Cerita Sex – Tempat Kost Laknat..

Sebelumnya aku selalu berharap kepada mas Gilang dimana sewaktu pacaran inign di akhiri dengan jenjang yang lebih serius , tapi apa aku juga gak di lamar lamar oleh dia melainkan aku mendapatkan hal lebih jelek dari apa yang aku inginkan, sumpah aku juga tak tahan seperti ini rasa rasanya juga ingin menyelesaikan hidup ku, aku juga gak tau harus bagaimana , maka dari itu aku mencoba menuliskan kisahku yang benar benar nyata.

Perkenalkan namaku Citra aku sudah menganggpa mas gilang sewaktu pacaran seperti suamiku walaupun kami belum menikah, aku sudah merelakan tubuhku buat dia segala macam kenikmatana aku berikan kepada dia tapi akhir akhir ini dia agak cuek dan tak memperhatikanku.

Berawal dari saat aku dan mas gilang melakukan hubungan badan di kamarku , siang itu aku masih ingat rasa rasanya ada yang mengintip di balik jendelaku dari situlah awal mulanya, mas gilang yang sedang bekerja tidak bisa pulang ke kost alasannya sibuk , aku yang sehabis pulang sekolah langsung masuk ke kamarku kebetulan antara kos laki dan perempuan jadi satu Cuma yang perempuan berada di lantai atas.

Jadi kita seperti serumah gitu dengan mas gilang, badan serasa capek dan ingin segera membarignkan tubuhku, saat tiduran tiba tiba saja aku mendapat SMS dari nomer yang tak ku kenal, isinya intinya gini “hai Citra kemarin aku lihat kalian sedang bermain sama mas gilang kan?? Membaca sms itu aku pun jadi kaget ,siapa ini dan maksutnya apa”??

“maaf kamu siapa , aku bales seperti itu. Dia cepat sekali membalasnya.

“jika ingin tau kamu turun saja, dan jangan tau siapa siapa kalau kamu kasih tau video yang ada di HP aku akan aku sebar,

“hmmm video apaan , apa saat berhubungan dengan mas gilang kemarin itu yang dia maksut”

Tubuhku langsung gemetaran, mungkin wajahku juga pucat. Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku mencoba tenang, lalu ku balas smsnya lagi, ‘Mau kamu apa sich?’. ‘Saya di kamar nomor 14, cepetan’, cuma itu isi dari smsnya.

Sedikit penasaran aku akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kamar kost ku dan coba turun ke bawah. Dengan langkah yang sedikit berat karena aku ketakutan, aku memaksakan diri mencari kamar nomer empat belas tersebut.

‘Tok tok tok’, aku mengetuk pintu kamar kost nomor empat belas itu, lalu segera saja dibuka, dan tampak seorang pria berdiri di dalam mempersilahkanku masuk. Wajahnya aneh, berperawakan kurus kerempeng, dengan kacamata tebal, kulit putih dan rambutnya yang sedikit kribo, seperti seorang kutu buku. Aku tidak begitu mengenalnya, namun aku pernah melihatnya berseragam anak kuliahan. “Masuklah…”, katanya sambil tersenyum, lalu pintu ditutup dan dikuncinya.

“Mau mu apa?”, aku bertanya langsung.

“Tenang… Santai dulu… Duduk gih…”, katanya sambil menunjuk ke arah kasur. Kamarnya sedikit berantakan, tidak ada tempat duduk selain berduduk di kasurnya.

Aku pikir kalau dia macam-macam, aku bisa melawannya, apalagi tubuhnya kerempeng begitu, aku juga bisa saja teriak minta tolong.

“Nama aku Putra…”, dia memperkenalkan diri sambil ingin berjabat tangan denganku. Aku menghiraukannya, aku berjalan ke arah pintu sambil berkata,

“Kalau ga ada urusan, aku pergi…”.

“Eits, tunggu dulu… Justru itu yang mau aku bicarakan denganmu…”, katanya coba menahanku.

Aku sedikit bingung, ia bergegas mengambil laptopnya lalu dinyalakan, “Aku mau upload video, makanya aku mau minta ijin kamu dulu…”, katanya semakin membuatku tambah bingung.

“Sini…”, pintanya agar aku mendekatinya, lesehan di lantai samping kasurnya itu, ia mulai mengutak-ngatik laptopnya itu, kuperhatikan apa yang ingin ia tunjukkan padaku.

Sangat kaget bagiku, ia membuka sebuah folder yang penuh dengan daftar video, sekilas kubaca judulnya merupakan video-video porno bertuliskan nama berbau Jepang. Lalu discrollnya hingga ke bawah dan diklilnya satu file yang membuatku hampir pingsan melihat itu. “Darimana lu dapat?!”, tanyaku keras.

 “Boleh ga saya kirim?”, tanya Putra.

“Hapus ga lu?!”, perintahku.

“Hahaha, enak saja…”, jawabnya membuatku sangat-sangat marah, ingin sekali aku melempar laptopnya itu. Video yang ia tunjukkan itu adalah video hubungan seks ku bersama Mas Gilang.

“Aku pengen lu layani aku, atau aku sebarin video ini…”, ancam Putra. Sial pikirku, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin melayani pria cabul ini. Putra senyum-senyum sambil memainkan alisnya naik turun sehingga kacamatanya ikut bergerak.

“Tapi mas…”, aku coba menjelaskan. Sungguh gawat jika Putra menyebarkan video itu. “Saya banyak soft copy nya, kamu tak perlu cari cara buat ngelak deh…”, jelas Putra semakin membuat aku kebingungan.

“Saya beli saja semua copyan mu itu…”, tawarku mencoba membujuk Putra. “Hehehe, lu mau bayar berapa duit? Aku cuma butuh kehangatan…”, ujarnya.

Aku pun sangat terpaksa. “Di siang bolong gini?”, tanyaku. “Tenang aja cantik, lu cukup nyepongin aku aja kok…”, balas Putra. Aku tidak punya pilihan lain, aku coba melihat sekitar, kamar Putra tertutup rapat.

“Tenang aja, rahasia lu bakal aku jaga baik-baik…”, kata Putra sambil membuka resleting celananya dan mengeluarkan kontolnya.

Astaga, luar biasa besar dan panjang, tidak sebanding dengan tubuhnya yang kurus kerempeng, bahkan kontolnya lebih besar dari milik Mas Gilang yang bertubuh tegap sedikit kekar.

“Oke, cepetan ya”, jawabku resah ingin cepat-cepat pergi dari kamar ini. Putra pun segera duduk di ranjang, sedangkan aku berlutut di depannnya. Lalu perlahan ku kocok kontolnya itu dengan tanganku. Besar sekali dengan dihiasi urat-urat besar di sekelilingnya.

“Cantik banget lu kayak artis saja…”, puji Putra sambil membelai rambutku.

“Eits, apa-apaan ini?”, aku terkaget setelah beberapa menit mengocok kontolnya, ternyata sedari tadi Putra merekam ku dengan menggunakan hp. “Tenang aja cantik, ini aku simpan buat pribadi…”, jawabnya.

“Ga!”, jawabku sambil melepaskan tanganku dari kontol besarnya. Ia pun tampak cemberut, ia menjawab dengan nada sedikit mengancam,

“Ini buat koleksi pribadi! Kalau video yang tadi itu buat konsumsi umum!!!”. Mendengar itu aku kembali lemah, tidak ada yang bisa kuperbuat kecuali kembali mengocok kontolnya.

“Nah gitu dong…”, kata Putra. “Kalau kamu sudah putus dengan pacarmu itu, Mas Putra siap jadi cadanganmu… Hehehehe”, lanjutnya sambil kembali mengambil video saat aku tengah mengocok kontolnya dengan tangan.

Aku masih sedikit jijik jika harus menyepongnya. Semoga Putra bisa segera berejakulasi sehingga aku tidak perlu menyepongnya.

Sekitar lima belas menit, Putra belum juga berejakulasi. Dan tampak dia sudah tidak tahan, ia kemudian menjambak rambutku dan menarik kepalaku hingga mengentuhkan wajahku ke kontolnya. Aku memang sudah tahu apa yang dia inginkan. Aku pun terpaksa membuka mulutku, dan membiarkan kontol besar itu masuk ke dalam mulutku.

“Ahhh….”, desah Putra merasakan nikmat. Aku perlahan menyepongkan kontolnya itu. Kontolnya besar sehingga memenuhi semua rongga mulutku.

Putra sangat menikmatinya, tampak matanya merem merasakan hangat dan nikmat di kontolnya. Sesekali ia mengecek hp nya agar tidak salah menyorot ke arah kontolnya.

Sungguh membosankan, aku harus menyepong kontol seseorang yang tidak ku kenal, apajadinya jika Mas Gilang tahu dengan keadaanku. Sudah masuk ke menit tiga puluh, tampaknya Putra sudah mulai masuk ke klimaks, ia tampak menggigit bibir atasnya, tangan satunya tetap memegang hp untuk menyorotiku namun satu tangannya sudah mencengkram kepalaku, ia kemudian mengejang, dan akhirnya ia berejakulasi dengan posisi kontolnya masih tertancap di mulutku.

Aku tidak bisa melepasnya, tangannya mencengkram kuat kepalaku, hingga seluruh spermanya memenuhi mulutku, amis, aku sangat jijik, terasa mual ketika Putra memaksaku untuk menelan semua sperma yang ia semprotkan itu.

Perlahan ku rasakan kontolnya mulai melemah. Mengecil, lalu Putra menariknya lepas dari mulutku, cairan putih meler dari samping bibirku. Aku segera melapnya, ingin sekali cepat-cepat pergi dari sini. Putra bangkit sambil merapikan celananya kembali, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya,

tugasku selesai, Putra mempersilahkanku keluar,

“Terima kasih”, katanya ketika aku menuju pintu itu. Sungguh rendah rasanya, aku merasa ternoda, apalagi Putra berpesan,

“Lain kali ke sini lagi ya kalau aku minta…”.

Hari itu aku sangat lelah, lelah pikiran dan perasaan. Aku putuskan untuk beristirahat, ketika Mas Gilang pulang, entah apa harus aku menceritakannya atau merahasiakannya. Aku tidak berani, aku sempat berpikir harus pindah kost, namun ku pikir ulang mungkin Putra akan mendapatkan alasan untuk mengirim videoku di dunia maya ke seluruh jagat raya ini.

Ku coba tenangkan diri dan tidur di sore itu. Hingga malam aku terbangun, baru saja jam 19:45, aku mendengar suara sms, entah itu dari Mas Gilang atau Putra. Aku sedikit ogah untuk membukanya, namun kembali terbesit ancaman Putra yang akan mengupload videoku, aku pun terpaksa melihat sms itu.

Benar, itu sms dari Putra. ‘Sini donk’, isi sms itu. Aku kembali bingung, apa yang harus aku lakukan, dengan perasaan penuh dengan keterpakaaan aku pun turun ke lantai bawah.

Kost kami sedikit bebas dikarenakan pemiliknya jarang ke sini. Pikirku daripada Putra nekad mengupload video itu, lebih baik aku menurutinya saja. Aku pun sampai di depan pintu kamar Putra. Dan ku ketok, Putra sudah menantikan kedatanganku.

Pintu terbuka, hanya Putra sendiri saja di dalam sana, ia sudah siap dengan hanya mengenakan sehelai handuk, tubuh kurusnya yang masih basah menunjukkan sepertinya ia baru selesai mandi.

“Citra cantik banget malam ini…”, katanya. Aku sebenarnya risih sekali,

“Cepatlah, Citra mau istirahat..”, balasku. Putra langsung saja mengunci pintu kamar.

“Ayo lepas semua!”, perintahnya memintaku membuka pakaianku.

“Loh, Citra ga bisa! Cukup sepong saja!”, aku menolaknya.

“Ya sudah…”, balas Putra lalu membuka kunci pintunya kembali, “Silahkan kembali ke kamarmu…”, dengan nada sedikit mengancam membuatku ketakutan.

Sial, aku tidak bisa berbuat apa-apa, hatiku bergejolak kuat, ingin rasanya aku menangis. “Tapi…”, kataku.

“Terserah maunya gimana…”, kata Putra. Air mataku mulai mengalir, sungguh hina diriku, barusan tadi siang aku sudah merendahkan diriku untuk menyepongkan kontolnya, kali ini dia meminta lebih.

Takut video ku disebarkannya di internet, aku pun dengan sangat-sangat terpaksa memohon, “Tapi jangan apa-apai aku ya…”, kataku.

“Aku kan suruh lu buka pakaian!”, jawab ketus Putra, sepertinya dia jengkel denganku.

“Baiklah…”, jawabku, lalu Putra kembali mengunci pintu kamarnya diikuti diriku yang mulai melucuti pakaianku sendiri.

Wajah Putra terlihat kegirangan, dengan senyum cabulnya ia berkata, “Semuanya…”, aku pun terpaksa membuka bra beserta celana dalamku. Putra berjalan mendekat, kulihat handuknya sudah sedikit terangkat karena kontolnya yang mengeras.

Ia menelan ludah sambil melihat tubuhku secara mengeliling. Aku sedikit menutupi tubuhku dengan tanganku, Putra mencoleknya, dari pinggang, punggung, paha hingga dada dicolek-coleknya.

“Hehehe”, ia cengesan sambil memperhatikan tubuhku. Saking sibuknya ia berkeliling memperhatikan tubuhku, handuknya terjatuh, dan terpampang jelas lah kontol besarnya itu.

“Dadamu masih segar ya…”, dicuil-cuilnya seperti mencolek puding, Putra sangat tertarik dengan susuku yang putih dan masih cukup kecil ini, dengan puting yang masih sedikit kemerahmudaan, Putra semakin tertarik hingga berkali-kali menelan ludah. Lalu ia juga mencolek-colek selangkanganku, jembutku yang masih sedikit jarang itu pun dibelai-belainya.

Aku sudah mulai terbiasa menerima perlakuan ini, aku sudah tak mungkin berbuat apa-apa lagi, hanya membiarkan Putra menikmati tubuhku ini. Semakin dekat ia memandang, akhirnya dia pun memberanikan diri menjamah susuku,

“Wuuih kenyal banget…”, kata Putra dengan perlahan. Hingga kedua tangannya ku biarkan meremas-remas kedua belah payudaraku itu.

Beberapa menit meremas dadaku sepertinya Putra sudah mulai bosan, ia pun kemudian memelukku, dadanya mengenai susuku, dan kontolnya pun mengeras dekat selangkanganku. Putra lalu menciumi bibirku, aku sedikit jijik, namun apa boleh buat, aku harus merelakan bibirku disentuh bibirnya daripada aku harus merelakan tubuhku dilihat semua orang di dunia maya. Apalagi aku tahu, Mas Gilang seorang polisi, itu akan menjadi aib baginya jika video kami tersebar.

Putra melahap bibirku seperti orang yang kerasukan, kurasakan ludahnya sudah banyak masuk ke dalam mulutku. Ia memelukku erat, hingga ia benar-benar tidak tahan lagi. Ia kemudian mendorongku jatuh ke kasur, Putra segera menindihku, lalu kembali menciumi bibirku hingga beberapa saat hingga kemudian ia melahap susuku.

Aku mulai takut ketika Putra mulai membuka kakiku, ia mulai menjelajahi liang memekku dengan jarinya. Aku mulai menangis karena aku ketakutan, sesuatu yang harus kujaga kini menjadi mainan Putra, jarinya mulai menusuk hingga ke lubang memekku. Aku merasa kotor, walaupun aku sudah memberikan tubuhku pada Mas Gilang, namun aku tidak terima harus diperlakukan secara begini.

“Jangan…”, aku mencoba mendorong Putra, karena ia sudah bosan mengoral memekku dengan jarinya setelah beberapa menit. Putra sudah mulai mengarahkan kontolnya ke memekku, tentu saja aku ketakutan, aku mencoba melawan. Air mataku mulai menetes karena aku tidak mampu melawan Putra, walau pun tubuhnya kurus, namun tindihannya kuat, aku tidak bisa bergerak.

“Tolong jangan….”, aku memohon dengan terisak-isak. Air mataku terus mengalir. “Hmm, pakai kondom aja deh kalau Citra takut…”, katanya lalu ia bangkit dan mencari kondom di laci mejanya.

Antara ketakutan dan sedikit lega, paling tidak Putra tidak bisa menghamiliku jika ia menyemprotkan spermanya di dalam liang memekku. Setelah memakai kondom tersebut, Putra langsung saja kembali menidihku, aku hanya terdiam, kututup mataku, aku tidak bisa berpikir apalagi yang harus aku lakukan, kecuali pasrah membiarkan Putra menyetubuhiku hingga ia puas.

Putra mulai memasukkan kontolnya yang terbalut kondom le dalam memekku, sedikit sakit, sepertinya ukuran kontol miliknya sedikit merobek dinding memekku.

“Aaaargggggghhhh….”, rintihku kesakitan. Putra pun terlihat menikmatinya, dengan senyum cabulnya ia mulai menggerakkan bokongnya hingga kontolnya terasa memompa di dalan liang memekku.

Air mataku tidak berhenti menetes, sakit terasa hatiku bagai disiram air comberan, aku resah, aku malu, aku merasa jijik. Aku membiarkan tubuhku bergerak mengiringi gerakan genjotan Putra.

“Tubuhmu nyaman sekali say…”, puji Putra sambil mendesah di telingaku. Aku tidak bisa sabar lagi menunggu waktu, sudah cukup lama dia menggenjotku. Mungkin sudah satu jam lebih aku berada dalam kamar kost ini.

Tubuh ku lelah terus-terusan digenjot Putra yang sedari tadi belum berejakulasi. Mungkin dia telah meminum obat kuat sebelum memaksaku ke sini.

Pikiranku sedikit berkunang-kunang. Aku akhirnya terlelap sebentar tak merasakan lagi sakitnya dinding memekku yang ditusuk kontol besar Putra. Mungkin hanya terlelap sekitar tiga puluh menit, aku terkaget karena Putra masih belum selesai menyetbuhiku, dan saking kagetnya ada sosok seorang pria yang berdiri di samping sambil menonton.

“Apa-apaan ini?”, tanya ke Putra. Dia hanya tersenyum, lalu ku perhatikan wajah pria itu, ternyata dia adalah Deki, pria yang kost di samping kamar Putra.

“Dia sudah bangun Put”, kata pria itu kepada Putra sambil menonton Putra menyetubuhiku.

Hatiku benar-benar hancur, kini ada seorang pria lagi yang sudah melihat tubuhku ini. “Baguskan, masih fresh…”, kata Putra. Aku pun mulai kembali berlinang air mata, entah apa dosa ku hingga diperlakukan seperti ini. Putra juga entah telah menggunakan obat apa yang membuatnya bisa setangguh ini.

“Lu mau cobain ga bro?”, tanya Putra kepada Deki. Aku segera menutupi kedua buah susu ku yang kecil dengan tanganku, sambil menangis aku menggeleng-geleng, berharap Deki tidak termakan ajakan Putra.

Sambil menepuk pundak Putra, Deki pun berkata, “Lain kali bro, aku capek hari ini, tadi kerjaan banyak…”, lalu ia keluar dari kamar kost.

Syukurlah, aku sudah tidak kuat sekarang, hanya bisa menunggu Putra menyelesaikan kemauannya. Aku kembali mengistirahatkan badanku kembali membiarkan Putra melanjutkan genjotannya hingga beberapa menit, dan Putra pun berhasil berejakulasi dengan menyemprotkan spermanya dalam kantong kondom yang ia kenakan.

“Hehehe, jangan kapok ya layani aku…”, kata Putra lalu menarik lepas kontolnya dari memekku. Aku ketakutan, badanku gemetaran, tanpa banyak bicara aku segera mengambil pakaianku dan mengenakan kembali.

Dengan tergesa-gesa aku pun meninggalkan kamar itu, kamar laknat, aku takut penghuni kost mengetahui kejadian ini, sudah cukup Putra mengerjaiku, aku takut Deki juga meminta bagian.

Putra tersenyum melihatku gelagapan pergi meninggalkan kamar kostnya. Aku segera balik ke kamar dan mandi. Aku jijik dengan diriku ini. Besok mungkin aku harus menyiapkan rencana untuk pindah dari kost ini, bahkan kalau bisa harus pergi dari kota ini sebelum Putra kembali mengerjaiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s