Cerita Sex – Perawan Nikmat Nyamy…

Cinta pertama tak pernah mati, apalagi bila cinta itu tumbuh saat masa kanak-kanak atau remaja. Kesederhanaan kala itu justru menjadikan pengalaman masa lalu terpatri erat di dlm sanubari sebagai kenangan indah yg tak terlupakan.

cerita-dewasa-perawan-nyamy

Cerita nyata ini kualami dgn seorang gadis yg kukenal dan teman bermain sejak kecil, kisah pacaranku dgn Evi, seorang gadis yg sangat istimewa bagiku.Kisah ini terjadi di awal tahun 90an. Saat masih kanak-kanak, kami bermain seperti halnya anak-anak pada umumnya.

“Hoom-pi-pa ..”

“Agus yg jaga..”. Ia menutup mata di bawah pohon kersen.

Kami, anak-anak yg lain, lari mencari tempat persembunyian. Aku lari ke warung Ma’ Ati yg sdh tutup. Evi lari mengikutiku. .Aku merangkak masuk di bawah meja warung itu, Evi mengikutiku dari belakang dan jongkok di sebelahku. Evi dan aku mengintip lewat celah kecil di gedek di bawah meja yg sempit itu mencari kesempatan untuk lari keluar. Entah mengapa, aku selalu merasa senang kalau berada dekatnya. Waktu itu rasanya tdk ingin aku keluar dari tempat persembunyianku. Apakah ini yg namanya “cinta anak-anak”? Aku tak tahu. Yg aku tahu Evi memang cantik. Aku juga sadar kalau aku juga ganteng (teman-temanku bilang begitu).

Hingga kalau kami main pangeran-pangeranan, rasanya cocok kalau aku jadi pangeran, Evi jadi puteri. Juga dlm permainan lain Evi cuma mau ikut dlm kelompokku. Teman-temanku sering memasang-masangkan aku dgn dia.Masa kecil kami memang menyenangkan. Sampai tiba saatnya aku harus berpisah dgn teman-temanku karena harus mengikuti ayahku yg ditugaskan di kota lain. Waktu itu aku masih duduk di kelas empat SD. Sejak itu aku tak pernah dengar kabar apa-apa dari teman-temanku itu, termasuk Evi.

12 tahun kemudian.Aku menghadiri sebuah pesta pengantin. Lagu The Wedding mengalun mengiringi para tamu yg asyik menikmati hidangan prasmanan. Gadis-gadis tampak cantik dgn dandanan dan gaun pesta mereka. Sampai Oom Andi, salah seorang pamanku menepuk pundakku.

”Eh Rik, apa kabar?”

“Oh, baik saja oom.”

“Akan kupertemukan kau dgn seseorang, ayo ikut aku.”Aku mengikuti oom-ku itu menuju ke seorang gadis yg sedang asyik menikmati ice creamnya.

Gadis itu mengenakan gaun pesta berwarna kuning dgn bahu terbuka, cantik sekali dia. Begitu aku melihat dia, aku segera teringat pada seseorang.

”Apakah, apakah dia ..?”

“Benar Rik, dia Evi.”

“Evi, ini kuperkenalkan pada temanmu.”Gadis itu tampak agak terperanjat, tetapi sekalipun terlihat ragu-ragu, tampaknya ia pun mengenaliku.

”Ini Riki, tentu kamu kenal dia,” kata oomku.

Kami bersalaman.

”Wah, sdh gede sekali kamu Evi.”

“Memangnya suruh kecil terus, memangnya kamu sendiri bagaimana?” katanya sambil tertawa.

Tertawanya dan lesung pipinya itu langsung mengingatkanku pada tertawanya ketika ia kecil. Aku benar-benar terpesona melihat Evi, aku ingat Evi kecil memang cantik, tetapi yg ini memang luar biasa. Apakah karena dandanannya? Ah, tdk, sekalipun tdk berdandan aku pasti juga terpesona. Gaun pestanya yg kuning itu memang tdk mewah, tetapi serasi sekali dgn tubuhnya yg semampai. Bahunya terbuka, buah dadanya yg putih menyembul sedikit di atas gaunnya itu membedakannya dgn Evi kecil yg pernah kukenal.

”Sdh sana ngobrol-ngobrol tentu banyak yg diceritain,” kata oomku seraya meninggalkan kami.

”Tuh ada kursi kosong di situ, yuk duduk di situ,” kataku.

Kamipun berjalan menuju ke kursi itu.

”Bagaimana Evi, kamu sekarang di mana?”

“Aku sekarang tinggal di Semarang, kamu sendiri di mana?”

“Aku kuliah di Bandung, kamu bagaimana?”Ia terdiam, menyendok ice creamnya lalu melumat dan menelannya, perlahan ia berkata,

“Aku tdk seberuntung kamu Rik, aku sdh bekerja. Aku hanya sampai SMA. Yah keadaan memang mengharuskan aku begitu.”

“Bekerja juga baik Evi, tiap orang kan punya jalan hidup sendiri-sendiri. Justru perjuangan hidup membuat orang lebih dewasa.”Kira-kira satu jam kami saling menceritakan pengalaman kami.

Waktu itu umurku 22, dia juga (sejak kecil aku sdh tahu umurnya sama dgn umurku). Perasaan yg pernah tumbuh di sanubariku semasa kecil tampaknya mulai bersemi kembali. Rasanya tak bosan-bosan aku memandang wajahnya yg Evi itu. Apakah cinta anak-anak itu mulai digantikan dgn cinta dewasa? Aku tdk tahu. Aku juga tdk tahu apakah ia merasakan hal yg sama. Yg pasti aku merasa simpati padanya. Malam itu sebelum berpisah aku minta alamatnya dan kuberikan alamatku.Sekembali ke Bandung kusurati dia, dan dia membalasnya. Tak pernah terlambat dia membalas suratku. Hubungan kami makin akrab.

Suatu ketika ia menyuratiku akan berkunjung ke Bandung mengantar ibunya untuk suatu urusan dagang. Memang setelah ayahnya pensiun, ibunya melakukan dagang kecil-kecilan. Aku senang sekali atas kedatangan mereka. Kucarikan sebuah hotel yg tak jauh dari rumah indekosku. Hotel itu sederhana tetapi cukup bersih.Pagi hari aku menjemput mereka di stasiun kereta api dan mengantarnya ke hotel mereka.

Sore hari, selesai kuliah, aku ke hotelnya. Kami makan malam menikmati sate yg dijual di pekarangan hotel. Pada malam hari kuajak Evi berjalan-jalan menikmati udara dingin kotaku. Entah bagaimana mulainya, tahu-tahu kami mulai bergandgn tangan, bahkan kadang-kadang kulingkarkan tanganku di bahunya yg tertutup oleh jaket. Kami berjalan menempuh jarak beberapa kilometer, jarak yg dgn Vespaku saja tdk terbilang dekat.

Tetapi anehnya kami merasakan jarak itu dekat sekali. Sekembali di hotel kami masih melanjutkan pecakapan di serambi hotel sampai lewat tengah malam, sementara ibu Evi sdh mengarungi alam mimpi. Besok sorenya aku ke hotel untuk mengantarkan mereka ke stasiun untuk kembali ke kota mereka. Ketika aku tiba di hotel, ibu Evi sedang mandi, Evi sedang mengemasi barang-barang bawaannya. Aku duduk di kursi di kamar itu. Tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk memberikan selamat jalan yg sangat pribadi bagi dia. Dgn berdebar aku bangkit dari tempat dudukku berjalan dan berdiri di belakangnya, perlahan kupegang kedua bahunya dari belakang, kubalikkan tubuhnya hingga menghadapku.

”Evi, bolehkah ..?”Ia tampak gugup, ia menghindar ketika wajahku mendekati wajahnya.

Ia kembali membelakangiku.

”Sorry Evi, bukan maksudku ..”Ia diam saja, masih tampak kegugupannya, ia melanjutkan mengemasi barang-barangnya.

Terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, ibu Evi keluar.Di stasiun, sebelum masuk ke kereta kusalami ibunya.

Ketika aku menyalami Evi aku berbisik,

“Evi, sorry ya dgn yg tadi.”Dia hanya tersenyum. Manis sekali senyumnya itu.

”Terimakasih Rik atas waktumu menemani kami” Hubungan surat-menyurat kami menjadi makin akrab hingga mencapai tahap serius.

Aku sering membuka suratku dgn

“Eviku tersayang”. Kadang-kadang kukirimi dia humor atau kata-kata yg nakal.

Dia juga berani membalasnya dgn nakal. Pernah dia menulis begini,

“Sekarang di sini udaranya sangat panas Rik, sampai kalau tidur aku cuma pakai celana saja. Tanaman-tanaman perlu disirami (aku juga).”Membaca surat itu aku tergetar.

Kubayangkan ia dlm keadaan seperti yg diceritakannya itu. Kukhayalkan aku berada di dekatnya dan melakukan adegan-adegan romantis denganya. Aku merasakan ada tetesan keluar dari diriku akibat khayalan itu. Kuoleskan tetesan itu di kertas surat yg kugunakan untuk membalas suratnya. (Barangkali ada aroma, atau entah apa saja, yg membuat ia merasakan apa yg kurasakan waktu itu. Tetapi aku tak pernah cerita pada dia tentang ini.)

Sampai tiba liburan semester, aku mengunjungi dia. Aku tinggal di rumahnya selama empat malam. Inilah pengalamanku selama empat malam itu.Aku tiba pagi hari. Setelah makan pagi, aku dan dia duduk-duduk di kamar makan. Aku melihat Evi mengenakan cincin imitasi dgn batu berwarna merah muda di jari manisnya.

”Bagus cincinmu itu. Boleh kulihat?”Kutarik tangannya mendekat, tetapi aku segera lupa akan cincin itu.

Ketika lengannya kugenggam, serasa ada yg mengalir dari tangannya ke tanganku. Jantungku berdebar. Tak kulepas genggamanku, kubawa telapak tanganku ke telapak tangannya. Kumasukkan jari-jariku di sela jari-jarinya. Jari-jarinya yg halus, putih dan lentik berada di antara jari-jariku yg lebih besar dan gelap. Kugenggam dia, dia juga menggenggam. Kuremas-remas jari-jari itu. Dia membiarkannya. Kami berpandangan dgn penuh arti sebelum ia bangkit dgn tersipu-sipu,

”Aku bereskan meja dulu.”Ia pun membereskan meja makan dan mencuci piring.

Setelah itu ia berkemas-kemas untuk pergi bekerja. Siang itu aku tdk kemana-nama, aku beristirahat sambil membaca buku-buku novel yg kubawa.Sore harinya aku, Evi dan adiknya menonton film di bioskop. Aku ingat ketika nonton itu aku sempat remas-remasan tangan dgn dia. Setelah pulang nonton kami duduk-duduk di ruang tamu. Saat itu sekitar pukul sembilan. Kami hanya ngobrol-ngobrol biasa karena orang-orang di rumah itu masih belum tidur. Evi membuat secangkir kopi untukku.

Sekitar pukul sepuluh rumah mulai sepi, orang tua dan adik Evi sdh masuk ke kamar tidur masing-masing. Hanya tinggal aku dan Evi di ruang tamu. Ia duduk di sofa di sebelah kananku.Dari obrolan biasa aku mulai berani. Kulingkarkan tanganku dibahunya. Evi diam saja dan menunduk. Dgn tangan kiriku kutengadahkan wajahnya, kudekatkan kepalaku ke wajahnya, kutarik dia.

Berbeda dgn di hotel waktu itu, ia memejamkan matanya membiarkan bibirku menyentuh bibirnya. Kukecup bibirnya. Cuma sebentar. Hening, segala macam pikiran berkecamuk di kepalaku (kukira juga di kepalanya). Aku merasa jantungku berdegup.Pelan-pelan tangan kananku kulepas dari bahunya, menyusup di antara lengan dan tubuhnya, dan kutaruh jari-jariku di dadanya. Ia membiarkan dadanya kusentuh.

Aku melangkah lagi, jari-jariku kuusap-usapkan di situ. Ia membolehkan bahkan menyandarkan badannya di dadaku. Aku mencium semerbak bau rambutnya. Aku pun tdk ragu lagi, kuremas-remas Buah dadanya. Ia tetap diam dan tampaknya ia menikmatinya.Setelah beberapa saat ia menggeser badannya sedikit lalu, seolah tak sengaja, ia menaruh tangannya di pangkuanku, tepat di atas kancing celanaku. Aku tanggap isyarat ini. Kubuka ruitsluiting celanaku, kutarik tangannya masuk ke sela yg sdh terbuka itu. Ia menurut dan ia menyentuh k0ntolku, jari-jarinya yg tadi pasif sekarang mulai aktif. Walaupun masih terhalang oleh celana dlm, ia mengusap-usap di situ.

Aku melangkah lebih jauh lagi, tanganku yg berada di dadanya sekarang memasuki dasternya, menyusup di sela-sela BH-nya dan kuremas-remas Buah dadanya langsung. Buah dadanya memang tdk terlalu besar tetapi cukup kenyal dlm remasanku. Dia tak mau kalah, tangannya menyusup masuk ke celana dlmku dan langsung menyentuh k0ntolku lalu mengenggamnya. Bergetar hatiku, baru kali itu k0ntolku disentuh seorang gadis, gairahku melonjak.

Dua kali ia menggerakkan genggamannya ke atas ke bawah dan aku tak tahan .. menyemburlah cairanku membasahi jari-jarinya dan celana dlmku. Aku mengeluh dan menyandarkan diriku ke sofa. Ia melepaskan tangannya dari celanaku dan melihat tangannya yg basah.

”Kental ya Rik,” bisiknya.

”Evi, terlalu cepat ya, ini pengalamanku pertama,” kataku kecewa.

”Aku tahu Rik,” ia memahami.

”Kamu ganti dulu, besok aku cuci yg itu,” lanjutnya.

Ia bangkit ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Aku masuk ke kamar mengganti celana dlmku. Ketika keluar Evi sdh berada kembali di situ. Kami ngobrol-ngobrol sebentar lalu kami pergi tidur. Aku masuk ke kamarku dan Evi masuk ke dlm, ke kamarnya.

Malam kedua. Seperti halnya malam pertama, setelah suasana sepi kami memulai dgn berciuman. Kalau kemarin hanya kecup bibir sebentar, kali ini aku mencoba lebih. Mula-mula kukecup bibir bawahnya, lalu bibir atasnya, lalu lidahku masuk. Lidahku dan lidahnya bercanda. Aku mengecap rasa manis dan segar di mulutnya, kurasa ia makan pastiles atau permen pedas sebelumnya.

Lalu kami main remas-remasan lagi. Kali itu dia tdk memakai BH hingga lebih mudah bagiku meremas-remas Buah dadanya. Seperti kemarin tangannya pun meraba-raba k0ntolku. Aku sdh khawatir kalau aku akan cepat keluar seperti kemarin, tetapi rupanya tdk. Aku juga ingin melakukan seperti yg dia lakukan. Tanganku menuju ke bawah, kusingkapkan dasternya, tetapi ketika tanganku menuju ke celananya ia menepisnya. Rupanya ia belum mau sejauh itu.

Malam itu kami cuma main remas-remasan saja. Kuremas-remas Buah dadanya, dan dia membelai-belai k0ntolku sementara bibir kami berkecupan. Akhirnya aku tak tahan juga hingga cairanku menyemprot keluar membasahi tangannya, sama seperti kemarin. Tetapi aku lebih senang karena kami bisa bermain-main lebih lama. Aku merasa ada kemajuan, aku lebih percaya diri.

Malam ketiga. Seperti malam-malam sebelumnya, kami mulai dgn saling berciuman di sofa. Ketika baru mulai babak remas-remasan aku ingat bahwa aku membawa sebuah buku seksologi. Kuambil buku itu dan kutunjukkan pada Evi. Kubuka pada halaman yg ada gambar alat genital pria. Kujelaskan padanya cara bekerjanya alat itu. Dia mendengarkannya dgn perhatian. Seolah guru biologi aku menunjukkan contohnya, kubuka ruitsluiting celanaku. Kuturunkan celana dlmku hingga k0ntolku menyembul keluar dan kupertontonkan pada Evi. k0ntolku memang beda dgn yg di gambar, kalau yg di gambar itu lunglai, k0ntolku berdiri tegak. Evi memperhatikan k0ntolku itu.”Itu lubangnya ada dua ya?” tanyanya,

“Satu untuk kencing, satu lagi untuk ngeluarin?”

“Ah, engga. Cuma ada satu,” kataku sambil tertawa.

Kubuka lubang kecil itu agak lebar untuk menunjukkan bahwa lubangnya memang cuma satu. Ujung itu merah mengkilat basah oleh cairan bening. Kubawa telunjuknya mengusapnya dan ia membiarkan jarinya basah. Kemudian jari-jari lentik itu menyusuri urat-urat di situ dari atas ke bawah.

”Rupanya jelek, tapi kok bisa bikin enak ya,” katanya sambil tertawa.

”Eh, tahunya kalau enak. Memang sdh pernah mencoba?” sahutku.

”Katanya sih,” sahutnya sambil tertawa.

Jemarinya pun memain-mainkan k0ntolku.

”Kalau ini isinya apa?” Candanya sambil memain-mainkan kantung bolaku.

”Biji salak kali,” jawabku sambil tertawa.

Ia juga tertawa.Lalu tangannya menggenggam k0ntolku dan menggosok-gosoknya.

”Jangan keras-keras Evi. Nanti keluar,” bisikku.

Diapun menurut, dia masih menggenggam tetapi tdk menggosok hanya mengusap-usap perlahan.

”Boleh aku lihat punyamu?” tanyaku.

”Jangan ah,” jawabnya.

”Sebentar saja,” kataku.

Ia pun menurut. Ia membiarkan tanganku menyingkap dasternya dan menurunkan celana dlmnya hingga ke lutut. Aku menelan ludah, baru kali itu aku melihat alat kelamin wanita, sebelumnya aku melihatnya cuma di gambar-gambar. Tanganku pun menuju ke situ. Kuusap-usap rambutnya lalu jariku membuka celah di situ dan kulihat basah di dlmnya.

”Kok basah kuyup begini.”

“Tadi kamu juga.”Kutengok k0ntolku, sdh kering memang, karena diusap oleh Evi, tetapi aku melihat di ujungnya mulai membasah lagi.

Aku ingat ketika membaca buku seksologiku ada bagian yg namanya

“labia majora”, ada “labia minora”, ada “clitoris.” Aku mencoba mencari tahu yg mana itu. Aku mencoba membuka celahnya lebih lebar tetapi ia menepis tanganku.

”Sdh ah, malu,” katanya.

Ia kembali menaikkan celana dlmnya.

”Kamu curang Evi. k0ntolku sdh kamu lihat dari tadi,” kataku bercanda.

”Kan katamu cuma lihat sebentar.”

Susasana hening. Kupeluk dia. Kembali kami berciuman. Tangannya kembali mengusap-usap k0ntolku. Tanganku juga menyusup ke celana dlmnya (dasternya masih menyingkap). Dia tdk menolak. Kuusap-usap rambut di balik celana dlm itu dan jari-jariku pun menggelitik di situ. Aku merasakan basahnya. Kurebahkan dia di sofa, kutarik celana dlmnya. Tapi Evi menolak tanganku dan berbisik,

”Di kamar saja Rik.”Aku sadar, di situ bukan tempat yg tepat.

”Kamu masuk duluan,” katanya.Akupun masuk ke kamarku melepaskan seluruh pakaianku lalu aku merebahkan diri menunggu Evi.

Setelah beberapa menit Evi masuk membawa handuk kecil lalu mengunci pintu. Ia menghempaskan diri di sisiku. Aku segera tahu bahwa dia tdk mengenakan celana dlm lagi. Segera kulepas dasternya. Tak ada apa-apa lagi yg menutupi kami. Tanpa basa-basi lagi kami segera berpelukan dan berkecupan dgn ganas. Tangan-tangan kami saling meraih, menyentuh, meremas apa saja untuk bisa saling menggairahkan. Kugigit putingnya. Ia menggelinjang. Ia bangkit dan membalas dgn mengulum k0ntolku. Ganti aku yg menggelinjang. Kami melakukan itu mungkin sepuluh menit. Gairah tak tertahankan lagi.

”Rik, masukkan saja..,” bisiknya memohon.

Evi merebahkan dirinya telentang. Aku mengambil posisi di atasnya. Kedua pahanya membuka lebar menampung tubuhku, lalu kedua kakinya, seperti juga kedua tangannya, melingkari tubuhku. Ujung k0ntolku mencari-cari lubang punyanya. Setelah ketemu aku dorong sedikit. Ia agak mengerang.

”Pelan-pelan Rik,” bisiknya.

Kudorong k0ntolku pelan-pelan, sekali, dua kali, dan akhirnya tembus. Ia menggelinjang dan mengeluh. Kami berdua merasa di awang-awang. Rasanya bumi ini hanya milik kami berdua. Kami berdua menggerak-gerakkan tubuh kami mencari sentuhan-sentuhan yg paling peka.Kenikmatan makin meninggi, setelah beberapa saat gerakan tubuhnya makin kencang lalu ia memelukku erat-erat seraya merintih,

”Rik, Rik,..” Aku juga tak tahan dan segera menyusulnya,

”Evi..” Dia memelukku erat, bibir kami berkecupan ketika benihku menyemprot di dlmnya.

Cairanku menyatu dgn cairannya. Selama beberapa menit kami masih dlm posisi itu.

”Rik, aku cuma ingin sama kamu, engga ada yg lain lagi,” katanya.

”Begitu juga aku Evi, aku sayang kamu,” kataku sambil membelai pipinya.

Lalu kukecup bibirnya, mesra dgn segenap perasaanku.Sekitar setengah jam kami masih berpelukan terbuai oleh pengalaman barusan.

Lalu kami bangkit. Aku lap k0ntolku dgn handuk kecil, dan ia pun mengelap meqinya, aku lihat ada darah di handuk itu. Lalu kami rebah berhadapan dan kami berpelukan lagi dan tak pakai apa-apa. Kami pun tertidur.Menjelang pagi kurasakan Evi bangun. Ia akan mengenakan dasternya.

”Aku harus kembali ke kamarku Rik, sdh pagi.”Tetapi aku menarik tangannya hingga ia kembali rebah di sisiku.

”Masih setengah tiga Evi, di sini dulu.”K0ntolku pun kembali tegang dan keras. Evi melihatnya.

”Rupanya si kecilmu sdh siap lagi Rik,” candanya.

Ia pun bangkit lalu tubuhnya menindih tubuhku yg rebah telentang. Ia mengecupi leherku kiri dan kanan bertubi-tubi. Akhirnya bibir itu mampir di bibirku. Lidahku dan lidahnya berbelitan, sebentar dlm mulutku, sebentar dlm mulutnya. Lalu ia mengangkat tubuhnya sedikit, mengarahkan lubangnya ke ujung k0ntolku lalu ia mendorongkan tubuhnya ke belakang hingga k0ntolku masuk ke dlmnya sepenuhnya. Ia duduk di perutku. Tanganku meremas-remas Buah dadanya dan ia menggoyang-goyangkan tubuhnya di atasku.

Mula-mula gerakannya tak terlalu cepat tetapi semakin lama ritme gerakannya makin meninggi lalu ia rebah dlm pelukanku, aku mendengar desahnya penuh kenikmatan. Namun aku masih tegar. Ganti ia yg kutelentangkan, aku berada di atasnya, kugerakkan tubuhku. Beberapa saat kemudian kenikmatanpun menjalar di seluruh tubuhku. Malam itu tak banyak kata-kata yg kami ucapkan, tetapi tubuh-tubuh kami telah saling bicara mencurahkan seluruh perasaan kami yg terpendam selama berbulan-bulan. Jam setengah empat sdh, ia mengenakan dasternya mengecup pipiku dan kembali ke kamarnya. Aku pun tertidur dgn rasa bahagia.

Malam keempat. Kami mulai dgn bercium-ciuman sebentar di sofa. Kami tak mau berlama-lama di situ, kami pun masuk kamar. Setelah mengunci pintu ia melepaskan dasternya. Aku juga melepaskan pakaianku. Ternyata di balik daster itu ia mengenakan blouse dan celana mini tipis yg tak terlampau ketat berwarna biru muda. Buah dadanya tdk terlalu besar tetapi cukup menonjol di balik blousenya itu, putingnya tampak jelas di balik blousenya yg transparan itu dan di celananya aku juga bisa melihat rambutnya menerawang.

Aku terpesona melihat Evi berdiri di depanku dgn pakaian begitu seksi. Rambutnya yg bergerai panjang, tubuhya yg semampai sangat serasi dgn yg dipakainya. Aku duduk terpana di tempat tidur memandangnya. Kalau saja aku bisa memotretnya pasti tiap malam kupandangi foto itu dgn penuh pesona.

”Luar biasa Evi, cantik sekali kamu. Di mana kamu beli bajumu itu?”Dia tdk menjawab, hanya tersenyum.

Ia menuju tempat tidur dan merebahkan diri. Aku pun rebah di sisinya. Kubelai putingnya di balik blousenya itu. Lalu kuusap celananya dan jari-jariku merasakan kemresak rambut-rambut di baliknya. Lalu kami rebah berhadapan. Kusisipkan k0ntolku melalui sela celana mininya menyentuh meqinya lalu kudekap dan kucium dia. Beberapa menit kami berciuman.

Lalu ia bangkit mengecup dadaku di berbagai tempat.Kulepas celana mini dan blousenya. Sekarang tak ada apa-apa lagi yg melekat di tubuh kami. Aku duduk dan ia duduk di pangkuanku berhadapan dgn aku. Punya kami saling menempel. k0ntolku berdiri tegak dikelilingi oleh rambut-rambutnya dan rambut-rambutku, hingga k0ntolku tampak seolah-olah punyanya juga.

Segera kamipun berdekapan erat, beciuman sambil duduk. Cukup lama kami bercumbu rEvi dgn berbagai cara. Seperti malam sebelumnya, malam itu kami melakukan lagi dua kali.Esoknya aku harus kembali ke kotaku. Hari itu Evi mengambil cuti seharian ia menemaniku. Sore hari Evi mengantarku ke stasiun kereta api. Kulihat matanya berkaca-kaca ketika aku menyalami dia.

”Datang lagi ya Rik, malam ini aku akan memimpikanmu,” katanya ketika aku akan menaiki kereta.

Ketika kereta bergerak meninggalkan stasiun aku masih melihat dia melambaikan tangannya sampai ia hilang dari pandanganku.

”Aku pasti datang lagi Evi,” tanpa sadar kuucapkan kata-kata itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s