Cerita Dewasa

Cerita Sex – Akibat Sering Di Lilit Handuk..

Kejadian yg tak pernah aku lupa sebab, telah menjadi pengalaman pertamaku yg tdk pernah terduga dan terencana. Ketika itu usiaku masih 14 tahun, kelas 2 SMP.

Ketika duduk di bangku kelas 2 SMP, aku sekolah jam 12.00 WIB. Jadi, pagi-pagi aku menemani adikku yg masih kecil sebelum berangkat ke sekolah. Jam 09.30 WIB seperti biasa, aku titipkan adik kecilku ke rumah nenekku yg letaknya tdk seberapa jauh. Dan biasanya setelah mengantar adikku, aku selalu bermalas-malasan di kursi sambil nonton televisi dgn badan dililit handuk tanpa memakai celana dalam dan baju.

Seperti biasanya pula, tetanggaku sering ikut mandi atau buang air di rumahku pada jam 09.00 atau jam 10.00 WIB. Meski di rumahnya memiliki kamar mandi tp persediaan airnya kurang. Berbeda dgn rumahku, selain ibuku menggunakan mata air yg mengaliri setiap rumah warga, ibuku jg memasang air PDAM. Sehingga air di rumahku tdk pernah kosong jika air dari pegunungan mampet atau kering.

Walaupun tetanggaku ini sering ikut mandi atau buang air di rumahku, tdk ada rasa iseng dalam pikiranku utk mengintip atau tindakan-tindakan cabul lainnya. Walaupun di usiaku yg sudah 14 tahun, film porno sudah tdk asing bagiku.

Sebab, pergaulan di sekolah yg mengenalkanku bukan hanya pada minuman keras, rokok, tetapi jg pada film porno baik bokef barat maupun asia. Sungguh, ketika itu tdk ada terlintas sedikitpun dalam benakku utk melakukan hal-hal yg berbau seks terhadap tetanggaku ini yg usianya sudah lebih tua dari ayahku. Usianya sekitar 48 tahun ketika aku iseng bertanya kepadanya.

Sambil menunggu tetanggaku keluar dari kamar mandi, aku tetap tiduran di kursi sambil nonton televisi dgn tubuh bugil yg hanya dililit handuk.

Sampai akhirnya, tetanggaku selesai buang air dan keluar dari kamar mandi. Secara tiba-tiba, handuk yg melilit ditubuhku ditariknya dgn paksa namun, tanganku dgn refleks dan kuat menahan supaya handuk tdk sepenuhnya terlepas dan menampakan kelaminku. Hal tersebut membuat tetanggaku menjadi malu karena hendak memaksa melepas handukku dan langsung pergi ke luar rumahku.

Aku yg kaget dgn pengalaman tersebut mulai mengingat kembali kejadian yg mengejutkan itu. Betapa anehnya wajah seorang wanita yg sudah memiliki cucu tersebut dgn sorot mata seperti wanita dalam film bokef. Penuh nafsu dan menggairahkan. Maka tanpa pikir panjang, aku rapihkan kembali handukku dan segera melesat menuju rumahnya.

Di rumahnya, Bu Mina, aku mendapati ia sedang duduk di kursi panjang yg sudah tak karuan bentuknya sambil merokok. Aku beranikan diri duduk di sebelahnya.

“Bu, tadi ibu mau ngapain?”

“eng, eng, enggak cuma mau lihat burung kamu saja!” jawab Bu Imah dgn wajah so cuek.

“ooh. Kirain mau apa. Aku kaget sekali dgn perlakuan ibu yg tiba-tiba seperti itu.”

“udahlah, Dek Iwan lupakan saja kejadian itu, ya!” jawabnya sambil menghembuskan asap rokoknya.

“bu, kalau ibu pengen lihat burungku, ayo bu di rumahku saja.” jawabku sambil berlalu dari rumahnya.

Di rumahku, aku duduk di kursi sambil menyalakan rokok yg sebelumnya aku ambil dari dalam tas sekolah di dalam kamarku. Sambil menghisap rokok, aku heran dgn ucapanku yg tadi aku ucapkan ke Bu Mina. Dag dig dug jantungku membayangkan bagaimana kalau Bu Mina nanti datang lagi ke rumahku ingin melihat penisku?

Membayangkan hal tersebut malah membuat penisku menegang dan mengeras. Dgn refleks aku elus penisku dari luar handuk sambil membayangkan bersetubuh dgn tetanggaku, Bu Mina.

Sedang asik dgn kelaminku, tiba-tiba pintu rumahku dibuka oleh Bu Mina. Aku kaget, langsung tegak berdiri beranjak dari kursi karena takut perbuatanku itu diketahuinya.

Bu Mina pun menghampiriku. Dgn wajah so cuek dia menagih ucapanku yg hendak memperlihatkan burungku. Namun, aku diam saja sambil tetap berdiri dan berkata, “silakan ibu buka sendiri handukku! aku malu.” jawabku dgn jujur dan polos, maklum ketika itu usiaku masih 14 tahun.

Bu Mina mendekat ke hadapanku. Tanpa ragu dia angkat handukku dan nampaklah penisku yg berkulit bersih dan berwarna sawo matang yg masih tegang dan keras gara-gara birahi yg melanda.

Terlihat sungging senyum di wajahnya. Memperhatikan penisku yg berkedut-kedut karena birahiku yg semakin memuncak.

“Usiamu berapa, Dek Iwan?” tanyanya tiba-tiba.

“sudah 14 tahun, sebulan yg lalu, bu!” jawabku dgn suara agak bergetar.

“wah, 14 tahun tp burungnya sudah gede dan panjang.” dgn suara yg agak bergetar pula. Ketika itu aku tdk tahu kalau Bu Mina jg telah terbakar birahinya.

“eh kamu merokok, ya?” tanya Bu Mina, sambil matanya melihat rokok di jemari tangan kananku.

“iya, bu. Habisnya, aku kaget banget soalnya baru kali ini diginiin. Ibu jangan bilang-bilang sama mamah ya kalau aku ngerokok!” jawabku yg mulai takut jika diadukan oleh tetanggaku ini pada ibuku.

“iya, gak bakalan dibilangin kok!” jawabnya sambil beranjak hendak ke luar rumahku.

Dgn nafsu yg sudah cenat-cenut di ubun-ubun, aku tarik tangan kiri Bu Mina. Tampak kaget wajahnya memandang ke arah wajahku.

“Dek Iwan kenapa?”

“anu bu, usia ibu berapa?” aku balik bertanya padanya.

“sekitar 48 tahun, udah tua, ya?” jawabnya sambil cekikikan.

“susu ibu kecil, tp pantatnya montok, bu. Boleh gak, aku lihat meqi perempuan yg udah tua kaya ibu?” tanyaku dgn polos.

“haha… iyalah susunya kecil, udah kendor. kan ibu udah punya 5 anak dan sudah punya cucu jg. Jangan, kamu gak boleh liat kan nanti kalau kamu udah besar kamu jg pasti bisa liat meqi perempuan!” jawabnya sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.

“yah, ibu. Sekali aja bu. Bolehlah!” rengekku sambil menarik tangannya lagi.

Cukup lama jg ketika itu aku memelas supaya dapat ijin melihat meqi perempuan. Sampai akhirnya Bu Mina pun menyerah dan setuju utk memperlihatkan meqinya kepadaku. Sungguh, senang rasanya ketika rengekanku berbuah hasil.

Dag dig dug jantungku ketika Bu Mina melorotkan celana pendek berwarna biru tua sekaligus celana dalamnya yg berwarna coklat muda sampai setengah pahanya. Terlihat lebat dan hitamnya bulu-bulu meqinya.

“sudah ya!”

“tunggu bu, gak keliatan meqi itu seperti apa.” jawabku dgn suara bergetar.

“ya ini, meqi tu begini!” kata Bu Mina sambil menunjuk meqinya sendiri.

“aku liatnya cuma bulu aja, bu. Gak tau kalau di tengah-tengahnya gimana!” sanggahku berusaha melihat lubang meqi kayak di film bokef yg menampakkan itil dan lubang meqi dgn jelas.

Akhirnya Bu Mina beranjak menuju kursi. Kakinya di rentangkan sehingga begitu jelas lubangnya yg menganga bulat sebesar uang koin Rp.100 perak. Aku pun mendekat, sehingga wajahku berjarak mungkin sejengkal dari meqinya. Ketika itu, pertama kali aku dapat mencium bau meqi perempuan. Baunya begitu khas dan hampir mirip bau ikan asin walaupun tdk setajam bau ikan asin.

Tanpa komando, aku dekatkan mulutku pada meqinya seperti dalam adegan film bokef yg cukup sering aku tonton bersama kawan-kawan sekolahku. Tangan Bu Mina, menjambak rambutku dan berusaha menjauhkan mulut dan lidahku dari meqinya yg dagingnya berwarna hitam keriput. Tp, seperti seekor anjing, aku tetap bertahan dalam posisi berjongkok di depan meqinya dan terus melakukan jilatan-jilatan pada lubang meqi dan itilnya yg menyembul di balik daging-daging hitam yg keriput.

“sssshhh aaaah oooooohhhh hhmmmm. ssu sssudaaaaah aduuuuuhh hmmmm.” ceracau Bu Mina yg semakin membuatku bergairah menjilat dgn cepat meqinya.

Lidahku begitu lincah dan lentur menjilat lubang meqi dan itilnya. Perlakuanku yg demikian membuat Bu Mina semakin mendesah dgn diikuti gerakan pada pinggulnya, bergoyang, dgn pinggang yg melengkung-lengkung di atas kursi. Aku tetap dgn gairah menjilati dan berusaha meremas susunya yg masih dibalut kutang dan baju kaos berwarna ungu.

Hingga akhirnya, desahan hebat dan menjadi-jadi yg ke luar dari mulut Bu Mina menyadarkanku. Karena takut didengar tetangga, aku pun membimbing tubuh Bu Mina yg kurus dgn tinggi hampir sama dgnku menuju kamarku. Waktu itu tinggiku masih 158 cm. Tanpa penolakan seperti sebelumnya, Bu Mina merelakan dirinya dibimbing menuju kamarku. Aku pun mempersilakan Bu Mina utk rebahan di kasur milikku.

Segera aku buka handuk yg melilit pinggangku. Kemudiah aku beranjak mengarahkan penis yg menurut Bu Mina gede dan panjang ke arah mulutnya. Tp, Bu Mina hanya diam kaget dgn wajah melongo ketika aku dgn tiba-tiba menggesek-gesekan penisku ke bibirnya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tdk setuju dgn perbuatanku.

“ayo bu dihisap!” pintaku dgn suara bergetar dan sedikit terbata.

“iih ibu belum pernah begituan. Pengalaman ibu paling cuma netein suami dan langsung enjot aja meqi ibu.” jawabnya dgn suara bergetar pula sambil tangannya menahan perutku supaya penisku tak sampai pada bibirnya lagi.

Dgn perasaan kecewa, segera aku mengangkangkan kakinya lebar-lebar. Aku jilatin dgn liar meqinya. Terasa asam dan sedikit bau pesing meqinya di lidah dan hidungku. Aku kombinasikan antara jilatan, sedot perlahan dan sedotan kencang pada lubang meqi dan itilnya. Bu Mina tampak semakin bernafsu. Terlihat dari gerakannya memutar-mutar pinggulnya, menaik-turunkan pantatnya, dgn pinggang melengkung-lengkung di atas kasurku.

“oooouuuuhhhh ssssshhhh ennnaaaaakkk. Baaaarrrruuu peerrrrtaaaamaaa ibbuuu diigiinniiiiinnn emmmmhhh” desahnya.

Mendapat respon demikian, aku semakin bernafsu dan semakin menjadi-jadi memainkan lidah dan mulutku di meqinya.

“emmmmhhhh deeeekkk ayyoooo masssuuukkiiiinn ddddoooooongggg!” pintanya dgn mata merem melek.

Tanpa pikir panjang, aku pun beringsut ke atas tubuhnya yg sudah ia bugilin sendiri. Dgn posisi push up di atas tubuhnya, aku berusaha memasukan penisku ke dalam meqinya. Tp berkali-kali aku coba, berkali-kali jg penisku meleset kadang ke atas, kadang ke bawah duburnya.

Dgn bernafsu birahi tingkat dewa, Bu Mina menggenggam penisku dan mengarahkan pada liang meqinya yg basah penuh lendir meqinya. Dgn hentakan kuat, penisku masuk ke dalam liang meqinya.

“ooooouuuuuhhh ssssshhhh pelaaaan-peeeelllaaaaannn doooonggggg. aaaauuuuwwww saaaakiiittttt.” desahnya sambil meringis.

Karena hentakan yg tak sabar itu, aku pun merasakan pedih di kepala penisku. Maklum pengalaman pertama. Sambil merasakan pedih di penisku tiba-tiba Bu Mina mulai menggerakan pinggulnya memutar, naik-turun dgn berirama. Aku yg merasakan kenikmatan akibat gerakannya sacara natural merespon dgn memaju-mundurkan penisku dalam meqinya.

“emmmmhhh nikkkkmaaaattt yaaaa oouuuhhh emmmhhh ssssshhhh aaaahhh” desahnya yg membuatku semakin liar memompa penisku. sehingga semakin lama penisku semakin jauh terbenam dalam liang meqinya.

Terasa begitu nikmatnya, meqi perempuan yg sudah punya lima orang anak dan sudah punya cucu ini. Meqinya mengempot-empot, dinding meqinya seolah meremas-remas penisku. Jauh lebih nikmat jika dibandingkan dipompa dgn telapak tangan. Hangat dan agak lengket meqinya, membuatku seperti melayang-layang.

Keringat bercucuran di seluruh tubuhku. Pantatku pun terasa basah dan hangat oleh butir-butir keringat. Begitu jg Bu Mina, tubuhnya dibanjiri keringat. Wajahnya semakin cemerlang dgn peluh yg berbutir-butir mengaliri kening wajahnya.

Tercium aroma keringatnya begitu menggairahkan. Dgn tetap menggenjot meqinya, aku hisap, jilat, dan kenyot-kenyot payudara kecil, peot, dan kendor itu dgn rakus. Mungkin ukurannya hanya 32 b saja.

“eemmmmhhh aaaaahhh oooouuuuhhh emmmmmhhh aaaaahh.” erangannya.

Tak henti-hentinya ia mendesah, membuatku terus mengocok dan mengobok-obok meqinya dgn penisku. Walaupun pegal terasa pada kedua tangan karena harus menahan badanku dalam posisi push up, aku tetap bertahan merasakan sensasi nikmat pengalaman pertamaku ini.

“emmmmhhhh aaaaahhhh leeeebbiiihhh ceeeppaaattt deeeeeekkk akuuuu keeeelluuuuaaaarrrr ssssshhhhh!” desah pintanya dgn suara bergetar. Dgn pantatnya semakin liar bergerak, dan mata merem melek merasakan sensasi nikmat tak berkesudahan.

“aaaahhhhh iiiyyaaaaa buuu aaaakkkuuu jgaaa maaaauuuuu…” jawabku sambil mempercepat gerakanku.

Akibat gerakan Bu Mina yg menjadi-jadi, kepala penisku terasa begitu geli dan gatal dibuatnya. Membuat aku tak sangguh menahan nikmatnya gelombang syaraf yg mengalir sampai ubun-ubun.

“aaaaaahhhhh keeeluaaaarrrr buuuu” desahku.

“eeeeemmmm eeennnnaaakkkk, ibbbbuuuuu keeelluuuuaaaar bannnnyyyyaaaaakkkk aaaaaahhhh!” celotehnya sambil memeluk erat tubuhku merasakan orgasme dahsyatnya.

Terasa penisku seperti diremas, diperas habis spermanya oleh meqinya yg terus berkedut-kedut dan mengempot-empot.

Dalam pelukan Bu Mina, aku coba melihat jam dinding di kamarku. Jam sudah menunjukkan pukul 11.19 WIB. Artinya, lebih dari 1 setengah jam aku bergumul. Aku kaget sekali begitu lamanya melakukan persetubuhan ini. Padahal rasanya hanya sebentar. Maka aku segera melepaskan diri dari pelukan Bu Mina dan memakai handuk kembali menuju kamar mandi.

Sambil membenahi handuk, Bu Mina berkata padaku, bahwa aku anak hebat. Baru pertama bersetubuh tp kuat bertahan sangat lama. Dgn bangga aku berjalan ke luar kamar utk mandi.

Setelah selesai mandi, aku segera bergegas. Ketika masuk kamar, Bu Mina sudah tdk ada di kamarku. Aku pun langsung memakai seragam SMPku dan cepat-cepat biar tdk terlambat masuk sekolah.

Sambil lewat depan rumahnya, ku lihat Bu Mina sedang bersandar di kursi. Nampak wajahnya yg lelah dan bahagia ketika aku menyapanya. Sambil pamit berangkat sekolah dan menitipkan kunci rumah, aku bisikkan di telinganya, “nanti kita begituan lagi ya, bu!” pintaku sambil berlalu tanpa menunggu jawaban darinya.

Setelah mendapat pengalaman pertama, aku menjadi ketagihan melakukan hubungan layaknya suami istri lagi. Tak sia-sia rasanya keperjakaanku diberikan kepadanya. Sebab, Bu Mina tdk pernah menolak ketika aku ajak utk bersetubuh.

Bu Mina memiliki susu kecil ukuran 32 B, badan langsing dgn tinggi badan 158 cm, dan memiliki pantat bahenol. Kulitnya tdk seputih kulitku dan kulitnya pun tdk semulus dan sekencang kulit abg. Maklum sudah 48 tahun. Tp, darinya aku selalu memperoleh kenikmatan yg tiada tara.

Keluarga Bu Mina, setiap pagi selalu sepi sebab, kedua cucu yg tinggal bersamanya sekolah pagi dan biasa berangkat bareng suaminya yg hendak pergi bekerja. Di rumahnya hanya Bu Minalah perempuan satu-satunya. Sebab, kedua cucunya adalah laki-laki. Kedua cucunya itu dititipkan oleh anaknya dgn alasan kalau tinggal bersama mereka di kampung tdk ada yg mengurus anaknya. Suami istri itu keduanya bekerja pagi pulang sore.

Pagi itu, adikku yg masih berusia satu tahun menangis terus. Maka, walaupun belum jam 09.30 WIB (jam biasa aku mengantar adikku) aku antarkan saja adikku itu ke rumah nenekku. Ketika lewat rumah Bu Mina terlihat ia sedang menyapu halaman rumahnya. Dgn iseng sambil menggendong adikku, aku remas pantat bahenolnya. Bu Mina cemberut sambil menatapku yg berjalan sambil cengengesan.

Setelah menitipkan adikku dan memberikan uang utk jajan adikku pada nenekku. Aku segera bergegas kembali ke rumah. Aku lihat Bu Mina masih menyapu halaman rumahnya. Dgn sedikit berbisik, aku ajak Bu Mina ke rumah. Ketika Bu Mina sudah mengiyakan akan menyusul ke rumahku, aku pun segera ke rumah dgn perasaan senang dan deg degan menunggu apa yg akan terjadi sebagai pengalaman keduaku.

Seperti biasa, aku lucuti seluruh pakaianku sampai telanjang bulat. Kemudian aku lilitkan handuk utk menutup penisku yg sudah tegang dan keras membayangkan persetubuhan yg bakal terjadi antara aku dan Bu Mina.

Tak lama, pintu rumahku terbuka. Jantungku berdetak kencang sekali. Aku menjadi bingung mesti bagaimana dan mulai dari mana.

Antara aku dan Bu Mina hanya saling menatap. Ku lihat Bu Mina, sesekali memandang ke arah penisku yg sudah tegang dan mengeras di balik handuk. Tersungging senyum di wajahnya, membuat ketegangan yg aku alami berangsur-angsur menjadi lebih tenang.

“ayo, Dek Iwan ada perlu apa manggil ibu ke rumah?” tanya Bu Mina yg seolah senang mempermainkan perasaanku yg serba salah.

“eemm ini bu. Aku boleh ngulangin kayak kemarin?” pintaku penuh harap.

“idih, ibu kan sudah tua. Sudah loyo. Kalau setiap hari begituan mana sanggup!” jawabnya sambil tetap tersenyum menatapku.

“ah, ibu belum jg dicoba kok sudah bilang tdk sanggup!” sergahku.

“yaudah deh, tunggu sebentar ya. Ibu mau ke rumah dulu ngambil handuk biar nanti kalau udah begituan biar langsung mandi.” jawabnya dgn sedikit genit.

Aku menggangguk mengiyakan sambil terus menatap pantat bahenolnya ketika ia berjalan ke luar pintu rumahku. Bongkahan pantatnya itu membuatku berkali-kali menelan ludah. Betapa bahenolnya pantat Bu Mina sampai membuat hasrat birahiku naik sampai ke ubun-ubun.

Sambil bersantai di kursi menunggu Bu Mina, aku mencoba mengingat segala adegan film porno yg sering aku tonton. Namun, aku pun menjadi ragu apakah Bu Mina akan mau diajak bersetubuh dgn berbagai gaya.

Ketika aku mulai terlena dgn lamunanku, Bu Mina masuk rumah membawa handuk dan perlengkapan mandi. Baju warna hitam tanpa lengan dgn belahan dada rendah dan agak longgar menambah seksi penampilannya walaupun susunya ukuran kecil. Dari bawah makin membuat panas penampilannya sebab, legging cream yg dipakainya begitu mencetak setiap lekuk kaki, paha, dan pantatnya yg bahenol. Tak hanya itu, saking ketat legging yg dipakainya membuat garis meqinya tercetak dgn indah dan menggiurkan naluri kelelakianku.

Bu Mina pun menawarkan diri utk memulai persetubuhan di dalam kamarku. Tanpa banyak basa basi aku gandeng ia menuju kamarku.

Di dalam kamar, tanganku mulai bergerilia menjamah setiap lekuk tubuhnya, terutama susu kecil dan pantat bahenol yg lebih sering jadi sasaran kenakalan kedua telapak tanganku. Aku elus, aku remas, aku usap, dan remas lagi susu dan pantatnya dgn halus. Bu Mina menikmati dan membalas mengelus punggungku serta penis yg sedari tadi tegak mengacung di balik handukku.

aku jilat dan kenyot halus lehernya yg jenjang. Terasa gurih keringat lehernya dilidahku yg semakin bernafsu melakukan tugasnya. Hingga akhirnya, bibirku sudah mencaplok bibirnya. Kami berpagutan dgn liar. Tak lupa, lidah kami saling kenyot saling lilit dan saling memberi jilatan-jilatan penuh gairah. Entah berapa banyak liur kami yg tertukar dan tertelan habis. Sehingga nafsu kami semakin lama semakin menjadi-jadi. Erangan demi erangan, ke luar dari mulut Bu Mina. Matanya merem melek seiring erangan yg keluar dari mulutnya.

“emmmmhhhh ssshhhh deeeek Iwaaannnnn suuuussssuuuu ibbbbbuuuuu diiikenyyyyoooott yaaaa!” pintanya dgn suara bergetar sambil membuka baju dan kutang cream yg melekat di tubuhnya.

Tanpa banyak bicara, aku jilat melingkar bagian hitam susunya, aku kenyot-kenyot puting hitam yg sudah mengeras. Ukuran putingnya seukuran kelingking. Sungguh menggairahkan sekali. Kedua telapak tanganku bergantian menjamah susunya. Meremas lembut. Sampai akhirnya sebelah tanganku aku arahkan ke tengah selangkangannya. Aku gesek-gesekan jari tengahku diantara meqinya sambil lidahku terus menjilati susu dan mengeyot lembut puting susunya.

“eemmmm ddeeeeeeek maaaassssuuukkiiiiinnn uuuuddddaaaahhhh gaaakkk taaaahaaaann gggaaaatttteeelllll memmmmeeekkk ibbbuuuu!” pintanya sambil mengerang.

Sesuai pintanya aku mulai turunkan legging cream dan celana dalamnya langsung. Tampak bulu-bulut hitam meqinya. Aku bimbing ia utk berbaring di atas kasurku. Aku amati sebentar meqinya dan mulai mengarahkan wajahku pada meqinya. Aku jilat liang meqinya, aku kenyot-kenyot itilnya. Ia semakin menggelinjang merespon kelincahan lidah dan mulutku.

Tangan Bu Mina menjambak rambutku. Ditekan-tekannya kepalaku pada meqinya sampai akhirnya kepalaku ditekannya kuat-kuat terbenam di meqinya. Terasa cairan hangat mengalir dari liang meqinya.

“ssssshhhh aaaaaaaaahhhhhh keeellluaaaaarrrrr deeeeekkkk!” erangannya sambil tetap menekan kepalaku dalam-dalam pada meqinya.

Dgn perlahan ia menaik turunkan pantatnya pada wajahku yg ia tekan diantara meqinya. Tampak mulai kendur cengkramannya pada kepalaku. Sehingga aku mulai menegakan badanku. Terlihat senyum Bu Mina penuh kepuasan. Aku pun tersenyum sambil mengarahkan telapak tanganku utk meremas susunya. Aku jilat dan kenyot susunya. Bu Mina membalas mengusap-usap kepalaku dgn lembut sehingga aku merasa begitu disayanginya.

Tangan Bu Mina kini menggapai penisku dikocoknya perlahan dan mulai mengarahkannya pada lubang meqinya. Dgn perlahan tak seperti pengalaman pertamaku dgn Bu Mina, aku dorong perlahan-lahan penisku. Terasa nikmat dan hangat lubang meqinya. Penisku terasa dipijit di dalam meqinya.

Bu Mina mulai menggoyangkan pinggulnya memutar. Penisku terasa diempot-empot. Nikmat sekali. Aku mulai semakin membenamkan penisku lebih dalam dgn memaju mundurkan dgn perlahan.

“ssssshhh deeeekkkk leeebbbiiihhh cccceeeeeepppaaaattt eeemmmhhhh eeennnaaaakkk.” pintanya sambil terus mendesah.

Aku mulai menambah kecepatan gerakan penisku. Sehingga bunyi “plok plok plok” semakin keras terdengar.

Kedua tangan Bu Mina mulai meraba, meremas lembut dadaku. Aku semakin bergairah. Mempercepat kocokanku. Sampai akhrinya, terasa meqinya berkedut-kedut.

“aaaaaaaahhhhhh aaaaaahhhhh ssssshhhhhhhh!” erangannya menikmati orgasme kedua sambil tangannya menahan tubuhku supaya menghentikan gerakan dalam meqinya.

Peluh membanjiri tubuh kami. Ku lihat wajahnya tersenyum puas. Aku cabut penisku dalam meqinya. Sambil berbisik ku minta ia menungging agak tinggi dgn di topang lututnya dan badan atas telungkup di kasur. Tanpa ada penolakan ia menuruti permintaanku.

Dgn posisi nungging, pantat bahenolnya terlihat bulat. Aku amati liang meqinya yg semakin merekah. Dan aku mulai maju mengarahkan penisku ke lubang meqinya. Bles penisku terbenam di dalamnya. Dgn penis yg sudah terbenam dalam, aku mulai atur gerakan cepat dan perlahan memaju mundurkan penisku.

Tiba-tiba muncul pikiran lain dalam otakku ketika melihat lubang duburnya. Aku jiati jari tengah tangan kiriku dgn ludah. Aku arahkan jari tersebut mengusap-usap lubang duburnya. Bu Mina semakin liar melenguh, mendesah, dan mengerang. Aku semakin liar mengocok meqinya dgn penisku yg lincah di dalamnya. Aku coba menusuk duburnya dgn jari tengahku yg basah. Ia pun makin melenguh.

“aaaaaahhhhh ssssssshhhhh ssssshhhhh.” lenguhnya sambil memutar-mutar pantatnya.

Tak terasa jari tengahku sudah masuk setengahnya. Suara Bu Mina mendesah dan meringis karena perih nikmat pada duburnya. Aku semakin cepat mengocok penisku. sedangkan jari tengah di duburnya aku biarkan karena peret dan tercengkram kuat otot duburnya.

Tubuh kami semakin banyak dibanjiri peluh. Bu Mina semakin cepat memutar dan menekan-nekan pantatnya. Penisku terempot-empot di dalam meqinya sehingga aku merasakan kepala penisku mulai gatal dan geli. Hingga akhirnya Bu Mina mendahului orgasme akibat kocokan penisku yg brutal pada meqinya.

“ssssssshh aaaaaaaaahhhh keeeellluaaaar laaaagggiiii!” lenguhannya begitu enak terdengar.

Meqinya berkedut-kedut sehingga penisku yg sudah gatal dan geli memuntahkan banyak sperma di dalam liang meqinya. Aku biarkan sperma tumpah dan terkuras habis di dalam meqinya. Sampai akhirnya badanku ambruk menindih tubuhnya dgn penis yg masih terbenam di meqinya.

Ketika sudah surut gelora yg membakar hasrat birahi. Aku cabut penisku dari dalam meqi Bu Mina. Aku rebahkan tubuhku di sampingnya. Bu Mina membalikan badannya mengarah padaku. Wajahku ia cium-cium dgn lembut. Sedangkan aku diam saja sambil terus ngos-ngosan. Tangan Bu Mina dgn lembut mengusap dadaku.

Mungkin sudah 10 menit kita berbaring bersama di atas kasur. Akhirnya Bu Mina bangkit dan melilitkan handuk pada tubuhnya utk pergi mandi.

Sungguh penampilan Bu Mina walau sudah tua tp membuatku begitu nyaman berada di sampingnya. Dgn berbekal handuk aku pun mengikuti Bu Mina ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi kita pipis bareng sambil tanganku iseng meremas-remas susu kecil dan kendor milik Bu Mina. Bu Mina geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat ulahku.

“udah ah, ibu capek. Nanti kamu mau lagi.” katanya tanpa menghindarkan tanganku pada susunya.

“iya bu, aku masih mau! soalnya aku pengen nyobain begituan di kamar mandi.” jawabku sambil memperlihatkan penisku yg sudah tegak berdiri.

“tp ibu sudah gak kuat. Kalau ibu begituan lagi ibu bisa kelelahan dan ketiduran. Mana pekerjaan ibu masih banyak di rumah.” bantahnya mencoba menenangkan hasratku.

“ya udah deh bu. bagaimana kalau ini ibu hisap atau dijilatin aja?” pintaku sambil mengarahkan penisku ke arahnya.

“iya deh ibu coba, tp cuci dulu burungnya!” jawab Bu Mina.

Sungguh senang sekali Bu Mina mau melakukannya. Tdk seperti kemarin ia menolak utk menghisap penisku. Dgn semangat aku cuci penisku dari sisa-sisa lendir yg lengket.

Setelah melap penisku dgn handuk, aku arahkan penisku pada mulut Bu Mina yg setia berjongkok dihadapanku. Dgn ragu-ragu ia membuka mulutnya dan mendorong kepalanya perlahan. Akhirnya, dgn perlahan penisku masuk ke dalam mulutnya. Terasa nikmat, geli, dan hangat.

Secara natural, Bu Mina mulai memaju mundurkan mulutnya. Agak ngilu ketika kepala penisku berkali-kali mengenai giginya.

“emmmhhh enaaakk bu. Tolong sambil kepala burungku dikenyot pelan-pelan bu.” pintaku sambil merasakan sensasi yg baru aku alami dioral perempuan.

Penisku merasakan sensasi luar biasa. Hangat, geli, dan basah ketika berkali-kali ke luar masuk mulutnya. Apalagi Bu Mina mulai memainkan lidahnya yg terasa dingin di kulit penisku. “emmmmhhh” rasanya seperti melayang di awang-awang. Sesekali kepala penisku dikenyotnya pelan-pelan dan menggemaskan. uh rasanya, menenangkan jiwa.

“haduh dek, leher ibu pegel. Kamu lama banget ke luarnya.” keluhnya sambil tangannya mengocok-ngocok penisku.

“iya nih bu. Nikmat sih tp kayanya aku gak akan ke luar kalau sama mulut ibu.” jawabku.

“aduh, terus gimana biar kamu cepet ke luar?” tanyanya dgn gemas sambil tdk berhenti mengocok penisku.

“ya, burung aku masukin ke meqi ibu aja biar cepet ke luar.” jawabku.

“yaudah deh ayo. padahal ibu udah cape ini lutut udah gemeter kayak mau copot.” ujar Bu Mina sambil nyengir.

Perlahan aku duduk di lantai kamar mandi sambil bersandar pada dinding. Aku minta Bu Mina utk naik di atas pangkuanku. Awalnya ia terlihat bingung tp dgn sabar aku arahkan badannya supaya dia leluasa memasukan penisku ke dalam meqinya. Sampai akhirnya ia paham dan mulai menggoyang pantatnya memutar. Terasa, cairan hangatnya mulai membasahi meqinya sehingga terasa licin dan membuat penisku leluasa.

Aku minta Bu Mina utk mengkolaborasikan gerakan memutar, maju mundur, dan turun naik. Hasilnya, penisku merasakan kenikmatan yg tiada duanya. Dinding meqinya terasa mencengkram dan meremas-remas penisku. Sungguh enak sekali meqi wanita tua ini. Tanganku yg sedari tadi berada di pinggangnya mulai aku naikan utk meremas-remas susu dan memilin-milin putingnya sehingga Bu Mina mulai merem melek dan mendesah dgn penuh kenikmatan.

“ehhhhmmmmm aaaaaaahhhhh aaaaaaahhh ssshhhhhhhhh.” desahnya merasakan sensasi penis dan kenakalan kedua tanganku.

Aku dekatkan lidahku menjilati lehernya yg sudah basah oleh keringat. Terasa bau persenggamaan tercium hidungku membuatku semakin bergairah oleh sensasi tersebut. Emm nikmatnya.

“deeeekkkk aaaahhhhhh sssshhhhh ibuuuu caaapppeeeeekk eeemmmmmhhh peeeggggeeeelll ouuuuuhhhhh.” ujarnya sambil mendesah menikmati.

“gantian aja bu, aku di atas. Ibu rebahan aja di lantai.” jawabku.

Bu Mina mulai mencabut penisku dan merebahkan badannya di lantai sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar. Aku mulai menghujamkan penisku. Dgn gerakan cepat aku kocokan penisku keluar masuk meqinya. Bu Mina mendesah dan mengerang hebat akibat gerakan maju mundur secara cepat yg aku lakukan.

Penisku merasakan geli dan gatal. Tdk akan lama lagi aku akan mencapai orgasme, Aku semakin buas menambah kecepatan maju mundur. Sampai akhirnya, kedua telapak tangan Bu Mina mencengkram kuat punggungku. Desahannya semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya kita sama-sama orgasme.

Nafasku ngos-ngosan. Cape tp nikmat sekali. Aku cabut penisku yg sudah dibalut lendir dari meqinya lalu duduk bersandar pada dinding kamar mandi. Bu Mina dgn perlahan bangkit dan menggapai gayung utk membersihkan meqinya.

Pengalaman kedua bersama Bu Mina diakhiri dgn acara mandi bareng. Usai kita mandi, aku lihat jam dinding menunjukan pukul 11.38 WIB. Aku pasti kesiangan tiba di sekolah. Tak terasa sungguh, ternyata lebih dari 3 jam setengah kita habiskan utk bersenggama memburu kenikmatan. Namun, walaupun demikian aku tak menyesal karena Bu Mina selalu memberikan kepuasan padaku dan selalu bersedia jika aku ajak ia ngentot.

Advertisements

Cerita Sex – Obsesi Ngentot Gadis Cantik Seksi..

Awalnya sih aku cuma iseng-iseng saja, melihat iklan-iklan paranormal yg banyak bertebaran di tabloid-tabloid misteri. Tetapi ada satu yg membuatku menarik, yaitu tentang ilmu pelet memikat hati wanita hingga mau mengikuti segala keinginan si pemelet. Kebetulan aku memang mempunyai obsesi untuk menikmati lekuk tubu Asty, seorang wanita yg menurutku sangat cantik dan sexy.

Dia pemilik cucian mobil di daerah Cijantung, Jakarta timur. Orangnya tinggi, mungkin sekitar 170 cm, badannya langsing, padat berisi, dgn lekukan pinggang yg dalam, kontras dgn pinggul dan pantatnya yg sensual, gundukan di dadanya yg mencuat ke depan, seakan menantang gairah setiap lelaki, apalagi ditunjang dgn kulitnya yg putih mulus dan kelihatannya sangat lembut dgn bulu-bulu halus menghiasi seluruh permukaan kulitnya. Sungguh wanita sempurna yg pernah kutemui.

Sayang setiap kali aku mencuci steam mobilku dan menggodanya sopan, sepertinya dia acuh tak acuh saja. Memang sih aku jg sadar, dari sekian puluh mobil yg antri dicuci, mungkin mobilKatanaku yg levelnya paling terbawah. Yg nyuci disana rata-rata mobil-mobil keluaran terbaru, dgn pemiliknya yg rata-rata berdasi. Aku yakin mereka pasti berlomba mendapatkan kehangatan dari Asty, karena aku sering dengar bahwa Asty memang bisa “diajak”, asalkan kita banyak duit.

Berpikir seperti itu, aku langsung menghubungi melalui telepon paranormal itu. Setelah berbicara panjang lebar mengenai segala sesuatunya, aku tertarik jg, karena jika tdk berhasil dia tdk akan menerima mahar. Jadi berhasil dulu baru kubayar.

Sore itu, sepulang kerja aku mampir ke tempat prakteknya di daerah Lubang buaya, Jakarta timur. Setelah menjalani segala macam ritual, termasuk mandi kembang dan lain-lain, aku diberikan bekal sebuah cincin yg katanya sdh diisi. Dan sesuai perjanjian, mahar sejumlah Rp 500.000,- akan kuberikan setelah berhasil. Dia hanya memberikan nomer rekeningnya di sebuah bank swasta terkemuka, tp itu pun dgn sebuah peringatan, jika berhasil tp aku tdk membayar maharnya, maka taruhannya adalah nyawaku. Karena aku memang tdk ada niat jelek, aku ambil cincin itu dan aku kenakan di jari manisku.

Sesampai di rumah, ketika menjelang tidur, kubaca mantra yg diberikan sang dukun sambil membayangkan wajahnya yg cantik dan tubuhnya yg menggiurkan. Perlahan peniskuku bangkit dan mengeras, “Berhasil..!” batinku bersorak kegirangan.

Memang salah satu syaratnya adalah harus ereksi. Akhirnya aku tertidur dgn sejuta angan-angan indah memenuhi mimpiku.

Besoknya, pulang kerja aku langsung menuju cucian mobil. Di depanku sdh ada 4 mobil antri untuk dicuci. Aku segera ke ruang tunggu, bergabung dgn pemilik mobil yg lain, tp aku tdk melihat Asty di sana. Aku sedikit kecewa. Sedang asyik-asyiknya kami mengobrol, munculah orang yg aku tunggu-tunggu.

“Hai, semua..” sapanya manis.

“Hai, jg..” hampir serempak kami membalas salam Asty.

Pandangan mataku bertemu dgn Asty, dia tersenyum manis sekali. Cepat-cepat kubacakan mantra yg sdh kuhafal 3 kali.

Kini tinggal satu langkah lagi yg harus kulakukan, yaitu menyentuh salah satu anggota tubuhnya. Dalam suasana yg ramai begitu memang sulit sekali mendapatkan kesempatan bicara denganya, apalagi memegang salah satu anggota tubuhnya. Namun rupanya peletku sdh mulai bekerja, saat kendaraanku selesai dicuci, otomatis aku harus menyelesaikan pembayarannya dgn Asty. Saat dia menulis nota, kuberanikan diri memegang punggung tangannya.

“Asty, kulit kamu halus sekali, pakai lotion apa sih..?”

Matanya yg indah langsung menatapku begitu tangannya kusentuh. Jantungku deg-degan menunggu reaksinya.

“Pakai lotion biasa, memangnya kenapa..?”

Tdk ada nada marah dalam ucapannya.

Aku bersorak kegirangan dalam hati, “Ehh, nggak apa..” aku jadi kebingungan sendiri.

“Nih, kalau kamu ada perlu pribadi dgnku.”

Dia menyerahkan sebuah kartu nama pribadinya di selipan nota yg kuterima. Tambah kaget saja aku, Asty yg biasanya agak ketus, sekarang malah mengundangku.

Aku mencoba menenangkan perasaanku,

“Eh, iya, terima kasih..”

Aku bergegas meninggalkan tempatnya dgn hati berbunga-bunga, kubaca kartu nama pribadinya, lengkap dgn nomor ponselnya.

Malam harinya, dgn tdk sabar aku mencoba menghubunginya. Tp aku masih ragu, untung aku ingat fasilitas lintas operator yg baru-baru ini diluncurkan. Kukirim SMS ke ponselnya, meskipun dia TELKOMSEL dan punyaku SATELINDO, tp SMS-ku langsung masuk, buktinya dia langsung mereply tdk lebih dari 5 menit.

“Boleh, aku call kamu ke rumah, sekarang..?” begitu bunyi SMS-ku.

Sekian menit ponselku berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Kubuka, dan ternyata pesan dari Asty.

“Dgn senang hati..” begitu bunyi reply-nya.

Aku segera menghubunginya, mula-mulanya pembicaraan kami terasa kaku, tp lama-kelamaan akhirnya pembicaraan kami menjadi lancar, bahkan sdh mengarah ke seks. Ternyata semalam dia bermimpi main dgnku sampai orgasme, sehingga dia jadi terbayang dan ingin sekali mencoba kebenarannya. Pucuk di cinta ulam pun tiba, satu jam lebih kami ngobrol lewat telepon. Saat obrolan kian panas, aku pun mengajaknya untuk bertemu. Asty langsung menyggupi.

“Ini pasti pengaruh pelet itu..” batinku.

Aku langsung memacu Katana-ku, menjemputnya. Dan karena sdh akrab, aku langsung mengajaknya check-in sesuai kesepakatan. Dan begitu aku mengunci pintu kamar hotel, dgn ganasnya Asty langsung menyerangku habis-habisan. Seluruh tubuhku diciuminya. Baju dan celanaku langsung beterbangan dan mendarat dgn sukses di lantai hotel yg berkeramik ungu. Aku pun tdk mau kalah, kubuka baju dan celananya dan kulempar jg ke lantai. Sambil berciuman, tangan kamisalaing mengelus dan mencari titik rangsangan. Kedua tubuh kami yg sdh bugil mempermudah Asty menemukan peniskuku.

“Wah.., gede sekali, persis dalam mimpiku..” katanya.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, tp senyumku langsung berubah seketika ketika Asty berjongkok dan menjilati peniskuku sampai ke bijinya, apalagi saat mulutnya melahap dgn rakus peniskuku yg sdh menegang.

Aku merintih keenakan. Aku hanya bisa menunggu saat yg tepat untuk membalas perlakuannya, tp ternyata memang peletku luar biasa, aku tdk diberikan kesempatan menikmati tubuhnya, karena Asty langsung menungging di hadapanku dan menarik peniskuku ke celah lembabnya.

“Nanti sayang, aku belum puas..!”

Aku mencoba menahan langkahnya, tp Asty seperti orang kesurupan, dia tdk peduli dgn ucapanku. Dia langsung memundurkan pantatnya, hingga peniskuku terbenam ke dalam kemaluannya. Hangat dan nikmat mengalir dari peniskuku ke seluruh tubuhku, sementara Asty semakin histeris.

“Ohh.., enakk sayang.., tusuk yg dalam sayang..!” desahnya.

Aku bertumpu pada pinggulnya yg montok, dan aku mulai memaju-mundurkan pantatku. Pantat Asty yg bulat kuremas-remas, kadang aku menyambar toketnya yg bergantungan merangsang itu. Sambil terus mempercepat gerakanku, kupilin kedua puting toketnya, dan hasilnya,

“Achh..” seluruh tubuh Asty mengejang dan bergetar.

Bersamaan dgn terbenamnya seluruh peniskuku ke dalam liang memeknya, Asty terdiam sejenak, mungkin masih menikmati sisa orgasmenya. Tdk lama pantatnya ditarik maju, sehingga peniskuku lepas dari liang kemaluannya, dan menimbulkan bunyi “Plop..”, karena masih kencangnya jepitan kemaluan Asty di peniskuku yg masih kaku.

Asty telentang di kasur, matanya terpejam, aliran nafasnya yg belum normal membuat gundukan dadanya naik turun. Aku hanya bisa memandangi kesempurnaan tubuhnya. Kulitnya putih bak pualam tanpa cacat sedikit pun, sangat kontras dgn bulu-bulu hitam yg tumbuh. Apalagi gundukan kemaluannya sangat indah dgn hutannya yg hitam lebat. Toketnya yg tdk terlalu besar dihiasi dgn puting yg masih memerah. Lekuk pinggangnya bak gitar spanyol, perutnyarata tanpa kerutan sedikit pun. Aku yg lagi tanggung, tanpa buang waktu lagi langsung mencumbunya. Seluruh tubuhnya kuhujani dgn ciuman-ciuman lembut dan jilatan lidahku yg hangat. Aku bagai seekor kucing memandikan anaknya, tdk sejengkal pun dari tubuhnya yg luput dari jilatan dan elusanku.

Saat lidahku sampai pada toketnya, Asty kembali bangkit nafsunya. Dia balas memainkan dadaku dan menjetik puting dadaku dgn jarinya. Aku bagai dialiri setrum tinggi. Kubalas dgn memasukkan jariku ke dalam kemaluannya. Pada posisi mengorek, kutemukan ruas-ruas halus bergerigi, kusentuh dgn lembut.

Asty menjerit lirih, “Ahh, jangan, aku jadi mau kencing..!”

“Tenang sayang, sebentar lagi kamu rasakan lain dari yg lain..” kataku menenangkannya.

Dan tdk lama aku berbicara, Asty sdh memperlihatkan rasa nikmat yg diterimanya akibat sentuhanku pada g-spotnya.

Seluruh tubuhnya meliuk-liuk menahan seranganku. Apalagi dgn tanpa melepaskan jariku, kuarahkan mulutku ke klitorisnya, Asty semakin meracau tdk menentu.

Kujilati klitorisnya yg membengkak, sementara satu tanganku masih asyik memilin puting toketnya.

“Masukin sayang.., aku sdh nggak tahan..!”

Tanpa dikomando kedua kalinya, kuangkat kedua kaki Asty ke pundakku. Dalam posisi begini, aku bisa melakukan penetrasi lebih dalam.

Kumasukkan peniskuku ke liang memeknya,

“Sleppsh..!”

Aku kembali merasakan pijatan halus di seluruh penisku. Kutekan pantatku lebih dalam dan Asty menjerit keras. Mungkin akibat dari penetrasi peniskuku yg terlalu dalam. Tetapi hanya sebentar saja, Asty sdh menggerakkan pinggulnya yg sensual, mengimbangi tusukanku yg semakin dalam.

Peluh sdh bercucuran di seluruh tubuh kami. Berbagai posisi sdh kupraktekkan. Aku berusaha menahan ejakulasiku sekuat mungkin, tp sampai saat ini Asty belum ada tanda-tanda orgasme.Aku sdh mulai lelah, kini Asty gantian berada di atas tubuhku dan menduduki peniskuku yg masih mencuat dgn keregangan masksimal. Ternyata dgn posisi begini, Asty lebih mudah mencapai orgasmenya, mungkin dia bisa mengatur sentuhan ke klitoris atau ke liang memeknya. Gerakan pinggulnya yg gemulai serasa mengurut penisku. Tdk lama kemudian, kulihat Asty mulai mempercepat gerakannya, kian lama kian cepat dan sdh tdk beraturan lagi. Aku berkonsentrasi penuh untuk mencapai kenikmatan bersama. Spermaku terasa sdh mengumpul di ujung peniskuku.

“Ohh.. Aku mau keluar sayang, tahan yah..!”

“Jangan keluarin di dalam, sayang..”

Aku agak kaget, cepat-cepat kupecah konsentrasiku untuk menahan ejakulasiku. Dgn setengah berdiri aku mencoba membantu mempercepat orgasme Asty dgn menghisap puting toketnya. Dan ternyata berhasil, tubuh Asty mengejang kaku. Kedua kakinya menjepit kuat pinggangku.

“Achh.. sstt..!” kedua jari Asty menancap di dadaku, menahan gelombang orgasmenya yg kedua.

Aku yg sdh lama menahan ejakulasiku, segera mendorong tubuhnya yg lemas di atas tubuhku.

“Asty.., aku dikit lagi sayang, cepat..!”

Asty langsung bangkit dan mengocok peniskuku dgn cepat. Aku sdh tdk tahan lagi, apalagi sambil terus mengocok, mulut Asty memainkan puting dadaku. Jebollah pertahananku.

“Achh..!” kuremas kuat rambut Asty sambil melepas kenikmatan yg kurasakan.

Semprotan spermaku cukup jauh, hingga mengenai wajah Asty yg masih terus menjilati dadaku. Seluruh persendianku terasa lemas bagai tak bertulang. Kami istirahat berpelukan sampai tertidur.

Nah itulah indahnya bercinta jika dgn orang yg kita kagumi, apalagi dgn orang yg kita cintai.

Cerita Sex – Senjata Tumpul Memainkan Memekku..

Panggil saja namaku wati banyak orang yang memanggilku cantik, memang banyak orang yang mengakui hal tersebut selain itu aku juga mempunyai material yang banyak, tapi aku sudah menikah setahun yang lalu waktu aku berumur 27 tahun dengan tinggi 168 berat bandan 54 kg, berambut panjang hitam wajah pipih serta mata sipit banyak yang naksir denganku.

Latar belakang keluargaku yakni dari keluarga Minang yang terpandang. Padahal suamiku, sebut saja Sapak yakni seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang.

Sesudah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri, saya mengusulkan untuk mengajukan pindah ke kota Padang supaya dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Sesudah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah sogok sana sogok sini alhasil saya dapat pindah di kantor pusat di Kota Padang.

Pembaca tentu maklum bahwa pada jaman sekarang segala sesuatu harus pakai uang. Bahkan kata orang Jakarta segala sesuatu harus bayar, dari makan hingga buang kotoran. Mungkin cuma kentut saja yang belum perlu pakai uang. (Mungkin jika telah ada Undang Undang Lingkungan, kentut pun musti bayar sebab mencemari udara.. Ya nggakk??)

Sebagai orang baru, aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan kemampuanku. Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini yakni sebagai kepala bagian. Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku memang layak menempati posisi ini.

Sebagai konsekwensinya saya harus rela bekerja hingga larut malam menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berbeda ketika aku bertugas di kepulauan dahulu. Hal ini membuatku harus senantiasa pulang larut malam sebab jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh yang harus kutempuh selama kurang lebih 30 menit dengan mobilku.

Sehingga aku jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang juga mulai semakin sibuk sejak karirnya meningkat. Praktis kami cuma berjumpa ketika menjelang tidur dan ketika sarapan pagi.

Atas kebijakan pimpinan, saya senantiasa dikawal satpam jika hendak pulang. Sebut saja namanya Pak Hary , satpam yang kerap mengawalku dengan sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman hingga ke rumah. Dengan demikian saya senantiasa merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun sebab pulangnya senantiasa diantar.

Takjarang saya memintanya mampir untuk sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan baik. Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok Gudang Garam kesukaannya.

Pak Hary yakni lelaki berumur 35 tahunan. Tubuhnya cukup kekar dengan kulit kehitaman khas orang Jawa. Dia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Senen Jakarta. Dia telah menjadi satpam di bank tempat aku bekerja selama 8 tahun. Dia telah beristri yang sama-sama berasal dari Jawa. Akupun telah kenal dengan istrinya, Yu Dar.

Suatu hari, ketika aku selesai lembur. Aku kaget ketika yang mengantarku bukan Pak Hary , tetapi orang lain yang belum cukup kukenal.

“Lho Pak Hary di mana Bang?” tanyaku pada satpam yang mengantarku.

“Anu Bu, Pak Hary hari ini minta ijin takmasuk katanya istrinya melahirkan” katanya dengan sopan.

cerita mesum terbaru terlengkap, cerita sex nyata pembaca, cerita ngentot memek hot, cerita kentu vagina, cerita mesum bersenggama, cerita panas terhot, cerita ML pasangan sange

Alhasil saya tahu jika yang mengantarku yakni Pak Warso, satpam yang biasanya masuk pagi.

“Kapan istrinya melahirkan?” tanyaku lagi.

“Katanya sih hari ini atau mungkin besok Bu” jawabnya.

Alhasil hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Warso.

Awal Perselingkuhan

Telah dua hari aku senantiasa dikawal Pak Warso sebab Pak Hary takmasuk kerja. Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk istri Pak Hary di Rumah Sakit Umum. Alhasil saya mengetahui jika Yu Dar mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding.

Dengan kondisinya itu dia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak lumayan sesudah post partum. Atas saran suamiku aku turut membantu biaya perawatan istri Pak Hary , dengan pertimbangan selama ini Pak Hary telah setdia mengawalku tiap pulang kerja.

Sejak ketika itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Hary seperti layaknya saudara saja. Kadangkala Yu Dar mengirimkan pisang hasil panen di kebunnya ke rumahku. Walaupun harganya takseberapa, tetapi aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu.

Ya, rasa persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak apapun. Sering pula aku mengirimi biscuit dan syrop ke rumahnya yang sangat sederhana dan terpencil sebab memang rumahnya di tengah kebun yang penuh ditanami pisang dan kelapa. Sebab seringnya aku berkunjung ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan telah menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Hary .

Suatu hari, ketika saya pulang lembur, seperti biasa saya diantar Pak Hary . Begitu hingga ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya hingga kusuruh Pak Hary untuk menunggu hujan reda. Aku suruh pembantuku, Mbok Tarmi yang telah tua untuk membuatkan kopi baginya. Sementara Pak Hary menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ini memang merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur.

Hujan takkunjung reda hingga aku selesai mandi, kulihat Pak Hary masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil menerawang memandangi hujan.

Cuma dengan mengenakan baju tidur saya turut duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol. Kebetulan lampu terasku memang lampunya agak remang-remang yang sengaja kuatur demikian dengan suamiku supaya enak menikmati suasana.

“Gimana sekarang punya anak Pak? Bahag dia kan?” tanyaku membuka percakapan.

“Yach.. Bahagdia sekali Bu..! Habis dulu istri aku pernah keguguran ketika kehamilan pertama, jadi ini benar-benar anugrah yang takterhingga buat aku Bu..”

“Memang Pak.. Aku sendiri sebenarnya telah ingin punya anak, tetapi..”

Aku takdapat meneruskan kata-kataku sebab jengah juga membicarakan kehidupan seksualku di depan orang lain.

“Tetapi kenapa Bu.. Ibu kan telah punya segalanya.. Mobil ada.. Rumah juga telah ada.. Apa lagi” Timpalnya seolah-olah turut prihatin.

“Yach.. Itu lah Pak.. Dari materi memang kami takkekurangan, tetapi dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Dar lebih bahagia”

“Mm maksud ibu..” tanyanya terheran-heran.

“Itu lho Pak.. Pak Hary kan tahu jika aku senantiasa kerja hingga malam padahal Bang Sapak juga sering tugas ke luar kota jadi kami jarang dapat berkumpul tiap hari. Sekarang aja Bang Sapak sedang tugas ke Jakarta telah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali ke Padang”

“Yachh.. Memang itulah rahasdia kehidupan Bu.. Kami yang orang kecil seperti ini senantiasa kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi.. Padahal keluarga ibu yang takkekurangan materi malah bingung takdapat kumpul”

Matanya sempat melirikku yang ketika itu mengenakan pakaian baby doll. Kulihat jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuhku. Mungkin sebab hujan yang semakin deras dan aku yang jarang dijamah suamiku membuat gairah nakalku bangkit.

Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pahaku yang mulus sedikit kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah, matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku yang memang sengaja kubuka sedikit.

“Sebentar Pak aku ambil minuman dulu” kataku sambil bangkit dan berjalan masuk.

Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan ketika itu agak tipis sehingga bila aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun tipisku.

“Oh ya Pak Hary masuk saja ke dalam soalnya hujan kan di luar dingin..”

“I.. Iya Bu..” jawab Pak Hary agak tergagap sebab lamunannya terputus oleh undanganku tadi. Jakunnya semakin naik turun dengan cepat. Aku tahu dia tentu telah lama takmenyentuh istrinya sejak melahirkan bulan kemarin, sebab umur kelahiran bayinya belum genap 40 hari.

Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan. Apa boleh buat aku harus mampu menundukannya. Pak Hary sangat terangsang melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi. Alhasil mungkin sebab taktahan atau sebab udara dingin dia minta ijin untuk ke kamar kecil.

“Eh.. Anu Bu.. Boleh minta ijin ke kamar kecil Bu”

“Silahkan Pak.. Pakai yang di dalam saja”

“Ah.. Enggak Bu aku enggak berani”

“Enggak apa-apa.. Itu Pak Hary masuk aja nanti dekat ruang tengah itu”

“Baik Bu..”

Sambil berdiri dia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya. Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang senantiasa dibawa-bawanya ketika berjaga.. Atau bahkan mungkin lebih besar lagi.

Agak ragu-ragu dia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan. Alhasil kutunjukkan kamar kecil yang dapat dipakainya. Begitu dia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil, sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang menyambar-nyambar.

Aku terkejut ketika aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang. Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku sebab kaget. Rupanya aku salah menduga. Pak Hary yang kukira takmempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai telah mendahului dengan cara mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding.

“Ma.. Maaf Bu, sa.. aku telah taktahan..” desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.

Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap kedua dadaku. Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.

“Pak Hary .. Apa-apaan ini..” suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Hary yang semakin liar meremas payudaraku dari luar gaunku.

“Ma.. Af Bu sa.. saya.. Telah taktahan lagi..” diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung ibu jarinya memutar-mutar kedua puting payudaraku dari luar gaun tipisku.

Perlawananku semakin melemah sebab terkalahkan oleh desakan nafsuku yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Pak Hary yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.

Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romsaya berdiri saat jilatan lidah Pak Hary yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku didorong Pak Hary hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah tiba-tiba salah satu tangan Pak Hary beralih menyingkap gaunku dan meremas kedua buah pantatku.

Saya semakin terangsang hebat saat tangan Pak Hary yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku dengan gemas. Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku.

Gila..!! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi saya senang karena suamiku biasanya memperlakukanku bak putri saat bercinta denganku. Ia selalu mencumbuku dengan lembut. Ini sensasi lain..!! Kasar dan liar…apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Hary yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum…gila saya jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini. Hal ini mengingatkanku pada saat saya bermain gila dengan Pak Sitor di kepulauan dahulu.

“Akhh..pakk..Hary nhh jangg…anhhhh” desahku antara pura-pura menolak dan meminta.

Ya, harus kuakui kalau saya benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Pak Hary . Pak Hary yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini sehingga membuat saya menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.

“Akhh..pakk..akhh..jang..akhh”

Kepura-puraanku akhirnya hilang saat dengan agak kasar mulut Pak Hary dengan rakusnya menggigiti kedua belah pantatku!! Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli saat digigit Pak Hary . Mungkin kalau disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal itu.

“Emhh..pantat ibu indahh…” kudengar Pak Hary menggumam mengagumi keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.

“Ouch…shh…Am..ampunnhhh” saya mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati kedudukanku di kantor. Saya benar-benar pasrah total.

Liang vaginsaya sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala Pak Hary menyeruak di sela-sela pahsaya dan mulutnya yang rakus mencium dan menyedot-nyedot liang vaginsaya dari arah belakang.

Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk. Saya sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini saya bermain gila di rumahku sendiri. Tapi saya tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi. Titik!

“Ouch… shh…terushhh.. Ohhh, Pak Hary hhh…”

Dari menolak saya menjadi meminta! Benar-benar gila!! Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Pak Hary menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi. Saya merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora, tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan. Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan.

Pak Hary semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya saya tak mampu lagi menahan syahwatku.

“Akhhh…Pak Hary nnhhh akhhh…”

Saya mendesis melepas orgasmeku yang pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena lemas. Napasku masih memburu saat Pak Hary melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak Hary .

Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena saya merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku. Gila panas sekali benda itu! Saya terlalu lemas untuk bereaksi.

Beberapa saat kemudian saya merasakan benda itu mengosek-osek belahan kemaluanku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini saya belum pernah melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi saya yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!!

Saya kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.

“Hkkk…hhh.. shhh.. mem..mekhh Bu.. Ren..ni benar-benar legithhhh…” Gumam Pak Hary di sela-sela napasnya yang memburu. Didesakkannya batang kemaluan Pak Hary ke dalam lubang kemaluanku. Ouhhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan malam dan terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat…

Gila… Pak Hary menyetubuhiku di ruang makan tempat saya biasanya sarapan pagi bersama suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak Hary .

“Ouhh Pak Hary n.. ahhhh….”

Saya hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat saat Pak Hary mulai memompsaya dari belakang! Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan, tubuhku disodok-sodok Pak Hary dengan gairah meluap-luap.

Tubuhku tersentak ke depan saat Pak Hary dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam jepitan liang kemaluanku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga dadsaya agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri Pak Hary menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah pantatku dengan gemasnya.

Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Hary . Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Hary yang menghunjam dalam-dalam.

Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Hary yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar. Apalagi bau keringat Pak Hary semakin tajam tercium hidungku. Oh..inikah surga dunia… Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.

“Ouhmmm terushh.. terushh.. yang kerashhh..”

Saya menceracau dan menggoyang pantatku kian liar saat saya merasakan detik-detik menuju puncak.

“Putar, Bu…putarrrhh”

Kudengar pula Pak Hary menggeram memberiku instruksi untuk memuaskan birahinya sambil meremas pantatku kian keras. Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah kian licin. Saya merasakan batang kemaluan Pak Hary mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.

Saya sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang. Matsaya membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuh kami terus bergoyang dan beradu, sementara gaunku sudah basah oleh keringatku sendiri. Pak Hary semakin keras dan liar menghunjamkan batang kemaluannya yang terjepit erat liang kemaluanku. Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.

“Arghhh… terushhh, Buu… goyangghhhh… arghh…”

Batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut kencang dan akhirnya saya merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku…

Serr.. serr.. serr…

Beberapa kali air mani Pak Hary menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian berkejat-kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku hingga saya merasa agak sakit dibuatnya. Tapi saya tak peduli. Tubuhku pun seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Hary yang masih menyemprotkan sisa-sisa air maninya.

“Ouch… akhh.. terushh.. Pak Mar..sanhhh…”

Tanpa malu atau sungkan saya sudah meminta Pak Hary untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku.

Akhirnya saya benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas semua. Benar-benar lemas saya dibuat oleh Pak Hary . Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh.

Batang kemaluan Pak Hary kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan liang kemaluanku. Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami berdua.

Gila, banyak sekali Pak Hary mengeluarkan air maninya! Saya tahu itu karena banyaknya tumpahan air mani yang menetes dari lubang kemaluanku ke lantai ruang makan.

“Ibu benar-benar hebat… Saya jadi sayang Ibu…” bisik Pak Hary di telingaku.

Saya hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan lagi terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku. Ya, saya baru saja disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku… Saya hanya bisa termenung memikirkan bahwa sejak hubunganku dengan Pak Sitor, betapa mudahnya kini saya menyerahkan diriku dan melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain.

Aaah…. tiba-tiba saya jadi sangat rindu dengan Pak Sitor… Ia benar-benar tahu cara memperlakukan dan membimbing seorang wanita. Sebagai pelampiasannya, kuremas tangan Pak Hary yang sedang memeluk tubuh bugilku. Ia tentu tak tahu kalau saya sebetulnya sedang memikirkan lelaki lain. Pak Hary dengan mesra lalu menciumi tengkuk dan telingaku.

Memang sejak Pak Sitor membuka mataku, saya jadi sangat menyukai seks… Saya pun mulai sadar bahwa untuk memuaskannya, sekarang saya jadi terbuka untuk melakukannya dengan laki-laki lain selain suamiku… Sangat luar biasa bahwa saya telah diajari untuk bersikap open-minded oleh seorang lelaki tua dari pedalaman yang tak berpendidikan seperti Pak Sitor.

“Su.. sudah, Pak… Nanti Mbok Sarmi bangun,” kulepas tangan Pak Hary yang masih memelukku.

Saya berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Hary yang kekar. Lalu saya meninggalkan Pak Hary yang masih bugil dan lemas begitu saja untuk bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sekali lagi saya mandi di malam yang dingin itu.

Di bawah pancuran air dingin, saya terdiam memikirkan lagi apa yang sudah terjadi barusan. Ada beban biologis besar yang rasanya terlepas dari dalam diriku. Pak Hary sudah benar-benar mengeluarkannya dengan cara yang hebat… Di lain pihak, akal sehatku mulai kembali. Saya tahu saya telah kembali mengkhianati suamiku. Belum lagi memikirkan Pak Hary sebagai bawahanku yang kini telah terlibat hubungan intim denganku… Sejenak saya merasa bingung dengan sikapku sekeluarnya dari kamar mandi nanti… Setelah termenung beberapa lama di bawah pancuran air, akhirnya saya memutuskan untuk bersikap setenang mungkin. Semuanya pasti bisa ditangani….

Saya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan babydollku yang sebetulnya agak kotor kena keringat. Baru kusadari betapa kacaunya ruang makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan. Sementara kulihat celana dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas. Pak Hary masih membetulkan celana dinasnya.

“Bu, saya.. boleh numpang mandi, Bu…”

“Silakan, Pak.. Handuknya ada di dalam.”

Saya mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Pak Hary yang berceceran di lantai. Sementara itu Pak Hary mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.

Permainan Kedua

Saya masih mengepel cairan sisa-sisa perjuangan kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Hary yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang.

Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.

“Jangan di situ, Pak…” bisikku. “Saya tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin! Bisa-bisa masuk angin nanti!”

“Ke kamar tidur depan aja, Pak…”

Saya tahu tak mungkin saya menolak keinginan Pak Hary ! Apalagi saya juga menyukainya. Jadi saya menurut saja saat ia ingin menyetubuhiku lagi…

Akhirnya tubuhku dibopong ke kamar tidur depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap. Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar rumah berkelas. Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur springbed, dan kamar mandi di dalam, serta AC!

Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Pak Hary menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku.

Saya diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tebal terasa geli mengais-ngais hidungku. Saya semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngasi didalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah Pak Hary yang mendesak-desak dalam mulutku. Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora.

Saya sudah tak peduli kalau Pak Hary itu adalah anak buahku. Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Pak Hary mulai menyingkap gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalsaya hingga saya telanjang bulat di depannya! Gila saya telah telanjang bulat di depan anak buahku sendiri!! Saya memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik Pak Hary melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!

Benar dugaanku! Ternyata batang kemaluannya berwarna hitam dengan rambut yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pentungan yang biasa dibawanya ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya liang vaginsaya menjepit benda itu!! Saya jadi tak merasa rugi menyerahkan tubuhku padanya…

Saya tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali lagi Pak Hary menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku. Saya merasa kegelian saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Saya semakin menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke dua buah dadsaya yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah!

Gila.. Liar dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Pak Hary mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh harimau lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat saat kedua buah dadsaya secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut Pak Hary .

Tanganku pun dibimbing Pak Hary untuk dipegangkan ke batang kemaluannya yang tegak menjulang.

“Ouch… shhh… enakhhh..”

Mulutku tak sadar berbicara saat lidah Pak Hary yang panas dengan liar mempermainkan puting payudarsaya yang sudah mengeras. Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi toketku, Pak Hary duduk di pinggir tempat tidur.

Dilepaskannya mulutnya dari payudarsaya dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Saya jadi terjongkok didepan tubuh telanjang Pak Hary yang sudah duduk di pembaringan, saya jadi berdiri di atas kedua lututku. Payudarsaya yang kencang menjepit batang kemaluan Pak Hary yang hitam dan keras itu!

“Hhh…sssshh”

Pak Hary mendesis saat batang kemaluannya yang besar dan hitam itu terjepit toketku. Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga payudarsaya semakin erat menjepit batang kemaluannya. Saya merasa kegelian saat bulu-bulu kemaluan Pak Hary yang sangat lebat menggesek-gesek pangkal toketku. Apalagi batang kemaluannya yang keras terjepit di tengah belahan kedua buah toketku, hal ini menimbulkan sensasi yang lain daripada yang lain.

Saya tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu saat tangan Pak Hary yang kokoh menekan kepalsaya ke bawah. Diarahkannya kepalsaya ke arah kemaluannya, sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya yang berdiri gagah di depan wajahku. Saya tahu ia menginginkan saya untuk mengulum batang kemaluannya.

Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan Pak Hary yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.

“Arghh..ter..terushhh, Buu…”

Mulut Pak Hary mengoceh tak karuan saat kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku. Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga ia mendesis-desis seperti orang kepedasan. Sementara itu, kedua tangan Pak Hary terus memegangi kepalsaya seolah takut saya akan menarik kepalsaya dari selangkangannya.

Setelah beberapa lama, dengan halus kubelai tangan Pak Hary dan kulepaskan cengkeramannya dari kepalaku. Setelah itu, sambil mulut dan tanganku terus bekerja memanjakan penisnya, matsaya senantiasa menatap mata Pak Hary . Sesekali saya pun melempar senyum manisku padanya jika mulutku sedang tak dipenuhi oleh alat vitalnya. Dengan begitu, saya seolah ingin mengatakan padanya.

“Jangan khawatir. Saya tak akan menjauhkan kepalsaya dari selangkanganmu. Saya akan terus memanjakan penismu yang besar dan indah ini dengan mulut dan kedua tanganku….”

Pak Hary pun jadi lebih santai dan menikmati pekerjaanku yang kulakukan dengan penuh ketulusan.

Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluannya saja, mulutku lalu bergeser ke bawah menyusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kemaluan Pak Hary hingga ke pangkalnya. Pak Hary semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak saat bibirku menyedot kedua biji telor Pak Hary secara bergantian.

“Ib.. Ibu.. heb..bathh… ohhh… sssshh.. akhhh…”

Saya semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Pak Hary yang ditumbuhi rambut. Pak Hary semakin membuka kakinya lebar-lebar agar saya lebih leluasa memuaskannya.

Saya tahu saya telah bertindak sangat gila. Saya yakin telah mengalahkan pelacur yang manapun saat memberikan layanan kepada pelanggannya. Seorang pelacur bahkan dibayar untuk melakukan itu semua. Sedangkan saya memberikannya secara gratis kepada Pak Hary ! Saya yakin Pak Hary pun belum pernah mendapatkan layanan istimewa ini dari wanita manapun, termasuk dari istrinya… Pastilah ini karena rasa horny yang telah menyelimuti sekujur tubuhku!

Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik Pak Hary dan dilemparkannya ke tempat tidur.

Saya masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang Pak Hary . Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dengan kakinya. Otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin ketat menempel di belahan pantatku.

Tubuhku menggelinjang hebat saat lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.

Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah Pak Hary kini mempermainkan lubang anusku. Saya merasakan kegelian yang amat sangat tetapi saya tidak dapat bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Saya hanya pasrah dan menikmati gairahnya…

Saya tahu Pak Hary melakukan itu karena saya pun telah melakukan hal yang sama padanya barusan. Saya sama sekali tak mengharapkan balas budi seperti itu, tapi tentu saja saya sangat berterima kasih pada Pak Hary karena saya pun kini dapat menikmatinya.

Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seincipun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahsaya terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.

Setelah puas melumat seluruh jari kakiku, Pak Hary membalikkan tubuh telanjangku hingga kini saya terlentang di tempat tidur. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dan ia sekali lagi menindihku. Kali ini posisi kami saling berhadap-hadapan dengan tubuhku ditindih tubuh kekarnya.

Lidahnya kembali bergerak liar menjilati tubuhku. Sasarannya kali ini adalah daerah sensitif di belakang leherku. Saya menggelinjang kegelian. Bibir Pak Hary dengan ganasnya menyedot-nyedot daerah itu.

“Jang..jang..an dimerah ya, Pak…” erangku memohon padanya.

Tentu saja saya tidak mau disedot sampai merah soalnya besok pasti orang sekantor pada ribut.

“Tidak.. Bu…. saya cuma gemasss!!” desis Pak Hary sambil tetap menjilati bagian belakang telingaku.

“Tapi kalo di sini boleh kan?” katanya nakal sambil tiba-tiba menyedot toketku.

“Aaaauuwwww…..” jeritku terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba.

Rupanya Pak Hary dengan sengaja meninggalkan cupangan merah yang banyak di seputar kedua toketku. Tingkah lakunya seperti ingin menandai bahwa tubuhku sekarang telah jadi miliknya juga… Saya kegelian dan semakin bertambah horny karena aksinya itu. Saya hanya bisa berharap agar semua cupang itu telah hilang saat Bang Sapak pulang nanti.

Sementara itu tangannya terus bergerak liar meremas payudarsaya bergantian. Saya semakin mendesis liar saat mulut Pak Hary dengan liar dan gemas menyedot payudarsaya bergantian. Kedua puting payudarsaya dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah. Liang vaginsaya berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangan Pak Hary menguak labia mayorsaya dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang kemaluanku yang sudah semakin licin.

Bersambung

Cerita Sex – Diintip Saat Asyk Orgasme..

Mumpung hari ini free saya yang biasanya bangun pagi pagi, sekarang bisa bangun siang, malam tadi juga begadang karena banyak sekali DM yang masuk ingin berkenalan dan satu persatu semua saya balas tapi ada salah satu DM yang membuat saya penasaran, pengirim DM ini beda dari yang lain karena juga tak banyak koment dan dengan syarat yang sudah saya tentukan dia mengirimkannya.

Jujur saja saya sangat penasaran dengan dia semoga sesuai yang saya harapkan dan pada DM terkahir dia malah menanyakan hal yang lucu bertanya bagaiman cara menyembuhkan ikan yang perutnya membesar .

Kembali ke ceritaku, pagi ini terbukti keadaan rumahku kosong, kedua orang tua & adikku entah pergi kemana. Hal ini biasa terjadi, mereka tak mau mengganggu tidurku & pergi mengunci rumah dari luar. Kami di rumah memang masing-masing mempunyai kunci rumah sendiri-sendiri.

Sesudah membaca koran pagi sambil minum secangkir kopi, saya teruskan membaca koran di toilet kamar mandiku. Saya bermaksud buang hajat (Maaf! Saya berusaha menyampaikan apa yang kualami dengan apa adanya) sambil membaca koran. Pintu kamarku sengaja kubiarkan terbuka begitu saja, toh tak ada orang lain di rumahku.

Kulepas kembali singlet yang baru kukenakan tadi sebelum keluar dari kamar, kulempar begitu saja, demikian pula dengan celana pendek longgar yang agak lebar di bagian bawahnya yang kupakai ketika tidur. Sekarang saya telah telanjang bulat tanpa sehelai bahkan benang yang menutupi tubuhku.

Sejak kecil saya memang tak suka & tak pernah menggunakan BH sesampai sampai ketika ini di usisaya yang ke 28 saya tetap tak mempunyai satu bahkan BH untuk menutupi buah dada saya yang sintal & ranum ini.

Saya terbiasa tidur bertelanjang dada & seringkali bugil sambil menggunakan selimut tipis saja. Jika semalam saya tidur cuma mengenakan celana pendek yang bentuknya seperti yang kuceritakan tadi, selain bentuknya yang mini, bahannya terbuat dari kain sutera tipis tembus pandang dengan karet elastis yang melingkar di pinggangku,

Sesampai bayangan bulu kemaluanku jelas bisa terlihat dari luar, sebab di dalamnya saya telah tanpa menggunakan apa-apa lagi untuk menutupi auratku, toh semua model CD-ku juga sexy & mini sekali sesampai tak ada fungsinya ketika kupakai tidur, jadi sekalian saja tak kupakai.

Selesai hajatku, kuletakkan koran yang kubaca tadi & saya bahkan mandi. Keadaan kamar mandi dalam kamarku bahkan kubiarkan tetap terbuka sejak tadi sampai jika dari arah ruang tamu ada orang melongok kamarku yang pintunya terbuka pasti bisa melihat tubuh montokku di kamar mandi yang sedang mandi ketika ini, namun saya tak khawatir sebab rumahku ketika ini sedang kosong & pintu depan dalam keadaan terkunci sampai saya tak perlu khawatir ada orang yang tiba-tiba nyelonong masuk.

Kubasahi semua tubuhku di bawah shower kamar mandiku, rambutku bahkan kubasahi sebab saya memang berharap keramas. Selesai keramas, kusabuni tubuhku dengan sabun cair, kugosok rata semua bagian tubuhku yang ramping & sexy ini (Bukan GR lho! Sebab memang demikianlah diriku).

Tinggiku yang 170 centimeter termasuk cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita, buah dada saya tak terlalu besar, ukurannya normal sedang-sedang saja, bentuknya padat, puting susuku & sekitarnya masih tampak ranum berwarna sedikit merah muda kecoklatan.

Pantatku sintal & berisi, bagian depannya di bawah pusarku ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang halus, tumbuhnya rata rapi & tak terlalu panjang sebab menempel di bawah pusarku menyeruak ke atas. Bulu-bulu kemaluanku cuma tumbuh di bagian atas kemaluanku, di sekitar memek saya tetap bersih & mulus.

Kuusap & kugosok dengan sabun cair tadi dengan rata, kujongkokkan sedikit tubuhku & kuangkat sebelah kakiku bergantian & kukangkangkan di atas bibir bathtub supaya memudahkan tanganku menggosok & membersihkan lipatan selangkanganku.

Tanganku yang satu lagi menggosok tubuhku bagian lain, kuelus-elus buah dada saya dengan lembut sampai terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku tiba-tiba datang & hasratku jadi memuncak, rasanya saya berharap berlama-lama menyabuni tubuhku, mata saya yang lentik bahkan mulai sayu merem melek merasakan nikmatnya usapan tanganku sendiri sampai tanpa kusadari jariku kumasukkan ke dalam bibirku. Kuhisap telunjukku & kukulum dengan mulutku yang mungil & berbibir tipis, ada rasa sabun di lidahku sampai segera kuturunkan lagi jari-jariku ke bagian buah dadaku.

Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi saya telah mulai melakukan remasan ke buah dadaku. Kupilin-pilin puting susuku dengan menggunakan ibu jari & jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya, terlebih ketika tanganku yang satu lagi tetap mengelus-elus selangkanganku.

Ketika jari-jariku mengenai bibir-bibir memekku, saya bahkan merasakan darah yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.

dewasa orgasme, cara orgasme, cerita sex wanita orgasme, cerita mesum rangsagan wanita, cara wanita memuaskan nafsu, klimaks orgasme wanita, sensasi orgasme, hubungan seksual, klimaks cepat, wanita sange, usap memek, memek cobel, memek basah, cewek capai orgasme, hubungan intim.

Saya telah horny sekali, liang memek saya telah dibanjiri oleh lendir yang keluar dari dalam rahimku. Bisa kurasakan ada cairan lain di bibir memekku. Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan & kugesek-gesek klitorisku dengan jariku sendiri sampai saya bahkan tak kuasa membendung gejolak & hasratku yang semakin menggebu.

Badanku meliuk bagaikan penari erotis yang biasa kulihat di BF, kedua kakiku bahkan tak kuasa lagi menopang tubuhku. Saya langsung terduduk di bagian atas bathtub, kukangkangkan pahsaya dengan meletakkan kedua telapak kakiku di samping kiri & kanan bibir bathtub.

Jari tengah & telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir memek saya sambil menggesek-geseknya. Sementara jari tengah & telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku, sekujur tubuhku masih dipenuhi oleh sabun cair yang sekarang telah mulai berbaur dengan keringat dinginku yang mulai mengalir keluar, udara AC yang masuk dari kamar tidurku seakan tak mampu menembus ke kamar mandiku.

Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan memekku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk ke dalam. Mulanya memang sedikit agak sulit masuk namun sebab saya memang telah benar-benar horny sesampai liang memek saya juga telah benar-benar basah oleh lendir yang licin sampai selanjutnya jari-jariku dengan mudahnya menyeruak masuk ke dalam liang memekku. Sekarang jari tangan kiriku telah tak perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi sampai kualihkan tugasnya untuk menggesek-gesek klitorisku.

Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang memekku. Jari-jariku menyentuh & menggesek-gesek dinding memek saya bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh benjolan sebesar ibu jari yang ada & tumbuh di dalam liang memek saya & menghadap keluar.

Kuangkat sedikit benjolan tadi dari bawah dengan jariku & kugesekkan bagian bawahnya, punggung & kepalsaya jadi tersandar di dinding kamar mandi, seakan hendak pingsan rasanya.

Saya telah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks ketika ada sesuatu yang rasanya akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda saya akan segera mencapai orgasme. Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi, demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam memek saya bahkan makin kupercepat pula.

Untuk menyongsong orgasmeku yang segera tiba, pantatku bergetar hebat, kurasakan kedutan bibir memek saya yang tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku yang masih berada di dalam liang senggamaku.

Bersamaan dengan itu saya merasakan sesekali ada semburan dari dalam yang keluar membasahi dinding memekku. Saya serasa sedang kencing namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan cinta saya yang mengalir deras.

dewasa orgasme, cara orgasme, cerita sex wanita orgasme, cerita mesum rangsagan wanita, cara wanita memuaskan nafsu, klimaks orgasme wanita, sensasi orgasme, hubungan seksual, klimaks cepat, wanita sange, usap memek, memek cobel, memek basah, cewek capai orgasme, hubungan intim.

Sesudah diam sebentar meresapi apa yang baru saja terjadi, saya meneruskan mandi. Kubilas tubuhku dengan air melalui shower, di selangkanganku masih terasa cairan cinta saya merembes keluar dari dalam liang memekku, mengalir turun melewati kedua belah pahaku.

Selesai mandi, kukeringkan badanku dengan handuk & kukenakan kimono tipis bermotif kembang-kembang. Bentuk kimonoku ini cukup pendek ukurannya. Ujung bawahnya kurang lebih cuma sejengkal saja dari pangkal pahaku, jika saya membungkuk pasti belahan pantatku akan tersembul keluar.

Demikian pula jika saya duduk ketika mengenakan kimono ini pasti onggokan daging di pangkal pahsaya juga akan mudah terlihat, sebab memang kimono yang kukenakan ini bukan untuk digunakan di luar, fungsinya cuma bisa digunakan di kamar sesudah selesai mandi supaya tak kedinginan saja.

Saya keluar menuju lemari es mengambil air dingin. Saya merasakan haus sekali sesudah melakukan aktifitas tadi. Selesai minum tiba-tiba ada orang yang menekan bel. Kulongok keluar terbukti ada satpam yang mengantar tagihan iuran RT.

“Sebentar ya Pak”, seruku.

Kuambil uang di dompetku & saya keluar menuju pintu pagar. Sambil kusodorkan uang, kuterima bukti pembayaran yang kuterima dari satpam tadi. Waktunya cuma sebentar saja namun cukup membuat satpam tadi terbengong-bengong heran menatap penampilanku.

Rupanya tanpa kusadari, saya tadi keluar mengenakan kimono mini tadi. Bahan kainnya tipis sesampai ketika kupakai menempel dengan ketat di kulitku yang memang belum kering betul ketika kuhanduki tadi, apa lagi bagian depannya cuma ditutupkan begitu saja & diikat dengan ikat pinggang tali yang terbuat dari bahan kain yang sama, & ikatanku tadi juga asal-asalan saja sesampai bagian dada saya terbelah agak lebar, sesampai dari samping tepian buah dada saya yang putih mulus bisa terlihat dengan jelas semetode hampir keseluruhan, cuma puting susuku saja yang tertutup.

Bagian bawahku rupanya juga tak tertutup dengan rapi, selain ukurannya telah pendek ke atas (mini), belahannya juga tidah rapat, kecuali di bagian yang terjepit oleh ikat pinggang kain tadi, sesampai rupanya ketika saya berjalan melangkah keluar tadi belahan kimonoku bagian bawah tersingkap bergantian di kedua sisinya mengikuti irama langkahku.

Berarti bagian ujung pangkal paha saya yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluanku bisa terlihat dengan jelas oleh satpam tadi, pantas saja matanya melotot & ia sempat terbengong-bengong ketika melihatku keluar tadi. Persetan deh, pikirku, telah telanjur mau apa lagi, ya mungkin itu rejeki satpam itu tadi.

Cerita Sex – Sekretaris dan Asisten Montok..

Karena hal yang sejujurnya tak saya bagikan tapi gimana lagi karena hobyku juga menulis dan saya mengalami pengalaman yang begitu indah, saya mencoba untuk menuliskan kembali dan mengingatnya , saya di kantor mempunyai sekretaris yang bernama pety memang dia selalu menemaniku setiap aku lembura di kantor.

Tapi seminggu yang lalu pety mengeluh karena kelelahen karena pekerjaan semakin banyak, dan karena menjadi sekretaris pribadi dia mau tak mau harus mengetahui bisnis kantorku secara mendalam dari situ pety merasa repot untuk menyelesaikan tugasnya dan tanggung jawabnya, karena terus menerus dia mengeluh maka dari itu saya meminta dia untuk mencari assisten baru untuk menyelesaikan pekerjaan.

Pety amat antusias sebab saya mengijinkannya mencari asisten, tentu saja ia tak akan lupa dengan pesanku bahwa asistennya harus dapat memuaskan saya baik pekerjaannya maupun sexnya.

Pety cuma tertawa waktu mendengar permintaanku itu. Saya juga yakin bahwa tak terlalu sulit untuk menerima sekretaris yang sehebat Pety luar dalam, sebab saya berani membayar amat mahal untuk pelayanan mereka, tapi yang menarik bagiku yaitu kesempatan untuk menguji mereka secara langsung. Sebab disinilah selera petualanganku akan terpuaskan dengan menggoda para calon sekretaris itu.

Sesudah melalui screening yang ketat oleh personalia, Pety akhirnya menyetujui 6 calon asisten yang untuk itu dimintanya saya untuk menguji segera mereka itu. Pety terus-menerus tersenyum saat ia menceritakan betapa cantiknya para calon sekretaris yang melamar & pasti saya akan bingung untuk memilihnya.

Saya pun cuma tertawa sebab saya yakin pikiran Pety telah ngeres saja. Dalam hati saya telah tak sabar menunggu jam makan siang, sebab sesudah itu para calon pegawaiku ini akan menghadapku.

Saat saya kembali ke kantor sesudah makan siang, kulihat diruang tunggu telah berderet duduk sebagian gadis yang semuanya berdandan rapi. Dari pandangan pertama saya mengakui bahwa mereka rata-rata cantik cuma saja kelihatannya jika umurnya masih muda.

Mereka semua memandangku dengan penuh harap sambil berusaha menunjukkan senyum termanis yang mereka punya, saya membalas senyum mereka & segera masuk ke ruanganku. Pety yang telah menunggu , segera mendatangiku & menanyakan apakah saya telah siap untuk mulai wawancara.

Saya mengangguk tapi kusempatkan untuk bertanya pada Pety, apakah semuanya masih perawan, Pety menjawab bahwa perasaan ia ada dua yang masih perawan yaitu yang namanya Novi & Mayang, jika yang lainnya kelihatannya telah punya pengalaman.

Yang pertama masuk seorang gadis memakai rok ketat berwarna biru tua, wajahnya cantik dengan tubuh yang tinggi langsing. Dengan penuh hangat ia menjabat tanganku & duduk didepanku sambil menyerahkan berkas wawancara dari staffku sebelumnya.

Kubaca namanya yaitu Laras ia lulusan Akademi Sekretaris yang terkenal di kota Bandung umurnya baru 21 tahun.Sesudah mengetahui jati dirinya saya menutup map itu & memandangnya tajam.

Laras menatap pandanganku dengan berani walaupun tetap sopan. Saya segera menanyainya dengan sebagian hal yang umum mengenai kemampuannya, sementara matsaya dengan teliti memandang wajah serta badannya. Saya kurang suka dengan Laras ini sebab badannya terlalu langsing walaupun susunya kelihatan cukup montok untuk badan selangsing ia itu.

Sesudah ia tak begitu canggung berbicara denganku, saya mulai memasang jebakanku, kutawari ia untuk merokok, Laras kaget mendengar tawaranku itu, dengan ragu-ragu ia memandangku. saat kukatakan bahwa jika ia memang biasa merokok boleh saja merokok agar bisa lebih santai berbicara, barulah ia berani mengambil sebatang Marlboro yang kusodorkan.

Saat kutanyakan apakah ia berkebaratan jika saya bertanya hal hal yang bersifat pribadi, ia segera menggelengkan kepalanya tanda tak keberatan. Saya tersenyum sambil membetulkan dudukku.

“Apakah Laras telah punya pacar?,” Laras tersenyum & menganggukkan kepalanya.

“Apakah pacar Laras juga tinggal di Bandung?.”

“Tak Pak, pacar saya ada di Jakarta.”

“Oh, makanya Laras kepengen kerja di Jakarta ya?” Laras lagi-lagi mengangguk & tersenyum manis.

“Apakah ini pacar Laras yang pertama ataukah sebelumnya telah sering berpacaran?”

“Sering Pak, tapi semuanya telah putus sebab gag cocok!.”

Saya tersenyum & bertanya lagi,

“Selama berpacaran, apa saja yang dilakukan oleh Laras?.”

“Maksud Bapak bagaimana ya?,” Laras balas bertanya.

“Maksud saya, apakah cuma sekedar omong-omong, atau dengan tindakan tindakan lain?” Laras terdiam & cuma tersenyum mendengar pertanyaanku yang mulai terarah itu.

“Sebagai seorang sekretaris, Laras harus bisa menyimpan rahasia perusahaan secara maksimal, maka bagi Bapak, jika Laras bisa berkata jujur mengenai diri Laras, berarti juga Laras bisa dipercaya untuk memegang rahasia perusahaan!.”

Mendengar itu Laras baru berani menjawab,

“Ya kadang kadang omong-omong, kadang-kadang juga yang lainnya Pak!.”

“Yang lainnya bagaimana?” kejarku, Laras tak menjawab tapi cuma senyum saja.

“Apa berciuman?” Laras mengangguk.

“Apakah pacar Laras suka meremas-remas toket Laras?” dengan wajah sedikit malu Laras mengangguk.

“Kini coba jujur pada Bapak ya, apakah Laras pernah berhubungan seks?” dengan wajah yang makin merah Laras menganggukkan kepalanya.

Kukejar lagi dengan pertanyaan,

“Telah dengan berapa pria Laras berhubungan seks?”,

“Empat orang Pak!”jawab Laras. Saya tak terlalu terkejut dengan pengakuan Laras ini, tapi sebab saya tak terlalu tertarik dengan Laras, maka saya tak berusaha untuk mengajaknya untuk main, saya cuma ingin mengetahui keadaan Laras luar dalam & nantinya memberi ia duit agar supaya jika toh ia tak kuterima maka saya tak dituntutnya macam-macam.

Dari laci meja saya kukeluarkan sebendel uang limapuluh ribuan senilai 5 juta rupiah, saya berkata kepada Laras, bahwa saya ingin melihat ia membuka pakaiannya agar saya dapat lebih mengenal ia secara nyata, untuk itu akan kuberikan uang 5 juta rupiah yang ada di depannya itu.

Jika nanti ia diterima, maka uang itu tetap menjadi miliknya, sedangkan jika tak maka uang itu sebagai hadiah dariku. Laras ternganga mendengar perintahku yang tak pernah didengarnya itu, tapi ia benar-benar siap untuk apapun rupanya.Dengan agak gemetar ia berdiri & mulai membuka pakaiannya satu persatu, saya cuma duduk saja di depannya.

Seperti yang kuduga buah dada Laras cukup montok untuk badan ceking seperti itu, ketiaknya juga bersih mulus tanpa bulu selembarpun, saat BH-nya dilepas, tampaklah buah dadanya yang kelihatannya telah agak mengendur & penuh dengan kecupan merah. Dari situ saya yakin jika Laras ini doyan main!

Saat Laras membuka rok & sekaligus celana dalamnya, kontolku agak tegang juga, sebab selangkangan Laras ditumbuhi dengan bulu yang cukup rimbun. Sesudah telanjang, Laras berdiri mematung di depanku sambil tersenyum & menunduk.

Saya berdiri mendekati ia & menyentuh susunya yang kurasakan agak empuk begitu juga dengan pantatnya, saat kuraba bulu memeknya, Laras merangkulku seperti orang yang kaget.

Saya diam saja, cuma jariku yang mulai menyelinap di antara celah pacuma mencari liang memeknya. Laras mengerang saat jariku menyentuh clitorisnya, tangannya meremas-remas bahuku tanpa berkata apa-apa. Saya merasa semuanya telah cukup, maka saya kembali duduk di kursiku & kusuruh ia kembali berpakaian.

Sesudah kuberikan uang dalam amplop itu, kuucapkan terima kasih & kuminta Laras menunggu kabar dari personalia. Laras juga mengucapkan terima kasih & meninggalkanku. Sesudah itu masuk berturut-turut, Meity, Retno, Rina & Mayang yang perkiraan Pety masih perawan.

Meity, Retno maupun Rina semuanya juga kuberi hadiah 5 juta rupiah setiap kali mereka telanjang bulat di depanku, semuanya berbadan bagus dengan susu yang montok, benar-benar berat bagiku untuk menahan diri menghadapi memek yang masih muda & segar seperti milik mereka itu.

Saat Rina telanjang di depanku saya tak tahan untuk tak menciumi memeknya yang berwarna merah muda itu, kujilati clitorisnya sampai Rina merintih-rintih, begitu juga dengan Retno yang sempat merasakan tusukan kontolku walaupun cuma sampai dasar & segera kucabut kembali.

Mayang yang diduga Pety perawan ternyata juga telah tak perawan, justru cewek satu ini yang berani terang-terangan mengajakku untuk main tapi saya ragu-ragu sebab saya cuma mau main dengan calon pegawai yang betul-betul akan kuterima saja, yang lainnya cukup main-main saja.

Kesabaran & ketahananku akhirnya berbuah juga, saat calon sekretarisku yang bernama Sari masuk, saya merasakan jika inilah cewek yang tepat untuk mendampingi Pety sebagai sekretaris, matsaya dengan tak sungkan-sungkan melahap wajah & tubuh Sari yang tinggi besar itu.

Wajahnya cantik Khas Jawa, hidungnya mancung & kulitnya putih, bibirnya amat sensual dengan lipstick merah tua. Blousenya yang berpotongan rendah dilapisi jas berwarna biru tua, sepintas saya dapat melihat lekuk buah dadanya yang dalam menandakan jika buah dada pemiliknya montok.

Dari penampilannya, sepertinya cewek yang satu ini alim, tapi saya yakin jika sesungguhnya ia ini super hot & amat sesuai dengan seleraku. Pandanganku yang jalang itu, tak membuat ia rikuh, malah ia tersenyum manja waktu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tangannya empuk & hangat sekali, begitu juga dengan suaranya yang agak bernada bass itu. Semuanya amat memuaskan seleraku, cuma kini tergantung bagaimana saya dapat mengolah agar ia dapat saya sikat & selanjutnya akan kupakai untuk mengatasi Pety.

Pikiranku telah membayangkan jika mereka berdua saya sikat sekaligus diruang ini, pasti asyik.Sesudah berbasa basi dengan menanyakan sebagian hal yang sifatnya formil, saya mulai menanyakan hal hal yang sensitif, sebab begitu bernafsu akau merasakan jika suarsaya agak gemetar, tapi justru yang kulihat Sari malah tersenyum melihat gayaku.

“Sari keberatan nggak jika saya tanya hal hal yang sifatnya pribadi, sebab sebagai tangan kanan Bapak, tentunya Bapak juga ingin tahu hal hal seperti itu.”

“Tentu saja boleh Pak, silakan Bapak tanya apa saja!”, Saya menelan ludah mendengar jawaban Sari yang menantang itu.

“Sari tingginya berapa ya?”.

“Seratus tujuh puluh enam senti Pak.”

“Berapa ukuran vital Sari?”.

“Dada 36, pinggang 30, pinggul 38,” Saya tersenyum mendengar ukuran vitalnya yang hebat itu, Sari juga menyeringai melihat saya tersenyum itu.

“Masak dada Sari sebesar itu, kelihatannya kok nggak ya?”.

“Benar kok Pak, Sari nggak bohong,” jawabnya merajuk.

“Coba Sari buka jasnya, biar Bapak bisa melihat lebih jelas!.” Tanpa ragu-ragu Sari berdiri & melepas jasnya, ternyata Blouse Sari tak berlengan sehingga saya dapat melihat lengannya yang putih mulus itu.

Memang sesudah Sari cuma memakai blouse, baru kelihatan jika susunya memang besar. Saat kusuruh Sari mengangkat lengannya, kelihatan juga jika ketiaknya penuh bulu yang amat saya sukai. Saya makin bernafsu melihat tubuh Sari yang sip ini, tapi saya masih harus berusaha agar Sari benar benar dapat kutiduri, karenanya saya masih harus terus berusaha.

“Apakah Sari pernah melihat blue film?”.

“Pernah Pak.”

“Sering?”.

“Sering.”

“Coba ceritakan pada Bapak apa yang kamu sukai jika nonton blue film itu!” Sari pertamanya agak ragu untuk menjawab, tapi akhirnya keluar juga jawabannya.

“Sari senang jika mereka melakukan adegan pemanasan, & juga melihat mimik muka ceweknya jika puas!” Saya rasanya telah tak tahan lagi ingin menubruk Sari, tapi saya masih menahan diri.

“Sari, coba ya Bra nys dilepas, Bapak ingin melihat buah dada Sari!”.

“Apa blousenya juga dilepas Pak?”.

“Terserah!”. Kembali Sari berdiri, ia dengan tenang membuka blousenya serta kemudian melepas pengait behanya.

Benar-benar fantastis toket Sari, besar, montok, putih tapi sedikit kendor. Saya sejenak terpana memandangnya, tapi saya segera dapat menguasai diriku & berdiri & berjalan memutari mejsaya mendekati Sari. Tanpa ragu kedua tanganku segera meremas toket Sari dengan lembut. Sari cuma diam saja, merasakan empuknya toket Sari saya tahu jika ia telah tak gadis lagi.

Remasan tanganku ke toket Sari menyebabkan puting susunya mulai mengeras, saya menyelusupkan tanganku ke ketiaknya & mengangkat lengannya tinggi-tinggi, kuperhatikan ketiaknya yang penuh dengan bulu hitam itu & tanpa sadar saya telah menciuminya.

Saat itulah Sari mulai mendesah kegelian, saya terus menciumi bulu ketiaknya yang berbau harum oleh sebab deodorant itu untuk kemudian ciumanku mulai mengarah keputing susunya. Sari dengan agak berbisik berkata,

“Pak, nanti ada yang melihat lho, Sari takut!”, Saya mana peduli dengan semua itu. Justru sambil mengulum puting susunya saya mulai melepaskan rok yang dipakainya. Dengan mudah kulepaskan rok bawah Sari demikian juga dengan celana dalamnya, saat kuraba selangkangan Sari dapat kurasakan ketebalan bulu memeknya di telapak tanganku, saat jariku menyelinap ke dalam memeknya. Sari makin menggelinjang & meremas pundakku tanpa bersuara sedikitpun. Sebab saya tahu waktuku cuma sebentar, maka saya menghentikan ciumanku & mulai melepasi pakaianku sendiri.

Sari cuma berdiri saja melihat saya melepaskan semua pakaianku itu, matanya terbeliak saat kulepas celana dalamku sehingga kontolku tersembul keluar.

Dengan terbata-bata ia berkata

“Pak saya takut Pak, punya Bapak besar sekali, nanti nggak cukup lho Pak, saya baru sebagian kali bercinta!” Saya berbisik agar ia tak takut sebab saya akan hati hati & kujamin ia tak merasa sakit.Kubaringkan Sari di sofa yang ada di kantorku, & saya kembali ke mejaku. Tanpa diketahui

Sari saya memejet interkom untuk memanggil Pety, Pety yang telah mengerti dengan kode dari saya segera masuk ke ruanganku dengan tenangnya. Tapi lain dengan Sari yang segera meloncat kaget dengan wajah pucat pasi & kebingungan mencari penutup tubuh.

“Sari nggak usah takut, toh nanti jika kamu kerja juga bersama dengan Mbak Pety, jadi rahasiamu juga jadi rahasia Mbak Pety ya?”., Sari cuma diam saja dengan wajah merah menatap Pety yang tersenyum manis kepadanya.

Saat kutanyakan dimana kondom yang kubutuhkan, Pety mengeluarkannya dari ssaya & membukanya untuk kemudian dengan berjongkok ia memasangnya di kontolku yang telah berdiri ke saya itu, sebab memang tujuannya agar supaya Sari tak rikuh dengan dirinya,

Pety secara sengaja mengulum kontolku dulu sebelum memasang kondom bahkan dengan demonstratif ia menelan seluruh kontolku hingga tinggal biji pelirku saja. Sari memandang semua itu dengan wajah merah padam, entah sebab malu atau sebab nafsunya yang telah naik.

Yang pasti ia diam saja saat Pety duduk di atas meja kerjsaya sementara saya mendekatinya, kurenggangkan kaki Sari sehingga memeknya kelihatan merekah merah tua.Pelan-pelan kusapukan lidahku kepinggir memek Sari, Sari segera mendesah & mendorong kepalaku, saya diam saja malahan kuteruskan jilatanku pada clitorisnya yang bulat itu, Sari merintih rintih kegelian, tanganku tak tinggal diam juga ikut meremas remas susunya yang montok itu.

Sari dengan gemetar meraih kontolku & diremasnya kontolku dengan gemas sekali. Saya juga kasihan melihat Sari yang demikian kebingungan sebab merasakan kegelian yang luar biasa itu, tapi tujuanku sesungguhnya agar ia tak terlalu merasa sakit jika kontolku yang gede itu menembus memeknya.

Segera saja saya mengarahkan kontolku ke liang memeknya yang telah basah kuyup & merekah itu, saat kulihat ujungnya telah terselip diantara bibir memek Sari, pelan-pelan kutekan masuk. Sari menggigit bibirnya sementara tangannya memegang pantatku entah mau menahan atau malahan mendorong, yang pasti kontolku dengan pelan berhasil juga masuk seluruhnya ke dalam liang memeknya.

Memek Sari terasa legit sekali, rasa hangat yang menjepit kontolku membuat saya menggigit bibir sebab enaknya. Tapi seperti yang kuduga, Sari kurang berpengalaman dalam persetubuhan, sebab walaupun kontolku telah mentok menyentuh leher rahimnya, ia diam saja bahkan menutup matanya.Saya berbisik di telinganya agar Sari juga menggerakkan pantatnya, tapi Sari tetap diam saja.

Gerakan kontolku naik turun membuat memek Sari bertambah basah & becek, saya benar-benar kecewa dengan memek Sari ini, rasanya saya ingin mencabut kontolku & berpnovi ke memek Pety yang pasti lebih pulen dibanding punya Sari itu, tapi saya tak mau melukai perasaan Sari.

Dengan agak tergesa-gesa saya mempercepat genjotanku agar saya segera mencapai puncak kenikmatanku, tapi dasar masih belum berpengalaman, tiba-tiba saja Sari merintih keras, sementara kurasakan memeknya mengejang.

Rupanya Sari telah mencapai puncak kepuasannya, badannya berkeringat & kakinya erat melingkar dipantatku. Dengan sebagian sentakan lagi, akupun memuntahkan air maniku yang tertampung dalam kondom yang kupakai. Begitu rasa geli mulai hilang dari ujung kontolku, saya segera mencabut kontolku & kusuruh Pety mengajak Sari untuk keluar dari ruanganku.

Pety tersenyum melihatku, ia tahu bahwa saya kurang puas dengan permainan Sari, pasti nantinya Pety harus bekerja keras untuk mendidik Sari agar tahu selersaya dalam bermain main! Kuingatkan Pety agar tak lupa memberi Sari uang serta memanggilnya lagi untuk masuk kerja.

Cerita Sex – Perjanjian Saling Memuaskan Sex..

Dua tahun yang lalu aku sempat mengerim cerita sex kepada salah satu web dimana ceritaku saat itu berkisah tentang Cerita Sex Pestanya Para Mahasiswi Sange dari cerita itu banyak tertarik dan ada salah satu yang mengemailku katanay dia mahasiswi , di kenal dengan nama Femi dari situ saya dan femi saling tukar cerita satu sama lain soal pengalam mesumnya.

Seingatku kira kra bulan Juni 2015 femi mengechatku dan mengajak kenalan, Akupun mencoba membalasnya sesuai janjiku pada tiap kisah porno yang kukirim, meskipun kalimatnya ala kadarnya yang penting tak mengecewakan bagi pengirimnya.

Apalagi namanya menunjukkan nama seorang cewek, sesampai pasti kuusahakan menyapanya. Cuma dalam tempo 24 jam kemudian, email itu kembali muncul di kotak emailku dan isinya menunjukkan ada keseriusan mau kenalan lebih jauh denganku.

Akupun kian menunjukkan keseriusan mau kenalan dengannya, apalagi sesudah kuketahui kalau dia tinggal tak terlalu jauh jaraknya dari kota tempat tinggalku. Kami cuma beda kota kabupaten, tapi ada dalam satu wilayah propinsi Sulsel.

Balas membalas email antara saya dan Femi boleh dibilang cukup lancar. Bayangkan saja sejak 4 Juni 2015 sampai saat ini, Femi tak pernah alpa mengirim email padsaya dan tentu saja sebaliknya saya tak pernah alpa membalasnya secara otomatis pada saat itu juga.

Sampai-sampai kami membuat kesepakatan untuk buka dan kirim email tiap hari Senin, Rabu dan Jum’at (3x seminggu). Banyak pengalaman dan informasi yang kami tukar. Mulai dari asal usul, pengalaman sex, ciri-ciri dan keinginan sex kami masing-masing serta jadwal pertemuan kami di kota makassar.

Bahkan kami saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami secara jujur, yang akhirnya saya kirimkan foto berkat pengajaran dari Femi soal cara mengirim foto lewat email, sebab saat itu saya masih awam dalam hal kirim mengirim foto lewat email.

Tak kurang dari 25 kali kami saling membalas email, sampai sampai puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2015, di mana kami betul-betul serius mau melakukan pertemuan secara langsung dan sekaligus memperaktekkan tentang pengalaman dan kebutuhan sex kami masing-masing.

Saya tak pernah yakin kalau perkenalan lewat email itu bisa mempertemukan kami secara langsung, apalagi jarak antara kota saya dengan kota tempat tinggal Femi sekitar 200 km lebih.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa janji dan keinginan sex kami bukan cuma isapan jempol dan teori saja, melainkan kami betul-betul berhasil bertemu muka, bahkan melakukan praktek bersama di salah satu wisma di Makassar.

Bahkan kami saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami secara jujur, yang akhirnya saya kirimkan foto berkat pengajaran dari Femi soal cara mengirim foto lewat email, sebab saat itu saya masih awam dalam hal kirim mengirim foto lewat email.

cerita sex selingkuh sama mahasiswi, cerita mesum mahasiswi sange, cerita ngentot memek mahasiswi, cerita perselingkuhan mahasiswi, cerita dewasa mahasiswi, cerita panas mahasiswi, cerita hot mahasiswi terbaru, cerita porn ngentot mahasiswi, cerita perselingkuhan mahasiswi terbaru.

Tak kurang dari 25 kali kami saling membalas email, sampai sampai puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2015, di mana kami betul-betul serius mau melakukan pertemuan secara langsung dan sekaligus memperaktekkan tentang pengalaman dan kebutuhan sex kami masing-masing.

Bagi Femi mungkin tak terlalu sulit menemukanku di terminal sesudah kami janjian ketemu di salah satu tempat di kompleks terminal Panaikan sebab dia telah menerima fotoku lebih dahulu yang kukirim lewat email.

Tapi bagiku menemukan orang yang belum pernah kulihat sebelumnya, apalagi ciri-cirinya tak sempat menjelaskan secara rinci di emailnya, tentu amat sulit, sebab selain saya belum banyak pengalaman di kota Makassar, termasuk di terminal Panaikan, juga terlalu banyak cewek muda yang berkeliaran, apalagi saya belum yakin 100% atas janjinya mau menemuiku di terminal itu.

Tapi saya tetap bertekad untuk ke Makassar siapa tahu bisa jadi kenyataan, kalaupun dia permainkan aku, kuanggap hal itu sebagai pengalaman buatku.

Jam 7.00 pagi saya sudah naik mobil dan berangkat meninggalkan rumah tempat tinggalku menuju kota makassar dengan alasan sama istriku bahwa ada urusan bisnis penting selama sehari di Makassar agar dia izinkan saya berangkat.

Namun sebab berbagai hambatan diperjalanan, maka saya terlambat 1 jam tiba di terminal sebagaimana rencana yang kusampaikan Femi semula. Sebelum saya turun dari mobil tumpanganku, saya tiba-tiba gemetar dan merasa takut jika dia lebih dahulu memperhatikanku dan saya juga diliputi rasa was-wasa jangan-jangan dia mau menjebakku dengan membawa pasukannya atau teman laki-lakinya ke terminal serta berbagai macam dugaan yang muncul dibenakku.

Mata saya mulai membelalak sejak mobil belok ke kanan dan berhenti di depan loket pembayaran retribusi sampai memasuki pelataran parkir. Saya turun dan membayar sewa mobil sambil berusaha tersenyum sendirian dengan perasaan tak menentu jika dia telah memperhatikanku.

Akibat konsetrasiku mencari seorang cewek muda yang sedang bingung mencari seseorang, maka hampir saya kecolongan memberi uang kepada orang lain yang tak kukenal. Untung saja orang itu tak segera mengambil uang yang kusodorkan itu, sebab ternyata yang kuserahkan sewa mobilku bukan sopir mobil itu, melainkan orang lain yang kebetulan mencari muatan buat mobilnya.

Ini gara-gara terlalu gembira mau ketemu dengan seorang cewek yang belum tentu datang ke terminal itu, apalagi bodi dan ciri-ciri pakaiannya belum jelas sama sekali. Kejadian itu pasti tak pernah terlupakan seumur hidupku.

Sekitar 20 m saya bolak balik dari pelataran paling bawah ke pelataran paling atas di terminal itu, bahkan hampir segala warung dan tempat duduk-duduk para penumpang bis saya intip tanpa ada rasa segan, meskipun saya tetap agak malu jika ada penumpang dari kotsaya asalku yang mengenal dan memperhatikanku

Yang bisa saja melaporkan sikapku itu pada istriku nanti. Sesudah capek keliling, akhirnya saya putuskan untuk masuk wartel lalu menghubungi HV-nya, sebab lewat emailku sebelumnya saya telah berpesan agar tak dimatikan HV-nya hari itu.

“Halo, Femi yah? di mana kamu sekarang? saya ini ada di terminal mencarimu sejak tadi” demikian kata saya melalui telepon.

“Halo, betul ini Femi. Saya ada di kampus sekarang lagi makan siang ama teman-teman di warung kampus nih. Tunggu aja di situ yah, saya akan segera meluncur ke sana, tapi tepatnya kamu nunggu di mana yah?” itulah jawaban Femi saat itu seolah menunjukkan keseriusannya mau ketemu denganku.

“Oke sayang, saya akan setdia menunggumu di depan wartel belakang pos pungutan retribusi masuk, sudah ngga tahan nih mau ketemu denganmu” demikian jawaban singkat saya saat itu.

Hampir tiap mobil, terutama petek-petek dan taxi kuamati isinya dan penumpang yang turun jika dia naik kendaraan itu, meskipun sesekali juga kuperhatikan motor yang lewat jangan sampai dia naik motor.

Cuma dalam waktu sekitar 20 menit kemudian, saya tiba-tiba mendengar suara panggilan dari sebelah kiri di mana saya duduk dengan sedikit tertahan, “Halo-halo, eh-eh,” ternyata suara itu adalah berasal dari seorang cewek muda yang sedang menjinjing tas mahasiswa, yang nampaknya diarahkan padaku.

Akupun segera berbalik ke arahnya, namun dia segera berjalan berputar di samping mobil yang ada di belakangku. Walaupun sedikit ragu, tapi keyakinanku lebih besar mencurigai kalau cewek itu adalah Femi yang sejak tadi saya tunggu, saya cari dan saya idam-idamkan selama ini.

Sambil mengikuti langkah kakinya, getaran jantungku kian dag dig dug, dan tiba-tiba dia membalikkan wajahnya sesampai kami berhadap-hadapan dan saling menatap sejenak di tengah-tengah keramaian penumpang yang ada di terminal itu, cuma 30 cm jaraknya.

“Kamu Roni khan” katanya dengan suara yang lembut.

“Yah, dan kamu Femi khan” saya balik bertanya dengan mengarahkan telunjukku pada wajahnya sambil kami tersenyum.

Entah apa yang bergejolak di pikirannya saat itu, tapi yang jelas saya rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya, untung segera kusadari kalau tempat ini dihuni oleh banyak orang, yang tak mustahil ada yang mengenal kami.

Tanpa banyak basa basi lagi, dia segera naik mobil petek-petek dan akupun segera mengikutinya bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Di dalam mobil, kami banyak membicarakan soal ketidakpercayaan kami atas pertemuan ini

Bahkan pengakuannya dia sedikit agak kesal dan hampir putus asa menunggu sejak pukul 10.00 pagi tadi di terminal sesuai informasi yang telah kusampaikan, namun saya berkali-kali minta maaf atas keterlambatan tiba di terminal mobil yang kutumpangi itu.

Dari 2x pindah petek-petek menuju wisma yang telah dia janjikan dalam emailnya, kami tak pernah kehabisan bahan bicara, bahkan kami duduk amat rapat, sesampai anginpun sulit melewati perantaraan duduk kami. Tubuh kami seolah melengket pakai lem tanpa ada perasaan malu sedikit pun dari penumpang lainnya.

Dalam hati saya biar mereka memperhatikan kami toh mereka tak mengenal kami. Kami bagaikan suami isteri yang baru ketemu sesudah sekian lamanya berpisah. Betul-betul saling melepaskan kerinduan. Sekitar 30 m dari wisma yang kami tuju, Femi tiba-tiba menghentikan mobil lalu turun dan akupun mengikutinya.

Maklum saya belum banyak kenal kota Makassar. Meskipun saya tetap selalu berusaha untuk membayar sewa petek-petek tiap turun, tapi selalu saja Femi mendahuluiku atau saya kalah cepat membayarnya. Sebagai seorang pria, akupun merasa berat dan malu, tapi Femi nampaknya betul-betul mau membuktikann janjinya untuk memberikan layanan 100% jika saya datang menemuinya di Makassar.

Rencana pertemuan kami di kota Makassar betul-betul sudah amat matang, sebab kami telah membeberkan kelemahan dan keterbatasan kami masing-masing lewat email, namun kami tetap saling berjanji akan menerima apa adanya, yang penting tujuan kami cuma satu yaitu saling memberi kepuasan sex sesuai kemampuan dan pengalaman serta keinginan kami masing-masing.

Pekerjaan, keuangan dan penampilan, bahkan usia, kami telah sepakat untuk tak mempersoalkannya. Demikian seriusnya Femi mau menyenangkan diriku, sesampai dia siap membantu membayar sewa kamar wismanya dan siap memberikan tubuhnya sepenuh hati buatku serta mengorbankan perasaannya demi kebahagiaanku nanti.

Bahkan kami telah janjian untuk saling menjilati kemaluan dan mencukur bulunya sebelum pertemuan, sampai-sampai dia memberitahukan jadwal tamu bulanannya agar kedatanganku nanti tak bertepatan agar dia dapat melayaniku 100%.

Sebelum kami masuk wisma tersebut, Femi menyempatkan diri membeli aqua besar untuk keperluan dalam kamar nanti. Entah buat minum atau apa saja yang membutuhkan air.

Sesudah membayarnya, Femi meminta saya membawa air itu dan apapaun rasanya diperintahkan oleh Femi saat itu pasti kuturuti sebab keseriusannya melayaniku

Padahal Femi adalah seorang cewek muda, mulus, berkulit putih dan menggairahkan bagiku, apalagi seorang mahasiswi. Sementara saya termasuk sudah setengah baya yang berkulit hitam dan keriput, punya istri dan 3 orang anak lagi.

Siapa tak bahagia dan mangga berteman, apalagi bercinta dengan cewek seperti Femi itu yang ikhlas berkorban untuk kesenangan aku.

“Fem, apa wisma ini cukup aman buat kita? dan apa selama ini ngga sering-sering dirazia oleh petugas?” tanya saya pada Femi saat kami barengan masuk pintu wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya.

“Ngga taulah, sebab baru satu kali saya ke sini sewaktu pacarku membawasaya dengan tujuan yang sama sampai saya tahu tempat ini, dan itupun sudah lama” jawabnya sambil menceritakan soal peristiwa persenggamaannya dengan pacarnya tempo hari di wisma tersebut.

“Mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yang kita khawatirkan” katanya lebih lanjut.

Selesai kami lihat tarif dan kamar yang kosong pada serlembar kertas di atas meja pelayanannya, Femipun membuka dompetnya dan saya usulkan untuk gabung saja biar lebih ringan pembayarannya.

Waktu itu, kami cuma membayar Rp. 55.000 untuk 6 jam, sebab nampaknya kamar lainnya penuh semua, dan kupikir 6 jam itu cukup lama buat kami yang tak rencana menginap. Bisa kami selesaikan beberapa ronde.

Tepat pada jam 2.00 siang, kami telah masuk di wisma yang tak perlu saya sebutkan namanya itu. Sesudah kami bayar, kami lalu naik ke lantai dua mengikuti petugas wisma dan masuk ke sebuah kamar yang dilengkapi dengan air minum, kamar kecil, TV color 14 inc dan sprinbad yang cukup besar ukurannya. Sesudah petugas keluar dari kamar, tinggallah kami berdua dalam kamar.

Femi menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya lalu menutup segala gorden, lalu masuk sebentar ke kamar kecil lalu berbaring di atas rosban dengan pakaian masih lengkap. Sedangkan saya terlebih juga lebih dahulu masuk kamar kecil buat buang air, lalu ikut berbaring disamping Femi.

Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang dan saling mengutarakan rasa kerinduan kami selama ini. Tanpa saya sadar, tangan kananku sudah memeluk tubuh Femi dan Femipun tampaknya tak segan-segan lagi membalas pelukanku, sesampai kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping.

“Saya amat merindukanmu sayang, ingin sekali memelukmu” ucapanku sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sesampai napas kami sudah saling beradu.

“Saya juga amat rindu padamu suamiku, mari kita lepaskan kerinduan kita” jawabnya sambil memasukkan lidahnya dalam mulutku, sesampai kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.

Permainan mulut dan lidah kami berlangsung kian rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Bahkan saya lupa mandi sesuai kesepakatan kami semula ketika kami saling berhadap-hadapan di tempat tidur itu.

Demikian serunya permainan mulut kami, sesampai tak ingin rasanya ada istirahat sejenak dan melewatkan kesempatan sedetikpun dalam kamar itu mumpung masih sempat.

Sambil bermain lidah, saya mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam baju kain Femi sampai masuk ke dalam BH-nya yang ukurannya cukup sederhana. Sebagai seorang cewek yang jam terbangnya dalam dundia sex masih cukup terbatas bila dibanding dengan jam terbangku

Tentu dia tak tahan lama dipermainkan payudaranya, apalagi saya remas-remas kedua payudaranya dengan lembut dan sesekali menindis-nindis putingnya yang mulai mengeras dan menonjol itu. Dia tak mampu lagi sembunyikan kenikmatan yang dia rasakan dan terasa dia mulai terangsang, yang amat kedengaran dari suaranya yang mengerang-erang kecil.

Utungnya tak ada orang yang dekat dengan kamar itu, sebab memang kamar itu berada dibagian paling depan dan disudut wisma sesampai kami leluasa bersuara agak keras sebagai tanda kenikmatan yang kami alami.

“Ngga mau mandi dulu Kak?” katanya mengingatkanku, sebab kebetulan saya keringatan akibat perjalanan jauh dari daerah tadi.

“Nantilah, sesudah kita bermain-main dulu, biar kita lebih lama bercumbu rayu” jawabku sambil tetap memainkan lidah ke dalam mulutnya dan meremas-remas teteknya yang montok itu.

Namun sebab dia nampaknya sudah amat terangsang, dia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahku dari dalam mulutnya lalu duduk sambil satu demi satu dia buka kancing bajunya sampai terlepas dari badannya.

Saya cuma mampu menatap indahnya tubuh seorang cewek mahasiswi. Mulus dan putih, namun sedikit agak gemuk sebanding dengan gemuk tubuhku, meskipun dia sedikit pendek dari ukuran badanku. Warna kulit kami amat kontras sebab kulitnya putih sementara kulitku agak hitam.

Sesudah dia melepaskan baju kain yang dikenakannya, dia lalu kembali berbaring. Akupun melepaskan baju lengan panjang yang kukenakan seperti halnya pagawai kantoran saja. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk.

Kali ini saya menindihnya meskipun dia masih mengenakan BH warna putih, sementara saya masih mengenakan baju dalam. Namun hal itu tak sampai bertahan lama, sebab saya tak tahan lagi mau segera melihat isi dalam BH-nya, sesampai saya lepaskan kaitnya dari belakang lalu meremas-remas secara bebas dengan kedua tanganku

Bahkan segera kujilati dan mengisap-isap putingnya yang agak bulat dan sedikit membesar. Sesampai dia kegirangan seolah ingin teriak ketika saya maju mundurkan mulutku pada putingnya, yang kedengaran bunyinya akibat air liurku yang membasahinya.

Tanpa aba-aba dari Femi, sayapun segera merosot rok panjang yang dikenakannya, lalu kugigit-gigit dan kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar celana dalamnya. Dari luarnya menggambarkan kalau daging yang terbungkus CD-nya itu amat montok dan kenyal serta sedikit mulai basah.

Saya tak mampu lagi bertahan menjilatinya dari luar, sesampai saya segera saja menariknya keluar lewat kedua kakinya. Ternyata dugaanku benar, di antara selangkangan Femi terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya.

Nampah warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih seolah baru saja dicukur bulu-bulunya sesuai permintaanku dalam emailku sebelum pertemuan.

Kini Femi dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua paha yang menjepit daging empuk itu.

Cerita Sex – Fantastis Penis Raksasanya Andre..

Kadang saya sungguh menikamati akan kenyamanan saat ini dalam berkeluarga dari fasilitas yang sudah terpenuhi di rumah, serta suamiku yang pebisnis handal selalu mengegoalkan proyek entah itu dalam negeri maupun luar negeri, tapi juga ada rasa sepinya karena suamiku yang tipe pebisnis juga jarang sekali pulang ke rumah jadi dari itu merasa hambar hidupku.

Saya dan suamiku juga tak bertemu langsung saat pertamanya orang tualah yang memkenalkan Hyman (suamiku) pada diriku diaman saat itu saya masih berumur 23 tahun bisa dikatakan kalau kita ini di jodohkan karena Hyman itu adalah teman bisnis ayah juga dan ayah juga sangat mempercai dirinya untuk menjaga diriku.

Di awal perkawinan, hubungan suami istri kami hanya sebagai formalitas saja, Hyman banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, bahkan hingga umurnya yang telah mencapai setengah abad ini, ia masih sering berada di luar.

Sedangkan di rumah, sering saya merasa kesepian, karena saya belum juga dikaruniai seorang anak yang bisa mengisi kesepianku. Untuk memenuhi hasrat birahiku, saya sering menonton film Blue.

Saya terangsang tiap kali melihat gerakkan penis yang menusuk-nusuk memek. Uuhh.., saya mulai mempermainkan memekku dgn jariku, membayangkan, penis yang panjang & besar itu, menghunjam keras, menusuk-nusuk liang memekku.

Suara-suara melenguh, gerakan-gerakan pinggul, ekspresi muka dari masing-masing pasangan yang begitu mendalami kenikmatan bersetubuh.

Tak henti-hentinya tanganku memain-mainkan klitorisku.., naik.., turun.., naik.., turun.., sambil berputar.., kugerakkan tanganku dgn cepat, sehingga memekku mulai basah & membengkak..,

 “aahhkk..”, walaupun penis itu hanya bayanganku saja, tapi sudah terasa nikmat sekali. Kadang, kugoyang-goyangkan pinggulku.

“aahhkk nikmat sekali..”. Sementara, suara ceplak ceplok terdengar dari TV, gaya dog-style.., “aahh.., aahh.., aahh..”, bercampur-baur dgn lenguhan-lenguhan nikmat.

Saya menikmati segala suara-suara senggama yang keluar dari TV 36 inch-ku itu. “Ssshh.., sshh..”, kugigit bibir bawahku, mendalami khayalku bersenggama dgn penis raksasa, saya merasakan kanikmatan yang makin memuncak.

“aahh.., aahh..”, eranganku membahana menyamai erangan di TV. Kupercepat gerakan jariku, saya tak tahan lagi, sesuatu akan menyemprot keluar dari dalam liang Memekku.

“aahhkk.., ahhkk.., ahhkk..”, otot-otot tubuhku mengejang bagaikan tersetrum listrik ribuan volt.

Alam pikirku terbang ke awang-awang meresapi kenikmatan orgasme. “aahh.., aahh.., niikkmaat sekali..”, kuhela nafas panjang. Kukira sampai disini saja masturbasiku.

Akibat lama-lama bermasturbasi dgn berkhayal disetubuhi oleh penis raksasa, saya jadi ingin betul-betul merasakan nikmatnya penis raksasa. Tapi, penis siapa..?, Sampai pada suatu hari, pertanyaanku itu terjawab.

Hari itu, saya hendak pergi ke Gym, biasa, Fitness. Untuk mempertahankan tubuhku agar tetap langsing & kencang. saya mempunyai supir pribadi yang biasa mengantarku ke Gym, namanya Pak Ariz, orang dari Sorong, Irian Jaya.

Pak Ariz ini telah dipercaya menjadi supir pribadi suamiku selama hampir 10 tahun. Kami mendapatkan beliau dari seorang teman. Pak Ariz ini setia menjadi supir keluarga kami, apalagi dgn gaji $500 per bulan, ia selalu dapat diandalkan. Tetapi pagi itu, kudapati seorang anak muda sedang mengelap mobil Mercy-ku.

“Mana Pak Ariz..?”, tanyaku.

“Pagi bu, maaf, nama saya Andre, saya anak Pak Ariz, hari ini bapak tidak bisa kerja sebab beliau harus menjenguk keluarga kami yang sakit di Bandung, jadi untuk sementara saya gantikan..”, katanya dgn sopan.

Hmm.., anak muda ini.., kuperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.., boleh juga badannya yang gelap & atletis, tangannya yang kekar, dadanya yang bidang dgn bahu yang lebar. Mukanya.., rasanya saya pernah lihat. Hmm.., mirip seperti Baby Face, penyanyi itu. Boleh juga nih, katsaya dalam hati.

“Oke Andre.., kamu bisa antar saya ke Gym..?”, tanyaku.

“Bisa nyonya..”, jawabnya.

Dalam perjalanan, saya bertanya banyak tentang dia. Ternyata umurnya telah 23 tahun, & ia sekarang ia telah menyelesaikan kuliahnya di xxxxx jurusan Teknik Sipil. saya berusaha untuk akrab dengannya. Kadang pada saat saya memulai suatu pembicaraan, saya sentuh bahunya, dia tampak salah tingkah.

Sampai di Gym, saya segera berganti baju dgn menggunakan Bicycle Pents yang pendeknya 2-3 senti dari selangkanganku, & menggunakan baju tanpa lengan yang ketat, menampakkan perutku yang kencang.

Dgn pakaian itu, tubuhku yang tinggi (169/52) & kulitku yang putih (Chinese), serta rambutku yang bergaya Demi More di film Ghost, saya tampak seksi & sportif. Mulailah saya menjalani latihanku.

Selesai Fitness, dgn masih mengenakan pakaian senamku tadi & handuk kecil untuk mengelap keringat, saya berjalan keluar Gym menuju mobilku di areal parkir. Andre yang sejak tadi menunggu di mobil, segera berdiri & membukakan pintu belakang mobil untukku. Lalu saya bilang kalau saya ingin duduk di depan.

Dgn cepat ia menutup pintu belakang, kemudian membuka pintu depan. Ketika itu, lengannya secara tidak sengaja menyerempet toketku, “Ups.., geli..”, ketika lengan itu bersentuhan dgn toketku.

Kulihat Andre jadi salah tingkah. saya tersenyum kepadanya. Kulihat ia memperhatikan bagian bawah tubuhku, ketika saya memasukkan kakiku jenjang & mulus itu, & pantatku ke dalam mobil & mendudukkan pantatku di jok.

Setelah menutup pintu, ia berlari kecil melalui depan mobil ke arah pintu pengemudi. Dari dalam mobil, kulihat bagian atas celana Andre yang menggembung.

Di dalam mobil, kamipun kembali ngobrol. Agar lebih akrab, kularang ia memanggilku dgn sebutan nyonya, panggil saja Lia. Makin lama obrolan kami terasa makin akrab, kadang saya tertawa, mendengar obrolan-obrolan lucu yang menyerempet-nyerempet, & dgn gemas kucubit lengan Andre yang berisi itu.

Kadang kuperhatikan tangannya yang hitam & kekar itu memegang kemudi. Sungguh macho. Suatu ketika, Andre membanting stir ke kanan secara tiba-tiba, ternyata, karena keasyikan ngobrol, Andre tidak memperhatikan sepeda motor yang ada di depannya.

Ketika itu, tubuhku jatuh ke arah kanan, & secara refleks, tanganku jatuh tepat di bagian kemaluan Andre.

“Upss..”, dalam hatiku. Ketika mobil kembali stabil, tak kulepas telapak tanganku di atas celananya itu. Kutatap wajah Andre yang terlihat grogi, salah tingkah, & memerah.

Tiba-tiba, muncul keberanianku untuk mengelus-ngelus “terpedo” Andre yang makin lama membengkak itu. Waahh.., seperti memegang lontong saja, pikirku. Setelah beberapa lama kuelus, tanpa bicara, kuberanikan diri untuk membuka relsliting celananya, kusikap celananya.

Tampak “terpedo” Andre yang begitu ketat dibungkus oleh celana dalamnya, dgn kepala terpedo yang menyembul ke atas CD, seakan berusaha keluar dari sesaknya bungkusan CD itu. Kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya.

Wuuh.., Gede amat, genggaman jari jempol & jari tengahku hampir tak saling bertemu & batang yang sangat keras menegang.

Untuk beberapa saat kuelus-elus penis Andre yang besar itu. mmhh.., tiba-tiba birahiku bergejolak. Segera kutundukkan kepalsaya ke arah penis Andre, & kusibakkan CD-nya. Tampak penis Andre yang hitam, besar & panjang itu & kelilingi oleh rambut yang lebat & keriting.

Seperti di film BF, kujulurkan lidahku ke “kepala” penis Andre. Kujilat-jilat “kepala” penis yang menyerupai “topi Pak tani” itu.

Kumainkan lidahku di sekeliling kepala penis itu & kemudian mengarah ke batang. Kukecup-kecup batang penis yang panjangnya kira-kira 2 telapak tanganku itu.

 “Cup.., cup.., cup..”, Kudengar desahan-desahan nikmat dari Andre yang masih terus memegang setir itu, & itu membuatku terangsang. Segera kumasukkan kepala penis itu ke dalam rongga mulutku. Kusedot-sedot penis itu dgn nafsuku yang sudah meletup-letup. mmhh.., Mhh.., sambil kunaik-turunkan kepalaku.

Penis itu tidak seutuhnya bisa masuk ke mulutku, hanya 1/3 bagiannya saja. mmhh.., mmhh.., enakk sekali rasanya, seperti anak kecil yang sedang dahaga, & dibelikan es krim. Itulah yang kurasakan saat itu, saya dahaga akan seks. Terus kusedot-sedot penis itu, sembari kumainkan lidahku & mulai kukocok batang penis dgn menggunakan tanganku.

oohh.., nikmatnya merasakan penis raksasa ini. Tiba-tiba saya berfikir, “Hei..! mungkin inilah penis raksasa yang selama ini saya idam-idamkan”. Setelah beberapa saat, kulepas penis Andre dari mulutku, & saya kembali duduk tegak, sementara tanganku masih mengocok penis itu.

“Gimana Ndre, Enak?”, tanya saya sambil mengatur nafasku yang sejak tadi tidak teratur.

“Enak Lin, Enak banget..!”, serunya riang.

Setelah beberapa lama membicarakan apa yang telah kami alami tadi, saya berinisiatif mengajaknya ke kamar apartemenku yang belum lsaya tersewa. Sebelum memasuki gerbang apartemen yang di jaga satpam, Andre menutup kembali bagian atas celananya yang terbuka tadi.

Setelah tiba di depan pintu apartemen, kubuka pintu apartemen, & kusuruh Andre untuk menutupnya, sementara saya langsung menuju ke kamar & menyalakan AC Split. Setelah itu, saya berbalik, & ternyata, Andre yang telah melepaskan seluruh bajunya langsung merangkulku & menjatuhkan tubuh kami berdua di Kasur.

Di ciuminya mukaku, dari pipi, kemudian ke bibirku. mmghh.., disedot-sedotnya “bibir bawah”-ku dgn gemas, kemudian dimain-mainkan lidahnya ke dalam rongga mulutku yang terbuka, merasakan keenakan permainannya.

Sementara tangan kirinya memegangi kepalaku, tangan kanannya beraksi berusaha melepas celansaya dgn susah payah. Kusadari kesulitannya membuka celanaku, kemudian kudorong tubuhnya ke arah kanan, & saya berdiri sambil melepas baju & celanaku.

Sambil kulihat Andre yang tanpa berkedip melihatku melepas bajuku dgn pelan-pelan sekali, sehingga tampak kemolekan tubuhku yang putih & masih kencang ini.

Kulihat tubuh Andre yang atletis, dgn bulu-bulu kecil & kriting di dadanya, bentuk badannya yang berbentu huruf V, & bagian kemaluannya yang besar itu, menjuntai, menantang, hitam legam, berbeda dgn tubuhku yang putih mulus, tanpa ada suatu cacatpun.

Setelah semuanya lepas dari tubuhku, segera kujatuhkan tubuhku di atas tubuh Andre. Kukecup bibirnya yang basah, & kumainkan lidahku seperti tadi ia memainkan lidahnya. mmhh.., lidah kami saling bertaut, kumasukkan lidahku & kusedot lidah Andre. mmhh.., Kuelus dadanya yang bidang, kumainkan putingnya.

Andre tampak menikmati kegelian permainan tanganku di putingnya. Lalu, kepalsaya turun ke putingnya, kujilat putingnya, kuisap & kadang kugigit kecil puting Andre yang berwarna hitam gelap itu. Andre sekali lagi menikmati permainanku, tangannya mengusap-usap kepalsaya dgn gemas.

Setelah beberapa saat, di dorongnya tubuhku ke arah kiri, gantian sekarang, putingku yang merah kecoklat-coklatan di isapnya dgn ganas.

“oohh.., nikmatnya.., engkau pandai sekali Andre..”, putingku di kanan di isapnya, & dimainkan dgn lidahnya, sementara toket sebelah kiri di peras dgn tangannya yang kekar itu & dimainkan putingku dgn jarinya. uuhh.., bagaikan terkena listrik arus lemah, geli sekali kurasakan.., tubuhku menggelinjang keenakan.

Selama beberapa menit, kunikmati permainannya yang ganas di toketku. Kemudian, tangannya yang tadi memegang toketku, tiba-tiba beralih mengusap-usap selangkanganku. “aahh..”, saya tersentak & kurasakan aliran darahku bagaikan turun dari kepala.

Oh, usapan lembut itu, sudah lama tak kurasakan dari seorang lelaki. Biasanya suamiku (dulu), sebelum menancapkan batangnya, ia mengelus-elus memekku dgn lembut, sama seperti yang kurasakan saat ini.

Elusan itu lama-lama semakin cepat, memainkan clitoris di selangkanganku. Nafasku terus memburu, mengikuti gerakan jari-jemari Andre yang terus memainkan clitorisku dgn tempo yang makin cepat, sementara mulut Andre belum lepas dari toketku yang semakin menegang & keras.

oohh.., kurasakan kedahsyatan permainan jari-jemari Andre. “aahh.., aahh.., ahh”, desahku begitu dahsyatnya, hingga kurasakan cairan mengalir melalui saluran di dalam kemaluanku. Kucoba kutahan cairan itu keluar.

Tapi tak bisa kebendung kenikmatan yang telah meletup-letup itu & “aahhgg.., aahhgg.., Roonnyy.., aahhgg.., eennaak”, sambil kutahan nafasku, kudalami kenikmatan itu. Kenikamatan orgasme.

Wuuff.., tubuhku yang tadi mengejang berubah menjadi lemas dgn segala peluh di tubuhku, saya berusaha mengatur nafasku sementara, kurasakan kegelian di selangkanganku, kulihat, ternyata sekarang Andre telah mencicipi cairan yang keluar dari liang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat memekku sambil sesekali menyedot-nyedotnya.

“Sssrrpp.., ssrrpp.., seperti tidak mau membersihkan cairan yang tadi keluar dari dalam lubang kenikmatanku. Sambil kurasakan kenikmatan tiada tara itu, pikiranku melayang.., enaknya hidup ini kalau dari dulu saya mengenal anak ini.., saya tidak perlu lagi repot-repot bermasturbasi di depan TV.

Selagi pikiranku melanglang buana, tiba-tiba Andre menimpa tubuhku, & menciumi muksaya dgn lembut.

“Bagaimana Lia, puas..?”, tanyanya sambil tersenyum.

“Wuah.., andaikan kamu dapat merasakan kenikmatan yang saya rasakan sekarang.., tiada taranya.., fantastis!”, kataku.., hey, tiba-tiba kusadari penis Andre yang masih mengeras di antara perutku & perut Andre.

“Ndreee, kamu belum..?”, belum selesai saya berkata, kembali bibirnya memagut bibirku.

mmhh, & kurasakan badannya agak ditinggikan, kemudian tangannya diarahkan ke bawah, & tiba-tiba kurasakan benda yang keras menyumbat mulut memekku. saya mengerti maksudnya. Kunaikan kakiku, merangkul pinggangnya.

Sementara, mulut kami masih saling bertaut, dgn tangannya, ia memainkan kepala penisnya di mulut memekku. Birahiku kembali muncul atas perlakuan yang demikian. mmhh.., saya sudah tak sabar ingin merasakan kenikamatan penis raksasa itu.., katsaya dalam hati.

Tapi Andre masih saja mempermainkan penisnya, & itu membuatku menggelinjang kegelian & perasaanku sudah tak sabar. Kulepaskan pagutan bibirnya.

“Ndre.., ayo.., langsung aja”, katsaya dgn nafas yang tidak teratur lagi. Kemudian dgn tangannya, ia meraba-raba memekku untuk mencari dimana “lubang surga dunia” itu berada.

Setelah menemukannya, segera ia tusukkan kepala “terpedonya” ke lubang itu. Begitu pinggulnya menekan dgn keras, secara refleks (karena sakit..) pinggulku terdorong ke depan.

“Ahh.., Ndree.., pelan-pelan dong..”, kata saya sambil meringis.

Kemudian dicobanya lagi kepada penisnya dicocokkan ke lubang memekku. Kali ini ia mencobanya berhati-hati & pelan.

“oohhgg.., oohhgg..”, kepala terpedo Andre terasa menyesaki lubang kemaluanku, saya mencoba menahan rasa sakit.., rasa sakit yang telah lama tak kurasakan. Kemudian sedikit demi sedikit,

“lontong kulit” itu masuk ke dalam liang Memekku.., sampai akhirnya. “Bleess..”, masuk semua..

“Ooohhgg”, kurasakan kenikmatan.., fantastis.., seluruh batang penis Andre memenuhi liang Memekku.

“Goyang Ndree..”, pintaku. Langsung, Andre menggoyangkan pinggulnya, keluar.., masuk.., keluar.., masuk..,

“Ooohhgg.., oohhgg..” sungguh nikmat, teringat saya akan film BF yang saya tonton dulu.

Goyangan pinggul Andre kubarengi dgn goyangan pinggulku, sehingga terasa penis Andre menggesek-gesek dinding memekku yang rasanya membengkak, sehingga bisa menyedot semua batang milik Andre.

Kurasakan saat itu bukan hanya tubuhku yang bergetar, kasurpun ikut bergetar akibat dorongan pinggul Andre yang kuat, terus menghunjam-hunjamkan penis raksasanya ke liang memekku. Desahan-desahan kenikmatan dari kami berdua bersahut-sahutan.

“Aahhgg.., aahhgg.., aahhgg”, kadang kugigit bibir bawahku saking nikmatnya permainan kami. saya teringat akan film BF yang saya tonton, & saya minta kepada Andre untuk mencoba gaya standing-bamboo.

Kali ini, saya berada di atas, & Andre tidur di bawah. Dgn mudah penis Andre dapat masuk ke liang Memekku, & akupun mulai bergerak naik turun. Andre mengimbanginya gerakanku itu.., “Ooohh nikmatnya”, melihat toketku yang bergerak-gerak seiring pergerakan tubuhku,

Tangan Andre kemudian memegangi kedua toketku, & meremas-remasnya. Sementara itu.., saya merasakan kenikmatan klimaks sudah dekat, saya terus menggenjot dgn cepat.., aahh.., aahh.., aahh.., truss”, Andre & saya saling mendesah, hingga akhirnya saya merasakan kembali tubuhku mengejang, tanganku mencengkram seprei dgn kuat & sekali lagi saya mencapai orgasme.