laki menyetubuhi perempuan. Setelah itu ia mengembalikan buku itu ketempatnya, lalu mencoba mendekati kak Indri. Ridwan tertarik dengan tubuh kakaknya itu, apalagi setelah membaca cerita sex.

“Kak, bangun kak, udah ditemenin malah tidur”, anak smp itu memegang paha kakaknya yg mulus lalu digoyang pelan pelan.

“hhhmm, aku ngantuk dek”,

“Ya sudah adek tinggal keluar”,

“Jangan, huuh, kamu disini aja…”,

“Kalau gitu Ridwan tidur bareng kak Indriaja…”,

“Ya udah sana…hmmm” Kak Indrimasih menutup matanya sambil berbicara kepada Ridwan.

Ridwan lalu melompat kekasur itu, kini ia ada disebelah kak Indriyg sibuk tidur. Ridwan yg sudah terangsang segera memeluk kakaknya dari belakang.

“hmm..adek…ngapain sih?”,

“udah, tidur aja kak…” Kak Indritenang tenang saja, karena memang yg memeluknya itu adeknya sendiri, tapi ia tak tau adeknya itu sudah terangsang.

Tangan Ridwan memeluk kak Indri, Ridwan merasa tubuh kakaknya itu cukup mempesona, anak smp itu mencium wangi tubuh kak Indri. K0ntolnya yg tegak itu ditubrukan kepunggung kakaknya sendiri. Beberapa menit itu tak terdengar suara, Ridwan sedang terdiam memeluk kakaknya yg cantik dan mulus itu. Ridwan meraih Boneka pisang yg dipeluk kak Indridan melemparnya keluar kasur.

Kak Indriyg masih tertidur itu tentu terganggu, cewek itu lalu berputar dan menghadap Ridwan. Sekarang wajah cantik kak Indribisa dipandangi sepuasnya oleh Ridwan. Hembusan nafasnya membuat Ridwan makin terangsang. Tangan anak smp itu lalu perlahan turun, dankini berada dipaha mulus kak Indri. Ridwan lalu mengelus elus paha itu, sambil menatap kearaha buah dada kak Indriyg tertutup tanktop putih. Anak smp itu geleng geleng merasakan sensasi yg belum pernah ia rasakan.

“Deek…hmmm…nakal ya kamu..hmm” Kak Indriyg masih menutup matanya itu lalu merangkul adiknya seperti boneka pisang tadi.

Sontak Ridwan kaget, Buah dada kakaknya itu kini ada tepat didepan wajahnya. K0ntol anak smp itu berdenyut denyut diatas selangkangan kak Indriyg mengangkat kakinya memeluk Ridwan.

Buah dada kak Indritdk dibiarkan saja, Ridwan menempel kan wajahnya kebenda bundar kenyal itu, anak smp itu kini menikmati keindahan buah dada kakaknya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, membuat buah dada kak Indribergerak mengelus wajah Ridwan. Tangan anak smp itu lalu berpindah, Ridwan memberanikan diri memegang buah dada kak Indridengan tangannya.

Kakaknya itu memang tdk bereaksi,tapi tubuhnya tdk bisa bohong, nafas kak Indriterasa makin cepat memanaskan adegan itu. Ridwan memasukkan tangannya ketanktop kak Indri, lalu meraih kedua buah dada kenyal itu. Ridwan merasakan betapa kenyal dan mulus buah dada kakaknya itu.

Ridwan tiba tiba merasakan ada yg ingin keluar dari k0ntolnya, anak smp itu lalu meninggalkan kakaknya dan keluar dari kamar. Ridwan lalu menuju kamar mandi, dan segera membuka celananya, cruut cruut, K0ntol anak smp itu menumpahkan cairan putih. Ridwan baru pertama kali merasakan sensasi yg belum pernah dialaminya. Setelah itu ia memilih kembali menemui kak Indriyg tidur dikamarnya. Namun setelah ia tiba dikamar itu, ia melihat kak Indrisedang duduk dengan cantiknya.

“Dek, hayo dari mana?” Ridwan cukup bingung, entah bagaimana ia harus menjelaskan.

“Anu kak, dari kamar mandi…”,

“Tadi kamu apain toketku? Hmmm?” Tentu Ridwan kaget setengah mati mendengar ucapan kakaknya itu.

“Aduh, itu, anu…maaf kak..aku..”,

“heheh, pinter juga kamu ya dek, sini sini” Ridwan lalu mendekati kakaknya, anak smp itu menunduk malu.

Ridwan jadi kaget lagi setelah tiba tiba kak Indrimembuka celananya, dan meraih k0ntolnya yg masih basah.

“Kak, aduh, kok…”,

“Udah basah aja kamu dek, karena tadi kamu udah nakal, kakak mau kasih hukuman…ammmfg” Kak Indrimalah memasukkan k0ntol adiknya itu kemulutnya! Tentu Ridwan cukup kaget, entah kenapa k0ntolnya tegak lagi, anak smp itu merasakan lidah kak Indrisedang asyik menjilati k0ntol kecilnya.

“aauuh, kak, burungku kan kotor, kok di emut? Uuuh”,

“mmm…mmm…mmm…Diem dek…mmm…hukumannya enak kan? mmm..mmm” Kepala kak Indribergerak naik turun, cewek itu mengulum k0ntol adiknya sendiri seperti sudah terbiasa.

Beberapa menit itu Ridwan hanya berdiri, ia merem melek merasakan k0ntolnya diemut kakaknya sendiri yg memang mempesona. cerita sex

Cret creet creett, Ridwan lagi lagi mengeluarkan cairan putih, namun sekarang didalam mulut kakaknya sendiri.

“mmm…gleegh…mmm…udah keluar aja kamu dek”,

“Kok ditelan kak? Kan itu…”,

“Enak loh, kan kakak udah sering nelan cairan itu, hehe” Ridwan baru tau kakaknya itu sering menikmati k0ntol laki laki.

Kak Indrilalu melepas semua pakaiannya, tentu Ridwan makin kaget.

“Kak mau mandi ya?”,

“Ndak lah dek, kakak udah gak tahan, kamu sih tadi pake mainin toket aku…” Tampak Buah dada kak Indriyg dihiasi Puting coklat itu membuat Ridwan menelan ludah.

Kak Indriyg mulus nan cantik itu kini naik keatas kasur sambil telanjang, K0ntol anak smp itu sudah berdiri lagi. Ridwan lalu mendekati kak Indri, tampak kakaknya itu sedang mengelus elus bibir vaginanya dengan tangan mulus itu.

“Kak, lagi ngapain sih?”,

“vaginaku gatel, gara gara aksi kamu… Eh sini dek, kamu elus vagina ku ya…” Tangan anak smp itu ditarik, lalu jari jari kecilnya kini menyentuh bibir vagina kak Indri.

Cewek sange itu lalu menggerakkan jari jari tangan Ridwan, dan mengelus vaginanya. Ridwan masih melongo, melihat vagina kakaknya sendiri mulai terbuka.

“Dek, mmmf…oooh…mainin sendiri gih…uuuf…masak gak bisa…” Ridwan lalu dengan sendirinya memasukkan dua jarinya kedalam lubang senggama itu, ia merasakan hangat dan basahnya lubang itu.

Ia gerakkan jarinya dengan cepat,

“Aaaahn…mmmf…geli dek…mmmf” Tangan kanan Ridwan memang sibuk mengobok obok vagina kakaknya, tangan kirinya segera meraih buah dada kenyal yg menggemaskan itu.

“Kak, kakak kok cantik banget sih, hehe” Ridwan lalu meremas buah dada kakaknya itu, ia sangat senang sekarang bisa bersama kakaknya diadegan panas itu.

“mmm…oooh…dek, kamu lepas pakaian kamu cepet…” Ridwan lalu secepat kilat melepas pakaian, Kini anak smp itu sudah telanjang, ia segera mendekati kakaknya itu.

“Kita mau main apa nih kak?” Ridwan sudah tau apa yg akan terjadi, ia sudah siap menerapkan apa yg sudah ia baca dicerita seks dibuku kak Indri. Ridwan lalu naik keatas tubuh kakaknya yg mulus itu,

“Dasar kamu dek, untung kakakmu ini udah pengalaman, Kamu musti puasin kakak ya…ummm” Kini adik kakak itu sedang bercumbu, mereka berciuman layaknya tak menghiraukan status.

Ridwan merasakan lidah kakaknya itu bergerak, tentu ia segera membalas.

Entah bagaimana Ridwan dan kakaknya sekarang makin hebat menikmati sensasi itu.

“mmm…cup…mmm…kontol kamu dek…mmm…”,

“mm…maaf kak…hehe…mmm..cup” K0ntol anak smp itu berdenyut denyut diselangkangan kak Indri.

Tangan Ridwan sibuk mengelus tubuh kakaknya yg mulus itu.

“Dek…mmmf…kayak udah pernah main sama cewek aja…kamu…mmmf…mmm” Ridwan berhenti mencium bibir kakaknya, lalu ia menciumi buah dada kenyal itu, ia juga menjilati puting coklat kak Indriyg sudah mengeras.

“Aaaahn…mmf…hebat kamu dek…mmmf” Lidahnya tak berhenti disitu saja, Ridwan lalu menjilati perut kakaknya itu, lalu semakin turun, dan anak smp itu menjilati bagian atas selangkangan kak Indri.

“mmm…mmm…kakak enak banget buat dijilat ya…mmm” cewek itu hanya terus mendesah karena ulah adiknya itu.

Ridwan sudah memuncak, vagina kak Indriyg basah sudah tak bisa dibiarkan olehnya. K0ntol anak smp itu lalu ditempel kan dibibir vagina kak Indri.

“kak, boleh kan aku masukin kedalem?”,

“mmm…uuuh… boleh kok dek…Puasin kakak ya…Aaaahn!” K0ntol Ridwan sudah masuk, kini vagina kak Indriyg basah mulai berdenyut karena k0ntol Ridwan didalamnya.

“oooh, enak banget kak, hangat dan nikmat ya didalem…uuuh” Ridwan merem melek merasakan sensasi pertamanyab menikmati vagina perempuan.

Anak smp itu lalu bergerak maju mundur perlahan, membuat k0ntolnya keluar masuk lubang senggama itu. Kini Hubungan sedarah itu makin menggairahkan saja.

“Aaaah…mmmf…uuuh…sssh…dek…oooh” Meski sudah tak perawan, vagina kak Indriterasa masih rapat menghimpit k0ntol Ridwan yg bergerak.

Ridwan makin semangat, gerakan k0ntolnya dipercepat. Ridwan memelu kakaknya itu, k0ntolnya tetap maju mundur menyodok vagina kak Indri.

“Aaaah…aaah…sssh…dek…mmmf….mantep de…Aaah” Buah dada kak Indrimenempel erat pada Ridwan karena pelukan itu, yg bergerak dengan cepat hanya k0ntol anak smp itu, bersama suara khas tabrakan tubuh pasangan sedarah itu.

Tak terhitung waktu Ridwan terus menyodok vagina kakaknya sendiri, tentu ia tak pernah berfikir untuk menyetubuhi kakaknya yg cantik dan menggairahkan itu.

“Kak, k0ntol Ridwan mau keluar itu lagi…” Kak Indrilalu menyuruh Ridwan berdiri, k0ntol anak smp itu sudah lepas dari lubangnya.

Kak Indrilalu meraih k0ntol tegak adeknya itu,

“Sini, biar kakak selesaikan…ummm” K0ntol Ridwan dilahap oleh kak Indri, dengan cepat k0ntol itu dikulum naik turun,

beberapa saat kemudian,

Creet creeet creeet, Sperma Ridwan tumpah lagi dimulut kak Indri.

“ooogh..mmm…slruuup…mmm…uhuk uhuk…mmm…Banyak banget yg barusan dek…mmm” Kak Indrilalu menghabiskan sperma dimulutnya, dan juga menjilati sisanya dikepala k0ntol Ridwan.

“Kak, kakak suka banget deh sama cairan itu kayaknya…”,

“Iya dong, kamu masih kuat gak?”,

“Kalo kakak mau, Ridwan keluarin lagi, tapi aku mau masuk nyodok vaginamu lagi kak ya…”,

“Dasar kamu, Ayo sini, Kita main sampai puas, hehehe…” Adik dan kakak itu makin mesrah, Mereka melanjutkan hubungan seks sedarah mereka.

Ridwan kembali menyetubuhi kakaknya sampai puas menyemburkan sperma, dan tentu sampai kak Indripuas menelan habis sperma Ridwan.

Mulai dari itu, kini setiap minggu, setelah kuliah dikota, kak Indripulang kerumah dan tentu bersetubuh lagi dengan adiknya. Meski mereka kakak dan adik, Persetubuhan mereka lebih tampak seperti pasangan seks yg sudah sering bercinta.

Cerita Sex – Kakakku Sendiri Yang Mengajari Seks..

Kejadian nyata ini saat aq masih kelas lima SD, umur 11 thn. Sedangkan kakakku kelas 2 SMP. Kami tiga bersodara, kakakku anak pertama, dan aq anak terakhir dari dua bersodara laki-laki. Orangtuaku kerja di perusahaan rokok swasta terbesar di kota tahu Jatim

Intan (kakakku) memilikki tubuh yg proposional saat kelas 2 SMP, BH sudah penuh dengan isi toketnya…, puting kecil menggairahkan. Tinngi badanya saat itu masih 154cm, berat 38kg, BH 32B. Wajah sih cukupan nilai 7, kulit kuning langsat danberbulu halus ditangan dan di kakinya.

Kejadian pertama terjadi saat aku sedang sakit typus, setelah opname di RSUD Gambi*** di kediri selama 15 hari, saya diperbolehkan pulang untuk rawat jalan. 3 hari setelah rawat jalan d rumah, kedua orang tuaku pergi ke Surabaya untuk menghadiri acara nikahan selama 3 Hari. Untuk itu, selama ibukku tdk ada, Intan kakakku merawat dan menjagaku setiap saat (kebetulan saat itu libur sekolah untuk tingkat SMP).

Hari Pertama, Kakak yg malamnya tidur sekamar denganku bangun, bersih bersih rumah, tdk lupa sambil masak air hangat untuk menyeka tubuhku..!!! Hampir tdk ada keganjilan dan nafsu apapun yg tersirat di wajah kakak, dia membuka smua bajuku hingga tinggal CD ku yg tertinggal.

Kakak menyeka, mengusapkan sabun dengan penuh kasih sayang, sabar dan telaten. Malam harinya Kakak menemaniku tidur di kamar, dia serius membaca sebuah buku…kadang kadang terdengar desahan Nafas berat keluar dari mulut Kakak…hhhhheeeehhh….!!!!

Hari Kedua, seperti biasa…setelah bangun kakak bangun dan beres-beres rumah, jam 8 kakakku Intan ke kamar masih memakai baju tidur, membawa Ember berisi air hangat untuk menyeka tubuhku lagi.., aku membuka bajuku sendiri kecuali CD ku. Pandangan kakak terlihat lain, dia mengamati semua bagian tubuhku…!!!

Kakak: dek…biar gak pusing..adek rebahan aja…sambil kakak seka tubuhnya. Iya mbak, jawabku. Nafas berat mengawali kakaku saat mulai menyeka tubuhku…!!!

Kakak: mbak nyekanya gak pake kain ya dek…biar bisa gosokin badan adek.., biar rata ngasih sabunnya. Iya mbak, Jawabku. Kakak mulai membasuhkan air d tubuhku…usapan..usapan tangan kakakku membuat sedikit geli (merangsang) tubuhku…!!! Hingga tanpa sadar K0ntol Kecilku berdiri tegak di balik sangkarnya.

Kakakku: CD nya di lepas aja ya dek, biar mbak bisa bersihkan selangkangannya….!!! Jangan tho mbak, isiiin aku…(Jawabku). Tapi kakakku tetep melorotin CDku sambil bilang…udah…ga usah isin…khan sama kakaknya sendiri.

Waaahh…kebelet pipis tho dek kok burunge ngaceng (berdiri)…kata Kakakku Intan.

Aku jawab…gak mbak, khan tadi udah pipis waktu mbak nyapu…!!!

Lahhh..terus kenapa iki kok gerak2 ngaceng gini manuke…goda Intan Kakakku, sambil mbasuh air hangat di selangkangan…testis…dan pahaku.

Aku merasakan geli yg aneh di tubuhku saat Intan nyentuh lembut testis sambil sesekali nyenggol K0ntolku yg udah gundul di khitan saat umur 8 tahun…., aku spontan bilang….mbak udah mbak…geliii…jadi pingin pipis. Intan kakakku malah senyam senyum…, sambil bilang…tunggu sebentar ya…mbak Intan ambilkan tempat pipis.

Intan keluar Kamar, tdk lama masuk kamar tapi tdk membawa ember tempat pipis…, malah ganti baju daster. Loh mbak…mana tempat pipisnya…, tanyaku bingung.

Intan diam saja, malah naik keatas tempat tidur…, sambil bilang…udah dek Anjas tenang ae…, nurut kata mbak…biar cepet sembuh. Iya mbak…jawabku.

Kakak langsung megang burung kecilku..di sabun..di usap usap…kemudian di basuh air dan di lap pake handuk…(Mbak…tambah geli..pingin pipis mbak….rengekku).

Tiba..Tiba Kakakku naik ke atas tubuhku.., sambil mengangkat ke atas baju dasternya….(Aku makin bingung apa yg mau di lakukakan mbak Intan)

Intan bilang…dek..pipisnya di sini aja ya…!!! (Sambil tangannya nunjuk ke memeknya)…

Belum sempat aku jawab..Kakakku sudah..megang K0ntolku…di tempelkan di Memeknya…kemudian di gosokkan ke Memeknya..!!!

Uuuuhhhh…Anjass…., mbak Intan pingin kamu pipis di dalam sini…, mbak Intan pingin Anjas cepet sehat…jadi buanglah pipis dek Anjas di sini (memek)…!!!

Aku tdk paham apa yg di lakukan mbak Intan, tapi aku melihat wajah mbak Intan memerah, bibirnya di gigit..sambil payudaranya di remas2.., ooowwwggghh…ooouuhhgg…suara dr mulut kakak saat memeknya bergesekan dengan k0ntolku.

Akupun menahan geli…dan semakin tegang saja k0ntolku….eeeehhhhhmmm…mbaaak… Gelliii mbaak…gelii tenan…,

Mbak Intan megang k0ntolku…aku merasakan K0ntolku seperti di tekan masuk pelaaaan ke dalam sebuah lubang…, tahaaan ya dek Anjas….burungnya mau tak masukkan ke memeknya mbak Intan, biar dek Anjas bisa pipis di dalamnya….., aku mengangguk..iya mbak, jawabku.

Kakakku makin kuat nekaaaan dan nindih k0ntolku…, tampak sedikit kesulitan dan menahan rasa sakiit saat menekaaan k0ntolku…., aaaahhhhh…..sakiiiit….Anjassss….(Sambil ambruuk di atas tubuhku) , teriakan mbak Intan saat aku merasakan k0ntolku masuk ke dalam sebuah lubang…sempiit..geliii…angeet…dan berdenyut.

Aku merasakan sebuah cairan meleleh di pahaku…, setelah beberapa saat…mbak Intan bangun dan melihat darah keperawanannya mengalir…, dan membersihkan darahnya dengan handuk…!!!

Setelah itu Intan melepas smua bajunya..dan naik lagi di atasku…., siiaaap ya dek…mbak mau ngeluarkan pipismu…, mbak Intan megang dan nuntun k0ntolku..sekali tekan udah lgsg masuk…blessss….., aaahh…ehhhhhmmm….suara desahan kakakku…, mbak Intan nuntun tanganku untuk meremas susunya…, remes pentile mbak Intan Anjas…..remes Njass….aaahhh….sambil terus menggoyangkan pantatnya..!!!

Eehhhmm…memek mbak Intan enak gak…ayoo Njass…pipisnya keluarkan di dalam ya…mbak Intan enakk Njass…memek mbak Intan kedut..kedut…racauan kakakku, sambil terus jepit genjot goyang k0ntolku di memeknya.

Ahhhhh….sayaaaang….Anjas……mbak Intan mau pipiiiiisssss……….srrrrrrr….serrrrrrr…… ahhhhh….enakk banget Njasss….oooouuughhh…..!!!! Aku memang merasakan sebuah cairan hangat keluar dari memek Intan, Memeknya menjepit dan menghisap kuat k0ntolku (Orgasme), akupun merasakan sebuah sensasi luar biasa nikmatnya…!!!

Mbak Intan ambruk lagi..mencabut memeknya dari k0ntolku…, rebahan di sampingku sambil mencium..dan bilang…dek…jangan bilang siapapun yaa…ini rahasia kita…, mbak Intan sayang Anjas…Anjas harus janji akan menjaga rahasia yg mbak lakuin tadi sama Anjas.

Iya mbak, jawabku. Mbak Intan meluk dan minta di ciumi payudaranya.

Malam hari, setelah kakak membaca buku…,Intan mengunci pintu, dan naik ke atas kasurku (ada 2 kasur).

Mbak tidur sini ya…, mbak mau ngelonin Anjas..biar hangat dan cepat sembuh..!!!

Iya mbak, jawabku. Mbak Intan…, yg kita lakukan tadi kok geli enak itu apa namanya mbak…tanyaku.

Ohhh…itu namanya Ngembik (Kawin, Kentu, Ngesex) jawabnya.

Laah tadi memeknya kok berdarah mbak, tanyaku lagi…!! Itu namanya darah perawan Anjasss…., kalo pertama pasti keluar darahnya jawab kakakku sambil meluk dan nyium keningku.

Apa Anjas mau Ngembik lagi sama mbak Intan…??? Belum sempat jawab mbak Intan sudah nafsu mencium bibirku…, ehhmm…ehhhmm…mbaaak…Intann…pingin lagi sayaaang…, pingiiin pipiss enak lagii….rengek Intan sambil nyiumi bibirku.

Mbak….., burungku ngaceng lg….!!! Kataku. Mbak Intan lgsg ngusap..megang..dan ngocok k0ntolku…, dia sangat nafsu..bajuku lgsg di buka smua…kakakku juga membuka bajunya…BH dan CD nya…!!!

Aku lgsg beranikan diri nyentuuh…ngreemas-remas payudara Intan yg masih mulus dengan puting kemerahan…, Aaahhhhh….adikku udah mulai pinter nih…goda mbak Intan..sambil nyium bibirku lagi dan membelai lembut k0ntolku yg makin tegang.

Kakakku bangun dari posisi rebahannya, dan bilang…deek…mbak mau ngemut Pelimu ya…., belum jawab kakaku sudah memasukkan k0ntol kecilku ke dalam mulutnya…., aaahhh….eehhhmm…sSsssttt…mbakk..gelii mbaak…geliii mbakk…!!! Ocehku. Mbak Intan bilang..ssseeeeettt…(Sambil isyarat utk nutup mulut)…jangan rame, nanti kakakmu kedengaran…ucapnya. Akupun ngangguk…dan menahan geli di emut kakak sambil merem melek njambak rambut Intan Kakakku…!!!

Deeekk….gantian memek mbak Intan di emutin ya…,bisik Kakakku.

Aku pun bangun, Intan rebahan dan membuka lebar pahanya…nuntun tubuhku naikin tubuh Intan dengan posisi terbalik (69), jilatin Njass….!!!

Dengan agak jijik…krn lendir dan bau anehnya..aku beranikan nempelkan mulut ke Memek Intan…, aku usap-usapkan bibirku…nekaaan…memek yg mash belum banyak rambutnya. Setelah terbiasa dg baunya, aku mulai berani membuka mulut…gigit lembut memeknya….jilatin vagiananya…dan menghisap lendir-lendirnya….!!!

Kakakku meracau…gerakan tubuhnya tdk karuan, pantatnya naik turun menahan geli jilatan lidah di vaginya…!!! Aku juga merasakan kakaku ngemutin k0ntolku…nyedotin buah zakarku…, suara desahan tertahan malah mbuat kami makin bergairah.

Ahhh…ehhhmm….Anjas, masukkan k0ntolmu ke memek mb.Intan, mbak dah ga tahan Njass….pinta Kakakku…!!!

Akupun bangun, mbak Intan nuntun aku untuk duduk di hadapannya…mbuka lebar kakinya…, nuntun k0ntolku dan..tekan dekk…, ehhmm….blesssss…..seleeepp….k0ntol kecilku masuk smua ke liang Memek Intan…, ehhhmm….ehhhmmm….!!!! Maju mundurkan k0ntolmu, rebahan dan emut susu mb.Intan sayaang…ucap kakakku.

Sambil rebahan..aku genjot memek kakakku…suara ceplak ceplok makin kencang…suara deritan lendirnya makin terdengar…dg lahap aku mencium dan menghisap puting kakakku..aku gigit dan tarik-tarik putingnya….!!! Aahh..ahhh…ssttt…enak banget Anjas…peli mu enak banget…mbak Intan sayang Anjas…mbak Intan pingin ngembik terus sm Anjas…pipis di dalam ya sayaang…racauan kakakku…, dengan nafas terengah..aku terus nusuk-nusuk memek Intan….geli…anget…dan kedutannya membuat aku melayang…!!!

Gantian dek…mbak Intan di atas…, kamu duduk sandaran ya…, mbak Intan duduk di pangkuanmu…!!! Ucapnya. Aku nurut saja…mbak Intan lgsg megang k0ntol dan memasukkan lagi ke dalam memeknya…, uuhhh…uuhhhm…ahhaahh..enAk sayaang…jilatin terus pentil mb.Intan..gigiti pentilnya…ucap kakak sambil terus goyangin maju mundur pantatnya…!!!

Tdk berapa lama…..kepalaku di tekan kuat ke dalam payudaranya….goyangannya makin tak terkendali…guncangannya makin liar..daaan….mbaaak mau pipissss Anjas….mbak sampee…….mbakkkkk….ngembes memeknya…..(Bersmaan itu aku mersakan cairan hangat nikmat luar biasa membanjiri k0ntolku)…kedutan memek kakakku menjepit kuat k0ntolku…terasa nikmat luar biasa, seperti mau pipis tapi ga keluar pipisnya (Orgasme tanpa mengeluarkan sperma, karena belum Baligh)

Nafas mbak Intan dan aku terengah engah…mbak Intan meluk erat tubuhku..nyium dahi pipi dan juga bibirku…, makasih ya sayang….makasih dah mbuat mbak pipis enak lagi…!!!

Sama sama mbak, Anjas juga sayang…td Anjas juga pipis rasanya..tapi ga terasa keluar pipisnya…tapi enak banget rasanya mbak….!!!

Hari Ketiga, siang hari…saat kakak ke 2 tidur sehabis sekolah…, Mb. Intan ngajak aku bangun dari kamar. Katanya mau di bersihkan mandi air hangat di kamar mandi.

Aku berjalan…dan masuk kamar mandi.., mb.Intan masuk dan ngunci kamar mandi…, aaahh….ngembik lagi ini (pikirku). Buka bajunya sayang…pinta Intan. Iya mbak, jawabku…, mbak Intan mo ngajak ngembik di kamar mandi ya…godaku.

Ahhh…km ini Njass…tahu aja rencana kakak…jawabnya sambil jongkok nyiumi k0ntolku.

Aku duduk di pinggir bak mandi…, ngocok-ngocok k0ntolku…,ahhhh….mbak….emutin mbak…emutin k0ntolku…!!!

Pasti sayang….jawabnya, sambil masukkan k0ntolku ke dalam mulutnya….lidahnya njilatin ujung k0ntolku…, ooohhhhh…..gilaaaa….gak terbayangkan rasanya…, kurang lbh 5 mnt..Intan terus ngocok k0ntolku di mulutnya…,!!!

Kemudian dia bangun dan nungging..tangannya pegangan bak mandi…, Anjass…..tusuk mbak dari belakang yaaa…., cepetan sayang…mbak ga tahan..pengEn banget.

Akupun turun…sambil berdiri aku masukkan k0ntolku ke lubang memek kakakku yg sudah aku ketahui d mana letaknya…., sleeeeepppp…..!!!! Ehhhhmmmm……..Anjas…..makin lama makin ga tahan pingin Ngembik dengan kamu….mbak Intan terangsang terus….ocehan kakakku.

Aku terus sodook memek Intan,,,sambil ngremas payudaranya dr belakang…, bokong Intan maju mundur ngikutin irama kocokan K0ntolku…, cairan memek kakaku terasa banjir dan menghangatkan batang k0ntolku…, pantat Intan makin liar…goyangan maju mundur..naik turun membuat k0ntolku makin nikmat dlam jepitan Memeknya…, aahhh…mbaak…memeknya enak banget…angeeet lendirnya…..jepit terus mbak….ocehku.

Makin lama aku makin paham dengan seksual…jika mbak Intan sudah bergoyang gak karuan..akupun juga smkn kencang nyodokin k0ntolnya ke memeknya….!! Lebiiih kenceng sayaaang…..lebih dalaaam….lebih kuaaat lg….remas payudara mb.Intan….pukul..pukul..pantat mbak Intan…!! Pinta mb.Intan. Akupun nglakuin smua permintaannya…daan….mbak Intannn keluaaarrr pipissssnya Anjas……aaahhhhh….ahhhhhh….aaaahhh…..jerit nya dg nada pelaaan…!!! Tampak cairan bening keluar netees ngalir jatuh dari lubang memekny…!!!

Tapi aku masih blm merasakan pipis keluar dr k0ntolku…, tanpa bicara aku terus genjot memeknya….aku pegang pinggang Intan….ceplook..ceplook….(Suara adu pantat dg paha)….dan mbaaakkk….aku pipis juga kayakknya…..aahhh..arrrrgghhhh….!!!! Jeritku..!!! Aku merasakan ada k0ntolku kedut-kedut di dalam memek mb.Intan…!!! Makin nikmat rasanya..dan anget…!!! Setelah sma puas…kakakku memandikan tubuhku dan mbuka pintu kamar mandi.

Setelah kejadian itu…aku dan mbak Intan selalu melakukan kegiatan bersetubuh di berbagai tempat dan kesempatan.

Pada saat aku duduk kelas 1 SMP, aku mengalami mimpi basah…, aku cerita pada mb.Intan kalo aku mimpi bercinta dg seseorang, dan ngompol d celana.

Kakakku menciumku….dan bilang…itu tandanya kamu sudah dewasa…dan bisa membuat mb.Intan hamil kalo bersetubuh dengan mb.Intan…ucapnya..sambil megang k0ntolku. Setelah mb.Intan suci (menstruasi) nanti kita coba bukIntann ya ar…, mbak buat kamu keluar pipisnya kental,putih dan terasa makin nikmat.

Akupun di suruh membaca bukunya..ternyata buku Cerita Seks Dewasa. Semua yg di ajarkan kakakku bersumber dari alur cerita di buku tersebut.

Setelah 5 hari, kakakku sudah suci dari menstruasinya…, sepulang sekolah kakakku bilang…, Anjas..mbak Intan siap di Setubuhi lho nanti malam, kamu udah baca buku mbak Intan blm??? Sudah mbak, Anjas siap pipis di tempik mb. Intan.

Malamnya, mbak Intan pura-pura mbantuin aku ngerjakan PR d kamarku, Kakakku laki-laki sering tidur di musholla sama temen-temen sebayanya…Jadi malam itu aku dan kakak belajar bareng di Kamar..!!!

KeIntan kedua orang tuaku blm tidur, kami belajar sambil sesekali berciuman, ngremas..dan ngraba memek mb.Intan, k0ntolkupun tak luput dari emutan emutan singkat kakakku, mbuat kepalaku pusing bergairah dan tdk konsentrasi belajar.

Lampu ruang TV sudah mati, pertanda kedua orang tuaku sudah tidur…, aaahhh…ini saatnya melakukan persetubuhan sedarah untuk pertama kalinya….bisikku dlm hati.

Deek…mbak Intan siap di apain aja lho, nikmati tubuh mbak Intan kapanpun Anjas mau..!!! Ucapnya, IYa mbak…mlm ini aku mau pipis di mulut mbak Intan… Boleh..boleh…silahkan pipis di mana aja kamu suka sayang…, jawab Intan sambil mulai menciumiku dan membuka bajunya.

Akupun mulai mencium mulut mb.Intan..menghisap lidahnya..menggigit lembut bibirnya…, ciuman basah, liar, menggebu yg membuat kami sulit bernafas karena saling memuaskan nafsu bibir saat berciuman. Kali ini aku bener-bener menguasai keadaan..(Hasil baca buku dewasa)…sambil terus cium bibir..

Aku mulai meremas remas payudara mb.Intan…putingnya sudah tegang berdiri, daging susunya mengeras…, desahan nafas mb.Intan makin tdk karuan..tangan Intan liar megang dan ngocok k0ntolku…ehhhhmm…aaaahhh…dan pembaca tahu sendiri akhirnya kami keluar bebarengan (orgasme). kegiatan seks merangsang yg luar biasa liar ini selalu kulakukan dengan mb.Intan, kakak perempuanku setiap ada kesempatan.

Cerita Sex – Nikmat Di Setiap Gesekanya..

Riuh suara mesin judi di suatu tempat di Jakarta Barat menyergapku waktu aku memasuki ruangan yg cukup luas dan ber-AC kencang. Setelah beberapa saat berkeliling aku menemukan sebuah mesin yg kosong dan cukup menarik minatku untuk mencoba.

Awalnya aku tdk begitu memperhatikan sekelilingku, setelah beberapa saat aku menoleh ke samping kiriku dan melihat seorg wanita yg dalam taksiranku berusia sekitar 32-36 tahun (pada akhirnya aku tahu bahwa dia ternyata telah berusia 42 tahun) dan aku merasa nyaman karena usiaku pada waktu itu jg 32 tahun.

Setelah beberapa saat kami saling menyapa sekedarnya, dia menghembuskan rokoknya dgn muka muram. Aku kemudian iseng mengajaknya.

“Kita makan keluar yuk, soalnya hari ini peruntunganku jelek, dari tadi kalah terus”. Dia hanya tersenyum simpul dan dingin sambil mengacuhkan aku.

Kemudian dia berpindah tempat dgn seorg perempuan lain yg ternyata pada akhirnya aku tahu bahwa dia adalah adiknya dari lain ibu. Setelah beberapa lama, aku memutuskan untuk pulang dgn uang yg hanya tersisa Rp 500 ribu di kantong. Pada saat aku melangkah keluar, aku melewati dia dan bertanya lagi.

“Mau makan bareng?” dia terdiam beberapa saat dan lalu berbisik dgn adiknya.

“Mau makan kemana?” tanyanya kembali pada akhirnya.

“Nanti gampang kita cari yg kamu suka” jawabku.

Dia bangun dari mesin Mickey Mouse itu dan ikut bersamaku keluar lokasi menuju tempat parkir mobil. Sampai saat itu aku belum dapat melihat wajah dan bentuk tubuhnya hingga di lokasi parkir mobil. Ketika memasuki mobilku, aku memandang sosok tubuh semampai kurang lebih 157 cm dgn berat 45 kg, anggun tapi penuh kemuraman di wajahnya.

Saat keluar dari lokasi, sama sekali tdk terbersit aku akan mengalami suatu love affair yg dahsyat dan akan membuat suatu perubahan dalam jiwaku. Mobil terus melaju dan kami tetap saling terdiam sampai aku mencoba mengarahkan mobilku ke suatu motel di kawasan Jakarta Utara, dimana mobil bisa langsung masuk ke dalam garasi yg tersedia di tiap kamar motel tersebut. Pada saat aku memasuki motel tersebut dia dgn dinginnya berkata.

“Memangnya di sini ada makanan?” Aku cukup gugup dgn nadanya yg datar, tdk terkesan kaget tdk jg senang. “Aku mau ngobrol sama kamu di sini” jawabku.

“Apa ga ada tempat lain yg lebih bisa buat ngobrol?”, tanyanya.

“Kalau kamu keberatan ga pa-pa, kita keluar lagi dari sini” jawabku.

“Ga usah, kita telah sampai, ya telah kita turun”. Jantungku mulai berdegup. Apa dia tahu maksudku?, tanyaku dalam hati.

Kami turun dan aku membayar sewa kamar untuk 6 jam tersebut. Di dalam kamar aku memperhatikan keanggunan dia, bertubuh langsing, rambut tebal terikat ke belakang dan ditambah wangi parfum yg mahal dan wajah yg dingin. Dia hanya menyedot rokoknya dgn tenang dan berkata menyindirku.

“Kita mau pesan makanan atau mau saling lihat-lihatan di kamar ini?” Aku bangkit dan berjalan menghampiri tempat duduknya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya, kemudian aku mencium pipinya halus dan berbisik.

“Jangan tanya kenapa aku membawa kamu ke sini, tapi tanya hatimu kenapa kamu mau aku ajak ke sini?” Dia menatapku tajam dgn mata yg di kemudian hari menjadi mata yg aku cintai dan berkata.

“Kamu cukup punya nyali ya? Belum kenal, belum tahu nama, telah main bawa ke kamar. Apa ini kebiasaanmu?”

Aku terdiam dan dan mundur menjauh.

“Kalau ya kenapa dan kalau ini baru pertama kenapa?” Dia bangkit menuju kamar mandi seraya berkata.

“Aku mau kita pulang” lalu ia memasuki kamar mandi.

Aku hanya bisa termenung dan memutuskan untuk pulang. Pintu kamar mandi terbuka dan ia keluar, ada sesuatu yg mempesonaku saat ia keluar dgn rambut terurai seraya berkata.

“Ayo pulang, aku tdk mau ditipu sama anak seperti kamu”

Tiba-tiba entah dari mana keberanian itu, aku memeluk dia dan mencoba menciumnya. Pada awalnya dia agak berontak tapi akhirnya berdiam pasif dan dingin. Bibirnya hanya diam dan terkatup. Bibirku mencari celah rongga bibirnya dan lidahku mencoba memasuki bibirnya. Perlahan tapi pasti aku bisa memasuki bibirnya dan menemukan lidah yg kucari. Pada awal lidahku berhasil mendapati lidahnya, tubuhnya agak tergetar tapi diam kembali.

Perlahan tapi pasti aku menyedot lidahnya berputar perlahan dan menikmati setiap lekuk dari bibir dan lidah yg kurasa nikmat itu. Tanpa kusadari, aku mendorong dia rebah ke ranjang. Lidahku mencari lidahnya keluar masuk, berputar dan kusedot dgn perlahan. Nafasnya mulai tersengal, tanganku mulai meraba dadanya dan menemukan toketyg begitu kenyal (dalam usia 42 tahun, msh seperti gadis 20 tahun). Lidahku merayap ke belakang telinganya dan menciumnya dgn birahi yg bergelora, tanganku kesulitan membuka pakaiannya sehingga aku bangkit dan mencoba membuka bajunya. Dia memegang tanganku dan matanya menatapku tajam lalu beberapa detik terdiam dan setelah itu ia berkata.

“Biar aku sendiri yg buka, aku kaget kamu merobek baju ini”. Jantungku berdebar keras pada saat ia membuka pakaiannya satu persatu.

Pada saat pakaian atasnya terbuka, aku melihat toketberukuran 34B dibalut dgn BH sutra tipis yg mewah sekali. Kemudian Ia membuka rok panjang yg ia gunakan dan terpampanglah sesosok tubuh yg sempurna dimana pinggul dan pantatnya yg begitu montok dan berisi dibalut oleh sebuah g-string warna hitam sewarna dgn BH-nya.

Nafasku memburu, kejantananku mengeras di balik celana panjangku dan cukup menyakitiku sehingga aku langsung membuka kemeja dan celanaku dan hanya tinggal mengenakan CELANA DALAM warna hitam. Dia melihatku dan wajahnya agak berubah melihat CELANA DALAM yg aku kenakan sewarna dan jg semi g-string. Tanpa membuang waktu, aku menghampirinya dan dgn keahlianku, dgn sekali sentak, BH-nya terbuka.

“Kamu kayanya ahli membuka BH perempuan yah?” (Ucapannya itu yg sampai saat kami terakhir bersama pun selalu diucapkan olehnya).

Dgn telah terlepasnya BH-nya, aku menemukan sepasang bukit kenyal yg seharusnya menjadi milik anak gadis berusia 20 tahunan dan bukan milik seorg wanita berusia 42 tahun dgn 3 anak dan 2 cucu. Tanpa membuang waktu, mulutku mencari puting susunya dan menyedotnya lama dan lembut, di dalam gerakan lidahku yg secara perlahan berangsur cepat dan bertambah keras, aku merasa putingnya mengeras dan membuatku menggigit mesra dan lembut hingga terdengar rintihan halus dari bibirnya.

Dalam posisi berdiri itu, aku menengadahkan wajahku tanpa sedikit pun melepas puting yg kini telah kugigit-gigit dgn dgn gemas dan kusedot sampai setengah buah dadanya masuk dalam lahapanku yg penuh nafsu berahi. Kulihat seraut wajah itu terpejam sambil menggigit bibir seraya merintih halus seakan tdk rela desahan nafsu terlontar dari bibirnya.

Aku merebahkan tubuhnya dan mulutku berpindah dari toketyg satu ke yg toketyg lainnya. Barangku mengeras dan menempel di pahanya yg mulus, bergesek liar menambah api birahi yg membakarku. Mulutku meninggalkan susunya dan turun menelusuri perutnya yg rata tdk berlemak, aku mencium belahan dalam pahanya yg terbalut g-string yg sexy sekali. Mulutku terus menuruni pahanya ke arah lutut dan betisnya. Mulutku mencari setiap jari kakinya dan menciumnya sambil menggigit perlahan dan berpindah ke kaki yg lainnya.

Setelah beberapa kali aku ulangi, mulutku mencari lututnya dan menciuminya dari semua arah baik dalam maupun luar hingga tubuhnya menggelinjang hebat dan dia mencoba melepaskan pahanya dari mulutku, tapi tanganku menahan pinggulnya dan lidahku bergerak liar menelusuri permukaan g-string yg menutupi celah yg aku dambakan. Lidahku menyapu permukaan g-string dan mencari celah untuk menyelinap. Dgn sedikit gerakan jariku, lidahku menyapu kelentitnya hingga dia mengerang sambil berdiri dari posisi tidur, lalu berkata.

“Aku buka dulu CELANA DALAM-ku, aku kaget kamu menggigit dan merobek CELANA DALAM ini”, ujarnya lalu dia mengangkat sedikit pinggulnya dan menarik turun CELANA DALAM-nya.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya karena aku tahu bahwa dia menggunakan waktu membuka CELANA DALAM-nya untuk mengatur nafas yg telah sampai di ujung birahinya. Tanpa membuang waktu, begitu CELANA DALAM-nya telah terlepas, aku langsung saja membenamkan wajahku di tengah lubang kenikmatannya, tapi dia menggelinjang dan menahan wajahku sambil berkata.

“Kamu ga adil, kamu sendiri belum dibuka!” Aku hanya tersenyum melihat wajah yg cantik dan seksi di mataku itu tengah tersengal-sengal mencoba mengatur nafasnya.

Aku bangkit dan mundur sedikit sambil tanganku membuka CELANA DALAM semi g-stringku di hadapannya pelan-pelan. Matanya tdk berkedip melihat kejantananku yg berukuran 17 cm dgn urat-urat pembungkusnya telah tegak mengeras dan membundar di depan matanya. Tanganku mengelus kepala helm kejantanananku dan secara tiba-tiba, pada saat dia sedang melihat kejantananku aku menyentakkan kedua kakinya sehingga dia telentang dan berjongkok dan dgn secepat kilat meletakkan bibirku pada bibir memeknya.

Sebelum tangannya sempat mencapai kepalaku dan menolaknya lagi, lidahku telah menjilat belahan memeknya dgn jilatan panjang. Tubuhnya bergetar dan mulutnya melenguh panjang. Begitu mencapai kelentitnya, aku langsung mengunyahnya secara halus dan panjang hingga ruangan kamar ini dipenuhi oleh rintihan dan lenguhan birahi yg membuatku kesetanan karena pada setiap rintihannya aku semakin terbakar nafsu dan kejantananku semakin mengeras dan berdenyut mencari tempat untuk menjepitnya.

Lidahku semakin lincah dan semakin rajin keluar masuk goa kenikmatannya. Tangannya mencengkeram kepalaku dan menarik rambutku sambil terus merintih keras. Lidahku bergerak cepat dan kadang lambat tapi menggesek kasar di celah goa kenikmatannya.

“Stop. , ampun, aku mohon stop jangan buat aku jadi gila!!”, pintanya dgn setengah berteriak.

Aku tdk mempedulikannya dan terus mencengkram kedua pahanya yg melingkari leherku. Beberapa detik kemudian aku merasa pinggulnya terangkat dan mengejang. Aku tahu dia akan mencapai klimaksnya. Aku menahan pinggulnya dan lidahku mencari kelentitnya dan kembali aku mengunyahnya dgn lembut tapi bertenaga hingga aku merasa kepalaku dijepit oleh kedua pahanya, rambutku dijambak sekeras-kerasnya olehnya dan keluarlah rintihan panjangnya diikuti keluarnya suatu cairan yg amat aku sukai.

“Ahh, shit, shit kamu gilaa!!” Kemudian kusaksikan suatu pemandangan yg membuat birahiku menggelora.

Wajah yg penuh dgn keringat, mata terpejam, rambut yg berantakan menutupi wajahnya dan nafas yg tersengal-sengal. Dalam beberapa detik setelah aku puas menjilati cairan kenikmatannya, aku bangkit dan membuka pahanya dan menaikkan kedua kakinya ke pundakku, dgn posisi demikian aku memiliki posisi yg paling ideal untuk memasukkan kejantananku sedalam-dalamnya ke goa kenikmatan yg telah bergelimang cairan birahinya. Aku mulai meletakkan kepala k0ntolku dan menggosoknya pelan-pelan.

Setelah siap, aku mendorong kepala k0ntolku memasuki gerbang kenikmatan tersebut. Pada saat kepala k0ntolku yg cukup besar (semua wanita yg pernah merasakan kejantananku selalu mengatakan kepala k0ntolku lebih besar dibandingkan ukuran normal) memasuki lubang tersebut, dia hanya bisa merintih pelan. Aku menahan sebatas kepalanya tertelan oleh leher memeknya dan berdiam beberapa saat. Aku mulai mendorong sampai setengah batangku menggesek pelan dan terasa nikmat sekali, setelah itu menarik kembali sebatas leher helm kejantananku dan mendorongnya pelan kembali menembusnya sampai setengah panjang batangku.

Aku melakukannya selama lebih kurang sepuluh kali dan aku agak menekan kedua kakinya mengangkang dan membukanya lebar sambil kutekan sekuat tenaga tetapi lembut dan pada saat aku mencapai batas terdalam dan menemukan daging kenikmatan yg menggesek kepala helm kejantananku, detik itu pula tangannya menyambar kepalaku dan menarik kepalaku untuk mencari bibirku dan menciumnya liar sekali.

Aku mendiamkan keadaan ini beberapa saat dan aku merasa suatu cairan nikmat hangat merembes dari dalam memeknya, ia dua kali keluar, pikirku. Sambil tetap berciuman aku menarik batangku sebatas helm yg terjepit erat oleh otot cincin memeknya dan mendorong kembali sedalam-dalamnya sambil memberatkan seluruh tubuhku ke pinggangku dan kembali menemukan kenikmatan gesekan seluruh batangku bergesekan dgn dinding memeknya yg mencengkeram erat sampai kepala k0ntolku menggesek kasar daging menonjol dalam memeknya dan ia merintih panjang dan menyedot lidahku kuat-kuat.

Tiba-tiba pada saat posisi terdalam itu dia menarik leherku dan menaikkan pantatnya dan menggoygnya pelan tapi ditekan sedalam-dalamnya hingga aku terlontar ke sorga ketujuh. Putarannya begitu pelan tapi menekan dalam sehingga kepala k0ntolku terasa digosokkan total dgn daging dalam memeknya sambil seluruh batangku diremas-remas oleh otot dinding memeknya. Dan tiba-tiba ia merintih keras sambil mencakarku keras dan memedihkan punggungku. Dia terlontar melepaskan pelukannya pada leherku sambil pahanya tetap tersangkut di pundakku.

Lalu ia tergeletak tersengal-sengal dan aku merasa kembali cairan hangat merembes keluar dari memeknya. Aku telah sampai di ujung nafsuku dan aku mencabut kejantananku sambil membalikkannya pada posisi telungkup. Aku menaikkan pinggul dan pantatnya dalam posisi doggie style walaupun kulihat dia telah kehbsan tenaga.

Setelah posisinya pas, aku mendorong kejantananku amblas dalam suatu sentakan keras dan ia merintih sambil tangannya meremas sprei di bawahnya. Di kaca besar yg disediakan di kamar ini aku bisa melihat kejantananku keluar masuk dgn suatu sentakan keras tapi dalam irama lambat. Kepalanya yg menunduk disertai rambut yg terurai lebat membuatku serasa berada di awan birahi dan tiba-tiba aku merasa dia menggerakkan pinggulnya mendorong balik setiap gerakanku ditambah gerakan memutar keras hingga kepala kejantananku seperti diremas-remas hangat dan ketat dan digesekan sekerasnya dgn daging di dalam memeknya.

Agak lama kami melakukan ini sampai kepala k0ntolku terasa agak panas, denyut kenikamatan yg sangat luar biasa aku rasakan setiap aku menggesek keluar dan masuk lubang itu. Aku makin dalam mendorong ditingkahi rintihannya yg semakin keras dan aku merasa denyut batang kejantananku merambat ke arah kepala k0ntolku dan otot memeknya mengimbangi dgn denyutan lembut yg semakin cepat.

Tuhan, aku belum pernah mengalami kenikmatan seperti ini, begitu lembut tapi sangat terasa dalam setiap gesekan dan tekanan, batinku berbisik di ambang ledakan kenikmatan diriku. Dan pada tekanan terakhir aku mencengkeram pinggulnya dan mendorong sekuat-kuatnya dibalas dgn dorongan balik oleh pinggulnya, srett, srett, srett semburan demi semburan aku menumpahkan semua birahi yg terkumpul sejak tadi dalam lubang kenikmatannya dan disusul denyutan keras dinding memeknya dan tangannya mencari pahaku untuk dicakar sekeras-kerasnya.

Dalam beberapa saat aku merasa tulangku dilolosi semua dan mataku terpejam menikmati detik-detik saat aku mengeluarkan seluruh cairan kenikmatan di dalam lubang surgawi yg sedang aku masuki ini. Kepalaku berdenyut keras seiring setiap semburan yg aku keluarkan. Setelah itu badai itu mulai mereda walau dalam posisi diam tdk bergerak tapi setiap otot kami berdua bekerja diluar kehendak dan berdenyut keras sampai pelan-pelan melambat.

Setelah aku membuka mata, perlahan-lahan aku mencabut batangku yg msh mengeras dan tubuhnya langsung tergeletak lemas seakan pingsan. Aku merebahkan tubuhku di sampingnya dan memejamkan mata. Aku melihat handphone yg tergeletak di samping ranjang dan melirik jam, 1 jam 20 menit sejak aku menunggu dia keluar dari kamar mandi dan memutuskan untuk pulang. Sejam lebih kami bergulat dalam lautan birahi!! Aku mencoba melihat lagi dan memastikan bahwa aku tdk salah melihat jam. Aku melirik ke arahnya dan melihat sepasang bola mata yg menatapku tajam.

“Jam kamu pukul berapa sekarang?” aku bertanya.

“23. 45”, jawabnya sambil melihat kamnya.

Persis seperti jamku dan berarti benar kami telah berenang dalam lautan asmara sejam lebih. Dia pun tersentak dan melirikku diam dan aku mengangguk, lalu dia memejamkan mata sambil berkata.

“Oh tuhan, gila! Ini ga mungkin selama ini” Setelah beberapa saat, aku mengambil handuk bersih dan aku selimutkan ke tubuhnya dan aku membuka dua botol minuman complimentary untuk diminum bersama.

Setelah beberapa saat dia bangkit menuju kamar mandi dan aku memejamkan mataku lagi, tergolek memulihkan tenagaku yg terkuras hbs.

Dalam beberapa saat aku membuka mata dan aku menemukan dia telah berpakaian rapi duduk di kursi dan memandangiku dgn seribu arti. Aku melirik jam dan telah lewat 40 menit, ternyata aku tertidur, aku bertanya.

“Kenapa kamu ga bangunkan aku?”.

“Aku lihat kamu tidur nyenyak sekali, jadi aku ga tega membangunkan kamu”. Nada yg lembut dan hangat terdengar berbeda pada saat kami memasuki kamar ini.

Aku masuk ke kamar mandi dan mandi. Setelah rapi aku keluar dan menyalakan rokok dan tetap tdk tahu harus berbicara apa dgn wanita yg namanya pun belum aku kenal tapi merasakan percintaan terdahsyat selama hidupku. Dia melihat jamnya dan berkata.

“Ayo kita pulang, aku harus kerja”. Aku hanya terdiam dan beranjak pergi.

“Kamu mau pulang kemana?”, tanyaku.

“Cukup kamu antar ke tempat kita bertemu”, jawabnya.

“Aku mau tahu rmhmu”, ujarku.

“Belum saatnya kamu tahu lebih lanjut tentang aku”. Lalu aku membawa mobilku membelah malam menuju ke tempat kami bertemu.

Sampai pada tempat kami bertemu, aku bertanya.

“Boleh aku minta nomor teleponmu?” dia hanya tersenyum beberapa saat dan itulah yg membuatku jatuh cinta di saat wajahnya tdk lagi diliputi kesedihan dan berseri ceria.

“Kamu bahkan belum tanya namaku, telah tanya teleponku”. Aku tertawa malu.

“Boleh aku tahu namamu?”

“Jasmine”, dia menjulurkan tangannya dan berkata lembut. “Michel”, balasku.

Setelah itu dia memberikan nomor HP-nya dan menghilang ke dalam gedung perjudian tersebut.

Aku menjalankan mobilku keluar dari gedung tersebut dan berusaha melupakan semua itu yg terjadi seperti mimpi. Tapi ini adalah suatu awal dari kejadian yg amat dalam menggores hatiku selanjutnya.

Cerita Sex – Menikmati Bidadari Pemilik Apartemen..

Aku tiba di Jepang pertama kali pada awal Februari. Saat itu kota kecil tempat aku belajar tengah tertutup oleh timbunan salju. Sewaktu mencari apartemen yg kemudian kutinggali, aku hanya tahu bahwa ibu pemilik apartemennya masih muda dan sangat cantik. Waktu itu dia mengantarku menengok keadaan apartemen. Dia mengenakan celana jean dan jaket bulu yg longgar dgn mengenakan penutup kepala yg menyatu dgn jaket yg dia kenakan.

Sesudah menandatangani kontrak sewa, aku tdk pernah berjumpa lagi dengannya hingga akhir Maret. Walaupun dia tinggal di rumah besar yg hanya berada di samping kanan apartemen yg kusewa, namun kesibukanku di kampus membuatku selalu pulang malam. Jg kebiasaan orang yg hidup di negara empat musim, pada musim dingan rumah besar itu selalu menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat. Pada akhir pekan, waktu kuhabiskan di dlm apartemen dgn menonton kaset video.

Cerita mesum hot, Pembayaran uang sewa apartemen kulakukan dgn transfer uang lewat bank ke rekening dia. Dari situlah aku jadi hafal namanya: Amaya Kawamura.

Amaya ternyata sangat mengundang hasrat lelaki. Aku baru menyadarinya pada akhir bulan April. Waktu itu hari Jumat, tanggal 30 April. Aku lupa pergi ke bank untuk membayar sewa apartemen. Sementara kalau menunggu hari Senin, hari sdh menunjukkan tanggal 3 Mei. Padahal sesuai perjanjian, uang sewa bulan berikutnya harus sdh dibayarkan selambat-lambatnya pada hari terakhir bulan sebelumnya. Maka pada malam itu aku membawa uang sewa apartemen ke rumahnya barangkali dia mau menerima uangnya secara langsung.

Dia sendiri yg membukakan pintu rumahnya saat itu. Aku mengemukakan alasanku, mengapa sampai aku menyalahi kontrak perjanjian, yakni tdk membayar lewat bank. Ternyata dia berkata, hal tersebut tdk menjadi masalah. Lewat bank atau langsung diantarkan, baginya tdk ada pengaruhnya. Hanya orang Jepang biasanya tdk mau repot-repot atau belum tentu punya waktu sehingga mereka membayar uang sewa melalui transfer otomatis antarrekening bank.

Waktu Amaya menemuiku tersebut, aku terpesona dgn kecantikan dan kemolekan bentuk tubuhnya. Tinggi tubuhnya sekitar 167 cm. Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya putih mulus dgn bentuk mata, alis, hidung, dan bibir yg indah. Dari celada jean ketat dan sweater yg dia kenakan, aku dapat melihat jelas postur tubuhnya. Pinggangnya berlingkar sekitar 58 cm. Pinggulnya melebar indah, ukuran lingkarnya tdk kurang dari 98 cm. Toketnya amat montok dan membusung indah, lingkarnya sekitar 96 cm. Kalau dibawa ke ukuran BH Indonesia pasti dia memakai BH dgn ukuran 38. Suatu ukuran toket yg enak diciumi, disedot-sedot, dan diremas-remas. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol dari balik sweater yg dikenakannya.

Melihat dia sewaktu membelakangiku, aku terbayang betapa nikmatnya bila tubuh kenyal indah tersebut digeluti dari arah belakang. Perlu diketahui, aku masih single. Walaupun aku gemar menonton video porno dan melakukan masturbasi, namun aku belum pernah melakukan hubungan sex dgn pacar-pacarku.

Sejak mengetahui bahwa sewa apartemen dapat dibayarkan secara langsung, aku memutuskan untuk tdk membayar lewat transfer bank lagi. Alasannya, aku dapat menghemat ongkos transfer. Di samping itu aku dapat menatap wajah cantik dan tubuh aduhai Amaya.

Bulan Mei, udara di kotaku sdh tdk terlalu dingin lagi. Sdh berubah menjadi sejuk. Amaya Kawamura pada hari Sabtu atau Minggu sering terlihat bekerja di halaman. Kadang dia memotong rumput, memangkas pepohonan kecil, atau merapihkan pot-pot tanamannya. Aku paling suka menatap tubuhnya bila dia membelakangi jendela apartemenku. Sungguh merupakan sosok yg enak digeluti. Apalagi bila dia sedang menunggingkan pinggulnya yg padat, hal itu membuatku teringat pada adegan perempuan Jepang yg sedang digenjot dlm posisi menungging pada video-video kaset permainan sex yg sering kupinjam dari persewaan.

Lama-lama aku tahu sedikit tentang keluarga dia. Umur Amaya adalah 30 tahun. Anaknya dua, perempuan semua. Yg pertama berumur tujuh tahun, yg kedua lima tahun. Suaminya bekerja di kota lain, pulangnya pada akhir pekan. Sabtu dini hari dia tiba di rumah, dan berangkat lagi hari Minggu tengah malam.

Di hari penutup bulan Mei, hari Senin, aku berniat membayar sewa apartemen di petang hari. Karena itu aku pulang dari kampus lebih awal dari biasanya.

Saat itu tiba di apartemen baru jam 17:00. Sesudah menyimpan tas punggung, aku pergi ke rumah Amaya Kawamura. Kuketuk pintu, namun tdk ada jawaban dari dlm. Kupencet bel yg terpasang di kusen pintu. Kutunggu sekitar satu menit, namun tdk ada suara apapun dari dlm rumah. Agaknya sedang tdk ada orang di rumah. Mungkin Amaya dan anak-anaknya sedang ke supermarket. Akhirnya aku kembali ke apartemen dan mandi. Sehabis mandi aku menonton TV, sampai akhirnya aku tertidur di depan TV.

Aku terbangun jam setengah delapan malam. Kutengok rumah Amaya dari jendela apartemen. Lampu-lampu rumahnya sdh menyala. Berarti mereka sdh datang. Akupun membawa amplop berisi uang sewa apartemen. Kupencet tombol bel pintunya, seraya mengucap,

“Gomen kudasai.”

Sejenak hening, namun kemudian terdengar sahutan,

“Hai. Chotto matte kudasai.”

Terdengar suara langkah di dlm rumah menuju pintu. Kemudian pintu terbuka. Aku terpana. Di hadapanku berdiri Amaya dgn hanya mengenakan baju kimono yg terbuat dari bahan handuk sepanjang hanya 15 cm di atas lutut. Paha dan betis yg tdk ditutupi kimono itu tampak amat mulus. Padat dan putih.

Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yg pendek. Pinggulnya yg besar melebar dgn aduhainya. Pinggangnya kelihatan ramping. Sementara kimono yg menutupi dada atasnya belum sempat dia ikat secara sempurna, menyebabkan belahan dada yg montok itu menyembul di belahan baju. Toket yg membusung itu dibalut oleh kulit yg putih mulus. Lehernya jenjang. Beberapa helai rambut terjuntai di leher putih tersebut. Sementara bau harum sabun mandi terpancar dari tubuhnya. Agaknya dia sedang mandi, atau baru saja selesai mandi. Tanpa sengaja, sebagai laki-laki normal, penisku berdiri melihat kesegaran tubuhnya.

“A… Bobby-san. Watashi no imoto to omotteta…,” sapanya membuyarkan keterpanaanku. Agaknya aku tadi dikiranya adik perempuannya. Pantas… dia berpakaian seadanya.

Untuk selanjutnya, percakapanku dengannya kutulis di sini langsung dlm bahasa Indonesia saja agar semua pembaca mengetahuinya, walaupun percakapan yg sebenarnya terjadi dlm bahasa Jepang.

“Kawamura-san, maaf… saya mau membayar sewa apartemen,” kataku.

“Hai, dozo… Silakan duduk di dlm, dan tunggu sebentar,” sahutnya.

Aku berjalan mengikutinya menuju ruang tamu. Kuperhatikan gerak tubuhnya dari belakang. Pinggul yg besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Edan! Ingin rasanya kudekap tubuh itu dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan penisku di liatnya gundukan pantatnya. Dan ingin rasanya kuremas-remas toket montoknya habis-habisan.

Aku duduk di bantal duduk yg disediakan mengelilingi meja tamu. Sementara dia naik tangga menuju lantai dua. Langkah-langkah betis indah di anak-anak tangga itu tdk pernah lepas dari tatapan liar mataku. Empat menit kemudian dia turun dari lantai dua. Baju yg dikenakan sdh ganti. Sekarang dia mengenakan baju kimono tidur putih yg berbahan licin. Diterpa sorot lampu, kain tersebut mempertontonkan tonjolan toket sehingga tampak membusung dgn gagahnya. Dia tdk mengenakan bra di balik kimono tidurnya, sehingga kedua puting toketnya tampak jelas sekali tercetak di bahan kimononya.

“Ingin minum apa? Kopi, teh, atau bir?” tanya Amaya.

“Teh saja,” jawabku. Selama ini aku memang belum pernah minum bir. Bukan aku antialkohol atau menganggap bahwa bir itu haram, namun hanya alasan takut ketagihan minuman alkohol saja.

Amaya kemudian membawa baki berisi poci teh hijau dan sebuah cangkir untukku. Untuk dia sendiri, diambilnya satu cangkir besar dan tiga botol bir dari kulkas. Kemudian aku pun menikmati teh khas Jepang tersebut, sementara dia menikmati bir.

“Kok sepi? Anak-anak apa sdh tidur?” tanyaku.

“Mereka sedang main ke rumah adik perempuan saya. Tadi perginya bersama-sama saya. Lalu saya pulang duluan karena harus ke supermarket dulu untuk membeli sayur dan buah. Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba, diantar oleh adik perempuan.”

“Oh… pantas, tadi saya ke sini tdk ada orang. Sepi.”

“Bobby-san berasal dari mana? Tai? Malaysia? Filipina?”

“Saya dari Indonesia.”

“Indonesia…,” Amaya tampak berpikir, “… dgn Pulau Bali?”

“A… itu. Bali adalah salah satu pulau dari Indonesia.”

“O ya? Sungguh pulau yg indah. Saya belum pernah ke sana, namun ingin dapat mengunjungi Bali. Saya mempunyai brosurnya.”

Amaya beranjak dari duduknya dan mengambil suatu buku tipis tentang pulau Bali dari rak buku. Pada posisi membelakangiku, aku menatap liar ke tubuhnya. Mataku berusaha menelanjangi tubuhnya dari kain kimono mengkilat yg dia kenakan. Pinggangnya ramping. Pinggulnya besar dan indah. Kemudian betis dan pahanya yg putih mulis tampak licin mengkilap di bawah sorot lampu TL. Betapa harum dan sedapnya bila betis dan paha tersebut diciumi dan dijilati.

Amaya kemudian membuka brosur tentang pulau Bali tersebut di atas meja tamu. Dia bertanya-tanya tentang gambar yg ada dlm brosur tersebut sambil kadang-kadang meneguk bir. Kini dari mulutnya yg indah tercium wanginya bau bir setiap kali dia mengeluarkan suara. Kupikir sungguh kuat dia meminum bir. Tiga gelas besar sdh hampir habis diteguknya. Perhatian dia ke foto-foto di brosur dan bir saja. Ngomongnya kadang agak kacau, mungkin karena pengaruh alkohol. Namun bagiku adalah kesempatan menatapnya dari dekat tanpa rasa risih. Dia tdk menyadari bahwa belahan kain kimono di dadanya mempertontonkan keindahan gumpalan toket yg montok dan putih di kala dia agak merunduk. Edan, ranumnya! Penisku pun menegang dan terasa hangat. Sebersit kenikmatan terasa di saraf-saraf penisku.

Kring… kring… Tiba-tiba telpon berdering.

Amaya bangkit dan berjalan menuju pesawat telpon. Pengaruh kebanyakan minum bir mulai terlihat pada dirinya. Jalannya agak sempoyongan.

“Sialan…,” makiku dlm hati karena dering telpon tersebut memutus keasyikanku melihat kemontokan toketnya.

Amaya terlibat pembicaraan sebentar di pesawat telpon. Kemudian kembali lagi ke bantal duduknya semula dgn jalan yg sempoyongan.

“Anak-anak tdk mau pulang,” Amaya menjelaskan isi pembicaraan telponnya.

“Malam ini mereka bermalam di rumah adik perempuan saya. Besok mereka diantarnya langsung ke sekolah mereka.”

Amaya menuangkan bir ke gelasnya lagi. Sdh gelas yg keempat. Edan jg perempuan Jepang ini. Jalannya sdh sempoyongan namun masih terus menambah bir.

“Bobby-san sdh menikah?” tanyanya.

“Belum,” jawabku.

“Sdh ada pacar?”

“Sdh. Saat ini masih kuliah di Indonesia.”

“Syukurlah. Nikmati masa pacaran. Masa pacaran adalah masa yg indah. Bagaimana permainan cinta sang pacar?”

Kunilai kata-kata Amaya semakin mengacau. Semakin berada di alam antara sadar dan tdk sadar.

“Permainan cinta?”

“Iya… permainan sex.”

“Saya belum pernah melakukan hubungan sex, termasuk dgn pacar saya. Kebanyakan perempuan di negara saya masih menjaga kegadisan sampai dgn menikah.”

Amaya tertawa lirih mendengar kata-kataku. Suara tawanya amat menantang kejantananku.

“Di Jepang gadis-gadis sdh melakukan hubungan sex dgn pacar mereka pada usia 17 atau 18 tahun.

Kalau belum melakukan hal tersebut, mereka belum merasa menjadi orang dewasa. Mereka akan diejek kawan-kawannya masih sebagai anak ingusan.”

“O… begitu. Baru tahu saya…”

“Kalau begitu Bobby-san masih perjaka?”

“Saya tdk tahu masih disebut perjaka atau tdk. Saya belum pernah melakukan hubungan sex. Namun sejak usia 15 tahun saya suka melakukan masturbasi untuk mengatasi kebutuhan sex saya.”

Amaya tertawa lagi. Tawa yg membangkitkan hasrat. Sialan. Aku diejek sebagai anak ingusan oleh pemilik bibir ranum sensual itu. Ingin rasanya kubuktikan kedewasaan dan kejantananku. Ingin rasanya kulumat habis-habisan bibir merekah itu. Ingin rasanya kusedot-sedot toket aduhai itu dgn penuh kegemasan. Dan ingin rasanya kuremas-remas pantat kenyal Amaya itu sampai dia menggial-gial keenakan. Agar dia kapok.

“Kenapa tdk cari pacar yg dapat diajak berhubungan sex sekarang-sekarang ini? Bobby-san ganteng, badan tinggi-tegap dan berpenampilan jantan. Kalau di sini cari pacar, pasti banyak perempuan Jepang yg mau. Sayang kalau energi pada usia muda tdk dinikmati.” Omongan Amaya semakin ngelantur.

Pasti karena kebanyakan minum bir.

“Sebab kalau Bobby-san berumur tua sedikit, energi akan berkurang. Atau bahkan loyo seperti suami saya. Baru main empat atau lima menit sdh jebol pertahanannya. Dan langsung mendengkur, tdk memperdulikan saya yg baru setengah jalan… Dasar laki-laki payah.”

Nah, benar terkaanku. Dia mulai tdk sadar. Bicaranya tambah mengacau. Kebiasaan orang Jepang, kalau mulaihilang kesadarannya karena kebanyakan minum bir, apa yg dia pendam dlm hati akan dia keluarkan satu per satu.

Amaya menenggak bir lagi. Habislah gelas yg keempat. Dan dia mengisinya kembali sampai penuh. Padahal matanya sdh merah dan kelihatan mengantuk. Namun dlm kondisi demikian kulihat keayuan aslinya. Mata mungil yg setengah tertutup kelopak mata itu tampak sangat bagus. Terus terang aku menyukai perempuan bermata sipit, contohnya perempuan Jepang, Cina, atau Korea. Bibir Amaya yg sensual dan berwarna merah muda tanpa polesan lipstik itu mengeluarkan keluhan-keluhan tentang keloyoan suaminya dlm masalah sex. Namun biarlah dia mengoceh, bagiku yg terpenting adalah menatap bibir merekah itu tanpa rasa risih karena yakin si empunya dlm keadaan tdk tersadar. Wuih… enak sekali kalau bibir ranum tersebut dilumat-lumat.

“A… Bobby-san. Gomen… sampai lupa ke masalah utama. Sebentar, saya ambilkan kuitansi untuk pembayaran apartemen… “

Amaya Kawamura menenggak bir lagi.

“Kawamura-san. Daijobu desu ka?” aku mengkhawatirkan kesadarannya karena dia sdh kebanyakan minum bir.

“Daijobu desu. Saya sdh terbiasa minum bir banyak-banyak. Semakin banyak minum bir dunia terasa semakin indah.”

Amaya beranjak dari duduknya. Dia mencoba berdiri, namun sempoyongan terjatuh. Aku bersiap-siap menolongnya, namun dia berkata,

“Mo ii desho. Daijobu…”

Amaya berusaha berjalan menuju rak buku. Namun baru menapak dua langkah… Gedebrug! Dia terjatuh seperti yg kukhawatirkan. Untung tangannya masih sempat sedikit menjaga badannya sehingga dia tdk terbanting di lantai kayu. Walaupun lantai kayu tersebut ditutup karpet, namun akan cukup sakit jg bila badan sampai jatuh terbanting di atasnya. Namun tak ayal, betis kanan Amaya masih membentur rak kayu.

“Ak… ittai…,” dia berteriak kesakitan.

Aku segera menolongnya. Punggung dan pinggulnya kuraih. Kubopong dia ke atas karpet bulu yg tebal.

Kuletakkan kepalanya di atas bantal duduk. Dlm waktu seperti itu, tercium bau harum sabun mandi memancar dari tubuhnya. Kimono atasnya terbuka lebih lebar sehingga mataku yg berada hanyasekitar 10 cm dari toketnya melihat dgn leluasa kemontokan gumpalan daging kenyal di dadanya. Alangkah merangsangnya. Nafsuku pun naik. Penisku semakin tegang. Dan ketika aku menarik tangan dari pinggulnya, tanganku tanpa sengaja mengusap pahanya yg tersingkap. Paha itu hangat, licin, dan mulus.

“Ittai…,” sambil masih pada posisi tiduran tangannya berusaha meraih betisnya yg terbentur rak tadi.

Namun pengaruh banyaknya bir yg sdh dia minum membuatnya tak mampu meliukkan badannya dlm menggapai betis. Kulihat bekas benturan tadi membuat sedikit memar di betis yg putih indah itu.

Aku pun berusaha membantunya. Kuraih betis tersebut seraya meminta permisi,

“Sumimasen…” Kuraba dan kuurut bagian betis yg memar tersebut.

“Ak… ittai…,” Amaya meringis kesakitan. Namun kemudian dia bilang,

“So-so-so-so-so… Betul bagian situ yg sakit. Ah… enak… Ah… ah… terus… terus…”

Lama-lama suaranya hilang. Sambil terus memijit betis Amaya, kupandang wajahnya. Matanya sekarang terpejam. Nafasnya jadi teratur, dgn bau harum bir terpancar dari udara pernafasannya. Dia sdh tertidur. Kantuk akibat kebanyakan minum alkohol sdh tdk mampu dia tahan lagi. Aku semakin melemahkan pijitanku, dan akhirnya kuhentikan sama sekali.

Aku pun bingung. Apa yg harus aku lakukan? Kuambil uang sewa apartemen dari saku kemeja dan kuletakkan di atas meja tamu di samping cangkir tehku. Terus bagaimana dgn kuitansi pembayarannya?

Kupandangi Amaya yg tengah tertidur. Alangkah cantiknya wajah dia. Lehernya jenjang. Daging montok di dadanya bergerak naik-turun dgn teratur mengiringi nafas tidurnya, seolah menantang kejantananku. Dan dada tersebut tdk dilindungi bra sehingga putingnya menyembul dgn gagahnya dari balik kain kimononya. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yg besar melebar dgn indahnya. Kain kimono yg mengkilap tersebut tdk mampu menyembunyikan garis segitiga celana dalamnya yg kecil. Sungguh kontras, celana dlm minim membungkus pinggul yg maksimum. Celana dlm yg di antara dua pahanya terlihat membelah. Pasti di situ letak lobang meqinya.

Terbayang dgn apa yg ada di balik celana dalamnya, penisku menjadi semakin tegang. Apalagi paha yg putih mulusnya dipertontonkan dgn jelas oleh kimono bagian bawah yg tersingkap. Dan paha tersebut tersambung dgn betis yg indah.

Edan! Melihat lekuk-liku tubuh aduhai yg tertidur itu nafsuku naik. Terbangunkah dia bila kutiduri? Beranikah aku? Teman-teman Jepangku yg tertidur karena kebanyakan minum bir biasanya akan pulas sampai sekitar satu atau dua jam. Apakah Amaya jg begitu? Akankah dia terbangun bila tubuhnya kugeluti tanpa memasukkan penis ke liang meqinya?

Hasratku semakin memuncak. Kuelus betis indah Amaya. Kemudian sedikit kuremas itu untuk memastikan bahwa dia cukup pulas. Ternyata dia tdk terbangun. Keberanianku bertambah. Kusingkapkan bagian bawah kimononya sampai sebatas perut. Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Paha yg menantang kejantananku. Di atas paha, beberapa helai bulu jembut keluar dari celana dalamnya yg minim. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, sedang tubuhnya berwarna putih.

Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya sambil kuamati wajah Amaya. Dia tdk terbangun. Kueluskan perlahan ibu jariku di bagian celana yg mempertontonkan belahan bibir meqinya. Tiba-tiba jari-jari tangannya bergerak seperti tersentak. Aku kaget. Segera kuhentikan aksiku karena khawatir bila Amaya terbangun. Namun dia tetap tertidur dgn nafas yg teratur.

Keberanianku muncul kembali. Kini kuciumi paha mulus tersebut berganti-ganti, kiri dan kanan, sambil tanganku mengusap dan meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha tersebut secara otomatis bergerak membuka agak lebar. Namun si empunya tetap tertidur. Bau harum yg terpancar dari pahanya membimbing hasrat kejantananku untuk meneruskan pendakian.

Dia sedang tertidur pulas! Dia sedang tdk tersadar! Dia sedang di bawah pengaruh alkohol! Kenapa aku harus takut?

Aku berjalan ke pintu dan menguncinya dari dlm, untuk berjaga-jaga kalau ada orang dari luar mau masuk. Kemudian aku melepas celana dlmku. Celana dlm kulipat dan kumasukkan ke dlm kantong celana pendek yg kupakai. Celana pendek yg kukenakan adalah longgar dan terbuat dari bahan yg tipis dan lemas, sehingga tanpa lindungan celana dlm kontolku dapat bergerak bebas di salah satu lobang kakinya yg memang lebar.

Kemudian kuhampiri Amaya yg tertidur pulas. Kembali kuciumi dan kujilati paha dan betis mulus yg berbau harum tersebut. Setelah beberapa saat kukeluarkan penis dari lobang kanan celana pendekku. Penisku sdh begitu tegang. Kutempelkan kepala penisku di paha mulus tersebut. Rasa hangat mengalir dari paha Amaya ke kepala penisku. Kemudian kugesek-gesekkan kepala penis di sepanjang pahanya. Rasa geli, hangat, dan nikmat menyelimuti sel-sel penisku. Penisku terus kugesek-gesekkan di paha sambil agak kutekan. Semakin terasa nikmat. Penis semakin tegang. Nafsu seks-ku semakin tinggi.

Aku semakin nekad. Kulepaskan ikatan baju kimono tidur Amaya, dan kusingkapkan baju itu ke kiri dan kanan. Tergoleklah tubuh mulus Amaya tanpa helaian kimono menghalanginya. Tubuh moleknya sungguh membangkitkan birahi. Toket yg besar membusung, pinggang yg ramping, dan pinggul yg besar melebar dgn bagusnya. Toketnya menggunung putih, putingnya berdiri tegak berwarna pink kecoklat-coklatan, dan dikelilingi oleh warna coklat kulit toket di sekitarnya sampai dgn diameter sekitar dua setengah centimeter.

Perlahan-lahan kucium toket montok Amaya. Hidungku mengendus-endus kedua toket yg berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahku. Kemudian puting toket kanannya kulahap ke dlm mulutku. Badannya sedikit tersentak ketika puting itu kugencet perlahan dgn menggunakan lidah dan gigi atasku. Aku pun terperanjat. Namun dia tetap tertidur. Kini kusedot-sedot puting toketnya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar daerah lahapan bibirku.

Kini puting dan toket sekitarnya yg berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dlm mulutku. Kembali kusedot daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Yg penting perlahan-lahan tanpa irama yg menyentak, agar dia tdk terbangun. Namun walaupun tetap tertidur, mimik wajah Amaya tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan.

Kedua toket harum itu kuciumi dan kusedot-sedot secara berirama. Penisku bertambah tegang. Sambil terus menggumuli toket dgn bibir, lidah, dan wajahku, aku terus menggesek-gesekkan penis di kulit pahanya yg halus dan licin. Rasa nikmat dan hanya merembes dari penisku ke sel-sel otak di kepalaku. Dan mulut kecil di kepala penisku ikut-ikutan mencari rasa geli dan nikmat lewat kecupan-kecupan kecilnya nya di permukaan mulus kulit paha Amaya.

Kubenamkan wajahku di antara kedua belah gumpalan dada Amaya. Kemudian perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di lekukan tubuh yg merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutnya. Kiri dan kanan kuciumi dan kujilati secara bergantian. Keharuman yg terpancar dari badannya kuhirup dgn rakusnya, dgn habis-habisan, seolah tdk rela bila ada bagian kulit tubuh yg terlewatkan barang satu milimeter pun.

Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan lidahku, dan endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut dan pinggang Amaya. Sementara gesekan-gesekan kepala penisku kupindahkan ke betisnya. Bibir dan lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yg putih mulus. Kemudian wajahku bergerak lebih ke bawah. Dgn nafsu yg menggelora kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berpindah ke celana dlm tipis yg membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan antara kulit perut dan celana dlm. Kemudian ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut jembutnya yg keluar dari celana dalamnya. Lalu kuendus dan kujilat celana dlm pink itu di bagian yg tdk mampu menyembunyikan lekuk belahan bibir meqinya. Kuhirup kuat-kuat bau khas yg terpancar dari balik celana dlm yg membuat nafsuku semakin meronta-ronta.

Setelah cukup puas, aku mengakhiri kecupan dan jilatanku di celana dlm sekitar meqinya tersebut.

Aku bangkit. Dgn posisi berdiri di atas lutut kukangkangi tubuh mulus yg begitu menggairahkan tersebut. Penisku yg tegang kemudian kutempelkan di kulit toket Amaya. Kepala penis kugesek-gesekkan di kehalusan kulit toket yg menggembung montok itu. Kembali rasa geli, hangat, dan nikmat mengalir di syaraf-syaraf penisku. Sambil kukocok batangnya dgn tangan kananku, kepala penis terus kugesekkan di gumpalan daging toketnya, kiri dan kanan. Rasa nikmat semakin menjalar. Aku ingin berlama-lama merasakannya.

Setelah sekitar dua menit aku melakukan hal itu, nafsuku yg semakin tinggi mengalahkan rasa takut. Kulepas celana pendekku. Tampak penisku yg besar dan panjang berdiri dgn gagahnya. Kuraih kedua belah gumpalan toket mulus Amaya yg montok itu. Aku berdiri di atas lutut dgn mengangkangi pinggang ramping Amaya dgn posisi badan sedikit membungkuk. Penisku kemudian kujepit dgn kedua gumpalan toketnya. Kini rasa hangat toket Amaya terasa mengalir ke seluruh penisku.

Perlahan-lahan kugerakkan maju-mundur penisku di cekikan kedua toket Amaya. Kekenyalan daging toket tersebut serasa memijit-mijit penisku, memberi rasa nikmat yg luar biasa. Di kala maju, kepala penisku terlihat mencapai pangkal lehernya yg jenjang. Di kala mundur, kepala penisku tersembunyi di jepitan toketnya. Lama-lama gerak maju-mundur penisku bertambah cepat, dan kedua toket montoknya kutekan semakin keras dgn telapak tanganku agar jepitan daging kenyal di penisku semakin kuat. Aku pun merem melek menikmati enaknya jepitan toket indah.

Bibir Amaya pun mendesah-desah tertahan,

“Ah… hhh… hhh… ah…” Mungkin walaupun tetap dlm keadaan tertidur pulas, dia merasa geli dan ngilu-ngilu enak di kedua gumpalan toketnya yg kutekan-tekan dgn telapak tanganku dan kukocok dgn penisku.

Bibir mungil di kepala penisku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan toket Amaya. Oleh gerakan maju-mundur penisku di dadanya yg diimbangi dgn tekanan-tekanan dan remasan-remasan tanganku di kedua toketnya, cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadanya yg menjepit penisku. Cairan tersebut menjadi pelumas yg memperlancar maju-mundurnya penisku di dlm jepitan toketnya. Dgn adanya sedikit cairan dari penisku tersebut aku merasakan keenakan dan kehangatan yg luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala penisku dgn kulit toket indahnya.

“Hih… hhh… edan… edan… Luar biasa enaknya…,” aku tak kuasa menahan rasa enak yg tak terperi.

Sementara nafas Amaya dlm tidurnya menjadi tdk teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirnya yg sensual, yg kadang diseling desahan lewat hidungnya,

“Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…”

Desahan-desahan Amaya baik yg lewat hidung maupun lewat bibir semakin menuntun nafsuku untuk menaiki suatu perjalanan pendakian yg indah. Gesekan-gesekan maju-mundurnya penisku di jepitan gumpalan toketnya semakin cepat. Penisku semakin tegang dan keras. Kurasakan pembuluh darah yg melalui penisku berdenyut-denyut, menambah rasa hangat dan nikmat yg luar biasa.

“Sugoi… edan… oh… hhh…,” erangan-erangan keenakan keluar tanpa kendali dari mulutku.

“Sugoi… sugoi… Enak sekali, Amaya… Heh… rasa cewek Jepang luar biasa… Hhh… enaknya toket Jepang… hhh… enaknya gesekan kulit mulus Jepang… ah… Enaknya… mulusnya… hangatnya… enak sekali toket Jepang…”

Aku menggerakkan maju-mundur penisku di jepitan toket Amaya dgn semakin cepatnya. Rasa enak yg luar biasa mengalir dari penis ke syaraf-syaraf otakku. Kulihat wajah Amaya Kawamura. Walupun tertidur, namun alis matanya yg bagus bergerak naik turun seiring dgn desah-desah perlahan bibir sensualnya akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketnya. Ada sekitar lima menit aku menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketnya itu.

Toket sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku lalu membimbing penis dan menggesek-gesekkan kepala penis dgn gerakan memutar di kulit toketnya yg halus mulus. Sambil jari-jari tangan kiriku terus meremas toket kiri Amaya, penisku kugerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarnya, kepala penisku kugesekkan memutar di kulit perutnya yg putih mulus, sambil sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya. Rasa hangat, nikmat, dan bercampur geli menggelitiki kepala penisku.

Keberanianku semakin tinggi. Sekarang kedua tanganku mencopot celana dlm minimnya. Pinggul yg melebar indah itu tdk berpenutup lagi. Kulit perut yg semula tertutup celana dlm tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yg hitam lebat menutupi daerah sekitar lobang kemaluannya. Kedua paha mulus Amaya kemudian kurenggangkan lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan alat kemaluannya. Bibir meqi Amaya nampak berwarna coklat tua bersemu pink.

Aku pun mengambil posisi agar penisku dapat mencapai alat kemaluan Amaya dgn mudahnya. Dgn tangan kanan memegang penis, kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Amaya. Rasa geli menggelitik kepala penisku. Kemudian kepala penisku bergerak menyusuri jembut menuju ke meqinya. Kugesek-gesekkan kepala penis ke sekeliling bibir meqinya. Terasa geli dan nikmat.

Kemudian kepala penis kugesekkan agak ke arah lobang. Dan menusuk sedikit ke dlm. Lama-lama dinding mulut lobang kemaluan itu menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan penisku sambil terus memasuki lobang meqi. Kini seluruh kepala penisku yg berhelm pink tebenam dlm jepitan mulut meqi Amaya. Jepitan mulut meqi itu terasa hangat dan enak sekali. Sementara getaran perlahan dgn amplituda kecil tanganku pada penis membuat kepala penisku merasa geli dan nikmat dlm sentuhan-sentuhannya dgn dinding lobang meqi.

Kembali dari mulut Amaya keluar desisan kecil tanda nikmat tak terperi.

Penisku semakin tegang. Sementara dinding mulut meqi Amaya terasa semakin basah. Perlahan-lahan penisku kutusukkan lebih ke dlm. Kini tinggal separuh batang yg tersisa di luar. Tusukan kuhentikan untuk memastikan bahwa Amaya tdk terbangun. Setelah yakin dia tdk terbangun, kembali secara perlahan kumasukkan penisku ke dlm meqi. Terbenam sdh seluruh penisku di dlm meqi Amaya. Sekujur penis sekarang dijepit oleh daging hangat yg basah di dlm meqi Amaya dgn sangat enaknya.

Sesaat aku diam. Kulihat ekspresi wajah Amaya kembali mengendur. Artinya dia tdk terbangun. Kemudian secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk penisku ke dlm meqinya. Sewaktu keluar, yg tersisa di dlm meqi hanya kepala penis saja. Sewaktu masuk seluruh penis terbenam di dlm meqi sampai batas pangkalnya. Rasa hangat dan enak yg luar biasa kini seolah memijiti seluruh bagian penisku. Aku menyukai rasa nikmat ini. Aku terus memasuk-keluarkan penisku ke lobang meqinya. Namun semua gerakanku kujaga tdk menghentak-hentak agar Amaya tdk terbangun. Dlm keadaan tetap tertidur alis matanya terangkat naik setiap kali penisku menusuk masuk meqinya secara perlahan. Bibir segarnya yg sensual sedikit terbuka, sedang giginya terkatup rapat. Dari mulut sexy itu keluar desis kenikmatan,

“Sssh… sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…”

Aku terus mempertahankan kenikmatan yg mengalir lewat penisku dgn mengocok perlahan-lahan meqi perempuan Jepang tersebut. Enam menit sdh hal itu berlangsung. Lama-lama aku membutuhkan kocokan yg agak menghentak-hentak agar dapat mengakhiri perjalanan pendakian tersebut. Namun bila kocokan itu kulakukan ke meqi Amaya bisa-bisa dia terbangun. Jadi kocokan yg menghentak-hentak pada penis harus kulakukan di luar meqinya.

penis itu kulakukan. Aku kembali memasukkan seluruh penisku ke dlm meqinya. Kembali kukocok secara perlahan meqinya. Kunikmati kehangatan daging dlm meqinya. Kurasakan enaknya jepitan otot-otot meqi pada penisku.

Kubiarkan kocokan perlahan tersebut sampai selama dua menit. Kembali kutarik penisku dari meqi Amaya. Namun kini tdk seluruhnya, kepala penis masih kubiarkan tertanam dlm mulut meqinya. Sementara penis kukocok dgnjari-jari tangan kananku dgn cepatnya. Walaupin sdh berhati-hati, namun kepala penis itu menggelitiki dinding meqi dgn amplituda kecil tetapi berfrekuensi tinggi akibat kocokan tanganku di batangnya. Hal tersebut menyebabkan rasa enak tak terperi. Geli, hangat, dan nikmat.

Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Amaya. Terbukti walaupun dlm keadaan tidur, dia mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala penisku pada dinding mulut meqinya,

“Sssh… sssh… zzz… ah… ah… hhh…”

Tiga menit kemudian kumasukkan lagi seluruh penisku ke dlm meqi Amaya. Dan kukocok perlahan. Kunikmati kocokan perlahan pada meqinya kali ini lebih lama. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama aku tdk puas. Kupercepat gerakan keluar-masuk penisku pada meqinya, namun tetap kujaga agar jangan menyentak-sentak. Kurasakan rasa enak sekali menjalar di sekujur penisku. Aku sampai tak kuasa menahan ekspresi keenakanku. Sambil tertahan-tahan, aku mendesis-desis,

“Subarashii… subarashii… sugoi… sugoi… edan… enaknya… Edan, hangatnya meqi Jepang… Edan jepitan meqinya… Amaya… meqimu luar biasa… Edan… nikmatnya…”

Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit. Kemudian rasa gatal-gatal enak mulai menjalar di sekujur penisku. Berarti beberapa saat lagi aku akan mengalami orgasme. Ke mana harus kusemprotkan? Yg jelas jangan di dlm meqinya. Dapat diketahui Amaya nantinya. Apalagi kalau Amaya sampai hamil dan terlahir anak Indonesia.

Kucopot penisku dari meqi Amaya. Segera aku berdiri dgn lutut mengangkangi tubuhnya agar penisku mudah mencapai toketnya. Kembali kuraih kedua belah toket montok itu untuk menjepit penisku yg berdiri dgn amat gagahnya. Agar penisku dapat terjepit dgn enaknya, aku agak merundukkan badanku. Kemudian penisku kukocokkan maju-mundur di dlm jepitan toket aduhai itu. Cairan dinding meqi Amaya yg membasahi penisku kini merupakan pelumas yg pas dlm memberi keenakan luar biasa pada gesekan-gesekan penisku dan kulit toket yg mulus itu.

“Edan… Amaya. Edan… luar biasa… Enak sekali… Toketmu kenyal sekali… Toketmu indah sekali… Payadaramu montok sekali… Toketmu mulus sekali… Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya… Tubuhmu luarrr biasa…”, aku merintih-rintih keenakan.

Sementara di dlm tidurnya Amaya mendesis-desis keenakan,

“Sssh… sssh… sssh…” Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah.

Aku mempercepat maju-mundurnya penisku. Aku memperkuat tekananku pada toketnya agar penisku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat penisku. Rasa hangat menyusup di seluruh penisku. Karena basah oleh cairan meqi, kepala penisku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan toket Amaya. Leher penis yg berwarna coklat tua dan helm penis yg berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketnya. Lama-lama rasa gatal yg menyusup ke segenap penjuru penisku semakin menjadi-jadi.

Semakin kupercepat kocokan penisku pada toket Amaya. Rasa gatal semakin hebat. Rasa hangat semakin luar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya. Tiga menit sdh kocokan hebat penisku di toket montok itu berlangsung. Dan ketika rasa gatal dan enak di penisku hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga benteng pertahananku sambil mengocokkan penis di kempitan toket indah Amaya dgn sangat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yg luar biasa akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahananku.

“Amaya…!” pekikku dgn tdk tertahankan. Mataku membeliak-beliak.

Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat yg luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel penisku saat menyemburkan cairan sperma.

Creett! Creett! Creett! Creett!

Spermaku menyemprot dgn derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahang bagus Amaya. Sperma tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang sperma yg banyak sekali itu mengalir turun ke arah leher Amaya yg putih dan jenjang.

Sperma yg tersisa di dlm penisku pun menyusul keluar dlm tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal batang leher mulus Amaya, sedang yg terakhir hanya jatuh di atas belahan toketnya.

Sejenak aku terdiam. Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan pada penghujung pendakianku ini.

“Sugoi… luar biasa… Amaya, nikmat sekali tubuhmu…,” aku bergumam lirih.

Baru kali ini aku mengalami kenikmatan sex yg indah luar biasa. Diri bagai terlempar ke langit ketujuh. Jauh lebih indah daripada masturbasi dgn menghadapi gambar artis sexy yg bugil.

Setelah nafsuku menurun, penisku pun mengecil. Kulepaskan toket Amaya dari raupan telapak tanganku. Penisku sekarang tergeletak di atas belahan toketnya. Suatu komposisi warna yg kontras pun terlihat, penisku berwarna coklat dgn kepala penis berhelm pink, sedang kulit toket montok Amaya adalah putih mulus. Masih tdk puas aku memandangi toket indah yg terhampar di depan mataku tersebut.

Kemudian mataku memandang ke arah pinggangnya yg ramping dan pinggulnya yg melebar indah. Terus tatapanku jatuh ke meqinya yg dikelilingi oleh bulu jembut hitam jang lebat. Kubayangkan betapa enaknya bila bermain sex dlm kesadaran penuh dgn Amaya. Aku dapat menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya yg benar-benar menantang kejantanan. Aku dapat mengocok meqinya dgn penisku dgn irama yg menghentak-hentak kuat. Dan aku dapat menyemprotkan spermaku di dlm meqinya sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya di saat orgasmeku.

“Engh…” Tiba-tiba Amaya menggeliatkan badannya.

Aku terkejut dan tersadar. Cepat-cepat aku meraih celana pendekku dan berlindung di belakang meja tamu. Sebentar menunggu reaksi, namun Amaya tertidur kembali dgn nafas yg teratur. Aku segera mengelap penis dgn tissue yg ada di atas meja, dan memakai celana pendek. Sementara kubiarkan celana dlmku tetap di dlm saku celana pendek agar aku penisku segera tertutup kembali.

Kemudian beberapa lembar tissue kuambil untuk mengelap spermaku yg berleleran di rahang, leher, dan toket Amaya. Ada yg tdk dapat dilap, yakni cairan spermaku yg sdh terlajur jatuh di rambut kepalanya.

“Ah, nggak apa-apalah. Masak dia tahu. Dia kan hilang kesadarannya. Mungkin jg dia baru terbangun besok pagi,” demikian pikirku.

Celana dlm pink kupakaikan kembali ke pinggul Amaya. Dan… edan! Penisku mulai berdiri lagi melihat kemolekan tubuh Amaya. Namun aku tdk boleh melakukannya lagi. Salah-salah dia terbangun. Cukup sdh sekali aku menikmati tubuhnya di saat dia tertidur pulas oleh pengaruh alkohol sehingga berlangsung aman. Daripada aku menanggung resiko lagi.

Kurapihkan kembali baju kimono tidurnya. Tissue-tissue bekas pengelap penis dan sperma di tubuh Amaya kukumpulkan menjadi satu. Akan kusimpan sebagai kenang-kenangan bahwa aku sdh berhasil menggeluti tubuh perempuan Jepang yg molek walaupun dia dlm keadaan tertidur. Akhirnya aku memutuskan kembali ke apartemenku sendiri, meninggalkan Amaya yg tertidur pulas di atas karpet di samping meja tamu.

Sempat kulirik jam dinding di ruang tamu Amaya, jarum jam menunjukkan pukul sembilan kurang seperempat. Kututup pintu rumah Amaya sambil bergumam lirih, “Terimakasih atas servis kenikmatannya, Amaya-san.”

Jam duduk di atas TV menunjukkan pukul 22:30 ketika pesawat telpon berdering. Aku bangun dari tidur-tiduran di depan TV. Gagang telpon pun kuangkat dari pesawatnya yg tergeletak di samping TV.

“Hai, Bobby desu keredomo…,” ucapku sambil menempelkan ujung gagang telpon ke telinga.

“A… Kawamura Amaya desu ga…,” suara merdu perempuan menyahut di telpon.

Deg! Jantungku berdegup keras. Telpon tersebut ternyata dari Amaya. Dia sdh tersadar dari tidurnya. Ada apa menelponku malam-malam begini? Tahukah dia dgn apa yg kuperbuat kepadanya dua jam yg lalu?

“A-ada apa?” tanyaku dgn suara agak bergetar.

“Gomenasai… tadi saya terlalu banyak minum. Jadi saya jatuh tertidur sebelum membuat kuitansi pembayaran apartemen. Uang sewa yg Bobby-san letakkan di atas meja sdh saya ambil, dan sekarang sdh saya buatkan kuitansinya. Harap datang ke sini sekarang untuk mengambilnya.”

Aku bernafas lega. Ternyata hanya urusan kuitansi. Suara Amaya tetap lembut. Tdk bernada tinggi. Berarti dia tdk sedang marah. Berarti dia tdk tahu kalau tubuhnya kuesek-esek dua jam yg lalu.

Aku lalu menuruni tangga apartemen dan berjalan menuju pintu rumah Amaya. Sebelum aku menekan bel pintu, dia sdh membuka pintu. Dia berdiri dgn menariknya, bagai bidadari yg turun dari kaygan.

Rambutnya sdh tersisir rapih, dgn bagian belakang dijepitkan ke atas. Dgn gaya sisiran semacam itu, leher jenjangnya yg putih mulus seolah dipamerkan dgn jelasnya. Kimono yg dikenakan masih kimono yg tadi. Kimono yg terbuat dari bahan putih, lembut, dan mengkilat. Dadanya membusung dgn gagahnya, dan putingnya tergambar jelas di kain kimono yg menutup dadanya. Wow… ada perubahan. Bau parfum! Kini bau parfum yg harum dan segar terpancar dari tubuhnya. Bau harum yg berbeda dgn wangi sabun mandi yg tadi terpancar dari tubuhnya.

“Ayo, masuk. Saya ambilkan kuitansinya.” Bibir sensual Amaya menyunggingkan senyum.

Senyum manis yg amat menggoda nafsuku. Dan berbeda dgn tadi, bibir sensualnya itu sekarang sdh berlapis lipstik tipis berwarna pink. Sexy, ranum, dan segar sekali bibir tersebut. Seolah menantang bibirku untuk melumat bibir tersebut habis-habisan.

Aku melangkah masuk.

“Sumimasen…,” kataku sambil menganggukkan kepala.

Pintu tertutup secara perlahan karena adanya pegas yg terpasang di dekat engselnya.

Aku kemudian berjalan di belakangnya menuju ruang tamu. Kuperhatikan goyang pantatnya yg sungguh aduhai. Gumpalan daging pantat itu tergambar jelas menggunduk di kimono tidurnya. Gundukan tersebut menggial ke kiri-kanan di saat melangkah, seolah menantang batang kejantananku untuk memijit-mijit kekenyalannya.

Amaya mengambil buku kuitansi dari rak buku, kemudian menyobeknya selembar.

“Ini Bobby-san, kuitansinya,” kata Amaya sambil memberikan lembaran itu padaku. Bibirnya menyunggingkan senyum. Matanya menatap diriku tajam. Namun menurut penilaianku, sunggingan bibir dan tatapan mata itu menantang diriku.

Aku mengulurkan tangan kanan untuk menerima kuitansi itu. Belum lagi kuitansi kupegang, Amaya sdh melepaskan kertas kuitansi tersebut. Akibatnya kertas kuitansi melayg jatuh. Secara refleks tanganku bergerak ke bawah berusaha menyelamatkan kuitansi sebelum menyentuh lantai. Agaknya Amaya pun melakukan gerak refleks yg sama dgnku, bahkan dia bergerak sedikit lebih cepat. Tangan Amaya berhasil menangkap kuitansi, sementara tanganku dgn tdk sengaja menangkap jari-jari tangan Amaya.

Aku terpana dgn ketdksengajaanku. Kehalusan jari-jari tangan Amaya terasa benar di dlm genggaman tanganku. Sementara posisi tubuh Amaya yg agak membungkuk membuat mataku dapat melihat belahan toket montok yg amat mulus itu dgn jelas dari belahan baju kimononya. Edan… penisku berdiri lagi.

Amaya menatap tanganku yg tanpa sengaja menggenggam jari tangannya. Kemudian tatapan matanya beralih ke wajahku. Sinar matanya itu… sinar mata meminta. Sinar mata orang yg sedang kehausan. Sinar mata orang yg sedang penuh hasrat.

Tiba-tiba Amaya merangkul pundakku. Toketnya menekan dadaku dgn hangatnya.

“Bobby-san. Buat apa kau berpura-pura,” kata Amaya,

“Aku tahu kau melakukan masturbasi di sini saat aku tertidur pulas tadi. Saat aku terbangun, rambutku ada yg basah oleh air mani. Dan itu pasti air manimu…”

Amaya mempererat rangkulannya pada bahuku. Dia berdiri sedikit berjinjit. Bibir sensualnya yg berwarna pink merekah itu dgn ganasnya mendarat di bibirku dan melumat-lumat bibirku. Nafasku jadi terengah-engah tdk beraturan.

“Kawamura-san…,” kataku tersenggal di saat bibirku sedikit terbebas dari bibirnya.

“Bobby-san… jangan gunakan nama keluarga saat ini. Panggil saja namaku… Amaya…,” pinta Amaya. “Bobby-san… cumbulah diriku… Sdh lama saya merindukan cumbuan hangat yg menggelora… Cumbuan laki-laki jantan yg penuh tenaga… Dan sejak pertamakali melihatmu, saya mendambakan cumbuan geloramu. Saya suka bermasturbasi dgn membayangkan tubuhmu yg tegap berisi… Bila suamiku sedang menggelutiku, kubayangkan bahwa yg menggelutiku itu adalah dirimu…”

Nafsuku terbakar. Ternyata hasratku untuk merasakan keaduhaian tubuhnya yg sdh cukup lama timbul dlm diriku tdk bertepuk sebelah tangan. Ternyata dia jg menyimpan hasrat untuk bercinta dgnku.

“Amaya…,” desahku penuh nafsu.

Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual yg menantang itu kulumat-lumat dgn ganasnya. Tdk kusisakan satu milimeter pun bibir itu dari seranganku. Sementara Amaya pun tdk mau kalah. Bibirnya pun menyerang bibirku dgn dahsyatnya, seakan tdk mau kedahuluan oleh lumatan bibirku.

Kedua tangankupun menyusup diantara lengan tangannya. Tubuh sexy dan kenyal itu sekarang berada dlm dekapanku. Aku mempererat dekapanku, sementara Amaya pun mempererat pelukannya pada diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, walau lembaran kain baju masih memerantarai kami. Toketnya yg membusung terasa semakin menekan dadaku. Jari-jari tangan Amaya mulai meremas-remas kulit punggungku dari sela-sela lobang leher T-shirt yg kupakai.

“Bobby-san… kita langsung lepas pakaian dulu saja…,” kata Amaya sambil berusaha melepas T-shirtku.

Aku mengangkat kedua tangan ke atas untuk memberi kesempatan dia mencopot T-shirt. Tercopot sdh kaos yg kupakai itu. Kini kedua tangan Amaya dgn sigap melepaskan ikatan tali celana pendekku. Dan mencopotnya, sehingga aku kini tinggal memakai celana dlm saja.

Amaya pun merangkul punggungku lagi. Aku kembali mendekap erat tubuh Amaya sambil melumat kembali bibirnya. Sambil tangan kiri terus mendekap tubuh, tangan kananku bergerak ke samping pinggang Amaya dan melepaskan ikatan baju kimono tidurnya. Begitu terbuka kusingkapkan bukaan kimono tadi. Kemudian kedua tanganku menyusup ke dlm kimono dan langsung mendekap erat punggungnya yg berkulit halus. Amaya kemudian melepaskan rangkulannya ke tubuhku dan mengayunkan kedua tangannya satu per satu ke belakang agar kimononya terlepas dari tubuhnya. Dan terjatuhlah kimononya ke lantai. Kini dia seperti diriku, hanya mengenakan celana dlm saja.

Dlm keadaan hanya memakai celana dlm saja, kami kembali berpelukan erat dan saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian depan kami yg saling menempel. Kini kurasakan toketnya yg montok menekan nakal ke dadaku. Dan ketika saling sedikit bergeseran, putingnya seolah-olah menggelitiki dadaku. Penisku terasa hangat dan mengeras di dlm celana dlm. Penisku serasa protes, ingin ikut-ikutan menyerang tubuh mulus Amaya.

Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar Amaya, kemudian menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku. Kini masih di dlm celana dlm, penisku tergencet perut bawahku dan perut bawah Amaya dgn enaknya. Sementara bibirku melepaskan diri dari bibir Amaya, dan bergerak ke arah lehernya. Leher jenjang yg putih mulus dan berbau harum segar itu pun kuciumi, kuhisap-hisap dgn hidungku, dan kujilati dgn lidahku.

“Ah… geli… geli…,” desah Amaya sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai dagunya terbuka dgn luasnya.

Amaya pun membusungkan dadanya dan melenturkan pinggangnya ke depan. Dgn posisi begitu, walaupun wajahku dlm keadaan menggeluti lehernya, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dgn rapatnya. Tangan kananku lalu bergerak ke dadanya yg montok, dan meremas-remas toket tersebut dgn perasaan gemas.

Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. Aku berdiri dgn agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket. Wajahku kemudian menggeluti belahan toket Amaya, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah toketnya sambil menekan-nekankannya ke arah wajahku.

Segala kemulusan dan kehalusan belahan dada itu kukecupi dgn bibirku. Segala keharuman yg terpancar dari belahan toket itu kuhirup kuat-kuat dgn hidungku, seolah tdk rela apabila ada keharuman yg tersisa sedikitpun. Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Kuciumi bukit toket yg membusung dgn gagahnya itu. Dan kumasukkan puting toket di atasnya ke dlm mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting toket kiri Amaya. Kumainkan puting di dlm mulutku itu dgn lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar puting yg berwarna coklat.

“Ah… ah… Bobby-san… geli… geli…,” mulut indah Amaya mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan, bagaikan desisan ular yg kelaparan mencari mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas kuat toket montok yg kenyal Amaya sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dgn tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada puting di atas puncak bukit toket kanan itu.

“Bobby-san… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”

Aku semakin gemas. Toket aduhai Amaya itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang kusedot sebesar-besarnya dgn tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yg kusedot hanya putingnya dan kucepit dgn gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dgn daerah tangkap sebesar-besarnya dgn remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yg mencuat gagah di puncaknya.

“Ah… Bobby-san… terus Bobby-san… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Amaya mendesis-desis keenakan.

Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.

Sampai akhirnya Amaya tdk kuat melayani serangan-serangan awalku. Dia dgn gerakan cepat memelorotkan celana dlmku hingga turun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kurapatkan lututku sehingga celana dlm melorot jatuh ke karpet ruang tamu. Jari-jari tangan kanan Amaya yg mulus dan lembut kemudian menangkap penisku yg sdh berdiri dgn gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

“Sugoi… Bobby-san, sugoi… Penismu besar sekali… Penis pacar-pacarku dulu dan jg penis suamiku tdk ada yg sebesar ini. Sugoi… sugoi…,” ucapnya terkagum-kagum.

Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan penisku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di liatnya menara kejantananku. Remasannya itu memberi rasa hangat dan nikmat pada penisku.

“Bobby-san, kita main di dlm kamar saja…,” ajak Amaya dgn sinar mata yg sdh dikuasai nafsu birahi.

Tangan kirinya mendorong perlahan diriku untuk membebaskan toketnya dari gelutan wajah dan tanganku. Dia lalu mengunci pintu dari dlm dan membiarkan kunci tetap tertanam di lobangnya agar orang dari luar tdk dapat membukanya. Setelah itu dia menarik tanganku.

Aku dan Amaya pun berjalan menuju menuju kamar yg ada di sebelah ruang tamu. Kamar itu berukuran dua belas tatami. Sebagaimana kamar-kamar tidur tradisional Jepang, kamar itu kelihatan kosong, tanpa perabotan rak atau lemari. Namun di salah satu dindingnya, terdapat dua buah pintu geser dimana di dalamnya terdapat suatu ruang bersusun untuk menaruh futon.

Futon adalah kasur tidur yg gampang digulung. Kebiasaan orang Jepang, bila mereka mau tidur mereka membuka futon, sedang bila selesai tidur maka futon tersebut mereka gulung kembali dan mereka simpan di ruang bersusun yg menyatu dgn dinding tersebut. Dgn cara inilah orang Jepang menghemat tempat karena di saat tdk tidur maka kamar tersebut dapat dipakai untuk acara lainnya.

Amaya yg tinggal tertutup celana dlm itu berjalan di depanku. Dari belakang, bentuk tubuhnya sungguh terlihat aduhai. Rambut belakang yg diikatnya ke atas itu menyebabkan lehernya yg jenjang terlihat jelas bagian belakangnya. Beberapa helai rambut bagian bawahnya yg pendek terlepas dari ikatan tersebut dan terjatuh menghiasi lehernya yg jenjang. Kulit punggungnya kelihatan licin. Tubuh tersebut meramping di bagian pinggangnya. Di bawah pinggang, tampak pinggulnya yg melebar dgn indahnya. Celana dlm pink minimnya tdk mampu menyembunyikan keindahan gundukan daging pantatnya yg putih dan amat mulus. Gundukan daging pantat itu menggial ke kiri-kanan dgn amat merangsangnya bergerak mengimbangi setiap langkah kakinya. Kemudian bentuk paha dan betisnya amatlah bagus, berkulit putih mulus tanpa terlihat goresan sedikitpun.

Perempuan Jepang bertubuh aduhai itu membuka pintu geser dan mengambil satu futon lebar dari dalamnya. Lebar futon itu kira-kira satu tiga per empat lebar futon yg kupunyai. Agaknya futon tersebut adalah futon untuk tidur dua orang. Amaya lalu membuka futon tersebut di atas lantai kamar yg berkarpet tebal berwarna biru tua. Dlm mengatur letaknya, dia merunduk menghadap ke arahku. Toketnya yg besar dan montok itupun tampak menggantung kenyal dgn indahnya di dadanya. Di bawah lampu neon, gundukan toket itu tampak amat mulus dan putih mengkilat.

Sementara ujungnya berwarna coklat tua, dgn putingnya yg menyembul gagah di tengah-tengahnya berwarna pink kecoklat-coklatan. Amaya kemudian mengambil sprei dari ruang susun atas, lalu menutup kembali pintu geser tersebut. Ketika mengambil sprei, tubuh tampak kanannya kelihatan jelas dari tempatku berdiri. Dari samping kanannya, toketnya kelihatan begitu membusung dgn bagusnya, di mana ujung serta putingnya kelihatan meruncing tajam dgn aduhainya. Sungguh toket dan puting yg sangat enak dilahap dan disedot-sedot.

Selesai melapisi futon dgn sprei, Amaya mematikan lampu neon dan berjalan membelakangiku dlm rangka menghidupkan lampu bercahaya kuning yg agak remang-remang. Masih pada posisi membelakangiku, dia lalu mencopot celana dalamnya. Wow… luar biasa! Kini tubuh yg membelakangiku itu telanjang bulat, tanpa suatu penutup kain selembarpun. Gumpalan daging di pantatnya yg tadi masih ditutupi celana dlm itu kini terlihat menggunduk dgn amat bagusnya. Di bawah sorot lampu kekuningan, kulit pantat yg putih itu menjadi terlihat kuning licin. Sungguh mulus sekali.

Aku tdk dapat berlama-lama memandang tubuh Amaya yg sungguh aduhai itu. Segera kurengkuh tubuhnya dari belakang dgn gemasnya. Kukecup daerah antara telinga dan lehernya. Bau harum dan segar yg terpancar dari kulitnya kuhisap dlm-dlm. Kadang daun telinga sebelah bawahnya yg kebetulan sedang tdk memakai anting-anting kukulum dlm mulutku dan kumainkan dgn lidahku. Kadang ciumanku berpindah ke punggung lehernya yg jenjang. Kujilati pangkal helaian rambutnya yg terjatuh di kulit lehernya.

Sementara tanganku mendekap dadanya dgn eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku meremas-remas kedua belah toketnya. Remasanku kadang sangat kuat, kadang melemah. Sementara di bagian bawah, penisku kutekankan ke gundukan pantatnya yg amat mulus. Penisku merasa hangat dan nikmat berada di himpitan pantat kenyal Amaya dan kulit perut bawahku sendiri. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kananku menggencet dan memelintir perlahan puting toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas kuat bukit toket kanannya dan bibirku menyedot kulit mulus pangkal lehernya yg bebau harum, penisku kugesek-gesekkan dan kutekan-tekankan ke pantatnya. Amaya pun menggelinjang ke kiri-kanan bagaikan ikan yg hampir kehabisan air.

“Ah… Bobby-san… ngilu… ngilu… terus Bobby-san… terus… ah… geli… geli… terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” Amaya merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dgn berirama sejalan dgn permainan tanganku di toketnya.

Akibatnya pinggulnya menggial ke kanan-kiri. Goyang gialan pinggul itu membuat penisku yg sedang menggesek-gesek dan menekan-nekan pada kenyalnya bukit pantatnya merasa semakin keenakan. Penisku serasa diremas-remas dan dipelintir-pelintir oleh pantat mulus Amaya.

“Amaya… enak sekali Amaya… enak sekali pantatmu… sssh… luar biasa… enak sekali…,” aku pun mendesis-desis keenakan.

“Hi-hik… Bobby-san… kamu keenakan ya? Penismu terasa besar dan keras sekali memijat-mijat pantatku. Wow… penismu terasa hangat di kulit pantatku… Ah…

sssh… Bobby-san… tanganmu nakal sekali di dadaku… ngilu, Bob… ngilu…,” rintih Amaya.

“Benar, Amaya… tanganku memang nakal… tetapi penyebabnya karena toketmu besar dan kenyal sekali.

Toketmu mulus sekali… Toketmu licin sekali… Sssh… luar biasa indahnya…”

“Bobby-san… ngilu… suka sekali kau memainkan toketku… Ah… geli ah, geli… Jangan mainkan hanya putingnya saja… geli… remas seluruhnya saja…” Amaya semakin menggelinjang-gelinjang dlm dekapan eratku.

“Amaya… sugoi… indah sekali toketmu… Kenapa kau tdk jadi bintang film saja… Toketmu lebih indah dari toket Natsumi Kawahama… Toketmu lebih bagus dari toket Ai Iijima… Seharusnya kau jadi bintang film saja…”

“Auw! Bobby-san… remasanmu kuat sekali… Tanganmu nakal sekali… Sssh… sssh… ngilu… ngilu… Ak… penismu di pantatku jg nakal sekali… besar sekali… kuat sekali…”

“Habis… pinggulmu bagus sekali… pantatmu kenyal dan mulus sekali… licin sekali… Wow… pantatmu bergoyang ke kanan-kiri… Edan… edan… enak sekali…”

Aku semakin bersemangat menekan-tekankan penisku di pantat Amaya yg licin dan mulus sekali itu. Tekanannya menjadi berputar-putar akibat goyangan ke kiri-kanan pinggul Amaya. Rasa hangat dan enak sekali mengalir semakin hebat di seluruh sel-sel penisku. Seiring dgn rasa enak itu aku semakin meningkatkan permainan tanganku di toket montok itu dan kecupan-kecupan bibirku di leher dan daun telinganya.

“Sssh… Bobby-san. Ngilu… ngilu… geli… geli… Nakal sekali tangan, mulut, dan penis kamu. Auw…! Ngilu… ngilu…,” suara rintihan Amaya mulai terdengar melayg. Seolah dia sdh berada di antara alam sadar dan alam tak sadar.

“Sdh Bobby-san… aku sdh tdk tahan lagi… Aku inginkan permainan yg sebenarnya… “

Tanpa menunggu aba-aba kedua kalinya, tubuh telanjang Amaya yg mulus itu langsung kubopong ke atas futon.

Di dlm boponganku, Amaya merangkulkan tangannya ke leherku sambil bibirnya mengecupi lengan tanganku. Untuk ukuran perempuan Jepang, tubuh Amaya sebenarnya termasuk istimewa. Kebanyakan perempuan Jepang, tinggi badan mereka hanya sekitar 160 cm, sedang toket mereka relatif kecil. Kalau masalah pinggul, mereka memang rata-rata mempunyai bentuk yg melebar dgn bagusnya, yg cukup kontras dgn pinggang mereka yg ramping-ramping.

Berbeda dgn Amaya, dia mempunyai badan yg tergolong tinggi, yakni 167 cm. Toketnya besar, padat, dan montok. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya luar biasa. Kecuali melebar dgn bagusnya, gumpalan pantatnya pun membusung ke luar dgn amat indahnya. Walaupun kulitnya putih dan mulus, namun tubuhnya tdk lunak dan empuk. Seluruh bagian tubuh yg sdh kugeluti terasa padat dan kenyal. Makanya kalau dipandang dari kejauhan kulit tubuhnya mengesankan licin dan mulus sekali. Namun untuk membopong tubuh aduhai Amaya yg berukuran serba istimewa itu bagiku tdk ada masalah. Enteng-enteng saja. Tinggi badanku sendiri 174 cm. Badanku padat dan tegap. Dadaku bidang. Orang-orang Jepang temanku dlm latihan aikido bilang tubuhku sangat atletis ditambah dgn otot-otot badan yg berisi.

Tubuh Amaya kubaringkan di atas futon. Amaya tdk mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh futon, tangannya menarik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yg pink merekah itu melumat bibirku dgn ganasnya. Aku pun tdk mau mengalah. Kulumat bibirnya dgn penuh nafsu yg menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dgn kuatnya. Kulit punggungnya yg teraih oleh telapak tanganku kuremas-remas dgn gemasnya.

Kemudian aku menindihi tubuh Amaya. Penisku terjepit di antara kemulusan pangkal pahanya dan perutku bagian bawah sendiri. Rasa hangat mengalir ke penisku yg tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Amaya. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Amaya yg bagus. Kukecup leher jenjang Amaya yg memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yg dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dgn wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga penisku menekan dan menggesek-gesek paha Amaya. Gesekan maju-mundur di kulit paha yg licin itu membuat penisku bagai diperas dgn gerakan maju-mundur. Kepala penisku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Amaya.

Puas menggeluti leher indah itu, wajahku pun turun ke toket montok Amaya. Dgn gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah toketnya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman toketnya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dgn menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung toketnya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dlm-dlm daging toket yg besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit toket kiri Amaya. Daerah toket yg kecoklat-coklatan beserta putingnya yg pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dlm mulutku. Kulahap ujung toket dan putingnya itu dgn bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yg menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dlm mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dgn lidahku.

“Bobby-san… geli… geli…,” kata Amaya kegelian.

Aku tdk perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit toket Amaya. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit toket itu sebesar-besarnya. Apa yg masuk dlm mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara toket sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya dgn tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara toket kiri dan toket kanan Amaya. Sementara penisku semakin menekan dan menggesek-gesek dgn beriramanya di kulit pahanya. Amaya semakin menggelinjang-gelinjang dgn hebatnya.

“Bobby-san… Bobby… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu… Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Amaya.

Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas toket montoknya. Sementara penisku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Amaya.

Akhirnya aku tdk sabar lagi. Kulepaskan toket montok Amaya dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing penisku untuk mencari liang meqinya. Kuputar-putarkan dulu kepala penisku di kelebatan jembut disekitar bibir meqi Amaya. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala penisku. Kepala penisku pun kegelian. Geli tetapi enak.

“Bobby-san… kamu sdh ingin masuk? Hi-hi-hik… dasar masih perjaka. Baru pertama kali menggeluti perempuan, jadi tdk sabar untuk merasakan meqi perempuan. Hi-hi-hik… kau akan cepat terlempar ke langit ketujuh, Bob. Kau akan segera ejakulasi… Namun bukan masalah, nanti kita dapat melakukan babak kedua…”

Jari-jari tangan Amaya yg lentik meraih penisku yg sdh amat tegang. Pahanya yg mulus itu dia buka agak lebar.

“Sugoi… sugoi… penismu besar dan keras sekali, Bob…,” katanya sambil mengarahkan kepala penisku ke lobang meqinya.

Sesaat kemudian kepala penisku menyentuh bibir meqinya yg sdh basah. Kemudian dgn perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, penis kutekankan masuk ke liang meqi. Kini seluruh kepala penisku pun terbenam di dlm meqi. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala penisku dgn enaknya.

Aku menghentikan gerak masuk penisku.

“Bobby-san… teruskan masuk, Bob… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” Amaya protes atas tindakanku.

Namun aku tdk perduli. Kubiarkan penisku hanya masuk ke lobang meqinya hanya sebatas kepalanya saja, namun penisku kugetarkan dgn amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dgn ganasnya menggeluti lehernya yg jenjang, lengan tangannya yg harum dan mulus, dan ketiaknya yg bersih dari bulu ketiak. Amaya menggelinjang-gelinjang dgn tdk karuan.

“Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, Bob. Geli… Terus masuk, Bob…”

Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dgn kuat-kuat. Sementara tenaga kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Penisku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dlm meqi Amaya dgn sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dgn pangkal pahanya yg mulus yg sedang dlm posisi agak membuka dgn kerasnya. Sementara kulit penisku bagaikan diplirid oleh bibir dan daging lobang meqinya yg sdh basah dgn kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

“Auwww!” pekik Amaya.

Aku diam sesaat, membiarkan penisku tertanam seluruhnya di dlm meqi Amaya tanpa bergerak sedikit pun.

“Sakit Bobby-san… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu…,” kata Amaya sambil tangannya meremas punggungku dgn kerasnya.

Aku pun mulai menggerakkan penisku keluar-masuk meqi Amaya. Aku tdk tahu, apakah penisku yg berukuran panjang dan besar ataukah lubang meqi Amaya yg berukuran kecil. Yg saya tahu, seluruh bagian penisku yg masuk meqinya serasa dipijit-pijit dinding lobang meqinya dgn agak kuatnya. Pijitan dinding meqi itu memberi rasa hangat dan nikmat pada penisku.

“Bagaimana Amaya, sakit?” tanyaku

“Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang meqiku…,” jawab Amaya.

Aku terus memompa meqi Amaya dgn penisku perlahan-lahan. Toket kenyalnya yg menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yg sdh mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yg bidang. Kehangatan toketnya yg montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Penisku serasa diremas-remas dgn berirama oleh otot-otot meqinya sejalan dgn genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala penisku menyentuh suatu daging hangat di dlm meqi Amaya. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala penis sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yg putih mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar penisku tdk tercabut dari lobang meqinya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Amaya kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok meqinya perlahan dgn penisku, betis kirinya yg amat indah itu kuciumi dan kukecupi dgn gemasnya. Setelah puas dgn betis kiri, ganti betis kanannya yg kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di penisku dgn mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di meqi Amaya.

Setelah puas dgn cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah toketnya. Masih dgn kocokan penis perlahan di meqinya, tanganku meremas-remas toket montok Amaya. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit toket itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Amaya pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dgn sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.

“Ah… Bobby-san, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu Bob, ngilu… Sssh… sssh… terus Bob, terus…. Edan… edan… penismu membuat meqiku merasa enak sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar meqi, Bob. Nyemprot di dlm saja… aku sedang tdk subur…”

Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar penisku di meqi Amaya.

“Ah-ah-ah… bener, Bob. Bener… yg cepat… Terus Bob, terus… “

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Amaya. Tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk penisku di meqi Amaya. Terus dan terus. Seluruh bagian penisku serasa diremas-remas dgn cepatnya oleh daging-daging hangat di dlm meqi Amaya. Mata Amaya menjadi merem-melek dgn cepat dan dan indahnya. Begitu jg diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yg luar biasa.

“Sssh… sssh… Amaya… enak sekali… enak sekali meqimu… enak sekali meqimu…”

“Ya Bob, aku jg merasa enak sekali… terusss… terus Bob, terusss…”

Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kantholku pada meqinya. Penisku terasa bagai diremas-remas dgn tdk karu-karuan.

“Bob… Bob… sugoi Bob, sugoi… sssh… sssh… Terus… terus… Saya hampir keluar nih Bob…

sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Amaya jadi mengoceh tanpa kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Jepang yg molek satu ini tahu bahwa lelaki Indonesia itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Indonesia yg bernama Bobby ini. Sementara penisku merasakan daging-daging hangat di dlm meqi Amaya bagaikan berdenyut dgn hebatnya.

“Bobby-san… Bobby… Bobby…,” rintih Amaya. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.

Ibarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dgn semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dgn pembalap aku lebih beruntung. Di dlm “mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan yg luar biasa di sekujur penisku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yg tiada terkira.

“Bob… ah-ah-ah-ah-ah… Kimochi Bob, kimochi… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar Bob… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”

Tiba-tiba kurasakan penisku dijepit oleh dinding meqi Amaya dgn sangat kuatnya. Di dlm meqi, penisku merasa disemprot oleh cairan yg keluar dari meqi Amaya dgn cukup derasnya. Dan telapak tangan Amaya meremas lengan tanganku dgn sangat kuatnya. Mulut sensual Amaya pun berteriak tanpa kendali:

“…keluarrr…!”

Mata Amaya membeliak-beliak. Sekejap tubuh Amaya kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. Penisku yg tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dlm meqi Amaya. Penisku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan meqi Amaya. Kulihat mata Amaya kemudian memejam beberapa saat dlm menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding meqinya pada penisku berangsur-angsur melemah, walaupun penisku masih tegang dan keras. Kedua kaki Amaya lalu kuletakkan kembali di atas futon dgn posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Amaya dgn mempertahankan agar penisku yg tertanam di dlm meqinya tdk tercabut.

“Bobby-san… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Amaya dgn mimik wajah penuh kepuasan,

“Sdh dua tahun terakhir ini suamiku tdk pernah membawa aku orgasme. Baru setengah jalan dia selalu sdh keluar. Dlm dua tahun belakangan ini aku mencapai kepuasan seks lewat onani sambil menonton blue film. Aku selalu membayangkan bahwa perempuan yg digenjot dlm film itu adalah diriku. Dan sejak kamu tinggal di sini, aku selalu membayangkan bahwa laki-laki yg menggenjot lawan mainnya di film tersebut adalah kamu.”

Aku senang mendengar pengakuan Amaya itu. Berarti selama aku tdk bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Amaya dlm masturbasiku, sementara dia jg membayangkan kugeluti dlm onaninya.

“Bobby-san… kamu seperti yg kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa… dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”

Aku bangga mendengar ucapan Amaya. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yg suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Jepang harus kewalahan menghadapi laki-laki Indonesia. Perempuan Jepang harus mengakui kejantanan dan keperkasaan pria Indonesia.

Kebetulan aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Amaya sdh mencapai orgasmenya. Penisku masih tegang di dlm meqinya. Penisku masih besar dan keras, yg harus menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tdk pusing.

Aku kembali mendekap tubuh mulus Amaya, yg di bawah sinar lampu kuning kulit tubunya tampak kuning dan licin. Penisku mulai bergerak keluar-masuk lagi di meqi Amaya, namun masih dgn gerakan perlahan. Dinding meqi Amaya secara berangsur-angsur terasa mulai meremas-remas penisku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan penisku lebih lancar dibandingkan dgn tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yg disemprotkan oleh meqi Amaya beberapa saat yg lalu.

“Ahhh… Bobby-san… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu… semprotkan air manimu ke dinding-dinding meqiku… Sssh…,” Amaya mulai mendesis-desis lagi.

Bibirku mulai memagut bibir merekah Amaya yg amat sensual itu dan melumat-lumatnya dgn gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menygga berat badanku, tangan kananku meremas-remas toket montok Amaya serta memijit-mijit putingnya, sesuai dgn irama gerak maju-mundur penisku di meqinya.

“Sssh… sssh… sssh… enak Bob, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis bibir Amaya di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku.

Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Amaya dgn kuatnya, aku mempercepat genjotan penisku di meqinya. Pengaruh adanya cairan di dlm meqi Amaya, keluar-masuknya penis pun diiringi oleh suara,

“srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Mulut Amaya di saat terbebas dari lumatan bibirku tdk henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

“Bob… ah… Bob… ah… Bob… hhh… Bob… ahh…”

Penisku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari toketnya. Kedua tanganku kini dari ketiak Amaya menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Amaya pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya penisku ke dlm meqi Amaya sekarang berlangsung dgn cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, penis kuhunjamkan keras-keras agar menusuk meqi Amaya sedalam-dalamnya. Dlm perjalanannya, penisku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding meqi Amaya. Sampai di langkah terdalam, mata Amaya membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan,

“Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar meqi, penis kujaga agar kepalanya yg mengenakan helm tetap tertanam di lobang meqi. Remasan dinding meqi pada penisku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dgn gerak masuknya. Bibir meqi yg mengulum penisku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tdk rela bila sampai ditinggal keluar oleh penisku. Pada gerak keluar ini Bibir Amaya mendesah, “Hhh…”

Aku terus menggenjot meqi Amaya dgn gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yg luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di penisku. Tangan Amaya meremas punggungku kuat-kuat di saat penisku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang meqinya. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara penisku dan meqi Amaya menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yg merdu yg keluar dari bibir Amaya:

“Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

Penisku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yg tiada tara membuatku tdk kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

“Amaya… Amaya… sugoi… sugoi… Enak sekali Amaya… Meqimu enak sekali… Meqimu hangat sekali… sugoi… jepitan meqimu enak sekali…”

“Bob… Bob… terus Bob…,” rintih Amaya,

“enak Bob… enaaak… Ak! Ak! Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru penisku. Gatal yg enak sekali. Aku pun mengocokkan penisku ke meqinya dgn semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dlm, penisku berusaha menusuk lebih dlm lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yg luar biasa di penis pun semakin menghebat.

“Amaya… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yg luar biasa aku tdk mampu menyelesaikan ucapanku yg memang sdh terbata-bata itu.

“Bob… Bob… Bob! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak… aku ke-ke-ke…”

Tiba-tiba penisku mengejang dan berdenyut dgn amat dahsyatnya. Aku tdk mampu lagi menahan rasa gatal yg sdh mencapai puncaknya. Namun pada saat itu jg tiba-tiba dinding meqi Amaya mencekik kuat sekali. Dgn cekikan yg kuat dan enak sekali itu, aku tdk mampu lagi menahan jebolnya bendungan dlm alat kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala penisku terasa disemprot cairan meqi Amaya, bersamaan dgn pekikan Amaya, “…keluarrrr…!” Tubuh Amaya mengejang dgn mata membeliak-beliak.

“Amaya…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Amaya sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha meremukkan tulang-tulang punggungnya dlm kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yg jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Spermaku bersemburan dgn derasnya, menyemprot dinding meqi Amaya yg terdalam. Penisku yg terbenam semua di dlm kehangatan meqi Amaya terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Amaya terdiam dlm keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke toketnya seolah terpateri erat dgn tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dlm penisku. Cret! Cret! Cret! Penisku menyemprotkan lagi air mani yg masih tersisa ke dlm meqi Amaya. Kali ini semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan baik tubuh Amaya maupun tubuhku tdk mengejang lagi. Aku kemudian menciumi leher mulus Amaya dgn lembutnya, sementara tangan Amaya mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain sex dgn Amaya. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan jepang yg bertubuh tinggi dan kenyal, berkulit putih mulus, bertoket besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tdk rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Amaya.

“Bobby-san… Terima kasih Bob. Puas sekali saya. Indah sekali… sungguh… kimochi yokatta,” kata Amaya lirih.

“Malam ini tidur di sini saja ya, Bob?”

Aku tdk memberi kata jawaban. Sebagai jawaban, bibirnya yg indah itu kukecup mesra. Amaya kemudian mengambil dua buah bantal tipis serta sebuah selimut besar dari dlm rak futon. Aku dan dia tidur bersama tanpa mengenakan selembar pakaian pun di bawah satu selimut. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yg bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Bau harum bir yg dia minum masih terpancar dari udara pernafasannya.