Cerita Dewasa

Cerita Sex – Hujaman Ke Lubang Memekku..

Perkenalkan namaku Mia aku adalah pegawai karyawati di sebuah bank swasta, setelah habis melahirkan anak pertamaku gairah seksku berkurang maka dari itu anjuran dari suamiku aku dibawa ke dukun yang letaknya di desa kecil jauh dari Jakarta untuk mengembalikan gairah seksku.

Setelah aku berobat kesana gairah seks untuk bersetubuh semakin menggebu gebu karena dalam rangka penyembuhan tersebut aku harus mau menuruti semua persyaratan yang diajukan oleh Ki Alugoro, antara lain diurut dengan semacam obat dalam keadaan telanjang bulat dan disetubuhi olehnya (waktu itu disetujui dan malah disaksikan oleh suamiku).

Akupun setuju asal aku dapat sembuh dari frigiditasku. Dan mungkin karena kontol Ki Alugoro memang benar-benar besar, lagi pula dia pandai sekali mencumbu den membangkitkan gairahku, ditambah dengan ramuan-ramuan yang diberikan olehnya, maka sekarang aku benar-benar sembuh dari frigiditasku, dan menjadi wanita dengan gairah seks yang lumayan tinggi. Hanya saja, karena ukuran kontol suamiku jauh lebih kecil dari kontol Ki Alugoro, maka dengan sendirinya suamiku tidak pernah bisa memuaskanku dalam bersetubuh.

Apakah aku harus datang lagi ke tempat Ki Alugoro dengan pura-pura belum sembuh? (padahal supaya aku disetubuhi lagi olehnya). Mula-mula terbersit pikiran untuk berbuat begitu, tapi setelah kupikir-pikir lagi kok gengsi juga ya?

Masak seorang istri baik-baik datang ke laki-laki lain supaya disetubuhi walaupun kalau mengingat kontol Ki Alugoro yang luar biasa besar itu aku sering tidak bisa tidur dan gairahku untuk bersetubuh memuncak habis.

Sering-sering aku harus memuaskan diri dengan dildo yang kubeli tempo hari di depan suamiku sehabis kami bersetubuh karena suamiku tidak bisa memuaskan diriku. Malah sering suamiku sendiri yang merojok-rojokkan dildo itu ke dalam tempikku.

Untunglah, entah karena mengerti penderitaanku atau tidak, ternyata suamiku mempunyai angan-angan untuk melakukan persetubuhan three in one atau melihat aku disetubuhi oleh laki-laki lain, terutama setelah dia melihat aku disetubuhi Ki Alugoro tempo hari.

Pantesan sejak itu, sebelum bercinta, dia selalu mengawalinya dengan angan-angannya. Angan-angan yang paling merangsang bagi suamiku, adalah membayangkan aku bersetubuh dengan laki-laki lain dengan kehadiran suamiku, seperti dengan Ki Alugoro tempo hari.

Setelah beberapa lama dia menceritakan angan-angannya tersebut, suatu hari dia bertanya bahwa apakah aku mau merealisasikan angan-angan tersebut. Pada awalnya aku pura-pura mengira dia cuma bercanda. Namun dia semakin mendesakku untuk melakukan itu, aku bertanya apakah dia serius.

Dia jawab, ”Ya aku serius!” Kemudian dia berkata, bahwa motivasi utamanya adalah untuk membuatku bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Karena dengan melihat wajahku ketika mencapai orgasme dengan Ki Alugoro tempo hari, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya (rupanya, waktu melihat tempikku dianceli kontol gede Ki Alugoro, diam-diam dia mengocok-ngocok kontolnya sendiri sampai orgasme.

Tentu saja hal itu sebetulnya sangat aku harapkan. Inilah yang namanya dildo dicinta, kontolpun tiba. Secara terus terang, seperti aku tuturkan diatas, aku tidak pernah merasa puas dengan kontol suamiku yang kecil, terutama setelah tempikku dianceli oleh kontol Ki Alugoro yang luar biasa itu. Wah, rasanya sampai tidak bisa aku katakan.

Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, apalagi di pagi hari apabila malamnya kami melakukan persetubuhan karena suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna dan aku tidak sampai orgasme.

Rupanya angan-angan seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar angan-angan saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan dan suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan angan-angannya (padahal sebenarnya aku sudah sangat mengharapkan, kapan rencana itu diwujudkan?).

Tetapi untuk meyakinkan keseriusannya aku pura-pura terpaksa mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutanyakan apakah dia tidak cemburu melihat istrinya ditelanjangi dan tempiknya dianceli dengan kontol orang lain? Dia bilang sama sekali tidak.

”Karena aku hanya ingin melihat kau bahagia dan terpuaskan dalam persetubuhan” jawabnya mantab waktu itu.

”Tentu saja aku akan mencarikan kau temanku yang mempunyai kontol besar dan keras. Setidak tidaknya sama dengan kontol Ki Alugoro tempo hari” janjinya lebih lanjut.

Sejak itu dia rajin menawarkan nama-nama temannya untuk mensetubuhiku.

”Terserah kaulah, kan kau yang punya rencana aku disetubuhi temanmu” jawabku waktu itu.

Akhirnya di suatu hari suamiku berbisik padaku, ”Aku telah mengundang Eros untuk menginap di sini malam ini”

Hatiku berdebar keras mendengar kata-kata suamiku itu, karena Eros teman suamiku itu adalah salah seorang idola di sekolahku dulu dan dia adalah cowok yang menjadi rebutan cewek-cewek dan sangat kudambakan jadi pacarku semasa SMA. Suamikupun kenal baik dengan dia karena kami memang berasal dari satu kota kabupaten yang tidak seberapa besar.

Terus terang kuakui bahwa penampilan Eros sangat oke. Bentuk tubuhnya pun lebih tinggi, lebih kekar dan lebih atletis dari tubuh suamiku karena dia dulu jago basket dan olah raga yudo.

Walaupun Eros adalah cowok yang kudambakan semasa SMA dulu, tetapi kami belum pernah berpacaran karena dia memang agak acuh terhadap cewek dan disamping itu, banyak sainganku cewek-cewek yang mengejar-ngejar dia.

Apalagi waktu itu sudah menjelang EBTANAS, dan setelah itu dia sibuk dengan persiapan masuk universitas. Waktu itu aku kelas 1, sedang dia kelas 3 SMA.

Ketika Eros datang, aku sedang mematut-matut diri dan memilih gaun yang seksi dengan belahan dada yang cukup rendah agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kuamati gaun yang kukenakan terlihat sangat ketat melekat pada tubuhku sehingga lekukan-lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Susuku kelihatan sangat menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah.

Tubuhku memang ramping dan berisi. Susuku yang subur juga kelihatan sangat kenyal. Demikian pula pantatku yang cenderung nonggeng itu menonjol seakan menantang laki-laki yang melihatnya. Dengan perutku yang masih cukup rata dengan kulitku yang puber (putih bersih) membuat tubuhku menjadi sangat sempurna. Apalagi wajahku memang tergolong cantik.

Dan terus terang, dari dulu aku memang bangga dengan tubuh dan wajahku. Tiba-tiba aku baru tersadar, pantas saja suamiku mempunyai angan-angan untuk melihat aku disetubuhi oleh laki laki-lain. Ingin membandingkan dengan film BF yang sering kami lihat mungkin.

Setelah mematut-matut diri, aku keluar untuk menyediakan makan malam. Setelah makan malam, Eros dan suamiku duduk mengobrol di teras belakang rumah dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan sedikit minuman keras pemberian teman suamiku yang baru pulang dari luar negeri. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu hanya kami berdua ditambah Eros saja di rumah.

Pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumahnya selama beberapa hari, sedang anakku satu-satunya tadi siang dijemput mertuaku untuk menginap di rumahnya.

Ketika hari telah makin malam dan udara mulai terasa dingin, tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku, ”Aku telah bicara dengan Eros mengenai rencana kita. Dia setuju malam ini menginap di sini.

”Tapi walaupun demikian kalau kamu kurang cocok dengan pilihanku ini, kamu tidak usah takut berterus terang padaku!” bisik suamiku selanjutnya.

”Tapi kujamin kontolnya memang gede, aku beberapa kali melihatnya waktu kencing di kantor. Tapi soal kekerasannya, kamu sendiri yang dapat membuktikannya nanti” lanjutnya lagi.

Mendengar bisikan suamiku itu, diam-diam hatiku gemetar sambil bersorak gembira, tetapi aku pura-pura diam saja, tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Dalam hati aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain.

Apakah dia nanti tidak akan cemburu melihat istrinya disetubuhi lelaki lain secara sadar dan seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain yang sudah amat dia kenal (kalau dengan Ki Alugoro kan dalam rangka penyembuhan?).

Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan berganti pakaian memakai baju tidur tipis tanpa BH, sehingga susuku, terutama pentil susuku yang besar itu terlihat membayang di balik baju tidur.

Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Eros kelihatan terpana untuk beberapa saat.

Akan tetapi mereka segera bersikap biasa kembali dan suamiku langsung berkata, ”Ayo..!” katanya dengan senyum penuh arti kepada kami berdua dan kamipun segera masuk ke kamar tidur.

Di kamar tidur suamiku mengambil inisiatif lebih dulu dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh susuku dari luar baju tidur.

Melihat itu, Eros mulai mengelus-elus pahaku yang terbuka, karena baju tidurku tersingkap ke atas. Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri tengkurap di atas tempat tidur.

Sebenarnya nafsuku sudah mulai naik karena tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah idolaku waktu di SMA dulu, apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur tipis tanpa BH.

Akan tetapi kupikir aku harus berpura-pura tetap tenang untuk melihat inisiatif dan aktivitas Eros dalam memancing gairah birahiku. Aku ingin tahu sampai seberapa kemahirannya.

Beberapa saat kemudian kurasakan bibir Eros mulai menyusur bagian yang sensitif bagiku yaitu bagian leher dan belakang telinga. Merasakan gesekan-gesekan itu aku berpikir bahwa inilah saat untuk merealisasikan angan-angan suamiku. Seperti mengerti keinginanku, Eros mulai mengambil alih permainan selanjutnya.

Aku langsung ditelentangkan di pinggir ranjang, kemudian tangannya yang kiri mulai memegang sambil memijit-mijit susuku yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang kanan mengelus-elus dan memijit-mijit bibir tempikku yang masih dibalut celana dalam, sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas.

Tangan Eros yang berada di susuku mulai memelintir dengan halus ujung pentilku yang besar dan mulai mengeras.

Masih dalam posisi terlentang, kurasakan jemari Eros. terus meremas-remas susuku dan memilin-milin pentilnya.

Saat itu sebenarnya nafsuku belum begitu meninggi, tetapi rupanya Eros termasuk jagoan juga karena terbukti dalam waktu mungkin kurang dari 5 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum dan menghentikan aktivitasnya.

Kini Eros mulai membuka baju tidurku dan beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku. Lalu aku merasakan hembusan lembut hawa dingin AC di tempikku yang berarti celana dalamku telah dilepas oleh Eros. Kini Eros telah menelanjangi diriku sampai aku benar-benar dalam keadaan telanjang bulat tanpa ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhku.

Aku hanya bisa pasrah saja merasakan gejolak birahi dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi laki-laki idolaku dihadapan suamiku sendiri.

Kulirik Eros penuh nafsu menatap tubuhku yang telah telanjang bulat sepuas-puasnya.

Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Aku ditelanjangi oleh laki-laki idolaku dan yang sebenarnya aku harapkan kehadirannya.

Belum pernah aku bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain, kecuali dengan Ki Alugoro dalam keadaan setengah sadar dalam rangka penyembuhan tempo hari, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini.

Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Eros.

Maka, secara reflek dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap kontol Eros yang telah tegang dari luar celananya. Ini kelihatan karena bagian bawah celana Eros mulai menggembung besar. Aku mengira-ngira seberapa besar kontol Eros ini.

Kemudian aku mengarahkan tanganku ke arah retsluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang kontol Eros yang ternyata memang telah ngaceng itu. Aku langsung tercekat ketika terpegang kontol Eros yang seperti kata suamiku ternyata memang besar.

Kulirik suamiku sedang membuka retsluiting celananya dan mulai mengelus-elus kontolnya sendiri. Dia kelihatan benar-benar sangat menikmati adegan ini. Tanpa berkedip dia menyaksikan tubuh istrinya digauli dan digerayangi oleh laki-laki lain.

Sebagai seorang wanita dengan nafsu birahi yang lumayan tinggi, keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Eros pada bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang mulai menjalari diriku dan tempikku.

Setelah beberapa saat aku memegang sambil mengelus-elus kontol Eros, tiba-tiba Eros berdiri dan membuka celana beserta celana dalamnya sehingga kontolnya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Setelah membuka seluruh pakaiannya, kini Eros benar-benar bertelanjang bulat.

Sehingga aku dapat melihat dengan jelas ukuran kontol Eros dalam keadaan ngaceng, yang ternyata memang jauh lebih besar dan lebih panjang dari ukuran kontol suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. kontol Eros ini mencuat lurus ke depan agak mendongak ke atas, sedang kontol suamiku jauh lebih kecil, agak tunduk ke bawah dan miring ke kiri

Aku betul-betul terpana melihat kontol Eros yang sangat besar dan panjang itu. kontol yang sebesar itu memang belum pernah aku lihat (waktu dengan Ki Alugoro aku tidak sempat memperhatikan seberapa besar kontolnya, karena aku agak malu-malu dan setengah sadar).

Batang kontolnya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut-rambut keriting yang lebat. Kulitnya kelihatan tebal, lalu ada urat besar disekeliling batangnya dan terlihat seperti kabel-kabel di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kenyal, penuh, dan mengkilat.

Kemudian dia menyodorkan kontolnya tersebut ke hadapan wajahku.

Aku melirik ke arah suamiku, yang ternyata tambah asyik menikmati adegan ini sambil tersenyum puas dan mengelus-elus kontolnya, karena melihat aku kelihatan bernafsu menghadapi kontol yang sebesar itu.

Aku sebenarnya sudah amat terangsang, tetapi untuk menunjukkan pada Eros, aku agak tidak enak hati.

Tapi entah kenapa, tanpa kusadari tiba-tiba aku telah duduk di tepi ranjang sambil menggenggam kontol itu yang terasa hangat dalam telapak tanganku. Kugenggam erat-erat, terasa ada kedutan terutama di bagian uratnya.

Lingkaran genggamanku hampir penuh menggapai lingkaran batang kontolnya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan pernah memegang kontol sebesar ini, dari seorang laki-laki lain secara sadar dan penuh nafsu dihadapan suamiku.

Kembali aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati adegan ini, malah kali ini bukan hanya mengelus-elus, tetapi malah sambil mengocok kontolnya sendiri, yaitu adegan istrinya yang penuh nafsu birahi sedang digauli oleh laki-laki lain, yang juga merupakan idolaku dulu.

Tiba-tiba muncul nafsu hebat terhadap idolaku itu, sehingga dengan demonstratif kudekatkan mulutku ke kontol Eros, kujilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan kuhisap-hisap dengan nafsu birahi yang membara. Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati kontol itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku.

Kuluman dan hisapanku itu membuat kontol Eros yang memang telah berukuran besar itu menjadi bertambah besar, bertambah keras dan kepala kontolnya jadi tambah mengkilat merah keungu-unguan.. Dalam keadaan sangat bernafsu, kontol Eros yang sedang mengaceng keras dalam mulutku itu mengeluarkan semacam aroma yang khas yang aku namakan aroma lelaki.

Aroma itu menyebabkan gairah birahiku semakin memuncak dan lubang tempikku mulai terasa berdenyut-denyut hebat hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap kontol itu seperti hisapan sebuah vacuum cleaner.

Kuluman dan hisapanku yang amat bernafsu itu rupanya membuat Eros tidak tahan lagi. Tiba-tiba dia mendorong tubuhku sehingga telentang di atas tempat tidur.

Aku pun kini semakin nekat dan semakin bernafsu untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar.

”Rros…” kataku pelan dan aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa.

Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya diantara pahaku, Eros berbisik, ”Ssttt…………!” bisiknya sambil kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak. Itu berarti bahwa sebentar lagi kontolnya akan bercumbu dengan tempikku. Benar saja, aku merasakan ujung kontolnya yang hangat menempel tepat di permukaan tempikku.

Tidak langsung dimasukkan di lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, ini membuat tempikku tambah berdenyut-denyut dan terasa sangat nikmat. Dan makin lama aku makin merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan di tempikku itu.

Beberapa saat Eros melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih pinggangnya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainan ini. Eros menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala kontolnya tepat di antara bibir tempikku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang tempikku. Aku benar-benar menanti tusukannya.

”Oocchh.. Rross, please..” pintaku memelas.

Sebagai wanita di puncak birahi, aku betul-betul merasa tidak sabar dalam kondisi seperti itu. Sesaat aku lupa kalau aku sudah bersuami, yang aku lihat cuma Eros dan kontolnya yang besar dan panjang. Ada rasa deg-deg plas, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos kontol yang lebih besar dan lebih panjang.

”Ooouugghhh……” batinku yang merasa tak sabar benar untuk menunggunya.

Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari membuka bibir-bibir tempikku. Dan lebih dahsyat lagi aku merasakan ujung kontol Eros mulai mendesak di tengah-tengah lubang tempikku..

Aku mulai gemetar hebat, karena tidak mengira akan senikmat ini aku akan merasakan kenikmatan bersetubuh. Apalagi dengan orang yang menjadi idolaku, yang sangat kukagumi sejak dulu.

Perlahan-lahan Eros mulai memasukkan kontolnya ke dalam tempikku.

Aku berusaha membantu dengan membuka bibir tempikku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit kontol sebesar itu masuk ke dalam lubang tempikku yang kecil.

Tangan Eros yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang kontolnya yang diarahkan masuk ke dalam lubang tempikku.

Pada saat Eros mulai menekan kontolnya, aku mulai mendesis-desis, ”Sssshhhhh…… ERrosso…… ppelan-ppelan Rrosso… ssshhhh…… desisku gemetar. Eros lalu menghentikan aktivitasnya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian Eros melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan kontolnya. Setelah itu kontol Eros mulai terasa mendesak masuk dengan mantap.

Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam lubang tempikku. Seluruh tubuhku benar-benar merinding ketika merasakan kepala kontolnya mulai terasa menusuk mantap di dalam lubang tempikku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat batang kontol itu setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Eros sambil membuka pahaku lebih lebar lagi.

Kini aku mulai merasakan tempikku terasa penuh terisi dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya kontol itu masuk ke dalam lubang tempikku.

Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari Eros ketika hampir seluruh kontolnya itu amblas masuk.

Aku sendiri tidak mengira kontol sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk kedalam lubang tempikku yang kecil. Walaupun belum seluruh kontol Eros masuk ke dalam tempikku, rasanya seperti ada yang mengganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak aneh. Tetapi sedikit demi sedikit aku mulai bisa menyesuaikan diri dan menikmati rasa yang nyaman dan nikmat.

Ketika hampir seluruh batang kontol Eros telah amblas masuk ke dalam lubang tempikku, tanpa sengaja aku terkejang sehingga berakibat bagian dinding dalam tempikku seperti meremas batang kontol Eros.

Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan kontol Eros seperti berkerojot di dalam lubang tempikku akibat remasan tersebut. Aku terlonjak bukan karena kontol itu merupakan kontol dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain kontol suamiku dan Ki Alugoro, akan tetapi karena aku merasakan kontol Eros memang terasa lebih istimewa dibandingkan kontol suamiku maupun kontol Ki Alugoro, baik dalam ukuran maupun ketegangannya.

Selama hidupku memang aku belum pernah melakukan persetubuhan dengan laki-laki lain selain dengan suamiku dan Ki Alugoro dan keadaan ini memberikan pengalaman baru bagiku. Aku tidak menyangka ukuran kontol seorang laki-laki berpengaruh besar sekali terhadap kenikmatan bersetubuh seorang wanita.

Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Eros erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Eros. Saat itu kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamar.

Tanganku memegangi lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika Eros menarik kontolnya dari tempikku. Tapi dan belum sampai tiga perempat kontolnya berada di luar tempikku, tiba-tiba dia menghujamkannya lagi dengan kuat.

Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang disiramkan kepadaku secara tiba-tiba itu.

Begitulah beberapa kali Eros melakukan hujaman-hujaman ke dalam lubang tempikku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat sangat ke tubuhku.

Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang tempikku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat kontol Eros yang seperti kabel-kabel yang menjalar-jalar itu.

Biasanya suamiku kalau bersetubuh semakin lama semakin cepat gerakannya, tetapi Eros melakukan gerakan yang konstan seperti mengikuti alunan irama musik evergreen yang sengaja aku setel sebelumnya.

Tapi anehnya, justru aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit kontolnya dengan rytme seperti itu.

Tahap ini sepertinya sebuah tahap untuk melakukan start menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan tempikku baik bagian luar maupun dalam berdenyut-denyut hebat seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat.

Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kulihat suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Eros.

Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali rasa puas di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Eros sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah BF.

Keadaan ini tiba-tiba menimbulkan suatu kepuasan lain dalam diriku. Bukan saja disebabkan oleh kenikmatan persetubuhan yang sedang kualami bersama Eros, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain karena aku telah dapat melaksanakan angan-angan suamiku. Suamiku menghendaki aku bersetubuh dengan laki-laki lain dan malam ini akan kulaksanakan sepuas-puasnya.

Tiba tiba Eros semakin mempercepat hunjaman-hunjaman kontolnya ke dalam lubang tempikku.

Tentu saja ini membuat aku semakin bernafsu sampai-sampai mataku terbeliak-beliak dan mulutku agak terbuka sambil kedua tanganku merangkul pinggulnya kuat-kuat.

Aku tadinya tak menyangka sedikitpun kalau kontol Eros yang begitu besar mulai bisa dengan lancar menerobos lubang tempikku yang sempit dan sepertinya belum siap menerima hunjaman kontol dengan ukuran sedemikian besar itu. Terasa bibir tempikku sampai terkuak-kuak lebar dan seakan-akan tidak muat untuk menelan besar dan panjangnya kontol Eros. .

”Ooukkhhss.. sshhh.. Rross ..! Terrruusshh.. terrusshh.. Rross… mmmmhhhh…!” rintihku merasakan kenikmatan yang semakin lama semakin hebat ditempikku.

”Hhhmmh.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. Mmiiaaa.. uukkhh.. uukkhh..” Eros mulai mengeluarkan kata-kata vulgar yang malah menambah nafsu birahiku mendengarnya.

Gejolak birahi Eros ternyata makin menguasai tubuhnya dan tanpa canggung lagi ia terus menghunjam hunjamkan kontolnya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepadaku. Untuk tambah memuaskanku dan dirinya juga, batang kontol Eros terus menyusupi lubang tempikku sehingga akhirnya betul-betul amblas semuanya.

”Aarrggccchhhhhh…!!” aku melenguh panjang, kurasakan badanku merinding hebat, wajahku panas dan mungkin berwarna merah merona.

Mataku memandang Eros dengan pandangan sayu penuh arti meminta sesuatu, yaitu meminta diberi rasa nikmat yang sebesar-besarnya.

Eros kelihatan betul-betul terpana melihat wajahku yang diliputi ekspresi sensasional itu. Kemudian Eros tambah aktif lagi bergoyang menarik ulur batang kontolnya yang besar itu, sehingga dinding tempikku yang sudah dilumuri cairan kawin itu terasa tambah banjir dan licin.

Wajahku semakin lepas mengekspresikan rasa sensasi yang luar biasa yang tidak pernah aku perkirakan sebegitu nikmatnya. Saking begitu nikmatnya perasaan maupun tempikku disetubuhi oleh Eros, tanpa kusadari aku mulai berceloteh di luar sadarku,

”Ohhss.. sshhh.. enaakk.. sseekalii… kkontolmu Rross…!! Oougghh.. terusshh…. teerruusshh..!!! Aku mendesah, merintih dan mengerang sepuas-puasnya. Aku sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhiku bukanlah suamiku sendiri. Yang ada di benakku hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan.

Dengan penuh nafsu kami saling berpelukan sambil berciuman. Nafas kami saling memburu kencang, lidah kami saling mengait dan saling menyErost, saling bergumul.

Eros mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkanganku yang semakin terbuka lebar, akupun mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sambil kutekuk dan kusampirkan ke pundaknya.

Pantatku kuangkat untuk lebih memudahkan batang kontol Eros masuk seluruhnya dan menggesek syaraf-syaraf kenikmatan di rongga tempikku, akibatnya Erospun semakin mudah menyodokkan kontolnya yang panjang, besar dan keras itu keluar masuk sampai ke pangkal kontolnya hingga mengeluarkan suara berdecak-decak crot… crot… seperti suara bebek menyosor lumpur seiring dengan keluar masuknya kontol itu di dalam tempikku

Eros melihat ke arah selangkanganku, tempikku mencengkeram kontolnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan tempikku, yang semakin basah membanjir penuh dengan lendir pelumas putih kental sehingga membasahi bulu-bulu jembutku yang tidak terlalu lebat maupun bulu-bulu jembutnya itu dan sekaligus juga batang kontolnya yang semakin tambah mengeras.

Eros mendengus-dengus bagai harimau terluka, genjotannya makin ganas saja. Mata Eros terlihat lapar menatap susuku yang putih montok dikelilingi bulatan coklat muda di tengahnya dan pentilku yang besar dan sudah begitu mengeras karena birahiku yang sudah demikian memuncak, maka tanpa menyia-nyiakan kesempatan Eros langsung menyErost pentil susuku yang begitu menantang itu.

Tubuhku menggelinjang hebat. Dan susukupun makin kubusungkan bahkan dadaku kugerakkan ke kiri dan ke kanan supaya kedua pentil susuku yang makin gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya.

Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Eros yang basah dan agak kasar itu menggesek pentil susuku yang peka.

Eros begitu bergairah menjilati dan menghisap susu dan pentilku di sela-sela desah dan rintihanku yang sedang menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini.

”Oouugghhss.. oouugghhss.. sshhhh… tteerruss Rrosso…” aku makin meracau tidak karuan, pikiranku sudah tidak jernih lagi, terombang ambing di dalam pusaran kenikmatan, terseret di dalam pergumulan persetubuhan dengan Eros, tubuh telanjangku serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali.

Aku merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun terutama sekali di sekitar tempikku.

Tubuhku akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Eros erat sekali sambil menjerit-jerit kecil tanpa sadar.

”Aaaaccchhh…… Roosss… mmmmmhhhhhh… konnttolmmmuuu… aakkkuu…… kkeeelluuaaarrrr……” jeritku keenakan.

Badan telanjangku terasa berputar-putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme.

kontol Eros masih terus menggenjot lubang tempikku, dan aku hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Eros menyetubuhiku tanpa henti, aku makin lama makin terseret di dalam kenikmatan pergumulan persetubuhan yang belum pernah kurasakan.

Tubuhku akhirnya melemas setelah aku menyemburkan lagi cairan kawinku untuk kesekian kalinya bersamaan dengan Eros yang juga rupanya sudah tidak tahan lagi dan……

”Aaacchhh….. oooccchhh… Mmiiaaa… teemmpiikkmmuuu…… nniikkkmaattttt… sseekkalliiii… adduuhhh…… aaakkuu.. kkekkeeeluaarrr…” erangnya sambil menyemburkan pejunya di dalam tempikku

Kemudian untuk beberapa saat Eros masih membiarkan kontolnya menancap di dalam tempikku.

Akupun tidak mencoba untuk melepas kontol itu dari tempikku.

Setelah agak beberapa lama, Eros mengeluarkan kontolnya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang tempikku. Walaupun kontolnya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya

Eros menghentikan persetubuhan ini karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku. Kini ganti dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat.

Suamiku dengan segera menggantikan Eros dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan kontolnya yang kecil itu ke dalam lubang tempikku.

Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Eros, maka ketika suamiku menghunjamkan kontolnya ke dalam lubang tempikku, kurasakan kontol suamiku itu kini terasa hambar.

Kurasakan otot-otot lubang tempikku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit kontol suamiku sebagaimana ketika kontol Eros yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar lubang tempikku. kontol suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam lubang tempikku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam lubang tempikku yang barusan diterobos oleh kontol yang begitu besar dan panjang.

Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan kontolnya ke dalam lubang tempikku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat.

Malahan karena kontol suamiku tidak berada dalam lubang tempikku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh pejunya agak di luar lubang tempikku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan tempik sampai ke sela paha dan jembutku basah kuyup dengan peju suamiku.

Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku. Sementara itu, karena aku pasif saja waktu disetubuhi suamiku, dan membayangkan kontol Eros yang luar biasa itu, maka aku sama sekali tidak kelelahan, malah nafsuku kembali memuncak.

Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku ingin mengalami puncak orgasme lagi dengan disetubuhi oleh Eros. Tapi yang disampingku kini suamiku, yang telah lemas dan tak berdaya sama sekali.

Oleh karena itu dengan perasaan kecewa berat aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat hendak menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamar tidur untuk membersihkan cairan-cairan bekas persenggamaan yang melumuri selangkangan dan tubuhku.

Namun untunglah, seperti mengerti perasaanku, tiba-tiba Eros yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat dan ngaceng kontolnya itu memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang. Aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Eros menusukkan kontolnya ke dalam tempikku dari belakang dengan garangnya.

Karena posisiku menungging, aku jadi lebih leluasa menggoyang-goyangkan pantatku, yang tentu saja tempikku juga ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Hal ini membuat Eros semakin bernafsu menghujam-hujamkan kontolnya ke dalam tempikku sehingga dengan cepat tubuhku kembali seperti melayang-layang merasakan kenikmatan yang tiada tara ini.

Tak berapa lama tubuhku mengejang dan…

”Roosss…… oooccchhhh… aacchhh… Rrosso… akk… aakkuu… mmaaauu… kkkeelluuuaaaarrrrrr……” rintihku sambil mencengkeram pinggir ranjang, aku telah mencapai puncak persetubuhan terlebih dahulu.

Begitu aku sedang mengalami puncak orgasme, Eros menarik kontolnya dari lubang tempikku, sehingga seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan lubang tempikku berdenyut agak aneh dalam suatu denyutan yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami.

Namun walaupun sudah orgasme, aku masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan persetubuhan ini. Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Eros yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku.

Bagaikan kerbau dicocok hidung, aku mengikuti Eros ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.

Kemudian Eros melepaskan pelukannya dan menelentangkan diriku lalu dengan bernafsu menciumi susuku dan menyErost-nyErost pentilnya yang mancung itu sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.

Kali ini rupanya Eros ingin mengajakku bersetubuh dengan cara yang lain. Mula-mula Eros membalikkan tubuhku sehingga posisiku kini berada di atas tubuhnya.

Selanjutnya dengan spontan kuraih kontol Eros dan memandunya ke arah lubang tempikku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Eros dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya.

Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil, ”Occhhh… oocchhh… acchhh… sssshhhh…” desahku dibuai kenikmatan.

Sementara itu Eros dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil, ”Oocchhh… oocchhh… Mmiiaaaa… ttteeemmpppiikkmuuu… mmmhhhhh…”

Akupun semakin cepat menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Eros dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku.

Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat.

”Ooooccchhhhh…… mmmmhhhhhh… ooocccchhhh…… mmmmhhhhhh……” pekikku keenakan dan tubuhkupun langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Eros.

Tapi ternyata Eros belum sampai pada puncaknya. Maka tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga lubang tempikku yang telah basah kuyup oleh lendir kawin tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar.

Selanjutnya Eros mengacungkan kontolnya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah lubang tempikku dan menghunjamkan kembali kontolnya tersebut ke lubang tempikku dengan garang.

Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika kontol Eros mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam lubang tempikku.

Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya kontol Eros yang semakin lama semakin cepat merojok-rojokkan kontol besarnya ke lubang tempikku.

Aku merasakan betapa lubang tempikku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap kontol Eros yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.

Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena kontol Eros yang tegar dan perkasa itu menggesek bagian paling dalam tempikku (mungkin titik itu yang dinamakan G-Spot atau titik gairah seksual tertinggi wanita)

Akhirnya, bersamaan dengan orgasmeku yang entah ke berapa kali aku tak ingat lagi, kulihat Eros tiba juga pada puncaknya.

”Mmmiiiaaaa… ooocchhh…………… ooocccchhhhhh… Mmmiiiiaaaaaaaa…………………… ttteeemmmppikkkmmmuuu… ooccchhhsss… aakkkuu… kkkellluuaaarrrrrr……” rintihnya dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia menyebut-nyebut namaku sambil mengeluarkan kata-kata vulgarnya lagi dan melepaskan puncak ejakulasinya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh pejunya di dalam tempikku dalam waktu yang amat panjang.

Sementara itu kontolnya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di lubang tempikku sehingga seluruh pejunya terhisap dalam tempikku sampai titik penghabisan.

Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, kontol Eros masih tetap terbenam dalam tempikku, dan aku pun memang tetap berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.

Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Eros mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan.

Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya.

Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali.

Kulihat kontol Eros mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Eros segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai memasukkan kontolnya ke dalam tempikku kembali. Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar.

Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya.

Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Eros sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali dan kubisikkan padanya bahwa ada bagian tertentu di dalam tempikku yang kalau tersentuh kontolnya, dapat menghasilkan rasa nikmat yang amat sangat.

Erospun kelihatannya mengerti dan berusaha menyentuh bagian itu dengan kontolnya. Keadaan ini berakhir dengan tibanya kembali puncak persenggamaan kami secara bersamaan. Inilah yang belum pernah kualami, bahkan kuimpikanpun belum pernah. Mengalami orgasme secara bersama-sama dengan pasangan bersetubuh!

Rasanya tak bisa kulukiskan dengan kata kata. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.

Semenjak pengalaman kami malam itu, aku selalu terbayang-bayang kehebatan Eros. Tetapi entah kenapa suamiku malah tidak pernah membicarakan lagi soal angan-angan seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu.

Padahal aku malah ingin mengulanginya lagi. Karena apa yang kurasakan bersama suamiku sama sekali tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Eros. Kuakui malam itu Eros memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku.

Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan persetubuhan yang luar biasa hebatnya yang belum pernah aku alami selama ini. Bahkan dengan Ki Alugoropun tidak sehebat ini, karena dengan Eros aku merasakan orgasme berkali-kali, sedang dengan Ki Alugoro cuma sekali.

Dan walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Eros masih tetap saja kelihatan bugar. kontolnya pun masih tetap ngaceng dan berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk lubang tempikku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan.

Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun kontol Eros masih tetap ngaceng bertahan. Inilah yang membuatku terkagum-kagum.

Terus terang kuakui bahwa selama melakukan persetubuhan dengan suamiku, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu.

Sehingga, karena desakan birahi yang selalu datang tiap hari, dengan diam-diam aku masih menjalin hubungan dengan Eros tanpa sepengetahuan suamiku. Awalnya di suatu pagi Eros berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta kepadaku untuk mau disetubuhi.

Mulanya aku pura-pura ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi karena aku memang mengharapkan, akhirnya aku menyetujui permintaan tersebut. Apalagi kebetulan anakku juga lagi ke sekolah diantar pembantuku. Sehingga kubiarkan saja dia menyetubuhiku di rumahku sendiri.

Hubungan sembunyi-sembunyi itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Misalnya ketika kami bersetubuh secara terburu-buru di ruang tamu yang terbuka, kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan.

Keadaan ini membawa hubunganku dan Eros semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Eros sering melakukan persetubuhan tanpa diketahui oleh suamiku.

Pernah kami melakukan persetubuhan yang liar di luar rumah, yaitu di taman dibelakang rumah, sambil menatap awan-awan yang berarak, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri dan kenikmatan yang ambooii.

”Mestinya pemerintah memperbolehkan rakyatnya melakukan persetubuhan di tempat terbuka, asal tidak terdapat unsur paksaan!” anganku saat itu.

Aku berpikir, kalau melakukan persetubuhan di tempat terbuka dengan disaksikan oleh orang lain, pasti lebih nikmat lagi deh!

Sampai di suatu hari, Eros membisikkan rencananya kepadaku bahwa ia ingin bercinta secara three in one, tetapi bukan satu cewek dua cowok, tetapi satu cowok dua cewek. Maksudnya dia minta aku melibatkan satu orang temen cewekku untuk bersetubuh bersama.

Mula-mula aku agak kaget dibuatnya, tetapi aku pikir-pikir boleh juga ya, hitung-hitung buat menambah pengalaman dalam bersetubuh.

”Wuih, pasti lebih seru nih” pikirku dalam hati sambil membayangkan kenikmatan di tempikku, apalagi sambil melihat juga Eros bersetubuh dengan cewek lain.

”Eh, tapi.. aku cemburu nggak ya? Tapi biarlah, ini kan suatu sensasi lain yang belum pernah kualami” pikirku lagi.

Aku malah menambahkan usul kepada Eros, bagaimana kalau dilakukan di taman belakang rumah, habis asik sih! Lagipula aku memang punya temen (namanya Lina) yang ketika aku ceritain soal pengalamanku dengan Ki Alugoro maupun dengan Eros, keliatannya dia bernafsu banget dan pengin ikut-ikutan menikmati, boleh secara three in one ataupun sendiri sendiri, katanya.

Soalnya kontol suaminya memang berukuran kecil dan pendek, apalagi suaminya sekarang lagi bertugas ke luar negeri dalam waktu yang lama, sehingga dia selalu kesepian di rumahnya yang besar itu.

Ketika hal itu aku katakan pada Eros, dia langsung setuju dan menanyakan kapan hal itu akan dilaksanakan?

Tentu saja aku jawab secepatnya. Keesokan harinya, sehabis berbelanja di salah satu mall aku mampir ke rumah Lina dan menceriterakan tentang rencanaku tersebut.

Tentu saja dia sangat setuju dan antusias sekali mendengarnya, tetapi dia mengajukan sebuah syarat, yaitu itu dilakukan di taman di tepi kolam renang di belakang rumahnya.

Certa Sex – Berbagi Kasih Sopir Pribadi..

Aku ingin menceritakan pengalaman berkesanku dan aku lakukan pertama kalinya perkenalkan namaku Endah mahasiswi perguruan tinggi di Surabaya. Saat malam hari aku sendirian di rumah ayahku masih di kantor sedangkan ibuku ikut seminar dan di rumah hanya aku dan sopirku di tambah pembantuku.

Sopirku bernama Dika dia usianya 35 tahun dan sudah menikah tetapi istrinya tinggal di kota lain. Aku merasakan kecapekan setelah seharian aku jalan-jalan dan aku ingin sekali tidur tetapi entah mengapa aku tidak bisa memejamkan mataku ini lalu aku mempunyai ide untuk menelepon temanku Maya untuk aku ajak ngobrol melalui telepon.

Telepon Maya angkat awalnya kami ngobrol biasa saja tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Maya nafasnya memburu dan terdengar teriakan-teriakan juga suara seorang cowok yang seperti suara pacar Maya. Aku hanya memdengar suara-suara teriakan kesakitan tetapi juga seperti merasakan sesuatu kenikmatan dan teleponpun terputus dengan sendirinya.

Pikiranku melayang kemana-mana dan aku mulai memikirkan tentang seseorang yang sedang berhubungan badan. Aku semakin terangasang setelah mendengar suara Maya juga khayalanku sendiri dan akupun membuka kaos ketatku, bra, serta celana dalam aku meremas payudaraku dan memasukkan jariku ke vaginaku.

Aku kocok vaginaku hingga aku pun menyapai orgasme ditempat tidur, aku merasa puas dan akupun memakai bajuku lalu merencanakan untuk pergi makan.

Aku cari sopirku kemana-mana tetapi tidak ada hingga aku temukan dia dikamar tidurnya, dia tertidur pulas dengan hanya mengunakan kaos tanpa lengan dan sarung.

Aku mau membangunkan dia tetapi melihat dia tertidur pulas akupun mengurungkan niatku untuk membangunkan dia, kasihan dia kecapekan setelah mengantar aku seharian jalan-jalan pikirku.

Sebelum aku meninggalkan kamarnya mataku tiba-tiba tertuju pada tonjolan yang ada dibalik sarungnya sehingga membuat aku ingin mengetahui bagaimana wujud tonjolan itu.

Aku beranikan diri untuk melihat tonjolan itu dari bawah lalu aku singkapkan sarungnya secara perlahan, aku terkejut melihatnya karena dia tidak memakai celana dalam sehinnga aku bisa melihat dengan leluasa penis yang agak berdiri dan membuat aku ingin memegang, mengelus, dan mengulumnya.

Aku ingin sekali memegangnya tetapi aku takut sopirku nanti terbangun dan dia akan marah terhadapku, dengan tangan yang gemetaran juga dingin dan jantung yang berdetak kencang aku beranikan diri untuk memegangnya.

Aku singkapkan sarungnya lebih keatas dan akupun mulai memegangnya, terasa hangat dan membuat tanganku yang tadinya dingin menjadi hangat.

Aku semakin tertarik untuk menikmatinya lagi, aku elus berkali-kali penisnya hingga berdiri dan semakin panjang penis itu. Jantungku semakin berdetak kencang tetapi keinginanku untuk melakukan yang lebih lagi juga semakin besar maka ku putuskan untuk mencoba mengulumnya.

Ku jilati serta memberikan gigitan kecil pada buah pelirnya yang berwarna kecoklatan hingga membuat aku makin bernafsu dan sedikit demi sedikit aku mulai menuju penis yang telah berdiri.

Aku masukkan secara perlahan terasa hangat yang disertai rasa asin dan masuklah penis itu sampai pada ujung tenggorokanku, aku coba masuk dan keluarkan sehingga membuat tubuhku mengeluarkan keringat yang di ikuti rasa gemetaran.

Payudaraku terasa semakin membesar dan mengeras sehingga membuat braku terasa sesak juga vaginaku yang terasa mengeluarkan cairan. Akupun semakin tidak bisa menahan nafsuku yang sudah memuncak lalu aku semakin mempercepat kulumanku sehingga membuat penis sopirku licin karena liurku.

Di saat aku sedang keenakkan melakukan kuluman di penis sopirku tiba-tiba aku terkejut oleh teriakan sopirku dan mencabut penisnya dari mulutku.

Dia lalu berdiri dan memarahi aku, dia merasa bersalah pada orang tuaku karena membiarkan aku melakukan hal ini, akupun tidak mau menyerah begitu saja dan karena aku tidak bisa menahan nafsuku lagi yang seperti mau meledak akupun mengancam sopirku dengan mengatakan pada ayahku bahwa aku telah diperkosa sopirku juga akan mengatakan pada istrinya kalau tidak mau melayani kenginanku.

Dia ketakutan dan menyerah padaku, akupun tidak menyia-nyiakannya langsung saja aku melepas sarungnya dan aku jongkok didepannya. Kulihat wajah sopirku terlihat wajahnya menampakkan kesedihan tetapi aku tidak mempedulikannya.

Aku tidak peduli bagaimana perasaan sopirku, aku hanya ingin kenikmatan seperti yang telah temanku rasakan. Aku ingin membuat dia agresif terhadapku dan melupakan istrinya sesaat, karena keinginanku itu aku mulai melakukan rangsangan terhadapnya.

Kukulum lagi penisnya yang telah lemas tanpa canggung dan takut lagi pada sopirku, kupercepat kulumanku sehingga membuat penisnya kembali berdiri. Aku sangat menikmati penis.

“Ehhmm.. Enak.. Ehmm” dan aku merasa bahagia karena membuat dia mulai terangsang yang mulai menunjukkan ke agresifannya.

Sopirku mendesis menikmati kulumanku. “Ough.. Terus.. Cepat.. Ouh Endah”

Hanya itu saja kata yang keluar dari mulutnya akupun semakin bersemangat dan semakin mempercepat kulumanku.

Hingga beberapa kuluman penisnya terasa semakin membesar dan menegang juga disertai denyutan dan dia pun memegang kepalaku juga memcambak rambutku dengan kasar dia semakin memaju mundurkan kepalaku dan akupun semakin bersemangat karena aku tahu dia akan sampai.

“Ouhh.. Ouuhh aku sampai aku sampai Endah ough” dan keluarlah spermanya ke mulutku hingga mulutku tidak muat untuk menampungnya.

Spermanya terasa hangat, asin, dan baunya membuat diriku ingin memuntahkan sperma itu dari mulutku tetapi dia menarik kepalaku lalu mencium aku. Ciumannya yang sangat bersemangat kepadaku membuat aku terpakasa untuk menelan spermanya untuk mengimbangi permainan bibir itu.

Aku merasa kerepotan untuk mengimbanginya karena baru kali ini aku dicium oleh cowok, dia terus mencium aku dan tangannya mulai menyelinap masuk ke kaosku. Tangannya menuju ke payudaraku, dia meremas-remasnya sehingga membuat nafasku semakin memburu yang disertai degupan jantung yang cepat. Dia semakin agresif dengan membuka kaos ketatku, rok, bra serta celana dalamku.

Terbukalah sudah apa yang selama ini aku tutupi, aku merasa risih karena baru kali ini aku telanjang dihadapan cowok sehinnga tangankupun secara spontan menutup vaginaku juga payudaraku. Tetapi karena nafsuku yang semakin memuncak maka aku biarkan tubuhku telanjang dan akupun dengan agresif melucuti kaosnya.

Sekarang kita benar-benar telanjang bulat, kita saling berhimpitan sehingga penis yang telah mengacung itu menempel pada vaginaku. Aku ingin sekali merasakan penis itu masuk ke vaginaku dan aku telah mencoba memasukannya tetapi tidak bisa, dengan terpaksa aku hanya mengesekkan penisnya ke vaginaku dan itu membuat aku semakin bernafsu.

Setelah dia puas mencium aku dia menurunkan kepalanya menuju kaki, dia menciumi kakiku sampai ke vaginaku. Dia menjilati vaginaku, menyedot vaginaku dan juga memberikan gigitan kecil pada vaginaku sehingga membuat aku tak bisa menahan getaran tubuhku.

Semakin dia mempercepat jilatannya semakin keras pula erangan serta desissan yang keluar dari mulutku.

Tanganku berpegangan pada kepalanya dan akupun menekan kepalanya serta mengangkat salah satu kakiku kepundaknya agar bisa semakin masuk ke vaginaku, jilatan dia membuat aku tak bisa lagi menahan tubuhku sendiri. Tubuhku melengkung ke belakang dan kepalaku medongak keatas yang disertai keringat yang semakin mengucur deras.

“Auhh.. Ouhh..”

Dia terus menjilati vaginaku sehingga membuat aku semakin tidak tahan “Ough.. Yes.. Ouugh.. Aku keluar” dan akupun mengalami orgasmeku yang pertama, aku merasa kenikmatan yang luar biasa karena baru kali ini kali mengalami orgasme bersama cowok.

Sopirku menghisap-hisap vaginaku hingga terasa kering, nafasku yang tadinya memburu sekarang sudah mulai reda. Aku yang telah mengalami orgasme terasa badanku lemas tetapi sopirku masih saja semangat, dia mengendongku ke tempat tidur dan menjatuhkanku.

Dia bermain di payudaraku yang berukuran sedang putih bersih kemerahan, sopirku mengulum, menyedot, meremas dan juga menggigit-gigit payudaraku. Permainan mulutnya sanggup menaikkan kembali nafsuku, sopirku sangat menikmati payudaraku dan dia selalu memuji payudaraku yang kenyal dan kencang itu.

Aku yang ingin kembali menikmati penis sopirku segera aku menggulingkan sopirku disampingku, aku menindihnya dengan vaginaku menghadap ke muka sopirku dan kita pun saling melakukan rangsangan. Aku kembali mengulum penisnya sedangkan dia menjilati vaginaku.

Permainan lidahnya yang liar di vaginaku membuat tak kuasa menahan nafsuku yang mau meledak dan dengan segera akupun minta untuk memasukkan penisnya ke vaginaku dan diapun mengijinkannya.

Aku membalikkan badan dan sekarang penis itu tepat di bawah vaginaku, aku memegang penis itu dan mengarahkannya ke vaginaku tetapi aku tidak bisa memasukkannya terasa sulit walaupun vaginaku telah basah.

Penis sopirku seperti tidak mau masuk penisnya selalu ke kanan atau ke kiri. Sopirku pun membantuku, dia memegang penisnya sedangkan tangan satunya menuju vaginaku dan memasukkan jarinya ke vaginaku, akupun terkaget dan berteriak “Ouhh”.

Jarinya maju mundur dan seperti mengaduk vaginaku, sopirkupun mengeluarkan jarinya lalu mencoba memasukkan penisnya ke vaginaku.

Secara mengejutkan penis itu masuk dengan mudah, aku terkaget merasakannya lalu berteriak “Auhh.. Ough..”

Dan mataku melotot serta kepalaku mendongak ke atas. Vaginaku terasa penuh dan disertai rasa nyeri yang sangat hebat tetapi sopirku duduk menghiburku dengan menciumku.

Dia menyuruhku naik turun tetapi itu sulit bagiku karena baru yang pertama aku melakukannya, aku mencoba naik turun rasanya nikmat sekali merasakan dua alat kelamin bergesekan tetapi tetap rasa nyeri tetap ada.

Akhirnya akupun lancar menaik-turunkan, melihat itu sopirku semangat dia mulai meremas payudaraku dan mulai melakukan gerakan juga. Lama-kelamaan rasa nyeri itu berubah menjadi rasa nikmat tiada duanya dengan cepat aku menaik turunkan. Gesekan itu sangat nikmat Mayambah lagi remasan sopirku di payudaraku.

“Uhh.. Aauhh.. Oouughh” aku terus mendesis.

Malam yang sunyi kembali berisik oleh bunyi kocokan serta teriakanku, kulihat sopirku sekali memejamkan mata menikmati kocokanku. Hingga beberapa lama kita tetap pada posisi itu dan akupun merasakan sesuatu yang mau meledak di vaginaku.

“Ouhh.. Ouughh.. Aku sampai” akupun merasakan orgasme yang kedua kali.

Tenaga yang habis membuat aku tidak dapat menahan tubuhku dan akupun rubuh diatas sopirku. Dengan penis yang masih menancap di vaginaku sopirku membalikkanku hingga dia berada diatas, dia kembali mengocok vaginaku yang telah kelelahan dengan semangat yang masih memburu diapun ingin mengalami orgasme maka akupun melayani dia walaupun tenagaku sudah habis.

Sopirku merasa tidak puas dengan posisi dia diatas dan dia meminta aku untuk duduk dipangkuannya dan dia dengan semangat kembali mengocok. Aku yang sudah lemas masih mencoba mengimbagi kocokannya, aku mencoba memaju-mundurkan pantatku walaupun sudah lemas.

Dia semakin semangat untuk mengocokku dengan buas dia juga menggigit payudaraku dan itu sangat membuat diriku kembali terangsang. “Oouuh.. Ouuhh.. Uuhh”

Akupun di buat tidak berdaya dan lagi-lagi aku dibuat orgasme untuk ketiga kalinya. “Uuhh.. Ouugh.. Kau hebat Dika.. Ouugh”.

Dengan orgasmeku yang ketiga tubuhku semakin lemas tak berdaya, posisi kami tetap duduk dan aku terus saja memuji dia “Kau hebat Dika” kataku.

Sopirku menyuruhku untuk menungging dengan lemas dan antara sadar dan tidak aku masih menurutinya. Dia masih tidak bosan mengerjai vaginaku. Dia masih dengan semangat tetap mengocok serta meremas payudaraku dan kadang-kadang meremas pantat ku. Jarinya juga masuk ke anusku.

“Ouugh.. Ougghh.. Ougghh” kataku semakin menikmati, dengan kasar dia mengocok vaginaku dan juga anusku. Dengan kocokan dari anus dan vagina tubuhku semakin tak karuan dibuatnya.

“Ouuhh.. Ougghh.. Terus Dika”

Tak berselang lama aku merasakan lagi orgasme yang ke empat.

“Oouuhh.. Kau hebat.. Oughh.. Aku aku dapat ough..”

Dan dia pun mengikuti mengalami klimaks dengan sperma yang masih banyak. Semprotan spermanya membuat mataku terbelalak dan aku pun merasakan kenikmatan, spermanya tidak dapat tertampung di vaginaku sehingga jatuh ke sprei.

Kitapun terjatuh bersamaan di tempat tidur, sopirku berada disampingku dan dia masih mencium serta meremas pantat dan payudaraku. Setelah nafasku mulai reda akupun langsung keluar dari kamarnya dengan masih telanjang dan berjalan dengan gontai, sopirku pun tertidur lagi.

Begitulah kisah nyataku bersama sopirku yang baru aku alami sekitar 25 Agustus 2004. Aku tidak kecewa walaupun keperawananku telah hilang tetapi aku senang mendapat pengalaman yang berharga.

Certa Sex – Mbak Fira Suka Yang Lama..

Saat itu aku masih kuliah di Jakarta dan berusia 20 tahun, namaku Aji. Aku tinggal disebuah kost-kostan yang tidak jauh dari tempatku kuliah hanya sebuah kamar dan lansung kamar mandi di dalam.dimana cewek dan cowok diterima ngekost disini. Karena yang tinggal rata-rata para pekerja shif kadang aku jarang berjumpa dengan mereka.

Ada satu cewek yang kerjanya office hour tinggal disebelah kamarku sebut saja namanya Fira yang usianya saat itu kira-kira 26 tahun dengan tinggi 165 cm dan berkulit kuning langsat mempunyai body yang sangat bagus dan dadanya lumayan besar untuk ukuran gadis Indonesia.

Seperti biasa tiap aku pulang kuliah sebelum mandi aku duduk didepan kamar hanya dengan memakai handuk dan kaos dalam, menghabiskan sebatang rokok dan menunggu mba Fira lewat pulang kerja. Dari jauh aku melihat dia berjalan kearah depan kamarku karena memang kamarnya terletak paling pojok setelah kamarku.

“Sore mba Fira,baru pulang kerja mba ?” tanyaku ramah.

“Iya Aji” jawabnya juga ramah sambil tersenyum padaku.

“koq keliatannya cape banget mba ? lagi banyak kerja ya ?”

“iya nih aku lagi dikejar deadline kerjanya banyak banget,badannya pada pegel”

“Mmmh, ntar mau beli makan bareng ga mba ?”

“Engga kayanya Aji, aku boleh nitip aja ya ?”

“Ya boleh mba.apa sih yang ga buat mba hehehee..”

Sebelum masuk kekamarnya mba Fira memberiku uang duapuluhribuan dan nitip makanan untuk nanti malam.

Sehabis mandi aku beli makanan dan lansung kekamarnya ngetok pintu.tok tok tok

“Mba Fira…..”

Karena ga ada jawaban aku langsung buka pintu dan mendapati mba Fira terbaring ditempat tidur yang kepalanya masi dililitkan handuk kayanya habis mandi mungkin dia menunggu rambutnya kering tapi malah ketiduran dan kakinya masi belum dinaikin kekasur.

Tanpa pikir panjang aku masuk dan menutup pintu lalu meletakkan makanan yang baru kubeli. kuangkat kakinya dan kunaikan ditempat tidur.

Perlahan mba Fira membuka matanya dan tersenyum padaku

“Kamu baik banget Aji” katanya dengan nada pelan.

”Ah gapapa mba, kasian aja mba nya kecapean, kalo mba mau aku pijitin kakinya ya ?”

“Ga usah, nanti ngerepotin kamu Aji”

Aku ga dengerin omongannya, seketika aku mengambil lotion dan mulai memijit kakinya, memang saat itu dia udah memakai celana pendek longgar selutut dan baju kaos rumahan.

Aku mulai pijit jari-jari kaki mba Fira sampai ketumit. Baru sebentar kayanya mba Fira udah ketiduran pulas banget dan ada kayanya setengah jam aku terus memijitnya sampai dia terbangun lagi.

“Aduh Aji maaf ya mba ketiduran pijitan kamu enak banget” katanya aga malu.

“hehehee iya donk, kan aku udah bersertifikat dari departemen pijit-memijit” candaku padanya.

“iihh kamu bisa aja, ada loh 30 menit aku ketiduran tapi kamu mijitin aku terus ya?”

“iya mba biar mba bangunnya nanti seger kasian lagi banyak kerja, kalo mba mau aku pijitin betisnya sekalian ya ?” Tanya ku pada mba Fira.

“Kamu yakin gapapa ?”

“iya mba gapapa aku seneng bisa bantuin mijitin mba, lagian mba Fira juga enak mijitnya kulitnya halus banget”

Mba Fira hanya tersenyum dan lansung membalikkan badannya tengkurap sambil memeluk bantal, dan aku pun mulai memijit betisnya yang sangat indah itu. Saat itu aku ga tau mba Fira memasukkan tanganya kebelakang baju meraba punggungnya sendiri,sekilas aku lihat dia kayanya membuka pengait bra nya dan mulai tengkurap lagi.

Aku berfikir kayanya mba Fira udah ngasi lampu hijau buatku untuk memijit punggungnya dan saat itu terlintas aja dalam otak ku seandainya itu terjadi aku bisa dengan laluasa menyentuh kulitnya yang sangat terawat itu.

Baru aja kepikiran kayanya dalam celanaku ada yang merespon dan lansung aja seketika celanaku menjadi sempit karena siotong udah berdiri duluan.

“kamu bisa mijitin punggung sama pinggangku juga ga Aji ?”

Seketika aja aku jadi kaget dia ngomong gitu,baru aja aku menghayal malah uda dikabulkan.

“ Eh oH iya iya bisa mba Fira” jawabku gelagapan.

“Pinggangku nyeri semua duduk seharian dikantor nih” katanya lagi.

“iya mba Fira aku pijitin sekalian aku juga tau titik-titik syaraf biar bisa aku acupressure juga”

Aku duduk menyamping disebelah mba Fira. Pertama aku deg-degan juga coba menaikan baju mba Fira keatas dan aku tertegun melihat punggungnya secara lansung karena sangat putih mulus dan tanpa cacat sedikit pun.

Mulai aku usap pinggangnya pelan-pelan naik keatas kepunggung dan benar aja dugaanku tadi dia udah membuka pengait bra nya. Saat aku mijit punggungnya kadang dekat pangkal lengannya jariku menyentuh pinggiran payudaranya dan saat aku mau memijit pundak dan belakang lehernya mba Fira seperti tau kalo bajunya menghalangi tanganku dan seketika dia malah mambuka bajunya sambil tengkurap dan tetap memeluk bantal dan mengempitkan payudaranya yang besar itu.aku udah bener-bener ga tahan rasanya karena siotong dalam celanaku udah keras dari tadi.

Karena udah seperti ini aku memberanikan diri naik duduk diatas pantat mba Fira yang bohai seperti orang menunggang kuda Aku mulai acupressure punggung mba Fira dengan menekan kedua jempolku dititik syarafnya.

Tanpa aku sadari rupanya penisku tepat berada ditengah-tengah pantatnya dan menekan sangat kencang. Bukanya marah mba Fira mulai memutar-mutarkan pantatnya supaya bergesekan terus dengan penisku. Aku tau dia udah mulai teransang dengan mengeluarkan erangan-erangan erotis dari mulutnya.

“mmmh oohhh enak Aji terusss ditekan lagiiii”

Seketika mba Fira membalikkan badannya sehingga aku yang tadi memegang punggungnya kini malah memegang kudua payudaranya yang besar montok dan mengacung keatas.

Tanpa banyak omong kedua tangannya menarik kepalaku dan mencium bibirku aku pun membalasnya.kamipun berciuman. Tanganku yang tadi memegang payudaranya sekarang mulai meremas-remas dan memelintir kedua putingnya.

“Aji aku mau kamu mijitin aku sampai tuntas malam ini sayang” katanya sambil membuka celana dan celana dalamnya.

“Iya mba Firaku sayang” kataku juga sambil membuka semua pakaianku.

Penisku yang dari tadi tertahan dicelana sekarang bebas berdiri dengan kerasnya. Mba Fira keliatan senang dengan ukuran penisku yang lumayan besar panjang 17 cm dan diameter 4 cm.

Kami pun mulai berciuman lagi dengan posisi mba Fira masi dibawah, aku menciumnya dengan lembut tangan kiriku meremas kedua payudaranya bergantian dan kadang memelintir putingnya

Tangan kananku mulai menjamah perutnya dan turun kepusar kebawah dan aku rasakan bulu halus diatas vaginanya lalu aku merasakan itilnya yang udah basah dengan lendir kewanitaanya, itilnya aku putar dan aku tekan dengan lembut.

“ooouuhhh oouuhhh ssshhhh nikmat banget sayang”desah mba Fira.

Ciumanku mulai turun menjalar kelehernya dan terus kebelahan dadanya aku mengecup putingnya yg kecil bewarna kemerahan itu lalu menghisapnya dengan rakus bergantian kiri dan kanan.seketika bulu romanya berdiri dan dia menggelinjang merasakan hisapanku diputingnya.

Setelah itu ciumanku turun kebawah lagi kepusarnya dan tanganku berusaha melebarkan kakinya selebar mungkin dan terpampanglah pemandangan indah mba Fira yang bertubuh bahenol itu sedang mengangkang pasrah dengan vagina yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus dan bibir vagina yang bewarna kemerahan. Bibirku mendekat kevaginanya aku kecup itilnya dan lidahku mulai menjilati benda kecil itu aku hisap dan aku pelintir dengan mulutku.

Mba Fira tidak kuasa menahan nikmat yang aku berikan, badannya terus bergerak dan pantatnya terus diputar-putar, mulutnya mengoceh tidak karuan. Tangan kiriku meremas-remas payudaranya dan tangan kananku mulai memasukkan jari kedalam liang vaginanya yang terus basah, mba Fira menekan kepalaku sangat kuat kearah vaginanya dan menjepit kepalaku dengan pahanya.

“oouhhh oouuhh mmmmmhhhh eeaaahhhhh”satu desahan panjang diiringi menyemburnya cairan vaginanya mba Fira orgasme tepat dimulutku .

Sekarang mba Fira mendorong badanku berdiri disisi tempat tidur dia berjongkok menghadap kearah ku dan tangannya mulai mengelus dan meremas-remas penisku setelah itu dia mulai menjilati penisku dari pangkal hingga ujungnya.

Tangan kirinya membelai kedua buah zakarku dengan lembut dan yang kanan memegang batang kejantananku, saat mba Fira mulai memasukkan penisku kemulutnya terasa sangat nikmat sekali

Tangannya mengocok batang penisku pelan-pelan dan mulutnya terus menghisap dan menjilati kepala penisku dengan rakus. Dia coba memasukkan penisku kedalam mulutnya tapi cuma setengah karena mentok dikerongkongannya.

Saat yang dinanti datang mba Fira duduk mengangkang dipinggir tempat tidur tepat didepanku yang masih berdiri dia mengarahkan penisku kelobang vaginanya, aku mulai memasukkan kepala penisku kevaginanya pelan-pelan terasa masih sempit dan peret.

Saat baru kepala penisku masuk aku menariknya keluar lagi sampe 3 kali biar terbiasa, tapi mba Fira yang gak sabaran malah mengunci pantatku dengan melingkarkan kedua kakinya dipantatku dan mau penisku dimasukkan semua.

Mba Fira meremas kedua bahuku gemas karena seperti aku mempermainkannya, aku coba menekan lagi pelan-pelan dan penisku udah masuk setengah mba Fira mendongak keatas menahan nikmat, aku mulai menggoyangkan pantatku maju mundur dan dengan satu tekanan kuat bleess penisku masuk semua sampai kepangkalnya,saat itu juga mba Fira berteriak kecil.

“Ooouucchhh” dengan mata terpejam.

Dimulailah permainan kami, aku menggenjot vagina mba Fira kadang pelan dan kadang kaya orang kesetanan, aku memaju-mundurkan pantatku diiringi irama penisku yang bergesekan dengan liang kewanitaannya, cairan vaginanya yang sebelumnya keluar jadi pelicin dan menimbulkan bunyi yang sangat erotis. Kami berdua bermandikan keringat memacu birahi yang udah sama-sama memuncak. Mba Fira mengusap dadaku dan meraba perutku yang rata.

“Badan kamu bagus sayang, pasti stamina kamu kuat” katanya.

“Iya donk sayang, aku kan rajin nimba air tiap pagi heheee” jawabku centil.

“ooouuchhhh puasin aku sayang”

“pasti sayangku, sepuas yang kamu mau sayang”

Mba Fira mencengkram bahuku kuat yang aku tau dia mau nyampe lagi dan aku lebih mempercepat ritme goyanganku.

“ooouchhh uuuhhhh ooouuchhh yeaaahhhh” erangan keluar dari mulut mba Fira disertai lagi dengan orgasme keduanya.

Aku mencabut penisku dari vagina mba Fira yang lagi-lagi udah basah sama cairan orgasmenya dan meminta dia balik badan menungging kearahku.

Mba Fira udah aga lemas kayanya tapi dengan senang dia menuruti kemauanku. Dari belakang dengan posisi menungging aku lebih bernafsu lagi melihat tubuhnya yang sintal ditambah dengan pantatnya yang besar basah oleh keringat, lipatan vagina yang sangat sempurna menyembunyikan itil nya didalam.

Aku arahkan kepala penisku kevaginanya dan mulai memasukkan kepala penisku pelan-pelan. Sambil memaju mundurkan pantatku aku mencengkram kuat kedua pinggang mba Fira membuat dia merintih dan mendesah membuatku semakin kencang memompa vaginanya dari belakang.

“oouuchhh ooouuchhhh mmmhhh enaakkkk sayyaaaanngggggg” katanya.

Lumayan lama dengan posisi menungging dan kayanya mba Fira udah mau keluar lagi dia mau ganti posisi dan memintaku berbaring lurus ditempat tidur dengan gaya women on top. Aku menurutinya sambil berbaring dan mba Fira langsung berjongkok diatas tubuhku sambil mengarahkan kepala penisku kevaginanya dan dengan satu tekanan blessss amblaslah penisku masuk semua kevaginanya

Dia naik turun menghujamkan penisku keluar masuk divaginanya, goyangannya sangat erotis dengan sekalian memutar pantatnya kepenisku. Rasanya sangat nikmat penisku bagai diurut dari ujung sampe pangkalnya.

Tak lama akupun rasa udah mau keluar aku mempercepat gerakanku kevaginanya.

“Oouuucchhh mbaaa akuuu ma ma mauuu keluarr jugaa”kataku terbata-bata.

“iya sayang ooouuchhh aku juga mau keluarr lagiii ooouucchhh”kata mba Fira.

Diiringi teriakan kita berdua aku menekan penisku sekuat-kuatnya kelobang vagina mba Fira dan croott crooott croott croottt…. Spermaku tumpah semua didalam vaginanya dan mba Fira pun sama orgasme, cairannya keluar membasahi penisku.

Seketika mba Fira lemas dan merebahkan tubuhnya diatas tubuhku dan aku menerimanya dalam pelukanku aku mengecup lama keningnya, tampak dia memejamkan mata dan puas sekali.

“Terimakasih banyak sayangku, aku puas banget malam ini” kataku pada mba Fira.

“Aku yang seharusnya terimakasih sayangku, kamu udah memenuhi keinginan ku minta dipijit sampai tuntas sama kamu, bukan itu aja kamu gentle banget setelah main lansung memelukku, mengecup keningku dan berterimakasih aku sangat bahagia” kata mba Fira.

“Wanita secantik mba pantas mendapatkan yang terbaik,dan aku sebagai lelaki wajib memberikannya”

“Ooohh Aji ku sayang, beruntung banget wanita yang nanti mendapatkan kamu, ga kaya cowok aku dulu main 2 menit udah KO duluan dan lansung tidur”

“Ah mba, ga perlu repot-repot mencari wanita itu, karena dia sekarang ada dalam pelukanku”

Mba Fira hanya tersenyum dan memelukku erat kita berciuman lagi sampai akhirnya tertidur. Dan saat pagi bangun kita mengulang permainan lagi. Setiap ada kesempatan kita main lagi tidak tau tempat tidak tau waktu, lagi dan lagi.

Certa Sex – Pasien Masuk Perangkap..

Aku sudah membuka praktek selama 3 tahun dan kesemuanya berjalan lancer saja seperti layaknya pada dokter umumnya, dari umur dan status sosial pada umumnya yang datang ke tempat praktekku tidak ada yang berat penyakitnya rata rata penyakit radang, flu, sakit perut atau gangguan pencernaan.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.

“Ah kamu . bisa aja”

“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.

Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien.

Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak “pelit waktu”. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.

Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Varia ke meja prakteku ..

Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya.

Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin

“bersinar”.

Dari kartu pasien tertera Varia namanya, 28 tahun umurnya.

“Kenapa Bu .” sapaku.

“Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”

“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu ”

“Benar dok”

“Badanya panas ?”

Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.

“Agak anget kayanya”

Kayanya radang tenggorokan.

“Trus mulesnya . kebelakang terus engga”

“Iya Dok”

“Udah berapa kali dari pagi”

“Hmmm . dua kali”

“Ibu ingat makan apa saja kemarin ?”

“Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah”

“Buah2 an ?”

“Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah”

“Coba ibu baring disitu, saya perika dulu”

Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.

Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.

Stetoskopku udah kupasang ke kuping Ny. Varia rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.

“Hmmm gimana Bu” sukasex

“Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.

Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.

Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.

Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.

“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.

Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.

“Ambil nafas Bu.”

Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.

Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.

Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.

Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.

“Cukup Bu .”

Varia bangkit dan menurunkan kakinya.

“Sakit apa saya Dok” tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Varia masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa.

Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .

“Radang tenggorokan dan disentri”

“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.

“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.

“Karena apa Dok disentri itu ?” Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?

“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Varia sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”

Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.

Aku memberikan resep.

“Sebetulnya ada lagi Dok”

“Apa Bu, kok engga sekalian tadi” Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.

“Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..” Diam.

“Khawatir apa Bu ”

“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .”

“Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap2 mau pulang.

“Benar Dok”

“Ibu merasakan keluhan apa ?”

“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”

“Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara” Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.

“Saya engga tahu Dok”

“Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri” kataku. candusex

“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..”

Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.

“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”

Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.

“Baik dok, saya akan periksa sendiri”

“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”

“Terima kasih Dok”

“Sama-sama Bu, selamat sore”

Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.

Lima hari kemudian, Ny Varia nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.

“Gimana Bu . udah baikan”

“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”

“Perutnya ?”

“Udah enak”

“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit ?”

“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”

“Udah diperiksa belum ..?”

“Udah sih . cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.

“Cuman apa .”

“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”

“Memang terasa ada, gitu ”

“Kayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin”

Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah, jangan ge-er kamu.

“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.

“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba2, seperti di luar kontrol.

“Eh .. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.

“Baiklah, kalau Ibu yang minta” Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus !

Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.

Tanpa disuruh Varia langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi . makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang oleh pasien.

“Silakan dibuka kancingnya Bu”

Varia membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.

“Dada kanan Bu ya .”

“Benar Dok”

Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja ..

“Maaf ya Bu .” kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita ini.

Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.

“Yang mana Bu benjolan itu ?”

“Eehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .”

Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.

“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apa lah ..

Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. Varia memelorotkan sendiri cup-nya …

Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya … benar2 bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah jambu !

Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..

Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Varia sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Varia memejamkan mata seolah sedang dirangsang !

Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.

“Yang mana Bu ya .” Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.

“Itu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .” katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali, disengaja atau tidak, Varia telah terrangsang .

“Oh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa”

“Syukurlah”

“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Varia membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.

‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi …

“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri .” Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah. hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang .

Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.

“Kenapa Dok ?” Pertanyaan yang mengagetkan.

“Ah .. engga apa-apa … cuman kagum” Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.

“Kagum apa Dok” Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.

“Indah .” Lagi-lagi aku lepas kontrol

“Ah . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.

“Apalagi .”

“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !

“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.

Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.

Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Varia menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.

Ketika rintihan Varia makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Varia kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.

“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.

Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.

“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”

“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?

Gila !

Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya .

Aku sadar kembali. Melepas.

“Dok .. Please . ayolah .” Tangannya meremas celana tepat di penisku

“Ih kerasnya ..”

“Engga bisa dong Bu ..’

“Dokter udah siap gitu .”

“Iya .. memang .. Tapi masa .”

“Please dokter .. Cumbulah saya .”

Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini ?

“Nanti aja . tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga .

“Saya udah engga tahan .”

“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.

“Okey ..okey . Bener ya Dok”

“Bener Bu”

“Kok Ibu sih manggilnya, Varia aja dong”

“Ya Varia” kataku sambil mengecup pipinya.

“Ehhhhfff”

Begitu Varia keluar ruangan, Nia masuk.

“habis Dok”

Dia langsung berberes. Rapi kembali.

“Dokter belum mau pulang ?”

“Belum. Silakan duluan”

“Baiklah, kita duluan ya”

Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.

Varia masuk.

“Kunci pintunya” perintahku.

Sampai di ruang periksa Varia langsung memelukku, erat sekali.

“Dok …”

“Ya .Varia .”

Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..

Sambil masih berpelukan, Varia menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener ..

Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.

Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..

Varia membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi …

Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Varia yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh .. Maaassss ..” Varia merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !

Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.

“Maaaasss .. Sedaaaap ..” Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting dadanya.

Varia mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini.

Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.

Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak punggungku.

“Lepas dulu dong bajunya . Mas .” kata Varia

Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Varia mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.

“Wow .. Bukan main ..” Katanya sambil menatap penisku.

Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila !

Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap.

Yang “tersaji” sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Varia, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing” …

Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Varia kulihat senyum tipis.

“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.

“Kapan melepasnya ?”

“Tadi, sebelum turun .”

Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.

Varia lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..

“Maass .. Masukin Mas .. Varia udah engga tahan lagi ..” Wah . dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.

“Uuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..” Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang masuk.

Aku menekan lagi.

“Ouufff .. Pelan-pelan dong Mas .

“Sorry …” Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Varia memang sempit.

Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti … Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya ..

Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.

Sadarkah kau Wan?

Siapa yang kamu setubuhi ini?

Pasienmu dan isteri orang!

Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.

Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan ? Okey, deh.

Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang .

Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?

Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya … sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.

Tapi kaki Varia menjepitku, menahan aku mencabut penisku.

Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Kesemprotkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Varia, sambil mengejang dan mendenyut ….

Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.

Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …

Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.

Pasien yang memiliki vagina yang “legit” ..

Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Varia yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Varia mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam.

Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.

“Siapa Varia” tanyaku.

“Koko, Suamiku” Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.

“Curiga ya dia”

“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.

“Varia bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.

“Suamimu tahu kamu ke sini”

“Iya dong, memang Varia mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.

“Terima kasih ya Mas … nikmat sekali .. Varia puas”

“Ah masa .. ”

“Iya bener .. Mas hebat mainnya .”

“Ah . engga usah basa basi”

“Bener Mas .. Malah Varia mau lagi .”

“Ah .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”

“Lain kali Varia mau lagi ya Mas”

“Gimana nanti aja .. Entar jadi lagi”

“Jangan khawatir, Varia pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.

“Oh ya ..?”

“Si Koko belum pengin punya anak”

Kami berberes. Varia memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.

“Kok BH-nya enga dipakai ?”

“Entar aja deh di rumah”

“Entar curiga lho, suamimu”

“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”

Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terrangsang lagi … Cara Varia mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.

“Kok ngliatin aja, pakai dan bajunya”

“Habis . kamu sexy banget sih …”

“Ah .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?”

“Entar ajalah . mau mandi dulu .”

Selesai berpakaian, Varia memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.

“Varia pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Varia mau lagi ya .”

“Iya .. deh . siapa yang bisa menolak..” Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.

“Eh .. Bangun lagi ya ..” Varia ternyata menyadarinya.

Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.

“Mas mau lagi .?”

“Ah . kamu kan ditunggu suami kamu”

“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.

“Udah malam Varia, lain waktu aja”

Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Varia naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Varia menekan ke bawah duduk di tubuhku. ..

Penisku langsung menerobos vaginanya ..

Varia bergoyang bagai naik kuda .

Sekali lagi kami bersetubuh .

Kali ini Varia mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprotkan vaginanya dengan air maniku …

Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.

“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana ..” Katanya sebelum pergi.

“Ngaco . suamimu .?”

“Kalo dia sedang engga ada dong ..”

Baiklah, kutunggu undanganmu.

Sejak “peristiwa Varia” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy .

Certa Sex – Cewek Pembersih..

Memang keberuntungan selalu datang tak terduga , saat ini aku sudah bekerja sebagai karyawana selama 9 tahun dan kejadian ini berawal saat aku mengantar anakku yang SMP pergi kesekolah, dimana jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh kira kira menempuh waktu 30 menit, jadinya aku selalu bangun pagi untuk supaya tidak telat masuk ke sekolah. Dari mengantar sekolah aku tidak mungkin lagi kembali ke rumah, karena aku harus sampai di kantor jam 9.

Jarak sekolah dengan kantorku sekitar 10 menit perjalanan. Jadi setiap pagi aku sudah berada di kantor jam 7 pagi. Kantorku menempati gedung bertingkat. Setiap aku sampai kantor, yang pertama aku lakukan adalah buang air kecil.

Kebiasaanku setiap hari meminum air putih sekitar 1,5 liter pada saat menjelang berangkat dari rumah, sehingga sesampai di kantor aku sangat tersesak kencing. Ini aku lakukan merupakan terapi air putih untuk kesehatan.

Sering kali ketika aku akan kencing, wc sedang dibersihkan oleh petugas cleaning service. Biasanya aku tahan sebentar sambil menunggu wc rampung dibersihkan. Masalahnya yang membersihkan petugas cleaning servicenya adalah cewek, jadi aku agak segan juga. Suatu hari aku sudah sangat tersesak kencing.

Rasanya menunggu Erna, begitu nama petugas cleaning service, merampung kerjanya tidak mungkin. Aku akhirnya menerobos saja lalu membuka celana dan langsung memancurkan air yang menyesak akan keluar.

Pada saat itu Erna sedang mengepel lantai di bagian ujung WC sehingga dia tidak sempat keluar. Sebab jika keluar harus melalui tempatku berdiri. Maklum WCnya tidak terlalu luas. Aku berpikir, toh dia tidak bisa melihat karena posisinya agak dibelakangku. Seandainya ada orang juga kencing di sebelahku juga nggak bakal bisa melihat.

Masalahnya nggak enak saja kencing sementara disitu ada cewe. Erna sudah lama aku kenal. Dia sering aku mintai tolong untuk membeli makan siang di warung yang banyak terdapat di depan gedung. Tentu saja ada ongkos aku berikan, yang kadang-kadang ongkosnya sama atau kalau dibulatkan menjadi lebih besar dari harga pesananku. Jadinya dia memang akrab denganku. Erna umurnya masih sekitar 18 tahun. Dia drop out dari SMA kelas 2.

Jika mengenakan seragam cleaning service, dia tidak terlihat sexy, tetapi jika memakai jeans dan kaus, kelihatan pahanya yang gempal dan susunya yang menggembung. “Sorry ya yan gue nggak tahan kebelet banget nih,” kataku.

“Ah gak pa pa pak , nggak kelihatan kok,” katanya. “Ah kelihatan juga nggak apa-apa juga,” kataku menggoda sambil melampiaskan kencingku yang sangat mendesak. “Ih Bapak genit ah, “katanya sambil terus membersihkan lantai.

“udah pernah liat apa belum,” tanyaku menggoda lagi. “Aslinya ya belum lah pak, kalau di film sudah beberapa kali.

“Sini deh kalau pengen liat, yang asli,” kataku. “Ah bapak ….., saya malu ah,” katanya. “Lho yang malu emang harusnya siapa, kamu kok jadi kebalik.” kataku. “Emang Bapak gak malu,” jawabnya sambil mendekat.

Rupanya ada juga keinginan dia melihat wujud asli alat paling rahasia seorang pria. “Ih kok kecil ya pak, di film-film kayaknya gede banget,” kata Erna sambil mengintai barangku dari samping. “Ya iyalah, yang difilm itu kan barangnya orang bule dan negro yang badannya gede, lagian barangnya kan siap tempur

Lha ini dia lagi males karena sedang mancur dan lagi orang Indonesia kan gak segede orang barat,” kataku. “ O gitu ya pak,” katanya Pembicaraan singkat itu membuat barangku pelan-pelan memuai. Aku kencing memang cukup lama karena yang dikeluarkan rasanya memang banyak sekali. Erna masih memperhatikan barangku.

Dia tidak malu-malu lagi karena dia mengambil posisi yang lebih jelas untuk melihat. Setelah semua keluar aku mencuci ujung penisku dengan air yang mancur keluar dari toilet. Erna masih antusias melihat barangku.

“Bentuknya lucu pak, kaya pakai topi,” katanya. “Kalau mau pegang, boleh kok, pegang aja.” Kataku. Erna tidak punya keberanian menjangkau barangku. Ku pegang tangannya dan kubimbing ke arah penisku.

Mulanya dia malu sehingga tangannya agak dikakukan, tetapi karena aku tarik terus akhirnya dia melemas. Tangannya kubekapkan ke penisku yang sudah berdiri sempurna. Kuremas tangannya agar dia juga meremas barangku.

Dia meremas dan aku merasakan nikmat. “ Idih kok keras dan anget gini sih Pak,” katanya. Aku tidak menjawab karena menikmati sensasi remasan Erna.

“Udah ah pak nanti saya gak kerja-kerja,” katanya mengakhiri remasan di penisku. Aku pun menutup resleting dan keluar wc menuju meja kerjaku. Sepagi ini belum ada pegawai yang datang.

Aku puas menikmati sensasi pagi. Sambil menunggu pegawai lainnya datang, aku browsing di internet sambil berkhayal untuk lebih jauh dengan Erna. Dalam benakku berkecamuk, dia cleaning service, sementara aku dikantor ini cukup punya jabatan yang terpandang.

Kalau misalnya aku ada affair dengan Yanti lalu terbongkar, wah malunya bukan main. Tapi dibalik itu, Yanti cukup menarik. Sejauh ini sudah lebih mudah mengolahnya untuk tindak lanjut. Wah gimana ya aku bingung juga.

Seandainya saja dia bukan bekerja sebagai cleaning service di gedung tempat kantorku berada, aku pasti tidak pikir panjang mengarapnya. Hari berikutnya aku datang agak lebih pagi, karena jalanan agak longgar.

Sesampai dikantor, Erna masih membersihkan ruang kerja. Melihat aku datang dan langsung menuju WC, Erna pun ikut pula masuk.

“Pak penasaran pengen liat lagi, semalaman jadi kepikiran pak gara-gara Bapak sih,” katanya.

Aku tentu saja membiarkan dia ikut masuk dan menonton barangku. Kali ini dia kusuruh memegangi batang penisku yang sedang mancur.

Celana agak aku turunkan, sehingga tidak saja batang penis yang bebas, tetapi kantong menyan di bawahnya juga terbebas. Di pegang Erna penisku jadi memuai, dan kencing nya menjadi mengecil, sehingga penuntasannya jadi lebih lama.

Selesai semua keluar aku ajarkan bagaimana mencuci sisa air seni di ujung penisku. Erna kelihatannya penasaran sekali, sehingga dia menurut saja perintahku. Lepas itu di sentuh-sentuh bagian kantong menyan.

“ Pak ini apa kok empuk-empuk,” tanyanya. Aku jelaskan dan aku ingatkan agar dia tidak meremas kantong pelirku, karena rasanya sakit dan sengal, kalausempat dia remas bagian itu.

Kantong pelirku ditimang-timangnya, lalu batangku di genggamnya. “ Ih gemes deh pak rasanya pengen ngremes aja,” kata Erna. Erna gadis yang agak agresif dan keingintahuannya cukup besar.

Padahal dia belum pernah punya pacar. Pacaran di sekolah dulu hanya sekedar jalan bareng, nonton, tidak lebih dari itu. Jadi dia sebenarnya belum pernah dijamah laki-laki. Aku tidak bisa tinggal diam, tanganku menjamah susunya yang lumayan menggembung.

Dari luar bajunya aku remas-remas. Erna kutarik dan kupeluk dari belakang. Tanganku dengan segera menyusup ke balik bajunya dan masuk ke dalam bhnya. Bongkahan susu yang empuk dan kenyal aku remas-remas.

Terasa pentilnya yang masih kecil aku pelintir-pelintir. Puas meremas susunya tanganku yang satu lagi membuka celana panjangnya dan langsung menelusup ke balik celana dalamnya. Disana aku meraba bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.

Ketika jari tengahku menemukan celah belahan memeknya terasa ada lendir di rongganya. Kumainkan sebentar jari tengahku di rongganya lalu aku tekan-tekan clitorisnya. Erna mendesah-desah.

Aku makin bersemangat, karena Erna kelihatannya sudah pasrah. Kugosok terus clitorisnya sekitar 5 menit sampai dia akhirnya mencapai orgasme. Setelah itu kami mengakhiri permainan dan kembali membenahi baju kami masing-masing.

Akhirnya hampir setiap hari aku melakukan petting berat di wc dengan Erna. Aku sudah tidak perduli lagi soal statusku dibanding dengan status Erna. Apalagi di depan orang lain dia terlihat normal dalam berhubungan denganku.

Yang membedakannya upah membeli makan siang, sekarang makin besar. Tapi itu atas kemauanku sendiri. Hubunganku dengan Erna tidak terendus sedikitpun oleh pegawai-pegawai di kantorku. Jadinya aku merasa aman-aman saja.

Setelah acara petting berjalan beberapa waktu, aku penasaran untuk mendapatkan yang lebih. Pagi itu aku sengaja datang setengah jam dari biasanya. Erna ketika itu juga lagi menyapu ruang kerja. Kutarik dia masuk ke wc perempuan.

Pegawai perempuan di lantai ini tidak terlalu banyak. Mereka biasanya baru muncul sekitar jam 10. Rasanya lebih aman bercumbu di wc perempuan. Aku tarik Erna masuk ke salah satu bilik wc perempuan.

Toilet duduknya aku tutup dan aku segera menurunkan celanaku. Baju Erna aku buka kancingnya dan BHnya aku lepas. Sedangkan celananya aku lepas semuanya. Erna aku pangku berhadapan. Aku berusaha memasukkan penisku ke celah kemaluannya.

Setelah posisinya tepat aku menarik Erna agar menurunkan badannya. Barangku perlahan-lahan ambles ke dalam rongga hangat kemaluan Erna. Pikiranku segera berproses. Rasanya dia sudah tidak perawan lagi, karena penisku tidak menemukan kesulitan berarti untuk tenggelam seluruhnya.

Tapi nanti sajalah pertanyaan ini dicari jawabnya. Erna aku arah kan agar bergerak-gerak sehingga aku merasa penisku di remas-remas. Aku lalu bersandar ke toilet dan memberi ruang lebih leluasa bagi Erna.

Dia bergerak mengikuti nalurinya sambil tangannya berstumpu di kedua pundakku. Sensasi hidden sex begini memang luar biasa nikmatnya. Payudaranya berguncang-guncang karena gerakan liar Erna. Gerakan susu yang cukup besar ini merupakan pemandangan yang sangat mempesona. Kami bermain sekitar 10 menit.

Rasanya Erna sempat mencapai orgasme lalu menjelang aku orgasme aku buru-bur mencabut penis dari lubang nikmat. Meski dalam keadaan sange aku sadar bahwa jika dia hamil, karirku bisa hancur. Setelah kami menyelesaikan permainan dan masih berpelukan, aku tanyakan ke Erna, apakah dia sudah pernah melakukan seperti ini.

Dia terus terang mengaku bahwa dia pernah dikerjai pamannya ketika dia masih kelas 2 SMP. Pamannya sempat 3 kali menggumulinya. Tapi kata Erna dia waktu itu tidak tau apa-apa. Aku manjadi terbiasa main dengan Erna di WC perempuan di pagi hari.

Memang tidak tiap hari, tetapi seminggu paling tidak kami melakukannya 2 kali. Aku kemudian menjadi khawatir juga kalau Erna hamil. Melalui bidan kenalanku dia dipasangsi spiral. Asyiknya Erna tidak malu-malu mengajakku main, jika di merasa ingin.

Jadi rasanya lebih sering dia mengajak main dibanding aku. Erna memiliki nafsu yang cukup tinggi. Permainan satu ronde bagi dia masih belum cukup. Aku beberapa kali mengajaknya menginap di hotel. Kami melampiaskan hasrat sepuas-puasnya.

Meskipun hubunganku dengan Erna sudah sangat jauh, tetapi dia tidak menuntut apa-apa dari ku. Bahkan di depan pegawai lain dia bersikap wajar. Aku yang tidak tega, sehingga kemudian aku memberi uang bulanan yang agak lebih besar dari gajinya.

Sekitar setahun hubunganku dengan Erna, dia mengadu bahwa dia sudah punya cowok. Kata dia cowoknya cakep dan sudah kerja di asuransi. “Pak aku tiap malam main ama cowokku, abis kalau lagi kepengin kepalaku rasanya pening,” kata Erna.

Permainan denganku masih terus sampai akhirnya dia menikah dengan cowoknya. Menjelang pernikahannya aku minta bidan temanku untuk mencabut spiralnya. Kata Erna, cowoknya tidak tahu kalau dia pakai spiral.

Certa Sex – Perkenalan dengan Mirna..

Aku memang sengaja dan tidak menutup nutupi ke penggemar cerita dewasa, karena memang di zaman yang modern ini semua berita ataupun pengalaman bisa di publikasikan lewat internet, saatitu aku juga menuliskan kisah sexku di beberapa web, ada yang mengemail diriku dia mengaku kalau dia mahasiswi di universitas negeri Mkasar. Namanya Mirna, Dia sangat tertarik dengan kisahku dan ingin kenalan denganku lebih jauh, bahkan kami sepakat lewat e-mail untuk saling tukar pengalaman.

Saya masih ingat, waktu itu sekedar iseng membuka inbox emailku kalau-kalau ada email yang masuk. Tepatnya 4 Juni 2003, sebuah alamat email yang bertuliskan @yahoo.au di ujungnya, kucoba klik dan ternyata ia mengajakku kenalan.

Akupun mencoba membalasnya sesuai janjiku pada setiap kisah porno yang kukirim, meskipun kalimatnya ala kadarnya yang penting tidak mengecewakan bagi pengirimnya.

Apalagi namanya menunjukkan nama seorang wanita, sehingga pasti kuusahakan menyapanya. Hanya dalam tempo 24 jam kemudian, email itu kembali muncul di kotak emailku dan isinya menunjukkan ada keseriusan mau kenalan lebih jauh denganku.

Akupun semakin menunjukkan keseriusan mau kenalan dengannya, apalagi setelah kuketahui kalau ia tinggal tidak terlalu jauh jaraknya dari kota tempat tinggalku. Kami hanya beda kota kabupaten, tapi ada dalam satu wilayah propinsi Sulsel.

Balas membalas email antara aku dan Mirna boleh dibilang cukup lancar. Bayangkan saja sejak 4 Juni 2003 hingga saat ini, Mirna tidak pernah alpa mengirim email padaku dan tentu saja sebaliknya aku tidak pernah alpa membalasnya secara otomatis pada saat itu juga.

Sampai-sampai kami membuat kesepakatan untuk buka dan kirim email setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at (3x seminggu). Banyak pengalaman dan informasi yang kami tukar. Mulai dari asal usul, pengalaman sex, ciri-ciri dan keinginan sex kami masing-masing serta jadwal pertemuan kami di kota makassar.

Bahkan kami saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami secara jujur, yang akhirnya saya kirimkan foto berkat pengajaran dari Mirna soal cara mengirim foto lewat email, sebab saat itu saya masih awam dalam hal kirim mengirim foto lewat email.

Tidak kurang dari 25 kali kami saling membalas email, hingga sampai puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2003, di mana kami betul-betul serius mau melakukan pertemuan secara langsung dan sekaligus memperaktekkan tentang pengalaman dan kebutuhan sex kami masing-masing.

Saya tidak pernah yakin kalau perkenalan lewat email itu bisa mempertemukan kami secara langsung, apalagi jarak antara kota saya dengan kota tempat tinggal Mirna sekitar 200 km lebih. Namun kenyataan menunjukkan bahwa janji dan keinginan sex kami bukan hanya isapan jempol dan teori saja, melainkan kami betul-betul berhasil bertemu muka, bahkan melakukan praktek bersama di salah satu wisma di Makassar.

Bagi Mirna mungkin tidak terlalu sulit menemukanku di terminal setelah kami janjian ketemu di salah satu tempat di kompleks terminal Panaikan sebab dia telah menerima fotoku lebih dahulu yang kukirim lewat email.

Tapi bagiku menemukan orang yang belum pernah kulihat sebelumnya, apalagi ciri-cirinya tidak sempat menjelaskan secara rinci di emailnya, tentu sangat sulit, sebab selain aku belum banyak pengalaman di kota Makassar, termasuk di terminal Panaikan, juga terlalu banyak wanita muda yang berkeliaran, apalagi aku belum yakin 100% atas janjinya mau menemuiku di terminal itu. Tapi aku tetap bertekad untuk ke Makassar siapa tahu bisa jadi kenyataan, kalaupun ia permainkan aku, kuanggap hal itu sebagai pengalaman buatku.

Jam 7.00 pagi saya sudah naik mobil dan berangkat meninggalkan rumah tempat tinggalku menuju kota makassar dengan alasan sama istriku bahwa ada urusan bisnis penting selama sehari di Makassar agar ia izinkan aku berangkat.

Namun karena berbagai hambatan diperjalanan, maka aku terlambat 1 jam tiba di terminal sebagaimana rencana yang kusampaikan Mirna semula. Sebelum aku turun dari mobil tumpanganku, aku tiba-tiba gemetar dan merasa takut kalau-kalau dia lebih dahulu memperhaMirnanku dan aku juga diliputi rasa was-wasa jangan-jangan dia mau menjebakku dengan membawa pasukannya atau teman laki-lakinya ke terminal serta berbagai macam dugaan yang muncul dibenakku.

Mataku mulai membelalak sejak mobil belok ke kanan dan berhenti di depan loket pembayaran retribusi hingga memasuki pelataran parkir. Aku turun dan membayar sewa mobil sambil berusaha tersenyum sendirian dengan perasaan tidak menentu kalau-kalau dia telah memperhaMirnanku.

Akibat konsetrasiku mencari seorang gadis muda yang sedang bingung mencari seseorang, maka hampir aku kecolongan memberi uang kepada orang lain yang tidak kukenal. Untung saja orang itu tidak segera mengambil uang yang kusodorkan itu, sebab ternyata yang kuserahkan sewa mobilku bukan sopir mobil itu, melainkan orang lain yang kebetulan mencari muatan buat mobilnya.

Ini gara-gara terlalu gembira mau ketemu dengan seorang gadis yang belum tentu datang ke terminal itu, apalagi bodi dan ciri-ciri pakaiannya belum jelas sama sekali. Kejadian itu pasti tidak pernah terlupakan seumur hidupku.

Sekitar 20 m aku bolak balik dari pelataran paling bawah ke pelataran paling atas di terminal itu, bahkan hampir semua warung dan tempat duduk-duduk para penumpang bis aku intip tanpa ada rasa segan, meskipun aku tetap agak malu kalau-kalau ada penumpang dari kotaku asalku yang mengenal dan memperhaMirnanku

Yang bisa saja melaporkan sikapku itu pada istriku nanti. Setelah capek keliling, akhirnya aku putuskan untuk masuk wartel lalu menghubungi HV-nya, sebab lewat emailku sebelumnya aku telah berpesan agar tidak dimaMirnan HV-nya hari itu.

“Halo, Mirna yah? di mana kamu sekarang? aku ini ada di terminal mencarimu sejak tadi” demikian kata saya melalui telepon.

“Halo, betul ini Mirna. Saya ada di kampus sekarang lagi makan siang ama teman-teman di warung kampus nih. Tunggu aja di situ yah, aku akan segera meluncur ke sana, tapi tepatnya kamu nunggu di mana yah?” itulah jawaban Mirna saat itu seolah menunjukkan keseriusannya mau ketemu denganku.

“Oke sayang, aku akan setia menunggumu di depan wartel belakang pos pungutan retribusi masuk, sudah ngga tahan nih mau ketemu denganmu” demikian jawaban singkat saya saat itu.

Hampir setiap mobil, terutama petek-petek dan taxi kuamati isinya dan penumpang yang turun kalau-kalau ia naik kendaraan itu, meskipun sesekali juga kuperhaMirnan motor yang lewat jangan sampai ia naik motor.

Hanya dalam waktu sekitar 20 menit kemudian, aku tiba-tiba mendengar suara panggilan dari sebelah kiri di mana aku duduk dengan sedikit tertahan, “Halo-halo, eh-eh,” ternyata suara itu adalah berasal dari seorang gadis muda yang sedang menjinjing tas mahasiswa, yang nampaknya diarahkan padaku.

Akupun segera berbalik ke arahnya, namun ia segera berjalan berputar di samping mobil yang ada di belakangku. Walaupun sedikit ragu, tapi keyakinanku lebih besar mencurigai kalau wanita itu adalah Mirna yang sejak tadi aku tunggu, aku cari dan aku idam-idamkan selama ini.

Sambil mengikuti langkah kakinya, getaran jantungku semakin dag dig dug, dan tiba-tiba ia membalikkan wajahnya sehingga kami berhadap-hadapan dan saling menatap sejenak di tengah-tengah keramaian penumpang yang ada di terminal itu, hanya 30 cm jaraknya.

“Kamu Aidit khan” katanya dengan suara yang lembut.

“Yah, dan kamu Mirna khan” aku balik bertanya dengan mengarahkan telunjukku pada wajahnya sambil kami tersenyum.

Entah apa yang bergejolak di pikirannya saat itu, tapi yang jelas aku rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya, untung segera kusadari kalau tempat ini dihuni oleh banyak orang, yang tidak mustahil ada yang mengenal kami.

Tanpa banyak basa basi lagi, ia segera naik mobil petek-petek dan akupun segera mengikutinya bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Di dalam mobil, kami banyak membicarakan soal ketidakpercayaan kami atas pertemuan ini

Bahkan pengakuannya ia sedikit agak kesal dan hampir putus asa menunggu sejak pukul 10.00 pagi tadi di terminal sesuai informasi yang telah kusampaikan, namun aku berkali-kali minta maaf atas keterlambatan tiba di terminal mobil yang kutumpangi itu.

Dari 2x pindah petek-petek menuju wisma yang telah ia janjikan dalam emailnya, kami tidak pernah kehabisan bahan bicara, bahkan kami duduk sangat rapat, sehingga anginpun sulit melewati perantaraan duduk kami. Tubuh kami seolah melengket pakai lem tanpa ada perasaan malu sedikit pun dari penumpang lainnya.

Dalam hati saya biar mereka memperhaMirnan kami toh mereka tidak mengenal kami. Kami bagaikan suami isteri yang baru ketemu setelah sekian lamanya berpisah. Betul-betul saling melepaskan kerinduan. Sekitar 30 m dari wisma yang kami tuju, Mirna tiba-tiba menghenMirnan mobil lalu turun dan akupun mengikutinya.

Maklum aku belum banyak kenal kota Makassar. Meskipun aku tetap selalu berusaha untuk membayar sewa petek-petek setiap turun, tapi selalu saja Mirna mendahuluiku atau aku kalah cepat membayarnya. Sebagai seorang pria, akupun merasa berat dan malu, tapi Mirna nampaknya betul-betul mau membuktikann janjinya untuk memberikan layanan 100% jika aku datang menemuinya di Makassar.

Rencana pertemuan kami di kota Makassar betul-betul sudah sangat matang, sebab kami telah membeberkan kelemahan dan keterbatasan kami masing-masing lewat email, namun kami tetap saling berjanji akan menerima apa adanya, yang penting tujuan kami hanya satu yaitu saling memberi kepuasan sex sesuai kemampuan dan pengalaman serta keinginan kami masing-masing.

Pekerjaan, keuangan dan penampilan, bahkan usia, kami telah sepakat untuk tidak mempersoalkannya. Demikian seriusnya Mirna mau menyenangkan diriku, sehingga ia siap membantu membayar sewa kamar wismanya dan siap memberikan tubuhnya sepenuh hati buatku serta mengorbankan perasaannya demi kebahagiaanku nanti.

Bahkan kami telah janjian untuk saling menjilati kemaluan dan mencukur bulunya sebelum pertemuan, sampai-sampai ia memberitahukan jadwal tamu bulanannya agar kedatanganku nanti tidak bertepatan agar ia dapat melayaniku 100%.

Sebelum kami masuk wisma tersebut, Mirna menyempatkan diri membeli aqua besar untuk keperluan dalam kamar nanti. Entah buat minum atau apa saja yang membutuhkan air. Setelah membayarnya, Mirna meminta aku membawa air itu dan apapaun rasanya diperintahkan oleh Mirna saat itu pasti kuturuti karena keseriusannya melayaniku

Padahal Mirna adalah seorang gadis muda, mulus, berkulit putih dan menggairahkan bagiku, apalagi seorang mahasiswi. Sementara aku termasuk sudah setengah baya yang berkulit hitam dan keriput, punya istri dan 3 orang anak lagi. Siapa tidak bahagia dan mangga berteman, apalagi bercinta dengan wanita seperti Mirna itu yang ikhlas berkorban untuk kesenangan aku.

“Tik, apa wisma ini cukup aman buat kita? dan apa selama ini ngga sering-sering dirazia oleh petugas?” tanya saya pada Mirna saat kami barengan masuk pintu wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya.

“Ngga taulah, sebab baru satu kali aku ke sini sewaktu pacarku membawaku dengan tujuan yang sama sampai aku tahu tempat ini, dan itupun sudah lama” jawabnya sambil menceritakan soal peristiwa persenggamaannya dengan pacarnya tempo hari di wisma tersebut.

“Mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yang kita khawatirkan” katanya lebih lanjut.

Selesai kami lihat tarif dan kamar yang kosong pada serlembar kertas di atas meja pelayanannya, Mirnapun membuka dompetnya dan aku usulkan untuk gabung saja biar lebih ringan pembayarannya.

Waktu itu, kami hanya membayar Rp. 55.000 untuk 6 jam, sebab nampaknya kamar lainnya penuh semua, dan kupikir 6 jam itu cukup lama buat kami yang tidak rencana menginap. Bisa kami selesaikan beberapa ronde.

Tepat pada jam 2.00 siang, kami telah masuk di wisma yang tidak perlu saya sebutkan namanya itu. Setelah kami bayar, kami lalu naik ke lantai dua mengikuti petugas wisma dan masuk ke sebuah kamar yang dilengkapi dengan air minum, kamar kecil, TV color 14 inc dan sprinbad yang cukup besar ukurannya. Setelah petugas keluar dari kamar, tinggallah kami berdua dalam kamar.

Mirna menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya lalu menutup semua gorden, lalu masuk sebentar ke kamar kecil lalu berbaring di atas rosban dengan pakaian masih lengkap. Sedangkan aku terlebih juga lebih dahulu masuk kamar kecil buat buang air, lalu ikut berbaring disamping Mirna.

Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang dan saling mengutarakan rasa kerinduan kami selama ini. Tanpa aku sadar, tangan kananku sudah memeluk tubuh Mirna dan Mirnapun tampaknya tidak segan-segan lagi membalas pelukanku, sehingga kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping.

“Aku sangat merindukanmu sayang, ingin sekali memelukmu” ucapanku sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sehingga napas kami sudah saling beradu.

“Aku juga sangat rindu padamu suamiku, mari kita lepaskan kerinduan kita” jawabnya sambil memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.

Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Bahkan aku lupa mandi sesuai kesepakatan kami semula ketika kami saling berhadap-hadapan di tempat tidur itu.

Demikian serunya permainan mulut kami, sehingga tidak ingin rasanya ada istirahat sejenak dan melewatkan kesempatan sedetikpun dalam kamar itu mumpung masih sempat.

Sambil bermain lidah, saya mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam baju kain Mirna hingga masuk ke dalam BH-nya yang ukurannya cukup sederhana. Sebagai seorang gadis yang jam terbangnya dalam dunia sex masih cukup terbatas bila dibanding dengan jam terbangku

Tentu ia tidak tahan lama dipermainkan payudaranya, apalagi saya remas-remas kedua payudaranya dengan lembut dan sesekali menindis-nindis putingnya yang mulai mengeras dan menonjol itu. Ia tidak mampu lagi sembunyikan kenikmatan yang ia rasakan dan terasa ia mulai terangsang, yang sangat kedengaran dari suaranya yang mengerang-erang kecil.

Utungnya tidak ada orang yang dekat dengan kamar itu, sebab memang kamar itu berada dibagian paling depan dan disudut wisma sehingga kami leluasa bersuara agak keras sebagai tanda kenikmatan yang kami alami.

“Ngga mau mandi dulu Kak?” katanya mengingatkanku, karena kebetulan aku keringatan akibat perjalanan jauh dari daerah tadi.

“Nantilah, setelah kita bermain-main dulu, biar kita lebih lama bercumbu rayu” jawabku sambil tetap memainkan lidah ke dalam mulutnya dan meremas-remas teteknya yang montok itu. Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahku dari dalam mulutnya lalu duduk sambil satu demi satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya.

Aku hanya mampu menatap indahnya tubuh seorang gadis mahasiswi. Mulus dan putih, namun sedikit agak gemuk sebanding dengan gemuk tubuhku, meskipun ia sedikit pendek dari ukuran badanku. Warna kulit kami sangat kontras karena kulitnya putih sementara kulitku agak hitam.

Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali berbaring. Akupun melepaskan baju lengan panjang yang kukenakan seperti halnya pagawai kantoran saja. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk.

Kali ini aku menindihnya meskipun ia masih mengenakan BH warna putih, sementara aku masih mengenakan baju dalam. Namun hal itu tidak sampai bertahan lama, sebab aku tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam BH-nya, sehingga aku lepaskan kaitnya dari belakang lalu meremas-remas secara bebas dengan kedua tanganku

Bahkan segera kujilati dan mengisap-isap putingnya yang agak bulat dan sedikit membesar. Sehingga ia kegirangan seolah ingin teriak ketika aku maju mundurkan mulutku pada putingnya, yang kedengaran bunyinya akibat air liurku yang membasahinya.

Tanpa aba-aba dari Mirna, sayapun segera merosot rok panjang yang dikenakannya, lalu kugigit-gigit dan kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar celana dalamnya. Dari luarnya menggambarkan kalau daging yang terbungkus CD-nya itu sangat montok dan kenyal serta sedikit mulai basah.

Aku tak mampu lagi bertahan menjilatinya dari luar, sehingga aku segera saja menariknya keluar lewat kedua kakinya. Ternyata dugaanku benar, di antara selangkangan Mirna terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya Nampah warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih seolah baru saja dicukur bulu-bulunya sesuai permintaanku dalam emailku sebelum pertemuan.

Kini Mirna dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua paha yang menjepit daging empuk itu.

Tanpa aku tatap lama-lama, aku segera menjulurkan lidahku menelusuri daging empuk yang terbelah dua itu. Nampaknya aku tidak terlalu sulit masukkan lidah ke lubang tengahnya itu, karena memang sudah beberapa kali ditusuk dan dimasuki benda tumpul alias kontol sebelum kami sebagaimana pengakuannya lebih dahulu padaku lewat emailnya bahwa ia telah beberapa kali berhubungan sex dengan pacarnya

Namun tidak sampai memuaskannya. Semakin lama semakin kupercepat gocokan lidahku kedalam memeknya sehingga mengeluarkan bunyi seperti kucing yang menjilat air. Mirna semakin histeris dan menggerak-gerakkan pinggulnya serta dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya.

Aku semakin leluasa memasukkan lidahku lebih dalam dan memutar-mutarnya sehingga terasa memek Mirna semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang memeknya.

“Aduh.. Kak.. enak sekali Kak.. terus Kak.. aahh.. uhh.. mm..” hanya suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulut Mirna ketika aku menggerak-gerakkan ujung lidahku pada lubang memeknya.

“Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Saya masukkan saja?” pertanyaan saya sambil kupermainkan lidahku dalam lubangnya.

“Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suara itu semakin menaikkan rangsanganku sehingga akhirnya aku secara berturut-turut membuka celanaku satu demi satu dengan dibantu oleh Mirna sampai tubuhku sudah telanjang bulat.

Kini kami saling bugil dan aku sedikit mundur persis di belakang pantatnya sambil berlutut dan mengarahkan ujung kontolku pada memek Mirna yang sudah basah dan sedikit terbuka itu. Sebelum aku sempat menusukkan ujung penisku ke lubang memek Mirna

Mirna terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok dengan tangannya sehingga aku semakin tidak tahan lagi bermain-main di luar. Kini senti demi senti kudorong ke depan hingga ujung kemaluanku pas tertuju pada lubang kemaluannya.

Mirna hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir memeknya itu, sehingga kontolku dapat menembus lubang memeknya dengan mudah. Aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya berada di atas kedua bahuku.

Kurasakan kontolku masuk menyelusup ke dalam memeknya Mirna tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Mirna semakin mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya. Suara dan napas kamipun saling memburuh, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya.

Mirna menarik pinggulku dengan keras dan akupun menekan kontolku ke dalam memeknya juga dengan keras sehingga peraduan antara kontolku dengan memeknya semakin dalam dan kencang. Genjotan kontolku semakin kupercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup besar.

Kami sempat memperhaMirnan gerakan-gerakan kami itu di cermin besar yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV 14 inch yang sengaja kami keraskan suaranya agar tidak sampai orang curiga atas perbuatan kami dalam kamar.

Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket. Mirna nampaknya tidak puas dengan posisi di bawah, iapun segera mengeluarkan kontolku dari dalam vaginanya lalu merobah posisi. Ia dengan sigapnya mengangkangiku lalu memasukkan kembali kontolku dalam vaginanya lalu ia dengan cepatnya menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kenan, ke bawah dan ke atas

Sehingga aku semakin sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam penisku. Bahkan ia menawarkan padaku untuk membalikan tubuhnya membelakangi wajahku agar ia dapat dengan jelas mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun aku menahannya agar tidak mengeluarkan lagi kontolku dari dalam vaginanya sebab terasa aku sudah sangat mendesak ingin muncratkan spermaku.

Mungkin pengaruh capek habis naik mobil dari jauh barusan, sehingga aku betul-betul kecapean dan sulit lagi mempertahankan gejolak sperma yang memaksa ingin keluar. Tanpa seizin Mirna, spermaku kutumpahkan dalam vaginanya meskipun aku masih terus memompa memek Mirna dari bawah dan mengikuti gerakan Mirna hingga betul-betul kontolku keluar dengan sendirinya karena kehabisan cairan dan tenaga.

“Istirahat aja dulu Kak kalau capek, saya ngerti kok Kakak ini terlalu capek habis naik kendaraan hampir seharian” kata Mirna dengan bijaksana sambil turun dari atasku lalu berbaring di sampingku.

Ia nampaknya tidak kecewa dan cukup mengerti atas keadaanku, sebab masih banyak kesempatan untuk mengulangi permainan kami sebentar. Apalagi sebelum kami melakukan semua itu, ia pernah berjanji akan memuaskanku dan ia tidak bakal kecewa atas keterbatasanku serta tidak terlalu menuntut untuk dipuaskan jika aku tidak mampu.

Mendengar kata-kata Mirna itu, aku merasa malu dan tidak tau harus berbuat apa, sebab janji yang pernah kuucapkan pada emailku untuk memuaskannya, ternyata tidak mudah aku jadikan kenyataan.

Entah, apa aku yang terlalu lemah dan loyo atau Mirna yang terlalu kuat dan tidak mudah mencapai puncak kenikmatan seperti yang pernah disampaikanku lewat email bahwa sudah beberapa kali ia bersetubuh dengan pacarnya tapi ia tidak pernah merasakan puncak kenikmatan sex.

Apalagi usiaku jauh lebih tua di atas 10 tahun dari usianya, sehingga seharusnya aku perlu obat penambah kekuatan dan daya tahan untuk mengimbanginya. Namun aku terlalu ceroboh dan kurang memperhitungkannya

Sehingga aku terpaksa KO lebih awal sebelum ia ada tanda-tanda akan puas. Aku terlalu mengandalkan pengalamanku yang mempunyai jam terbang lebih banyak dari dia, apalagi selama ini hampir semua wanita yang kusetubuhi merasa KO lebih dulu karena kemampuanku dalam merangsang.

“Maaf yah sayang, aku terlalu capek dari daerah, seharusnya istirahat lebih dulu sebelum kita berperang di atas kasur ini” kata saya untuk memberi alasan agar ia tidak putus harapan.

“Nga apa-apa kok Kak, saya khan tidak terlalu berharap dari Kak untuk dipuaskan, sebab saya hanya mau melihat Kakak puas dan bahagia bersamaku apalagi saya memang tidak mudah mencapai kepuasan sex Kak” jawabnya dengan sedikit tersenyum tanpa ada rasa kecewa sedikitpun diwajahnya.

“Kakak janji, ronde kedua nanti, akan kuusahakan agar Adik bisa juga merasakan nikmatnya sex. Saya malu dan tidak mau dikatakan hanya mementingkan diri sendiri, apalagi pasti akan membuat kenangan buruh dihati adik sepanjang masa, kita istirahat sejenak aja dulu Dik” begitulah ucapan saya pada Mirna mencoba memberi harapan yang besar.

Setelah aku ke kamar mandi membersihkan kemaluanku, saya kembali berbaring disamping Mirna dan berusaha merayu, memeluk dan mencium bibir dan keningnya serta mengelus-elus puting susunya.

Tiba-tiba aku teringat pada vitamin yang sengaja kubawa dari daerah sebagai obat yang dapat mengembalikan kondisi tubuh, khususnya bagi yang berusia lanjut. Aku bangkit dari tempat tidurku, lalu menelannya 2 biji, lalu kembali berpelukan dengan Mirna di atas kasur empuk itu. Ternyata tidak sia-sia, hanya dalam beberapa menit saja, kontol saya mulai terasa mengeras kembali, apalagi setelah dipegang-pegang oleh Mirna.

“Yuk, kita mulai lagi” kataku sambil tersenyum pada Mirna.

“Apa Kakak sudah siap lagi? Istirahat aja dulu sebentar Kak, waktu kita masih ada beberapa jam lagi di wisma ini” katanya seolah tidak mau memaksa kemampuanku.

Sambil berkata begitu, Mirna mulai meremas-remas kontolku dan nampaknya ia juga sangat menginginkan hal itu. Mirna segera bangun dan kembali mengangkangi tubuhku lalu mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang masih basah karena belum dicuci. Ia sengaja saya minta agar lebih aktif dari aku, karena aku masih agak kecapean.

Kontolku yang sudah mengeras kembali itu tidak terlalu sulit dimasukkan sampai seluruhnya amblas ke dalam lubang memeknya. Mirnapun mulai menggenjot terus dan kembali menimbulkan bunyi khas, bahkan kali ini ia berbalik membelakangi wajahku sehingga ia tertawa kecil melihat gerakannya pada cermin di sudut kamar itu.

Setelah ia puas memandangi posisi kami, Mirna lalu turun dan mencoba nungging di depan saya. Sayapun mengerti maksudnya. Berkali-kali aku arahkan ujung penisku pada memeknya yang agak sedikit menganga dari belakang, tapi selalu saja mengenai lubang duburnya, sehingga ia menegurku karena merasa kesakitan.

Mungkin Mirna atau saya yang kurang cocok dengan posisi itu, sehingga kami tidak jadi menerapkan posisi nungging itu, melainkan Mirna kuminta berbaring terlentang lalu aku kembali menindihnya dan memasukkan kontolku dengan mudah lalu menggenjotnya dengan lebih keras dan cepat. Kali ini berlangsung agak lama daripada ronde pertama tadi.

“Ngomong ya Kak jika kau mau muncrat supaya aku tahu” katanya berbisik.

“Yah sayang, tapi masih jauh rasanya” jawabku singkat.

Peluh kami mulai bercucuran dan basah sekali sekujur tubuh kami. Walaupun aku telah berusaha menahan spermaku untuk tidak terlalu cepat keluarnya, namun tetap saja Mirna belum ada tanda-tanda akan mencapai puncaknya.

“Auh.. iihh.. eehh.. aahh.. uuhh..” itulah suara-suara yang menyertai gerakan pinggul Mirna ketika aku semakin mempercepat gerakan pantatku menekan pnisku masuk lebih dalam lagi. Sementara aku tetap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara meskipun aku merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa dibanding aku bersetubuh dengan istriku.

“Bagaimana sayang, masih jauh? Aku sudah mulai mau keluar nih, nga apa-apa khan saya keluarkan di dalam saja?” kataku berterus terang.

“Silakan Kak, aku sudah makan obat pengaman, ngga bakalan hamil kok, ibuku khan bidan, jadi mudah kudapatkan obat seperti itu” katanya meyakinkanku.

Tidak seberapa lama kemudian, akupun muncrat dalam vaginanya dan kali ini Mirna merasakannya dengan denyutan kontolku. Aku tetap berusaha menahan kontolku dalam memeknya, sehingga ia merasa hampir mencapai puncaknya.

“Kak, kayaknya aku sudah mau keluar nihh, auhh, mm.. hh” Katanya sambil terengah-engah dan bersuara agak keras.

“Bagaimana, sudah hampir sayang? Saya capek sekali nih” kataku terus terang mengalah, sebab kontolku sudah mulai loyo dan kehabisan tenaga sehingga sulit sekali bertahan di dalam.

Kontolku dengan sendirinya keluar dari dalam memek Mirna, sehingga kamipun berhenti bergoyang, nampun Mirna tetap tidak menunjukkan kekecewaan dan putus asa di wajahnya.

“Aku telah merasa sedikit lebih puas dari ronde pertama tadi atau mungkin tadi aku udah muncrat tapi aku ngga mengetahuinya” demikian katanya seolah bahagia dan senang atas pertarungan kami di ronde ke-2.

“Kita masih punya waktu sekitar 3 jam lagi di kamar ini sayang, mudah-mudahan kita masih bisa lanjutkan ke ronde yang ke 3, kita habiskan saja semua sisa-sisa kemampuan kita di tempat ini, sebab kapan lagi kita dapat kesempatan seperti ini” kataku penuh harap.

“Kalau sudah capek dan nga mampu lagi Kak, ngga usah diteruskan dan dipaksakan, khan sudah sama-sama kita merasakan suatu kenikmatan yang cukup, nanti lain kali aja kita bisa lakukan, saya selalu siap kok kapan aja Kakak mau asal beritahu lebih dulu” kata Mirna dengan santun dan penuh penghormatan serta kasih sayang padaku, sehingga aku merasa tidak enak dan berat padanya.

Kali ini, aku kembali ke kamar mandi membersihkan penis saya yang berlepotan dengan sperma, dan Mirnapun menyusul, lalu kami sama-sama mengenakan CD kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan, bahkan aku berusaha terus merangsangnya, terutama di bagian payudaranya dengan mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya serta mengecup pipinya.

Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya suami istri yang seolah tidak ada beban dan ketakutan sama-sekali. Cukup lama kami bermain-main di atas tempat tidur itu tanpa pakaian kecuali CD. Sesekali Mirna menyentuh penisku dan meremas-remasnya dari luar CD, sedang aku juga menyentuh dan mengelus-elus vaginanya.

“Kak, istirahat saja dan tidurlah, biar lebih segar perasaannya, aku rasanya ngga capek dan nga ngantuk” katanya merayuku berkali-kali agar aku berusaha tidur. Tapi aku selalu takut kalau-kalau ia meninggalkan aku sendirian dalam kamar itu, sehingga mataku juga tidak mau tertidur apalagi sulit lagi kami dapatkan kesempatan emas seperti ini.

Entah pengaruh dari mana, tapi yang jelas tiba-tiba kontolku kembali tegang dan bergerak-gerak dalam CD-ku, sehingga dirasakan pula oleh Mirna yang sedang berbaring di bagian bawah perutku. Mungkin akibat vitamin yang kutelan tadi atau karena senda gurau kami yang terlalu asyik. Mirna tiba-tiba bangkit dan duduk di sampingku sambil tertawa.

“Wah, ternyata bangun lagi Kak, apa Kakak masih siap melanjutkannya untuk ronde yang terakhir sebelum kita keluar dari wisma ini kak?” tanyanya dengan tersenyum dan nampak ia gembira melihat reaksi itu.

“Boleh saja, tapi isap dulu donk biar lebih keras dan membesar lagi agar dapat bertahan lebih lama” jawabku dan meminta ia lebih aktif.

“Ayolah, mari kita coba mulai” katanya terburu-buru sambil membuka CD-ku dalam keadaan aku tetap terlentang. Hangat dan nikmat sekali.

“Ahh.. usst.. oohh.. aduhh.. eenakk sekali sayang..” begitulah eranganku berkali-kali ketika Mirna meraih dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya lalu menggocok-gocoknya dengan mulut.

Setelah aku merasa kontolku cukup keras dan membesar lagi dalam mulut Mirna, aku dengan segera bangkit dari tidurku lalu menarik celana dalam Mirna hingga keluar semuanya. Kali ini aku tarik Mirna berbarik sambil miring sehingga kami berhadap-hadapan, lalu aku coba mengangkat satu pahanya ke atas dan memasukkan pahaku ke dalam selangkangannya, lalu menusukkan kontolku ke lubang memeknya hingga amblas seluruhnya.

Beberapa menit kami dalam posisi seperti ini sambil kami menggerak- gerakkan pantat maju mundur, akupun mengangkat Mirna ke atasku sehingga ia menindihku tanpa melepaskan kontolku dari kemaluannya.

Kali ini Mirna dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulnya maju mundur dan kiri kanan, bahkan ia menarik kepalaku ke atas sehingga kami setengah duduk lalu duduk dengan meletakkan kedua pahanya di atas kedua pahaku, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong dan menarik.

Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan, meskipun aku yakin jika Mirna belum mencapai kenikmatan sex 100%, tapi ia mengaku telah merasa puas merasakan kenikmatan sex yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Selesai membersihkan badan dan berpakaian lengkap, kami saling mengecup dan ciuman sebagai tanda terima kasih sekaligus perpisahan sementara karena aku mau pulang ke daerah asalku. Kami berjanji akan mengulangi lagi setiap ada kesempatan.

Certa Sex – Kenikmatan Yang Belum Pernah dirasakan..

Waktu aku bersih bersih dikamar aku menemukan surat milik Lisna dimana saat aku baca membuat hati dan pikiranku menjadi merinding, surat itu dari seoarang janda yang bernama Salma, surat itu isinya tentang permintaan janda muda Salma yang ingin berhubungan badan dengan Lisna, wah ternyata aku baru tahu kalau Lisan teman sekamarku itu lesbian.

 “Aku nggak tahan lagi, Lisna. Sudah lama hatiku kering, dan aku merindukan pelukan yang hangat dan mesra. Tapi, aku nggak mau ambil resiko. Jadi aku rasa aku mau menuruti tawaranmu. Malam ini rumah induk sepi. Aku tunggu kau di kamarku jam tujuh.” Begitu penggalan surat Salma.

Jam tujuh kurang seperempat. Aku sudah siap di kamar Bella, sebelah kamarnya Salma. Beruntung, karena dua hari lalu ketika Bella hendak pulang dia menitipkan kunci kamarnya ke aku. Segera aku cari tempat yang strategis buat ngintip suasana kamar Salma. Pas! Ada lobang angin-angin yang menghubungkan kamar Bella dan kamar Salma. Dan dengan mudah dan jelas aku bisa mengintip ke kamar Salma.

Salma sedang duduk menyisir rambutnya di depan meja rias. Wajah ayunya dihiasi dengan senyum. Matanya yang sayu berkali-kali memandangi jam dinding. Benar juga, nampaknya Salma menanti seseorang. Jam tujuh kurang lima menit. Tok.. tok.. tok..

“Salma.. ini aku, Lisna.”

Salma membukakan pintu kamarnya. Nampak Lisna tersenyum manis sambil menyapa,

“Hai!”. Busyet! Kayak ngapel ke rumah pacar saja, batinku.

Lisna segera masuk dengan mengunci pintu kamar. Dipandanginya wajah Salma sesaat. Dibelainya wajah halus Salma yang tanpa cacat. Tapi nampaknya Salma sudah tak tahan lagi. Segera diburunya bibir Lisna.

Kedua bibir yang sama-sama mengenakan lipstik itu saling melumat dan menghisap. Bisa kubayangkan lidah-lidah mereka yang bertarung mengganas. Tangan-tangan mereka saling meremas dan memeluk kepala pasangannya. Salma menghisap kuat-kuat bibir Lisna, dan Lisnapun membalasnya dengan menggigit bibir atas Salma.

Lisna segera melepaskan daster yang dikenakan Salma, dan kemudian kembali mereka bercumbu. Daster itu meluncur turun meninggalkan tubuh Salma yang kini tinggal berlapis BH dan CD tipis. Begitupun yang dilakukan Salma. Dilepasnya tali kimono Lisna hingga nampak tubuh Lisna yang berbalut lingerin hitam.

“Wah, bagus banget!” seru Salma ketika melihat lingerin yang dikenakan Lisna. Bagus apaan! Menurutku lingerin itu menjijikkan. Warnanya hitam lagi transparan, dan cuman menutup payudara Lisna sampai diujung saja. Hingga kedua gumpalan payudara berukuran 36 itu bagai ingin melompat keluar. Pakai lingerin atau bugil, kayaknya sama saja.

“Aku ingin hanya diriku yang kau puji sayang.. bukan lingerin ini.” kata Lisna merajuk.

“Iya deh..” kata Salma kembali memburu bibir seksi Lisna.

Bibir mereka kembali bergumul. Tangan Lisna menyusup masuk ke balik CD Salma. Perlahan-lahan diremasnya kedua pantat kenyal Salma.

“Aah..” desis Salma keenakan.

Lisna semakin ganas meraba-raba Salma hingga kemudian melepaskan pengait BH Salma. Penutup dada Salma itu mengendor lalu terjatuh. Ciuman Lisna turun ke leher dan dada Salma. Tak disia-siakannya setiap inchi dada Salma yang mungil.

Dicumbuinya penuh nafsu hingga ke perut lalu berhenti sebentar di pusarnya dan kemudian naik lagi hingga kembali ke bibir Salma. Diperlakukan seperti itu Salma mendesis-desis penuh birahi,

“Lisna.. ashh..ehmm..”.

Lisna mendorong Salma terlentang di atas kasur dan menindihnya. Ciuman Lisna kembali menurun hingga ke dada Salma. Diciuminya kedua bongkahan gunung kembar Salma yang sudah menegang. Putingnya berwarna kecoklatan menantang. Tanpa malu ladi dimasukkannya salah satu puting itu ke dalam mulutnya.

“Uagghh.. Lisna.. ahh.. terus.. say..” gumam Salma meremas rambut Lisna yang cepak.

Lisna meremas-remas buah dada yang baru saja dikulumnya itu. Dan sekali-kali diplintirnya putingnya hingga membuat Salma bergelinjangan.

Dan kemudian dihisapnya kuat-kuat. Sedang telapak tangan kirinya menekan kemaluan Salma yang masih dilapisi oleh CD.

“Lisnaa..” teriak Salma menghentak-hentak keasyikan.

“Hmm.. ehm..” gumam Lisna keenakan. Tak dipedulikannya erangan Salma. Kedua bukit kembar Salma digarapnya bergantian. Dikenyot-kenyotnya payudara Salma yang sudah bengkak benar bagai bayi yang amat kehausan. Salma yang sudah lama tak merasakan kenikmatan itu bagai menikmatinya dengan sepenuh hati.

Kupalingkan muka sejenak, karena tak tahan dengan libidoku sendiri yang mulai terbakar. Keringat dingin yang menetes di dahiku. Tapi aku segera kembali mengikuti permainan itu, nggak ingin rasanya tertinggal sedetik saja.

Lisna segera merosot satu-satunya CD yang melekat di tubuh Salma yang terlentang di ranjang hingga janda muda itu bagai bayi yang baru terlahir. Kemudian Lisna berdiri di hadapan Salma yang mengerang pasrah.

“It’s show time.” kata Lisna.

Salma terdiam memandangi Lisna yang mulai melucuti lingerinnya. Kain tipis itu meluncur turun meninggalkan tubuh Lisna yang bugil total. Nampaklah dada Lisna yang membusung bengkak menggemaskan, juga bukit kemaluannya yang licin tanpa bulu.

Lisna mulai meremas-remas buah dadanya sendiri, membangkitkan gairah Salma hingga pada titik puncaknya. Diremasnya kedua payudaranya dengan gerakan memutar hingga kedua gunung kembar itu bergoyang-goyang menantang.

Dan bagai iklan sabun Lisna membelai tubuhnya sendiri, dari dada.. perut.. hingga kemaluannya yang gundul. Tubuhnya meliuk-liuk lalu menungging membelakangi Salma dan memamerkan kesekalan bokongnya kemudian menyibak lorong kecil yang merah merekah.

Nampak liang kawin Lisna yang berlumuran lendir putih kental. Lisna memasukkan jemari telunjuknya ke dalam liang kawin itu. “Aagh..” desah Lisna pelan. Lalu ditariknya telunjuk yang telah basah itu. Kemudian dijilatnya dengan mata sayu menatap Salma. Oh, Batara Kala.. jangankan Salma, akupun merasa terbakar gairah.

Salma segera memburu Lisna. Dalam keadaan berdiri diterkamnya kedua payudara Lisna secara bergantian sedangkan tangannya mengerayangi setiap lekuk kemaluan Lisna yang telah basah betul.

“Sall.. ough..” desah Lisna sambil mendekap kepala Salma erat. Dengan buas Salma melakukan pembalasan atas semua lumatan Lisna.

“Aaagghh..” pekik Lisna ketika Salma menghisap puting payudaranya sekuat tenaga.

Lisna berkelojotan ambruk di kasur. Salma menindihnya dan terus melumat buah dada Lisna yang bagai mau meledak. Kedua kaki Lisna menyilang bagai mengunci tubuh Salma. Jemari Salma kembali beroperasi di sekitar kemaluan Lisna.

“Sal.. ayo.. masukkan Sal.. aghh..” ujar Lisna sambil mengacung-acungkan sebatang dildo kepada Salma. Salma mengerti apa yang Lisna mau. Maka Salmapun segera memasukkan dildo itu perlahan-lahan pada memek Lisna.

“Ee.. eghh.. ehh..” Lisna mengedan sebentar lalu, krak! nampaknya selaput dara Lisna semakin sobek saking kerasnya sodokan Salma.

“Aagh.. brengsek..!” pekik Lisna ketika Salma menghunjamkan dildo itu seluruhnya ke dalam memek Lisna. Agak sakit mungkin, karena sebelumnya Lisna selalu melakukannya dengan perlahan-lahan dan tidak sepenuh itu. Tapi sodokan yang keras dan cepat itu memberikan kenikmatan yang belum pernah Lisna rasakan.

“Tenanglah Lisna.. nanti pasti enak..” kata Salma sembari menggoyang-goyangkan batang dildo yang tinggal dua senti itu. Dan benar saja, tubuh Lisna terguncang-guncang nikmat. Peluh membanjir di seluruh tubuhnya yang terkulai lemas.

Kelincahan tangan-tangan Salma yang menggoyang tubuhnya sambil terus meremas-remas payudaranya membuat Lisna tak tahan lagi.

“Sal.. aku keluar nih.. eghh..” Lisna mengedan sebentar lalu terkapar lemas.

Salma segera menarik dildo dari memek Lisna. Dildo itu berlumuran cairan kawin Lisna yang membanjir. Salma berbaring di samping Lisna dengan wajah kecewa.

“Makasih ya, Sal. Aku puas banget.” kata Lisna

“Lisna, kamu curang. Aku kan belum selesai.” ujar Salma kesal.

“Iya, tunggu sebentar say.. biar aku pulihkan tenaga.” jawab Lisna membelai wajah Salma.

Salma hanya diam, tapi roman mukanya kurang sedap. Karena merasa tak enak hati, maka Lisna kembali membelai-belai payudara Salma. Salma memandang Lisna degan mata sayu, kemudian di belainya kemaluan Lisna yang masih basah.

“Hik.. kik..” Lisna mengikik kegelian sedang Salma tersenyum-senyum menikmati rasa dingin yang menyiram tubuhnya yang ditimbulkan dari gelitikan jemari Lisna di kedua puting susunya. Lisna meraih batang dildo yang tergeletak tak jauh darinya lalu menyodorkannya ke wajah Salma.

“Ayo jilatlah sayang..” bisik Lisna.

Walaupun sedikit jijik, Salma menuruti keinginan Lisna. Dijilatinya ujung dildo yang masih basah oleh lendir kawin Lisna itu. Pikiran Salma melayang pada Bas, mantan suaminya. Maka dengan ganas dijilatinya ujung dildo itu bagaikan menjilati penis Bas yang luar biasa besarnya.

Walaupun belum pernah melakukannya sebelumnya, tapi nampaknya Salma sangat menikmatinya. Apalagi jemari Lisna mengutak-atik isi kemaluannya. Menyusuri lorong sempit di antara rimbunan belantara dan menyentil-nyentil daging kecil yang tumbuh diantara goanya.

“Ough.. Lisnai..” Salma menumbruk Lisna dengan liar. Namun Lisna lebih cepat membantingnya, hingga posisinya kembali berada di bawah kendali Lisna. Lisna segera mengambil posisi 69.

“Ayo Sall.. kamu makan bagianmu, dan aku makan bagianku yach..”

Terhampar di depan Lisna sebidang hutan nan lebat yang telah basah dan becek. Jemari Lisna ikut membantu menyibak belukar basah itu. Lidahnya menjulur melintasi semak belukar hingga masuk ke mulut goa.

Lidah itu menyusuri goa itu hingga kemudian menjilati ujung daging kecil yang tersembul merah dan kenyal. Dihisapnya hingga daging kecil itu mengembang hingga membuat Salma yang sibuk dengan vagina Lisna mendengking tertahan,

“Achh.. ehmm.. eennaakk..”

Tak tahan dengan rangsangan Lisna yang begitu dasyat, Salma menggigit-gigit kecil vagina mayora Lisna. Lisna pun mendengking perlahan,

“Ough.. Sal.. sakit..”

Dan secara bersamaan tubuh keduanya menegang dan..

“Uachg..!” Suurr.. lendir-lendir kenikmatan mereka mengalir dengan deras. Salma merintih dalam nikmat. Lalu keduanya saling menjilat seluruh cairan kental itu hingga tandas. Rasa nikmat yang tercipta seakan ikut terasa olehku. Akupun merasa ada cairan basah yang menetes dari kemaluanku.

“Lisna.. ayo masukkan penisnya.. sebelum aku keluar..” perintah Salma. Lisnapun segera meraih dildo dan membenamkannya ke dalam memek Salma. Namun memek Salma tak selebar milik Lisna, hingga Lisna harus perlahan-lahan menyodokkannya.

“Engh.. terus Lisna..” pekik Salma yang terdiam menikmati sodokan Lisna.

Perlahan batang dildo itu amblas dimakan oleh memek Salma. Janda itu menangis merasakan kenikmatan yang lama tak terasakan itu. Lisna bangkit dan segera mengocok dildo yang bersarang di memek Salma.

Gerakannya yang ritmis membuat Salma terantuk-antuk. Ranjang itu berdecit-decit seakan bersorak atas rasa puas yang dirasakan oleh Salma. Dan untuk kedua kalinya Salma mengalami orgasme yang nikmatnya tiada tara.

Aku berpaling dan menjauh dari lubang pengintipanku itu ketika Salma menangis bahagia. Dan Lisna memeluknya mesra seraya berkata, “Salma, mulai sekarang akulah milikmu. Kau tak sendiri lagi karena aku akan selalu sayang padamu. Maukah kau menjadi kekasihku, Salma?” Dan Salma pun menangis di pelukan Lisna.

Kubasuh peluh yang mengalir di keningku dan juga airmata yang membasah di pipiku. Akupun segera meningalkan kamar Bella. Malam itu di kamar Salma, aku mendapati pengalaman yang tak mungkin terlupakan.