Cerita Sex – Memek Orang Kaya Memang Beda..

Sudah sangat terkenal hingga kepenjuru keahlian mbah jambrong atas supranaturalnya, dari penglaris, pelancar jodoh, belum ada yang mengalahkan, rumah yang di penuhi dengan pernak pernih semakin membuat ke angkeran dan kesan mistis semakin kental, mbah jambring yang kiura kira usianya sudah 60 an tahun terlihat begitu matang dengan brewok yang lebat.

Hari ini ibu rahma dan anaknya Marta mendatangi kediaman mbah jambrong yang berada di daerah jawa timur, selain menghadiri acara pernikahan putrinya, serta berkunjung ke rumah mbah jambrong, bu rahma sengaja minta di antar dengan putrinya karena suaminya sedang sibuk dalam bekerja sekarang dia mengurusi bisni di luar negeri.

Hijab kuning yang membungkus kepalanya menambah kanggunan cewek berparas cantik ini. Di sampingnya merupakan puteri sulungnya Marta yang tercatat sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Menurun dari ibunya, Marta yang masih 18 tahun ini juga memiliki kecantikan yang tak kalah dengan Sang Ibu. Gadis ini tampil santai dengan kaos merek Zara yang ketat lengkap dengan jeans hitam yang lekat dengan pahanya yang ramping.

“Silahkan duduk Nyonya Rahma dan Dik Marta….” ujar Mbah Jambrong mempersilahkan kedua pasien terakhirnya ini untuk duduk di karpet tepat di depan meja praktiknya.

Mata sang dukun yang tadinya lelah sontak kembali berbinar. Amboi, cantik benar 2 makhluk ini. Mulus, berdada montok, dan ah….ternyata tak cuma mata sang dukun yang berbinar, kontol Mbah Jambrong pun ikut memberikan sinyal soal santapan malam yang indah dari dua cewek cantik ini. Belum sempat dua pasiennya menyembunyikan keterkejutan dengan kemampuan Sang Dukun menebak nama-nama mereka.

Mbah Jambrong kembali berujar,

“Nyonya Rahma tak usah khawatir. Nyonya pasti bisa jadi anggota dewan tahun ini….Bukankah begitu yang nyonya inginkan?”

“Be..benar…Mbah Dukun. Gimana Mbah bisa tahu maksud saya?” tanya Nyonya Rahma makin terkejut sekaligus makin percaya pada kesaktian sang dukun.

Nyonya Rahma memang salah satu caleg dari parpol pada pemilu tahun ini. Dan di saat peraturan bukan lagi pada nomor urut, melainkan suara terbanyak, membuat sang nyonya menjadi ketar-ketir.

“Hahahaha…iblis, setan dan jin mengetahui semua maksud di hati.” ujar Mbah Jambrong bangga.

“Tapi, ini tak gampang, Nyonya….” ujarnya lagi.

“Maksud Mbah Dukun? Bagaimana caranya? Apa saja akan skulakukan untuk itu Mbah.” ujar Nyonya Rahma tak sabar.

“Aura kharisma Nyonya tertutupi oleh tabir gelap sehingga tak keluar. Harus ada banyak pengorbanan, dan sesembahan agar itu semua keluar. Tapi itu ada ritualnya, bisa diakali, Nyonya tak perlu khawatir.” Kali ini Mbah Jambrong mulai ngawur.

Semua kalimatnya sengaja dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari dua cewek cantik ini. “Kamu dan puterimu harus total mengikuti ritual yang akan skusiapkan. Sanggup?” “Sanggup,Mbah” “Dik Marta sanggup membantu Mama?” tanya dukun yang sedang horny ini pada puterinya.

“Sanggup,Mbah.” Sahut Marta demi sang mama tercintanya.

Mulailah Mbah Jambrong komat-kamit sambil melempar kemenyan pada pembakarannya. Matanya tiba-tiba melotot. Dan suaranya menjadi parau.

“Kalian berdua ikut aku ke ruang sebelah….Sebelumnya Nyonya minum air dalam kendi ini. Air suci dari negeri jin Timur Tengah.” Mbah Jambrong menyodorkan kendi yang memang disiapkan khusus, dengan rerempahan yang mengandung unsur perangsang yang amat kuat.

Niat kotornya sudah mulai dijalankan. Di sebelah ruang praktik utama terdapat gentong besar berisi bunga-bunga aneka macam. Dan sebuah dipan kayu, serta meja kecil di dekatnya. Lebih mirip kamar mandi. Mbah Jambrong menyuruh Nyonya Rahma masuk mendekati gentong. Dan memberi perintah agar Marta melihat dari depan pintu ruangan.

“Kita mulai dengan pembersihan seluruh tabir itu, Nyonya. Rapal terus mantra ini dalam hati sambil aku mengguyur badan Nyonya….Mojopahit agung, Ratu sesembahan jagad. Hong Silawe,Hong Silawe. ” lanjut Jambrong.

cerita sex bareng mbah dukun, cerita mesum mbah dukun, cerita dukun mbah jambrong, cerita ngentot pasien, cerita hot mbah dukun, cerita ngentot memek pasien, mbah dukun bejat, mbah dukun sange, keperkasaan mbah dukun, mbah dukun kentu pasien, cerita mbah dukun kentu pasien.

Tangannya mengambil gayung di gentong dan mengguyur pada tubuh Nyonya Rahma. Air kembang pun dalam sekejap membasahi hijab dan gamis hitam Nyonya Rahma. Semakin memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh Nyonya ini yang masih ramping dan terjaga.

“Edan..ngaceng kontolku rek.” batin Mbah Jambrong.

Tangannya yang satu bergerak menggosok tubuh yang sudah basah itu. Dari ujung kepalan Nyonya Rahma yang masih terbalut hijab kuning, dahi, hidung, bibir, leher, dan merambat ke dua gundukan di dada Nyonya Rahma. Sempat Nyonya Rahma terterkejut dengan sentuhan tangan kasar sang dukun, tapi buru-buru ia konsentrasi lagi dengan rapalannya.

“Bagus terus konsentrasi Nyonya. Jangan hingga gagal, sebab akan percuma ritual kita…Sekarang lepas baju Nyonya biar reramuan kembang ini meresap dalam kulit Nyonya.” Perintah Mbah Jambrong yang langsung dituruti oleh Nyonya yang sudah ngebet jadi anggota dewan ini.

Nyonya Rahma benar-benar telanjang bulat sekarang. Tubuh putih mulus dengan kulit yang masih kencang. Melihat mangsanya dalam kendali, Mbah Jambrong semakin berani. Badannya dirapatkan, agar kontolnya menempel di belahan pantat Sang Nyonya yang montok.

Jemarinya semakin nakal memainkan puting Nyonya Rahma. Terus turun ke sela-sela paha Nyonya Rahma, memainkan meki Sang Nyonya. Setelah 5 menit, tampak tubuh Nyonya Rahma bergetar, tanda-tanda bahwa ramuan perangsang sudah mulai bekerja.

Mbah Jambrong menuntun Nyonya Rahma ke dipan kayu yang ada di ruangan itu dengan semua letupan birahi yang semakin tak tertahankan. Perhitungannya, tak lama lagi, Sang Nyonya akan tak mampu berdiri sebab melayang di antara alam sadar dan bawah sadarnya. Setelah membaringkan mangsanya, Mbah Jambrong meneruskan rangsangannya.

Bibir tebalnya terus mencium seluruh tubuh Sang Nyonya. Aroma kembang membuat nafsunya semakin tak tertahankan lagi. Bibir dan lidahnya menyerbu bibir meki Sang Nyonya. Edan, orang kaya emang beda. Jembutnya aja ditata. Wanginya juga beda, batin Mbah Jambrong sesaat setelah melihat meki Nyonya Rahma. Nyonya anggun ini mulai terangsang hebat.

Tubuhnya menggeliat-geliat setiap sapuan lidah Jambrong memutar-mutar klitorisnya. Pantatnya naik turun seakan ingin lidah Mbah Jambrong tertancap lebih dalam.

“Eeeemmm….”Desah Nyonya Rahma penuh kenikmatan.

“Ini saatnya.” Pikir Mbah Jambrong membuka pakaian dan celananya dengan buru-buru lalu naik ke atas dipan, mengambil posisi di sela paha Rahma.

“Apa yang Mbah lakukan pada Mama?”Tiba-tiba semua perhatian Mbah Jambrong terbelah oleh pertanyaan Marta.

Iya, ada anaknya yang nonton dari tadi. Beda ama ibunya, Marta tentu saja masih amat sadar.

“Tenang cah ayu. Mamamu harus melakukan ritual tertinggi kharisma asmaradana. Aku harus menyatu lewat persenggamaan untuk membongkar tabir jahat pada Mamamu. Mamamu harus ditolong. Kamu mau pengorbanan Mamamu tak sia-sia bukan,Nduk?”

“Iya,Mbah.” “Sekarang diam di situ. Dan bantu perjuangan Mbah dan Mama dengan rapalan tadi….” perintah Mbah Jambrong sambil mengembalikan konsentrasinya pada kontolnya yang sudah berdiri tegak.

Urat-urat kontolnya semakin membesar, pertanda sudah amat siap untuk melakukan penetrasi. Kepala kontol Mbah Jambrong yang mirip jamur raksasa berwarna hitam itu kini sudah berada di bibir meki Nyonya Rahma.

Bibir meki yang sudah basah sebab cairan itu merekah saat kepala kontol Sang Dukun mulai membelah masuk. Mbah Jambrong mengatur napasnya. Perjuangannya untuk menembus meki Nyonya satu ini ternyata cukup sulit. Diameter kontolnya terlalu besar untuk meki Nyonya Rahma. Baru kepala kontolnya yang mampu masuk.

“Aaaaah…seret juga milikmu,Rahma sayang. kontol suamimu payah rupanya. Tahan sedikit ya. Mbah akan beri kenikmatan hebat…” bisik Jambrong pada telinga Rahma.

Di lingkarkannya tangan gempal Sang Dukun pada pantat montok Nyonya Rahma. Dadanya bersandar pada dua payudara Rahma. Dan dengan hentakan keras, dibantu tekanan tangannya, kontol Jambrong melesak masuk.

“Eeeeemmmphmm,…mm..mm.”Desah Rahma sambil merem melek. Pengaruh ramuan perangsang plus hentakan tadi rupanya membuat sensasi luar biasa bagi Rahma.

Jambrong pun merasa nikmat luar biasa. Dibanding milik istri mudanya pun, milik Rahma masih lebih legit. Mungkin sebab orang kota pandai merawat diri, pikir Jambrong sambil menikmati pijatan meki Rahma.

“Plok…plok…plok…plak…plak…plak..” suara perut Mbah Jambrong bertemu kulit putih Rahma.

Sesekali Mbah Jambrong menelan ludahnya sendiri melihat batang besarnya yang hitam pekat keluar masuk meki Rahma yang putih mulus. Kontras, menimbulkan sensasi yang luar biasa. “Ooooh…Mbah.” Rahma mengeluh panjang.

Tubuhnya mengejang hebat. Orgasme melanda cewek molek ini rupanya, batin Jambrong. Terasa cairan hangat mengalir deras membasahi batang kontol Jambrong. Jambrong mengejamkan matanya menikmati sensasi hebat ini. Ia sengaja membiarkan Rahma menggelinjang dalam orgasmenya.

“Sekarang saatnya,sayang. Jurus entotan mautku. 6 isteriku sendiri tak ada yang bisa tahan…”Bisik Mbah Jambrong sambil tersenyum setelah melihat orgasme Rahma sudah reda.

Jambrong mulai mempercepat genjotannya. Naik turun tanpa lelah. Pantat Rahma pun mengikuti irama genjotan Mbah Jambrong. Sesekali sengaja ia tarik kontolnya hingga hanya menyisakan kepalanya.

Membuat pantat Nyonya Rahma terangkat seakan tak rela barang besar itu keluar dari mekinya. Mbah Jambrong menarik tubuh Rahma hingga mengubah posisi menjadi duduk. Sambil memeluk pinggul Rahma, Jambrong meneruskan sodokannya.

Rahma pun mengimbangi dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Gerakan pantat Rahma membuat kontol dukun tua itu seperti diremas-remas. Sebab hasratnya yang sudah memuncak. Nyonya Rahma mendorong Jambrong rebah.

Dan kini Nyonya anggun itu mengambil kendali dengan liarnya. Rambut panjangnya terurai berkibar-kibar. Peluhnya membuat kulit putihnya seakan mengkilap.

“Hong Silawe,…uuuggh…mmm..mmmph…Hong Silawe…aaaaahhh…” Dalam gerakan liarnya pun Rahma tak lupa membaca manteranya.

Mbah Jambrong tersenyum dan menikmati itu sebagai pemandangan yang begitu erotis. Dua tangannya meraih dua payudara Rahma yang terayun turun naik. Meremasnya dengan gemas. Sesekali tubuhnya terangkat untuk memberi kesempatan bibirnya mengulum dua puting yang menggoda itu.

Nyonya Rahma mengerang dengan hebatnya. Sebuah percumbuan yang hebat ini mungkin baru kali ini ia alami seumur hidupnya.

“Ooooohh….ooohh…uuuggh.Hong….aaaaah…Silawe..Ratu…j agaaaad…aaaah” Rahma semakin meracau tak karuan.

Tubuhnya mulai tak kuasa kembali menahan kenikmatan dahsyat ini. Rahma terus meliuk di atas tubuh tua Sang Dukun. Pantatnya mengayun dengan irama yang semakin kacau. Dan, kedua tangannya memegang rambut panjangnya.

“Bagus, sayang…terus rapal.rapal…aaah…rapal..kita hingga bareng, Rahmaku….hhhhmmpphh..”Mbah Jambrong pun merasakan kontolnya mulai berkedut.

Sambil mencengkram keras pinggul Nyonya Rahma. Mbah Jambrong membantu mempercepat kocokan dari bawah. Tubuh Mbah Jambrong mulai menegang. Dan sambil bangkit mendekap Nyonya Rahma, Mbah Jambrong mengeluh keras,

“Aaaaaaaaagghhh…ghh…Rahma…” “aaaaagggh….mmmmph…mmmp…aaaaah.”Nyonya Rahma pun menyambut pelukan Sang Dukun.

Tubuhnya bergetar untuk kedua kalinya. Rupanya inilah kali kedua Rahma mendapat orgasme hebat di dipan kayu ini. Badan seksi Nyonya yang anggun ini pun ambruk didekapan Jambrong yang masih merem melek menikmati sisa orgasmenya dari caleg cantik ini.

Dua-tiga menit ia memeluk Rahma, membiarkan kontolnya menikmati hangatnya liang peranakan Rahma. Setelah menidurkan Nyonya Rahma yang kelelahan di dipan, Sang Dukun melepaskan kontolnya dari meki Nyonya Rahma.

Advertisements

Cerita Sex – Kisah TKW Hamil Oleh Majikan..

Tiga tahun kemarin saya hidup di kota bandung , waktu itu saya berumur 25 tahun dan tinggal dengan sepupuku soalnya aku masih nganggur bantu bantu dia di pasar untuk bisnis kecil kecilan, sampai hasilnya secara tidak disengaja saya ketahui seorang pelanggan yang umum memakai jasa angkutan barang pasar yang kebetulan saya yang mengemudikannya. Bu Murni namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul saya antar ia hingga dirumahnya yang memangagak jauh dari pasar daerah ia berjualan kain- kain dan pakaian.

Sesampai dirumahnya saya bantuin ia mengangkat barang-barangnya. Mungkin sebab telah mulai akrab saya enggak segera pulang. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. saya duduk saja di depan rumahnya yang teduh, sebab kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Dari dalam saya mendengar bunyi seperti menyurruh terhadap seseorang..

“Sep.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitubunyi Bu Murni.

saya tak mendengar ada jawaban dari yang disuruh Bu Murni tadi. Yang ada tiba-tiba seorang gadis usia kira kira 20 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya umum saja, agak mirip Bu Murni, tetapi kulitnya putih dan semampai pula. ia tersenyum..

“Mas, minum dahulu.. Air kendil seger lho..” begituia menyapaku.

“I.. Iya.. Makasih..” balasku.

Masih sambil senyum ia balik kanan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. saya masih tertegun sambil melihatnya. pantatnyaberharap tembus pandang saja niatku, tidak , jalannya selaras, lumayan deh..’ batinku. diaseberapa lama Bu Murni keluar. ia telah ganti pakaian, mungkin yang umum ia gunakan kesehariannya..

“Dik Prima, itu tadi buah hati aku si Septi..” kata BuMurni.

 “ia tuh lagi ngurus surat-surat katanya ingin ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya. saya manggut-manggut..

“O gitu yah.. Ngapain sih kok ingin jauh-jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti jika ada apa-apa gimana..” saya menimpalinya.

diaseterusnya saya ngobrol sejenak lalu pamit undur diri. Belum hingga saya menstater kendaraan beroda empat pickupku, Bu Murni sambil berlari kecil ke arahku..

“Eh dik Prima, tunggu dahulu katanya Septi ingin ikut serta hingga terminal bus. ia ingin ambil surat- surat dirumah kakaknya. Tungguin sejenak ya..”

saya tak jadi menstater dan sambil membuka pintu kendaraan beroda empat saya tersenyum sebab inilah saatnya saya dapat puas mengetahui si Septi. Begitulah hasilnya saya dan Septi berkenalan pertama kali.

saya antar ia mengambil surat-surat TKW-nya.

Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.

“Sep.., namamu Septi. Kok nggak ada lesung Septinya..” kataku ngeledek. Septi juga tidak keok ngeledeknya.

“Mas saya kan telah punya lesung yang lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Septi..

Di situ saya mulai berani ngomong yang sedikit bandel, sebab sepertinya Septi tidak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. hanya saja ia berani merantau keluar negeri, pikirku.

Sesampai dirumah kakaknya, rupanya tuan rumah sedang pergi menolong tetangga yang sedang hajatan. saya ada buah hatinyayang masih kecil kira kira 7 tahunan dirumah. Septi memerintahnya memanggilkan ibunya.

 “Eh Ugi, Ibu telah lama belum perginya? susulin sana, bilang ada Lik Septi gitu yah..” Ugi pergi menyusul ibunya yang tidak lain merupakan kakaknya Septi. Selagi Ugi sedang menyusul ibunya, saya duduk-duduk di dipan tetapi di dalam rumah. Septi masuk ke ruangan dalam mungkin ambil air atau apa, saya diruangan depan.

Kemudian Septi keluar dengan segelas air putih ditangannya.

“Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir kendaraan beroda empat..” katanya.

Diberikannya air putih itu, tetapi mata Septi yang cantik itu sambil memandangku genit. saya terima saja gelasnya dan meminumnya. Septi masih saja memandangku tidak berkedip. Akupun hasilnya nekat mengamati ia juga, dan tidak terasa tanganku meraih tangan Septi, dingin dan sedikit berkeringat. diadikira, bahkan tangan Septi meremas jariku. saya tidak ambil pusing lagi tangan satunya kuraih, kugenggam. Septi menatapku.

“Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Septi separuh berbisik.

Agak sedikit malu saya, tetapi kujawab juga,

“Abis, .. sesudahjuga sih..” namun itu sambil sama-sama tersenyum saya nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu sampai tubuhnya melekat di dadaku, dan hasilnya kami saling berpelukan tak terlalu erat tadinya.

saya terus meng-erat lagi, erat lagi.. saya dadanya sekarang melekat lekat didadaku. saya kian memperoleh keberanian untuk mengelus wajahnya. saya dekatkan bibirku sampai meraba bibirnya. Merasa tak ada protes, segera kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar enak. Bibirnya berair- berair madu.

Tanganku mendekap tubuhku sambil kugoyangkan dengan maksud sambil menggesek buah dadanya yang mepet erat dengan tubuhku. Sayup-sayup saya mendengar Septi seperti mendesah lirih, mungkin mulai terstimuluskali..

Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di bawah perutku terkadang saya sengaja kubenturkan kira kira ditengah selangkangannya. seperti ia tahu iramanya, ia memajukan sedikit komponen bawahnya sehingga tonjolanku membentur pas diposisi “mecky”nya.

Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai memuncak saat tanpa malu lagi Septi menggelayutkan tangannya dipundakku memeluk, bokongnya goyang memutar, menekan sambil mendesah. Tanganku turun dan meremas bokongnya yang padat.

Akupun ikut serta goyang melingkar menekan dengan tonjolan penisku yang menegang tetapi terbatas sebab masih menggunakan celana lumayan ketat. saya rasanya saya gendong tubuh Septi untuk kurebahkan kedipan, tetapi urung sebab Ugi yang tadi diperintah Septi memanggil ibunya telah datang kembali.

Buru-buru kami melepas pelukan, menata pakaian, dan duduk seolah-olah tak terjadi apa-apa. diamasuk, Ugi yang rupanya sendirian berkata seperti pembawa pesan.

“Lik Septi, Ibu masih lama, sibuk sekali lagi masak buat tetamu-tetamu. Lik Septi suruh tunggu aja. Ugi juga ingin ke sana ingin main banyak sahabat. telah ya Lik..” Habis berkata begituUgi segera lari ngeloyor mungkin segera buru-buru ingin main dengan sahabat-sahabatnya.

saya dan Septi saling menatap, tidak habis pikir mengapa ada peluang yang tidak terduga datang beruntun untuk kami, tidak ada agenda, tidak ada niat tahu-tahu kami cuma berdua saja disebuah rumah yang kosong ditinggal pemiliknya.

“Mas, mending kita tunggu saja yah.. telah jauh-jauh balik lagi kan mubazir.. saya Mas Prima ada acara nggak nanti berabe dong..” berkata Septi memecah keheningan.

Dengan berbunga-bunga saya tersenyum dan sepakat|sependapat sebab memang tak ada acara lagi saya dirumah.

“Sep sini deh.. saya bisikin..” kataku sambil menarik lengan dengan lembut.

“Eh, kau indahjuga yah jika dilihatpandang..” Tanpa ba-Bi-Bu lagi Septi bahkan memelukku, mengecup, mengulum bibirku pun|malah|malahan dengan motivasinya yang sensual saya diwujudkan terperanjat langsung.

Akupun membalasnya dengan buas. saya tak berlama-lama lagi sambil berdiri. saya mendukung menasihatinya ke dipan untuk kemudian merebahkannya dengan masih berpelukan. saya menindihnya, dan masih menciumi, menjilati lehernya, hingga ke kuping sebelah dalam yang rupanya putih mulus dan berbau teduh.

Tangannya menyentuh tonjolan dicelanaku dan terus meremasnya seiring desahan libidonya. Merasa ada perimbangan, saya tidak canggung-canggung lagi saya buka saja kancing pakaiannya. diatabah saya berharap merasakan buah dada keras kenyal berukuran 34 putih mulus dibalik bra-nya.

Sekali sentil tali bra terlepas, sekarang pas di depan mataku dua tonjolan seukuran kepalan tangan artis film priaArnold Swchargeneger, putih keras dengan puting merah mencuat kurang lebih 1 cm. Puas kupandang, dilanjutkan meraba putingnya dengan lubang hidungku, kuputar-putar sebelum hasilnya kujilati memutari diameternya kumainkan lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat lagi, bergantian kanan dan kiri. Septi membusung menggeliat sambil menghela napas libido. Matanya merem melek lidahnya menjulur membasahi bibirnya sendiri, mendesah lagi..

Sambil lebih keras meremas penisku yang telah mulai terbuka resluiting celanaku sebab usaha Septi. Tanganku mulai merayap ke sana kemari dan baru stop ketika sudah kubuka celana panjang Septi perlahan tetapi pasti, sampai berbugil ria saya dengannya.

Kuhajar segala lekuk tubuhnya dengan jilatanku yang merata dari ujung kuping hingga jari-jari kakinya. tak Septi mulai takberaturan saat jilatanku kualihkan dibibir memeknya. iri menawan , alangkah merah, alangkah nikmatnya. Clitoris Septi yang sebesar kacang itu kuhajar dengan kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir-plintir dengan semua keberingasanku. Bagiku Mecky dan klitoris Septi mungkin yang terindah dan terlezaat se-Asia tenggara.

Kali ini Septi telah seperti terbang menggelinjang, bokongnya mengeras bergoyang sejalan jarum jam meski mukaku masih membenam diselangkangannya. dialama kemudian kedua paha Septi mengempit kepalaku membolehkan mulutku konsisten membenam dimeckynya, menegang, melenguhkan bunyi napasnya dan…

“Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Septi.. Mas.. Septi.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan itu kian kupagut-pagut, kusedot-sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga sempit Septi itu.

saya sekali rasanya jika saya tidak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku, kuhujam ke memeknya. rupanya tidak terlalu sulit sebab memang Septi tak perawan lagi. saya tidak perduli siapa yang mendahului saya, itu bukan satu hal penting. Yang penting ketika ini saya yang sedang memiliki hak penuh mereguk kenikmatan bersamanya.

Lagipula saya memang orang yang tak terlalu fanatik etika kesucian, bagiku lebih enak dengan tak memikirkan hal-hal njelimet seperti itu.

Kembali ke “pertempuranku”, separuh dari penisku telah masuk keliang miss v sempitnya, kutarik maju mundur perlahan, perlahan, cepet, perlahan lagi, tanganku sambil meremas buah dada Septi. Septi mengisyaratkan untuk lebih kencang mengasah kocokan penis saktiku, akupun tanggap dan memenuhi kemauannya. Benar saja dengan

“Ahh.. Uhh”-nya Septi mempercepat cara kerja penggoyangan saya kegelian. Geli nikmat tentunya.

saya keras, kian kencang, kian dalam penisku menghujam.

saya-kaprah 10 menit berlalu, saya tidak bendung lagi sesudah bertubi-tubi menikam, menukik ke dalam sanggamanya disertai empotan dinding miss v bidadari calon TKW itu, saya separuh teriak bersamaandesahan Septi yang kian mengasah, dan hasilnya detik-detik penyampaian puncak orgasme kami berdua datang.

saya dan Septi menggelinjang, menegang, daan.. saya orgasme menyemprotkan benda cair kental di dalam mecky Septi. Sebaliknya Septi juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Tubuhku serasa roboh rata dengan tanah sesudah terbang ke angkasa kenikmatan. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat kuping Septi.

“sesudahSep.. Bikin saya kelojotan.. saya sekali.. sesudahpuas Sep?” Septi cuma mengangguk,

“Mas Prima.., saya seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar umum benar kau Mas..” bisiknya..

Sadar kami berada dirumah orang, kami langsung mengenakan kembali baju kami, merapihkannya dan bersikap menenangkan padahal peluh kami masih berderai|mengucur. saya meraih gelas dan meminumnya.

Kami menghabiskan waktu menunggu kakaknya Septi datang dengan ngobrol dan bergurau. Sempat Septi bercerita bahwa keperawanannya sudah sirna setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang kini telah meninggal sebab demam berdarah. saya tak ada kenikmatan ketika itu sebab berupa perkosaan yang entah mengapa Septi memilih untuk memendamnya saja.

Begitulah hasilnya kami sering kali berjumpa dan merasakan hari-hari cantik memasuki keberangkatan Septi ke Malaysia. dirumahnya, ketika Bu Murni kepasar, maupun di kamarku sebab memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun.

dialama sesudah keberangkatan Septi saya pindah ke Jakarta. Khabar terakhir seputar Septi saya dengar setahun yang lalu, bahwa Septi telah pulang kampung, bukan sendiri tetapi dengan seorang buah hati kecil yang ditengarai sebagai hasil relasi gelap dengan majikannya semasa berprofesi di negeri Jiran itu.

Sedang tentangku sendiri masih berpetualang dan terus ingin ada “Septi-Septi” lain yang nyasar ke pelukanku. saya masih berjuang untuk hal itu sampai detik ini. Kasihan sekali saya.

Cerita Sex – Borong Wanita Penghibur..

Mendengar suara bel mobilll dimmmm…dimmmmmmm dengan suara lantang “Woiiiii gusssssss letsgo”dengan itu temanku sudah datang di depan rumahku, aku langsung mengambil jam tangan dan dompet dan aku keluar ke luar untuk menemuinya, tak lupa aku mengunci kamar kosku di halaman kost aku terlihat dua mobil, satu Toyota Corola warna putih yg merupakan milik si Peter dan satu Suzuki Esteem milik si Herry (bukan tokoh utama). Aku memperhatikan si mobilnya si Herry telah berisi empat orang, jadi aku menuju mobilnya si Peter.

“Wow… cakep nih…. kayaknya ini malam yg tak terlupakan…” komentar si Hendi yg duduk di samping Peter yg mengemudikan mobil ketika aku masuk. Perkataan tanpa ia sadari akan menjadi kenyataan.

Kemudian meluncurlah kedua mobil tersebut ke daerah Mangga Besar. Berdasarkan petunjuk Peter dan ramalan aku (hihi…) kami sepakat untuk pergi ke karaoke di hotel transit Mangga Besar (aku lupa Mangga Besar berapa, tapi kalau dari Mangga Besar mengarah ke Gunung Sahari, belok ke sebelah kanan sekitar 50 meter).

Dlm perjalanan kami bercanda apa saja, dari pacar baru Jeby yg sangat montok, petualangan baru si Hendi, sampai ke tamu Jepangnya si Peter yg bernafsu dengan wanita Indonesia.

Tanpa terasa sampailah kami di depan hotel tersebut. Terlihat keempat teman aku yg lainnya telah menunggu. Habis memarkir mobil, Peter memimpin kami ke dlm (soalnya dia telah sering ke sini). kami berjalan melewati lobby hotel, terlihat beberapa wanita cantik yg berpakaian seronok.

“Wah… adik aing udah berontak nih…” kata aku yg dilanjuti dengan tertawa teman-teman aku. Memang aku terkenal dengan nafsu aku yg besar, prinsip aku ya mirip semboyannya lampu Philips Tegang Terus.

Di ujung lorong tersebut, Peter meminta kami menunggu, dia berbelok ke kanan untuk mencari manager karaoke untuk mem-booking kamar. Iseng-iseng aku berjalan ke lorong sebelah kiri. Di ruangan pertama terdapat cafetaria atau semacam restoran. Di dlmnya, amboi… banyak wanita cantik yg berpakaian seksi. Benar-benar cantik. Aku mulai menghitung satu, dua, tiga… setaknya ada 13 wanita yg cakepnya selangit.

“Cakep ya?” tanya si Hendi.

“Kalau ente mau disini juga ada wanita yg langsung bisa dipakai, harganya 250 ribu berikut kamarnya,”

seperti germo saja itu anak.

“Nggak mau ah…” jawab aku.

Aku memang tak suka membayar untuk urusan bercinta, bukannya pelit tapi aku tak mau bercinta dengan sembarang perempuan. Harus perempuan yg aku cinta dan dianya juga harus cinta dengan aku. Dengan begitu pasti lebih nikmat kan? Asyiknya aku gampang sekali jatuh cinta (hahaha…).

“Ayo… teman-teman, ikut aing… aing udah booking kamar yg cukup untuk 20 orang,” seru si Peter.

Terpaksa deh aku mengalihkan perhatian aku dari belasan wanita di cafetaria tersebut. Seperti anak ayam, kami mengikuti Peter ke kamar karaoke. Ruangan karaoke tersebut cukup luas, terdapat sofa yg besar dan di dekat pintu masuk ruangan tersebut aku memperhatikan ada toilet yg cukup bonafide. Asyik juga.

“silakan duduk,” kata seorang tante dengan dandanannya yg menor.

Aku menebak ini pasti germonya yg biasa dipanggil Mami.

“Mau pesan berapa wanita?” tanya si Mami.

“Pesan…” pikir aku, seperti barang saja.

“Tolong panggilin 8 orang wanita dong!” jawab si Peter dengan bahasa yg lebih halus. Memang teman aku ini tutur bahasanya sangat sopan dan halus.

Tapi kami-kami ini semuanya terlihat sopan dan polos lho. Jarang ada wanita yg bisa menebak kalau kami-kami ini adalah cowok yg suka memuaskan wanita.

“Seperti biasa, cariin aing yg rada tomboi dan berambut pendek,” lanjut si Peter, memang dia ini sukanya dengan perempuan yg rada tomboi.

Kemudian si Mami keluar dan dlm waktu singkat dia telah kembali dengan membawa 6 orang perempuan. Dengan cepat mata aku menyapu mereka yg datang, cakep-cakep. Mereka masuk dan berkenalan dengan kami.

Aku sih tak memperhatikan nama mereka, yg penting saat itu adalah rok pendek tanpa stocking (hihi…). Teman-teman tahu dong maksud aku? Di ruangan gelap seperti karaoke ini mau apa sih cari yg cakep banget kalau dianya pakai baju yg tebal dan celana jeans. Dengan cepat otak dan mata aku bekerja.

Kemudian aku melambaikan tangan aku ke seorang perempuan yg bernama Dian. Dia memakai rok super mini, kaos ketat tanpa lengan, dan tanpa stocking. Aku meminta dia duduk di sebelah aku. Akhirnya kelima teman aku telah mendapatkan pasangan mereka, tinggal si Boy dan Jeby yg masih terlihat ragu-ragu. Tapi karena hanya 6 perempuan, terpaksa deh merekanya menunggu.

Tapi tak lama kemudian si Mami telah kembali lagi dengan dua orang perempuan. Satu seorang perempuan yg baru datang tersebut sangat menarik perhatian aku (aku sedikit menyesal telah memilih Dian), namanya Diah.

Postur tubuhnya kecil (sekitar 155 cm) dan agak montok. Namun ada yg misterius di tatapan matanya. Oh ya, aku paling suka memperhatikan mata seseorang, buat aku mata bisa menceritakan kondisi orang tersebut.

Kami bisa tahu orang tersebut lagi sedih, senang, terangsang, orgasme (hehe…), dan sebagainya. Tatapan si Diah ini begitu liar dan menantang. Akhirnya Jeby memilih si Diah. Sementara itu aku terus menerus memperhatikan si Diah.

Aku begitu penasaran. Habis itu kami bernyanyi riuh rendah. Suara si Peter yg sangat bagus bercampur baur dengan suaranya Hendi yg sumbang. Pokoknya ribut sekali. Sambil bernyanyi kami bercanda dan mengobrol ke sana ke mari.

Dari situ aku tahu Dian berasal dari Bandung sementara wanita lain ada yg berasal dari Medan, Padang, Surabaya, Batam, dan sebagainya. Ternyata prinsip Bhineka Tunggal Ika berlaku juga di sini. Si Diah sendiri berasal dari Jakarta.

Tapi beda dengan yg lain, si Diah ini lebih pendiam. Karena Jeby sendiri tak begitu pintar bergaul, jadinya mereka hanya diam-diaman. Aku sendiri telah bercanda kemana-mana dengan si Dian, kadang tersenggol buah dadanya yg montok, kadang aku meletakkan tangan aku di pahanya yg mulus.

Habis hampir dua jam bernyanyi, aku memperhatikan Diah berjalan keluar. Dengan alasan lapar, aku menyusul dia keluar. Terlihat Diah berjalan menuju lobby dan merokok di sofa yg terletak dekat pintu masuk.

“Hai… ngapain disini?” tanya aku.

Diah menatap tajam ke aku.

“Panas di dlm… mau cari udara seger,” jawab dia.

Habis itu aku memancing dia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar dia, tapi jawaban dia hanya singkat-singkat saja, aku memutar otak.

“Boleh memperhatikan telapak tangan ente?” tanya aku, akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan ilmu ramalan aku.

“Mau ngapain?” tanya dia cuek.

“Mau memperhatikan nasib ente…” jawab aku.

Diah memandang aku dengan ragu-ragu, kemudian dia menyodorkan tangan kanannya.

“Yg sebelah kiri…” kata aku.

Kemudian dia menjulurkan telapak tangan kirinya ke aku. Aku pegang tangannya. Hmmm… sangat halus. Kemudian aku memperhatikan garis-garis tangannya. Jujur saja, saat itu aku begitu kaget, garis tangan begitu amburadul yg menandakan kehidupan dia yg juga amburadul.

Aku memperhatikan garis cintanya, kemudian aku berkata,

“Kamu sangat susah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tapi baru-baru kamu menemukan orang tersebut, sayg kalian harus berpisah…”

Aku menatap wajahnya, matanya yg besar terbelalak.

“Teruskan…” kata dia.

“Kalian berpisah karena persoalan yg sangat prinsipil, bisa masalah agama atau suku,” lanjut aku.

“Aing nggak tahu pasti tapi orang tua dia atau orang tua kamu tak setuju dengan percintaan kalian…”

Sekarang tatapan matanya yg liar menjadi lembut, terlihat sendu dan sedih. Dia menghela nafas panjang.

“Orang tua dia nggak setuju…” jawab dia lemas.

“Terus?” tanya dia lagi.

Aku memperhatikan garis keluarga dia, hancur.

“Kamu sendiri tak mempunyai keluarga yg harmonis, kamu sering berantem dan jarang berhubungan dengan keluarga kamu lagi. Bahkan kamu membenci mereka…”

Kali ini terlihat matanya berkaca-kaca. Wah, aku paling tak bisa memperhatikan perempuan menangis di hadapan aku. Aku sedikit menyesal. Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara sesuatu yg menyenangkan.

“Tapi kalau kamu nggak berputus asa, kamu akan menemukan lelaki kedua yg sangat mencintai kamu,” kata aku.

Sebenarnya perkataan ini hanya untuk menghibur dia. Ternyata efeknya luar biasa, terlihat keriangan dan secercah harapan di sorot matanya.

“Terus…?” selanjutnya aku cuma asal bicara saja, aku bilang kalau dia berusaha dia akan sukses (tentu saja bukan?).

Habis itu kami menjadi akrab, dia bicara banyak mengenai kondisi dia. Ternyata ramalan aku hampir seluruhnya benar. Kemudian timbul keisengan aku, aku meminta agar dia menunjukkan telapak tangannya lagi. Kemudian aku bilang,

“Jangan marah ya, aing memperhatikan kamunya udah nggak perawan… dan mempunyai banyak cowok…” Hehe… tentu saja, masa sih ada wanita malam yg masih perawan, hihi.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil survey aku dengan pertanyaan ini, hampir 80% perempuan (perempuan baik-baik yg belum kimpoi!) di Jakarta mengaku mereka tak perawan lagi.

“Kok tahu sich?” jawab Diah dengan polos sambil memperhatikan telapak tangannya sendiri.

Hehe… mana bisa sich tahu perawan nggak perawan dari telapak tanga

n, pikir aku. Buat rekan yg belum pengalaman, jangan coba-coba menanyakan persoalan tersebut ke perempuan yg baru anda kenal, ok? Biasanya aku memberikan ramalan yg jitu dulu baru bertanya hal tersebut, jadinya mereka telah percaya dengan aku. Kalau datang-datang terus kalian tanya perawan atau tak ya siap-siap digampar.

Habis itu kami sepakat untuk masuk kembali ke ruangan karaoke. Singkat cerita, kami menyanyi atau teriak-teriak selama 5 jam, habis membayar (hampir 2.4 juta!) kami saling pamitan dengan perempuan masing-masing.

Aku lihat teman-teman aku pada minta nomor telepon, aku sendiri tak begit

u tertarik dengan Dian. Habis aku telah mau berangkat ke UK, tapi mata aku terus terpaku ke satu sosok… Diah! Sambil berjalan keluar aku mendekati Diah dan menawarkan jasa untuk mengantar dia.

Pertama dia menolak. Oh ya, perempuan di karaoke ini biasanya high class dan tak bisa langsung diajak tidur. Kecuali dia suka sekali atau bayarannya mahal sekali.

“Ayo dong, kasian ente-nya sendirian… Entar diculik lagi… ama kami-kam

i kan aman. Dijamin nggak diapa-apain dech…” bujuk aku.

“Itu yg aing takutin, nggak di apa-apain…” jawab Diah.

Eh, nantang nich.

Akhirnya dia setuju juga diantarkan oleh kami. Kami mempersilakan dia duduk di depan, di samping Peter yg menyetir mobil. Aku sendiri duduk di belakang, di tengah, jadi bisa agak maju ke depan untuk mengobrol dengan Diah.

Di sebelah aku duduk Hendi dan Jeby. Sewaktu di mobil si Peter menanyakan alamat si Diah, tapi anehnya dia tak mau memberitahu kami.

“Muter-muter saja dech… aing malas pulang,” jawab Diah.

Akhirnya si Peter cuma putar-putar di daerah Kota, tanpa tujuan. Waktu itu kami banyak mengobrol dan menurut Diah dia anak orang kaya yg tinggal di daerah Pondok Indah, dan dia ke karaoke cuma untuk bersenang-

senang, bukan untuk duit.

Dia itu freelance, dan kami percaya dengan dia, soalnya si Peter tak pernah memperhatikan dia sebelumnya (si Peter hampir setiap hari nongkrong di karaoke tersebut).

Aku sendiri sibuk berpikir, maunya apa sich ini anak? Akhirnya aku ber

tanya ke Diah,

“Aing ngantuk nich, cari hotel saja ya?” Jawabannya sangat mengagetkan,

“Siapa takut… tapi aku nggak mau berdua… maunya ente semua ikut.”

Saat itu yg timbul di benak aku adalah dia tak mau bersenggama, jadi cuma tidur ramai-ramai. Akhirnya aku meminta Peter untuk mencarikan hotel, habis capai putar-putar terus. Habis berdiskusi cukup lama, kami memutuskan untuk check in di motel yg berlokasi di Jalan Daan Mogot (aku lupa namanya).

Tapi aku tahu ada tiga motel di Daan Mogot, kami menuju ke motel yg berada di sebelah kiri (kalau mengarah ke perempatan Grogol). Motel ini sangat lux dan biayanya tak mahal-mahal sekali. Saat itu harganya 98 ribu untuk enam jam. Tapi masalahnya, motel hanya memperbolehkan dua orang di dlm kamar. Sekarang kami berlima, bagaimana ya? Akhirnya kami sepakat untuk check in secara sembunyi-sembunyi.

Tiba di motel tersebut, Peter membelokkan mobilnya ke dlm. Kami yg dibelakang harus membungkuk dan bersembunyi. Aku mengintip sedikit, terlihat pintu-pintu garasi yg tertutup, gila… penuh sekali. Akhirnya

 kami menemukan garasi yg kosong di ujung jalan masuk. Peter segera memasukkan mobilnya ke garasi, habis itu menutup pintu garasinya dengan menekan satu tombol.

Saat itu aku sedikit was-was, bisa tak ya kami-kami dijebak atau sebagainya. Tapi pikir-pikir tak mungkin juga, akhirnya habis pintu garasi ditutup kami berhamburan naik ke kamar yg berlokasi di atas garasi. Kamar motel ini termasuk lux dan bersih. Di dlm kamar terdapat satu kasur air berwarna hijau yg cukup besar.

Di sebelah pintu masuk terdapat toilet dan shower. Uniknya shower ini tak mempunyai pintu, hanya dindingnya berupa kaca jadi tentunya orang yg di dlm kamar bisa memperhatikan orang yg lagi mandi. Aku berpikir, kalau roomboy-nya datang ketahuan tak ya? Biasanya sekitar 15 menit kemudian room boy-nya akan datang untuk memungut bayaran.

Aku memperhatikan jam tangan aku, hampir jam 3 malam. Memperhatikan kasur, langsung saja kami menjatuhkan diri ke sofa dan ke ranjang. Aku sendiri berbaring di samping Diah. Sekarang di ruangan yg terang benderang baru aku sadari kalau si Diah ini cakep sekali.

Kulitnya putih mulus. Dadanya tak terlihat besar namun terlihat sangat kenyal. Iseng-iseng aku mencoba memeluk dia. Dia tak menolak. Aku mengarahkan ciuman aku ke pipinya, lagi-lagi dia cuma diam. Tapi aku tak berani melangkah lebih jauh, soalnya ada tiga teman aku di ruangan tersebut.

Peter terlihat sangat tertarik ke Diah, dia berbaring di sisi lain dari Diah. Sekarang Diah berbaring di antara aku dan Peter. Rok pendeknya tak sanggup menyembunyikan celana dlmnya yg berwarna putih, kontras dengan roknya yg hitam.

Aku memperhatikan tangan Peter mengelus pahanya. Otak aku bekerja keras, bagaimana caranya bisa main ya? Sepertinya paling tak meminta teman-teman aku menunggu di mobil, jadi kami bisa bergantian.

“Pet, Jeb, dan Hendi gimana kalau kalian menunggu di bawah?” tanya aku.

“Tentu kalau room boynya udah pergi,” kata aku lagi.

“Nggak mau ah…” ternyata si Diah yg menjawab.

“Aing mau kalian semuanya berada di kamar ini!” kata Diah.

“Ente kuat emangnya…?” pancing si Hendi.

“Emangnya ente sendiri kuat?” jawab si Diah menantang.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dengan buru-buru, aku, Jeby dan Hendi masuk ke toilet. Diah tetap berbaring di kasur dan Peter membukakan pintu. Dia sendiri telah menyiapkan uangnya sebesar 140 ribu (kamar 98 ribu, kondom 30 ribu, dan sisanya buat tip). Roomboy-nya sendiri cukup tahu diri, dia hanya berdiri di luar kamar.

“Mas, tolong beliin kondom dong, satu bungkus!” terdengar suara si Peter.

“Isi tiga biji Mas?” roomboy-nya menjawab.

“Nggak, yg isi 12 biji dan mereknya harus Durex (hihi… aing di sponsor Durex n

ih),” jawab Peter.

Kami yg di kamar mandi hampir tertawa, kok sepertinya nafsu sekali ya! Ketika Peter sedang membayar, Diah berjalan ke kamar mandi.

Di kamar mandi yg berukuran 1.5 x 1.5 m ini sekarang penuh terisi 4 orang. Di hadapan kami yg terbegong-bengong, Diah menurunkan celana dlm putihnya secara perlahan hingga ke atas lututnya dan memamerkan bulu kemaluannya yg tipis. Kami cuma melongo memperhatikan dia pipis di hadapan kami. Mau bersuara pada tak berani soalnya roomboy-nya masih di depan pintu. Aku memperhatikan muka si Jeby mulai memerah.

Diah sendiri terus tersenyum sambil memperhatikan muka kami yg pasti keliatan bloon. Ketika selesai, dia melepaskan celana dlmnya dan meletakkannya di kaitan di kamar mandi. Habis itu dengan senyum memancing dia berjalan dan berbaring telungkup di kasur.

Ketika mendengar pintu kamar ditutup Peter, kami segera berhamburan mendekati Diah. Si Peter sendiri masih belum menyadari apa yg terjadi. Aku berdiri di belakang Diah dan pahanya sedikit terbuka, dari situ aku bisa memp

 

erhatikan belahan kemaluannya yg berwarna merah. Terlihat bagus dan tanpa kerutan.

Saat itu Hendi telah berbaring di sebelah Diah, terlihat dia meraba punggung dan pundak Diah yg masih tertutup kaos. Jeby berdiri di samping, terlihat ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Peter dengan sigap membaca situasi, dengan cepat dia telah berada di sisi lain dari Diah dan mulai membelai paha Diah yg mulus.

Aku sendiri masih ragu-ragu, main ramai-ramai? Malu dong… Masa dilihat teman-teman aku? Aku pernah bermimpi untuk main ramai-ramai tapi dengan beberapa perempuan dan laki-lakinya cuma aku. Tapi sekarang kondisi yg aku hadapi begitu berbeda. Maju atau mundur ya?

Ketika itu Hendi mulai membuka kaos Diah, terlihat Diah hanya pasrah saja. Dlm sekejap lepaslah kaos Diah dan terpampanglah tubuh mulus dia yg tak bercacat sedikitpun. Peter yg berada di bagian bawah tak mau kalah, terlihat dia menaikkan rok mini si Diah hingga ke atas pinggulnya. Tapi Diah menutup pahanya dan aku hanya bisa memperhatikan dua bongkah pantat yg mulus dan menantang.

Cerita Sex – Melakukan ML sama Bapak Tiri..

Sekarang aku baru masuk ke kelas 3 SMA, disini aku akan bercerita tentang bagaimana kehilangan sebagai gadis yaitu keperawananku diambil oleh bapakku (tiri) , semoga kalian yang membaca ini juga bisa mengambil hikmahnya kalau perbuatanku di bawah ini kurang baik, tapi bagaimana lagi karena nasi udah menjadi bubur lantas aku mau curhat kepada ibuku juga tidak mungkin disinilah tempat nya yang berkenan membagikan ceritaku dan sudah di edit namanya.

Perkenalakan namaku Mila, saat itu aku masih berusia 17 tahun, dengan wajah keturuan bapakku asli yaitu china jadi kulitku bersih putih dan rambut panjang hitamku serta di tangan dan kakiku ada bulu bulu tipis yang tumbuh konon katanya hal itu yang membuat nafsu sex besar dan membuat para mata pria juga bernafsu.

Memang siang ini cuacanya cukup panas, satu persatu pakaian yg menempel di tubuhku kulepas. Kuaqui, kendati masih ABG tetapi aqu memiliki tubuh yg lumayan montok. Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jaqun pria manapun untuk tersedak. Dgn rambut kemerah-merahan dan tinggi 167 cm, aqu tampak dewasa.

Sekilas, siapapun mungkiin tidak percaya kalo aquadalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual kegemaranku. Mungkiin karna pertumbuhan yg begitu cepat atau memang sudah keturunan, entahlah. Tetapi yg jelas cukup mempesona, wajah oval dgn leher jenjang, uh.. entahlah.

Pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aqu berpamitan dgn kedua orangtuaqu. Cium pipi kiri dan kanan adalah rutinitas dan menjadi tradisi di keluarga ini. Tetapi yg menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman Bpk.

Seusai sarapan pagi, ketika Ibu beranjak menuju dapur, aqu terlebih dahulu mencium pipi Bpk. Bpk Bima (begitu namanya) bukan mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aqu sempat terpaqu sejenak. Entah karna terkejut untuk menolak atau menerima perlaqukan itu, aqu sendiri tidak tahu.

Bpk Bima sudah setahun ini menjadi Bpk tiriku. Sebelumnya, Ibu sempat menjanda tiga tahun. Karna aqu dan kedua adikku masih butuh seorang ayah, Ibu akhirnya menikah lagi. Bpk Bima memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun. Teman-teman sekolahku banyak yg cerita kalo aqu bersukur punya Bpk Bima.

“Salam ya sama Bpk kamu..” ledek teman-temanku.

Aqu sendiri sebenarnya sedikit grogi kalo berdua dgn Bpk. Tetapi dgn kasih sayg dan pengertian layaknya seorang teman, Bpk pandai mengambil hatiku. Hingga akhirnya aqu sangat akrab dgn Bpk, bahkan terkadang kelewat manja. Tetapi Ibu tidak pernah protes, malah dia tampak bahagia melihat keakraban kami.

Tetapi ciuman Bpk tadi pagi sungguh diluar dugaanku. Aqu memang terkadang sering melendot sama Bpk atau duduk sangat dekat ketika menonton TV.

Tetapi ciumannya itu lho. Aqu masih ingat ketika bibir Bpk menyentuh bibir tipisku. Walau hanya sekejab, tetapi cukup membuat bulu kudukku merinding bila membaygkannya. Mungkiin karna aqu belum pernah memiliki pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aqu begitu terkesima.

“Ah, mungkiin Bpk nggak sengaja..” pikirku.

Esok paginya seusai sarapan, aqu mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Tetapi ketika aqu memberikan ciuman ke Ibu, Bpk beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Bpk ke kamar. Aqu pun segera berjinjit untuk mencium pipi Bpk. Respon Bpk pun kulihat biasa saja.

Dgn sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Bpk menerima ciumanku. Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Bpk mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dgn bibir atasku.

Tetapi entah kenapa aqu menerimanya, kubiarkan Bpk mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Bpk Bima menerpa wajahku. Hampir satu menit kubiarkan Bpk menikmati bibirku.

“Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!” begitu yg kudengar dari Bpk.

Sejak kejadian itu, hubungan kami malah smakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali.

Aqu sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilaqukan Bpk tiriku, begitu yg tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan.

Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Bpk menjadi tradisi. Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Ibu di dapur, aqu dan Bpk berciuman di meja makan. Malah aqu sudah berani memberikan perlawanan.

Lidah Bpk yg masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Bpk juga begitu. Kalo tidak memikirkan Ibu yg berada di dapur, mungkiin kami akan melaqukannya lebih panas lagi.

Hari ini cuaca cukup panas. Aqu mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aqu hanya sendirian di rumah. Ibu membawa kedua adikku liburan ke luar kota karna lagi liburan sekolah. Dgn hanya mengenakan handuk putih, aqu sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aqu merasakan segar di tubuhku.

Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yg cukup akrab di telingaqu menyebut namaqu.

“Mil.. Mil.., Bpk pulang..” ujar lelaki yg ternyata Bpkku.

“Kok cepat pulangnya Pa..?” tanyaqu heran sambil mengambil baju dari lemari.

“Iya nih, Bpk capek..” jawab bpk dari luar.

“Kamu masak apa..?” tanya bpk sambil masuk ke kamarku.

Aqu sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aqu coba tenang-tenang saja. Handuk yg melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aqu ketatkan lagi. Kemudian membalikkan tubuh. Bpk rupanya sudah tiduran di ranjangku.

“Ada deh..,” ucapku sambil memandang Bpk dgn senyuman.

“Ada deh itu apa..?” tanya Bpk lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.

“Memangnya kenapa pak..?” tanyaqu lagi sedikit bercanda.

“Nggak ada racunnya kan..?” candanya.

“Ada, tapi kecil-kecil..” ujarku menyambut canda Bpk.

“Kalo gitu, Bpk bisa mati dong..” ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.

Aqu sedikit gelagapan, karna posisi Bpk tepat di depanku.

“Kalo Bpk mati, gimana..?” tanya Bpk lagi.

Aqu sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.

“Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!” tanya Bpk sambil menggenggam kedua tanganku yg sedang memegang handuk.

Aqu kembali terdiam. Aqu tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yg membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Bpk memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dgn hangat.

Ia angkat daguku dan aqu menengadah ke wajahnya. Aqu diam saja diperlaqukan begini. Kulihat pancaran mata Bpk begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Bpk mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aqu mulai gelisah. Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini.

Nafsu remajaqu mulai keluar ketika tangan kiri Bpk menyentuh toketqu dan melaqukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yg dijamah bibir tebal Bpk. Leher jenjang yg ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Bpk. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaqu.

“Pak..” kataqu ketika lidah Bpk masuk dan menggelitik telingaqu.

Bpk kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.

“Pa.. nanti ketahuan Ibu..” sebutku mencoba mengingatkan Ibu.

Tetapi Bpk diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yg melilit di tubuhku disingkapkannya.

“Mila, tubuh kamu sangat harum..” bisik Bpk lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.

Dalam posisi ini, Bpk tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yg membalut kulitku smakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke toketqu.

“Kamu udah punya pacar, Mil..?” tanya Bpk di telingaqu.

Aqu hanya menggeleng pasrah.

Bpk kemudian membelai dadaqu dgn lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Bpk mencium pinggiran toketqu.

“Uuhh..,” desahku ketika bulu kumis yg dipotong pendek itu menyentuh dadaqu, sementara tangan Bpk mengelus pahaqu yg putih. Puting susu yg masih merah itu kemudian dikulum.

“Pak.. oohh..” desahku lagi.

“Pa.. nanti Mamm..” belum selesai kubicara, bibir Bpk dgn sigap kembali mengulum bibirku.

“Bpk sayg Mila..” kata Bpk sambil memandangku.

Sekali lagi aqu hanya terdiam. Tetapi sewaktu Bpk mencium bibirku, aqu tidak diam. Dgn panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Bpk pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan.

Bpk memang pintar membuatku terlena. Aqu smakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yg mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.

“Ohh, ohh..” desahku panjang.

Bpk rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya.

Kaget juga aqu melihat batang kemaluannya Bpk, besar dan tegang. Dgn mata yg sedikit tertutup, aqu menggenggamnya dgn kedua tanganku. Setan yg ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aqu pun mengulum benda itu ketika Bpk mengarahkannya ke mulutku.

“Terus Mil.., oh.. nikmatnya..” gumamnya.

Seperti berpengalaman, aqu pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dgn kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Bpk yg merasakan kenikmatan, aqu pun merasakan hal serupa. Tangan Bpk mempermainkan kedua putingku dgn tangannya.

Karna birahi yg tidak tertahankan, Bpk akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dgn ganas. Kemudian kejantanannya Bpk menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan.

Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala titit itu menyeruak masuk menembus selaput dinding mekiku.

“Sakit.. pak..” ujarku.

“Tenang Sayg, kita nikmati saja..” jawabnya.

Pantat Bpk dgn lembut menekan, sehingga titit yg berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan.

Bpk melaqukan ayunan-ayunan lagi. Kuaqui, Bpk memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aqu merasakan kenikmatan yg tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aqu mengimbangi kenikmatan ini dgn menggoyg-goygkan pantatku.

“Terus Mil, ya.. seperti itu..” sebut Bpk sambil mempercepat dorongan tititnya.

“Bpk.. ohh.., ohh..” renguhku karna sudah tidak tahan lagi.

Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir mekiku. Kutarik leher Bpk hingga pundaknya kugigit keras. Bpk smakin terangsang rupanya. Dgn perkasa dikuasainya diriku.

Meki yg sudah basah berulangkali diterobos titit bpk. Tidak jarang toketqu diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Bpk. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melaqukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yg dilaqukan Bpk. Mungkiin karna baru pertama kali, dia taqut menyakitiku.

Kenikmatan ini smakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dgn posisi 69, Bpk masih perkasa. Titit Bpk dgn tanpa kendali keluar masuk mekiku.

“Nikmat Mil..? Ohh.. uhh..” tanyanya.

Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aqu melenguh dan mendesah dibuatnya.

“Pak.. Mila nggak tahan..” kataquku ditengah terjangan Bpk.

“Sa.. sa.. bar Sayg.., ta.. ta.. han dulu..” ucap Bpk terpatah-patah.

Tetapi aqu sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aqu mengeluarkan mani kembali.

“Okhh.. Ohkk.. hh..!” teriakku.

Lututku seketika lemas dan aqu tertelungkup di ranjang. Dgn posisi telungkup di ranjang membuat Bpk smakin belingsatan. Bpk smakin kuat menekan tititnya. Aqu memberikan ruang dgn mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.

“Okhh.. Ohh.. Ohk..” erang Bpk.

Hangat rasanya ketika mani Bpk menyiram lubang mekiku. Dgn peluh di tubuh, Bpk menindih tubuhku. Nafas kami berdua tersengal-sengal. Sekian lama Bpk memelukku dari belakang, sementara mataqu masih terpejam merasakan kenikmatan yg baru pertama kali kualami. Dgn titit yg masih bersarang di mekiku, dia mencium lembut leherku dari belakang.

“Mil, Bpk sayg Mila. Sebelum menikahi Ibumu, Bpk sudah tertarik sama Mila..” ucap Bpk sambil mengelus rambutku.

Ibu dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aqu dan Bpk mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yg merasuki kami, dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami laqukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun Ibu ada di rumah. Dgn alasan menonton bola di TV, Bpk membangunkanku, dari situ perlakuan bpk tiriku sampai sekarang berlanjut.

Cerita Sex – Gadis ABG Ngewe..

Kejadian ini bermula saat aku mendapati tempat rumah kos dimana pemiliknya sudah tua, lumayan luas rumahnya karena di belakang ada pekarangan, rupa rupanya bapak kosnya memiliki anak yang masih berusia ABG itu anak paling bungsu katanya.

Terlihat dari gerak geriknya anak ini memang manja, kulihat dia agak nakal sih soalnya kalau malam minggu dia selalu pulang malam, namanya Darra, anak ABG orang nya manis, t*oketnya baru numbuh terlihat benjolannya di dadanya, pantatnya cukup gede juga terlihat jika di asedang jalan uhh digoyangkan pantantnya.

Yang menarik, Darra ada kumis tipisnya diatas bibirnya yang tipis, yg menantang untuk dikulum2. Biasanya prempuan yang kumisan, jembutnya lebat. aku jadi penasaran, abege seumuran Darra kaya apa lebatnya jembutnya.

Sampe suatu malem, aku lagi dikamar, brosing situs kegemaranku pake laptopku. Tiba2 terdengar ketokan dipintu.

“Om, Darra bole masuk gak”.

Darra rupanya, nekat juga dia nyamperin aku ke kamarku. Aku membuka pintu, Darra pake tanktop ketat dan celana pendek yang ketat dan pendek banget.

Kliatan sekali Darra gak pake bra, sehingga bentuk t*oketnya yang umut tercetak jelas dibalik tanktop ketatnya. kont*olku langusng melonjak bangun disuguhi pemandangan yang merangsang seperti itu.

“O Darra, masuk deh”.

Darra masuk dan pintu kamar kututup, banyak nyamuk kalo enggak, alesanku. Darra duduk diranjang dan aku balik duduk di mejaku yang terletak disebelah ranjang. Halaman yang lagi terbuka segera tertutup, baiknya gambar ngentot yang lagi kunikmati sudah aku tutup sebelumnya.

“Ada apa Ay, apa yang bisa om bantu”. Kedengarannya gombal ya, tapi itu adalah ucapan standarku kalo ketemu klien, jadi kebawa deh waktu ngomong ma siapa aja, termasuk Darra. Darra kan bakal jadi klienku buat urusan kenikmatan he he.

“Ini om, ada PR mesti buat karangan bahasa Inggris, om kan jago bahasa inggrisnya, bantuin bikinin dong om”, Darra merengek.

“Upahnya apa?” “Om maunya apa, om minta apa juga Darra turuti deh”.

Wah nantang ni anak, dasar anak liar, ya gak apa memang aku suka kok ma anak liar, palagi kalo napsunya besar. Harusnya Darra napsunya besar, berdasar pengalamanku, prempuan kalo ada kumisnya, biasanya bulu badannya termasuk jembutnya lebat dan napsunya besar kalo lagi maen, minta nambah terus.

“Sini om liat, om bantuin tapi tetep Darra yang mesti nyelesaian sendiri, om bantu kasi idenya. Buat PR nya disini aja biar bisa selesai”.

“Mau om, bikin dikamar om, Darra ganggu gak?”

“Buat abege secantik dan seseksi kamu apa si yang gak?”

“Mangnya Darra seksi ya om”.

“Iyalah”.

“Om terangsang dong”, wah to the point banget ni anak.

“La iya lah, om kan lelaki normal, siapa yang nahan deket2 abege cantik dan seksi kaya kamu gini”. Aku memberinya ide, Darra nulis ideku, sembari becanda, aku membantunya sehingga draftnya selesai.

“tinggal Darra nulis ulang ja kan, selesai deh tugas om, sekarang mana upahnya”.

Aku duduk disebelahnya diranjang. “Ay, om bole nanya gak?”

“Om mo nanya apa? Pasti mo nanya Darra dah punya pacar belon kan?”

“Kok tau si Ay”.

“Ya tau lah, Darra dah punya pacar om”.

Wah hebat baru usia segini dah punya pacar. “Kalo malming, Darra suka gak kliatan tu lagi ditempat pacar ya”.

“Iya om, abis kalo Darra bawa pacar kemari, pasti rese banget bonyok Darra, makanya Darra ke tempat kosnya pacar Darra aja”.

“Temen sekolah kamu?” “Bukan om, pacar Darra anak kedokteran, canggih kan”. Darra tersenyum manis sekali.

“Trus kamu ngapain ja ditempat pacar kamu, gak pulang lagi”.

“Ya ngapain lagi om, kalo lelaki dan prempuan sekamar”.

“Enak dong Ay”.

“Bukan enak lagi om, nikmat banget. Makanya Darra jadi ketagihan”.

“Kamu dia yang mrawanin”. “Iya om”.

“Kalo maen brapa ronde”.

“Seringnya 3 ronde, kalo dianya napsu banget 4 ronde om. Cuma ronde pertamanya Darra emut sampe ngecret dimulut Darra”.

“Kamu telen ya pejunya??”.

“Iya om, dia bilang peju tu protein tinggi, jadi gak bahaya, malah bagus buat kesehatan. Maklum de om anak kedokteran”.

“Besar gak Ay dia punya”.

“Besar om, segini”. Darra memeragakan ukuran kont*ol pacarnya dengen mempertemukan jempol dan telunjuknya. “Panjang gak”.

“Panjang om, segini, dia memeragakan panjangnya pake jengkalan tangannya yang mungil. Dia ngecretnya diluar ya Ay”.

“enggak om didlaem, kalo diluar mana nikmat”.

“Kamu gak takut hamil”.

“Di kasi obat om, kalo Darra lagi subur, dia ajarin Darra ngitung masa subur”.

“wah canggih dong kamu ya, skarang lagi gak subur”.

“Justru lagi subur om, Darra lebi suka kalo maen lagi subur om, napsu Darra cepet banget naeknya”. Gila juga ni akan pikirku, tapi masabodo lah, aku pengen banget ngerjain Darra malem ini.

Aku mencium tengkuknya.

“Geli om”, Darra menggelinjang.

“Wangi kamu Yu, jadi merangsang banget deh”, kucium sekali lagi tengkuknya.

“Ooom, geli, daripada nyiumin tengkuk mending juga cium bibir Darra ja”, katanya sambl menoleh kearahku.

Aku tidak menyia2kan kesempatan yang diberikan Darra, segera bibir mungilnya kusambar dengan bibiku dan kulumat dengan penuh napsu. Darra mengimbangi ciumanku yang ganas, dia malah menjulurkan lidahnya kedalam mulutku, kubelit dengan lidahku dan kekulum lidahnya.

Sementara itu tanganku mulai memerah t*oketnya yang baru numbuh itu, pentilnya yang juga imut mulai mengeras.

“Ooom, diremes langsung ja om, Darra pengen diemut deh pentilnya”.

Segera tanktopnya kulepas, Darra mengangkat tangannya keatas, mempermudah aku melepas tanktopnya. T*oket mungilnya tampak menonjol dengan pentilnya yang juga imut dan berwarna pink.

Darra kurebahkan diranjang, segera aku menyiumi t*oketnya dan akhirnya pentilnya mulai kujilat2 dan akhirnya kuemut.

T*oketnya kumasukkan sebanyak2nya kemulutku dan kusedot dengan ganas. “Oom, ganas amat si ngemutnya, enak om, teruss om”, Darra mulai merintih kenikmatan. Aku meraba2 perutnya, trus membuka kancing clananya dan ritsluitingnya.

Aku merogo kedalam ke selangkangannya. agak susah kaDarra celananya ketat juga, teraba jembutnya yang rupanya bener, lumayan lebat.

“Ay, jembut kamu lebat ya, buat abege seumur kamu segitu mah lebat Ay”. “Tapi om suka kan ngeliatnya, celana Darra dilepas sekalian om, Darra dah pengen om”.

Segera celana pendeknya kulepas, Darra gak make cd, sehingga yang pertama kulihat adalah jembutnya yang lumayan lebat itu. Darra mengangkangkan kakinya, dibalik kerimbunan jembutnya nampak mekinya yang berwarna pink,

Kayanya masi rapet sekali, walaupun pacarnya pasti sudah sering mengobok2 me mek Darra dengan kont*ol yang Darra bilang besar panjang itu, dan akhirnya menumpahkan pejumya 2-4 kali kedalem me mek Darra selama mreka maen.

Mekinya kuraba pelan dengan jari, trus keatas kearah itilnya, kugesek itilnya pelan, “Om yang cepet geseknya om, nikmat banget om, om pinter banget ngerangsang napsunya Darra, trus om, Darra dah pengen om”.

“Pengen apaan Ay”. “Pengen dimasukin kont*ol om, ayo dong om, Darra dah gak tahan ni, dah pengen diobok2 pake kont*ol om”.

Aku gak memperdulikan rengekan Darra, malah aku mulai menjilati itil Darra yang membuat Darra menggelinjang makin hebat. Gila bener ni abege, walaupun baru seumur dia, tapi liarnya sama kaya abege yang lebih tua dari dia, yang sering aku entotin.

Ketika itilnya kuemut2, Darra makin menggila erangannya. aku memasukkan jari tengahku kedalam mekinya, terasa sekali cengkeraman me mek Darra ke jari tengahku. Gimana kalo kont*olku yang masuk ya rasanya cengkeraman me meknya, pikirku.

Jariku menyusuri bagian dalem sebelah atas me meknya Darra. Sampe ketemu daging yang agak menonjol, terus kugaruk2kan jariku disitu. Ini membuat Darra gak terkendali lagi, dia menggeliat kekanan kekiri sambl berteriak2,

“Om jahat ih, om jangan siksa Darra kaya gini dong, om gak tahan lagi ni Darra, jangan dikilik pake jari dong om, pake kont*ol om aja, ayo dong om”, katanya sambl mengacak2 rambutku yang sedang berasa diselangkangannya.

Dia juga menarik2 bahuku, supaya segera menancapkan kont*olku dimekinya. akhirnya Darra gak nahan, badannya mengejang, pahanya dirapatkan sehingga kepalaku terjepit ketat diantara pahanya sampe aku sesek napas jadinya.

Darra telah klimax, itu akibat garukan jariku pada g spotnya, diserang 3 in 1 gitu Darra langsung nyerah, dia klimax.

“Aduh om, pinter banget si, biasanya pacar Darra yang ngecret duluan, om bisa bikin Darra ngecret duluan”.

Memang dari mekinya menyembur cairan kentel ketika dia klimax, seperti kalo lelaki ngecret. “Om Darra lemes deh, nikmat banget deh om, padahal belon dientot ya om”.

Aku bangun dan melepas semua yang menempel dibadanku. Darra terbelalak melihat kont*olku yang sudah maksimal kerasnya. “Om, gede banget kont*olnya. Rasanya kont*ol pacar Darra dah besar, kont*ol om lebi besar lagi, lebi panjang juga lagi”.

Darra duduk dan segera meremes kont*olku dengan gemesnya, “Ih dah keras banget om, masukin dong om, yu pengen ngerasain kont*ol gede om kluar masuk me mek Darra”.

Darra segera mulai menjilati kepala kont*olku, dan tak lama kemudian dimasukkan kedalam mulutnya.

Terasa hangat sekali emutannya. “Om, gede amat, cuma muat kepalanya ja dimulut Darra”, dia meneruskan emutannya. Batangnya dikocoknya pelan2.

“Om, kluarin pejunya dimulut Darra ya, Darra pengen minum peju om, biar om ngentotnya bisa lama”.

Aku diam saja menikmati emutan dan kocokannya. Kepalanya kembali dijilat2 sebentar kemudian dimasukkan lagi ke mulutnya.

Dikenyot pelan2, dan kepalanya mengangguk2 memasukkan kont*olku keluar masuk mulutnya. aku mengenjotkan kont*olku pelan,

“Ah, enak Ay, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangku keenakan.

Tanganku terus saja mengelus2 mekinya yang sudah basah kaDarra napsunya sudah sangat memuncak.

“Ay, kamu udah napsu banget ya, me mek kamu udah basah begini”, kataku lagi. kont*olku makin seru diisep2nya.

“Om, mulut Darra dah pegel, kok om belum ngecret juga ya”. “Om pengen ngecretnya dimeki Darra ja”. “Masukin ja ya om”.

Dia mencabut kont*olku dari mulutnya dan aku segera menelungkup diatas badannya . kont*ol kuarahkan ke mekinya, kutekannya kepalanya masuk ke mekinya. terasa banget mekinya meregang kemasukan kepala kont*ol yang besar, aku mulai mengenjotkan kont*olku pelan, keluar masuk me meknya.

Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kont*olku yang panjang ambles di me meknya. “Enak om, kont*ol om bikin me mek Darra sesek, dienjot yang keras om”, rengeknya keenakan.

Enjotan kont*olku makin cepat dan keras, http://www.tempatceritasex.com, Darra makin sering melenguh kenikmatan, apalagi kalo aku mengenjotkan kont*olku masuk dengan keras, sampe mentok rasanya.

Gak lama dienjot Darra udah merasa mau nyampe, “Om lebih cepet ngenjotnya dong, Darra udah mau nyampe”, rengeknya.

Cepat banget Yu, aku belum apa2” jawabku sambl mempercepat lagi enjotan kont*olku. Akhirnya Darra menjerit keenakan “Om, Darra nyampe om, aah”,

Darra menggelepar2 kenikmatan. Aku masih terus saja mengenjotkan kont*olku keluar masuk dengan cepat dan keras.

Tiba2 aku mencabut kont*olku dari mekinya. “Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesnya. Aku diem saja tapi menyuruh Darra menungging di pinggir ranjang, aku mau gaya dogi. Segera kont*olku ambles lagi di mekinya dengan gaya baru ini.

Aku berdiri sambl memegang pinggulnya. KaDarra berdiri, enjotan kont*olku keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di mekinya dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,

“Om, nikmat”, erangnya lagi. Jariku mengelus2 pantatnya, tiba2 salah satu jari kusodokkan ke lubang pantatnya, Darra kaget sehingga mengejan.

Rupanya me meknya ikut berkontraksi meremas kont*ol besar panjangku yang sedang keluar masuk,

“Aah Ay, nikmat banget, empotan me mek kamu kerasa banget”, erangku sambl terus saja mengenjot mekinya.

Sementara itu sambl mengenjot aku agak menelungkup di punggungnya dan tangannya meremas2 t*oketnya, kemudian tanganku menjalar lagi ke itilnya, sambl kuenjot itilnya kukilik2. “Om, nikmat banget dientot sama om, Darra udah mau nyampe lagi.

Cepetan enjotannya om,” erangnya saking nikmatnya. Aku juga udah mau ngecret, segera aku memegang pinggulnya lagi dan mempercepat enjotan kont*olku.

Tak lama kemudian, “Om Darra mau nyampe lagi, oom, cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya Darra mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian aku mengenjotkan kont*olku dalem2 di mekinya dan pejuku ngecret.

“Aah Ay, nikmat banget”, akupun agak menelungkup diatas punggungnya. KaDarra lemas, Darra telungkup diranjang dan aku masih menindihnya, kont*olku tercabut dari mekinya. “Om, nikmat deh, sekali enjot aja Darra bisa nyampe 2 kali”, katanya.

Aku tak menjawab, berbaring disebelahnya diranjangku yang sempit. Aku memeluknya dan mengusap2 rambutku.

“Kamu pinter banget muasin lelaki ya Ay”, kataku lagi. Darra hanya tersenyum,

“Om, Darra mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, Darrapun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi yang berasa didalam kamarku.

Selesai membersihkan diri, Darra keluar dari kamar mandi telanjang bulat, dia kaget melihat kont*olku masi saja berdiri dengan kerasnya. “Om, hebat amat, dah ngecret masi ja ngaceng keras kaya gitu. Om kuat ya.

Kata temen Darra yang pernah dientot ma om om yang kont*olnya juga gede panjang, dia ampe lemes ngeladenin napsu si om, gak ada puasnya.

Darra juga dong ya om, Darra pengen om entotin ampe Darra lemes”.

Aku tersenyum saja dan Darra berbaring disebelahku. Aku kembali mencium bibirnya dengan penuh napsu. kont*olku dielus2nya. Lidahku dan lidahnya saliing membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman.

Tanganku juga mengarah kepahanya. Darra segera saja mengangkangkan pahanya, sehingga aku bisa dengan mudah mengobok2 mekinya.

Sambl terus mencium bibirnya, tanganku kemudian naik meremas2 t*oketnya. pentilnya kuplintir2, “Om enak, Darra udah napsu lagi om”, erangnya sambl mengocok kont*olku yang masi keras banget.

Kemudian ciumanku beralih ke t*oketnya. pentilnya yang sudah mengeras segera kuemut dengan penuh napsu,

“Om, nikmat om”, erangnya.

Akupun menindihnya sambl terus menjilati pentilnya. Jilatanku turun keperutnya, kepahanya dan akhirnya mendarat di mekinya.

“Aah om, enak banget om”, erangnya. Darra kembali menggeliat2 keenakan, tangannya meremas2 sprei ketika aku mulai menjilati me mek dan itilnya.

pahanya tanpa sengaja mengepit kepalaku dan rambutku dijambak, Darra mengejang lagi, Darra kembali nyampe sebelum dientot. Darra telentang terengah2, sementara aku terus menjilati mekinya yang basah berlendir itu.

Aku bangun dan kembali mencium bibirnya, aku menarik tangannya minta mengocok kont*olku. Aku merebahkan dirinya, Darra bangkit menuju selangkanganku dan mulai mengemut kont*olku. “Ay, kamu pinter banget sih”.

Cukup lama Darra mengemut kont*olku. Sambl mengeluar masukkan di mulutnya, kont*olku diisep kuat2. Aku jadi merem melek keenakan.

Kemudian Darra kutelentangkan dan aku segera menindihnya. Darra sudah mengangkangkan pahanya lebar2. Aku menggesek2kan kepala kont*olku di bibir mekinya, lalu kuenjotkan masuk, “Om, enak”, erangnya.

Aku mulai mengenjotkan kont*olku keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kont*olku nancep semua di mekinya. “Ay, mekimu sempit banget, padahal barusan kemasukan kont*ol ya”, kataku.

“Tapi enak kan om, abis kont*ol om gede banget sampe me mek Darra kerasa sempit”, jawabnya terengah.

Aku mulai mengenjotkan kont*olku keluar masuk dengan cepat, bibirnya kucium.

“Enak om, aah”, erangnya keenakan. Enjotanku makin cepat dan keras, pinggulnya sampe bergetar kaDarranya.

Terasa mekinya mulai berkedut2, “Om lebih cepet om, enak banget, Darra udah mau nyampe om”, erangnya.

“Cepet banget Ay, om belum apa2”, jawabku.

“Abisnya kont*ol om enak banget sih gesekannya”, jawabnya lagi.

Enjotanku makin keras, setiap kutekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat Darra.

“Terus om, enak”. t*oketnya kuremas2 sambl terus mengenjotkan kont*olku keluar masuk.

“Terus om, lebih cepat om, aah, enak om, jangan brenti, aakh…” akhirnya Darra mengejang, Darra nyampe.

Darra memeluk pinggangku dengan kakinya, sehingga rasanya makin dalem kont*olku nancepnya. mekinya dikedut2kan meremas kont*olku sehingga aku melenguh,

“Enak Ay, empotan me mek kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Ay”, erangku sambl terus mengenjot mekinya.

Akhirnya bentengku jebol juga. pejuku ngecret dalam mekinya, banyak banget kerasa nyemburnya

“Ay, aakh, aku ngecret Ay, nikmatnya me mek kamu”, erangku. Aku menelungkup diatas badannya, bibirnya kucium.

“Trima kasih ya Ay, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kont*olku mengecil, kucabut dari mekinya dan aku berbaring disebelahnya. Darra lemes banget walaupun nikmat sekali.

“Ay, kamu tu masi muda banget tapi ngentotin kamu gak kalah nikmatna ma ngentotin abege yang lebi tua dari kamu, kamu liar banget deh”.

“Om puas gak, mana lebi nikmat, ngentotin Darra pa abege yang biasa om entotin”. “Nikmat ma kamu Ay, aku baru skali ngentotin abege seumur kamu”.

“Darra mau kok om kalo om entotin tiap malem, abis jauh lebi nikmat dientot om katimbang pacar Darra”. Tanpa terasa akhirnya Darra tertidur disebelahku.

Darra terbangun kaDarra kujilati mekinya, mekinya kujilati dengan penuh napsu. pahanya kuangkatnya keatas supaya mekinya makin terbuka. “Om, nikmat banget om jilatannya”, erangnya.

Cerita Sex – Indo Memek Simpanan..

Kenalin nama aqu David , aku ada sedikit pengalaman cerita sex yang mana terjadi saat aqu masih bekerja di Kantor Akuntan Publik di kota besar, Ketika itu hari ke-12 aqu melakukan audit, karna weekend aqu ikut bersama-sama karyawan yang sedang off untuk sama-sama ke kota B di pulau K. Di dlm perjalanan menuju kota B dengan heli milik perusahaan tersebut, aqu berkenalan dengan seorang Expatriate yang memiliki rumah di kota B.

Singkat cerita ia menawarkan rumahnya yang memiliki paviliun untuk aqu tempati selama aqu berada di kota dan tentu saja aqu sangat setuju. Setibanya kami di rumah, Expatriate itu memperkenalkan istrinya dan kedua anaknya kepada aqudan memberitahukan bahwa aqu akan menempati paviliun depan selama weekend ini.

Mba Lena, begitu aqu memanggilnya dan sebaliknya ia memanggil aqu dengan sebutan Pak karna suaminya yang Expatriate itu mengatakan hubungan pekerjaan aqu dengan perusahaan tempatnya bekerja. Lewat kira-kira sejam aqu berendam, setengah tertidur di kamar mandi ketika samar-samar aqu dengar ketukan di pintu kamar mandi.

Setengah sadar aqu melompat dan langsung membuka pintu kamar mandi. Aqu terkejut bukan kepalang karna tiba-tiba Mba Lena telah ada di depanku. Mba Lena juga tidak kalah kalah terkejutnya, melihat aqu dlm keadaan bugil. Sambil berucap yangtak jelas,

“Ah.. eh..” aqu langsung berbalik ke dlm dan mengambil handuk dan langsung membungkus tubuh terlarang aqu dan kembali keluar menemui Mba Lena. http://www.temaptceritasex.com . Di luar, Mba Lena juga masih gugup dan kaku berbicara kepada aqu,

“Eh.. anu Pak, e… Mr. Eric sudah kembali lagi ke field, katanya ada kebocoran pipa di pengeboran dan hari senin pagi Bapak akan dijemput oleh orang proyek di sini.” lanjutnya.

 “Oh..” jawab aqu pendek.

Lalu aqu berjalan ke depan, untuk memakai baju di dlm kamar, Mba Lena menunjukkan dimana aqu bisa menyusun dan menyimpan pakaian aqu serta menyodorkan kantong,

“Pakaian kotornya taruh di sini, biar nanti dicuci pembantu,” katanya.

Ketika aqu membungkuk untuk membuka tas dan akan menyusunnya ke dlm lemari, tiba- tiba terlepaslah handuk yang membelit di pinggang, aqu terkejut setengah mati, dan wajah aqu merona merah, karna malu. Ternyata Mba Lena, tidakterlihat terkejut, Mba Lena hanya memandang aqu sambil tersenyum nakal, lalu katanya,

“Sudah berapa lama di hutan?” Sambil membetulkan handuk, aqu menjawab sekenanya,

“Sekitar dua minggu.” “Wah, lumayan juga dong.. pasti udah lama tidak diasah, ya Pak?” Aqu hanya meringis, mengiyakan. Melihat Mba Lena tidak terkejut dan malah berkomentar lucu, timbul niat iseng di kepala aqu. Sambil kembali melepaskan handuk di pinggang, aqu balik bertanya,

“Mba Lena juga udah lama dong, nggak dibor?” Sial, ternyata Mba Lena langsung keluar kamar, aqu tidak begitu peduli awalnya, tapi aqu pikir mungkin telah melukai perasaan wanita, buru-buru aqu mengenakan CD dan mencari-cari jeans di dlm tas untuk aqu pakai dan mengejar Mba Lena, untuk minta maaf.

Samar-samar aqu dengar pintu tertutup dan, “Klik…” suara anak kunci diputar, sebentar kemudian Mba Lena sudah ada di belakang aqu sambil berusaha menarik turun jeans yang sedang aqu pakai.

“Nggak usah dipakai lagi deh Pak,” sambil memeluk dari belakang, tangannya meraba dada aqu yang berbulu halus, tentu saja dadanya menempel pada punggung aqu dan terasa hangatnya kedua gunung kembar itu.

“Kalo aqu udah lama nggak dibor, mau nggak Bapak melakukan pengeboran di sumur aqu?” Mba Lena seperti merajuk mengemukakan pertanyaan itu. Aqu langsung berbalik dan memeluk Mba Lena erat-erat.

“Mba Lena, nggak mungkin ada lelaki yang bisa nolak kalo diajak oleh Temba.. lihat meski anak dua, pinggul masih berisi, dada membusung dan kemulusan Temba.. cek..cek.. kyai aja mungkin bakalan luluh, Mba..”

Mendapat angin dari aqu, Mba Lena berusaha membalas pelukan aqu, sambil satu tangannya diturunkan untuk menarik CD aqu ke bawah. Merasakan isyarat tubuh Mba Lena, yang bergetar dan hangat, aqu segera melakukan rabaan, elusan di punggung yang terbungkus T-Shirt, yang dikenakan oleh Mba Lena.

Aqu ciumi telinga dan tengkuk Mba Lena, aqu dapat merasakan Mba Lena menghentakkan kepalanya ke belakang, merasa fly dan kegelian yang amat sangat. Aqu masukkan sebelah tangan aqu untuk melepas pengait bra yang dipakai Mba Lena, dan menariknya lepas dari tempatnya.

Tangan aqu terus bergerilya meraba ke arah ke dua gunung kembar milik Mba Lena, memutar dan menyentuhnya dengan hati-hati, melakukan putaran telunjuk di sekitar bawah puting berganti-gantian, dan aqu rasakan Mba Lena semakin menggelinjang dan serasa tidak kuat menahan berat badannya sendiri.

Sambil membimbing Mba Lena duduk di tempat tidur, aqu terus mencium telinga dan kuduk Mba Lena, aqu tarik T-Shirt yang dipakainya ke atas, tersembullah pemandangan yang indah di depan aqu, dua buah delima yang ranum tergantung indah, tanpa bisa menyembunyikan kekaguman, “Mba… bener-bener sempurna.”

Aqu kembali menciumi telinga dan kuduk kemudian ke dagu, dan aqu lumat bibirnya yang ranum, aqu mainkan lidah aqu di dlm rongga mulut Mba Lena, tangan aqu juga bekerja untuk mengerjai kedua buah gunung kembar milik Mba Lena.

Mba Lena semakin klimaks dan aqu tidak memberi kesempatan lagi, aqu tarik rok ketatnya, aqu tarik turun CD-nya, maka tersembullah pemandangan yang luar biasa, belahan luar yang tertutup bulu lebat, semakin ke tengah dan mendekati sentral semakin menipis seolah-olah seperti diatur oleh salon.

Aqu ciumi gundukan tebal itu, aqu gunakan jari telunjuk dan tengah untuk menguak gundukan tersebut, kemudian menjilatinya dengan perlahan-lahan sambil menyedot dan menggigit kecil. Mba Lena tak tahan mengeluarkan erangan,

“Ah.. ahhh..” sambil menekan kepalaku dari atas.

“Terusin Pak, terusss.. sedoottt..” Aqu naikkan kakinya ke tempat tidur, dan memutar tubuh aqu di atas tubuh Mba Lena dan melakukan oral 69, merem-melek yang aqu rasakan.

“Aahhh.. ashhh..” suara aqu bersaut-sautan dengan desahan Mba Lena. Hampir 20-30 menit kami melakukan oral seks, di kemaluan Mba Lena sudah banjir ludah aqu dan bercampur dengan maninya.

Terima kasih sudah membaca cerita ini ditunggu cerita selanjutnya salam AREATOTO Bandar Togel dengan Games Sportbook, IBCBET dan Sabung Ayam 1id bisa main semua
Link DAFTAR ; http://areatoto.com/register.php?member=elias

Cerita Sex – Sebut Saja Sheila Nama Qiiu..

Aku sungguh gila yang namanya ngentot sampai samapi aku tak pandang bulu siapa yang aku setubuhi , kali ini aku akan bercerita tentang bagaimana menyetubuhi wanita pemungut sampah sebut saja namanya Sheila aku mulai berhubungan dengannya sudah 2 bulan ini, saat itu baru liburan semester.

Hampir semua pelajar telah pulang ke kampung halaman masing masing. Namun, Sheila tetap meneruskan pekerjaannya setiap pagi. Aku memutuskan untuk tidak pulang ke kampung sehinggalah bermulanya Hari Raya.

Ini kerana aku mahu menikmati tubuh Sheila sepuas hati, walaupun aku terpaksa membatalkan puasa sebab berhubungan seks dengannya.

Seperti biasa, Sheila datang memungut sampah. Aku pun mengajaknya masuk ke tandas. Seperti biasa, dia akan menggeleng kepala tetapi akhirnya akan masuk juga. Sebaik sahaja Sheila masuk ke bilik mandi, aku terus meraba-raba teteknya dari belakang. Sheila seperti biasa akan memejamkan mata dan menikmatinya.

Setelah meraba-raba teteknya, Sheila memberitahu aku bahawa dia perlu menyiapkan tugasnya dahulu sebelum pukul 10 pagi. Dia kata akan datang ke bilik aku pada 10.30 pagi nanti. Aku pun bersetuju sahaja walaupun batang aku telah mula keras. Aku mencium pipinya dan kemudian aku balik ke bilik aku sendiri.

Aku terasa bosan keseorangan di dalam bilik. Aku mencapai VCD lucah lalu menontonnya di bilik seorang diri. Oleh kerana adegannya telah aku tonton berulang kali, aku mampu bertahan dari melakukan onani. Aku mahu bermain terus dengan Sheila sebaik sahaja dia datang. Habis sekeping VCD, aku menonton VCD yang lain pula.

Jam menunjukkan 10.35 pagi. Sheila masih belum muncul lagi. Aku menelefon telefon bimbitnya. Telefon bimbit itu aku hadiahkan kepadanya minggu lepas untuk memudahkan aku menghubunginya. Tak mahal, RM 150 sahaja, second hand. Selain itu, terpaksalah menanggung RM 30 belanja top up setiap bulan.

“Ya sayang, kejap lagi Sheila sampailah”.

Memang benar, baru habis sahaja perbualan itu, pintu aku diketuk. Aku terus membukanya, Sheila menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan sekeliling sebelum masuk. VCD lucah yang masih on di komputer aku sedang memaparkan adegan heroine sedang mengulum zakar lelaki.

Aku mengajak Sheila menonton VCD itu. Tak sampai 5 minit, Sheila mula berasa gelisah. Tangan aku pun semakin nakal memainkan peranan mengusap usap pehanya, lambat laun masuk ke dalam seluarnya. Sheila menyerah sahaja.

Aku mendapat signal lampu hijau, lalu tangan aku mula membuka bajunya. Sheila seperti biasa hanya menanti perbuatan aku sahaja.

Hari itu Sheila memakai coli half cup, tidak seperti dulu memakai full cup. Aku pun memulakan jilatan di dari leher ke puting tetek kiri, kemudian puting tetek kanan, seperti membuat segitiga dengan lidah aku.

Bila sampai di bahagian puting, aku akan berhenti seketika dan menghisap lama-lama puting sehingga puting Sheila terasa keras dan panjang. Sheila mengeluh kuat semasa aku melakukannya.

Aku ulangi perbuatan menjilat itu 3 ke 4 kali sebelum Sheila menekan kepala aku ke bawah. Aku faham apa yang Sheila mahukan. Lalu aku pun membuka seluarnya terus dengan celana dalamnya sekali. Memang sah Sheila telah terangsang kuat sebab pantatnya telah basah. Aku yang sememangnya suka menjilat pantat perempuan terus menjilat tanpa menunggu isyarat lain dari Sheila.

Sheila membuka kakinya semakin lebar bagi membolehkan aku menjilat dengan lebih selesa. Aku pun mencari kelentitnya dan terus menumpukan hujung lidah aku di kelentitnya. Aku melajukan frekuensi lidah aku bergetrar di kelentitnya.

Sheila seperti terkena kejutan elektrik, badannya bergoyang goyang dan menekan nekan kepala aku. Aku tahu Sheila akan orgasme tidak lama lagi, aku melajukan lidah aku dan akhirnya..

“Ah, ah, ah.. Sheila keluar, Bang”. Aku menjilat semuanya cecair wanita yang keluar dari pantatnya. Masin, payau-payau rasanya.

“Tolong jilat batang Abang pula, Sheila”, aku berkata kepada Sheila lalu terus menanggalkan seluar. Aku berbaring di atas katil aku. Sheila menggelengkan kepala, tetapi aku tekan kepalanya menghala ke batang aku.

“Tolonglah Sheila, kan Abang sanggup jilat Sheila punya, kenapa pula Sheila tak sanggup?”.

“Gelilah Bang, tak naklah”, Sheila menjawab. Aku terus memujuknya..

“Kalau Sheila tak sanggup jilat, maknanya Sheila tak sayang kat Abang.”

Sambil itu, aku terus menekan kepala Sheila mendekati batang aku dan Sheila mula membuka mulutnya. Sheila yang tidak pernah menjilat batang aku selalu terkena giginya. Aduh, sakit juga bila terkena gigi Sheila. Tapi, lama kelamaan, Sheila mula pandai setelah aku ajar.

Aku suruh Sheila jilat bahagian kepala batang aku dan tumpukan pada bahagian tempat keluar air kencing atau mani. Aduh, syok gila rasanya. Baru sekejap Sheila menjilat di situ, aku suruh Sheila berhenti sebab aku hampir terkeluar. Aku berhenti sekejap sebelum menukar ke posisi doggie dengan Sheila.

Bilik aku di asrama ada satu katil bujang. Ruangnya agak sempit, tapi untuk posisi doggie, cukup cukup ruangnya. Aku masukkan batang perlahan lahan, mahu menikmati setiap inci pantat Sheila. Ah, sedapnya pantat Sheila. Oleh kerana pantatnya telah basah, aku tidak sukar masukkan batang aku seluruhnya ke dalam pantat Sheila.

Kepala Sheila naik turun berkali kali semasa aku mula menghenjut henjut batang aku. Aku melakukannya perlahan lahan sebab aku dari tadi telah hampir orgasme. Bila terasa hampir orgasme, aku mencabut batang dan membiarkan satu minit. Kemudian, aku masukkan semula.

Aku membuat perlahan lahan sebab Sheila juga susah mencapai orgasme keduanya selepas orgasme pertama.

Dari perlahan lahan, aku semakin cepat sorong tarik batang aku di pantat Sheila. Jeritan Sheila juga semakin jelas dan dia semakin menghampiri orgasmenya. Tak lama kemudian, aku memancutkan air mani aku dan tak sempat mencabut batang aku.

Pancutkan air mani di dalam pantat perempuan memang sangat seronok rasanya. Lebih lebih lagi kalau mencapai orgasme bersama-sama perempuan, batang akan rasa seperti disedut sedut ke dalam vakum. Tapi hari itu aku tak dapat capai bersamanya.

Sheila nampak kecewa. Aku masukkan satu jari ke dalam pantatnya sebab aku agak dia belum mencapai orgasme. Aku melajukan gerakan jari aku, agak lama juga aku mainkan jari aku.

“Ah, ah, ah..”, jerit Sheila tapi belum mencapai orgasme.

Tangan aku mula lenguh, dah lama betul aku rangsang dia, kenapa tak puas puas lagi. Aku buat keputusan untuk masukkan dua batang jari pula. Kali ini aku tumpukan betul betul pada kelentitnya. Aku meraba raba kelentitnya dengan frekuensi yang sangat tinggi. Hampir tak nampak dengan jelas tangan aku sebab menggentel-gentel kelentit Sheila dengan cepat.

“Ahh. Gelinya Bang, ahh, jangan..” Sheila menjerit jerit.

Perempuan memang macam tu.. Semakin kata tak nak, sebenarnya semakin dia nak. Aku melajukan gerakan tangan aku. Tak lama kemudian, jari aku basah. Sheila menjerit kepuasan..

“Sheila keluar, ahh, ahh, ahh..” Akhirnya Sheila mencapai orgasme.

Kami berdua keletihan dan tertidur sebelah menyebelah di katil aku yang sempit itu. Sambil baring di sebelahnya, tangan aku memegang teteknya semasa tidur.

Aku terjaga dari tidur kerana bunyi hon kereta di bawah asrama. Aku bangkit dari katil, Sheila mengeliat tapi tak terus bagun. Aku melihat dari celah tingkap, ada satu kereta Proton Wira yang berwarna hitam.

Seingat aku, kawan kawan aku tiada yang ada Proton Wira hitam. Ahh, pedulikan semua itu. Aku kembali ke Sheila yang masih berbogel dan mula menjilat jilat lehernya.

“Geli lah Bang”, begitulah reaksi Sheila. Tapi aku tak peduli semua tu.

Aku terus menolong Sheila untuk mandi kucing. Dari lehernya, aku menjilat ke bahagian teteknya. Aku menjilat dengan seperti melukis bulatan dengan lidah di tetek kirinya dan berpusar menuju ke putingnya.

Sheila hanya menutup mata menikmati perbuatan aku. Habis tekek kiri, giliran tetek kanan. Dari kanan menuju pula ke kiri. Sheila nampaknya semakin bernafsu. Aku juga tidak boleh tahan lama.

Kali ini aku mahu Sheila pula yang take control. Aku berbaring di atas katil dan menyuruh Sheila untuk masukkan batang aku perlahan lahan ke dalam pantatnya. Dia menurut. Perlahan lahan batang aku mula tenggelam ke dalam pantat itu. Sheila mula menggoyang goyang pinggulnya.

“Yes, ahh yes”.

Sheila menjerit jerit sambil menunggang kuda. Posisinya betul betul seperti orang menunggang kuda. Sheila menunggang aku semakin cepat. Batang aku terasa dikemut kemut kuat, aku hampir terpancut, mujur aku dapat menahan nafas dengan betul dan mengelakkan dari terpancut. Sheila orgasme lagi.

Aku suruh Sheila lancap aku sampai keluar air mani. Dia menurut. Oleh kerana aku memang telah terangsang hebat, aku keluar dengan cepat. Tak sampai pun 10 kali Sheila mengocok batang aku, aku terpancut air mani ke teteknya.

Tiba tiba pintu aku diketuk kuat. Otak aku kosong seketika, aku masih menikmati sisa orgasme yang aku alami tadi sebelum aku kembali ke dunia sebenar. Pintu aku diketuk semakin kuat. Aku mula takut dan segera memakai semula pakaian aku. Sheila juga segera berpakaian semula. Aku menyuruh Sheila segera menyorok di dalam almari baju aku. Sheila menurut.

Aku menghampiri pintu itu. Kepala aku berfikir-fikir apa alasan yang harus diberi. Pedulikan semua itu, katakan saja aku keseorangan di dalam bilik. Bila pintu dibuka, dua orang lelaki masuk ke bilik aku. Aku memang kenal mereka ni.

Yang pertama adalah warden asrama blok aku, yang satu lagi adalah pengetua kolej aku. Apabila melihat saja muka mereka, darah aku tersirap seketika. Mereka mengatakan ada orang kehilangan sejumlah wang yang besar dan perlu membuat pemeriksaan mengejut di bilik aku.

Mereka kelihatan tegas dan berkata ingin membuat pemeriksaan ke atas bilik aku. Aku yang sangat cemas ketika itu cuba memikirkan sedaya upaya cara untuk mengelak mereka menyelongkar bilik aku. Aku berpura-pura mendapat panggilan telefon kecemasan dari kawan yang mengatakan ada hal kecemasan tetapi mereka tidak mempedulikan helah aku.

Bilik aku diperiksa. Aku tidak dapat berbuat apa apa selain melihat sahaja. Dari meja aku mereka selongkar, kemudian laci aku. Apabila mereka ingin membuka almari, aku menghalang lagi sekali. Tapi aku ditolak dengan kasar ke tepi. Nah, terbukalah almari aku dengan Sheila tanpa seurat benang pun di dalam..

“Ya, Allah. Apa yang kamu berdua buat di sini?”

Pengetua aku memarahi aku dengan teruk dan mengatakan akan memaklumkan hal ini kepada ibu bapa aku. Aku dan Sheila merayu rayu untuk dilepaskan dengan apa sahaja syaratnya. Tapi pengetua dan warden itu tidak memberi peluang kepada aku. Ibu bapa aku dihubungi.

Seribu kali pengetua aku cakap mereka tak percaya aku melakukan perkara terhina itu di universiti. Akhirnya, aku sendiri mengaku di hadapan mereka. Malunya aku ketika itu tiada siapa yang tahu melainkan Tuhan sahaja. Aku juga sangat sedih kerana telah mengecewakan mereka. Aku telah menconteng arang ke kedua muka ibu bapa aku yang sekian lama berbangga dengan aku di kampung.

Nasi sudah menjadi bubur. Aku terpaksa berkahwin dengan Sheila. Namun, atas rayuan ibu bapa aku dan rekod kelakuan aku di universiti yang baik, aku dibenarkan menghabiskan semester akhir aku untuk mendapatkan ijazah aku. Tapi aku sendiri tahu banyak wang yang telah dibelanjakan untuk aku meneruskan pengajian. Maafkan aku, Mak, Ayah..