Certa Sex – Kenikmatan Yang Belum Pernah dirasakan..

Waktu aku bersih bersih dikamar aku menemukan surat milik Lisna dimana saat aku baca membuat hati dan pikiranku menjadi merinding, surat itu dari seoarang janda yang bernama Salma, surat itu isinya tentang permintaan janda muda Salma yang ingin berhubungan badan dengan Lisna, wah ternyata aku baru tahu kalau Lisan teman sekamarku itu lesbian.

 “Aku nggak tahan lagi, Lisna. Sudah lama hatiku kering, dan aku merindukan pelukan yang hangat dan mesra. Tapi, aku nggak mau ambil resiko. Jadi aku rasa aku mau menuruti tawaranmu. Malam ini rumah induk sepi. Aku tunggu kau di kamarku jam tujuh.” Begitu penggalan surat Salma.

Jam tujuh kurang seperempat. Aku sudah siap di kamar Bella, sebelah kamarnya Salma. Beruntung, karena dua hari lalu ketika Bella hendak pulang dia menitipkan kunci kamarnya ke aku. Segera aku cari tempat yang strategis buat ngintip suasana kamar Salma. Pas! Ada lobang angin-angin yang menghubungkan kamar Bella dan kamar Salma. Dan dengan mudah dan jelas aku bisa mengintip ke kamar Salma.

Salma sedang duduk menyisir rambutnya di depan meja rias. Wajah ayunya dihiasi dengan senyum. Matanya yang sayu berkali-kali memandangi jam dinding. Benar juga, nampaknya Salma menanti seseorang. Jam tujuh kurang lima menit. Tok.. tok.. tok..

“Salma.. ini aku, Lisna.”

Salma membukakan pintu kamarnya. Nampak Lisna tersenyum manis sambil menyapa,

“Hai!”. Busyet! Kayak ngapel ke rumah pacar saja, batinku.

Lisna segera masuk dengan mengunci pintu kamar. Dipandanginya wajah Salma sesaat. Dibelainya wajah halus Salma yang tanpa cacat. Tapi nampaknya Salma sudah tak tahan lagi. Segera diburunya bibir Lisna.

Kedua bibir yang sama-sama mengenakan lipstik itu saling melumat dan menghisap. Bisa kubayangkan lidah-lidah mereka yang bertarung mengganas. Tangan-tangan mereka saling meremas dan memeluk kepala pasangannya. Salma menghisap kuat-kuat bibir Lisna, dan Lisnapun membalasnya dengan menggigit bibir atas Salma.

Lisna segera melepaskan daster yang dikenakan Salma, dan kemudian kembali mereka bercumbu. Daster itu meluncur turun meninggalkan tubuh Salma yang kini tinggal berlapis BH dan CD tipis. Begitupun yang dilakukan Salma. Dilepasnya tali kimono Lisna hingga nampak tubuh Lisna yang berbalut lingerin hitam.

“Wah, bagus banget!” seru Salma ketika melihat lingerin yang dikenakan Lisna. Bagus apaan! Menurutku lingerin itu menjijikkan. Warnanya hitam lagi transparan, dan cuman menutup payudara Lisna sampai diujung saja. Hingga kedua gumpalan payudara berukuran 36 itu bagai ingin melompat keluar. Pakai lingerin atau bugil, kayaknya sama saja.

“Aku ingin hanya diriku yang kau puji sayang.. bukan lingerin ini.” kata Lisna merajuk.

“Iya deh..” kata Salma kembali memburu bibir seksi Lisna.

Bibir mereka kembali bergumul. Tangan Lisna menyusup masuk ke balik CD Salma. Perlahan-lahan diremasnya kedua pantat kenyal Salma.

“Aah..” desis Salma keenakan.

Lisna semakin ganas meraba-raba Salma hingga kemudian melepaskan pengait BH Salma. Penutup dada Salma itu mengendor lalu terjatuh. Ciuman Lisna turun ke leher dan dada Salma. Tak disia-siakannya setiap inchi dada Salma yang mungil.

Dicumbuinya penuh nafsu hingga ke perut lalu berhenti sebentar di pusarnya dan kemudian naik lagi hingga kembali ke bibir Salma. Diperlakukan seperti itu Salma mendesis-desis penuh birahi,

“Lisna.. ashh..ehmm..”.

Lisna mendorong Salma terlentang di atas kasur dan menindihnya. Ciuman Lisna kembali menurun hingga ke dada Salma. Diciuminya kedua bongkahan gunung kembar Salma yang sudah menegang. Putingnya berwarna kecoklatan menantang. Tanpa malu ladi dimasukkannya salah satu puting itu ke dalam mulutnya.

“Uagghh.. Lisna.. ahh.. terus.. say..” gumam Salma meremas rambut Lisna yang cepak.

Lisna meremas-remas buah dada yang baru saja dikulumnya itu. Dan sekali-kali diplintirnya putingnya hingga membuat Salma bergelinjangan.

Dan kemudian dihisapnya kuat-kuat. Sedang telapak tangan kirinya menekan kemaluan Salma yang masih dilapisi oleh CD.

“Lisnaa..” teriak Salma menghentak-hentak keasyikan.

“Hmm.. ehm..” gumam Lisna keenakan. Tak dipedulikannya erangan Salma. Kedua bukit kembar Salma digarapnya bergantian. Dikenyot-kenyotnya payudara Salma yang sudah bengkak benar bagai bayi yang amat kehausan. Salma yang sudah lama tak merasakan kenikmatan itu bagai menikmatinya dengan sepenuh hati.

Kupalingkan muka sejenak, karena tak tahan dengan libidoku sendiri yang mulai terbakar. Keringat dingin yang menetes di dahiku. Tapi aku segera kembali mengikuti permainan itu, nggak ingin rasanya tertinggal sedetik saja.

Lisna segera merosot satu-satunya CD yang melekat di tubuh Salma yang terlentang di ranjang hingga janda muda itu bagai bayi yang baru terlahir. Kemudian Lisna berdiri di hadapan Salma yang mengerang pasrah.

“It’s show time.” kata Lisna.

Salma terdiam memandangi Lisna yang mulai melucuti lingerinnya. Kain tipis itu meluncur turun meninggalkan tubuh Lisna yang bugil total. Nampaklah dada Lisna yang membusung bengkak menggemaskan, juga bukit kemaluannya yang licin tanpa bulu.

Lisna mulai meremas-remas buah dadanya sendiri, membangkitkan gairah Salma hingga pada titik puncaknya. Diremasnya kedua payudaranya dengan gerakan memutar hingga kedua gunung kembar itu bergoyang-goyang menantang.

Dan bagai iklan sabun Lisna membelai tubuhnya sendiri, dari dada.. perut.. hingga kemaluannya yang gundul. Tubuhnya meliuk-liuk lalu menungging membelakangi Salma dan memamerkan kesekalan bokongnya kemudian menyibak lorong kecil yang merah merekah.

Nampak liang kawin Lisna yang berlumuran lendir putih kental. Lisna memasukkan jemari telunjuknya ke dalam liang kawin itu. “Aagh..” desah Lisna pelan. Lalu ditariknya telunjuk yang telah basah itu. Kemudian dijilatnya dengan mata sayu menatap Salma. Oh, Batara Kala.. jangankan Salma, akupun merasa terbakar gairah.

Salma segera memburu Lisna. Dalam keadaan berdiri diterkamnya kedua payudara Lisna secara bergantian sedangkan tangannya mengerayangi setiap lekuk kemaluan Lisna yang telah basah betul.

“Sall.. ough..” desah Lisna sambil mendekap kepala Salma erat. Dengan buas Salma melakukan pembalasan atas semua lumatan Lisna.

“Aaagghh..” pekik Lisna ketika Salma menghisap puting payudaranya sekuat tenaga.

Lisna berkelojotan ambruk di kasur. Salma menindihnya dan terus melumat buah dada Lisna yang bagai mau meledak. Kedua kaki Lisna menyilang bagai mengunci tubuh Salma. Jemari Salma kembali beroperasi di sekitar kemaluan Lisna.

“Sal.. ayo.. masukkan Sal.. aghh..” ujar Lisna sambil mengacung-acungkan sebatang dildo kepada Salma. Salma mengerti apa yang Lisna mau. Maka Salmapun segera memasukkan dildo itu perlahan-lahan pada memek Lisna.

“Ee.. eghh.. ehh..” Lisna mengedan sebentar lalu, krak! nampaknya selaput dara Lisna semakin sobek saking kerasnya sodokan Salma.

“Aagh.. brengsek..!” pekik Lisna ketika Salma menghunjamkan dildo itu seluruhnya ke dalam memek Lisna. Agak sakit mungkin, karena sebelumnya Lisna selalu melakukannya dengan perlahan-lahan dan tidak sepenuh itu. Tapi sodokan yang keras dan cepat itu memberikan kenikmatan yang belum pernah Lisna rasakan.

“Tenanglah Lisna.. nanti pasti enak..” kata Salma sembari menggoyang-goyangkan batang dildo yang tinggal dua senti itu. Dan benar saja, tubuh Lisna terguncang-guncang nikmat. Peluh membanjir di seluruh tubuhnya yang terkulai lemas.

Kelincahan tangan-tangan Salma yang menggoyang tubuhnya sambil terus meremas-remas payudaranya membuat Lisna tak tahan lagi.

“Sal.. aku keluar nih.. eghh..” Lisna mengedan sebentar lalu terkapar lemas.

Salma segera menarik dildo dari memek Lisna. Dildo itu berlumuran cairan kawin Lisna yang membanjir. Salma berbaring di samping Lisna dengan wajah kecewa.

“Makasih ya, Sal. Aku puas banget.” kata Lisna

“Lisna, kamu curang. Aku kan belum selesai.” ujar Salma kesal.

“Iya, tunggu sebentar say.. biar aku pulihkan tenaga.” jawab Lisna membelai wajah Salma.

Salma hanya diam, tapi roman mukanya kurang sedap. Karena merasa tak enak hati, maka Lisna kembali membelai-belai payudara Salma. Salma memandang Lisna degan mata sayu, kemudian di belainya kemaluan Lisna yang masih basah.

“Hik.. kik..” Lisna mengikik kegelian sedang Salma tersenyum-senyum menikmati rasa dingin yang menyiram tubuhnya yang ditimbulkan dari gelitikan jemari Lisna di kedua puting susunya. Lisna meraih batang dildo yang tergeletak tak jauh darinya lalu menyodorkannya ke wajah Salma.

“Ayo jilatlah sayang..” bisik Lisna.

Walaupun sedikit jijik, Salma menuruti keinginan Lisna. Dijilatinya ujung dildo yang masih basah oleh lendir kawin Lisna itu. Pikiran Salma melayang pada Bas, mantan suaminya. Maka dengan ganas dijilatinya ujung dildo itu bagaikan menjilati penis Bas yang luar biasa besarnya.

Walaupun belum pernah melakukannya sebelumnya, tapi nampaknya Salma sangat menikmatinya. Apalagi jemari Lisna mengutak-atik isi kemaluannya. Menyusuri lorong sempit di antara rimbunan belantara dan menyentil-nyentil daging kecil yang tumbuh diantara goanya.

“Ough.. Lisnai..” Salma menumbruk Lisna dengan liar. Namun Lisna lebih cepat membantingnya, hingga posisinya kembali berada di bawah kendali Lisna. Lisna segera mengambil posisi 69.

“Ayo Sall.. kamu makan bagianmu, dan aku makan bagianku yach..”

Terhampar di depan Lisna sebidang hutan nan lebat yang telah basah dan becek. Jemari Lisna ikut membantu menyibak belukar basah itu. Lidahnya menjulur melintasi semak belukar hingga masuk ke mulut goa.

Lidah itu menyusuri goa itu hingga kemudian menjilati ujung daging kecil yang tersembul merah dan kenyal. Dihisapnya hingga daging kecil itu mengembang hingga membuat Salma yang sibuk dengan vagina Lisna mendengking tertahan,

“Achh.. ehmm.. eennaakk..”

Tak tahan dengan rangsangan Lisna yang begitu dasyat, Salma menggigit-gigit kecil vagina mayora Lisna. Lisna pun mendengking perlahan,

“Ough.. Sal.. sakit..”

Dan secara bersamaan tubuh keduanya menegang dan..

“Uachg..!” Suurr.. lendir-lendir kenikmatan mereka mengalir dengan deras. Salma merintih dalam nikmat. Lalu keduanya saling menjilat seluruh cairan kental itu hingga tandas. Rasa nikmat yang tercipta seakan ikut terasa olehku. Akupun merasa ada cairan basah yang menetes dari kemaluanku.

“Lisna.. ayo masukkan penisnya.. sebelum aku keluar..” perintah Salma. Lisnapun segera meraih dildo dan membenamkannya ke dalam memek Salma. Namun memek Salma tak selebar milik Lisna, hingga Lisna harus perlahan-lahan menyodokkannya.

“Engh.. terus Lisna..” pekik Salma yang terdiam menikmati sodokan Lisna.

Perlahan batang dildo itu amblas dimakan oleh memek Salma. Janda itu menangis merasakan kenikmatan yang lama tak terasakan itu. Lisna bangkit dan segera mengocok dildo yang bersarang di memek Salma.

Gerakannya yang ritmis membuat Salma terantuk-antuk. Ranjang itu berdecit-decit seakan bersorak atas rasa puas yang dirasakan oleh Salma. Dan untuk kedua kalinya Salma mengalami orgasme yang nikmatnya tiada tara.

Aku berpaling dan menjauh dari lubang pengintipanku itu ketika Salma menangis bahagia. Dan Lisna memeluknya mesra seraya berkata, “Salma, mulai sekarang akulah milikmu. Kau tak sendiri lagi karena aku akan selalu sayang padamu. Maukah kau menjadi kekasihku, Salma?” Dan Salma pun menangis di pelukan Lisna.

Kubasuh peluh yang mengalir di keningku dan juga airmata yang membasah di pipiku. Akupun segera meningalkan kamar Bella. Malam itu di kamar Salma, aku mendapati pengalaman yang tak mungkin terlupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s