Cerita Sex – Akibat Sering Di Lilit Handuk..

Kejadian yg tak pernah aku lupa sebab, telah menjadi pengalaman pertamaku yg tdk pernah terduga dan terencana. Ketika itu usiaku masih 14 tahun, kelas 2 SMP.

Ketika duduk di bangku kelas 2 SMP, aku sekolah jam 12.00 WIB. Jadi, pagi-pagi aku menemani adikku yg masih kecil sebelum berangkat ke sekolah. Jam 09.30 WIB seperti biasa, aku titipkan adik kecilku ke rumah nenekku yg letaknya tdk seberapa jauh. Dan biasanya setelah mengantar adikku, aku selalu bermalas-malasan di kursi sambil nonton televisi dgn badan dililit handuk tanpa memakai celana dalam dan baju.

Seperti biasanya pula, tetanggaku sering ikut mandi atau buang air di rumahku pada jam 09.00 atau jam 10.00 WIB. Meski di rumahnya memiliki kamar mandi tp persediaan airnya kurang. Berbeda dgn rumahku, selain ibuku menggunakan mata air yg mengaliri setiap rumah warga, ibuku jg memasang air PDAM. Sehingga air di rumahku tdk pernah kosong jika air dari pegunungan mampet atau kering.

Walaupun tetanggaku ini sering ikut mandi atau buang air di rumahku, tdk ada rasa iseng dalam pikiranku utk mengintip atau tindakan-tindakan cabul lainnya. Walaupun di usiaku yg sudah 14 tahun, film porno sudah tdk asing bagiku.

Sebab, pergaulan di sekolah yg mengenalkanku bukan hanya pada minuman keras, rokok, tetapi jg pada film porno baik bokef barat maupun asia. Sungguh, ketika itu tdk ada terlintas sedikitpun dalam benakku utk melakukan hal-hal yg berbau seks terhadap tetanggaku ini yg usianya sudah lebih tua dari ayahku. Usianya sekitar 48 tahun ketika aku iseng bertanya kepadanya.

Sambil menunggu tetanggaku keluar dari kamar mandi, aku tetap tiduran di kursi sambil nonton televisi dgn tubuh bugil yg hanya dililit handuk.

Sampai akhirnya, tetanggaku selesai buang air dan keluar dari kamar mandi. Secara tiba-tiba, handuk yg melilit ditubuhku ditariknya dgn paksa namun, tanganku dgn refleks dan kuat menahan supaya handuk tdk sepenuhnya terlepas dan menampakan kelaminku. Hal tersebut membuat tetanggaku menjadi malu karena hendak memaksa melepas handukku dan langsung pergi ke luar rumahku.

Aku yg kaget dgn pengalaman tersebut mulai mengingat kembali kejadian yg mengejutkan itu. Betapa anehnya wajah seorang wanita yg sudah memiliki cucu tersebut dgn sorot mata seperti wanita dalam film bokef. Penuh nafsu dan menggairahkan. Maka tanpa pikir panjang, aku rapihkan kembali handukku dan segera melesat menuju rumahnya.

Di rumahnya, Bu Mina, aku mendapati ia sedang duduk di kursi panjang yg sudah tak karuan bentuknya sambil merokok. Aku beranikan diri duduk di sebelahnya.

“Bu, tadi ibu mau ngapain?”

“eng, eng, enggak cuma mau lihat burung kamu saja!” jawab Bu Imah dgn wajah so cuek.

“ooh. Kirain mau apa. Aku kaget sekali dgn perlakuan ibu yg tiba-tiba seperti itu.”

“udahlah, Dek Iwan lupakan saja kejadian itu, ya!” jawabnya sambil menghembuskan asap rokoknya.

“bu, kalau ibu pengen lihat burungku, ayo bu di rumahku saja.” jawabku sambil berlalu dari rumahnya.

Di rumahku, aku duduk di kursi sambil menyalakan rokok yg sebelumnya aku ambil dari dalam tas sekolah di dalam kamarku. Sambil menghisap rokok, aku heran dgn ucapanku yg tadi aku ucapkan ke Bu Mina. Dag dig dug jantungku membayangkan bagaimana kalau Bu Mina nanti datang lagi ke rumahku ingin melihat penisku?

Membayangkan hal tersebut malah membuat penisku menegang dan mengeras. Dgn refleks aku elus penisku dari luar handuk sambil membayangkan bersetubuh dgn tetanggaku, Bu Mina.

Sedang asik dgn kelaminku, tiba-tiba pintu rumahku dibuka oleh Bu Mina. Aku kaget, langsung tegak berdiri beranjak dari kursi karena takut perbuatanku itu diketahuinya.

Bu Mina pun menghampiriku. Dgn wajah so cuek dia menagih ucapanku yg hendak memperlihatkan burungku. Namun, aku diam saja sambil tetap berdiri dan berkata, “silakan ibu buka sendiri handukku! aku malu.” jawabku dgn jujur dan polos, maklum ketika itu usiaku masih 14 tahun.

Bu Mina mendekat ke hadapanku. Tanpa ragu dia angkat handukku dan nampaklah penisku yg berkulit bersih dan berwarna sawo matang yg masih tegang dan keras gara-gara birahi yg melanda.

Terlihat sungging senyum di wajahnya. Memperhatikan penisku yg berkedut-kedut karena birahiku yg semakin memuncak.

“Usiamu berapa, Dek Iwan?” tanyanya tiba-tiba.

“sudah 14 tahun, sebulan yg lalu, bu!” jawabku dgn suara agak bergetar.

“wah, 14 tahun tp burungnya sudah gede dan panjang.” dgn suara yg agak bergetar pula. Ketika itu aku tdk tahu kalau Bu Mina jg telah terbakar birahinya.

“eh kamu merokok, ya?” tanya Bu Mina, sambil matanya melihat rokok di jemari tangan kananku.

“iya, bu. Habisnya, aku kaget banget soalnya baru kali ini diginiin. Ibu jangan bilang-bilang sama mamah ya kalau aku ngerokok!” jawabku yg mulai takut jika diadukan oleh tetanggaku ini pada ibuku.

“iya, gak bakalan dibilangin kok!” jawabnya sambil beranjak hendak ke luar rumahku.

Dgn nafsu yg sudah cenat-cenut di ubun-ubun, aku tarik tangan kiri Bu Mina. Tampak kaget wajahnya memandang ke arah wajahku.

“Dek Iwan kenapa?”

“anu bu, usia ibu berapa?” aku balik bertanya padanya.

“sekitar 48 tahun, udah tua, ya?” jawabnya sambil cekikikan.

“susu ibu kecil, tp pantatnya montok, bu. Boleh gak, aku lihat meqi perempuan yg udah tua kaya ibu?” tanyaku dgn polos.

“haha… iyalah susunya kecil, udah kendor. kan ibu udah punya 5 anak dan sudah punya cucu jg. Jangan, kamu gak boleh liat kan nanti kalau kamu udah besar kamu jg pasti bisa liat meqi perempuan!” jawabnya sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.

“yah, ibu. Sekali aja bu. Bolehlah!” rengekku sambil menarik tangannya lagi.

Cukup lama jg ketika itu aku memelas supaya dapat ijin melihat meqi perempuan. Sampai akhirnya Bu Mina pun menyerah dan setuju utk memperlihatkan meqinya kepadaku. Sungguh, senang rasanya ketika rengekanku berbuah hasil.

Dag dig dug jantungku ketika Bu Mina melorotkan celana pendek berwarna biru tua sekaligus celana dalamnya yg berwarna coklat muda sampai setengah pahanya. Terlihat lebat dan hitamnya bulu-bulu meqinya.

“sudah ya!”

“tunggu bu, gak keliatan meqi itu seperti apa.” jawabku dgn suara bergetar.

“ya ini, meqi tu begini!” kata Bu Mina sambil menunjuk meqinya sendiri.

“aku liatnya cuma bulu aja, bu. Gak tau kalau di tengah-tengahnya gimana!” sanggahku berusaha melihat lubang meqi kayak di film bokef yg menampakkan itil dan lubang meqi dgn jelas.

Akhirnya Bu Mina beranjak menuju kursi. Kakinya di rentangkan sehingga begitu jelas lubangnya yg menganga bulat sebesar uang koin Rp.100 perak. Aku pun mendekat, sehingga wajahku berjarak mungkin sejengkal dari meqinya. Ketika itu, pertama kali aku dapat mencium bau meqi perempuan. Baunya begitu khas dan hampir mirip bau ikan asin walaupun tdk setajam bau ikan asin.

Tanpa komando, aku dekatkan mulutku pada meqinya seperti dalam adegan film bokef yg cukup sering aku tonton bersama kawan-kawan sekolahku. Tangan Bu Mina, menjambak rambutku dan berusaha menjauhkan mulut dan lidahku dari meqinya yg dagingnya berwarna hitam keriput. Tp, seperti seekor anjing, aku tetap bertahan dalam posisi berjongkok di depan meqinya dan terus melakukan jilatan-jilatan pada lubang meqi dan itilnya yg menyembul di balik daging-daging hitam yg keriput.

“sssshhh aaaah oooooohhhh hhmmmm. ssu sssudaaaaah aduuuuuhh hmmmm.” ceracau Bu Mina yg semakin membuatku bergairah menjilat dgn cepat meqinya.

Lidahku begitu lincah dan lentur menjilat lubang meqi dan itilnya. Perlakuanku yg demikian membuat Bu Mina semakin mendesah dgn diikuti gerakan pada pinggulnya, bergoyang, dgn pinggang yg melengkung-lengkung di atas kursi. Aku tetap dgn gairah menjilati dan berusaha meremas susunya yg masih dibalut kutang dan baju kaos berwarna ungu.

Hingga akhirnya, desahan hebat dan menjadi-jadi yg ke luar dari mulut Bu Mina menyadarkanku. Karena takut didengar tetangga, aku pun membimbing tubuh Bu Mina yg kurus dgn tinggi hampir sama dgnku menuju kamarku. Waktu itu tinggiku masih 158 cm. Tanpa penolakan seperti sebelumnya, Bu Mina merelakan dirinya dibimbing menuju kamarku. Aku pun mempersilakan Bu Mina utk rebahan di kasur milikku.

Segera aku buka handuk yg melilit pinggangku. Kemudiah aku beranjak mengarahkan penis yg menurut Bu Mina gede dan panjang ke arah mulutnya. Tp, Bu Mina hanya diam kaget dgn wajah melongo ketika aku dgn tiba-tiba menggesek-gesekan penisku ke bibirnya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tdk setuju dgn perbuatanku.

“ayo bu dihisap!” pintaku dgn suara bergetar dan sedikit terbata.

“iih ibu belum pernah begituan. Pengalaman ibu paling cuma netein suami dan langsung enjot aja meqi ibu.” jawabnya dgn suara bergetar pula sambil tangannya menahan perutku supaya penisku tak sampai pada bibirnya lagi.

Dgn perasaan kecewa, segera aku mengangkangkan kakinya lebar-lebar. Aku jilatin dgn liar meqinya. Terasa asam dan sedikit bau pesing meqinya di lidah dan hidungku. Aku kombinasikan antara jilatan, sedot perlahan dan sedotan kencang pada lubang meqi dan itilnya. Bu Mina tampak semakin bernafsu. Terlihat dari gerakannya memutar-mutar pinggulnya, menaik-turunkan pantatnya, dgn pinggang melengkung-lengkung di atas kasurku.

“oooouuuuhhhh ssssshhhh ennnaaaaakkk. Baaaarrrruuu peerrrrtaaaamaaa ibbuuu diigiinniiiiinnn emmmmhhh” desahnya.

Mendapat respon demikian, aku semakin bernafsu dan semakin menjadi-jadi memainkan lidah dan mulutku di meqinya.

“emmmmhhhh deeeekkk ayyoooo masssuuukkiiiinn ddddoooooongggg!” pintanya dgn mata merem melek.

Tanpa pikir panjang, aku pun beringsut ke atas tubuhnya yg sudah ia bugilin sendiri. Dgn posisi push up di atas tubuhnya, aku berusaha memasukan penisku ke dalam meqinya. Tp berkali-kali aku coba, berkali-kali jg penisku meleset kadang ke atas, kadang ke bawah duburnya.

Dgn bernafsu birahi tingkat dewa, Bu Mina menggenggam penisku dan mengarahkan pada liang meqinya yg basah penuh lendir meqinya. Dgn hentakan kuat, penisku masuk ke dalam liang meqinya.

“ooooouuuuuhhh ssssshhhh pelaaaan-peeeelllaaaaannn doooonggggg. aaaauuuuwwww saaaakiiittttt.” desahnya sambil meringis.

Karena hentakan yg tak sabar itu, aku pun merasakan pedih di kepala penisku. Maklum pengalaman pertama. Sambil merasakan pedih di penisku tiba-tiba Bu Mina mulai menggerakan pinggulnya memutar, naik-turun dgn berirama. Aku yg merasakan kenikmatan akibat gerakannya sacara natural merespon dgn memaju-mundurkan penisku dalam meqinya.

“emmmmhhh nikkkkmaaaattt yaaaa oouuuhhh emmmhhh ssssshhhh aaaahhh” desahnya yg membuatku semakin liar memompa penisku. sehingga semakin lama penisku semakin jauh terbenam dalam liang meqinya.

Terasa begitu nikmatnya, meqi perempuan yg sudah punya lima orang anak dan sudah punya cucu ini. Meqinya mengempot-empot, dinding meqinya seolah meremas-remas penisku. Jauh lebih nikmat jika dibandingkan dipompa dgn telapak tangan. Hangat dan agak lengket meqinya, membuatku seperti melayang-layang.

Keringat bercucuran di seluruh tubuhku. Pantatku pun terasa basah dan hangat oleh butir-butir keringat. Begitu jg Bu Mina, tubuhnya dibanjiri keringat. Wajahnya semakin cemerlang dgn peluh yg berbutir-butir mengaliri kening wajahnya.

Tercium aroma keringatnya begitu menggairahkan. Dgn tetap menggenjot meqinya, aku hisap, jilat, dan kenyot-kenyot payudara kecil, peot, dan kendor itu dgn rakus. Mungkin ukurannya hanya 32 b saja.

“eemmmmhhh aaaaahhh oooouuuuhhh emmmmmhhh aaaaahh.” erangannya.

Tak henti-hentinya ia mendesah, membuatku terus mengocok dan mengobok-obok meqinya dgn penisku. Walaupun pegal terasa pada kedua tangan karena harus menahan badanku dalam posisi push up, aku tetap bertahan merasakan sensasi nikmat pengalaman pertamaku ini.

“emmmmhhhh aaaaahhhh leeeebbiiihhh ceeeppaaattt deeeeeekkk akuuuu keeeelluuuuaaaarrrr ssssshhhhh!” desah pintanya dgn suara bergetar. Dgn pantatnya semakin liar bergerak, dan mata merem melek merasakan sensasi nikmat tak berkesudahan.

“aaaahhhhh iiiyyaaaaa buuu aaaakkkuuu jgaaa maaaauuuuu…” jawabku sambil mempercepat gerakanku.

Akibat gerakan Bu Mina yg menjadi-jadi, kepala penisku terasa begitu geli dan gatal dibuatnya. Membuat aku tak sangguh menahan nikmatnya gelombang syaraf yg mengalir sampai ubun-ubun.

“aaaaaahhhhh keeeluaaaarrrr buuuu” desahku.

“eeeeemmmm eeennnnaaakkkk, ibbbbuuuuu keeelluuuuaaaar bannnnyyyyaaaaakkkk aaaaaahhhh!” celotehnya sambil memeluk erat tubuhku merasakan orgasme dahsyatnya.

Terasa penisku seperti diremas, diperas habis spermanya oleh meqinya yg terus berkedut-kedut dan mengempot-empot.

Dalam pelukan Bu Mina, aku coba melihat jam dinding di kamarku. Jam sudah menunjukkan pukul 11.19 WIB. Artinya, lebih dari 1 setengah jam aku bergumul. Aku kaget sekali begitu lamanya melakukan persetubuhan ini. Padahal rasanya hanya sebentar. Maka aku segera melepaskan diri dari pelukan Bu Mina dan memakai handuk kembali menuju kamar mandi.

Sambil membenahi handuk, Bu Mina berkata padaku, bahwa aku anak hebat. Baru pertama bersetubuh tp kuat bertahan sangat lama. Dgn bangga aku berjalan ke luar kamar utk mandi.

Setelah selesai mandi, aku segera bergegas. Ketika masuk kamar, Bu Mina sudah tdk ada di kamarku. Aku pun langsung memakai seragam SMPku dan cepat-cepat biar tdk terlambat masuk sekolah.

Sambil lewat depan rumahnya, ku lihat Bu Mina sedang bersandar di kursi. Nampak wajahnya yg lelah dan bahagia ketika aku menyapanya. Sambil pamit berangkat sekolah dan menitipkan kunci rumah, aku bisikkan di telinganya, “nanti kita begituan lagi ya, bu!” pintaku sambil berlalu tanpa menunggu jawaban darinya.

Setelah mendapat pengalaman pertama, aku menjadi ketagihan melakukan hubungan layaknya suami istri lagi. Tak sia-sia rasanya keperjakaanku diberikan kepadanya. Sebab, Bu Mina tdk pernah menolak ketika aku ajak utk bersetubuh.

Bu Mina memiliki susu kecil ukuran 32 B, badan langsing dgn tinggi badan 158 cm, dan memiliki pantat bahenol. Kulitnya tdk seputih kulitku dan kulitnya pun tdk semulus dan sekencang kulit abg. Maklum sudah 48 tahun. Tp, darinya aku selalu memperoleh kenikmatan yg tiada tara.

Keluarga Bu Mina, setiap pagi selalu sepi sebab, kedua cucu yg tinggal bersamanya sekolah pagi dan biasa berangkat bareng suaminya yg hendak pergi bekerja. Di rumahnya hanya Bu Minalah perempuan satu-satunya. Sebab, kedua cucunya adalah laki-laki. Kedua cucunya itu dititipkan oleh anaknya dgn alasan kalau tinggal bersama mereka di kampung tdk ada yg mengurus anaknya. Suami istri itu keduanya bekerja pagi pulang sore.

Pagi itu, adikku yg masih berusia satu tahun menangis terus. Maka, walaupun belum jam 09.30 WIB (jam biasa aku mengantar adikku) aku antarkan saja adikku itu ke rumah nenekku. Ketika lewat rumah Bu Mina terlihat ia sedang menyapu halaman rumahnya. Dgn iseng sambil menggendong adikku, aku remas pantat bahenolnya. Bu Mina cemberut sambil menatapku yg berjalan sambil cengengesan.

Setelah menitipkan adikku dan memberikan uang utk jajan adikku pada nenekku. Aku segera bergegas kembali ke rumah. Aku lihat Bu Mina masih menyapu halaman rumahnya. Dgn sedikit berbisik, aku ajak Bu Mina ke rumah. Ketika Bu Mina sudah mengiyakan akan menyusul ke rumahku, aku pun segera ke rumah dgn perasaan senang dan deg degan menunggu apa yg akan terjadi sebagai pengalaman keduaku.

Seperti biasa, aku lucuti seluruh pakaianku sampai telanjang bulat. Kemudian aku lilitkan handuk utk menutup penisku yg sudah tegang dan keras membayangkan persetubuhan yg bakal terjadi antara aku dan Bu Mina.

Tak lama, pintu rumahku terbuka. Jantungku berdetak kencang sekali. Aku menjadi bingung mesti bagaimana dan mulai dari mana.

Antara aku dan Bu Mina hanya saling menatap. Ku lihat Bu Mina, sesekali memandang ke arah penisku yg sudah tegang dan mengeras di balik handuk. Tersungging senyum di wajahnya, membuat ketegangan yg aku alami berangsur-angsur menjadi lebih tenang.

“ayo, Dek Iwan ada perlu apa manggil ibu ke rumah?” tanya Bu Mina yg seolah senang mempermainkan perasaanku yg serba salah.

“eemm ini bu. Aku boleh ngulangin kayak kemarin?” pintaku penuh harap.

“idih, ibu kan sudah tua. Sudah loyo. Kalau setiap hari begituan mana sanggup!” jawabnya sambil tetap tersenyum menatapku.

“ah, ibu belum jg dicoba kok sudah bilang tdk sanggup!” sergahku.

“yaudah deh, tunggu sebentar ya. Ibu mau ke rumah dulu ngambil handuk biar nanti kalau udah begituan biar langsung mandi.” jawabnya dgn sedikit genit.

Aku menggangguk mengiyakan sambil terus menatap pantat bahenolnya ketika ia berjalan ke luar pintu rumahku. Bongkahan pantatnya itu membuatku berkali-kali menelan ludah. Betapa bahenolnya pantat Bu Mina sampai membuat hasrat birahiku naik sampai ke ubun-ubun.

Sambil bersantai di kursi menunggu Bu Mina, aku mencoba mengingat segala adegan film porno yg sering aku tonton. Namun, aku pun menjadi ragu apakah Bu Mina akan mau diajak bersetubuh dgn berbagai gaya.

Ketika aku mulai terlena dgn lamunanku, Bu Mina masuk rumah membawa handuk dan perlengkapan mandi. Baju warna hitam tanpa lengan dgn belahan dada rendah dan agak longgar menambah seksi penampilannya walaupun susunya ukuran kecil. Dari bawah makin membuat panas penampilannya sebab, legging cream yg dipakainya begitu mencetak setiap lekuk kaki, paha, dan pantatnya yg bahenol. Tak hanya itu, saking ketat legging yg dipakainya membuat garis meqinya tercetak dgn indah dan menggiurkan naluri kelelakianku.

Bu Mina pun menawarkan diri utk memulai persetubuhan di dalam kamarku. Tanpa banyak basa basi aku gandeng ia menuju kamarku.

Di dalam kamar, tanganku mulai bergerilia menjamah setiap lekuk tubuhnya, terutama susu kecil dan pantat bahenol yg lebih sering jadi sasaran kenakalan kedua telapak tanganku. Aku elus, aku remas, aku usap, dan remas lagi susu dan pantatnya dgn halus. Bu Mina menikmati dan membalas mengelus punggungku serta penis yg sedari tadi tegak mengacung di balik handukku.

aku jilat dan kenyot halus lehernya yg jenjang. Terasa gurih keringat lehernya dilidahku yg semakin bernafsu melakukan tugasnya. Hingga akhirnya, bibirku sudah mencaplok bibirnya. Kami berpagutan dgn liar. Tak lupa, lidah kami saling kenyot saling lilit dan saling memberi jilatan-jilatan penuh gairah. Entah berapa banyak liur kami yg tertukar dan tertelan habis. Sehingga nafsu kami semakin lama semakin menjadi-jadi. Erangan demi erangan, ke luar dari mulut Bu Mina. Matanya merem melek seiring erangan yg keluar dari mulutnya.

“emmmmhhhh ssshhhh deeeek Iwaaannnnn suuuussssuuuu ibbbbbuuuuu diiikenyyyyoooott yaaaa!” pintanya dgn suara bergetar sambil membuka baju dan kutang cream yg melekat di tubuhnya.

Tanpa banyak bicara, aku jilat melingkar bagian hitam susunya, aku kenyot-kenyot puting hitam yg sudah mengeras. Ukuran putingnya seukuran kelingking. Sungguh menggairahkan sekali. Kedua telapak tanganku bergantian menjamah susunya. Meremas lembut. Sampai akhirnya sebelah tanganku aku arahkan ke tengah selangkangannya. Aku gesek-gesekan jari tengahku diantara meqinya sambil lidahku terus menjilati susu dan mengeyot lembut puting susunya.

“eemmmm ddeeeeeeek maaaassssuuukkiiiiinnn uuuuddddaaaahhhh gaaakkk taaaahaaaann gggaaaatttteeelllll memmmmeeekkk ibbbuuuu!” pintanya sambil mengerang.

Sesuai pintanya aku mulai turunkan legging cream dan celana dalamnya langsung. Tampak bulu-bulut hitam meqinya. Aku bimbing ia utk berbaring di atas kasurku. Aku amati sebentar meqinya dan mulai mengarahkan wajahku pada meqinya. Aku jilat liang meqinya, aku kenyot-kenyot itilnya. Ia semakin menggelinjang merespon kelincahan lidah dan mulutku.

Tangan Bu Mina menjambak rambutku. Ditekan-tekannya kepalaku pada meqinya sampai akhirnya kepalaku ditekannya kuat-kuat terbenam di meqinya. Terasa cairan hangat mengalir dari liang meqinya.

“ssssshhhh aaaaaaaaahhhhhh keeellluaaaaarrrrr deeeeekkkk!” erangannya sambil tetap menekan kepalaku dalam-dalam pada meqinya.

Dgn perlahan ia menaik turunkan pantatnya pada wajahku yg ia tekan diantara meqinya. Tampak mulai kendur cengkramannya pada kepalaku. Sehingga aku mulai menegakan badanku. Terlihat senyum Bu Mina penuh kepuasan. Aku pun tersenyum sambil mengarahkan telapak tanganku utk meremas susunya. Aku jilat dan kenyot susunya. Bu Mina membalas mengusap-usap kepalaku dgn lembut sehingga aku merasa begitu disayanginya.

Tangan Bu Mina kini menggapai penisku dikocoknya perlahan dan mulai mengarahkannya pada lubang meqinya. Dgn perlahan tak seperti pengalaman pertamaku dgn Bu Mina, aku dorong perlahan-lahan penisku. Terasa nikmat dan hangat lubang meqinya. Penisku terasa dipijit di dalam meqinya.

Bu Mina mulai menggoyangkan pinggulnya memutar. Penisku terasa diempot-empot. Nikmat sekali. Aku mulai semakin membenamkan penisku lebih dalam dgn memaju mundurkan dgn perlahan.

“ssssshhh deeeekkkk leeebbbiiihhh cccceeeeeepppaaaattt eeemmmhhhh eeennnaaaakkk.” pintanya sambil terus mendesah.

Aku mulai menambah kecepatan gerakan penisku. Sehingga bunyi “plok plok plok” semakin keras terdengar.

Kedua tangan Bu Mina mulai meraba, meremas lembut dadaku. Aku semakin bergairah. Mempercepat kocokanku. Sampai akhrinya, terasa meqinya berkedut-kedut.

“aaaaaaaahhhhhh aaaaaahhhhh ssssshhhhhhhh!” erangannya menikmati orgasme kedua sambil tangannya menahan tubuhku supaya menghentikan gerakan dalam meqinya.

Peluh membanjiri tubuh kami. Ku lihat wajahnya tersenyum puas. Aku cabut penisku dalam meqinya. Sambil berbisik ku minta ia menungging agak tinggi dgn di topang lututnya dan badan atas telungkup di kasur. Tanpa ada penolakan ia menuruti permintaanku.

Dgn posisi nungging, pantat bahenolnya terlihat bulat. Aku amati liang meqinya yg semakin merekah. Dan aku mulai maju mengarahkan penisku ke lubang meqinya. Bles penisku terbenam di dalamnya. Dgn penis yg sudah terbenam dalam, aku mulai atur gerakan cepat dan perlahan memaju mundurkan penisku.

Tiba-tiba muncul pikiran lain dalam otakku ketika melihat lubang duburnya. Aku jiati jari tengah tangan kiriku dgn ludah. Aku arahkan jari tersebut mengusap-usap lubang duburnya. Bu Mina semakin liar melenguh, mendesah, dan mengerang. Aku semakin liar mengocok meqinya dgn penisku yg lincah di dalamnya. Aku coba menusuk duburnya dgn jari tengahku yg basah. Ia pun makin melenguh.

“aaaaaahhhhh ssssssshhhhh ssssshhhhh.” lenguhnya sambil memutar-mutar pantatnya.

Tak terasa jari tengahku sudah masuk setengahnya. Suara Bu Mina mendesah dan meringis karena perih nikmat pada duburnya. Aku semakin cepat mengocok penisku. sedangkan jari tengah di duburnya aku biarkan karena peret dan tercengkram kuat otot duburnya.

Tubuh kami semakin banyak dibanjiri peluh. Bu Mina semakin cepat memutar dan menekan-nekan pantatnya. Penisku terempot-empot di dalam meqinya sehingga aku merasakan kepala penisku mulai gatal dan geli. Hingga akhirnya Bu Mina mendahului orgasme akibat kocokan penisku yg brutal pada meqinya.

“ssssssshh aaaaaaaaahhhh keeeellluaaaar laaaagggiiii!” lenguhannya begitu enak terdengar.

Meqinya berkedut-kedut sehingga penisku yg sudah gatal dan geli memuntahkan banyak sperma di dalam liang meqinya. Aku biarkan sperma tumpah dan terkuras habis di dalam meqinya. Sampai akhirnya badanku ambruk menindih tubuhnya dgn penis yg masih terbenam di meqinya.

Ketika sudah surut gelora yg membakar hasrat birahi. Aku cabut penisku dari dalam meqi Bu Mina. Aku rebahkan tubuhku di sampingnya. Bu Mina membalikan badannya mengarah padaku. Wajahku ia cium-cium dgn lembut. Sedangkan aku diam saja sambil terus ngos-ngosan. Tangan Bu Mina dgn lembut mengusap dadaku.

Mungkin sudah 10 menit kita berbaring bersama di atas kasur. Akhirnya Bu Mina bangkit dan melilitkan handuk pada tubuhnya utk pergi mandi.

Sungguh penampilan Bu Mina walau sudah tua tp membuatku begitu nyaman berada di sampingnya. Dgn berbekal handuk aku pun mengikuti Bu Mina ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi kita pipis bareng sambil tanganku iseng meremas-remas susu kecil dan kendor milik Bu Mina. Bu Mina geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat ulahku.

“udah ah, ibu capek. Nanti kamu mau lagi.” katanya tanpa menghindarkan tanganku pada susunya.

“iya bu, aku masih mau! soalnya aku pengen nyobain begituan di kamar mandi.” jawabku sambil memperlihatkan penisku yg sudah tegak berdiri.

“tp ibu sudah gak kuat. Kalau ibu begituan lagi ibu bisa kelelahan dan ketiduran. Mana pekerjaan ibu masih banyak di rumah.” bantahnya mencoba menenangkan hasratku.

“ya udah deh bu. bagaimana kalau ini ibu hisap atau dijilatin aja?” pintaku sambil mengarahkan penisku ke arahnya.

“iya deh ibu coba, tp cuci dulu burungnya!” jawab Bu Mina.

Sungguh senang sekali Bu Mina mau melakukannya. Tdk seperti kemarin ia menolak utk menghisap penisku. Dgn semangat aku cuci penisku dari sisa-sisa lendir yg lengket.

Setelah melap penisku dgn handuk, aku arahkan penisku pada mulut Bu Mina yg setia berjongkok dihadapanku. Dgn ragu-ragu ia membuka mulutnya dan mendorong kepalanya perlahan. Akhirnya, dgn perlahan penisku masuk ke dalam mulutnya. Terasa nikmat, geli, dan hangat.

Secara natural, Bu Mina mulai memaju mundurkan mulutnya. Agak ngilu ketika kepala penisku berkali-kali mengenai giginya.

“emmmhhh enaaakk bu. Tolong sambil kepala burungku dikenyot pelan-pelan bu.” pintaku sambil merasakan sensasi yg baru aku alami dioral perempuan.

Penisku merasakan sensasi luar biasa. Hangat, geli, dan basah ketika berkali-kali ke luar masuk mulutnya. Apalagi Bu Mina mulai memainkan lidahnya yg terasa dingin di kulit penisku. “emmmmhhh” rasanya seperti melayang di awang-awang. Sesekali kepala penisku dikenyotnya pelan-pelan dan menggemaskan. uh rasanya, menenangkan jiwa.

“haduh dek, leher ibu pegel. Kamu lama banget ke luarnya.” keluhnya sambil tangannya mengocok-ngocok penisku.

“iya nih bu. Nikmat sih tp kayanya aku gak akan ke luar kalau sama mulut ibu.” jawabku.

“aduh, terus gimana biar kamu cepet ke luar?” tanyanya dgn gemas sambil tdk berhenti mengocok penisku.

“ya, burung aku masukin ke meqi ibu aja biar cepet ke luar.” jawabku.

“yaudah deh ayo. padahal ibu udah cape ini lutut udah gemeter kayak mau copot.” ujar Bu Mina sambil nyengir.

Perlahan aku duduk di lantai kamar mandi sambil bersandar pada dinding. Aku minta Bu Mina utk naik di atas pangkuanku. Awalnya ia terlihat bingung tp dgn sabar aku arahkan badannya supaya dia leluasa memasukan penisku ke dalam meqinya. Sampai akhirnya ia paham dan mulai menggoyang pantatnya memutar. Terasa, cairan hangatnya mulai membasahi meqinya sehingga terasa licin dan membuat penisku leluasa.

Aku minta Bu Mina utk mengkolaborasikan gerakan memutar, maju mundur, dan turun naik. Hasilnya, penisku merasakan kenikmatan yg tiada duanya. Dinding meqinya terasa mencengkram dan meremas-remas penisku. Sungguh enak sekali meqi wanita tua ini. Tanganku yg sedari tadi berada di pinggangnya mulai aku naikan utk meremas-remas susu dan memilin-milin putingnya sehingga Bu Mina mulai merem melek dan mendesah dgn penuh kenikmatan.

“ehhhhmmmmm aaaaaaahhhhh aaaaaaahhh ssshhhhhhhhh.” desahnya merasakan sensasi penis dan kenakalan kedua tanganku.

Aku dekatkan lidahku menjilati lehernya yg sudah basah oleh keringat. Terasa bau persenggamaan tercium hidungku membuatku semakin bergairah oleh sensasi tersebut. Emm nikmatnya.

“deeeekkkk aaaahhhhhh sssshhhhh ibuuuu caaapppeeeeekk eeemmmmmhhh peeeggggeeeelll ouuuuuhhhhh.” ujarnya sambil mendesah menikmati.

“gantian aja bu, aku di atas. Ibu rebahan aja di lantai.” jawabku.

Bu Mina mulai mencabut penisku dan merebahkan badannya di lantai sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar. Aku mulai menghujamkan penisku. Dgn gerakan cepat aku kocokan penisku keluar masuk meqinya. Bu Mina mendesah dan mengerang hebat akibat gerakan maju mundur secara cepat yg aku lakukan.

Penisku merasakan geli dan gatal. Tdk akan lama lagi aku akan mencapai orgasme, Aku semakin buas menambah kecepatan maju mundur. Sampai akhirnya, kedua telapak tangan Bu Mina mencengkram kuat punggungku. Desahannya semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya kita sama-sama orgasme.

Nafasku ngos-ngosan. Cape tp nikmat sekali. Aku cabut penisku yg sudah dibalut lendir dari meqinya lalu duduk bersandar pada dinding kamar mandi. Bu Mina dgn perlahan bangkit dan menggapai gayung utk membersihkan meqinya.

Pengalaman kedua bersama Bu Mina diakhiri dgn acara mandi bareng. Usai kita mandi, aku lihat jam dinding menunjukan pukul 11.38 WIB. Aku pasti kesiangan tiba di sekolah. Tak terasa sungguh, ternyata lebih dari 3 jam setengah kita habiskan utk bersenggama memburu kenikmatan. Namun, walaupun demikian aku tak menyesal karena Bu Mina selalu memberikan kepuasan padaku dan selalu bersedia jika aku ajak ia ngentot.

Advertisements

Cerita Sex – Pacarku Dan Tukang Ojek..

Aku berpacaran dgn Mila sejak duduk dibangku kelas 2 SMU sampai sekarang kuliah semester empat. Hubungan kami selama ini baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku merasa hubunganku dgnya terasa hambar. Aku sangat mencintainya, karena Mila sangat mengerti aku dan menerimaku apa adanya. Secara fisik tergolong “petite” kalau orang bule bilang. Tinggi badanya 160 cm sangat cocok wajahnya yg “babyface”. Kulitnya putih bersih, tubuhnya padat berisi dgn ukuran yg sangat ideal.

Aku tak ingin hubunganku dgn Mila yg sudah kujalin hampir 3 tahun lebih ini putus begitu saja. Aku butuh Mila sebagai penyemangat hidupku, dan aku merasa Mila jg membutuhkan kasih sayangku karena dia hanya tinggal berdua dgn mamanya yg pengusaha furniture. Bisnis furniture mamanya sangat maju karena sudah sampai diekspor ke luar negeri. Konsekuensinya, sang mama harus sering meninggalkan Mila sendiri di rumah untuk mengontrol pabrik furniturenya di Jepara. Orangtuanya bercerai sejak Mila masih SD sehingga Mila sangat membutuhkan figur laki-laki dewasa, figur yg menurut Mila dia temukan pada diriku.

Pada suatu weekend, seperti biasa aku meneleponnya untuk mengajak jalan-jalan.

“Sayang, nanti malem kamu mau nggak nyobain restoran baru di Kemang?”

“Duh Mila mau banget mas, tp tante Mila dari Semarang baru dateng nih. Mila musti nemenin dia, nggak enak soalnya mama kan lagi di Jepara”

“Oh ya udah gak papa deh kalau gitu…”

“Yaaa sayang, jangan marah ya, kamu mau ngapain dong sendirian?”

“Gak papa sayang, aku di rumah aja kalau gitu nonton DVD”

“Maap ya sayang, Mila janji deh nanti ketemu di kampus Mila kasih sejuta cium buat yayg Mila yg paling sabar sedunia”

“Hehehehe janji yaa… Awas loh kalau ketemu aku tagih”

“Hihihi iya sayang, ya udah aku nemenin tanteku lagi ya”

“Oke sayang, kiss dulu mmmwah… love you”

“Mmmmwah… love you too sayang”

Telepon kututup dgn pelan. Tanganku meraih remote DVD dan menekan play. 15 menit aksi Bruce Wilis dalam Die Hard 4 tdk mampu mengusir rasa hampaku. Kumatikan televisi dan DVD. Kuputuskan untuk keluar saja jalan-jalan. Kuambil kunci Honda Jazz kesayanganku dan meluncurlah aku menuju entah kemana.

Di tengah jalan, aku melewati toko kue langgananku. Aku teringat Mila dan kue kegemarannya, kue mangkok. Aku mendapat ide untuk membelikannya beberapa kue dan mengantarkannya sebagai surprise, hitung-hitung cari muka jg di depan tantenya hehehe… Setelah membeli selusin kue mangkok, akupun meluncur menuju rumah Mila. Mobilku sengaja kuparkir agak jauh supaya Mila tdk bisa mendengarnya, karena dia sudah hafal dgn suara mesin mobil kesayanganku.

Sampai depan rumahnya, ada sebuah motor terparkir. Aku agak heran karena pagarnya tdk terkunci, padahal biasanya kalau mamanya sedang pergi keluar kota, Mila selalu menguncinya karena memang dia tinggal sendirian di rumah. Demi menjaga surprise, aku diam-diam masuk. Pintu depan rumahnya kutemukan terkunci. Aku tdk ingin mengetuk supaya tetap surprise. Aku berjalan ke samping rumahnya menuju jendela kamarnya. Semakin dekat aku mendengar suara-suara dari dalam kamarnya. Persis di depan jendela kamarnya, kusibakkan sedikit gordennya untuk mengintip. Apa yg kulihat kemudian membuat darahku menggelegak.

Mila sedang di atas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang bulat, dgn posisi menungging dan seorang lelaki jelas-jelas sedang menyetubuhinya dari belakang. Betapa terkejutnya aku, pacarku sedang disetubuhi orang dgn gaya doggy style. Jelas kulihat ekspresi muka Mila yg seperti menahan rasa puas dan sakit bersamaan. Tubuh seksi pacarku maju mundur terdorong oleh hentakan pinggang lelaki yg sedang menghunjamkan k0ntolnya ke dalam meqi Mila. Pinggul Mila dicengkeram erat oleh kedua tangan lelaki itu. Terlihat kontras sekali warna pantat putih Mila yg mulus beradu dgn pinggul lelaki yg berkulit coklat gelap itu. Aku mencoba pindah melihat dari sisi jendela satunya lagi. Sekarang dapat kulihat k0ntollelaki itu ternyata besar dan panjang sekali, sekitar 23 cm panjangnya, 4x lebih besar dari k0ntolku. Meqi Mila yg mungil ternyata mampu menampung k0ntol sebesar itu. K0ntol raksasa itu keluar masuk meqi pacarku dgn lancarnya, itu berarti Mila sudah sangat terangsang sampai becek meqinya.

“Ouh ouh ouh enak banget bang… terus entot Mila bang”, ceracau Mila sambil terengah-engah penuh kenikmatan

“Oooh si eneng meqinya rapet banget… abang kayak ngentot sama perawan”, lelaki itu dgn kurang ajarnya mengomentari meqi pacarku.

“Ahh ahh ahhh… k0ntol abang sih gede banget… Aahhhh enak baaang” Mila menjawab dgn melenguh keenakan.

Belum pernah kudengar Mila menggunakan kata-kata kasar seperti itu. Tak kusadari, k0ntolku sudah mengeras tertahan celana jeansku. Aku terangsang melihat pacarku disetubuhi orang, aku terangsang melihat meqi pacarku dihantam oleh k0ntol yg besar milik lelaki asing itu.

“Owh bang terus bang, Mila mo keluar lagi bang…terus entot meqi Mila bang… ooh ooh….oooooooooooooooooh” Tubuh Mila mengejang tanda telah mencapai orgasme.

Lelaki itu melepaskan cengkeramannya. Tubuh Mila terkulai lemas di kasur. Sekarang terlihat jelas k0ntol raksasa itu tegang hitam mengkilat berselaput cairan meqi pacarku.

“Duh abang kuat banget sih, Mila udah empat kali keluar tp peler abang masih ngaceng aja” Mila meraih k0ntol besar lelaki itu dgn ekspresi muka penuh kepuasan.

“Yah maklum neng, bini abang lagi hamil tua, abang udah 3 bulan lebih kagak ngewe. Mangkenye sekalinya ketemu meqi, si otong semangat juang empat lima dah” ucap lelaki itu dgn seringai kepuasan karena mampu membuat cewek secantik dan seseksi Mila melayang ke langit kenikmatan.

“Uh Mila ngiri deh sama bininya abang, bisa ngerasain ngentot sehebat ini tiap hari” ucap Mila sembari mulai mengocok k0ntol besar itu.

“Hehehe..” Lelaki itu terkekeh, “Bini abang mah kalau udah mulai cerewet, ntu brarti meqinya udah gatel minta ditancep neng.

Hampir tiap malem dah die minta dientot mulu, kadang sampe pagi, mangkanye abang selalu ngojeknya siang”.

Bangsat! Ternyata lelaki ini tukang ojek langganan Mila. Aku ingat Mila selalu bercerita kalau dia punya tukang ojek langganan yg selalu mengantarnya ketika aku sedang tdk bisa menjemputnya. Aku semakin terangsang memikirkan seorang tukang ojek berwajah kampungan berkulit coklat gelap yg sedang menyetubuhi pacarku Mila yg putih, cantik dan seksi

“Neng, ayo dong mulai lagi… si otong udah ga sabar nih pengen ngebor” Tukang ojek itu rupanya tdk sabar ingin menyetubuhi lagi pacarku yg cantik.

“Uuhhhhh si abang… tp Mila di bawah ya bang, kaki Mila lemes nih” Ucap Mila dgn senyum nakal menggodanya itu.

“Ah tenang aja neng, si eneng tinggal ngangkang, trus rasain dah enaknya dientot kanjut abang” Tukang ojek itu berujar sambil bergerak ke atas tubuh molek Mila.

“Mmmppphhh ayo bang masukin… entot lagi meqi Mila bang…” Mila melebarkan kedua kakinya, membuat meqinya yg sudah merah dan basah tepat berada di depan k0ntol besar sang tukang ojek.

“Nih, neng rasain lagi titit abang yah” Tukang ojek itu kembali menancapkan k0ntol besarnya ke meqi Mila.

“Ooooouuccchhh…..” Mila merintih antara sakit dan nikmat.

“Eemmmhhhhhh…. oochhhh… tancep meqi Mila bang….occhhhh”

Bless… bless…. Clekk Clekk Clekk … terdengar jelas k0ntol besar itu dgn lancarnya menembus meqi Mila yg sudah sangat basah. Mulut si tukang ojek dgn rakusnya menghisap-hisap toket Mila. Mila semakin melenguh tdk karuan.

“Oocchhh… acchhhh….. isep toket Mila bang…. Entot meqi Mila…..oooh… ahhhh” Mila semakin meracau dan merintih.

Selama 5 menit kemudian kulihat ranjang Mila ikut bergetar karena hunjaman pinggang si tukang ojek. Mata Mila tertutup dgn ekspresi menggigit bibir. Aku semakin terangsang hebat melihat pacarku sedang terbaring pasrah disetubuhi tukang ojek kampungan itu. Tak tahan lagi kubuka retsleting celana jinsku dan kukeluarkan k0ntolku. Aku bermasturbasi sambil menyaksikan pacarku yg cantik disetubuhi seorang tukang ojek berk0ntol besar.

Tanpa kusadari, aku mulai menikmati pemandangan meqi pacarku yg sedang dibor k0ntol berukuran besar tersebut. Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk mencapai ejakulasi. Akupun menumpahkan spermaku ke dinding luar kamar pacarku sendiri. Sungguh aneh, pacarku sedang disetubuhi orang lain sedangkan aku hanya bisa bermasturbasi sambil menonton mereka memadu birahi.

“Oooh neng… abang mau keluar nih neng…” Rupanya tukang ojek itu sudah hampir mencapai klimaksnya.

“Oooh terus bang…Mila jg mau keluar lagi bang….oohhhh ahhhh…auhhhh…”Mila memeluk erat punggung tukang ojek itu seperti tdk rela melepasnya.

“Ooohhh… bentar neng abang cabut ya…. Aaahhhh…. Abang keluarin di luar biar eneng nggak hamil…”

“Jangan bang…ohhhh…aahhhh… jangan dicabut…aaahhh…. Terus entot Mila bang….keluarin di dalem aja sama-sama ya bang…ahhhh…oooh” Mila memeluk erat punggung tukang ojek itu, tdk rela berhenti disetubuhinya.

“Oooooooooh Mila keluar lagi baaaaaang….ahhhh”

“Ooohhh…iya neng…auuhhhh….abang keluar nih neng…. AAAAAAaahhhhhh” Tubuh tukang ojek itu menegang dgn k0ntol besarnya yg masih tertancap di meqi pacarku, menumpahkan spermanya langsung ke rahim Mila.

Selama 10 detik kulihat si tukang ojek orgasme mengucurkan benihnya ke meqi pacar kesayanganku.

Pelan-pelan tukang ojek itu memutar badannya. PLOP! Suara k0ntol besar yg tercabut itu jelas terdengar. Cairan putih kental mengalir pelan keluar dari meqi pacarku. Rupanya banyak sekali sperma yg dikeluarkannya sampai luber. Dua manusia itu terbaring lemas setelah mencapai puncak birahi.

Cerita Sex – Obsesi Ngentot Gadis Cantik Seksi..

Awalnya sih aku cuma iseng-iseng saja, melihat iklan-iklan paranormal yg banyak bertebaran di tabloid-tabloid misteri. Tetapi ada satu yg membuatku menarik, yaitu tentang ilmu pelet memikat hati wanita hingga mau mengikuti segala keinginan si pemelet. Kebetulan aku memang mempunyai obsesi untuk menikmati lekuk tubu Asty, seorang wanita yg menurutku sangat cantik dan sexy.

Dia pemilik cucian mobil di daerah Cijantung, Jakarta timur. Orangnya tinggi, mungkin sekitar 170 cm, badannya langsing, padat berisi, dgn lekukan pinggang yg dalam, kontras dgn pinggul dan pantatnya yg sensual, gundukan di dadanya yg mencuat ke depan, seakan menantang gairah setiap lelaki, apalagi ditunjang dgn kulitnya yg putih mulus dan kelihatannya sangat lembut dgn bulu-bulu halus menghiasi seluruh permukaan kulitnya. Sungguh wanita sempurna yg pernah kutemui.

Sayang setiap kali aku mencuci steam mobilku dan menggodanya sopan, sepertinya dia acuh tak acuh saja. Memang sih aku jg sadar, dari sekian puluh mobil yg antri dicuci, mungkin mobilKatanaku yg levelnya paling terbawah. Yg nyuci disana rata-rata mobil-mobil keluaran terbaru, dgn pemiliknya yg rata-rata berdasi. Aku yakin mereka pasti berlomba mendapatkan kehangatan dari Asty, karena aku sering dengar bahwa Asty memang bisa “diajak”, asalkan kita banyak duit.

Berpikir seperti itu, aku langsung menghubungi melalui telepon paranormal itu. Setelah berbicara panjang lebar mengenai segala sesuatunya, aku tertarik jg, karena jika tdk berhasil dia tdk akan menerima mahar. Jadi berhasil dulu baru kubayar.

Sore itu, sepulang kerja aku mampir ke tempat prakteknya di daerah Lubang buaya, Jakarta timur. Setelah menjalani segala macam ritual, termasuk mandi kembang dan lain-lain, aku diberikan bekal sebuah cincin yg katanya sdh diisi. Dan sesuai perjanjian, mahar sejumlah Rp 500.000,- akan kuberikan setelah berhasil. Dia hanya memberikan nomer rekeningnya di sebuah bank swasta terkemuka, tp itu pun dgn sebuah peringatan, jika berhasil tp aku tdk membayar maharnya, maka taruhannya adalah nyawaku. Karena aku memang tdk ada niat jelek, aku ambil cincin itu dan aku kenakan di jari manisku.

Sesampai di rumah, ketika menjelang tidur, kubaca mantra yg diberikan sang dukun sambil membayangkan wajahnya yg cantik dan tubuhnya yg menggiurkan. Perlahan peniskuku bangkit dan mengeras, “Berhasil..!” batinku bersorak kegirangan.

Memang salah satu syaratnya adalah harus ereksi. Akhirnya aku tertidur dgn sejuta angan-angan indah memenuhi mimpiku.

Besoknya, pulang kerja aku langsung menuju cucian mobil. Di depanku sdh ada 4 mobil antri untuk dicuci. Aku segera ke ruang tunggu, bergabung dgn pemilik mobil yg lain, tp aku tdk melihat Asty di sana. Aku sedikit kecewa. Sedang asyik-asyiknya kami mengobrol, munculah orang yg aku tunggu-tunggu.

“Hai, semua..” sapanya manis.

“Hai, jg..” hampir serempak kami membalas salam Asty.

Pandangan mataku bertemu dgn Asty, dia tersenyum manis sekali. Cepat-cepat kubacakan mantra yg sdh kuhafal 3 kali.

Kini tinggal satu langkah lagi yg harus kulakukan, yaitu menyentuh salah satu anggota tubuhnya. Dalam suasana yg ramai begitu memang sulit sekali mendapatkan kesempatan bicara denganya, apalagi memegang salah satu anggota tubuhnya. Namun rupanya peletku sdh mulai bekerja, saat kendaraanku selesai dicuci, otomatis aku harus menyelesaikan pembayarannya dgn Asty. Saat dia menulis nota, kuberanikan diri memegang punggung tangannya.

“Asty, kulit kamu halus sekali, pakai lotion apa sih..?”

Matanya yg indah langsung menatapku begitu tangannya kusentuh. Jantungku deg-degan menunggu reaksinya.

“Pakai lotion biasa, memangnya kenapa..?”

Tdk ada nada marah dalam ucapannya.

Aku bersorak kegirangan dalam hati, “Ehh, nggak apa..” aku jadi kebingungan sendiri.

“Nih, kalau kamu ada perlu pribadi dgnku.”

Dia menyerahkan sebuah kartu nama pribadinya di selipan nota yg kuterima. Tambah kaget saja aku, Asty yg biasanya agak ketus, sekarang malah mengundangku.

Aku mencoba menenangkan perasaanku,

“Eh, iya, terima kasih..”

Aku bergegas meninggalkan tempatnya dgn hati berbunga-bunga, kubaca kartu nama pribadinya, lengkap dgn nomor ponselnya.

Malam harinya, dgn tdk sabar aku mencoba menghubunginya. Tp aku masih ragu, untung aku ingat fasilitas lintas operator yg baru-baru ini diluncurkan. Kukirim SMS ke ponselnya, meskipun dia TELKOMSEL dan punyaku SATELINDO, tp SMS-ku langsung masuk, buktinya dia langsung mereply tdk lebih dari 5 menit.

“Boleh, aku call kamu ke rumah, sekarang..?” begitu bunyi SMS-ku.

Sekian menit ponselku berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Kubuka, dan ternyata pesan dari Asty.

“Dgn senang hati..” begitu bunyi reply-nya.

Aku segera menghubunginya, mula-mulanya pembicaraan kami terasa kaku, tp lama-kelamaan akhirnya pembicaraan kami menjadi lancar, bahkan sdh mengarah ke seks. Ternyata semalam dia bermimpi main dgnku sampai orgasme, sehingga dia jadi terbayang dan ingin sekali mencoba kebenarannya. Pucuk di cinta ulam pun tiba, satu jam lebih kami ngobrol lewat telepon. Saat obrolan kian panas, aku pun mengajaknya untuk bertemu. Asty langsung menyggupi.

“Ini pasti pengaruh pelet itu..” batinku.

Aku langsung memacu Katana-ku, menjemputnya. Dan karena sdh akrab, aku langsung mengajaknya check-in sesuai kesepakatan. Dan begitu aku mengunci pintu kamar hotel, dgn ganasnya Asty langsung menyerangku habis-habisan. Seluruh tubuhku diciuminya. Baju dan celanaku langsung beterbangan dan mendarat dgn sukses di lantai hotel yg berkeramik ungu. Aku pun tdk mau kalah, kubuka baju dan celananya dan kulempar jg ke lantai. Sambil berciuman, tangan kamisalaing mengelus dan mencari titik rangsangan. Kedua tubuh kami yg sdh bugil mempermudah Asty menemukan peniskuku.

“Wah.., gede sekali, persis dalam mimpiku..” katanya.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, tp senyumku langsung berubah seketika ketika Asty berjongkok dan menjilati peniskuku sampai ke bijinya, apalagi saat mulutnya melahap dgn rakus peniskuku yg sdh menegang.

Aku merintih keenakan. Aku hanya bisa menunggu saat yg tepat untuk membalas perlakuannya, tp ternyata memang peletku luar biasa, aku tdk diberikan kesempatan menikmati tubuhnya, karena Asty langsung menungging di hadapanku dan menarik peniskuku ke celah lembabnya.

“Nanti sayang, aku belum puas..!”

Aku mencoba menahan langkahnya, tp Asty seperti orang kesurupan, dia tdk peduli dgn ucapanku. Dia langsung memundurkan pantatnya, hingga peniskuku terbenam ke dalam kemaluannya. Hangat dan nikmat mengalir dari peniskuku ke seluruh tubuhku, sementara Asty semakin histeris.

“Ohh.., enakk sayang.., tusuk yg dalam sayang..!” desahnya.

Aku bertumpu pada pinggulnya yg montok, dan aku mulai memaju-mundurkan pantatku. Pantat Asty yg bulat kuremas-remas, kadang aku menyambar toketnya yg bergantungan merangsang itu. Sambil terus mempercepat gerakanku, kupilin kedua puting toketnya, dan hasilnya,

“Achh..” seluruh tubuh Asty mengejang dan bergetar.

Bersamaan dgn terbenamnya seluruh peniskuku ke dalam liang memeknya, Asty terdiam sejenak, mungkin masih menikmati sisa orgasmenya. Tdk lama pantatnya ditarik maju, sehingga peniskuku lepas dari liang kemaluannya, dan menimbulkan bunyi “Plop..”, karena masih kencangnya jepitan kemaluan Asty di peniskuku yg masih kaku.

Asty telentang di kasur, matanya terpejam, aliran nafasnya yg belum normal membuat gundukan dadanya naik turun. Aku hanya bisa memandangi kesempurnaan tubuhnya. Kulitnya putih bak pualam tanpa cacat sedikit pun, sangat kontras dgn bulu-bulu hitam yg tumbuh. Apalagi gundukan kemaluannya sangat indah dgn hutannya yg hitam lebat. Toketnya yg tdk terlalu besar dihiasi dgn puting yg masih memerah. Lekuk pinggangnya bak gitar spanyol, perutnyarata tanpa kerutan sedikit pun. Aku yg lagi tanggung, tanpa buang waktu lagi langsung mencumbunya. Seluruh tubuhnya kuhujani dgn ciuman-ciuman lembut dan jilatan lidahku yg hangat. Aku bagai seekor kucing memandikan anaknya, tdk sejengkal pun dari tubuhnya yg luput dari jilatan dan elusanku.

Saat lidahku sampai pada toketnya, Asty kembali bangkit nafsunya. Dia balas memainkan dadaku dan menjetik puting dadaku dgn jarinya. Aku bagai dialiri setrum tinggi. Kubalas dgn memasukkan jariku ke dalam kemaluannya. Pada posisi mengorek, kutemukan ruas-ruas halus bergerigi, kusentuh dgn lembut.

Asty menjerit lirih, “Ahh, jangan, aku jadi mau kencing..!”

“Tenang sayang, sebentar lagi kamu rasakan lain dari yg lain..” kataku menenangkannya.

Dan tdk lama aku berbicara, Asty sdh memperlihatkan rasa nikmat yg diterimanya akibat sentuhanku pada g-spotnya.

Seluruh tubuhnya meliuk-liuk menahan seranganku. Apalagi dgn tanpa melepaskan jariku, kuarahkan mulutku ke klitorisnya, Asty semakin meracau tdk menentu.

Kujilati klitorisnya yg membengkak, sementara satu tanganku masih asyik memilin puting toketnya.

“Masukin sayang.., aku sdh nggak tahan..!”

Tanpa dikomando kedua kalinya, kuangkat kedua kaki Asty ke pundakku. Dalam posisi begini, aku bisa melakukan penetrasi lebih dalam.

Kumasukkan peniskuku ke liang memeknya,

“Sleppsh..!”

Aku kembali merasakan pijatan halus di seluruh penisku. Kutekan pantatku lebih dalam dan Asty menjerit keras. Mungkin akibat dari penetrasi peniskuku yg terlalu dalam. Tetapi hanya sebentar saja, Asty sdh menggerakkan pinggulnya yg sensual, mengimbangi tusukanku yg semakin dalam.

Peluh sdh bercucuran di seluruh tubuh kami. Berbagai posisi sdh kupraktekkan. Aku berusaha menahan ejakulasiku sekuat mungkin, tp sampai saat ini Asty belum ada tanda-tanda orgasme.Aku sdh mulai lelah, kini Asty gantian berada di atas tubuhku dan menduduki peniskuku yg masih mencuat dgn keregangan masksimal. Ternyata dgn posisi begini, Asty lebih mudah mencapai orgasmenya, mungkin dia bisa mengatur sentuhan ke klitoris atau ke liang memeknya. Gerakan pinggulnya yg gemulai serasa mengurut penisku. Tdk lama kemudian, kulihat Asty mulai mempercepat gerakannya, kian lama kian cepat dan sdh tdk beraturan lagi. Aku berkonsentrasi penuh untuk mencapai kenikmatan bersama. Spermaku terasa sdh mengumpul di ujung peniskuku.

“Ohh.. Aku mau keluar sayang, tahan yah..!”

“Jangan keluarin di dalam, sayang..”

Aku agak kaget, cepat-cepat kupecah konsentrasiku untuk menahan ejakulasiku. Dgn setengah berdiri aku mencoba membantu mempercepat orgasme Asty dgn menghisap puting toketnya. Dan ternyata berhasil, tubuh Asty mengejang kaku. Kedua kakinya menjepit kuat pinggangku.

“Achh.. sstt..!” kedua jari Asty menancap di dadaku, menahan gelombang orgasmenya yg kedua.

Aku yg sdh lama menahan ejakulasiku, segera mendorong tubuhnya yg lemas di atas tubuhku.

“Asty.., aku dikit lagi sayang, cepat..!”

Asty langsung bangkit dan mengocok peniskuku dgn cepat. Aku sdh tdk tahan lagi, apalagi sambil terus mengocok, mulut Asty memainkan puting dadaku. Jebollah pertahananku.

“Achh..!” kuremas kuat rambut Asty sambil melepas kenikmatan yg kurasakan.

Semprotan spermaku cukup jauh, hingga mengenai wajah Asty yg masih terus menjilati dadaku. Seluruh persendianku terasa lemas bagai tak bertulang. Kami istirahat berpelukan sampai tertidur.

Nah itulah indahnya bercinta jika dgn orang yg kita kagumi, apalagi dgn orang yg kita cintai.

Cerita Sex – Senjata Tumpul Memainkan Memekku..

Panggil saja namaku wati banyak orang yang memanggilku cantik, memang banyak orang yang mengakui hal tersebut selain itu aku juga mempunyai material yang banyak, tapi aku sudah menikah setahun yang lalu waktu aku berumur 27 tahun dengan tinggi 168 berat bandan 54 kg, berambut panjang hitam wajah pipih serta mata sipit banyak yang naksir denganku.

Latar belakang keluargaku yakni dari keluarga Minang yang terpandang. Padahal suamiku, sebut saja Sapak yakni seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang.

Sesudah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri, saya mengusulkan untuk mengajukan pindah ke kota Padang supaya dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Sesudah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah sogok sana sogok sini alhasil saya dapat pindah di kantor pusat di Kota Padang.

Pembaca tentu maklum bahwa pada jaman sekarang segala sesuatu harus pakai uang. Bahkan kata orang Jakarta segala sesuatu harus bayar, dari makan hingga buang kotoran. Mungkin cuma kentut saja yang belum perlu pakai uang. (Mungkin jika telah ada Undang Undang Lingkungan, kentut pun musti bayar sebab mencemari udara.. Ya nggakk??)

Sebagai orang baru, aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan kemampuanku. Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini yakni sebagai kepala bagian. Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku memang layak menempati posisi ini.

Sebagai konsekwensinya saya harus rela bekerja hingga larut malam menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berbeda ketika aku bertugas di kepulauan dahulu. Hal ini membuatku harus senantiasa pulang larut malam sebab jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh yang harus kutempuh selama kurang lebih 30 menit dengan mobilku.

Sehingga aku jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang juga mulai semakin sibuk sejak karirnya meningkat. Praktis kami cuma berjumpa ketika menjelang tidur dan ketika sarapan pagi.

Atas kebijakan pimpinan, saya senantiasa dikawal satpam jika hendak pulang. Sebut saja namanya Pak Hary , satpam yang kerap mengawalku dengan sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman hingga ke rumah. Dengan demikian saya senantiasa merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun sebab pulangnya senantiasa diantar.

Takjarang saya memintanya mampir untuk sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan baik. Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok Gudang Garam kesukaannya.

Pak Hary yakni lelaki berumur 35 tahunan. Tubuhnya cukup kekar dengan kulit kehitaman khas orang Jawa. Dia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Senen Jakarta. Dia telah menjadi satpam di bank tempat aku bekerja selama 8 tahun. Dia telah beristri yang sama-sama berasal dari Jawa. Akupun telah kenal dengan istrinya, Yu Dar.

Suatu hari, ketika aku selesai lembur. Aku kaget ketika yang mengantarku bukan Pak Hary , tetapi orang lain yang belum cukup kukenal.

“Lho Pak Hary di mana Bang?” tanyaku pada satpam yang mengantarku.

“Anu Bu, Pak Hary hari ini minta ijin takmasuk katanya istrinya melahirkan” katanya dengan sopan.

cerita mesum terbaru terlengkap, cerita sex nyata pembaca, cerita ngentot memek hot, cerita kentu vagina, cerita mesum bersenggama, cerita panas terhot, cerita ML pasangan sange

Alhasil saya tahu jika yang mengantarku yakni Pak Warso, satpam yang biasanya masuk pagi.

“Kapan istrinya melahirkan?” tanyaku lagi.

“Katanya sih hari ini atau mungkin besok Bu” jawabnya.

Alhasil hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Warso.

Awal Perselingkuhan

Telah dua hari aku senantiasa dikawal Pak Warso sebab Pak Hary takmasuk kerja. Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk istri Pak Hary di Rumah Sakit Umum. Alhasil saya mengetahui jika Yu Dar mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding.

Dengan kondisinya itu dia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak lumayan sesudah post partum. Atas saran suamiku aku turut membantu biaya perawatan istri Pak Hary , dengan pertimbangan selama ini Pak Hary telah setdia mengawalku tiap pulang kerja.

Sejak ketika itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Hary seperti layaknya saudara saja. Kadangkala Yu Dar mengirimkan pisang hasil panen di kebunnya ke rumahku. Walaupun harganya takseberapa, tetapi aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu.

Ya, rasa persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak apapun. Sering pula aku mengirimi biscuit dan syrop ke rumahnya yang sangat sederhana dan terpencil sebab memang rumahnya di tengah kebun yang penuh ditanami pisang dan kelapa. Sebab seringnya aku berkunjung ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan telah menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Hary .

Suatu hari, ketika saya pulang lembur, seperti biasa saya diantar Pak Hary . Begitu hingga ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya hingga kusuruh Pak Hary untuk menunggu hujan reda. Aku suruh pembantuku, Mbok Tarmi yang telah tua untuk membuatkan kopi baginya. Sementara Pak Hary menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ini memang merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur.

Hujan takkunjung reda hingga aku selesai mandi, kulihat Pak Hary masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil menerawang memandangi hujan.

Cuma dengan mengenakan baju tidur saya turut duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol. Kebetulan lampu terasku memang lampunya agak remang-remang yang sengaja kuatur demikian dengan suamiku supaya enak menikmati suasana.

“Gimana sekarang punya anak Pak? Bahag dia kan?” tanyaku membuka percakapan.

“Yach.. Bahagdia sekali Bu..! Habis dulu istri aku pernah keguguran ketika kehamilan pertama, jadi ini benar-benar anugrah yang takterhingga buat aku Bu..”

“Memang Pak.. Aku sendiri sebenarnya telah ingin punya anak, tetapi..”

Aku takdapat meneruskan kata-kataku sebab jengah juga membicarakan kehidupan seksualku di depan orang lain.

“Tetapi kenapa Bu.. Ibu kan telah punya segalanya.. Mobil ada.. Rumah juga telah ada.. Apa lagi” Timpalnya seolah-olah turut prihatin.

“Yach.. Itu lah Pak.. Dari materi memang kami takkekurangan, tetapi dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Dar lebih bahagia”

“Mm maksud ibu..” tanyanya terheran-heran.

“Itu lho Pak.. Pak Hary kan tahu jika aku senantiasa kerja hingga malam padahal Bang Sapak juga sering tugas ke luar kota jadi kami jarang dapat berkumpul tiap hari. Sekarang aja Bang Sapak sedang tugas ke Jakarta telah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali ke Padang”

“Yachh.. Memang itulah rahasdia kehidupan Bu.. Kami yang orang kecil seperti ini senantiasa kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi.. Padahal keluarga ibu yang takkekurangan materi malah bingung takdapat kumpul”

Matanya sempat melirikku yang ketika itu mengenakan pakaian baby doll. Kulihat jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuhku. Mungkin sebab hujan yang semakin deras dan aku yang jarang dijamah suamiku membuat gairah nakalku bangkit.

Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pahaku yang mulus sedikit kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah, matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku yang memang sengaja kubuka sedikit.

“Sebentar Pak aku ambil minuman dulu” kataku sambil bangkit dan berjalan masuk.

Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan ketika itu agak tipis sehingga bila aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun tipisku.

“Oh ya Pak Hary masuk saja ke dalam soalnya hujan kan di luar dingin..”

“I.. Iya Bu..” jawab Pak Hary agak tergagap sebab lamunannya terputus oleh undanganku tadi. Jakunnya semakin naik turun dengan cepat. Aku tahu dia tentu telah lama takmenyentuh istrinya sejak melahirkan bulan kemarin, sebab umur kelahiran bayinya belum genap 40 hari.

Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan. Apa boleh buat aku harus mampu menundukannya. Pak Hary sangat terangsang melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi. Alhasil mungkin sebab taktahan atau sebab udara dingin dia minta ijin untuk ke kamar kecil.

“Eh.. Anu Bu.. Boleh minta ijin ke kamar kecil Bu”

“Silahkan Pak.. Pakai yang di dalam saja”

“Ah.. Enggak Bu aku enggak berani”

“Enggak apa-apa.. Itu Pak Hary masuk aja nanti dekat ruang tengah itu”

“Baik Bu..”

Sambil berdiri dia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya. Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang senantiasa dibawa-bawanya ketika berjaga.. Atau bahkan mungkin lebih besar lagi.

Agak ragu-ragu dia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan. Alhasil kutunjukkan kamar kecil yang dapat dipakainya. Begitu dia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil, sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang menyambar-nyambar.

Aku terkejut ketika aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang. Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku sebab kaget. Rupanya aku salah menduga. Pak Hary yang kukira takmempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai telah mendahului dengan cara mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding.

“Ma.. Maaf Bu, sa.. aku telah taktahan..” desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.

Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap kedua dadaku. Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.

“Pak Hary .. Apa-apaan ini..” suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Hary yang semakin liar meremas payudaraku dari luar gaunku.

“Ma.. Af Bu sa.. saya.. Telah taktahan lagi..” diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung ibu jarinya memutar-mutar kedua puting payudaraku dari luar gaun tipisku.

Perlawananku semakin melemah sebab terkalahkan oleh desakan nafsuku yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Pak Hary yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.

Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romsaya berdiri saat jilatan lidah Pak Hary yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku didorong Pak Hary hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah tiba-tiba salah satu tangan Pak Hary beralih menyingkap gaunku dan meremas kedua buah pantatku.

Saya semakin terangsang hebat saat tangan Pak Hary yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku dengan gemas. Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku.

Gila..!! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi saya senang karena suamiku biasanya memperlakukanku bak putri saat bercinta denganku. Ia selalu mencumbuku dengan lembut. Ini sensasi lain..!! Kasar dan liar…apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Hary yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum…gila saya jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini. Hal ini mengingatkanku pada saat saya bermain gila dengan Pak Sitor di kepulauan dahulu.

“Akhh..pakk..Hary nhh jangg…anhhhh” desahku antara pura-pura menolak dan meminta.

Ya, harus kuakui kalau saya benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Pak Hary . Pak Hary yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini sehingga membuat saya menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.

“Akhh..pakk..akhh..jang..akhh”

Kepura-puraanku akhirnya hilang saat dengan agak kasar mulut Pak Hary dengan rakusnya menggigiti kedua belah pantatku!! Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli saat digigit Pak Hary . Mungkin kalau disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal itu.

“Emhh..pantat ibu indahh…” kudengar Pak Hary menggumam mengagumi keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.

“Ouch…shh…Am..ampunnhhh” saya mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati kedudukanku di kantor. Saya benar-benar pasrah total.

Liang vaginsaya sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala Pak Hary menyeruak di sela-sela pahsaya dan mulutnya yang rakus mencium dan menyedot-nyedot liang vaginsaya dari arah belakang.

Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk. Saya sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini saya bermain gila di rumahku sendiri. Tapi saya tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi. Titik!

“Ouch… shh…terushhh.. Ohhh, Pak Hary hhh…”

Dari menolak saya menjadi meminta! Benar-benar gila!! Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Pak Hary menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi. Saya merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora, tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan. Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan.

Pak Hary semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya saya tak mampu lagi menahan syahwatku.

“Akhhh…Pak Hary nnhhh akhhh…”

Saya mendesis melepas orgasmeku yang pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena lemas. Napasku masih memburu saat Pak Hary melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak Hary .

Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena saya merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku. Gila panas sekali benda itu! Saya terlalu lemas untuk bereaksi.

Beberapa saat kemudian saya merasakan benda itu mengosek-osek belahan kemaluanku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini saya belum pernah melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi saya yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!!

Saya kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.

“Hkkk…hhh.. shhh.. mem..mekhh Bu.. Ren..ni benar-benar legithhhh…” Gumam Pak Hary di sela-sela napasnya yang memburu. Didesakkannya batang kemaluan Pak Hary ke dalam lubang kemaluanku. Ouhhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan malam dan terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat…

Gila… Pak Hary menyetubuhiku di ruang makan tempat saya biasanya sarapan pagi bersama suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak Hary .

“Ouhh Pak Hary n.. ahhhh….”

Saya hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat saat Pak Hary mulai memompsaya dari belakang! Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan, tubuhku disodok-sodok Pak Hary dengan gairah meluap-luap.

Tubuhku tersentak ke depan saat Pak Hary dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam jepitan liang kemaluanku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga dadsaya agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri Pak Hary menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah pantatku dengan gemasnya.

Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Hary . Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Hary yang menghunjam dalam-dalam.

Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Hary yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar. Apalagi bau keringat Pak Hary semakin tajam tercium hidungku. Oh..inikah surga dunia… Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.

“Ouhmmm terushh.. terushh.. yang kerashhh..”

Saya menceracau dan menggoyang pantatku kian liar saat saya merasakan detik-detik menuju puncak.

“Putar, Bu…putarrrhh”

Kudengar pula Pak Hary menggeram memberiku instruksi untuk memuaskan birahinya sambil meremas pantatku kian keras. Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah kian licin. Saya merasakan batang kemaluan Pak Hary mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.

Saya sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang. Matsaya membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuh kami terus bergoyang dan beradu, sementara gaunku sudah basah oleh keringatku sendiri. Pak Hary semakin keras dan liar menghunjamkan batang kemaluannya yang terjepit erat liang kemaluanku. Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.

“Arghhh… terushhh, Buu… goyangghhhh… arghh…”

Batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut kencang dan akhirnya saya merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku…

Serr.. serr.. serr…

Beberapa kali air mani Pak Hary menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian berkejat-kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku hingga saya merasa agak sakit dibuatnya. Tapi saya tak peduli. Tubuhku pun seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Hary yang masih menyemprotkan sisa-sisa air maninya.

“Ouch… akhh.. terushh.. Pak Mar..sanhhh…”

Tanpa malu atau sungkan saya sudah meminta Pak Hary untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku.

Akhirnya saya benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas semua. Benar-benar lemas saya dibuat oleh Pak Hary . Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh.

Batang kemaluan Pak Hary kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan liang kemaluanku. Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami berdua.

Gila, banyak sekali Pak Hary mengeluarkan air maninya! Saya tahu itu karena banyaknya tumpahan air mani yang menetes dari lubang kemaluanku ke lantai ruang makan.

“Ibu benar-benar hebat… Saya jadi sayang Ibu…” bisik Pak Hary di telingaku.

Saya hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan lagi terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku. Ya, saya baru saja disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku… Saya hanya bisa termenung memikirkan bahwa sejak hubunganku dengan Pak Sitor, betapa mudahnya kini saya menyerahkan diriku dan melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain.

Aaah…. tiba-tiba saya jadi sangat rindu dengan Pak Sitor… Ia benar-benar tahu cara memperlakukan dan membimbing seorang wanita. Sebagai pelampiasannya, kuremas tangan Pak Hary yang sedang memeluk tubuh bugilku. Ia tentu tak tahu kalau saya sebetulnya sedang memikirkan lelaki lain. Pak Hary dengan mesra lalu menciumi tengkuk dan telingaku.

Memang sejak Pak Sitor membuka mataku, saya jadi sangat menyukai seks… Saya pun mulai sadar bahwa untuk memuaskannya, sekarang saya jadi terbuka untuk melakukannya dengan laki-laki lain selain suamiku… Sangat luar biasa bahwa saya telah diajari untuk bersikap open-minded oleh seorang lelaki tua dari pedalaman yang tak berpendidikan seperti Pak Sitor.

“Su.. sudah, Pak… Nanti Mbok Sarmi bangun,” kulepas tangan Pak Hary yang masih memelukku.

Saya berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Hary yang kekar. Lalu saya meninggalkan Pak Hary yang masih bugil dan lemas begitu saja untuk bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sekali lagi saya mandi di malam yang dingin itu.

Di bawah pancuran air dingin, saya terdiam memikirkan lagi apa yang sudah terjadi barusan. Ada beban biologis besar yang rasanya terlepas dari dalam diriku. Pak Hary sudah benar-benar mengeluarkannya dengan cara yang hebat… Di lain pihak, akal sehatku mulai kembali. Saya tahu saya telah kembali mengkhianati suamiku. Belum lagi memikirkan Pak Hary sebagai bawahanku yang kini telah terlibat hubungan intim denganku… Sejenak saya merasa bingung dengan sikapku sekeluarnya dari kamar mandi nanti… Setelah termenung beberapa lama di bawah pancuran air, akhirnya saya memutuskan untuk bersikap setenang mungkin. Semuanya pasti bisa ditangani….

Saya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan babydollku yang sebetulnya agak kotor kena keringat. Baru kusadari betapa kacaunya ruang makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan. Sementara kulihat celana dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas. Pak Hary masih membetulkan celana dinasnya.

“Bu, saya.. boleh numpang mandi, Bu…”

“Silakan, Pak.. Handuknya ada di dalam.”

Saya mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Pak Hary yang berceceran di lantai. Sementara itu Pak Hary mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.

Permainan Kedua

Saya masih mengepel cairan sisa-sisa perjuangan kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Hary yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang.

Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.

“Jangan di situ, Pak…” bisikku. “Saya tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin! Bisa-bisa masuk angin nanti!”

“Ke kamar tidur depan aja, Pak…”

Saya tahu tak mungkin saya menolak keinginan Pak Hary ! Apalagi saya juga menyukainya. Jadi saya menurut saja saat ia ingin menyetubuhiku lagi…

Akhirnya tubuhku dibopong ke kamar tidur depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap. Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar rumah berkelas. Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur springbed, dan kamar mandi di dalam, serta AC!

Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Pak Hary menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku.

Saya diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tebal terasa geli mengais-ngais hidungku. Saya semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngasi didalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah Pak Hary yang mendesak-desak dalam mulutku. Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora.

Saya sudah tak peduli kalau Pak Hary itu adalah anak buahku. Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Pak Hary mulai menyingkap gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalsaya hingga saya telanjang bulat di depannya! Gila saya telah telanjang bulat di depan anak buahku sendiri!! Saya memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik Pak Hary melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!

Benar dugaanku! Ternyata batang kemaluannya berwarna hitam dengan rambut yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pentungan yang biasa dibawanya ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya liang vaginsaya menjepit benda itu!! Saya jadi tak merasa rugi menyerahkan tubuhku padanya…

Saya tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali lagi Pak Hary menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku. Saya merasa kegelian saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Saya semakin menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke dua buah dadsaya yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah!

Gila.. Liar dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Pak Hary mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh harimau lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat saat kedua buah dadsaya secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut Pak Hary .

Tanganku pun dibimbing Pak Hary untuk dipegangkan ke batang kemaluannya yang tegak menjulang.

“Ouch… shhh… enakhhh..”

Mulutku tak sadar berbicara saat lidah Pak Hary yang panas dengan liar mempermainkan puting payudarsaya yang sudah mengeras. Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi toketku, Pak Hary duduk di pinggir tempat tidur.

Dilepaskannya mulutnya dari payudarsaya dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Saya jadi terjongkok didepan tubuh telanjang Pak Hary yang sudah duduk di pembaringan, saya jadi berdiri di atas kedua lututku. Payudarsaya yang kencang menjepit batang kemaluan Pak Hary yang hitam dan keras itu!

“Hhh…sssshh”

Pak Hary mendesis saat batang kemaluannya yang besar dan hitam itu terjepit toketku. Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga payudarsaya semakin erat menjepit batang kemaluannya. Saya merasa kegelian saat bulu-bulu kemaluan Pak Hary yang sangat lebat menggesek-gesek pangkal toketku. Apalagi batang kemaluannya yang keras terjepit di tengah belahan kedua buah toketku, hal ini menimbulkan sensasi yang lain daripada yang lain.

Saya tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu saat tangan Pak Hary yang kokoh menekan kepalsaya ke bawah. Diarahkannya kepalsaya ke arah kemaluannya, sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya yang berdiri gagah di depan wajahku. Saya tahu ia menginginkan saya untuk mengulum batang kemaluannya.

Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan Pak Hary yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.

“Arghh..ter..terushhh, Buu…”

Mulut Pak Hary mengoceh tak karuan saat kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku. Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga ia mendesis-desis seperti orang kepedasan. Sementara itu, kedua tangan Pak Hary terus memegangi kepalsaya seolah takut saya akan menarik kepalsaya dari selangkangannya.

Setelah beberapa lama, dengan halus kubelai tangan Pak Hary dan kulepaskan cengkeramannya dari kepalaku. Setelah itu, sambil mulut dan tanganku terus bekerja memanjakan penisnya, matsaya senantiasa menatap mata Pak Hary . Sesekali saya pun melempar senyum manisku padanya jika mulutku sedang tak dipenuhi oleh alat vitalnya. Dengan begitu, saya seolah ingin mengatakan padanya.

“Jangan khawatir. Saya tak akan menjauhkan kepalsaya dari selangkanganmu. Saya akan terus memanjakan penismu yang besar dan indah ini dengan mulut dan kedua tanganku….”

Pak Hary pun jadi lebih santai dan menikmati pekerjaanku yang kulakukan dengan penuh ketulusan.

Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluannya saja, mulutku lalu bergeser ke bawah menyusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kemaluan Pak Hary hingga ke pangkalnya. Pak Hary semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak saat bibirku menyedot kedua biji telor Pak Hary secara bergantian.

“Ib.. Ibu.. heb..bathh… ohhh… sssshh.. akhhh…”

Saya semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Pak Hary yang ditumbuhi rambut. Pak Hary semakin membuka kakinya lebar-lebar agar saya lebih leluasa memuaskannya.

Saya tahu saya telah bertindak sangat gila. Saya yakin telah mengalahkan pelacur yang manapun saat memberikan layanan kepada pelanggannya. Seorang pelacur bahkan dibayar untuk melakukan itu semua. Sedangkan saya memberikannya secara gratis kepada Pak Hary ! Saya yakin Pak Hary pun belum pernah mendapatkan layanan istimewa ini dari wanita manapun, termasuk dari istrinya… Pastilah ini karena rasa horny yang telah menyelimuti sekujur tubuhku!

Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik Pak Hary dan dilemparkannya ke tempat tidur.

Saya masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang Pak Hary . Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dengan kakinya. Otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin ketat menempel di belahan pantatku.

Tubuhku menggelinjang hebat saat lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.

Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah Pak Hary kini mempermainkan lubang anusku. Saya merasakan kegelian yang amat sangat tetapi saya tidak dapat bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Saya hanya pasrah dan menikmati gairahnya…

Saya tahu Pak Hary melakukan itu karena saya pun telah melakukan hal yang sama padanya barusan. Saya sama sekali tak mengharapkan balas budi seperti itu, tapi tentu saja saya sangat berterima kasih pada Pak Hary karena saya pun kini dapat menikmatinya.

Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seincipun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahsaya terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.

Setelah puas melumat seluruh jari kakiku, Pak Hary membalikkan tubuh telanjangku hingga kini saya terlentang di tempat tidur. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dan ia sekali lagi menindihku. Kali ini posisi kami saling berhadap-hadapan dengan tubuhku ditindih tubuh kekarnya.

Lidahnya kembali bergerak liar menjilati tubuhku. Sasarannya kali ini adalah daerah sensitif di belakang leherku. Saya menggelinjang kegelian. Bibir Pak Hary dengan ganasnya menyedot-nyedot daerah itu.

“Jang..jang..an dimerah ya, Pak…” erangku memohon padanya.

Tentu saja saya tidak mau disedot sampai merah soalnya besok pasti orang sekantor pada ribut.

“Tidak.. Bu…. saya cuma gemasss!!” desis Pak Hary sambil tetap menjilati bagian belakang telingaku.

“Tapi kalo di sini boleh kan?” katanya nakal sambil tiba-tiba menyedot toketku.

“Aaaauuwwww…..” jeritku terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba.

Rupanya Pak Hary dengan sengaja meninggalkan cupangan merah yang banyak di seputar kedua toketku. Tingkah lakunya seperti ingin menandai bahwa tubuhku sekarang telah jadi miliknya juga… Saya kegelian dan semakin bertambah horny karena aksinya itu. Saya hanya bisa berharap agar semua cupang itu telah hilang saat Bang Sapak pulang nanti.

Sementara itu tangannya terus bergerak liar meremas payudarsaya bergantian. Saya semakin mendesis liar saat mulut Pak Hary dengan liar dan gemas menyedot payudarsaya bergantian. Kedua puting payudarsaya dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah. Liang vaginsaya berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangan Pak Hary menguak labia mayorsaya dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang kemaluanku yang sudah semakin licin.

Bersambung

Cerita Sex – Ngintip Pasutri Ngentott..

Perkenalkan nama aku Kemal tapi bukan kemal pahlevi yang jago stand up, disni aku mau menceritakan kisahku yang terjadi saat aku masih kelas SMP dan gilanya aku mendapat pengalaman dari orang yang lebih tua jauh dariku, di usiaku yang memang menuju ke masa puber pastinya rasa ingin tau lebih dan rasa penasaran dan sudah mulai tertarik dengan lawan jenis aku mencoba untuk mencari informasi dari majalah dewasa atau situs porn.

Dulu pertama kalinya aku mengeluarkan sperma saat aku membaca cerita dewasa yang aku pinjam dari teman sekolahku setiap malam sehabis belajar aku sering menyempatkan untuk membaca sambil tiduran di kamar dan menggosok gosok kemaluanku sendiri sampai aku merasa klimaks keluarlah cairan yang berwarna putih tranparan , hal itu yang membuat merasa enak dan ketagihan tapi aku masih heran dengan cairan ini, kok beda dengan apa yang pernah aku tonton di film bokep bule, dimana sperma yang di keluarkannya agak kental, tapi setelah 3 tahunan aku bisa mengetahui rupanya factor umur juga mempengaruhi kekentalan spermaku.

Pada waktu itu ada seorang pasutri yang hendak mencari rumah penginapan ditampunglah mereka berdua yang baru saja menikah di rumahku sambil mencari rumah kontrakan, untung saja ada satu kamar yang kosong sehingga sementara mereka berdua tidur di kamar tersebut, memang rumah ku besar di lengkapi dengan ruangan dapur dan tempat cuci, rasa penasaran ku timbul saat malam hari karena di dalam kamar mereka berdua sering bercanda dan pastinya ketawa seorang wanitanya sangat terdengar dari kamarku.

Sering kali aku membayangkan mereka berdua dengan hal hal negatf karena aku habis membaca cerita dewasa dan membayangkan hal itu terjadi pada pasutri, karena kamarku dan kamar dia hanya di batasi oleh dinding yang terbuat dari papan sehingga aku bisa jelas untuk mengintip mereka lakukan aku cari dari celah celah dan menemukan tempat yang bisa mengintip mereka suatu malam saat lampu kamarku sudah aku matikan aku bergegas untuk mengetahui apa yang dilakukan benar saja mereka berdua sedang bermesraan dengan posisi sang istri sedang duduk di pangkuannya dan san suami berada di bawah sambil meremas remas buah dadanya sontak hal itu membuat aku semakin menikmati adegan ini dengan mata kepalaku sendiri.

Langsung saja membuat penisku berdiri tegang, terlihat toket istrinya yang begitu mulus dan montok, aku yang menonton hal tersebut membuat penisku aku usap usap sendiri dengan posisi mulut suami sedang menjilati kedua toketnya sambil di hisap hisap srepp sreppp sreppp setelah puas menghisap putting istrinya dia berganti posisi dengan badan sang istri terlentang di atas ranjang, dibuka kedua kakinya terlihat gundukan memek yang di selimuti oleh bulu bulu jembutnya yang tabal dan hitam.

Suaminya langsung mengambil posis dengan berlutut dan menghadap di kemaluan istrinya , di angkat kaki dari sang istri dan di letetakkan di atas pundak suaminya kulihat wajah suaminya sedang berada di selakangan memeknya dan pastinya dia sedang menciumi dan menjilati memek istrinya, wajah istrinya geleng geleng menikmati sentuhan lidah dengan tanganya yang meremas rambut suaminya,

Setalah suami merasa puas untuk memainkan memeknya , sang istri berganti posisi dengan dia untuk berdiri sebentar sambil menata selimut kulihat saat berdiri tubuh indahnya sangat menggairahkan dari bentuk toketnya yang bergelantungan dan bentuk memeknya, dari celah aku bisa melihat jelas saat istrinya mengangkang kakinya tepat diahadapanku terlihat memek yang basah rasanya ingin menyentuh memeknya yang jaraknya hanya dua tangan.

Langsung sang suami mengambil posisi dengan dia mencopot pakaiannya dan terlihat batang kemaluannya yang lebih besar dari punyaku dalam kondisi sudah tegang , dia mengambil posisi di depan istrinya dan dalam situasi tersebut aku hanya bisa melihat punggung suaminya yang membelakangiku saat aku mengintip, di angkat kaki sang istri dan secara perlahan bokong dari suaminya mulai menekan nekan secara teratur.dan setalah masuk penisnya ke dalam memeknya kaki dari istrinya melingakari paha dari suaminya di genjot pantat dari suaminya naik turun.

Melihat hal itu aku mulai mengocok penisku dengan sebuh handboy agar licin, ahh ahh rasanya enak dan nikmat melihat langsung adegan ngentot di depan mata , yang biasanya aku hanya membayangkan dengan cara sehabis membaca majalah dewasa aku menghayal seperti apa yang di gambar, aku juga mengikuti ritme dari suaminya yang sedang mengempo memek istrinya, tak lama kurasakan tak kuat dan rasanya ingin mengeluarkan sebuah cairan ahhha hhhh keluarlah cairan spermaku di sekitar tanganku.

Aku terus mengintip mereka berdua kira kira 5 menitan kulihat genjotan semakin cepat dan pantat suaminya semakin padat slupp slupp sluppp tangan dari istrinya memegang keras dari rambut suami tak lama tempo sudah mulai hilang, aku melihat seperti itu rasanya juga ingin menikmatinya dimana mereka berdua merasakan hal yang belum pantas aku lihat.

Dengan keringat di punggung suaminya dia masih dalam keadaan menindih istrinya sambil merangkulnya, kemudian suaminya melepas penis yang tertancap dan tergeletak di samping tubuh istrinya kulihat kondisi penisnya sudah lemas tidak tegang lagi disertai cairan cairan yang mengalir wajah mereka berdua sangat puas diambil celana dalam dan selimut tadi buat alas untuk mengusap semua cairan yang tertumpah,

Aku pun menyudahi tontonan perkempoan pasutri tersebut dengan cara berbaring di ranjang dan mengocok sekali lagi sampai klimaks aku pun langsung tidur dengan pulas, paginya aku sudah bangun dan masih bersantai di ranjang karena sekolahku itu berangkatnya siang hari dan pulangnya sore hari, kalau pagi dirumah seringnya sepi karena mamahku juga bekerja dan saudaraku juga berangkat sekolah pagi pagi, aku yang sedang berada di meja makan untuk makan pagi dan mengerjakan PR di sana, kudengar lagi suara ketawa dari kamar pasutri tersebut langsung saja aku bergegas untuk balik lagi ke kamar untuk melihat adegan yang menghibur.

Aku pasang kedua mataku untuk menyasikkan adegan tersebut benar saja saat aku intip istrinya sedang dalam posisi menungging sedangkan suaminya yang berada di belakang sedang menjilati memeknya melihat hal itu seakan akan langsung penisku berdiri dan ingin mengeluarkan sperma lagi, lidah suaminya sungguh lihai menjilati memek , pantat yang bulat milik istrinya juga oke punya, kapan ya aku bisa merasakan untuk menikmati hal tersebut.

Saat asyk asyk menonton adegan tersebut aku dikagetkan dengan tepukan tepat di pundakku, plukkkkk jantungku serasa berhenti aku kira orangtuaku pulang duluan dari kerjanya aduh aku tertangkap basah sedang mengintip , dan saat aku menoleh kebelakang rupanya tetanggaku yang sudah akrab dan biasanya kalau masuk memang gak pakai ketuk pintu dulu namanya Intan, di adalah tetangga sebelah rumahku yang sudah tinggal selama 3 tahun lebih,

Dia tersenyum dan berbisik “eh kamu sedang apa” karena malu dan takut kalau di bilang sama ortuku aku pura pura tidur dan berselimut , flas back sedikit tentang kehidupan Intan di aadalah wanita yang sudah menikah dan sudah mempunyai anak 2 , dia sekarang tinggal sendiri tanpa di temani oleh suaminya karena suaminya juga ada istri mudanya di kota lain , jarang sekali suaminya menengok dia aku pernah lihat hanya 2 kali saja suaminya main di rumahnya, si intan sering meminta bantuan pada keluargaku kadang pula dia meminjam uang dan beras untuk menghidupi anak anaknya karena suaminya juga sering terlambat dalam mengirim pesangon, dan dia jugqa akrab dengan kakakku kalau dia mau menjahit pakaiannya dan membayarnya jika sudah ada kiriman dari suaminya.

Ada juga peristiwa aku dengan ibu intan , dimana ini terjadi kira kira 2 bulan yang lalu dimana dia datang kerumahku dan saat itu aku sednag sendirian di rumah, katanya dia sudah ada janji pada kakaku untuk bisa mencoba pakaiannya yang sudah jadi dibuatkan kakakku, karena kakaku gak ada dirumah juga aku menemani ke ruangan jahit bersama bu intan dia mencoba bajunya , “eh kamu keluar dulu”kata bu intan

Aku pun gak mau pura pura gak mendengar dia berbicara

“eh kamu gak mau keluar ya, atau mau menemani disni untuk aku berganti pakaian??

“ya kalau boleh sih”jawabku sekenanya

Langsung dia mencopot pakainnya dan ingin mencoba baju yang sudah jadi, saat itu dia membelakangiku dengan posisi yang telanjang karena pada waktu itu dia tidak memakai celana dalam busyyyeettt melihat itu tanganku seakan akan bergerak sendiri untuk memegang pantatnya yang montok saat aku pegang dan mengelus , tanganku di tampar olehnya plakkkk “eh kamu kurang ajar ya “ katanya.

Dia agak marah dan agak tersenyum jahat saat dia menampar tanganku tubuh dia berbalik dan kulihat betul bentuk toketnya yang sama sama montok di hadapanku, aku melihat itu langsung menelan ludah dan aku sangat bernafsu bentuk toket yang indah, perut yang seksi dan memek yang saat itu tanpa bulu mungkin habis di cukur bulunya sehingga warna dari memek terlihat betul dengan kecoklat coklatan.

“eh nanti kamu aku bilangin mama kamu lho” aku pun diam saja dan dia berkata seperti dengan bentuk tubuh yang telanjang, saat dia mencoba untuk memaki bajunya dari atas karena itu kepala dan matanya tertutup oleh kain aku reflek lagi dengan tanganku mengayun memegang sebuah memeknya dengan tanganku, dia mungkin kaget dan langsung dia menjerit langsung aku berlari keluar dari kamar, disitulah awal aku bisa menyentuh tubuh bu intan, kembali ke cerita lagi saat aku malu ketahuan oleh bu intan aku tengkurap sambil mengambil selimut untuk menutupi wajahku karena malu ketahuan.

Aku kira bu intan langsung pergi dari kamarku malah dia bergantian yang mengintip adegan ngentot pasutri saat bu inta mengintip dia memegang pundakku aku menoleh ke wajah dia yang sedang duduk dia berbisik eh rupanya “mereka sedang asik ngentot” , nafas bu intan sudah tak teratur dan aku yang masih malu masih dalam selimut , tiba tiba tangan bu intan menyelinap dalam selimutku dan memegang penisku plekkkkk seketika membuat penisku berdiri aku pun diam saja dan bu intan membuka celana dalamku memasukkan tangannya ke dalam sambil mengelus ngelus dan masih melihat adegan ngentotnya.

Mungkin melihat hal itu bu intan menjadi sange dia langsung berlutut dihadapanku dan membuka selimut langsung saja penisku yang belum besar di emutnya, gilllakkkk hal apa ini sungguh nikmat sekali dan geli rasanya, ahh ahh ahh tak lama karena merasa keenakan aku memuntahkan spermaku ke dalam mulut bu intan crooottt crott crottt terasa sekali di bagian lututku gemetar dan dia masih mengulum penisku yang masih tegang sampai selesai dan terasa lemas lagi.

Kemudian berganti posisi dia mencopot dasternya dan mengangkang tepat di wajahku, saat aku tiduran dia jongkong kulihat bentuk memek bu intan yang di penuhi oleh jembut rupanya sudah basah karena melihat adegan ngentot di kamar sebelah, hmm bau nya khas agak sedikit pesing tapi membuat aku semakin bernafsu untuk mencoba menciuminya karena memang aku merasa penasaran dengan menjilati memek wanita,

Di regangkan bibir memeknya dengan jarinya dan langsung menumpukan ke mulutku sempat aku sulit untuk bernafas hmm hmmmmhmm aku pegang pahanya untuk sedikit naik sekarang aku tak perlu iri dengan kamar sebelah karena aku juga sudah bisa menikmati memek bu intan di hadapanku aku mencoba untuk menjilatinya slepp sleep seperti yang aku tonton tadi.

Setelah merasa puas san basah aku minta berganti posisi sekarang tubuh bu intan rebahan di atas ranjang, dirinya membuka selakangannya menyuruhku untuk segera memasukkan penisku yang sudah berdiri lagi, aku langsung menindih badan bu intan ku cium juga keuda toketnya saat wajahku terbenam di antara toketnya aku memegang penisku dan mencoba untuk masuk kedalam celah memeknya bu intan yang membantu memasukkan penisku ke dalam memek , saat bless masuk pertaman rasanya sangat weeenaaakkk sekali seperti ada yang memijat dari dalam dan hangat sekali.

Aku langusung sedikit memompa mompa dengan naik turun, bless bless bless tak lama bu intan merasa tubuhnya kejang dan kakinya merangkul pantatku sambil menekan lebih dalam jadinya penisku terbenam semua ke dalam kemaluannya , dia mendesah ahhh ahhha hhhh seperti orang menangis, tak lama dia diam tapi yang aku rasakan di dalam memeknya seperti ada menyedot penisku dan diguyur oleh cairan hangat yang keluar dari memek bu intan, tangan dia merangkul kepalaku dan menempelkan ke dua toketnya.

Aku yang juga tak tahan menyemprotkan lagi untuk kedua kalinya tapi ini di dalam memek, ahh ahhh ahh aku bergumam di dada agar tak kedengaran suara suara desaha di samping kamar sebelah. Beberapa menit karena kami kelelahan aku masih berada di atas dadanya kemudian bu intan melepaskan rangkulan kakinya dan menoleh ke samping sedangkan aku juga langsung mencabut penisku melhat wajah bu intan yang memerah dan matanya sayu sayu membuat nafsuku timbul lagi, dan penisku berdiri lagi aku sempatkan untuk memasukkan lagi ke dalam memeknya dengan posisi miring, karena sudah becek terlihat jelas suara seperti aku sedang mengocok dengan sabun di kamr mandi.

Dengan wajah yang mendesah bu intan aku langsung masuk keluarkan penisku dan pantat dia juga bergoyang sambil merintih menggigit bibirnya cepat sekali aku terangsang dengan denyutan memeknya dan ahhh ahhh aku mengeluarkan lagi cairan sperma tapi tak banyak seperti awal tadi, kulihat waktu sudah mau jam 11 siang aku langsung bersiap siap untuk mandi dan pergi kesekolah sedangkan bu intan juga bergegas untuk pulang ke rumahnya.

Kira kira 3 bulan pasutri itu tinggal di rumahku dan sudha mendapatkan rumah kontrakan yang baru. Dimana aku kalau siang tidak ada temannya dan hanya sendiri dari situ bu intan kadang maen ke rumahku mengajak untuk bersetubuh dan kami melakukan dengan sangat puas sampai 4 ronde biasanya karena memang bu intan mempunyai nafsu yang sangat tinggi juga,

Aku dan bu intan tak lama kemudian keluargaku pindah ke Jakarta dan orang orang di rumah tidak mengetahui kalau aku dan bu intan setiap hari ngentot karena memang bu intan sudah lama tidak merasakan ini dengan suaminya aku yang masih muda juga bisa mengimbangi tubuh bu intan yang mana sudah mempunyai anak, anak yang pertama masih kelas 1 SMP cewek namanya Friska, dan aku juga mempunyai cerita dengan anaknya bu intan tak kalah hotnya dan mungkin aku akan bercerita di kemudian harinya kalau ada kesempatan.

Cerita Sex – Ngentot Saat Klinik Sepi..

Kemarin baru saja menceritakan kisahku saat saya masih jadi mahasiswi yaps nama saya vega , sekarang saya menjadi dokter spesialis hewan, dari cerita sex yang berjudul Rutin ML Ketika Jadi Mahasiswi , sudah dijelaskan kalau saya gak lagi perawan tapi juga masih sendiri belum berkeluarga , langsung saja ke ceritaku, siang itu waktu diklinik memang karena sepi pengunjung jadi saya bebas untuk ngapain entah di ruangan kantor atau di mana, karena sepi kaki saya ku naikkan di atas meja dan bersantai,

Sebagian pembaca tentu masih ingat, saya selalu mengenakan rok mini yang lebar di bagian bawahannya hingga tentu saja posisiku duduk sekarang membuat bokongku dan paha bagian belakangku terbuka lebar.

Kusilangkan kakiku di atas meja, bokongkuku kuletakkan di ujung kursi putar sambil bersandar. saya membaca buku-buku tentang satwa dari luar negeri. Suhu udara di Surabaya akhir-akhir ini amat panas, sudah waktunya hujan namun sampai dengan ketika ini kota Surabaya belum juga terguyur hujan sama sekali.

Posisi dudukku ketika itu terus terang amat menyejukkan daerah sekitar selangkanganku sebab hembusan hawa dingin dari AC bisa langsung menerpa daerah sekitar pangkal pahaku. Sebab lelah membaca, kusandarkan kepalaku ke kursi sambil kupejamkan mata untuk tidur-tiduran, sementara HT tetap kunyalakan dan kuletakkan di atas meja dekatku agar sewaktu-waktu ada panggilan darurat saya bisa langsung memonitornya.

Kulepas satu lagi kancing bagian atas hem longgar yang kukenakan, harapanku hembusan hawa dingin AC di ruangan klinik ini bisa menyusup masuk dadaku agar tak  kegerahan. Rupa-ternyata semilir hembusan hawa dingin AC yang menyejukkan ruang klinik ini telah benar-benar membuatku tertidur cukup pulas sehingga saya tak  mengetahui ketika ada orang masuk ke klinik.

Wisnu salah seorang kolegaku ternyata siang itu juga memperoleh giliran piket. Untuk mengusir rasa jenuhnya, rupa-ternyata Wisnu berjalan-jalan mengelilingi KBS hingga sampai di klinik dan kemudian mampir sejenak.

Bisa pembaca bayangkan apa yang Wisnu lihat ketika memasuki ruangan klinik? Mata Wisnu langsung tertuju pada bagian belakang pahaku yang terbuka lebar hingga bagian bokongkuku. Langsung saja Wisnu menelan ludahnya ketika ia melihat pahaku yang mulus dan sedikit ditumbuhi bulu halus itu terpampang jelas di hadapannya.

Wisnu yang sebenarnya sudah sejak lama berusaha mencoba merayuku, siang ini tanpa disangka dia bagaikan memperoleh rejeki nomplok saja. Wisnu sebenarnya sudah beristrikan seorang dokter umum dan juga sudah memiliki anak. Usia Wisnu sekitar 36 tahun, orangnya tak  terlalu tinggi, sekitar 165 cm dan wajahnya cukup lumayan.

Orangnya cukup konyol dan suka bercanda. Begitu melihat pemandangan seperti itu, dengan serta merta Wisnu langsung maju dan berjongkok tepat di depan belahan pangkal pahaku. Mulutnya meniup-niup selangkanganku. Pada awalnya saya memang tak  merasakannya sebab saya sedang benar-benar tertidur pulas, namun lama kelamaan saya bisa juga merasakan adanya hembusan angin yang datangnya bukan dari hembusan AC.

Kubuka mataku dan sungguh amat terkejut sebab kulihat ada orang yang sedang berjongkok menghadap selangkanganku sedang meniup pangkal pahaku. Secara spontan kuturunkan kedua belah kakiku dari atas meja. Sebab kejadiannya begitu cepat, kepala Wisnu tertindih oleh pahaku. Akibatnya posisi kepala Wisnu akhirnya terkangkangi oleh pahaku dan wajah Wisnu jatuh tepat di pangkal selangkanganku.

Gila! Wisnu bukannya segera berdiri dan menyingkir, tapi dengan serta merta wajahnya malah diusapkan ke pangkal selangkanganku yang terkangkang tadi. Usapannya membuatku geli. Lalu hidung Wisnu menyingkap ujung G String-ku yang sexy.

Aku ketika itu memakai CD model G String yang mini, bahannya hanya berupa seutas tali nylon yang melingkari pinggangku, selebihnya adalah seutas nylon lainnya menyambung dari pinggang bagian belakang, turun ke bawah mengikuti bagian belahan bokongkuku, melilit ke depan tepat di bagian liang memekku tersambung dengan secarik kain sutera tipis yang berbentuk segi tiga.

Di bagian sutera tipis benbentuk segi tiga ini, ujung hidung Wisnu menyangkut di lipatan penutup liang memekku. Akibat gesekan wajahnya di selangkanganku maka tersingkap pula bibir memekku hingga Wisnu bisa menyaksikannya dengan jelas sekali, sebab bola matanya hanya beberapa centi saja di hadapan bibir memekku yang dalamnya berwarna merah muda menggairahkan itu.

Melihat pemandangan seperti itu membuat Wisnu yang tadinya mungkin hanya iseng ingin menggodaku jadi semakin bernafsu saja. Mulutnya langsung menghunjam memekku, bibir Wisnu serta merta dengan lahapnya menciumi bibir memekku.

Kejadiannya sejak awal terasa begitu cepat. Tangan Wisnu sudah langsung menarik ikatan G String-ku yang terletak di samping kiri kanan pinggangku. Kondisi bagian bawah rok miniku yang lebar ini membuat Wisnu tak  menemui kesulitan sama sekali. Dalam hitungan detik saja bagian bawahku sudah tanpa dilapisi sehelai benang pun.

Kepala Wisnu tertutup oleh rok miniku, wajahnya tepat di selangkanganku dan bibirnya melumat bibir memekku dengan penuh nafsu. Lidahnya dijulurkan dan dikorek-korekkannya ke klitorisku. Apa yang ia lakukan membuatku yang tadinya pada ketika awal-awal kejadian ingin memarahinya, tak  jadi. saya malah jadi terangsang oleh permainan lidah Wisnu yang menjilat habis bibir dan liang memekku.

Lidah Wisnu menjulur mengorek-ngorek liang memekku hingga terasa menyentuh bagian dalam dinding-dinding memekku yang segera menjadi basah oleh cairan bening yang mengalir dari dalam memekku.

Aku tak  bisa menahan lagi gejolak nafsuku hingga tanganku menyusup ke balik hem yang kukenakan dan jari-jari tanganku meremas payudaraku sendiri. Kupilin-pilin puting susuku dengan jari. Rasanya nikmat sekali hingga payudaraku terasa semakin keras sebab saya sudah benar-benar diselimuti oleh nafsu.

Wisnu mengangkat kedua belah kakiku sambil membukanya lebar-lebar. Kedua pahaku dikangkangkannya untuk memberi tempat yang lebih leluasa bagi mulut dan lidahnya untuk menjilati seputaran memekku.

Wisnu amat piawai memainkan ujung lidahnya sehingga tak  membutuhkan waktu yang lama baginya membuatku orgasme. Semburan hangat langsung muncrat dari dalam rahimku, keluar membasahi liang dan dinding memekku dan serta merta Wisnu langsung menjilat dan menelan habis cairan pelumasku yang mengalir keluar.

“Huu.. Uucch! Oo.. Oocch! Aa.. Aacch!”, saya melenguh bagaikan anak sapi saja. Wisnu tetap saja meneruskan jilatannya sampai memekku benar-benar bersih dan kering kembali.

Aku akhirnya menarik napas panjang mengiringi semburan terakhir pelumasku yang merembes keluar melalui liang memekku. Selesai melakukan jilatannya, Wisnu langsung berdiri sambil membuka kancing celananya.

Celana berikut CD-nya diperosotkan sampat batas lututnya hingga tampak kontol langsung menjulang keluar bagaikan torpedo yang siap diluncurkan menuju sasaran.

Wisnu mengangkat kedua kakiku sehingga badanku terlipat. Lututku didorong hingga berada dekat dengan wajahku, kontol langsung diarahkan ke belahan bibir memekku dan tanpa harus memperoleh bimbingan lagi, kontol telah berada tepat menempel di mulut liang memekku.

Didorong-dorongkannya sedikit sehingga kepala kemaluannya menemui sasaran yang tepat, kemudian didorongkan sedikit lebih dalam lagi dan, slee.. eep! Masuklah sebagian kontol. Ditarik keluar sedikit dan didorongkannya lagi masuk lebih dalam.

“Oo.. Oocch! Slee.. Eep! Slee.. Eepp! Uu.. Uucch! Slee.. Eepp! Slee.. Eepp! Aa.. Aacch!”, demikian suara rintihanku bersahut-sahutan dengan bunyi suara ketika batang kemaluan Wisnu memompa liang memekku.

Kondisi liang memekku sudah amat basah sehingga memudahkan batang kemaluan Wisnu terbenam habis ke dalam memekku. Ujung kepala kemaluannya terasa menyodok-nyodok dinding rahimku. Ujungnya menyentuh dan menekan-tekan tonjolan daging seukuran ibu jari yang tumbuh di dalam liang memekku, rasanya luar biasa nikmat.

Sebab memang sudah cukup lama saya tak  melakukan ML ditambah dengan permainan Wisnu yang cukup piawai hingga membuatku segera akan mencapai puncak kenikmatan kembali.

“Ayoo..! Terus..! saya sudah hampir orgasme!”, seruku.

“Sebentar Wis! Kita keluarin sama-sama..”, jawab Wisnu.

“Dikeluarin di dalam atau di luar nich?”, tanya Wisnu padaku sambil terus memompakan kontol di dalam liang memekku.

“Uu.. Uucch! Terserah..!”, teriakku dan..

“Ooo.. Oocch! Aa.. Aacch!”

Badanku tiba-tiba gemetar dan sedikit kejang. Wisnu pun ikut melenguh sambil tetap menggenjot pompaannya lebih cepat lagi. Kami dalam waktu yang hampir bersamaan sama-sama mengalami orgasme. Terasa sekali semburan sperma Wisnu yang hangat membanjiri liang memekku. Tumpahan cairan cinta kami tercampur jadi satu dalam liang memekku, saking banyaknya bahkan tak  tertampung sehingga merembes keluar mengalir mengikuti celah belahan bokongkuku dan membasahi anusku.

Cerita Sex – Ngentu Memek Anak 2..

Mba Kely dia adalah tetangga saya yang aduhai sekali. Seing kali saya dan istri maen kerumahnya kadang mba Kely maen kerumahku, karena jarak rumah kita juga tak jauh sering berkunjung , tapi saya lebih menyukai kalau bermain ke rumahnya mba Kely sebab dia selalu memakai pakaian yang minim dan menerawang dasternya.

Sempat juga saya saat maen kerumahnya tanpa pemberitahuan sebelumnya mendapati mba Kely sedang bangun tidur jelas waktu itu dia memakai piyama serta buah dadanya yang tak terbalut oleh BH, dan pernah juga saat bermain di rumahnya bersama istriku , mba kely habis mandi saat keluar dari kamar mandi handuk yang dia pakai nyangkut di pintu, jelas bentuk toket dan anunya kelihatan sebentar, saya langsung berpaling muka soalnya ada istriku. hehe

Suatu pagi di hari Minggu, saya dipinta istriku mengantarkan makanan yang dibuatnya untuk keponakannya, anak-anak Mbak Kely.

Tanpa pikir panjang saya langsung melajukan mobilku ke rumah Mbak Kely, kali ini sendirian saja. & satu hal yang membuatku semangat ialah fakta bahwa suami Mbak Kely sedang tak ada di rumah.

Hingga di rumah Mbak Kely, semua masih tidur sehingga yang membukakan pintu ialah pembantunya. saya masuk ke dalam rumah & setelah yakin si pembantu naik ke kamarnya di atas, saya mulai bergerilya.

Dengan perlahan saya membuka pintu kamar Mbak Kely, & seperti sudah kuduga, Mbak Kely tidur dengan daster tipisnya yang bagian bawahnya sudah tersingkap hingga paha & celana dalam warna hitamnya.

Saya meneguk ludah & langsung konak melihat paha montok yang putih mulus itu, apalagi lengkap dengan CD hitam yang kontras dengan kulit putihnya.

Pagi itu saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk dapat menjajal tubuh montok kakak ipar ku. Tekadku sudah bulat untuk menikmati setiap lekukan tubuhnya.

Setelah puas melihat pemandangan di kamar, saya kemudian menuju meja makan di mana kulihat dua gelas teh manis sudah terhidang, satu untukku & satunya pasti untuk Mbak Kely.

Dengan penuh semangat saya meneteskan cairan perangsang yang kubeli beberapa waktu lalu ke dalam teh Mbak Kely. saya berharap wanita itu akan dipenuhi birahi sehingga tak menolak untuk saya sentuh.

Dewi keberuntungan memang sedang memihakku pagi itu. Tak berapa lama, Mbak Kely bangun & seperti biasa, dengan santainya ia berjalan keluar kamar masih dengan daster minim itu yang membuatku semakin tergila-gila.

“Eh, ada Azka, udah lama?”, sapanya dengan suara serak yang terdengar seksi, seseksi tubuhnya.

“Barusan kok mbak, antar makanan buatan Dila”, jawabku sambil melihat dengan jelas buah dada besarnya yang no-bra itu.

Mbak Kely memang sangat cuek, ia tak memperdulikan mataku yang nakal memandangi buah dadanya yang menggelantung di balik daster tipisnya. Dengan gontai ia menuju meja makan & menghirup teh yang sudah kuberikan cairan perangsang.

Menurut teori, dalam waktu 5 hingga 10 menit ke depan, hormon progesteron Mbak Kely akan meningkat & ia akan terbakar nafsu birahi.

cerita dewasa hot terbaru, cerita ngentot memek kaka ipar, cerita sex kentu, cerita mesum kakak ipar, cerita selingkuh rumah tangga, cerita Panas tetangga rumah, cerita ML perselingkuhan kakak ipar

Setelah minum teh, Mbak Kely masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, pipis & pastinya cuci memek lah, hehee. Keluar dari kamar mandi, wajah Mbak Kely memang sudah lebih segar. Masih dengan daster tipis yang memberikan informasi maksimal itu, ia memanggil pembantunya & menyuruh ke pasar. Wah, tambah perfect deh, pikirku.

Setelah sedikit beraktivitas di ruang makan, ia kembali ke kamar. Pasti ia akan ganti baju pikirku. Dengan perlahan saya mengikuti di belakangnya.

Dan benar juga seperti dugaanku, Mbak Kely tak menutup dengan baik pintu kamarnya. Ia begitu cuek atau sengaja memberikanku kesempatan mengintipnya berganti baju.

Kontolku semakin mengeras melihat Mbak Kely menanggalkan dasternya & … oh, rupanya obat perangsangku sudah mulai bekerja. Mbak Kely tampak gelisah lalu mengusap-usap selangkangannya dengan tangan.

Saya seperti diberi berkah pagi itu, Mbak Kely benar2x seperti terangsang hebat. Ia dengan sedikit terburu-buru melepas CD hitamnya sehingga kini ia benar2x telanjang di kamar. Kemudian kulihat ia mengusap-usap bagian memek & sekitarnya dengan tangan.

Wah… tak akan kubiarkan ia melakukan masturbasi.

Dengan semangat 45 & penuh percaya diri, saya membuka celanaku & membiarkan kontolku yang sudah konak dari tadi mengacung bebas.

Walau dengan sedikit canggung, saya beranikan diri membuka pintu kamarnya.

“Azka… kau…”, Mbak Kely menjerit melihat saya masuk ke kamarnya sementara ia sedang telanjang & lebih kaget lagi melihat saya tanpa celana & mengacungkan kontol ke arahnya.

“Daripada pakai tangan, pakai ini aja Mbak…”, pintaku seraya memegang batang kontolku.

“Gila kau, jangan kurang ajar”, sergahnya ketika saya mendekati tubuh telanjangnya.

Mbak Kely menampik tanganku yang ingin menjamahnya, namun nafsu birahi yang membakar otaknya membuatnya tak cukup tenaga untuk menolak lebih lanjut sentuhanku. saya yakin kalau birahinya sudah memuncak & ia juga menginginkan sex denganku.

cerita dewasa hot terbaru, cerita ngentot memek kaka ipar, cerita sex kentu, cerita mesum kakak ipar, cerita selingkuh rumah tangga, cerita Panas tetangga rumah, cerita ML perselingkuhan kakak ipar

Ketika tanganku berhasil meraih buah dada & meremasnya, ia hanya bilang “Gila kau!”, namun tak sedikitpun menjauhkan tanganku untuk meremas-remas buah dada & memilin puting susunya.

Aku sudah merasa di atas angin. Mbak Kely hanya bersumpah serapah, namun tubuhnya seperti pasrah. Setiap sentuhan & remasan tanganku di tubuhnya hanya direspon dengan kata “kurang ajar” & “gila kau”, namun saya merasa yakin ia menikmatinya. Dugaanku betul, Mbak Kely akhirnya dengan malu memegang batang kontolku.

“Besar banget punya kau Azka”, serunya.

“Pingin masuk memek Mbak tuh…” jawabku.

Mbak Kely tersenyum manja,”Gila kau!”

“Iya mbak, saya memang tergila-gila pada Mbak”, rayuku sambil terus memilin puting susunya yang sudah mengeras.

Mbak Kely semakin relaks & pasrah. Kini dengan sangat mudah saya bisa meraih daerah selangkangannya yang berbulu tipis & mulai meraba-raba memeknya yang ternyata sudah becek.

“Kaya’nya memeknya udah minta nih Mbak”, kataku.

“Gila kau!”, entah sudah berapa kali ia mengeluarkan kata itu pagi ini.

“Nungging Mbak, saya masukin dari belakang”, pintaku untuk doggy style.

Mbak Kely masih dengan sumpah serapah menuruti kemauanku. Kini pantat bahenolnya terpampang di hadapanku, pantat yang selama ini saya impikan itu akhirnya bisa kuraih & kuremas-remas.

Dengan perlahan, saya memasukkan batang kontolku ke dalam liang memeknya. Tak sulit tentu saja, maklum sudah punya dua anak & memang sudah becek pula.

Maka adegan selanjutnya sudah bisa ditebak, Mbak Kely yang sudah terbakar birahi tentu saja orgasme lebih dulu akibat pompa kontolku pada memeknya. Namun sekali lagi, pagi itu memang milikku.

Meskipun sudah orgasme, kakak ipar ku yang montok itu tetap penuh birahi meladeni permainanku hingga akhirnya kami merasakan orgasme secara bersama. Nikmatnya luar biasaaaa.

“Sembarangan kau numpahin sperma di memekku ya Azka…”, jeritnya ketika saya memuncratkan spermaku ke dalam rahimnya.

“Habis memek Mbak enak sih….”, seruku di telinganya. Kakak ipar ku hanya melejat-lejat menikmati orgasmenya juga.

Selesai orgasme, seperti sepasang kekasih, kami berciuman.

 “Kau memang gila Azka, awas… jangan bilang siapa-siapa ya!”, serunya perlahan.

“Ya iyalah Mbak, masa’ mau cerita-cerita..”, candaku. Ia pun tertawa lepas.

“Kapan-kapan lagi ya Mbak…”, pintaku.

“Gila… kau gila…” jeritnya sambil berjalan ke kamar mandi.

Aku memandang tubuh montok kakak ipar ku dengan senyum puas. Akhirnya tubuh impianku itu dapat kunikmati juga.