Cerita Sex – Lelly Istri Kesepian…

Saya seorang pria berusia 40 tahun. Istri saya satu tahun lebih muda dari saya. Secara keseluruhan kami keluarga bahagia dengan dua anak yg manis-manis. Yg sulung, perempuan kelas II SMP (Lia) dan bungsu laki-laki kelas 3 SD. Saya bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Sedangkan istri saya seorang wanita karier yg sukses di bidang farmasi. Kini dia menjabat sebagai Distric Manager. Kami saling mencintai. Dia merupakan seorang istri yg setia.

cerita-sex-lelly-istri-kesepian

Saya sendiri pada dasarnya seorang suami yg setia pula. Paling tdk saya setia terhadap perasaan cinta saya kepada istri saya. Tapi tdk untuk soal sex. Saya seorang peselingkuh. Ini semua karena saya memiliki libido yg amat tinggi sementara istri saya tdk cukup punya minat di bidang sex.

Saya menginginkan hubungan seks paling tdk 2 kali dalam seminggu. Tetapi istri saya menganggap sekali dalam seminggu sudah berlebihan. Dia pernah bilang kepada saya, “Lebih enak hubungan sekali dalam sebulan.” Tiap kali hubungan kami mencapai orgasme bersama-sama. Jadi sebenarnya tdk ada masalah dengan saya.

Rendahnya minat istri saya itu dikarenakan dia terlalu terkuras tenaga dan pikirannya untuk urusan kantor. Dia berangkat ke kantor pukul 07.30 dan pulang lepas Maghrib. Sampai di rumah sudah lesu dan sekitar pukul 20.00 dia sudah terlelap, meninggalkan saya kekeringan. Kalau sudah begitu biasanya saya melakukan onani. Tentu tanpa sepengetahuan dia, karena malu kalau ketahuan.

Selama perkawinan kami sudah tak terhitung berapa kali saya berselingkuh. Kalau istri saya tahu, saya tak bisa membayangkan akan seperti apa neraka yg diciptakannya. Bukan apa-apa. Perempuan-perempuan yg saya tiduri adalah mereka yg sangat dekat dengan dia. Saya menyimpan rapat rahasia itu. Sampai kini. Itu karena saya melakukan persetubuhan hanya sekali terhadap seorang perempuan yg sama.

Saya tak mau mengulanginya. Saya khawatir, pengulangan bakal melibatkan perasaan. Padahal yg saya inginkan cuma persetubuhan fisik. Bukan hati dan perasaan. Saya berusaha mengindarinya sebisa mungkin, dan memberi kesan kepada si perempuan bahwa semua yg terjadi adalah kekeliruan. Memang ada beberapa perempuan sebagai perkecualian yg nanti akan saya ceritakan.

Perempuan pertama yg saya tiduri semenjak menikah tdk lain adalah kakak istri saya. Oh ya, istri saya merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Semuanya perempuan. Istri saya sebut saja bernama Yeni. Kedua kakak Yeni sudah menikah dan punya anak. Mereka keluarga bahagia semuanya, dan telah memiliki tempat tinggal masing-masing. Hanya saya dan istri yg ikut mertua dua tahun pertama perkawinan kami. Setiap minggu keluarga besar istri saya berkumpul. Mereka keluarga yg hangat dan saling menyaygi.

Mbak Lelly, kakak istri saya ini adalah seorang perempuan yg dominan. Dia terlihat sangat menguasai suaminya. Saya sering melihat Mbak Lelly menghardik suaminya yg berpenampilan culun. Suami Mbak Lelly sering berkeluh-kesah dengan saya tentang sikap istrinya. Tetapi kepada orang lain Mbak Lelly sangat ramah, termasuk kepada saya. Dia bahkan sangat baik. Mbak Lelly sering datang bersama kedua anaknya berkunjung ke rumah orang tuanya -yg artinya rumah saya juga- tanpa suaminya. Kadang-kadang sebagai basa-basi saya bertanya,

“Kenapa Mas Wid tdk diajak?”

“Ahh malas saya ngajak dia,” jawabnya. Saya tak pernah bertanya lebih jauh.

Seringkali saat Mbak Lelly datang dan menginap, pas istri saya sedang tugas luar kota. Istri saya dua minggu sekali keluar kota saat itu. Dia adalah seorang detailer yg gigih dan ambisius. Jika sudah demikian biasanya ibu mertua saya yg menyiapkan kopi buat saya, atau makan pagi dan makan malam. Tapi jika pas ada Mbak Lelly, ya si Mbak inilah yg menggantikan tugas ibu mertua. Tak jarang Mbak Lelly menemani saya makan.

Karena seringnya bertemu, maka saya pun mulai dirasuki pikiran kotor. Saya sering membayangkan bisa tidur dengan Mbak Lelly. Tapi mustahil. Mbak Lelly tdk menunjukkan tipe perempuan yg gampang diajak tidur. Karenanya saya hanya bisa membayangkannya. Apalagi kalau pas hasrat menggejolak sementara istri saya up country. Aduhh, tersiksa sekali rasanya. Dan sore itu, sehabis mandi keramas saya mengeringkan rambut dengan kipas angin di dalam kamar. Saya hanya bercelana dalam ketika Mbak Lelly mendadak membuka pintu.

“Kopinya Dik Andy.” Saya terkejut, dan Mbak Lelly buru-buru menutup pintu ketika melihat sebelah tangan saya berada di dalam celana dalam, sementara satu tangan lain mengibas-ibas rambut di depan kipas angin. Saya malu awalnya.

Tetapi kemudian berpikir, apa yg terjadi seandainya Mbak Lelly melihat saya bugil ketika k0ntol saya sedang tegang?

Pikiran itu terus mengusik saya. Peristiwa membuka pintu kamar dengan mendadak bukan hal yg tdk mungkin. Adik-adik dan kakak-kakak istri saya memang terbiasa begitu. Mereka sepertinya tdk menganggap masalah. Seolah kamar kami adalah kamar mereka juga. Adik istri saya yg bungsu (masih kelas II SMU, sebut saja Rosi) bahkan pernah menyerobot masuk begitu saja ketika saya sedang bergumul dengan istri saya. Untung saat itu kami tdk sedang bugil. Tapi dia sendiri yg malu, dan berhari-hari meledek kami.

Sejak peristiwa Mbak Lelly membuka pintu itu, saya jadi sering memasang diri, tiduran di dalam kamar dengan hanya bercelana dalam sambil coli (onani). Saya hanya ingin menjaga supaya k0ntol saya tegang, dan berharap saat itu Mbak Lelly masuk. Saya rebahan sambil membaca majalah. Sialnya, yg saya incar tdk pernah datang. Sekali waktu malah si Rosi yg masuk buat meminjam lipstik istri saya. Ini memang sudah biasa. Buru-buru saya tutupkan CD saya. Tapi rupanya mata Rosi keburu melihat.

“Woww, indahnya.” Dia tampak cengengesan sambil memolesi bibirnya dengan gincu.

“Mau kemana?” tanya saya.

“Nggak. Pengin makai lipstik aja.” Saya meneruskan membaca.

“Coli ya Mas?” katanya.

Gadis ini memang manja, dan sangat terbuka dengan saya. Ketika saya masih berpacaran dengan istri saya, kemanjaannya bahkan luar biasa. Tak jarang kalau saya datang dia menggelendot di punggung saya. Tentu saya tak punya pikiran apa-apa. Dia kan masih kecil waktu itu. Tapi sekarang. Ahh. Tiba-tiba saya memperhatikannya. Dia sudah dewasa. Sudah seksi. Teteknya 34. Pinggang ramping, kulit bersih. Dia yg paling cantik di antara saudara istri saya.

Pikiran saya mulai kotor. Menurut saya, akan lebih mudah sebenarnya menjebak Rosi daripada Mbak Lelly. Rosi lebih terbuka, lebih manja. Kalau cuma mencium pipi dan mengecup bibir sedikit, bukan hal yg sulit. Dulu saya sering mengecup pipinya. Tapi sejak dia kelihatan sudah dewasa, saya tak lagi melakukannya. Akhirnya sasaran jebakan saya beralih ke Rosi. Saya mencoba melupakan Mbak Lelly. seksigo

Sore selepas mandi saya rebahan di tempat tidur, dan kembali memasang jebakan untuk Rosi. Saya berbulat hati untuk memancing dia. Ini hari terakhir istri saya up country. Artinya besok di kamar ini sudah ada istri saya. Saya elus perlahan-lahan k0ntol saya hingga berdiri tegak. Saya tdk membaca majalah. Saya seolah sedang onani. Saya pejamkan mata saya.

Beberapa menit kemudian saya dengar pintu kamar berderit lembut. Ada yg membuka. Saya diam saja seolah sedang keasyikan onani. Tdk ada tanggapan. Saya melihat pintu dengan sudut mata yg terpicing. Sialan. Tak ada orang sama sekali. Mungkin si Rosi langsung kabur. Saya hampir saja menghentikan onani saya ketika dari mata yg hampir tertutup saya lihat bayangan. Segera saya mengelus-elus k0ntol saya dengan agak cepat dan badan bergerak-gerak kecil.

Saya mencoba mengerling di antara picingan mata. Astaga! Kepala Mbak Lelly di ambang pintu. Tapi kemudian bayangan itu lenyap. Lalu muncul lagi, hilang lagi, Kini tahulah saya, Mbak Lelly sembunyi-sembunyi melihat saya. Beberapa saat kemudian pintu ditutup, dan tak dibuka kembali sampai saya menghentikan onani saya. Tanpa mani keluar.

Malamnya, di meja makan kami makan bersama-sama. Saya, kedua mertua, Mbak Lelly, Rosi dan kakak Rosi, Lellyng. Berkali-kali saya merasakan Mbak Lelly memperhatikan saya. Saya berdebar-debar membayangkan apa yg ada di pikiran Mbak Lelly. Saya sengaja memperlambat makan saya. Dan ternyata Mbak Lelly pun demikian. Sehingga sampai semua beranjak dari meja makan, tinggal kami berdua. Selesai makan kami tdk segera berlalu. Piring-piring kotor dan makanan telah dibereskan Mak Jah, pembantu kami.

“Dik Andy kesepian ya? Suka begitu kalau kesepian?” Mbak Lelly mebuka suara.

Saya kaget. Dia duduk persis di kanan saya. Dia memandangi saya. Matanya seakan jatuh kasihan kepada saya. Sialan.

“Maksud Mbak Lelly apaan sih?” saya pura-pura tdk tahu.

“Tadi Mbak Lelly lihat Dik Andy ngapain di kamar. Sampai Dik Andy nggak liat. Kalau sedang gitu, kunci pintunya. Kalau Rosi atau Ibu lihat gimana?” “Apaan sih?” saya tetap pura-pura tdk mengerti.

“Tadi onani kan?”

“Ohh.” Saya berpura-pura malu.

Perasaan saya senang bercampur gugup, menunggu reaksi Mbak Lelly. Saya menghela nafas panjang. Sengaja.

“Yahh, Yeni sudah tiga hari keluar kota. Pikiran saya sedang kotor. Jadi..”

“Besok lagi kalau Yeni mau keluar kota, kamu minta jatah dulu.”

“Ahh Mbak Lelly ini. Susah Mbak nunggu moodnya si Yeni. Kadang pas saya lagi pengin dia sudah kecapekan.”

“Tapi itu kan kewajiban dia melayani kamu?”

“Saya tdk ingin dia melakukan dengan terpaksa.” Kami sama-sama diam. Saya terus menunggu. Menunggu. Jantung saya berdegup keras.

“Kamu sering swalayan gitu?”

“Yaa sering Mbak. Kalau pengin, terus Yeni nggak mau, ya saya swalayan. Ahh udah aahh. Kok ngomongin gitu?” Saya pura-pura ingin mengalihkan pembicaraan. Tapi Mbak Lelly tdk peduli.

“Gini lho Dik. Masalahnya, itu tdk sehat untuk perkawinan kalian. Kamu harus berbicara dengan Yeni. Masa sudah punya istri masih swalayan.” Mbak Lelly memegang punggung tangan saya.

“Maaf Mbak. Nafsu saya besar. Sebaliknya dengan Yeni. Jadi kayaknya saya yg mesti mengikuti kondisi dia.” Kali ini saya bicara jujur.

“Saya cukup puas bisa melayani diri sendiri kok.” “Kasihan kamu.”

Mbak Lelly menyentuh ujung rambut saya, dan disibakkannya ke belakang. Saya memberanikan diri menangkap tangan itu, dan menciumnya selintas. Mbak Lelly seperti kaget, dan buru-buru menariknya.

“Kapan kalian terakhir kumpul?”

“2 atau tiga minggu lalu,” jawab saya.

Bohong besar. Mbak Lelly mendesis kaget.

“Ya ampuun.”

“Mbak. Tapi Mbak jangan bilang apa-apa ke Yeni. Nanti salah pengertian. Dikira saya mengadu soal begituan.” Mbak Lelly kembali menggenggam tangan saya. Erat, dan meremasnya.

Isi celana saya mulai bergerak-gerak. Kali ini saya yg menarik tangan saya dari genggaman Mbak Lelly. Tapi Mbak Lelly menahannya. Saya menarik lagi. Bukan apa-apa. Kali ini saya takut nanti dilihat orang lain.

“Saya horny kalau Mbak pegang terus.” Mbak Lelly tertawa kecil dan melepaskan tangan saya.

Dia beranjak sambil mengucek-ucek rambut saya.

“Kaciaann ipar Mbak satu ini.” Mbak Lelly berlalu, menuju ruang keluarga.

“Liat TV aja yuk,” ajaknya.

Saya memaki dalam hati. Kurang ajar betul. Dibilang saya horny malah cengengesan, bukannya bilang,

“Saya juga nih, Dik.” Setengah jengkel saya mengikutinya. Di ruang keluarga semua kumpul kecuali Rosi. Hanya sebentar. Saya masuk ke kamar.

Sekitar pukul 23.00 pintu kamar saya berderit. Saya menoleh. Mbak Lelly. Dia menempelkan telunjuknya di bibirnya.

“Belum bobo?” tanyanya lirih. Jantung saya berdenyut keras.

“Belum.” Jawab saya.

“Kita ngobrol di luar yuk?”

“Di sini saja Mbak.” Saya seperti mendapat inspirasi.

“Ihh. Di teras aja. Udah ngantuk belum?” Mbak Lelly segera menghilang.

Dengan hanya bersarung telanjang dada dan CD saya mengikuti Mbak Lelly ke teras. Saya memang terbiasa tidur bertelanjang dada dan bersarung. Rumah telah senyap. TV telah dimatikan. Keluarga ini memang terbiasa tidur sebelum jam 22.00. Hanya aku yg betah melek.

Mbak Lelly mengenakan daster tanpa lengan. Ujung atas hanya berupa seutas tali tipis. Daster kuning yg agak ketat. Saya kini memperhatikan betul lekuk tubuh perempuan yg berjalan di depan saya itu. Pantat menonjol. Singset. Kulitnya paling putih di antara semua sadaranya. Umurnya berselisih tiga tahun dengan Yeni. Mbak Lelly duduk di bangku teras yg gelap. Bangku ini dulu sering saya gunakan bercumbu dengan Yeni. Wajah Mbak Lelly hanya terlihat samar-samar oleh cahaya lampu TL 10 watt milik tetangga sebelah. Itupun terhalang oleh daun-daun angsana yg rimbun.

Dia memberi tempat kepada saya. Kami duduk hampir berhimpitan. Saya memang sengaja. Ketika dia mencoba menggeser sedikit menjauh, perlahan-lahan saya mendekakan diri.

“Dik Andy” Mbak Lelly membuka percakapan.

“Nasib kamu itu sebenernya tak jauh beda dengan Mbak.” Saya mengernyitkan dahi. Menunggu Mbak Lelly menjelaskan.

Tapi perempuan itu diam saja. tangannya memilin-milin ujung rambut.

“Maksud Mbak apa sih?”

“Tdk bahagia dalam urusan tempat tidur. Ih. Gimana sih.” Mbak Lelly mencubit paha saya. Saya mengaduh. Memang sakit, Tapi saya senang. Perlahan-lahan k0ntol saya bergerak.

“Kok bisa?”

“Nggak tahu tuh. Mas Wib itu loyo abis.”

“Impoten?” Saya agak kaget.

“Ya enggak sih. Tapi susah diajakin. Banyak nolaknya. Malas saya. Perempuan kok dibegituin,”

“Hihihi.. Tadi kok kasih nasihat ke saya?” Saya tersenyum kecil.

Mbak Lelly mencoba mendaratkan lagi cubitannya. Tapi saya lebih sigap. Saya tangkap tangan itu, dan saya amankan dalam genggaman. Saya mulai berani. Saya remas tangan Mbak Lelly. K0ntol saya terasa menegang. Badan mulai panas dingin. Mungkinkan malam ini saya dan Mbak Lelly..

“Terus cara pelampiasan Mbak gimana? Swalayan juga?” Tanya saya.

Saya taruh sebelah tangan di atas pahanya. Mbak Lelly mencoba menghindar, tapi tak jadi.

“Enggak dong. Malu. Risih. Ya ditahan aja.”

“Kapan terakhir Mbak Lelly tidur sama Mas Wib?” Saya mencium punggung tangan Mbak Lelly.

Lalu tangan itu saya taruh perlahan-lahan di antara pahaku, sedikit menyentuh k0ntol.

“2 minggu lalu.”

“Heh?” Saya menatap matanya. Bener enggak sih. Kok jawabannya sama dengan saya? Ngeledek apa gimana nih.

“Bener.” Matanya mengerling ke bawah, melihat sesuatu di dekat tangannya yg kugenggam.

“Mbak..” Saya menyusun kekuatan untuk berbicara.

Tenggorokan terasa kering. Nafsu saya mulai naik. Perempuan ini bener-bener seperti merpati. Jangan-jangan hanya jinak ketika didekati. Saat dipegang dia kabur.

“Hmmm,” Mbak Lelly menatap mata saya.

“Mbak pengin?” Dia tak menjawab.

Wajahnya tertunduk. Saya raih pundaknya. Saya elus rambutnya. Saya sentuh pipinya. Dia diam saja. Sejurus kemudian mulut kami berpagutan. Lama. Ciuman yg bergairah. Saya remas bagian dadanya. Lalu tali sebelah dasternya saya tarik dan terlepas. Mbak Lelly merintih ketika jari saya menyentuh belahan dadanya. Secara spontan tangan kirinya yg sejak tadi di pangkuan saya menggapai apa saja. Dan yg tertangkap adalah k0ntol. Dia meremasnya. Saya menggesek-gesekkan jari saya di dadanya. Kami kembali berciuman.

“Di kamar aja yuk Mbak?” ajak saya.

Lalu kami beranjak. Setengah berjingkat-jingkat menuju kamar Mbak Lelly. Kamar ini terletak bersebarangan dengan kamar saya. Di sebelah kamar Mbak Lelly adalah kamar mertua saya.

Malam itu tumpahlah segalanya. Kami bermain dengan hebatnya. Berkali-kali. Ini adalah perselingkuhan saya yg pertama sejak saya kawin. Belakangan saya tahu, itu juga perselingkuhan pertama Mbak Lelly.

Bermacam gaya kami lakukan. Termasuk oral, dan sebuah sedotan kuat menjelang saya orgasme. Semprotan mani menerjang tenggorokan Mbak Lelly. Itulah pertama kali mani saya diminum perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s